Buku Ramalan Imam Mahdi menggegerkan ?

Belum satu bulan buku ketiga saya “Ramalan Imam Mahdi : Akankah ia datang pada 2015, sebuah jawaban untuk Jaber Bolushi” terbit. Ternyata sudah dimasukkan dalam 3 buku yang menggegerkan tahun ini.

Hal tersebut disampaikan oleh pengelola situs http://tegakluruskelangit.blogspot.com/2008/08/buku2-yang-bikin-geger.html seperti gambar dibawah ini :

Fenomenal ?
Buku Ramalan Imam Mahdi : Fenomenal ?

Entah benar atau tidak, namun jika ini memang kenyataannya maka menjadi kabar baik sebab upaya saya untuk membendung klaim-klaim dari Jaber Bolushi akhirnya berhasil. Semuanya adalah kehendak Allah.

Alhamdulillah

Koleksi Segera 3 Karya fenomenalnya

Koleksi Segera 3 Karya fenomenalnya

15 Responses

  1. ———- Forwarded message ———-
    From: Hendy Nugraha (email : nugraha212@gmail.com)
    Date: 2008/8/26
    Subject: [Milis_Iqra] Re: Buku Ramalan Imam Mahdi bikin geger ?
    To: Milis_Iqra@googlegroups.com

    Alhamdulillah. Selamat mas Arman atas peluncuran buku ketiganya yang “secara tidak langsung” dipromosikan juga oleh situs tersebut.

  2. ———- Forwarded message ———-
    From: Whe~en (gmail) (Email : whe.en9999@gmail.com)
    Date: 2008/8/26
    Subject: [Milis_Iqra] Re: Buku Ramalan Imam Mahdi bikin geger ?
    To: Milis_Iqra@googlegroups.com

    Saya baru sampai halaman 50🙂
    yang sudah selesai baca mas Dani mungkin ya?🙂
    Gimana mas Dani pendapatnya?

  3. ———- Forwarded message ———-
    From: Dani Permana (Email : adanipermana@gmail.com
    Date: 2008/8/26
    Subject: [Milis_Iqra] Re: Buku Ramalan Imam Mahdi bikin geger ?
    To: Milis_Iqra@googlegroups.com

    Alhamdulillah saya sudah baca sampai halaman 303 barusan, diantara yang paling menarik bagi saya adalah BAB II, pembahasan mengenai Dajjal dan Imam Mahdi, dan pembahasannya komprehensif dibanding buku-buku yang saya ketahui sebelumnya. sedangkan tentang Isa All Masih, saya lebih suka merujuk ke buku pertamanya…

    kemudian BAB III, tanggapan Mas Arman atas bukunya Jaber Bolushi, I wanna tell you good job…awesome… :)…

    Mungkin yang terakhir bagian Penyatuan Sunni – Syiah… ini yang mungkin teramat sulit dan sudah pasti ada pihak-pihak yang tidak setuju.

    Di gramedia Pondok Indah Mall, buku Mas Arman sudah Ada, disandingkan dengan bukunya Jaber Bolushi dan tinggal menungu waktu saja, karena jaber Bulushi sudah best Seller, mudah-mudahan buku yang ada disampingnya juga demikian…

    Tinggal Mas Arman memikirkan untuk di terjemahkan ke berbagai macam bahasa, sebagaimana jaber Bolushi juga sudah melakukannya…

  4. ———- Forwarded message ———-
    From: Wahyu Hidayat (Email : wahyu_hidayat@lge.com)
    Date: 2008/8/26
    Subject: [Milis_Iqra] Re: Buku Ramalan Imam Mahdi bikin geger ?
    To: Milis_Iqra@googlegroups.com

    Mas di gramedia udah ada blum ya..
    Saya pingn beli, soalny buku jaber bolushi saya udah punya jadi mau lagsg compare

    Wassalam
    Wahyu

  5. ———- Forwarded message ———-
    From: Whe~en (gmail)
    Date: 2008/8/26
    Subject: [Milis_Iqra] Re: Buku Ramalan Imam Mahdi bikin geger ?
    To: Milis_Iqra@googlegroups.com

    Sekitar seminggu yang lalu saya sudah lihat di Gramedia Summarecon serpong sudah ada,
    bersandingan dengan bukunya jaber bolushi
    dan saya sudah info ke mas arman,🙂
    selamat mencari & good luck…..

  6. Secara umum, buku Anda bagus. saya suka dengan gaya bahasanya, mengalir seperti air..nampak anda sudah terbiasa dengan dunia tulis menulis dan tentu menguasai bidangnya. Bisa dibayangkan, Nopember 2007 baru terima buku Jaber, Agustus 2008 sudah ada jawabannya. Hanya 8 bulan dalam proses baca, telaah, analisa, tulis, edit, cetak..luar biasa!!…
    tapi maap ya khusus mengenai Dajjal..hati-hatilah dalam mengomentari dalam tulisan di buku anda.
    Mas Arman, dalam konteks akhir zaman, saya setuju dalam arti SIFAT (simbol) dajjal itu sudah lama keluar dengan segala sepak terjang AS selama ini (bagi yang cerdas menganalisa spt Anda)..tinggal dalam arti sosok (nyata) yang PASTI juga akan keluar (bagi konsumsi orang awam seperti saya). Tunggu saja. Kenapa? Islam kan utk semua, yg pintar dan awam? ..jadi tolong, dalam membaca hadits / ayat kalau sudah jelas artinya (qot’i) jangan ditambah2 lagi penafsiran sendiri (walau ada referensi dr ulama sekalipun. Padahal di buku Anda, Anda termasuk yg kritis menilai sahabat Nabi yg bisa aja keliru– itu yg Anda tulis di buku Anda–bagaimana bisa Anda lebih mempercayai referensi ulama terkini daripada ucapan sahabat awwalun??? bgm ulama terkini bisa mempengaruhi Anda yg mereka belum tentu dijamin sorga sebagaimana sahabat2 nabi yang telah ikhlas menjual dunianya utk akhirat? bgm ulama terkini bisa sangat Anda kagumi dibanding sahabat nabi yang jelas-2 telah berjuang jihad fisabilillah demi Islam merebak ke seantero jagat?)..Apakah ulama-2 yg anda banggakan itu lebih hebat dari para sahabat??

    Sediakan lahan utk yg awam mengerti dan menjalankan agamanya…jangan menambah kebingungan..mereka mana tahu akan istilah2 ilmiah, empiris, dan tetek bengek lainnya..Allah Maha Tahu akan kapasitas hambanya, apalagi Nabi SAW aja seorang ummi dan banyak sahabatnya dari kalangan budak/ummi–sahabat nabi yang intelek(kaya) bisa dihitung dg jari..sesuai dengn sunnatullah pula dari dulu hingga kiamat nanti jumlah orang cerdas(IQ tinggi) selalu kalah banyak dengan yang awam..permata/intan (diibaratkan IQ tinggi) akan selalu kalah jumlahnya dng pasir/kerikil. Karena apa?mereka lah kontribusi terbesar dlm menambah jumlah umat Islam. Merekalah yang membuat Islam besar dan menjadi agama yg paling cepat penyebarannya ke seluruh dunia. Mereka (awam) tidak banyak tanya, lugu–sami’na wa ato’na dalam beragama. Mereka lah The real Ulama. Inilah yang membedakan: sikap ilmuwan yang kritis seperti Anda. Ada lahan tersendiri utk membahas masalah akhirat/agama utk masing-2 ulama dan ilmuwan. Ilmuwan seperti Anda cocok diadu argumentasi dg Jaber sesama ilmuwan. Jangan saling tumpang tindih ; Anda mengkritisi ulama, ulama mengkritisi ilmuwan (tp yg terakhir ini kelihatannya sangat jarang terjadi, bagaimana mungkin jiwa sami’na wa ato’na punya sikap kritis?)..

    Inilah yang menjadi tujuan Islam: mengubah kerikil menjadi lebih bernilai dari intan (menjadi cerdas rohani)…..bukankah yg terpenting seorang muslim itu La ilaa ha illallah — lagi, itu yg Anda tulis??..bagaimana mungkin seorang Nabi SAW saja masih bisa mentolerir sahabatnya yg munafik, tapi kita sekarang jauh, jauuh sekalii dijaman sahabat telah berlaku curang dengan menafikan sebagian sahabat, bahkan memusuhinya??

    Allah Maha Adil..Allah membuat kendararaan yg bernama Islam ini mudah aja koq.. . Ini agar utk bisa dipakai semua kalangan..manusianya aja yg bikin sulit..biarkanlah si Jaber, Abu Fatiah atau siapapun membuat buku tentang akhir zaman, toh tidak akan menjadi kiamat dunia ini…toh tidak akan rusak Islam ini. Biarkan saja masyarakat yg menilai, toh yang beli buku Anda/Jaber juga hanya terbatas (yg punya duit)…yang tidak baca juga lebih banyak lagi. Sebaliknya, bela-lah Islam kalau jelas2 ada yg menghina, seperti Ahmadiyah, Lia, dll. Sebaliknya jg, sunnah nabi/sahabat dalam menegakkan dakwah==> dekati kaum dhuafa, awam, fakir miskin, anak yatim ini potensi utk lahan dakwah dibanding lewat buku/cyber yang audience-nya terbatas..(jangan katakan cara nabi/sahabat berdakwah kolot karena saat itu blm ada internet/buku)…ikuti cara nabi/sahabat kalau mengakui cara mereka berdakwah tiada duanya sepanjang masa …berkorban jiwa raga-biamwalikum wa anfusikum-hijrah lahir bathin-tidk takut miskin-menjual dunia dengan akhirat………..jangan menunggu Imam Mahdi (kalau kita ada umur, bgm kalau tidak???) untuk mengetahui siapa Dajjal, Isa turun atau tidak, tapi kembalikan semuanya kepada Rasul dan sahabatnya, toh sudah jelas jalan yang ditempuh mereka..(percayalah dengan sahabat yg membawakan hadits, apalagi mereka hidup bersama Nabi, berjuang dan berdakwah bersama-sama….apa hak kita mengutak-atik gathuk pribadi mereka (apa kita lebih baik dari mereka??), toh kita tidak berdosa di akhirat bila berpegang teguh sunnah sahabat sepanjang mereka masih Laa ilaa ha illallah..urusan mereka nanti di Akhirat dg Allah bagi yg berbohong, tanggung jawab nti semua ditimpakan ke mereka, yang penting kita ikuti sunnah : sami’na WA ato’na).. terakhir : dalam urusan agama..siapa yang lebih cocok kita ikuti, ulama awwalun atau ulama akhiirrun? Apa kita sekarang merasa lebih pintar dari mereka terdahulu dalam urusan agama? Bukankah mereka prosfesor-profesor agama yang mumpuni? Untuk urusan dunia, bolehlah kita merefer ke ilmuwan terkini, bukankah Nabi Saw sndiri yang bilang : kamu lebih tahu urusan dunia.
    Jazakumullah, yang benar dr Allah, yang salah dari nafsu diri sy sendri..

  7. Terimakasih untuk Bapak Diens RM atas kontribusi, saran maupun kritiknya.

    Saya menerimanya dengan lapang dada dan syukur. Artinya buku saya telah menarik perhatian para pembacanya dan memungkinkan mereka untuk memberikan tanggapan secara langsung kepada saya selaku penulisnya.

    Saya memang lebih suka untuk membuka diri sebagai bagian dari proses pembelajaran yang lebih jauh serta menjalin tali silaturahim kepada semua orang.

    InsyaAllah, bapak selalu berada dalam lindungan dan maghfiroh Allah SWT.

    Mengenai ulama, rasanya sudah saya jelaskan panjang lebar dibuku itu dan demikianlah adanya konsepsi saya. Seperti yang ada pada kata pengantarnya, kita harus belajar untuk bisa sepakat terhadap ketidaksepakatan.

    Pendirian saya terhadap As-Sunnah sendiri, memang cukup menggelitik sejumlah teman-teman.

    Saya pernah menyampaikan di milis Iqra yang saya dirikan, bahwa saya sama sekali tidak ingkar terhadap sunnah, dan rasanya semua orang yang pernah membaca tulisan-tulisan saya pasti akan membenarkannya. Hanya saja mungkin pola saya memahami sunnah berbeda dengan pola sebagian besar orang atau kaum muslimin. Semua saya lakukan atas dasar ilmu yang ada pada saya dan bukan atas dasar ikut-ikutan atau juga fanatisme terhadap madzhab tertentu.

    Banyak hal yang membuat saya kadang tidak sepakat dan juga sepakat, tetapi yang jelas poin utamanya bahwa saya bukan orang yang ingkar terhadap sunnah. Silahkan mengikuti cara saya bila itu menurut antum benar dan silahkan pula untuk tidak setuju dengan saya bila itu menurut antum tidak benar. Pastinya setuju atau tidak, semua harus dilakukan dengan ilmu serta kajian yang obyektif.

    Dalam beragama, saya membebaskan diri dari ikatan ortodok/klasik/salafi, modern, liberal dan sebagainya. Saya hanya seorang muslim yang senang membaca, berpikir dan menulis serta mengaplikasikannya dengan apa yang bisa saya lakukan.

    Saya merasa bahagia bila menyebut diri saya sebagai seorang Muslim. Saya bersyukur istilah Muslim ini tidak mengisyaratkan kesektean atau komunitas tertentu sebab Muslim adalah orang yang berserah diri secara total kepada Allah. Entah kenapa banyak orang justru merasa nyaman jika ia disebut dan dikenal sebagai komunitas Salafi, sunni, syiah, ahmadiyah dan sebagainya ketimbang ia hanya dikenal sebagai seorang Muslim saja. Padahal kitab suci Al-Qur’an justru mewajibkan penggunaan istilah Muslim dan bukan yang lain.

    Saya melepaskan diri dari semua bentuk madzhab dan sekatan internal yang dibentuk oleh manusia diluar Allah dan Rasul-Nya.

    Sebagai konsekwensinya maka sayapun tidak akan menyalahkan orang lain atas apa yang saya yakini, dalam hal ini misalnya saya tidak akan mengkambinghitamkan syaikh anu, ulama anu, imam anu, habib anu atau kyai anu karena saya salah mengikuti mereka yang ternyata salah memberikan pengajarannya. Ini cukup fair buat saya.

    Mengklasifikasikan ulama jaman dahulu pasti benar karena mereka bertemu Nabi atau ulama jaman sekarang pasti salah karena mereka telah terkontaminasi oleh jaman bagi diri saya bukan hal yang benar. Allah tidak melihat seseorang melalui jaman atau pertemuan mereka dengan para utusan-Nya, namun melalui tingkat taqwa dan relativitas kebenaran yang mereka anut didalam Islam.

    Tidak ada jaminan SEMUA orang yang pernah bertemu Nabi Saw dimasa lalu orang-orang yang berada dalam kebenaran, buktinya sudah saya jabarkan panjang lebar dibuku Ramalan Imam Mahdi. Bahkan Abu Jahal, Abu Lahab atau Abu Thalib dan Abdul Muthalib adalah orang-orang yang tidak hanya pernah berjumpa Nabi Saw namun juga memiliki nasab yang sama dengan beliau, namun mereka mengingkari kebenaran yang disampaikannya.

    Ikut-ikutan tanpa harus kritis mungkin tidak bisa saya lakukan Pak Hari, maaf.

    Saya sudah sampaikan bahwa saya menghormati para sahabat dan juga keluarga Rasulullah Saw sesuai proporsi mereka yang seharusnya. Mereka bukan manusia-manusia maksum yang selalu benar, mereka adalah insan-insan biasa seperti kita yang bisa salah dan lalai. Bahkan Nabi sendiri tidak pernah mau dihormati secara berlebihan.

    Demikian yang bisa saya sampaikan kepada Pak Hari, maaf bila masih kurang berkenan. Islam buat saya adalah ilmu dan itu adalah pembelajaran.

    Sekali lagi terimakasih atas kunjungan dan tanggapan Bapak.

    Salam untuk keluarga, selamat berpuasa Ramadhan.

    Jabat erat dari Palembang,

    Armansyah

  8. alhamdulillah, ternyata mas Arman berkenan merespons tanggapan saya begitu cepat disela-sela kesibukannya sebagai caleg hehehe

    Ada hal-hal lain yang menggelitik saya utk ditanyakan:
    “Semua saya lakukan atas dasar ilmu yang ada pada saya dan bukan atas dasar ikut-ikutan atau juga fanatisme terhadap madzhab tertentu”
    bagaimana dengan sifat sahabat sami’na wa ato’na? apakah sdah tidak berlaku lagi di zaman skrang?

    mengenai musuh-musuh islam seperti abu lahab, abu zahal saya kira kita smua sudah tahu, itu diluar konteks sahabat Nabi.
    yang perlu ditekankan disini – mungkin Anda lupa–adalah bahwa para sahabat awwalun itu semua sudah mendapat gelar rodhiallahu anhu, gelar tertinggi sejagat raya yang pernah ada. mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka (tolong ayatnya saya lupa)..dan merekapun digolongkan sebagai khoiro ummat, umat terbaik yang pernah ada dimuka bumi. Mari kita tandingkan dengan gelar-gelar yng ada dimuka bumi ini..ingin jadi prof, kita ikuti jalannya prof kita, ingin jadi dokter, kita ikuti jalannya dokter kita, ingin jadi ahli komputer, kita ikuti jalannya ahli komputer panutan kita, ingin ridho Allah? kita ikuti siapa dooong..masa kita ikut ulama sekarang, apalagi ilmu kita yang cetek ini…

    satu hal saya sepakat dengan anda bahwa dalam beragama ktia tidak boleh taklid (ikut-ikutan atas dasar mazhab tertentu) ..namun dalam hal sami’na wa ato’na hal seperti itu gugur dengan sendirinya sepanjang ulama yang kita ikut berpegang teguh dengan sunah nabi dan sahabat..terkecuali ulama yang memang sudah banyak terkontaminasi, itu baru kita lawan.

    nah..bagaimana mas Arman, msih berpegang dengan ilmu Anda?apa ilmu yang Anda pegang itu bisa jadi jaminan yg bisa menyelamatkan Anda nti di akhirat sewaktu ditanya Allah diyaumil hisab? sungguh, Allah memberi kepada kita ilmu kecuali hanya setitik saja.

  9. Didalam Islam, saya membagi pola acuan pembelajaran kaidah keagamaan pada dua type manusia.Yaitu polanya Imam Ali bin Abi Thalib serta orang-orang yang sekelompok dengan beliau dan yang kedua adalah pola Umar bin Khattab serta orang-orang yang sekelompok dengannya.

    Pola pertama adalah ikut tanpa membantah, pola kedua ikut dengan kritis.
    Memang pola pertama jauh lebih pantas untuk di-ikuti caranya, tapi bisakah tetap dilakukan dalam konteks jaman sekarang ini ?

    Saya sangat bisa memahami jika Ali bin Abi Thalib orang dengan type pertama, karena beliau adalah orang yang secara garis keturunan memang sangat dekat dan telah mengenal pribadi Rasulullah al-Amin sejak masih kecil bahkan dalam satu riwayat, beliau mengatakan bahwa harumnya wahyu turunpun pernah dirasakannya bersama Rasul sehingga sudah sewajarnya apabila beliau tidak perlu banyak mengkritik atau menanyakan analisa a atau b kepada Rasulullah SAW.

    Sementara Umar bin Khattab adalah seorang mantan jahiliyah yang “baru mengenal” Rasul setelah berselang sekian waktu dari kenabian itu dan wajar pula bila mempunyai sikap demikian (banyak tanya, banyak menyanggah dan lebih mengedepankan ra’yunya dalam memahami kaidah suatu teks keagamaan), atas pribadi Umar seperti ini Rasul tidak mencela, bahkan sejumlah riwayat malah memperlihatkan keutamaan singa padang pasir ini dari penilaian Rasulullah SAW, dan pada masanya, kedua orang dengan tipikal berbeda diatas (Ali dan Umar) mampu bersinergi dalam membangun peradaban Islam sehingga mencapai jaman-jaman keemasan.

    Keteladanan Imam Ali atas wahyu dan Rasul sekali lagi memang yang terbaik, namun kita sekarang ini sangat rentan untuk tetap bersikap sama karena kita tidak lagi bersama Rasul dan tidak berhadapan langsung dengan beliau SAW sehingga bisa belajar atau bertanya kepadanya untuk hal-hal yang tidak kita mengerti. Riwayat-riwayat yang sampai kepada kita hari ini (diluar al-Qur’an) adalah riwayat-riwayat yang masih sarat dengan kontaminasi ataupun intervensi serta rekayasa yang bisa jadi diada-adakan atau diatasnamakan terhadap Beliau SAW sekalipun ditutup oleh cover shahih, mutawatir dan sejenisnya.

    Untuk bisa beramal, kita tentunya harus meneliti dulu apakah yang akan kita amalkan benar atau tidak, sebab seperti banyak riwayat justru mengatakan amal yang tidak ada tuntunannya justru tertolakkan. Dijaman kita sekarang, banyak ustadz-ustadz, kyai-kyai, syekh anu atau habib anu, ulama anu justru mengamalkan suatu perbuatan atau amalan yang aneh-aneh dan sama sekali tidak bisa dibenarkan secara naqly.

    Jadi … akal tetap harus menjadi panduan kita dalam beramal sehingga amal yang dilakukan InsyaAllah benar-benar tidak sia-sia. Baru sami’na wa atho’na.

    Tapi sekali lagi ini konsep hidup saya dan kita sangat boleh jadi berbeda konsep.

    bapak menulis : “Mengenai musuh-musuh islam seperti abu lahab, abu zahal saya kira kita smua sudah tahu, itu diluar konteks sahabat Nabi. yang perlu ditekankan disini – mungkin Anda lupa–adalah bahwa para sahabat awwalun itu semua sudah mendapat gelar rodhiallahu anhu, gelar tertinggi sejagat raya yang pernah ada. ”

    Nah Bapak, bisa saya tahu sumber gelar itu dari mana ? Apakah itu ditujukan kepada SELURUH SAHABAT ? Apa term dari Sahabat ? Apa batasan seseorang bisa diklasifikasikan sebagai sahabat atau bukan ? Apakah benar salah seorang sahabat tetap bernilai benar selamanya ?

    Saya minta ini bapak jawab dengan argumentasi yang ilmiah dan logis, jika Bapak tidak keberatan.

    Bapak juga menulis : ” mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka (tolong ayatnya saya lupa)..dan merekapun digolongkan sebagai khoiro ummat, umat terbaik yang pernah ada dimuka bumi. Mari kita tandingkan dengan gelar-gelar yng ada dimuka bumi ini..ingin jadi prof, kita ikuti jalannya prof kita, ingin jadi dokter, kita ikuti jalannya dokter kita, ingin jadi ahli komputer, kita ikuti jalannya ahli komputer panutan kita, ingin ridho Allah? kita ikuti siapa dooong..masa kita ikut ulama sekarang, apalagi ilmu kita yang cetek ini…”

    Dan jawaban saya : Sebaiknya bapak baca kembali perlahan buku Ramalan Imam Mahdi yang saya tulis, didalam buku itu saya sudah sangat panjang lebar menguraikan jawaban-jawaban dari tanggapan bapak diatas ini sehingga menurut saya tidak perlu lagi saya ulang disini karena kesannya saya hanya berjalan ditempat dan cenderung memaksakan kehendak pada bapak. Silahkan untuk bapak kaji dulu argumentasi yang saya ketengahkan disitu dan baru bapak siapkan argumentasi balik buat saya.

    InsyaAllah, konsep ini akan saya pegang dengan kuat Bapak. Ilmu yang sedikit adalah lebih baik daripada ilmu yang banyak tetapi ternyata tidak bermanfaat.

    Terimakasih.
    Mohon maaf bila kurang berkenan.


    Salamun ‘ala manittaba al Huda
    Khud al hikmah walau min lisani al kafir

    ARMANSYAH
    https://arsiparmansyah.wordpress.com
    http://armansyah.swaramuslim.com
    http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

  10. terima kasih atas sharing ilmunya..walau bagaimanapun saya salut dengan Anda..masih muda, energik, berprestasi dan berilmu.

    mungkin sebenarnya kita sama, sama-sama cinta akan agama ini. Ingin agar agama ini bersinar kembali, jaya kembali sebagimana dulu tatkala nabi dan para sahabat memperjuangkannya. Ingin agar umat ini bersatu — menjd umat wahidatan — tidak terpecah belah seperti sekarang. Ingin agar Islam terbebaskan dari segala macam praktik syirik, khurafat dan takhayul umatnya.
    hanya masalahnya barangkali kita baru kenal, nulisnya juga separo-separo jadi ibarat orang buta dengan gajahnya.

    oya, mohon maaf saya kan awam jadi tidak bisa memenuhi keinginan mas Arman dalam menjawab secara ilmiah. yang bisa saya lakukan cuma dengar dan taat tentu dengan nalar karena Islam fitrahnya sesuai dengan nalar. Saya cuma takut kepada Allah kalau-kalau tulisan ini tidak diridhoiNya. disamping ilmu saya cetek jadi tidak mungkin mengimbangi ilmuwan seperti Anda. saya hanya bisa lakukan amal sebatas apa yang benar menurut sunnah nabi dan sahabat yang saya tahu.
    mungkin sakarng bagaimana fokus saja dengan JIL dan antek-2nya, Zionis dan USA.
    Oke mas Armans..sebelum saya sudahi tulisan ini, ingin saya merefer buku karangn Perdana Akhmad yg berjudul MEMBONGKAR KESESATAN PRAKTEK SIHIR PADA REIKI, TENAGA DALAM DAN ILMU KESAKTIAN, penerbit Quranic Media Pustaka, Yogyakarta. saya ingin Anda menganalisanya terkait dengan aktifitas anda di perguruan tenaga dalam.
    kurang lebihnya saya mohon maap, semata-mata kita mencari ridho Allah demi kebenaran. Hanya Allah pemberi hidayah.

    wassalam
    Dien RM

  11. Dalil ilmiyah Radhiallahu’anhum surat Ataubah ayat 100 mas

    9:100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

    jadi Gelar Radhiallahu’anhu masih terbuka bagi kita yang mau mengikuti mereka dengan baik. (Sifat-sifat mereka Muhajirin dan Anshar)

  12. Bapak Diens RM yang saya hormati,

    Saya berterima kasih atas semua supporting bapak buat saya, semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan kepada bapak sekeluarga.

    Saya bukan ilmuwan seperti yang bapak nyatakan, saya hanya seorang anak muda muslim yang sedang belajar dan terus belajar. Apa yang sudah saya sampaikan barang sedikit semata-mata untuk berbagi ilmu seperti pesan Rasulullah sendiri agar kita menyampaikan pada orang lain walau 1 ayat.

    Tentang tenaga dalam, saya telah panjang lebar menulisnya dalam beberapa artikel berbeda. Silahkan Bapak kunjungi link-link berikut ini :

    https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/03/14/bolehkah-mempelajari-ilmu-ghaib/

    https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/03/14/tenaga-dalam/

    https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/03/14/tenaga-dalam-2/

    https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/10/anarki-tenaga-dalam/

    Jazakallahukhoir.,
    Jabat erat dari Palembang,

    ARMANSYAH

  13. mas adin terima kasih atas info-nya
    mas Arman, sekali lagi makasih banyak sharing ilmunya..tak terkira keluasan ilmu yang Anda miliki ditengah-tangah jaman zahiliyah modern sekarang ini. suatu yang sangat langka potensi diri seperti Anda sbg asset Islam di akhir zaman ini dimana kata salah satu hadits mengenai ciri-ciri akhir zaman adalah yang pertama kali yang akan di angkat Allah adalah ilmu.
    Jadi bersyukurlah, dan tetap istiqomah dalam penyebaran ilmu Allah dengan keadilan (watawa saubil haq watawa saubisshobr)

    mengenai tenaga dalam (TD) hanya sedikit yang ingin saya tanyakan:
    1. bukan suatu pertanyaan bodoh, hanya kenapa nabi dan para sahabat terluka ketika perang? kalau mereka tau arti penting TD demi dakwah Islam kenapa tidak mempelajarinya? bukankah mereka lebih tahu urusan yg ghoib dibanding kita?
    2. apakah urusan TD ini bisa dianalogikan dengan ilmu dunia lainnya seperti kedokteran, kalau iya, ga masalah, karena ini memang urusan kita dan nabipun sudah menyerahkannya kpd kita.
    3. Kalau ini urusan dunia, bisa kita analogikan dengan dunia networking(sbg contoh), dimana kita bisa mengendalikan komputer diseluruh dunia dg server kita kalau kita sudah sisipkan trojan dikomputer mereka (hacking way). Maka ini saja sudah menjadi dilemmatis, pro-kontra, benar dan salah, manfaat dan mudharat…
    4. Tapi over all..teruskan perjuangan dakwah islam dngan keyakinan anda, sy juga tipikal ga terlalu memaksakan kehendak. saya cuma takut saja sesuatu yg tidak diajarkan/contohkan nabi-sahabat (dlm hal ibadah/ghoib/akhirat) akan bernilai sia-sia, kemudian menjadi celah utk jin, setan dengan kejeniusannya, pengalamannya, mempermainkan kita. Mungkin juga sikap ini bisa dikategorikan kedlam prinsip kehati-hatian dalam ibadah, bukan jumud.

    Maka disinilah letak hakekatnya : perjuangan kita, agar istiqomah, mujahaddah MEMPERTAHANKAN yang pasti (qot’i) sebagaimana kita juga mempertahankan kemerdekaan negara kita ini dari serangan baik luar maupun dalam..lalu kemudian kita isi kemerdekaan ini (kalimat Tauhid merupakan pernyataan “kemerdekaan” bagi seorang muslim) dengan yang bermanfaat dlm hidup didunia ini dengan kreasi dan improvisasi kita…(ada jaminan dari Rasulullah bahwa urusan dunia memang kita ahlinya)..
    Melalui proses yang seperti itulah kemudian berkembang menjadi muslim yang kaffah..
    Sebaliknya, bila proses tidak berjalan, maka akan terjadi apa yg kita khawatirkan : muslim jumud, statis, taklid dlsb. Dan ini juga jadi celah jin utk memporakporandakan persatuan umat islam, maka timbullah kultus individu, hingga nabi palsu dlsb.

    Dlm konteks spt ini muncul arti penting ulama dan cendikiawan muslim BERSINERGI. Ulama sebagai benteng/pewaris nabi, cendikiawan muslim sebagai motor lajunya kendaraan ISLAM ini agar maju menuju keridhoan Allah ta’ala. Terkait dengan ‘motor’ ,maap, mungkin sedikit saran dari yang awam spt sya, sekalian juga dalam forum ini, hendaknya para cendikiawan muslim jangan kebablasan spt si Ulil. Rusak ‘kendaraan’ ini dioprek disana-sini dengan modifikasi yang ga keruan. Alih-alih sampai tujuan, baru dipakai saja sudah mogok.
    Dalam menggerakan kendaraan Islam ini kan sudah ada ‘manual’nya yaitu Al-quran dan Assunah sahabat dan keluarga Nabi…(kan tinggal pake aja, apa susahnya?) mudah-mudahan kita selalu berpegang dengan ‘manual’ agar kendaraan ini sampai tujuan dengan selamat. Dan kepada ulama serta yg awam, belajarlah ilmu tambahan kepda para cendikiawan kita agar tidak seperti Ahmad Ghulam, Lia, Musadeeq dll.
    Wa’Allahu A’lam bisshawab.
    Maap sekali lagi..jabat erat dari Jakarta, senang berkenalan dengan Anda.

    DiensRM

  14. Sekali lagi terimakasih atas semua perhatian dari Bapak Diens RM kepada saya.
    InsyaAllah semua nasehat dari bapak, saya perhatikan dan saya syukuri sebagai bentuk perhatian terhadap sesama muslim. Semoga Allah memberi balasan yang baik kepada bapak.

    Tentang tenaga dalam, rasanya semua sudah saya jawab dalam tulisan-tulisan dengan link yang lalu sehingga pada kesempatan ini saya tidak akan mengulanginya kembali. Jika bapak masih ingin menanyakannya, mungkin bapak reply saja bagian-bagian mana saja dari tulisan-tulisan itu yang masih mengganjal. InsyaAllah, akan saya coba jawab jika memang belum ada disana penjelasannya.

    Salam dari Palembang,

  15. Saudaraku mas Arman,

    saya kira pointnya di nomer 4. semua sudah jelas bagi saya. kita punya jalan msing-msing dlm memahami TD. saya sudah membaca persepsi dan langsung menelusuri setiap relung pemikiran mas Amans dalam memahami TD…tapi tetap belum bisa bersatu(maklum sy dulu pernah aktif juga di TD atau mungkin ilmu saya ga nyampe)..agar imbang, bgm kalau mas Armans coba baca dulu buku yang saya referensikan untuk Anda..kalau di Palembang ga ada, nanti saya kirim aja ya..
    tapi gpp, saya ga memaksa koq, yang penting tujuan kita sama..sama-sama ingin jihad dijalan Allah demi tegaknya kembali Islam yg mulia.

    Salam hangat dr Jakarta

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: