Memberi makan orang berpuasa

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits Hasan Shahih”)


Dari Salman al-Farisi ra. berkata : “Rasulullah saw. berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun”.

Kami bertanya: “Wahai Rasulullah saw. Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa?”
Rasul Saw bersabda: “Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. 2 hal itu adalah Syahadat Laa ilaaha illallah dan beristighfar kepadaNya. Adapun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw.) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga”. (HR Al-Uqaili, Ibnu Huzaimah, al- Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani)

6 Responses

  1. kalo mengasih makan orang berpuasa sama pahalanya dengan orang berpuasa, mending nggak usah puasa, cuma nyape-nyapein. saya mohon maaf bung orang yang pinter dan cerdas tapi kok masih percaya dengan perkabaran ( hadist ) spt ini, masih percaya dengan lailatul qadr, lailatul qadr adalah malam turunnya Alquran, apakah setiap bulan Ramadhan Alquran selalu turun. Mohon maaf kalo menyinggung perasaaan

  2. Kepada Muhammad Abas
    Saya tersenyum membaca komentar anda
    Karena jelas bukan orang muslim yang dapat berkata “orang yang pinter dan cerdas tapi kok masih percaya dengan perkabaran ( hadist ) spt ini”, karena setiap muslim baik itu orang yang mengaku cerdas atau jenius sekalipun, tidak dapat semaunya sendiri mengabaikan perkataan Nabi Muhammad yang sahih.

    Dengan kalimat anda yang seperti itu anda mengasumsikan bahwa “orang yang cerdas dan pintar” itu adalah orang yang tidak percaya dengan hadis. Hmmm… sayang sekali pemahaman kami tidak seperti itu, karena jika ada seorang muslim yang tidak percaya akan hadis (Sahih), dia menurut kami bukanlah orang cerdas atau pintar, tapi keblinger. hahahaha

    Semoga anda dapat lebih bijak berkata-kata, karena sebuah teko hanya akan mengeluarkan apa yang dikandungnya.
    🙂

  3. Buat Rantasa
    Anda kok yakin sekali kalo itu perkataan Nabi Muhammad SAW? Dari mana anda yakin? Apakah cuma ikut-ikutan. Hadist nabi disusun 200 tahun lebih setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Coba anda pikirkan, kejadian setahun yang lalu aja ada tidak bisa menceritakan dengan urut apalagi 200 th lebih. Maaf Kalo menyinggung

  4. Saya melakukan eksperimen terhadap sebuah formula pahala yang lazim dikenal, yaitu:
    Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

    Eksperimennya berjalan seperti ini.
    Suatu hari seorang teman saya satu kos-kosan berpuasa. Saya mengenalnya sebagai orang yang baik, ramah, penolong, jujur, saleh, rajin sholat, dan berkecukupan. Tentu ketika dia berpuasa, puasanya itu dilakukan dengan kesungguhan dan niat yang tulus. Dia orang mampu, bukan orang yang berpuasa–seperti beberapa mahasiswa di kos-kosan kami yang lain waktu itu–karena uang kiriman habis atau karena dihabiskan untuk berjudi (entah judi kyu-kyu atau sepakbola).

    Dalam benak saya, pahalanya pasti besar, lalu saya teringat dengan formula di atas. Kalau saya nanti memberi atau membelikannya makanan untuk berbuka puasa, tentunya saya akan mendapatkan pahala yang sama. Ah, kesempatan baik. Kapan lagi saya bisa mendapatkan pahala sebesar itu? Disiplin tidak punya. Ketulusan relijius tidak terpelihara. Niat baik bertaqwa tidak ada, ketahanan untuk menahan lapar, haus, dan nafsu apalagi. Tapi, di kantung saya, ada beberapa ribu uang kiriman ekstra yang bisa saya gunakan untuk membelikan makanan buka puasa. Alhamdulillah, ternyata jalan menuju pahala dan kebajikan tidak seterjal dan seberliku yang saya bayangkan.

    Jadi saya sudah siapkan rencana untuk menyiapkan atau membelikan makanan berbuka bagi kawan saya yang alim ini.

    Menunggu adalah pekerjaan yang paling mengesalkan. Apalagi menunggu kesempatan mendapat pahala ‘murah meriah’ pada saat azan magrib berkumandang. Buat kawan saya yang sedang kelaparan dan kehausan itu, menunggu dilakukannya dengan tidur siang. Sebagai seorang ‘investor pahala’ tentu saya tidak mau pahala yang saya dapatkan nantinya berkurang nilainya karena puasa kawan saya ini diisi terlalu banyak tidur. Ketika dia mulai terlelap, saya pukul bangku dikamarnya dengan keras. Blarrr! Dia kaget, terbangun dan sedikit gusar, tetapi tetap menahan sabar. “Ada apa?” katanya. “Jangan tidur, puasa kok tidur, mana tantangannya? Lalu dia menggerutu tidak jelas dalam bahasa ibunya, tidak tidur lagi, dia kemudian membaca diktat kuliah.

    Lalu saya pikir, orang yang berpuasa sambil berjalan-jalan ke pasar atau malah ke lokalisasi pelacuran, ke tempat-tempat dengan godaan dan tantangan yang begitu tinggi tentunya akan menghasilkan pahala lebih tinggi daripada yang berpuasa sambil membentengi diri dengan kebajikan atau menjauhkan diri dari kemaksiatan. Puasa dengan taktik ‘menghindar’ adalah puasa anak TK, puasa for beginner, menurut saya. Saya harus memberikan tantangan yang lebih besar lagi, demi meningkatkan mutu pahala yang bisa saya dapatkan nantinya, ini murni pemikiran untung-rugi investasi pahala.

    Lalu, di kamarnya, di komputernya, saya putarkan VCD porno. Murni hanya sebagai tantangan. Buat saya menonton film porno berjamaah sungguh tidak menaikkan birahi dan tidak bermanfaat kecuali sebagai sarana bersosialisasi dengan khalayak berselera rendah yang lain. Film porno bagi saya hanya bisa berfungsi jika ditonton secara privat. Kali ini film porno saya mainkan dalam fungsi yang lain: meningkatkan pahala puasa seseorang.

    Teman saya yang berpuasa kaget, sempat menegur saya dengan jengkel, “Kamu kan tahu saya sedang berpuasa….” Saya jawab, “Tentu, dan ini agar pahalamu bertambah, karena puasamu jadi lebih tertantang dan teruji.” Dia lalu melengos keluar, mengambil air wudhu dan sholat Ashar di kamar saya.

    Matahari makin menggelincir ke barat. Tak sedetikpun kawan saya ini saya lepaskan dari tantangan dan godaan. Mulai dari menghamburkan segala celaan sampai mencuranginya dalam permainan kartu truf secara brutal, membiarkannya dengan sabar mengocok kartu.

    Akhirnya, ketika azan magrib menjelang dalam hitungan menit, ia datang dan menyampaikan niatnya meminjam sepeda saya. “Jangan,” kata saya, “kamu kan seharian belum makan, nanti lemas, bahaya.” Lalu saya boncengi dia bersepeda ke warung pilihannya. Dia berbuka dengan sepotong pisang goreng yang hangat dan harum baunya, satu gelas es teh manis, lalu sepiring nasi putih yang masih berasap, sepotong sayap ayam bakar kecap, dan semangkuk sup jagung. Saya hanya memesan segelas es teh, belum waktunya makan malam buat saya.

    Lalu kami mengobrol, sambil merokok, dan ketika tiba waktunya pergi, saya bergegas mendahuluinya ke kasir lalu membayar semua makanan dan minuman. “Lho….” dia terheran-heran. Mana pernah saya berbaik hati membayari makanan orang lain, bahkan kepada pacar sendiri (lebih jelasnya, saya tidak pernah punya pacar karena menghindar kewajiban membayari makannya dalam kencan, ini memang bukan peraturan resmi, tapi sejenis konvensi tak tertulis. Saya berusaha mencari pacar yang justru membayari makan saya dalam kencan, tapi tidak pernah dapat).

    Saya diam saja. Lalu di parkiran warung, saya katakan, “Kamu kan sudah makan, sudah ‘isi bensin’, gantian, sekarang saya yang dibonceng, kamu nggenjot.”

    Masih didera penasaran, setiba di kos-kosan, kawan saya bertanya kenapa tumben saya berbaik hati membayari makan buka puasanya. Lalu saya jelaskan skema investasi pahala yang saya operasikan sepanjang hari.

    “Bajingan!” Itulah komentar pertama dari mulutnya yang tidak lagi berpuasa.

    “Tapi kamu tidak kehilangan apa-apa, pahalanya tidak dibagi dua, ini jaminan dari Nabi. Saya hanya memanfaatkan ekstra, bonus, apalah namanya….” demikian saya berupaya membendung kekesalannya.

    “Modal nggenjot berangkat, sama berapa ribu perak aja minta pahala sama.”

    “Lho, tapi kan saya ikhlas. Kamu juga yang ikhlas dong, kalo nggak nanti malah pahalamu yang berkurang. Saya kan sudah ikhlas mbayari buka puasa.”

    “Gue ganti aja dah duitnya, gue bayar sendiri aja.”

    “Nggak bisa! Mending dapet pahala daripada duit. Duit gampang dicari, pahala puasa kayak gini yang susah nyarinya jaman sekarang.”

    “Brengsek. Lu emang kapitalis curang. Pahala dikira dagangan apa?”

    “Ape kate lo aje deh.”

    Nah demikianlah sebagian gerutuan dan sesekali makian yang berjalan lewat waktu isa, sepanjang pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan TV, sampai tiba waktunya sahur lagi. Dia pergi sendiri berangkat sahur dengan motor, tak lagi meminjam sepeda saya untuk ke warung. Mungkin enggan berbagi pahala dengan sepeda saya.

    Saya juga tidak terlalu peduli. Jaminan Nabi untuk dapat pahala sama hanya pada memberi makan orang yang berbuka, bukan yang sahur.

  5. @Muhammad Abas

    BERTAUBATLAH engkau kpd ALLAH dan RASUL-NYA
    kalau dilihat dari perkataan antum..
    antum itu dr golongan yang mengagungkan akal (filsafat)..
    Wal iyyadzubillah minadholal..

    link sunnah http://www.alsofwah.or.id; http://muslim.or.id

  6. Sayang sekali, keyakinan bukan berasal dari ikut-ikutan mas, dibalik kepala itu ada otak, silahkan di gunakan, jika anda tidak menemukan sesuatu yang dapat anda yakini, maaf yah, bukan tugas saya untuk meyakinkan anda. Adalah tugas anda sendiri untuk menggunakan akal dan fikiran untuk menguji kebenaran. salam

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: