PKS dan Saya (sebuah Tanggapan)

Mengenai banyak hal dalam PKS yang menjadi sorotan dan kritikan publik, terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Karena saya sendiri yang namanya terlibat didalam partai ini secara langsung, masih sangat baru. Perlu ada pendalaman dan pembelajaran yang kompleks bagi saya sebelum memberikan jawaban mengenai kebijakan yang mengatasnamakan partai. Harap maklum keterbatasan saya saat ini.


Tentang kasuistik didalam tubuh PKS sendiri, saya rasa semua partai juga mengalaminya.
Dalam suatu perjalanan yang jauh, tidak semua orang dapat sampai kegaris finish. Ada yang baru seperempat jalan lututnya sudah lemah, ada yang sampai setengah jalan dan ada yang mampu mencapai garis akhir. Jadi tergantung kekuatan dan kemampuan masing-masing orang.


Nahi mungkar yang dituju dalam aplikasi sholat sebenarnya diawali oleh setiap diri per-individu, baru sesudahnya meluas kelapangan orang per-orang sampai kepada komunitas yang lebih besar. Jadi bila ada sesuatu penyimpangan yang terjadi, maka jauh lebih bijaksana bila kita tidak langsung menujukan kepada sistem atau partai yang bersangkutan. Sebab bisa jadi bukan partai dan sistemnya yang salah atau menyimpang. Mari kita koreksi orang yang berbuat dengan mengatasnamakan sistem dan partai yang berlaku itu.


Kita cenderung mudah retak karena teman kita yang kita harapkan untuk bekerjasama berbeda jalan atau berbeda ijtihad. Lantas kita simpulkan bahwa teman kita itu telah melakukan penyimpangan yang sama dengan individu-individu lain yang bisa jadi kita ingat keburukannya. Padahal kita kadang mengeluarkan kesimpulan seperti ini justru karena kita tidak memiliki kemampuan atau juga perhitungan berbeda.
Al-Qur’an menyuruh kita untuk kaffah dalam ber-Islam.


Kaffah artinya menyeluruh alias totalitas. Utuh, lengkap lahir dan batin.


Ini artinya al-Qur’an mau kita berkhidmat terhadap ajaran Allah secara paripurna dalam semua aspek kehidupan kita.


Islam melebur dalam tindakan, pikiran, hati, organisasi, kebijakan, keputusan, denyut nafas, tulisan, bacaan, tarian, nyanyian, tontonan, pembicaraan, pengajaran, perdagangan, bisnis, politik dan lain sebagainya sesuai ritme yang mengalir dalam arus kehidupan.


Islam tidak memisah-misahkan antara kehidupan bernegara dengan kehidupan pribadi, Islam tidak pula memisahkan antara kehidupan rohani dan kehidupan jasmani. Semua adalah satu kesatuan yang saling berkaitan.


Islam ada pada diri seorang hafidz Qur’an, Islam ada pada seorang pedagang, Islam ada pada seorang ahli komputer, Islam ada pada seorang penulis buku, Islam ada pada seorang mahasiswa, Islam ada pada seorang sekretaris, Islam ada pada seorang politikus dan seterusnya. Pendek kata, apapun profesi dan keahlian yang kita geluti, semua harus sesuai dan sejalan dengan tuntunan Allah yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Dalam perspektif pribadi saya, istilah dakwah itu sendiri ada dua macam : yaitu nahi mungkar. Dan bentuk atau model dari nahi mungkar tersebut ada banyak sekali. Dan bila kita memang serius untuk melakukan dakwah ini tadi maka kita mau atau tidak mau memang harus masuk kedalam system. Itulah yang ditempuh oleh Nabi Saw dan ke-4 khalifah pertama beliau. Itu juga yang ditempuh oleh almarhum Natsir semasa hidupnya, tokoh pribumi yang mungkin bisa kita contoh konsistensi keislamannya.

Dakwah itu adalah tujuan sementara partai, dakwah dipodium, dakwah ditelevisi, tabligh akbar, melalui kaset, buku, milis, musik dan seterusnya adalah model. Demikian menurut saya pribadi.


Persaingan menjadi caleg bukan hal yang mudah, tapi saya bangga dengan PKS. Perekrutan BCAD versi mereka sangat terbuka dan universal. Siapa saja boleh ikut untuk dites kemampuan dirinya secara komprehensif. Sehingga praktis untuk bisa menjadi caleg di PKS tidak ditentukan oleh siapa yang berduit banyak. Jujur pula ini saya sampaikan jika semenjak pertama saya mengikuti tahapan-tahapan menjadi BCAD alias Bakal Calon Anggota Dewan di PKS ini, saya tidak pernah ditanya dan dimintai uang.
Apa yang dikeluarkan adalah memang murni untuk proses pengurusan administrasi yang jumlahnyapun bahkan tidak sampai Rp. 400 ribu rupiah. Dan angka ini bukan buat PKS, ada untuk pengurusan SKCK, materai, dan lain-lain.


Ada partai-partai lain yang untuk menjadi caleg mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan sampai puluhan juta. Dapilnyapun direkayasa sehingga ia yang berdomisili di daerah X bisa mewakili daerah B yang sama sekali tidak dikenalnya. Tentu pertanyaan yang mengemuka adalah : Rakyat mana yang merasa ia wakili ?
Mungkin menjadi caleg dari sebuah partai Islam bernama PKS dianggap tidak akan membawa perubahan yang begitu besar bagi kehidupan berbangsa dan beragama. Namun para sahabat sekalian, saya ingatkan disini, perubahan yang besar senantiasa diawali dengan perubahan yang kecil. Saya selalu percaya, setiap usaha akan ada nilainya dihadapan Allah Ta’ala.


Seorang anggota PKS (dan juga caleg maupun aleg) memang sekali lagi mungkin tidak pula bisa memberi angin yang sesuai dengan keinginan banyak pihak dalam suatu keputusan yang besar sekaitan dengan pemerintahan dinegara ini. Akan tetapi sahabat, setidaknya, dalam skala kecil, seorang anggota dewan bisa saja mengeluarkan ide atau gagasan yang suatu ketika bisa mengkristalkannya menjadi sebuah kebijakan besar.


Contoh saja baru-baru ini saya lihat ditelevisi ada sebuah konser dangdut dengan penyanyi erotis bernama Dewi Persik yang rencananya akan digelar disalah satu daerah, tetapi kemudian berhasil dicegah oleh adanya suara-suara penolakan dari kalangan DPRD mereka yang lalu bermusyawarah dengan pihak-pihak lain terkait. Ini peranan yang kadang dianggap sepele, namun justru besar manfaatnya dalam hal pembinaan akhlak dan moral masyarakat.


Memang anggota dewan didaerah tidak dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah yang telah menaikkan BBM atau sebagainya, tetapi dia dapat mencegah dosa-dosa besar yang dikecam dalam al-Qur’an dari akibat yang dapat ditimbulkan dari pagelaran konser dangdut wanita-wanita erotis tersebut. Buat saya pribadi, kemampuan mencegah berkembangnya kerusakan moral generasi muda yang disodorkan goyang pantat perasuk birahi itu lebih dari cukup untuk membuktikan kepada kita semua kalau kita tetap bisa bertindak meski nilainya dianggap kecil oleh orang lain.


Niat saya melamar menjadi BCAD di PKS Palembang, bermula dari Allah dan itu akan saya akhiri pula dengan penyerahan akhirnya pada Allah. Kalaupun saya nantinya gagal dalam menjadi anggota dewan, itu InsyaAllah tidak akan membuat saya stress atau malu. Semua adalah rencana Allah, Dia lebih tahu apa  yang terbaik untuk diri saya dan semuanya. Meski begitu perjuangan ini harus tetap terus berjalan tidak perduli kalah atau menang. Menjadi dewan atau seorang milister kecil di Internet, menjadi seorang programmer atau penulis buku agama.


Inilah yang mungkin bisa saya bagi pada para sahabat sekalian, dan inilah respon saya atas semua masukan serta kritikan yang ada sehubungan dengan keputusan saya untuk menjadi BCAD dari PKS.
Kurang dan lebih saya minta maaf, inilah seorang Armansyah apa adanya.


Jika anda berkenan dan setuju dengan saya, silahkan memberi dukungan dan awasi saya tetapi jikapun anda menolaknya maka silahkan untuk menjadi seorang oposisi yang bijaksana.

Terimakasih atas semua informasi, masukan, kritikan maupun dukungan yang ditujukan untuk saya. Semoga Allah yang Maha Pengasih senantiasa memberikan bimbingan-Nya kepada kita dalam menapaki hari-hari berat dikehidupan ini.

Tulisan yang direspon :

———- Forwarded message ———-
From: najla abu <najla.abu@gmail.com>
Date: 2008/8/9
Subject: [Milis_Iqra] Re: Sedikit cerita untuk bekal akh Arman
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Mas Arman mau nahi mungkar di pks…?, salut dech…kalo konsisten dan mewarnai kerakyatan….jangan mau nahi mungkar terus berarah ke “poligami” lho…walau dibolehkan…he..he..he..,
inget aja masalah bbm kemari…, dari arus bawah yang sudah pada demo anti kenaikan bbm dimana-mana, tau-tau hilang nggak ada demo dari pks…..(partai dan anggotanya udah pada sanggup beli bbm yaaa…?, jadi bukan merupakan kepentingan partai akhirnya nggak jadi demo anti bbm…)

——– Forwarded message ———-
From: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
Date: 2008/8/9
Subject: [Milis_Iqra] Re: Sedikit cerita untuk bekal akh Arman
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Saya juga berpikir sama seperti akh Najla ini, karena PKS pada awalnya mendukung kenaikan BBM, namun kemudian setelah jatuh korban dikalangan mahasiswa baru kemudian merubah keputusannya untuk mencabut dukungan kepada Pemerintah atas keputusannya menaikan BBM.
Yang saya renungkan adalah bahwa sikap konsisten tidak akan selalu membuahkan hasil karena jika kita sudah masuk didalam sebuah “kotak” berlabel PKS ataupun partai lainnya, suara minoritas tidak akan mempengaruhi keputusan Partai. Misalnya ada beberapa sahabat juga di PKS, ketika saya tanya, kenapa PKS berdiam seribu basa tentang kenaikan BBM tidak nampak lantang suaranya. Jawabnya : Karena semua DPW, DPC setuju tentang kenaikan BBM tersebut meskipun ana/saya tidak setuju.

Dari kisah diatas menunjukan bahwa konsisten nya suara minoritas tidak akan berpengaruh terhadap keputusan Partai. Maka semua orang akan memandang nama besar Partai tersebut bukan atas nama perseorangan.

———- Forwarded message ———-
From: Asdeddy Syam <syam.deddy.syh@gmail.com>
Date: 2008/8/9
Subject: [Milis_Iqra] Re: Sedikit cerita untuk bekal akh Arman
To: Milis_Iqra@googlegroups.com
Cc: ardi_arifin@hotmail.com

Ass. wr. wbIkut nimbrung  sedikit….buat mas Ardi, mas Arman dan lain lain

Selama ini Indonesia merdeka lebih dari 60 Th dan ormas Islam seperti Muhammadiyah, persis, NU dan lainnya sudah beramar makruf nahi munkar….kita sepakat itu….tetapi aapa hasilnya…mereka berjuang diluar system (tidak masuk kekuasaan)

Tapi apa lacur kemaksiatan masih berjalan …korupsi terus merajalela..kira kira apa penyebabnya..

Karena untuk menegakkan dien ini adalah selain amar makruf juga nahi munkar. Dan yg diperlukan nahi munkar adalah kekuasaan…. ingat itu saudaraku…

Tidak ada gunanya kita teriak teriak anti maksiat..tetapi lokalisasi masih ada…pabrik ekstasi masih ada….

mengenai pengalaman anggota PK diatas, itu adalah kasuistis…bukan system..dan itu adalah resiko dakwah…

Jadi memang yg masuk ke kuasaan adalah harus mukmin yang “KUAT” demi menjaga niat dan perjuangannya

Wassalam


———- Forwarded message ———-
From: fahmi farisi <fahmi.farisi@gmail.com>
Date: 2008/8/10
Subject: [Milis_Iqra] Re: Sedikit cerita untuk bekal akh Arman
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Ikut urun rembug dalam masalah ini. Maaf selama ini saya tidak dapat aktif dalam milis ini karena selama jam kerja saya sulit untuk membuka gmail, kebetulan karena kesibukan pekerjaan selama 1 bulan ini jam kerja diperpanjang termasuk hingga sabtu minggu.
Secara aktual saya sepakat cara berdakwah dengan berbagai cara termasuk melalui partai dan masuk ke dalam sistem. Tapi masalah nabi ketika di Mekkah masuk ke dalam sistem dan ikut berebut kekuasaan seperti sistem partai sekarang ini saya kurang sependapat.
Kita asumsikan pada masa awal turunnya wahyu kehidupan masyarakat masa itu sama dengan sekarang. Awal dakwah nabi dengan berdakwah pada orang terdekatnya. Setelah terbentuk suatu komunitas baru mulai muncul ke tengah masyarakat sehingga diketahui penguasa saat itu. Untuk mencegah perkembangan islam saat itu selain dengan cara ancaman dan intimidasi seingat saya nabi pun pernah ditawari jabatan ( seingat saya lho… kalo gak salah yang jawaban nabi walau bulan diletakkan di tanganku ….dst ) dengan syarat berhenti berdakwah tapi nabi menolaknya. Bila dibandingkan dengan jaman sekarang banyak orang yang sebelum ‘jadi’ idealis begitu sudah ‘jadi’  termakan kenikmatan dunia. Mudah – mudahan hal tersebut tidak menimpa mas Arman.
Jadi menurut saya jika perjuangan nabi dianalogikan ke keadaan sekarang di Indonesia saya lebih cenderung berpendapat lebih mirip organisasi yang berjuang di luar sistem. Apalagi bila intimidasi dari penguasa dianggap sebagai sunatullah, organisasinya dicap penguasa sebagai radikal, para pemimpinnya ditangkap dan hal-hal lain yang tidak akan dialami organisasi yang berbentuk partai politik.
btw, selamat mulai berjuang mas Arman, tetap lurus di jalannya, akan banyak godaan di depan sana and kalo udah berhasil menjadi anggota dewan saya masih boleh main ke rumah kan ? :))

———- Forwarded message ———-
From: Djatmiko Djati <djatmikodjati.ms@gmail.com>
Date: 2008/8/8
Subject: [Milis_Iqra] Re: Sedikit cerita untuk bekal akh Arman
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Insya Allah pengalaman saudara kita PKS tidak terulang pada periode mendantang, karena pada saat itu sekali lagi, Insya Allah PKS akan menjadi mayoritas di DPR. Jadi bangsat2 akan berpikir lebih untuk menggoda wakil2 PKS seperti syetan menghadapi Umar RA. Amien


———- Forwarded message ———-
From: Javaboys21<javaboys21@gmail.com>
Date: 2008/8/8
Subject: [Milis_Iqra] Re: Sedikit cerita untuk bekal akh Arman
To: Milis_Iqra <Milis_Iqra@googlegroups.com>

melihat partai dakwah sekarang ini kayaknya sdh mulai menyimpang dr tujuan semula, PKS ada justru membuat jurang pemisah dengan ormas islam (yg dulunya ikut membesarkan nama PKS), krn ormas dianggap mrpakan pesaing bagi PKS, dan banyak bantuan2 yg diserobot oleh PKS yg dulunya alokasinya ke ormas tersebut. nah kalau ini yg terus berkembang di tubuh PKS pemilu mendatang PKS akan kehilangan byk
dukungan terutama dari ormas2 islam. JADI KEMBALIKAN PKS PADA JALUR SEMULA JANGAN HANYA MENGATASNAMAKAN DAKWAH TETAPI HANYA UNTUK KEPENTINGAN DIRI DAN PARTAINYA SAJA.

wassalam

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: