PKS dalam Tanya Jawab

2008/8/12 Aziz Jamaludin <muaz1210@gmail.com> menulis :

sudah sunatullah, bahwa betapapun besar kekuatan partai islam maka pasti mereka (thogut) pasti tidak akan membiarkan idiologinya di ganggu apalagi diganti oleh orang lain….

ingat apa yang di lakukan baginda Rasululloh Muhammad SAW, beliau walaupun di tawarin abu jahal dan para pejabat mekah ketika itu untuk di angkat jadi raja beliau menolaknya. tapi kenapa sekarang banyak partai islam mempunyai paradigma bahwa klo sudah menjadi presiden atau pemimpin di negeri ini pasti syariat islam bisa terlaksana…

coba kita lihat setelah pemimpin dari PKS ( setelah menjadi ketua MPR) tidak ada gaungnya untuk menerapkan syariat islam….. atau mereka hanya menginginkan jabatan dengan menjual tujuan menerakan syariat islam……

perlu saya sampaikan, bahwa saya bukan tidak setuju terhadap PKS, saya akui bahwa PKS banyak sekali manfaatnya untuk menyadarkan banyak masyarakat untuk kembali ke ISLAM, namun saya menyayangkan konsistensi dari komitmennya yang katanya pedoman / asas yang di anutnya berdasrkan ISlam…. namun saya belum melihat realita di lapangannya… terutama yang telah menjabat di pemerintahan……

Tanggapan Armansyah :

Mungkin secara sederhana, saya mencoba menjawabnya dengan mengedepankan pemikiran positip dan global sebagaimana banyak tulisan dan jawaban saya selama ini.

Kita hidup berbangsa dan bernegara adalah bukan untuk memaksakan kehendak kita pada orang lain secara semena-mena. Ada mekanisme yang mengaturnya, diperlukan perhitungan yang matang dan sebuah permainan yang cantik dengan nilai seni yang tinggi agar apa yang menjadi cita-cita Islam dapat terwujud dinegara ini.

Pengeroposan moral ditengah masyarakat yang seakan tidak lagi terbendung memerlukan tangan-tangan dieksekutif untuk dapat menghentikannya, begitupula aksi-aksi pemurtadan baik terselubung atau terang-terangan. Ini semua harus diselesaikan satu persatu dan bukan hal yang mudah.

Islam adalah solusi dan Islam adalah pembawa rahmat bukan penebar ancaman ataupun ketakutan.
Kita dewasa ini dihimpit antara banyak kepentingan yang mencakar sendi-sendi kehidupan masyarakat dan beragama. Adalah bualan saja bila kita berharap bahwa Syariat Islam bisa tegak dengan hadirnya tokoh-tokoh Islam diparlemen yang lalu dengan arogansinya mengerahkan tentara untuk melibas habis kelompok-kelompok yang menolak syariat Islam dinegeri ini.

Disinilah kedewasaan bepikir dan cara dibutuhkan, Islam dengan Islam sendiri saja kadang tidak saling mendukung, bagaimana pula rencana besar semacam ini bisa terwujud ? Pendekatan demi pendekatan yang persuasif, digulirkannya aturan-aturan yang sesuai norma-norma kesopanan maupun ke-Islaman saya rasa jauh lebih baik dikedepankan dalam bernegara ini. Islam bukan paksaan, Islam adalah sistem, Islam adalah norma. Bila kita belum mampu bersistem Islam maka bukan berarti kita tidak harus bernorma Islam. Jalan penegakan dan pengukuhan norma-norma Islam itulah yang sekarang dirintis. Islam yang menebar rahmat, pemberi rasa aman.

Contoh sederhana lagi adalah milis Iqra ini, mampu menjadi wadah pembelajaran bersama banyak kelompok baik muslim atau non muslim, baik yang syiah atau sunni, alqiyadah atau ahmadiyah, ingkar sunnah atau sebagainya. Kenapa bisa ? Karena kita memberikan Islam yang sejuk kepada semuanya, Islam yang persuasif, Islam yang menjamin hak-hak banyak orang, menghargai suara mereka, bersahabat dengan mereka tanpa kita harus kehilangan jati diri ke-Islaman yang sesungguhnya.

Semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin bertiup, itulah sunnahtullahnya.
Banyak orang berpolitik untuk mengayakan diri pribadinya sendiri, ada pula yang sudah kaya tapi ingin cari ketenaran. Inilah asam garam dunia, ini jugalah seni serta ujiannya. Baik dan buruk seperti yang sudah sangat sering kita bahas akan terus berpasang-pasangan, ibarat hitam dan putih, benar dan salah.

Banyak memang partai dengan slogan Islam, logo Islam yang pimpinannya bahkan jika dideretkan gelar hajinya sudah tidak terhitung lagi. Namun logo tinggal logo, slogan tinggal slogan, haji ya tinggal hajinya. Innalillahi. Karena itu maka memang tidak mudah untuk memutuskan sebuah keputusan dalam berpolitik, utamanya di Indonesia ini.

Namun menghindari politik, hemat saya justru berarti membiarkan ketidak adilan dan kesemrawutan peradaban kita semakin centang prenang. Karena itu saya menawarkan konsep ADA, yaitu Allah Do Allah. Mulai dari Allah, berproseslah dijalan Allah dan kembalikan pada Allah. InsyaAllah selamat.

Doakan saya agar tetap istiqomah dijalan Allah, tegur saya bila terlihat mulai melakukan penyimpangan, karena memang saya hanyalah hamba Tuhan yang tidak mungkin lepas dari salah.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa Nabi Yusuf pernah bekerjasama dengan pemerintahan kuffar (yaitu Mesir) yang sama sekali tidak menegakkan syariat Allah. Jelas kalau melihat dari cerita yang disampaikan oleh al-Qur’an, Yusuf mencoba memperbaiki keadaan Mesir (lebih detilnya lagi adalah sistem keuangan rakyat Mesir) sehingga sesuai dengan ilmu yang beliau miliki (dan ini tidak mungkin keluar dari syariat Allah). Poinnya disini, bergabung dalam pemerintahan yang tidak benar-benar menegakkan syariat Allah tetap dibolehkan selama itu membawa kebaikan untuk masyarakat dengan menjalankan apa-apa dari syariat Allah yang bisa diterapkan walau dalam skala kecil (misalnya disini adalah ibarat menteri keuangan).

Orang yang menjalankan syariat Allah, sekecil apapun itu, sudah bisa dinyatakan sebagai orang yang menegakkan syariat Islam. Hanya skalanya saja yang berbeda. Dan Nabi Yusuf sudah melakukan yang beliau bisa, begitupun misalnya dengan Nabi Daud, Sulaiman atau Muhammad. Masing-masing disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kemampuan yang mereka miliki.

Salah satu tujuan Islam adalah membawa rahmat untuk semua kalangan, jadi cara boleh berbeda, skala boleh berbeda asalkan tujuan tersebut dapat terlaksana.

Dalam ilmu perang, selain kemampuan diri berupa persenjataan/kekuatan ada pula seni dan strategi.
Ini semua harus bisa dikompilasi menjadi satu kesatuan yang utuh secara berkesinambungan sehingga sasaran yang dituju dapat terlaksana. Tidak ada kata akhir dalam suatu perjuangan.

Demikian dari saya.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: