Histeria Kiamat dalam versi Islam

Histeria Kiamat dalam versi Islam
Oleh : Armansyah

Tulisan ini masih merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “We were warned : Histeria film 2012″. Bagi anda yang ketinggalan membacanya, masih bisa mengaksesnya diblog saya : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2009/11/17/we-were-warned-histeria-film-2012/

Sebelum anda meneruskan bacaan anda ini saya ingatkan kepada anda yang Muslim namun tidak terbiasa dengan gaya penjabaran ayat-ayat Qur’an secara ilmiah untuk segera memalingkan situs anda dari sini (jika anda sedang membacanya di arsiparmansyah.wordpress.c

om atau juga dari facebook.com/armansyah atau mendelete email ini bila anda membacanya via Milis_Iqra.

Karena dalam penulisan ini anda nantinya akan dibuat terkejut dengan beberapa analisa dan penafsiran bebas saya terhadap Kitabullah Al-Qur’an Al-Karim dan Hadist Rasulullah Muhammad Saw yang bukan suatu hal mustahil anda dapat terjerumus dalam pemahaman yang keliru sehingga menggoyahkan akidah dan keimanan anda sekaligus mengadakan fitnahan terhadap diri saya.

Tetapi tidak ada pretensi apapun dalam penulisan ini, sekedar mencoba memahami kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Rasul secara “modern” berkaitan dengan isyu Doomsday/hari kiamat. Tulisan ini juga merupakan revisi dari tulisan saya pada tahun 1996 yang lalu di situs geocities.com/pentagon/1246 yang juga sempat dikompilasi oleh pakdenono.com menjadi ebook dan didistribusikan kepada masyarakat.

Bahwa heboh dari keberadaan film “2012: We were warned” yang disutradarai Roland Emrich benar-benar menghipnotis banyak orang sekaligus menimbulkan silang pendapat mengenai banyak hal.

Sebut saja mulai dari akurasi kiamat yang diprediksi terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 hingga berbagai kontent dalam film tersebut termasuklah didalamnya tentang ketidak hancuran Ka’bah sebagai salah satu simbol keagamaan dunia dalam peristiwa Doomsday itu sementara berbagai simbol keagamaan dunia lainnya seperti Vatikan, “Istana atap langit”-nya Dalai Lama di Himalaya dan lain sebagainya digambarkan porak-poranda. Tidak ketinggalan gedung putih, tugu kemerdekaan bangsa Amerika serta kapal indukpun hancur lebur dengan visualisasi luar biasa.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang, Jawa Timur, seperti dilansir oleh Republika Online (http://www.republika.co.id/berita/89799/MUI_Malang_Haramkan_Film_2012) bahkan secara tegas mengharamkan film “2012: We were warned” karena dampak isi cerita film tersebut dikhawatirkan akan membuat masyarakat resah terkait tibanya hari kiamat pada 2012.

Begitupula dengan Front Pembela Islam (FPI) menyatakan bahwa film tersebut mengandung unsur kemusryikan (lihat beritanya di http://www.inilah.com/berita/politik/2009/11/17/181393/fpi–film-kiamat-2012-musyrik/ )

Berlawanan dengan keduanya, MUI Pusat sebagaimana dilansir oleh situs inilah dot kom (berita detilnya disini : http://www.inilah.com/berita/politik/2009/11/17/181462/mui-tak-ada-fatwa-haram-film-kiamat-2012/) disampaikan oleh Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin sendiri bahwa MUI Pusat justru sama sekali tidak mengeluarkan fatwa larangan apalagi haram untuk masyarakat muslim menonton film “2012: We were warned”. Beliau mengatakan “Saya tidak melihat ada sesuatu yang bisa menyesatkan, selama itu dipandang hanya sebatas imajinasi dari pembuat film yang mencoba mengambarkan kiamat terjadi pada tahun 2012. Jadi silakan saja menonton film itu.”

Apapun adanya, jelas film yang diperankan oleh Chiwetel Ejiofor dan Jimi Mistry tersebut telah benar-benar sukses menggarap pasar dengan kontroversi yang menyertainya.

Secara konten dan cerita, seperti dalam artikel pertama, saya katakan bahwa film 2012: We were warned tidak beda jauh dengan film-film Hollywood lainnya. Bahkan unsur dramanya boleh disebut jauh dibawah film-film seperti Independence Day (ID4), Armageddon dan The Day After Tomorrow. Tetapi film ini sangat memikat dengan visualisasi efek yang ditampilkan sehingga membuatnya memiliki nilai jual tinggi dipasaran. Berbeda dengan film sejenisnya yang juga mengekor peramalan kiamat 2012 (seperti film 2012: Doomsday atau 2012: Supernova), meskipun sesungguhnya film “2012: We were warned” sama sekali tidak menceritakan perihal terjadinya kiamat qubro sebagaimana dibayangkan oleh banyak orang.

Kali ini bahasan saya akan masuk lebih jauh pada kajian agama (Islam) dari sudut pandang kosmologinya. Saya tidak akan berbicara dari sudut pandang nubuat doktriner seperti kedatangan Imam Mahdi dan polemik Isa Al-Masih yang memang sebenarnya sudah tuntas saya bahas pada buku saya berjudul “Ramalan Imam Mahdi: Akankah ia datang pada 2012” [Serambi, 2008]. Saya hanya akan melangkah pada berbagai penceritaan Al-Qur’an dan as-Sunnah terhadap fenomena-fenomena kiamat dan tanda-tanda kosmos yang menyertainya saja.

Bahwa dalam banyak hadis yang dipercaya sebagai benar ucapan Nabi Muhammad Saw, beliau menggambarkan sejumlah informasi sebagai berikut :

Dari Abu Hurairah katanya Rasulullah bersabda, Tidak akan datang Kiamat sehingga banyak terjadi gempa bumi” [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan 13 : 81-82]

Dan diriwayatkan dari Salamah bin Nufail As-Sukuni, Ia berkata : Kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah lalu beliau menyebutkan suatu hadits yang antara lain isinya : Sebelum terjadinya hari Kiamat akan terdapat kematian-kematian yang mengerikan, dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi” [Musnad Imam Ahmad 4 : 104 dengan catatan pinggir Muntakhab Al-Kanz. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Al-Bazaar, dan Abu Ya’ala dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan” Majmu’uz Zawa’id 7 : 306]

“Tidak tegak hari kiamat hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. “ (HR. Al-Bukhari no. 4359 dan Muslim, 1/157)

Dewasa ini kejadian kosmos yang sudah digambarkan oleh Rasul diatas –saya percaya– sedang terjadi dan berjalan. Dimana-mana selalu saja ada gempa bumi dan bahkan sesekali di-ikuti oleh tsunami. Contoh paling akhir adalah kejadian di Aceh, Yogya, Situ Gintung, Tasikmalaya dan juga Sumatera Barat yang luluh lantak olehnya. Banyak faktor dan kausalitas sebagai berlakunya hukum dan ketentuan Allah terhadap datangnya hari penghabisan tersebut.

Fenomena yang belum ada saat ini adalah terbitnya matahari dari tempat ia terbenam. Mungkin hal ini berkaitan dengan fenomena perubahan siklus hukum benda langit pada masanya atapun dikarenakan suatu peristiwa besar yang terjadi seperti perang nuklir dan sebagainya sehingga mempengaruhi sistem orbit bulan dan matahari terhadap kedudukan bumi. Allahu a’lam bissawab[Allah Yang Mahatahu sesungguhnya, karena semuanya masih misteri sampai hari ditulisnya ini].

Dari dalam kitab suci Al-Qur’an, ada juga fenomena yang berkaitan dengan eksistensi makhluk dari dalam bumi sebagai salah satu pertanda dari kiamat. Berikut ayatnya :

Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi. (Qs. 27 An-Naml : 82)

Hemat saya sejauh ini, ayat diatas adalah bercerita tentang sebuah pengulangan sejarah dunia. Kita tahu bahwa dahulu, planet bumi kita ini pernah dihuni oleh sejenis makhluk hidup (diantaranya berukuran raksasa) yang kita kenal dengan nama Dinosaurus. Makhluk ini –diduga oleh sebagian ahli sejarah dan geologi—hidup antara 225 sampai 230 juta tahun yang lalu. Berbagai spekulasi selanjutnya juga berkembang sekaitan dengan kepunahan mereka. Ada yang menduga bahwa kepunahan mereka disebabkan oleh hujan meteor, radiasi bintang yang meledak, diare, tsunami raksasa, ledakan gunung serupa Krakatau dan lain sebagainya. Memang yang paling populer adalah akibat meteor yang jatuh kebumi dan memusnahkan semuanya.

Tetapi faktanya apakah semua Dinosaurus benar-benar sudah musnah atau hilang dari bumi setelah berbagai spekulasi penyebabnya itu terjadi ? ternyata tidak. Pada abad ke-10 salah seorang berkebangsaan Irlandia mencatat perjumpaannya dengan seekor makhluk yang rupanya seperti Stegosaurus (salah satu jenis dari Dinosaurus).

Pada tahun 1500-an, sebuah buku scientific Eropa, berjudul Historia Animalium, mencatat beberapa jenis binatang dinosaurus masih hidup pada saat itu. Seorang ahli ilmu pengetahuan alam terkenal, Ulysses Aldrovandus, mencatat sebuah pertemuan antara seorang petani bernama Baptista dan seekor naga yang ciri-cirinya mirip dengan dinosaurus Tanystropheus.

Pertemuan itu terjadi tanggal 13 Mei 1472 dekat Bologna di Itali, dan petani itu membunuh naga tersebut. Terdapat pula laporan-laporan lain yang menyatakan penampakan dinosaurus pada dekade terakhir ini. Pada Science Digest edisi Juni 1981 dan Science Frontiers No. 33 tahun 1983, penyelidik dan penduduk di Afrika melaporkan penampakan makhluk seperti dinosaurus. Deskripsi yang diberikan cocok dengan rupa dinosaurus. Dalam Melbourne Sun , 6 Februari 1980, lebih dari 40 orang mengklaim bahwa mereka melihat plesiosaurus dari pantai Victorian Australia akhir-akhir ini.

Laporan paling anyar bisa kita baca pada berbagai media nasional maupun internasional awal bulan Oktober 2009 lalu. Berita tersebut berkisar penemuan telur-telur Dinosaurus di sebuah desa di bagian selatan Provinsi Tamil Nadu, India. Telur-telur dengan diameter 13-30 cm yang berada pada areal sekitar 1,2 meter itu ditemukan oleh ekspedisi yang dipimpin oleh M. Ram Kumar, seorang pakar geologi di Periyar University yang dibiayai oleh lembaga Ilmiah Jerman-India.

Fosil telur itu tertimbun dalam sarang di bawah abu vulkanik dari eropsi Plateau Deccan di sepanjang tepian dan bawah aliran Sungai Cauvery. Di daerah aliran sungai itu juga ditemukan sisa-sisa kotoran dan tulang belulang dinosaurus. Memang dalam kasus ini telur-telur Dinosaurus itu sudah berupa fosil dan dalam kondisi yang tidak mungkin menetas.

Tetapi, apakah tidak tertutup kemungkinan jika tanpa sepengetahuan siapapun, jauh disuatu tempat, ternyata masih ada telur-telur Dinosaurus tertentu yang masih terpendam dan bisa menetas jika mendapat suatu kondisi tertentu ? Atau mungkin juga saat ini telur itu sudah ada yang menetas dan sedang dalam tahap pertumbuhan sang Dinosaurus muda untuk menjadi dewasa dan keluar pada saat yang sudah direncanakan oleh Allah melalui siklus hukum sebab dan akibatnya sendiri.

Selain itu, kembali pada ramalan kosmologi kiamat yang diceritakan oleh kitab suci Al-Qur’an …
“Apabila bumi digoncangkan dengan sekeras-kerasnya, dan gunung-gunung dihancurkan selumat-lumatnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. 56:4-6)

“Ketika bumi digoncangkan sekeras-kerasnya, dan bumi mengeluarkan semua isinya, manusia bertanya : ‘Mengapa menjadi begini ?’, dihari itu bumi akan menceritakan beritanya bahwa Tuhanmu telah memerintahkan seperti itu.” (QS. 99:1-5)

“Wahai manusia, insyaflah pada Tuhanmu, bahwa goncangan Sa’ah itu adalah sesuatu yang amat dahsyat.” (QS. 22:1)

Sungguh luar biasa sekali kejadian hari itu, hari dimana Allah menepati janji-Nya kepada semua makhluk-makhluk ciptaan-Nya, hari dimana tidak ada satupun yang dapat memberikan pertolongan dan hari yang tiada satu juga tempat bersembunyi.

Bahkan meskipun makhluk itu [yaitu kita sebagai manusia] pergi keplanet Saturnus sekalipun, begitu kira-kira “tafsir modern” atas ayat Al-Qur’an surah Al-Mursaalat [77] ayat 30 sampai 34 :

Pergilah kamu kepada planet [zhillu/naungan] yang mempunyai 3 lingkaran, yang tiada lindungan karena dia tetap tidak akan menyelamatkan dari bencana [Sa’ah] bahwa dia [Sa’ah] melontarkan percikan api laksana balok seolah dia iringan [cahaya] yang kuning. Kecelakaan pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan [kebenaran]. (QS. 77:30-34)

Sekedar informasi saja planet Saturnus memiliki cincin yang dapat dikelompokkan menjadi tujuh lapis, namun pengamatan yang bisa dilihat dari Bumi hanya dapat melihat tiga lapisan cincin yang mengelilingi Saturnus. Ketiga cincin itu (dari luar ke dalam) umumnya disebut sebagai cincin, A, B, dan C. Di samping tiga lapis cincin, juga terdapat dua daerah pembatas gelap yang disebut sebagai Encke Division dan Cassini Division. Encke Division berada dalam cincin A, sedangkan Cassini Division yang lebih lebar memisahkan antara cincin A dan cincin B. (info : http://www.nineplanets.org/saturn.html)

Saya melihat bahwa pembicaraan al-Qur’an dalam kasus ini sama seperti ketika ia berbicara tentang Dzulkarnaen yang disebutkan sampai disebuah daerah dimana matahari terbenam di air yang hitam (lihat surah AL-Kahfi (18) :86). Padahal Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini.

Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam. Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, bayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia.

Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20). Dalam kasus Dzulkarnaen apa yang disampaikan Al-Qur’an adalah dia pergi kesebuah tempat dengan arah terbenamnya matahari hingga apabila ia telah sampai kebatas pantai dari jurusan matahari terbenam diapun melihat matahari seolah-olah terbenam kedalam laut yang sudah gelap itu [tentang Dzulkarnaen ini bisa dilihat penjabaran lengkap saya di https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/25/kisah-dzulkarnain/].

Seperti cerita Dzulkarnaen itu jugalah saya melihat dan menafsirkan bebas kasus surah Al-Mursaalat [77] ayat 30 sampai 34 bisa juga tentang Saturnus. Ia mengikuti pola pandang mata manusia yang hanya bisa menjangkau 3 cincinnya saja dari bumi.

Jadi seolah-olah Al-Qur’an itu hendak berkata, jika kita memang mampu menghindari hari kiamat itu pada waktu terjadinya, silahkan saja kerahkan apapun teknologi yang mampu kita perbuat. Termasuk menyiapkan sebuah armada antariksa yang dapat memindahkan populasi manusia dari planet bumi ini menuju keplanet lain diluar angkasa sekalipun. Jadi bukan hanya sebatas bahtera seperti yang ada dalam cerita film “2012: We were warned” saja. Ke Saturnus sekalipun kalau memang kita bisa menghindari kiamat itu, silahkan. Demikian tantangan dari Al-Qur’an.

Intinya itulah dia hari kiamat, hari Sa’ah /waktu kehancuran total yang ditentukan/, Yaumul Hasrah /hari penyesalan/, Yaumul Muhasabah /hari perhitungan/, Yaumul Wazn /hari pertimbangan/ dan sejumlah nama lain yang kesemuanya menunjukkan mengenai kiamat yang akan terjadi dalam satu hitungan yang mengagetkan.

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Kapankah datangnya ?”. Katakanlah:”Hanya disisi Tuhankulah pengetahuan /ilmu/ tentangnya; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. ia /Kiamat/ itu amat dahsyat untuk langit dan bumi. Dia tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu /pengetahuan/ tentangnya ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. 7:187)

Marilah kita telaah lebih jauh ayat-ayat al-Qur’an yang bersangkutan tentangnya.
Demi yang terbang dalam keadaan bebas, yang membawa beban berat yang bergerak dengan mudahnya dan membagi-bagi urusan; bahwasanya yang dijanjikan itu adalah benar. (QS. 51:1-5)

Demi yang meluncur dengan cepatnya dan memercikkan api yang merubah waktu subuh dan menimbulkan debu yang berpusat padanya sebagai satu kesatuan. Sungguh, manusia itu tidak tahu berterima kasih kepada Tuhannya. (QS. 100:1-6)

Pada hari meledaknya tata surya ini dengan bencana besar serta diturunkannya para malaikat secara bersungguh-sungguh. (QS. 25:25)

Pada hari tata surya ini digoncang dengan sebenar-benar goncangan dan orbit akan terlepas dengan luar biasa. (QS. 52:9-10)

Ketika matahari digulung (olehnya) dan bintang-bintang meluluh, tenaga alamiah pun terlepaskan [dari posisi orbitnya], relasi (hubungan molekul pada benda) ditinggalkan dan semua unsur dikumpulkan serta lautan mendidih. (QS. 81:1-6)

Tata surya akan pecah karenanya sebagai bukti janji-Nya ditunaikan; Sungguh, ini satu peringatan, barang siapa yang mau mengikuti niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (QS. 73:18-19)

Maha Besar Allah yang telah membukakan sedikit tabir rahasia-Nya kepada manusia mengenai hari perjanjian dengan segala kelogisannya yang sudah sepantasnya menjadi bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan serta bagi mereka yang benar-benar mengharapkan ridho dari Tuhannya.

Melalui AlQur’an, wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw sang utusan mulia sekitar 14 abad yang lalu ditanah Arabia telah menyajikan secara gamblang proses kehancuran tersebut berdasarkan data-data ilmiah yang mampu dicapai oleh pemikiran manusia diabad 20 ini. Al-Qur’an memberitakan bahwa kehidupan dalam tata surya ini akan ditutup sekaligus secara mendadak dengan alasan dan pembuktian yang logis dan komplit. Hidup didunia ini adalah selaku ujian terhadap manusia yang akan menentukan nilai bagi setiap diri untuk ditempatkan pada golongan yang baik atau jahat diakhirat nanti yang berpokok pangkal pada ayat 51:56.

Dengan alasan ini teranglah bahwa hidup kini bukan terwujud dengan sendirinya tanpa ujung pangkal, bukan pula menjalani reinkarnasi dengan mati dan hidup berulang kali dengan jalan penitisan kepada makhluk/zat lainnya , malah sesuai dengan pemikiran wajar berdasarkan hukum kausalita yang berlaku.
Hari kehancuran total itu oleh AlQur’an dinamakan Sa’ah, yaitu waktu penutupan kehidupan massal yang ditentukan Allah, tak seorangpun yang dapat mengetahui kapan waktu pastinya sebagai satu pengujian kepada setiap diri mengenai Iman dan Ilmunya.

Tiada kejadian Sa’ah itu melainkan dalam sekejapan mata atau lebih cepat lagi. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 16:77)

Pada ayat 16:77 diatas telah disebutkan bahwa kedatangan Sa’ah itu terjadi dalam tempo yang sangat singkat, dan digambarkan kecepatannya melebihi kejapan mata.

Menurut hukum Fisika, kecepatan pandangan mata sama besar dengan kecepatan gerak sinar atau gelombang radio. Sinar bergerak sekitar 186.282 mil sedetik. Dalam satu tahun atau selama 365 hari ada 31.536.000 detik. Jadi sinar bergerak dalam satu tahun sejauh 5.874.589.152.000 mil, dan ini dinyatakan 1 tahun sinar, biasanya angka ini dibulatkan menjadi 6 billion mil. Sementara itu sinar dari matahari untuk mencapai bumi dibutuhkan waktu 8.3 menit [juga biasanya dibulatkan menjadi 8 menit sinar saja].

Jadi jika misalnya matahari itu mendadak hilang dari angkasa maka keadaan itu baru dapat kita lihat 8 menit kemudiannya, karena memang sekianlah kecepatan kejapan mata atau pandangan mata [menurut hukum Fisika]. Kini dikatakan oleh Al-Qur’an bila kejadian Sa’ah itu lebih cepat lagi.

Benda angkasa yang bergerak bebas dan dapat setiap waktu menghantam bumi kita ini ada beberapa, diantaranya asteroid, meteor dan juga komet. Asteroid misalnya, ia memiliki kecepatan lesat antara 11-12,8 kilometer perdetik hingga 40.000 mil/jam. Komet sendiri memiliki kecepatan antara 37100 km per jam hingga 150000 km/jam. Dengan kecepatan 37100 km per jam saja artinya jarak kota New York hingga kota Los Angeles (4506 km) bisa ditempuh hanya dalam 6,5 menit. Ini berarti kecepatan komet dan asteroid kadang kala bisa ada diatas kecepatan cahaya.

Bila kita sekarang, berkaca dari beragam hasil penelitian ilmiah tentang ilmu antariksa modern dengan tidak lupa juga mengambil beberapa film besutan Hollywood sebagai perbandingan visualisasi yang subyektif (seperti Deep Impact atau Armageddon) maka bila kita kaitkan dengan ayat-ayat al-Qur’an sekitar penyebab utama dari kehancuran alam semesta –sekali lagi saya katakan ini secara subyektif dan sederhana—maka kita akan lebih mudah mendapat pengetahuan imajinasi tentang dahsyatnya kejadian hari itu sehingga dengan demikian semakin sering melakukan introspeksi diri. Hisab diri kita, kelakuan kita sehari-hari.

Ada satu ayat Qur’an yang cukup mengundang perhatian kita untuk menghubungkannya kepada penyebab kejadian pada hari Sa’ah itu, ayat tersebut adalah :

Dan yang menguasai itu berada atas bagian-bagiannya dan [benda] yang membawa semesta Tuhanmu diatas mereka ketika itu “Ada Delapan”. (QS. 69:17)

Saya sepakat dengan Nazwar Syamsu, bahwa kita bisa melihat tafsir lain dari kata ‘Arsy yang selama ini ditafsirkan oleh sebagian besar orang sebagai singgasana dimana Allah berdiam. Sebab Allah tidak membutuhkan tempat, ruangan dan juga tidak terikat dengan waktu.

Jika dikatakan bahwa Allah *duduk* diatas ‘Arsy maka berarti Allah memiliki wujud yang sama seperti makhluk-Nya yang memerlukan tempat tinggal dan tempat bernaung, padahal Allah Maha Suci dan Maha Mulia dari semua itu ! Sungguh kontradiksi sekali dengan sifat-sifat keTuhanan yang dikenal didalam Islam sebagai Asma ul Husna .

Semua benda angkasa dinamakan semesta raya atau langit bagi manusia dan dapat diterjemahkan juga sebagai ‘Arsy Allah, termasuk planet-planet, bulan-bulan [satelites], komet dan apa-apa yang ada diantaranya. Semua benda itu dibangun oleh Allah sebagai yang dimaksud ayat 11:7.
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari [maksudnya 6.000 tahun karena 1 hari Allah = 1000 tahun manusia berdasarkan ayat 22:47] dan adalah semestanya atas Almaa’ … (QS. 11:7)

Semesta raya disusun begitu rupa terdiri dari jutaan bima sakti/galaksi. Masing-masing bima sakti terdiri dari jutaan bintang yang setiapnya dikitari oleh planet-planet yang umumnya juga dikitari oleh bulan-bulan sebagai satelitnya. Satu bintang dengan beberapa planet dan bulannya dinamakan tata surya atau solar system.

Kita kembali pada ayat 69:17 sebelumnya yang mengatakan bahwa kelak pada hari Sa’ah akan ada 8 yang membawa semesta raya ini padanya yang karena itu dia disebut sebagai yang menguasai. Adalah satu hal yang cukup masuk akal jika kita telah berasumsi bahwa yang 8 dimaksudkan oleh Alqur’an ini adalah 8 rombongan benda angkasa, entah itu komet atau asteroid yang akan datang dengan kecepatan penuh dan menjadikan penyebab hari Sa’ah tersebut.

Demi [bintang-bintang] yang berbaris tersusun [disemesta raya], Demi [benda angkasa] yang membentur dengan benturan Demi [ayat-ayat Qur’an] yang menganalisakan pemikiran Bahwa Tuhanmu adalah satu, yaitu Tuhan semua planet dan bumi ini serta apa yang ada diantaranya serta Tuhan bagi tempat-tempat terbit matahari [dalam setiap planetnya]. (QS. 37:1-5)

bahwa kelak dikemudian hari serombongan komet akan datang membentur/menyeret tata surya kita, waktunya sangat dirahasiakan, hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Waktu itu akan tergoncanglah planet-planet dengan hebatnya terseret mengikuti layang sekumpulan benda angkasa itu dan musnahlah semua yang hidup kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah sebagaimana yang terdapat dalam ayat 39:68

Apabila ditiupkan sangkakala dengan sekali tiupan, terbawalah bumi ini dan semua tenaga alamiahnya lalu bergoncanglah ia sekali goncangan maka ketika itu menimpalah yang menimpa dan pecahlah tata surya ini pada hari itu menurut ketentuan. (QS. 69:13-16)

Dan ditiupkan sangkakala lalu mati apa-apa yang ada dilangit dan apa-apa yang ada dibumi kecuali apa saja yang dikehendaki oleh Allah, kemudian akan ditiupkan padanya [sekali lagi] maka tiba-tiba mereka bangkit [dari mati dan] menunggu [pengadilan Tuhan atas mereka]. (QS. 39:68)

Apakah dan bagaimana waktu itu kejadian penyeretan tata surya ini dan dengan jalan bagaimana pula Allah menjalankan hukum-hukum Kausalita-Nya untuk memberikan perlindungan kepada apa yang dikecualikan-Nya seperti pada ayat 39:68 diatas ?

Mari kita jawab bersama …
Perhatikan ulang firman Allah berikut ini :

Demi yang meluncur dengan cepatnya dan memercikkan api yang merubah waktu subuh dan menimbulkan debu yang berpusat padanya sebagai satu kesatuan. Sungguh, manusia itu tidak tahu berterima kasih kepada Tuhannya. (QS. 100:1-6)

Demi yang terbang dalam keadaan bebas, yang membawa beban berat yang bergerak dengan mudahnya dan membagi-bagi urusan; bahwasanya yang dijanjikan itu adalah benar. (QS. 51:1-5)
Demi yang membentur dengan benturan (QS. 37:2)

Dari ayat Qur’an diatas kita bisa membaca bahwa kelak akan datang sekumpulan benda angkasa yang meluncur dengan cepat sambil memercikkan api [QS. 100:1] yang telah ditentukan Allah untuk membentur tatasurya kita ini [QS. 37:2] lalu menyeretnya menurut layangnya disemesta luas [QS. 100:4] hingga habislah semua bintang diangkasa itu semuanya terseret pada waktu tertentu berturut-turut [QS. 51:4].

Waktu itu matilah semua makhluk berjiwa dalam daerah tatasurya [QS. 39:68] hari itu tidak ada tempat berlindung sama sekali bagi manusia sekalipun dia mencoba pergi dari bumi menuju ke planet Saturnus. No way out even you go to outerspace.

Dengan ini saja kita bisa mengambil kesimpulan bahwa benda angkasa yang dimaksudkan kemungkinan besar adalah komet atau juga asteroid yang memiliki karakteristik nubuatan Qur’an. Dan yang menjadi ekor dari benda angkasa tersebut adalah bintang-bintang dengan semua planet dan bulannya yang telah dibentur dan diseret oleh benda itu lebih dahulu. Dalam Qur’an diistilahkan yang terbang bebas dan berbeban berat serta mudah dalam pergerakan maka dalam gerak demikian dia membentur setiap tatasurya yang menghalangi arah geraknya, langsung membentur dan menyeret. Waktu itu juga seluruh Ionosfir akan bergabung dengan komet/asteroid tersebut, sehingga berakibat setiap tatasurya yang dibenturnya itu otomatis menurut kepada benda raksasa itu.

Pembenturan komet/asteroid atas setiap bintang dan planet bukan terlaksana sekaligus, bukan dalam satu ketika secara mendadak melainkan melalui proses alamiah yaitu secara berangsur-angsur sehingga kian lama wujudnya semakin membesar dalam masa yang amat panjang dan itu telah mulai terjadi semenjak ribuan tahun yang lalu dan akan tetap seperti itu hingga masa ketentuan itu diberlakukan Allah.

Mungkin hal itu susah digambarkan dalam ingatan kita secara manual dan mau tidak mau kita membayangkan apa yang ada dalam film-film Deep Impact atau Armageddon bahwa langit biru yang ada diatas kita ini kelak tiada lagi berbintang karena semuanya mengikut pada 8 rombongan benda angkasa seolah merekalah yang menguasai semesta raya dihari tersebut.

Dan yang menguasai itu berada atas bagian-bagiannya dan yang membawa semesta Tuhanmu diatas mereka ketika itu “Ada Delapan”. (QS. 69:17)

Bahwa setiap planet itu berputar disumbunya untuk mewujudkan siang dan malam serta Timur dan Barat bagi permukaan masing-masing planet itu adalah sudah satu hukum yang pasti dalam ilmu Astronomi. Semua bintang berada pada posisi tertentu disemesta raya dengan sifat Repellent antara satu dengan lainnya tersusun rapi sesuai dengan hukum-hukum yang sudah ditetapkan Allah.

Sungguh, Allah menahan planet-planet dan bumi agar tidak luput /dari garis orbitnya/, Jika semua itu sampai luput, adakah yang dapat menahannya selain Dia ? Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. 35:41)

Tapi mesti dijelaskan disini dalam hubungannya dengan banyak ayat Qur’an yang lain serta kajian Ilmu pengetahuan modern, setiap planet memiliki Rawasia [tenaga alamiah] Simple karenanya tidak akan kejadian dua planet dempet bersatu; sebaliknya setiap planet dalam tatasurya ini akan dempet bersatu dengan matahari yang dikitarinya namun tidak akan lebur mencair karena masing-masingnya dikungkung oleh batang magnet yang membujur dari Utara ke Selatan. Termasuk planet bumi kita ini.

Hal ini berlaku sewaktu tatasurya ini diseret oleh komet/asteroid/benda angkasa lainnya yang masih misteri sehingga menyebabkan susunan planet kacau balau. Orbit dan jarak tertentu tak terlaksana lagi masing-masingnya tertarik jatuh pada matahari disebabkan Rawasia yang berlainan. Setiap planet itu melekat pada matahari dalam keadaan utuh berupa globe yang senantiasa bulat dan tetap berputar disumbunya.

Hal demikian sangat penting sekali terjadi karena dengan itu tidak akan kejadian adanya suatu planet dalam tatasurya kita ditarik oleh bintang lain, tetapi hal itu pulalah yang menyebabkan permukaan setiap planet terbakar, lautan menguap habis, gunung-gunung meleleh dan setiap benda mencair jadi atom asal seperti diterangkan oleh ayat 81:1 s.d 81:6

Ketika matahari digulung (olehnya) dan bintang-bintang meluluh, tenaga alamiah pun terlepaskan [dari posisi orbitnya], relasi (hubungan molekul pada benda) ditinggalkan dan semua unsur dikumpulkan serta lautan mendidih. (QS. 81:1-6)

Akan tetapi lain keadaannya dengan bulan-bulan yang menjadi satelit mengitari planet. Untuk itu AlQur’an menerangkan :

Semakin dekat Sa’ah dan terpecahnya bulan-bulan. (QS. 54:1)

Dan lenyaplah bulan-bulan itu serta dikumpulkanlah bulan-bulan itu bersama matahari. (QS. 75:8-9)

Bulan memiliki Rawasia Spot atau Mascon, yaitu titik pusat magnet yang berada dalam tubuhnya, karena itu dia tidak pernah berputar tetapi mengedar keliling planet. Makanya bulan terwujud dari pasir halus tak memadat, bergravitasi sangat lemah. Bulan mengorbit matahari dengan jarak 384,400 km dari planet bumi kita dan bergaris tengah 3476 km dengan massa 7.35e22 kg.

Sewaktu planet-planet jatuh tertarik dempet pada matahari pada hari Sa’ah tersebut maka setiap bulan itu tak mungkin mempertahankan wujud globenya, masing-masing akan meleleh menjadi satu dengan matahari dan mulai saat itu hilanglah bulan untuk selama-lamanya sebagaimana tercantum pada ayat 75:8-9 diatas dan sesuai pula dengan ayat 39:68 yang menyatakan bahwa pada ledakan pertama itu semua yang hidup akan mati kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah, dan secara kesimpulan *subyektif* salah satu benda yang tidak akan dimusnahkan oleh Allah itu adalah planet bumi kita ini sebab pada saat itu bumi tidak lebur kedalam matahari dalam pengertian meleleh melainkan akan mewujudkan satu keadaan baru sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya yang lain serta beberapa Hadist Nabi Muhammad Saw yang akan kita bahas dibawah ini :

Pada hari Kami putarkan tata surya ini laksana putaran radiasi untuk ketetapan-ketetapan [Kami]. Sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya kembali sebagai janji atas Kami. Sungguh pasti akan Kami tepati [janji itu]. (QS. 21:104)

[Yaitu] hari dimana bumi diganti dengan bumi yang lain [dalam rupanya] begitu pula planet-planet, dan mereka semuanya tunduk kepada Allah yang Esa dan Perkasa. (QS. 14:48)

Wahai manusia, insyaflah pada Tuhanmu, Bahwa goncangan Sa’ah itu adalah sesuatu yang amat dahsyat. (QS. 22:1)

Dia berfirman: “Di sana engkau hidup dan disana pula engkau akan mati, dan dari sana pula engkau akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Dari Sahal bin Sa’ad ra. katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Dikumpulkan manusia pada hari kiamat di Bumi yang putih kemerah-merahan bagai dataran yang bersih, tidak ada tanda-tanda penunjuk untuk siapapun”. (HR. Imam Muslim)

Dari Mikdad bin Aswad ra. katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Didekatkan matahari kepada manusia dihari kiamat sehingga jarak matahari dari mereka sekira satu mil. Manusia digenangi keringat menurut ukuran amal mereka…” (HR. Imam Muslim)

Jadi jelaslah bahwa bumi kita ini dan juga matahari tidak akan hancur saat kiamat itu melainkan akan diperbaharui bentuk dan keadaannya sebagaimana Firman Allah dan Hadist Rasul diatas.

Begitulah satu keterangan yang cukup jelas bagi kita untuk menggambarkan keadaan bumi dan sistem matahari yang telah mengalami Sa’ah dengan orbit dan keadaan lain yang juga berubah total [sebagaimana pada Hadist yang pertama dikatakan bahwa bumi berwarna putih kemerah-merahan akibat penyatuannya semula dengan matahari pada waktu Sa’ah dan menguapkan/menghanguskan semua benda hingga tidak ditemukan tanda-tanda apapun sebagai penunjuk sementara jarak orbit matahari kala itu teramat dekat dengan bumi dan sebagai perwujudan dari apa yang selama ini dikenal orang dengan nama Padang Mahsyar].

Jika sekarang ini bumi kita diliputi oleh Atmosfir yang dalam AlQur’an, Atmosfir disebut sebagai Barkah [sesuatu yang melindungi sekaligus sebagai rahmat Allah] dengan lautan yang menggenangi hampir separuh daratan bumi, maka setelah Sa’ah tersebut, bumi menjadi telanjang dari Ionosfir sehingga pandangan mata dapat memandang lepas keseluruh penjuru langit dan air laut menjadi menguap menimbulkan bentuk-bentuk daratan baru dipermukaannya yang keadaannya tidak dapat diramalkan orang bagaimana bentuknya saat itu.

Coba anda perhatikan ayat-ayat Tuhan berikut ini :

Maka ketika bintang-bintang dilenyapkan [dari pandangan mata karena diseret benda angkasa yang meluncur secara deras]. Dan apabila atmosfir telah dibuka dan gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu [yaitu meleleh karena jatuh dempet pada matahari]. (QS. 77:8-10)

Pada prinsipnya, tempat hidup di Akhirat nanti adalah tempat hidup didunia ini juga yang sudah mengalami perombakan sedemikian rupa pada saat Sa’ah, sebab dimana lagi tempat lain yang mungkin didiami dalam semesta raya Tuhan kalau tidak dipermukaan salah satu planet ? Bukankah Tuhan pula menyatakan bahwa dibumi ini juga manusia akan dibangkitkan nantinya ?

Dia berfirman: “Di sana engkau hidup dan disana pula engkau akan mati, dan dari sana pula engkau akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Dan tidakkah manusia pikirkan bahwa Kami jadikan ia dari setitik Nutfah tetapi tiba-tiba ia jadi pembantah yang nyata, dan dia mengadakan perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang hancur luluh ?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala ciptaan.” (QS. 36:77-79)

Jika kamu ragu tentang kebangkitan nanti, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah [Turab], kemudian dari setetes mani [Nutfah], kemudian dari segumpal darah [‘Alaqah], kemudian dari segumpal daging [Mudgah] yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu.

Dan Kami tetapkan dalam rahim [ibumu] apa yang Kami kehendaki sampai waktu tertentu, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu sampai pada kedewasaanmu, dan diantara kamu ada yang diwafatkan [sebelumnya] dan diantara kamu ada yang dipanjangkan umurnya sampai pikun agar dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. (QS. 22:5)

Pada hari kebangkitan itu, hari dimana setiap diri dihidupkan kembali nanti terdapatlah dua macam bentuk manusia yang memperlihatkan perbedaan yang menyolok ditentukan oleh perbedaan beriman dan kafirnya.

Pada hari yang akan ada muka yang putih berseri dan ada pula yang bermuka hitam muram. Kepada orang-orang yang hitam muram mukanya akan ditanyakan: “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman karenanya rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah. (QS. 3:106-107)

Dan ditiup sangkalala, maka secara cepat mereka keluar dari kuburnya bersegera kepada Tuhan mereka dan berkata :”Aduhai, celakalah kami ! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat istirahat kami ?” Inilah apa yang dijanjikan Yang Maha Pemurah dan benarlah [sabda] para Rasul. (QS. 36:51-52)

Pemandangan dan pendengaran manusia dihari itu sangat tajam, jika sekarang ini manusia hidup dalam alam tiga dimensi dimana panca indera memiliki keterbatasan tertentu dalam pencapaiannya maka diakhirat kelak manusia akan hidup dalam alam 4 dimensi dimana penglihatan dan pendengaran tak terhalang dan tak dibatasi oleh ukuran tertentu dalam lingkungannya malah mereka akan melihat serta mendengar sesuatu pada gelombang yang sudah lama menggelombang keangkasa luas yang kemudian kembali memantul kepada panca indera mereka.

Keadaan seperti itu akan menakutkan manusia yang selalu berbuat dosa selama hidup sebelumnya, pada hari itu juga dia dapat kembali melihat rekaman kehidupannya yang pada hakekatnya adalah Neutron yang senantiasa merekam segala gerak gerik yang berlaku dalam hidup satu diri kemudian dia mengapung keangkasa sebagai anti partikel waktu dimana fungsi rekamannya berhenti karena tiada lagi yang direkamnya.

Para ahli sependapat bahwa masa lalu tidak hilang begitu saja tapi ia berpindah kewujud lainnya dan mengambang diangkasa yang beberapa diantaranya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu yang memiliki ketajaman indra ke-6 untuk melihat kejadian masa lalu yang pada intinya adalah mengadakan persesuaian frekwensi pikirannya kearah frekwensi rekaman yang ada, tinggal lagi sampai sejauh mana frekwensi manusia tersebut dapat melihat secara luas dan jauh rekaman yang dia inginkan yang tentu juga akan mengeluarkan banyak tenaga.

Sesungguhnya engkau berada dalam keadaan lalai tentang hari Akhir ini, maka Kami angkatkan darimu tutupan pancaindera [yang menutupimu sebelumnya], maka penglihatanmu pada hari ini sangat tajam. (QS. 50:22)

Diberitakan kepada manusia pada hari itu apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu akan melihat riwayat dirinya sendiri. (QS. 75:13-14)

Awaslah, karena sesungguhnya tulisan untuk orang-orang yang pembangkang itu ada dalam Sijjin. Dan sudahkah engkau tahu apa Sijjin itu ? Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:7-9)

Ingatlah, bahwa tulisan orang-orang baik itu ada dalam ‘Illiyyin. Tahukah engkau apakah ‘Illyyin itu ? Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:18-20)

Dalam ayat yang lain Allah juga menerangkan dengan cukup jelas perihal Kitab catatan Raqid ‘Atid itu sebagai Mar’a yang dikeluarkan dari setiap benda.

Jagalah kesucian nama Tuhanmu Yang Maha tinggi. Yang telah menjadikan dan menyempurnakan. Dan yang telah menentukan serta menunjuki. Yang mengeluarkan Mar’a [berkas-berkas kehidupan] Lalu menjadikannya dalam keadaan mengapung dan berisikan catatan [gusaan ahwa]. Kelak akan Kami beberkan padamu. (QS. 87:1-6)

Terimakasih, saatnya kita saling bermuhasabah diri !
Salam dari Palembang …


ARMANSYAH, 18 Nopember 2009
Advertisements

2 Responses

  1. nice info. blogwalking nih.. maen ya ke blog saya.

  2. […] 39. Histeri kiamat dalam tinjauan Islam […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: