Rasionalitas Israk dan Mikraj (3)

Rasionalitas Israk dan Mikraj [3]

Oleh : Armansyah

CERITA BAHWA shalat baru diperoleh Nabi Muhammad SAW setelah beliau melakukan perjalanan Mikraj kelangit yang umumnya dipercaya telah terjadi pada saat beliau ditinggal wafat oleh istri tercintanya, Siti Khadijjah, dan paman yang dikasihinya, Abu Thalib memang merupakan kisah paling populer dimasyarakat. Menariknya, Muhammad Husien Haikal secara tegas menulis didalam bukunya bahwa Nabi justru sudah melakukan ritual shalat pada masa-­masa awal kenabian beliau SAW dan dimakmumi oleh Siti Khadijjah dan disaksikan oleh sepupunya, Ali bin Abu Thalib Radhiallahu ‘anhu(Lihat : Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, edisi besar, Penerbit Litera antarNusa, 1998, hal. 87-88) .


Senada dengan Haikal, Imam Nawawi menulis tentang adanya riwayat atau pendapat yang menyebutkan kejadian tersebut terjadi pada tahun kelima bi’tsah (pengutusan) atau tahun keenam dari kenabian, dan ada juga riwayat yang mengatakan terjadinya tahun kesepuluh sesudah Muhammad menjadi Rasul (berdasar riwayat Abdullah bin Umar). Ada pula ulama lain yang menyebutkan peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum Nabi hijrah ke Tha’if (berdasar riwayat Baihaqi), ada juga yang malah mengatakan sesudah setahun lebih enam bulan dari hijrahnya Nabi dari Tha’if. Sampai hari ini belum ada satu kata yang benar-benar sepakat diantara ulama dan kaum cendikiawan muslim sekaitan kapan kiranya tahun yang lebih tepat dari perjalanan Nabi Muhammad SAW yang sangat fenomenal dan bersejarah tersebut.


Hadis-hadis yang bercerita tentang baru adanya pembebanan shalat kepada Nabi Muhammad SAW didalam peristiwa Mikrajnya dengan asumsi bahwa kisah Israk dan Mikraj itu sendiri terjadinya pada masa akhir periode Makkiyah dimana istri beliau (Khadijjah Radhiallahu ‘anha) telah wafat, jelas masih sangat perlu dianalisa lebih jauh kebenarannya. Bagaimanapun pemahaman akan riwayat shalatnya Khadijjah bersama-sama Nabi Muhammad SAW diperiode awal kenabian lebih bisa diterima dari kacamata ilmiah. Sejumlah ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Mekkah pada tahun-tahun pertama kenabian sudah bercerita mengenai perintah Shalat kepada Rasulullah SAW dan umatnya seperti yang terdapat dalam surah Al-Muzammil (surah ke-73), surah Saba’ (surah ke-34) dan surah Thaaha (surah ke-20).


Wahai orang yang berselimut (yaitu Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (QS. Al-Muzammil [73]: 1-4)


Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (QS. Al-Muzammil [73]: 20)


Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri” (QS. Saba [34] :46)


Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (QS. Thaahaa [20] : 132)


Bahkan surah an-Najm (yaitu surah ke-53) yang bercerita tentang perjalanan Nabi ke Sidratil Muntaha telah diwahyukan lebih kurang pada tahun kelima dari kenabian mendahului surah Al-Isra (surah ke-17) yang juga berbicara tentang Israk dan Mikraj diayat pertamanya yang dipercayai oleh jumhur ulama diturunkan pada tahun kesebelas kenabian atau satu tahun sebelum Hijrah. Pengukuhan lainnya ada pada surah Al-Isra itu sendiri diayat ke-110 yang berbunyi :


“Jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS. Al-Israa [17] :110)


Menurut riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas dan ‘Aisyah serta riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas ayat tersebut turun pada waktu Rasulullah SAW masih menyebarkan dakwah Islamnya di Mekkah secara diam-diam. Pada waktu itu apabila Rasul shalat bersama sahabat-sahabatnya, beliau menyaringkan suaranya dengan bacaan Al-Qur’an sehingga ketika terdengar oleh kaum Musryikin maka mereka mencaci-maki Al-Qur’an, Allah dan Nabi. Ayat ini turun untuk melarang Rasul yang pada waktu itu menyaringkan suaranya dalam shalat (lihat : Asbabun Nuzul, Latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al-Qur’an,K.H. Qamaruddin Shaleh dkk, Penerbit Diponegoro, 1975, hal. 302).


Kita tahu dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi di Mekkah merupakan fase paling awal dari penyebaran Islam oleh Rasulullah ditahun-tahun pertama kenabiannya, karenanya tidak tepat bila ayat ini dirujukkan kepada tahun kesebelas kenabian dimana pada masa itu Islam sudah didakwahkan secara terbuka kepada penduduk Mekkah yang berakibat pada aksi pemboikotan, pembunuhan para sahabatnya bahkan berujung pada kejadian hijrah kesejumlah tempat sebelum akhirnya diterima di Madinah.


Selain bukti-bukti diatas, dua hadis berikut inipun memberikan kesaksian dari apa yang telah kita sampaikan dalam hal peristiwa Israk dan Mikraj serta kaitannya dengan shalat ini.


“Aku didatangi Jibril pada awAl-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkanku wudhu dan shalat” – Riwayat Hakim, Baihaqi dan Ahmad (Lihat : Imam Hakim, Vol. III:217, Al-Baihaqi Vol. I:162 dan Ahmad vol. V:203 seperti yang dikutip dalam buku “Terpesona di Sidratil Muntaha”, Agus Mustofa, Penerbit Padma Press, 2005, hal. 139)


Dari Abu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu katanya : Rasulullah SAW bersabda : “Turun Jibril, lalu dia menjadi imam bagiku dan aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, lalu aku shalat bersamanya dan aku shalat bersamanya dan aku shalat bersamanya. Nabi menghitung dengan lima anak jarinya” – Riwayat Muslim (Lihat : Fachruddin HS, Terjemah Hadits Shahih Muslim III, Bagian ke-26, Waktu Sembahyang Fardu dan Kiblat, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1979, hal. 170)


Seperti yang kita ketahui, kitab suci Al-Quran memang tidak pernah menjelaskan secara detil sejak kapan dan bagaimana teknis pelaksanaan shalat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW, namun meski demikian Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa shalat itu sendiri sudah dilakukan oleh umat­-umat para Rasul sebelumnya, seperti perintah shalat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya (Lihat surah 21 Al-anbiya ayat 73 dan surah 19 Maryam ayat 55), kepada Nabi Syu’aib (Lihat surah 11 Huud ayat 87), kepada Nabi Musa (Lihat surah 20 Thaahaa ayat 14) dan kepada Nabi ‘Isa Al-Masih (Lihat surah 19 Maryam ayat 31). Dengan demikian maka shalat jelas terindikasikan bukan baru ada setelah peristiwa Mikraj Nabi ataupun baru timbul dimasa kenabian Muhammad semata, akan tetapi shalat sudah merupakan suatu tradisi yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu. Adapun argumentasi dari sebagian ulama yang mengatakan bahwa shalatnya Nabi Muhammad berbeda dengan shalat generasi kenabian terdahulu tidak memiliki rujukan ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, Al-Qur’an sendiri dalam hal ini justru menegaskan bahwa tata cara shalat disepanjang jaman adalah sama, yaitu dengan ruku dan sujud.


Bilapun mungkin berbeda dibeberapa sisi, hal itu tetap tidak merubah substansi shalatnya. Misalnya adanya perbedaan dalam hal bahasa shalat, ayat-ayat yang dibaca atau juga salawat dan tasyahud. Tentunya apa yang kita kemukakan terakhir ini merujuk pada jaman kenabian masing-masing yang berlaku, untuk syahadat bisa jadi umat sebelum kita juga bersyahadat namun bukan dengan berucap “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya” melainkan “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Ibrahim adalah Rasul-Nya” atau “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Musa adalah Rasul-Nya” demikian seterusnya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan pula seandaianya syahadat mereka justru sama dengan kita. Artinya merekapun (yaitu umat para Nabi terdahulu) mengucapkan ikrar kesaksian “Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya”, argumentasi kita ini beranjak dari adanya kesaksian dari para Nabi itu sendiri didalam Al-Qur’an tentang kedatangan Muhammad yang akan membenarkan semua wahyu-wahyu sebelumnya dan sitiran dari Al-Qur’an juga bila orang-orang ahli kitab sebenarnya telah mengetahui melalui kitab-kitab suci mereka tentang kebenaran kenabian Muhammad SAW sebagaimana mereka disebutkan mengenal anak-anak mereka sendiri.


Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2] : 146)

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenal dia (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. (QS. Al-An’am [6] : 20)


Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman : “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?” ; Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Ali Imran [3] : 81)


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: