Marhaban Ya Ramadhan

————————————————————————-
Dengan Nama Allah yang Pengasih, Penyayang.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
————————————————————————-

Marhaban Ya Ramadhan
Oleh : Armansyah

Marhaban Ya Ramadhan
Selamat Datang wahai Bulan penuh berkah,

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Saw bersabda : “Islam itu didirikan atas lima sendi: mengakui bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan mengunjungi Baitullah.”

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Thalhah ibnu Ubaidillah, ujarnya : “Sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Nabi, dia berkata: ‘Ya Rasulullah, terangkanlah kepadaku tentang puasa yang diwajibkan Allah atas diriku’, Nabi menjawabnya: ‘Bulan Ramadhan’. Orang itu bertanya pula: ‘Apakah ada puasa yang lain lagi yang diwajibkan kepadaku ?’, Nabi menjawab: ‘Tidak, terkecuali engkau mengerjakan puasa sunat.”

Dalam Surah Al-Baqarah 2:183 yang diterima oleh Nabi pada tahun kedua Hijrahnya diMadinah pada akhir bulan Sya’ban disebutkan :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2] :183)

Melalui ayat tersebut Allah menyitir kewajiban berpuasa kepada kaum yang beriman sembari Allah juga menerangkan bahwa kewajiban berpuasa itu juga pernah diberikan kepada umat Nabi-nabi sebelum periode kenabian Rasulullah Muhamamad Saw Al-Amin.

Memang akan sangat melelahkan dan butuh waktu serta dana yang tidak sedikit untuk membuktikan isi ayat diatas sehubungan dengan pernyataan kewajiban berpuasa terhadap umat-umat sebelum kita, sementara kita tahu ada ratusan dan mungkin jutaan umat telah berlalu dari masa kita sekarang, bahkan sebagian besar diantaranya tidak pernah bisa dibuktikan lagi keberadaannya termasuk sisa-sisa peradaban atau juga catatan-catatan kuno mereka, namun setidaknya kita masih bisa melakukan sedikit penelusuran kepada kitab-kitab agama lain yang masih tersisa seperti yang ada pada agama Kristen, Budha, Hindu dan sebagainya.

Disini, kita hanya akan coba mereview kewajiban berpuasa yang pernah dibebankan kepada umat-umat yang tercantum dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang secara “silsilah” masih merupakan saudara terdekat dengan al-Qur’an.

# Puasa dalam Kitab Perjanjian Lama

1. Waktu berpuasa dari pagi hingga senja

Kemudian pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa itu, lalu sampai di Betel; di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN, berpuasa sampai senja pada hari itu dan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. – PL, Kitab Hakim-Hakim 20:26

Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang. – PL, Kitab II Samuel 1:12

Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa. – PL, Kitab I Samuel 7:6

2. Lama puasa 7 hari

Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya. – PL, Kitab I Samuel 31:13

Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya. – PL, I Tawarikh 10:12

3. Puasa yang sia-sia dan Tujuan berpuasa

Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?

Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! – PL, Kitab Yesaya 54:5-7

4. Puasa harus ikhlas

Maka datanglah firman TUHAN semesta alam kepadaku, bunyinya:
Katakanlah kepada seluruh rakyat negeri dan kepada para imam, demikian: Ketika kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang kelima dan yang ketujuh selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku ?. PL, Kitab Zakharia 7:4-5

Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit. – PL, Kitab Nehemia 1:4

Tetapi sekarang juga, demikianlah firman TUHAN, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia – PL, Kitab Yoel 2:12-13

5. Allah mengabulkan doa orang yang berpuasa

Tangan Allah kami melindungi semua orang yang mencari Dia demi keselamatan mereka, tetapi kuasa murka-Nya menimpa semua orang yang meninggalkan Dia.- Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami. – PL, Kitab Ezra 8:22-23

# Puasa dalam Kitab Perjanjian Baru

6. Yesus berpuasa 40 hari 40 malam

Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. – PB, Matius 4:2

7. Puasa dan berdoa mampu merubah sesuatu kemustahilan menjadi mungkin

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.) PB, Matius 17:20-21

Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-nya kepada mereka: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” PB, Matius 9:28-29

Injil karangan Matius pasal 9 ayat 29 yang bisa anda cek pula dari software e-Sword ( http://www.e-sword.net ), perhatikan yang saya beri tanda garis bawah dan tanda merah  :

(ASV)
And he said unto them, This kind can come out by nothing, save by prayer.
(BBE)
And he said to them, Nothing will make this sort come out but prayer.
(DRB)
And he said to them: This kind can go out by nothing, but by prayer and fasting.
(ITB)
Jawab-nya kepada mereka: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”
(KJV+) And2532 he said2036 unto them,846 This5124 kind1085 can1410 come forth1831 by1722 nothing,3762 but1508 by1722 prayer4335 and2532 fasting.3521
(KJVA) And he said unto them, This kind can come forth by nothing, but by prayer and fasting.
(SVD) فَقَالَ لَهُمْ: «هَذَا الْجِنْسُ لاَ يُمْكِنُ أَنْ يَخْرُجَ بِشَيْءٍ إلاَّ بِالصَّلاَةِ وَالصَّوْمِ».

(The Scriptures ’98) And He said to them, “It is impossible for this kind to come out except through prayer and fasting.”

Tampak disana, beberapa terjemahan menyebutkan berdoa saja (prayer) tetapi dibeberapa terjemahan lain ada penambahan prayer and fasting atau berdoa dan berpuasa atau dalam kitab berbahasa Arabnya ditulis “Bissholati Wassaumi”.

Siapa yang dengan sengaja melakukan kesalahan disini …? Penterjemah alkitab Indonesia atau mereka …?  Silahkan saja anda cari-cari kitab Bible berbahasa Inggris lainnya dan cek ayat itu, pasti ada kata-kata fasting-nya. Lalu kenapa harus dibuang atau ditiadakan ? bukankah itu firman Tuhan ??? dosa loch🙂

Juga ayat yang ini …
———————-

Jawab Kornelius: “Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan. PB, Kisah Para Rasul 10:30

Bandingkan …
————–

The Acts 10:30
And Cornelius said, Four days ago I was fasting until this hour; and at the ninth hour I prayed in my house, and, behold, a man stood before me in bright clothing,

Disini disebutkan Kornelius sedang berpuasa saat itu, tapi terjemahan Indonesia kata sedang berpuasa dibuang …

Juga ayat ini :
—————-

Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak. PB, Kisah Para Rasul 1 Korintus 7:5

Bandingkan …
—————

I Corinthians 7:5
Defraud ye not one the other, except it be with consent for a time, that ye may give yourselves to fasting and prayer; and come together again, that Satan tempt you not for your incontinency.

Diterangkan oleh Paulus sendiri bahwa berpuasa dan berdoa itu dapat menahan cobaan Setan dan juga berfungsi melatih sifat sabar atau menahan diri … sayangnya kata berpuasa lagi-lagi dibuang dalam terjemahan Indonesia.

Akhirnya, terlepas apakah interpolasi ayat-ayat Alkitab oleh tangan-tangan manusia dengan pengurangan makna dan syariat tersebut di-amini atau tidak oleh para pemeluk Kristen, kita umat Islam tidak perlu ambil pusing karena memang demikianlah kenyataannya nasib kitab suci sebelum al-Qur’an yang sudah disisipi maupun dikurangi nilai syariatnya sesuai dengan maksud dan nafsu sipenterjemah (baca Qur’an surah at-Taubah 9:9), paling tidak sebagai bahan review kita sekali lagi, bahwa berpuasa memang sudah menjadi syariat sejak jaman sebelum kenabian Muhammad dan otomatis, ayat al-Baqarah 2:183 terbukti benar.

Rasulullah Saw telah pula bersabda :

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah :
“Telah berfirman Allah azza wajalla: ‘Tiap-tiap amal Bani Adam adalah untuknya sendiri, selain daripada puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan mengganjarinya. Puasa itu perisai; karena itu, apabila seseorang kamu sedang berpuasa, janganlah ia menurutkan perkataan yang buruk, yang keji dan yang membangkitkan syahwat dan janganlah pula ia membuat keributan atau keonaran. Apabila ia dimaki atau ditantang oleh seseorang, hendaklah ia berkata: ‘Saya sedang berpuasa.”, Demi Allah yang diri Muhammad ditangan-Nya, bau busuk mulut orang yang berpuasa, lebih baik dan lebih harum dari bau kesuri yang harum semerbak. Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kesenangan: Kesenangan dikala berbuka dan kesenangan dikala
berhadapan dengan Allah dengan puasanya.”

Diberitakan oleh Al-Thabarany dari Abu Ubaidah, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Puasa itu perisai selama tidak dinodainya dengan dusta atau dengan makian.”

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Chuzaimah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bukanlah puasa itu hanya dari makan dan minum semata. Namun puasa itu, berlepas diri dari perkataan-perkataan kotor dan makian.”

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan zur (yakni dusta, mengumpat, memfitnah, seluruh perkataan yang mendatangkan kemarahan Allah dan bersengketa, membuat kerusakan/keonaran) dan tidak pula meninggalkan pekerjaan-pekerjaan itu, maka Allah tidak akan menerima puasa orang itu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah)

Nabi Muhammad Saw bersabda dalam salah satu hadistnya :
“Barang siapa berpuasa karena dari rasa kepercayaannya dan kewajibannya kepada Tuhannya, maka Tuhan akan mengampuni segala macam dosa yang telah diperbuatnya.”

Puasa yang dalam bahasa Arab disebut dengan “Shaum” atau “Shiam”, pada lughat artinya “menahan” atau “meninggalkan”. Dan arti yang lazim dipergunakan dalam syariat agama adalah menahan atau meninggalkan segala perbuatan yang akan merusakkannya.

Puasa yang dikehendaki oleh Tuhan, ialah puasa yang dikerjakan dengan penuh keimanan, kepercayaan dan dari rasa kewajiban. Jadi bukan karena keturunan, bukan karena malu atau ikut-ikutan dan sebagainya.

Oleh sebab itu, kalau orang berpuasa itu timbul perasaan lapar dan haus atau keletihan tubuh dan mungkin pula merasa menderita, maka janganlah diterima dengan dada yang sempit, hati yang susah. Namun terimalah dengan dada yang lapang, dengan kesabaran dan jagalah sebaik mungkin agar tidak kalang kabut.

Banyak sekali umat Muslimin yang mengerjakan puasa, namun dalam mengerjakannya itu diselingi dengan keluh kesah, merasa susah dan sempit serta mudah menjadi marah. Ini bukan puasa yang dikehendaki oleh Allah, dan Nabi sendiri sudah mengisyaratkan dalam salah satu hadistnya :

“Beberapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada baginya melainkan hanya lapar dan haus semata.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Hadist ini berkenaan pula pada sabda Rasul yang lain, yaitu : “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan keji dan melakukan kejahatan, Allah tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Salah satu hikmah dari diwajibkannya berpuasa adalah agar manusia suka menjauhi perbuatan yang jahat, suka akan perbuatan yang baik dan suka menerima perintah dengan lapang dada. Bulan puasa adalah bulan latihan berjihad memerangi hawa nafsu yang selama ini selalu diperturutkan. Bahwa bulan puasa adalah bulannya bercocok tanam untuk hari akhir, bulan untuk mempersiapkan perbekalan untuk hari kemudian; bulan membersihkan dan menyucikan diri dari berbagai dosa serta menghiaskan diri dengan budi yang tinggi dan pekerti yang luhur.

Selaras dengan ini, Rasul Allah Muhammad Saw telah bersabda : “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah memerintahkan kamu berpuasa didalamnya. Didalam bulan Ramadhan, dibukakan semua pintu syorga, dikuncikan semua pintu neraka dan dibelenggukan semua syaithan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasai dan Al-Baihaqi dari Abu Hurairah)

Tentunya kalimah Rasul yang menyatakan bahwa dibukakan pintu sorga, dikunci pintu neraka serta diikatnya syaitan ini tidak bisa kita tafsirkan secara serampangan, melainkan harus kita terjemahkan dalam penafsiran yang luas.

Dimana pada bulan Ramadhan, Allah telah melimpahkan karunia, rahmat dan maghfiroh-Nya bagi umat yang beriman yang melakukan puasa didalamnya, bulan dimana manusia dapat berlomba-lomba didalam melakukan kebajikan, mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Gagah, saling memperkaya diri dengan ibadah, dengan kesyukuran yang dapat menutup pintu masuk bagi syaithan untuk mempengaruhi dan membisikkan kejahatan sebagaimana biasa diluar bulan puasa.

Dengan berpuasa, orang diharapkan mengerti serta memahami akan arti darihidup dan kehidupan. Manusia diajar oleh Allah untuk menemukan hakikat dari keberadaannya diatas dunia, hakikat kebersamaannya dengan masyarakat atau orang lain serta banyak lagi hakikat lainnya.

Kebanyakan justru yang terjadi, orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minum disiang hari, seolah-olah melaparkan perutnya diwaktu siang hari itu agar diwaktu berbuka puasa merasa nikmat dengan makan dan minum yang banyak, perutnya dipenuhi dengan macam-macam makanan yang diinginkannya.

Puasa memiliki tendensi yang luas, baik itu menyangkut pada masalah lahiriah maupun juga batiniah seseorang.

Puasa diwajibkan oleh Allah atas segenap hamba-Nya supaya mereka dapat mengendalikan hawa nafsunya. Antara lain siapa diantara mereka yang dapat menahan hawa nafsunya dari makan dan minum barang yang halal, tentu dengan mudah dia dapat dan sanggup menahan nafsunya dari makanan dan minuman barang yang diharamkan serta sanggup meninggalkan perbuatan yang haram pula.

Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah Saw bersabda : “Kami kembali dari jihad kecil, menuju kepada jihad besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu.”

Didalam bukunya yang berjudul “Wawasan Al-Qur’an”, Dr. Quraish Shihab menerangkan bahwa kata jihad terulang dalam Al-Quran sebanyak empat  puluh satu kali  dengan berbagai bentuknya.

Menurut ibnu Faris (w. 395 H) dalam bukunya Mu’jam Al-Maqayis fi Al-Lughah, “Semua kata yang terdiri dari  huruf  j-h-d,  pada  awalnya  mengandung arti esulitan atau kesukaran dan yang mirip dengannya.” Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti “letih/sukar.”

Jihad  memang  sulit  dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari  akar  kata  “juhd”  yang berarti  “kemampuan”. Ini karena jihad menuntut kemampuan, dan harus  dilakukan  sebesar kemampuan.  Dari  kata  yang   sama tersusun  ucapan  “jahida  bir-rajul” yang artinya “seseorang sedang mengalami ujian”. Terlihat bahwa  kata  ini mengandung makna  ujian  dan  cobaan,  hal yang wajar karena jihad memang merupakan ujian dan cobaan bagi kualitas seseorang.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
InsyaAllah Bersambung
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: