Rasionalitas Israk dan Mikraj (4)

Rasionalitas Israk Mikraj : ISRAK MIKRAJ DALAM TINJAUAN NUBUAT
Oleh : Armansyah

Dalam salah satu hasil penelitiannya ditahun 1997, Profesor Pundit Vaid Parkash, seorang pendeta Hindu dari Alahabad University India mengemukakan tentang ramalan dari kitab Veda mengenai kisah perjalanan tokoh suci “Kalky Autar” dengan seekor kuda yang akan terbang dengan cepat dari bumi menuju langit. Menurut sang Profesor, ramalan tersebut tidak lain dari peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW yang mengendarai Buroq dengan kecepatan melebihi kilat. Ketokohan “Kalky Autar” sendiri bisa dibaca pada buku kedua penulis yang berjudul “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq” terbitan Hikmah Publishing (2007).

Selain dari kitab Veda, ramalan serupa juga bisa ditemukan dalam kitab Perjanjian Baru milik umat Kristiani. Dalam kitab Wahyu atau Revelation pasal 19 ayat 11, ada disebutkan tentang tokoh suci yang bergelar “Pistos kai Alethinos”10 atau “Yang Setia dan Benar” dengan menunggang “hippos leukos” 11 atau sebuah kendaraan bersinar12 telah turun dari langit (Ouranos) 13. Gelar “Pistos kai Aleithinos” sendiri mengingatkan kita pada gelar yang diperoleh Muhammad sejak kecil dari masyarakatnya, yaitu “Al-Amin” atau orang yang dapat dipercaya.

Isi selengkapnya dari kitab Wahyu pasal 19 ayat 11 sampai 16 ini adalah :

Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan matanya bagaikan nyala api dan di atas kepalanya terdapat banyak mahkota dan padanya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri.

Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan namanya ialah: “Firman Allah.”  Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulutnya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubahnya dan pahanya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”

Dari ayat-ayat kitab Perjanjian Baru diatas, maka bisa kita tafsirkan bahwa Nabi Muhammad SAW yang akan datang sesudah masa kenabian Isa Al-Masih selesai, digambarkan dengan gagahnya sedang naik Buraq (dalam perjalanan Mikrajnya). Nabi Muhammad SAW sejak lamapun dikenal oleh orang-orang disekitarnya sebagai seorang yang dapat dipercaya, keputusannya adil dan jujur karena itulah sejak masih kecil beliau SAW sudah digelari masyarakatnya sebagai Al-Amin. Dalam tiap permasalahan selalu dijadikan hakim yang adil oleh semua pihak, termasuk juga oleh para musuhnya. Muhammad melarang menyakiti orang yang sudah tidak berdaya sekalipun hal tersebut dalam peperangan bahkan pepohonan, anak-anak, kaum wanita, orang-orang tua serta rumah-rumah ibadah umat lain dilarang untuk diganggu. Inilah yang dimaksud oleh Kitab Wahyu diatas sebagai orang yang menghakimi dan berperang dengan adil.

Dari mulut Muhammad keluar sebilah pedang yang tajam yang bisa membunuh orang-orang kafir, ini adalah tamsil bila segala perilaku dan ajaran yang dibawa oleh Muhammad berdasarkan Firman Allah (Al-Qur’an) yang benar yang dengan itu dapat membantah dengan tegas semua dakwah yang dilakukan oleh orang-orang kafir dengan dalih kitab-kitab suci mereka yang telah diselewengkan. Diatas kepalanya terdapat banyak mahkota yang melambangkan kekuasaan dan kemegahan sang Nabi yang telah dicapai pada masa hidupnya didalam penyebaran agama Islam serta memerintah dengan tongkat besi yang menyimbolkan suatu ketegasan dan senantiasa mewanti-wanti umatnya akan kemurkaan Allah apabila mereka melanggar hukum-hukum yang sudah ditetapkan-Nya. Muhammad juga akan diiringi oleh para Malaikat dari segala mara bahaya sebagai bukti rahmat yang telah ditimbulkan atas kehadirannya kebumi ini oleh Allah.

Demikianlah yang bisa kita simpulkan dari ayat-ayat tadi dalam konteks keseluruhannya. Adapun kitab Wahyu sendiri dipercaya oleh umat Kristiani sebagai pengilhaman Tuhan kepada pribadi Yohanes, salah seorang murid utama dari Nabi Isa Al-Masih. Penulis juga sudah mengupas tentang hal ini dalam buku pertama yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus” terbitan Restu Agung (2008).

Dikemukakannya data-data diatas tujuannya tidak lain untuk memberikan pengukuhan kepada cerita-cerita seputar kejadian Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Telah banyak desas-desus yang berkembang diluaran yang mengatakan bila Israk dan Mikraj hanyalah sebuah dongeng, cerita isapan jempol serta sama sekali tidak ilmiah. Apa-apa yang telah kita jabarkan pada bab pertama buku ini diatas, telah membuktikan hal yang sebaliknya. InsyaAllah kita akan membahas lebih jauh masalah ini pada bagian selanjutnya.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: