Kritik Hadis Israk dan Mikraj Bag. 2

Kritik Hadis Israk dan Mikraj

Bagian 2
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
Jejak Nabi “Palsu” dan Ramalan Imam Mahdi

>> Boleh Copy Paste u/. non komersil dengan tetap mencantumkan sumber <<

Pembaca diharapkan ikut membacanya secara perlahan dan dengan seksama sehingga pada akhir pembahasan bisa menentukan sejauh mana akurasi bahasan yang saya buat ini sehingga tidak menimbulkan fitnah kepada saya pribadi.

Tulisan kali ini memang panjang, namun bila hanya karena panjangnya hadis-hadis ini membuat anda tidak mau membacanya maka anda tidak akan bisa mengikuti bahasan selanjutnya. Bayangkan saja semua hadis dibawah ini saya ketik sendiri semalaman maka anda yang tinggal membacanya saja malas apalagi untuk meneruskan bahasannya🙂

Let us see

Hadis Abu Hurairah dari Al-Musayyab

Dari Said bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW bersabda : “Pada malam dimana aku mengadakan penjalanan Israk, aku bertemu dengan Nabi Musa as -sambil menyifati (menyebutkan ciri-ciri Nabi Musa)- bahwa beliau adalah orang yang kurus dan berambut lurus, (tinggi) seperti orang yang berasal dari kaum Syanu’ah”. Rasulullah bersabda : “Kemudian aku bertemu dengan Nabi ‘Isa as –sambil menyifati (menyebutkan ciri-ciri Nabi ‘Isa)- bahwa beliau adalah orang yang berbadan tinggi, bertubuh sedang dan berkulit merah. Sepertinya beliau baru saja keluar dari kamar mandi.” Rasulullah bersabda : “Setelah itu aku berjumpa dengan Nabi Ibrahim as, sedangkan menurutku, aku adalah orang yang paling serupa dengan beliau diantara anak-anak keturunannya. Kemudian Nabi Ibrahim membawakan dua buah tempat menuman (wadah) kepadaku. Satu diantaranya berisi akir susu, dan yang satunya lagi berisi arak (Khamr). Jibril berkata kepadaku, “Ambil dan minumlah salah satu dari kedua minuman ini yang engkau sukai!”, lalu aku mengambil air susu dan meminumnya. Kemudian dia berkata, “Engkau telah mengambil apa yang menjadi fitrah. Ingat, sungguh seandainya engkau mengambil arak (Khamr), niscaya umatmu akan tersesat semua.” (HR. Bukhari dalam Shahih 3394, 3437, 4709, 5576 dan 5603, Imam Muslim dalam Shahih 272, Imam Ahmad dalam kitab Sunan Jilid 2/282 dan 512 dan Al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah 3761).

Hadis Abu Hurairah dari Abu Salamah

Dari Abu salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku telah diperlihatkan suatu ruangan, sedangkan orang-orang Quraisy malah menanyakan tentang hAl-hal yang tidak aku ketahui tentang Baitul Maqdis. Betapa aku tidak pernah merasakan kegelisahan hati semacam itu sebelumnya. Kemudian Allah SWT mengangkat miniaturnya kepermukaanku, sehingga aku bisa melihat kembali peristiwa tadi malam dan menjawab atas pertanyaan-pertanyaan kaum Quraisy tersebut secara detail. Disana aku juga diperlihatkan jemaah para Nabi, diantaranya adalah Nabi Musa yang sedang menunaikan Shalat. Beliau adalah seorang laki-laki yang kurus dan berambut lurus, berpostur tinggi seperti ketinggian orang-orang lelaki dari kaum Syanu’ah. Aku juga melihat Nabi ‘Isa –putera Maryam- yang sedang menjalankan Shalat pula. Menurutku, orang yang paling menyerupai beliau adalah Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Pada waktu itu, aku juga bertemu dengan Nabi Ibrahim yang sedang menunaikan Shalat. Adapun orang yang paling serupa dengan beliau menurutku adalah teman kalian ini (maksudnya adalah diri Rasulullah sendiri). Maka ketika waktu Shalat tiba, aku menjadi imam bagi mereka. Seusai Shalat ada seseorang yang berkata kepadaku, “Wahai Muhammad, ini adalah malaikat penjaga pintu neraka, berilah salam kepadanya”. Lalu aku menoleh kepadanya dan ia mendahuluiku dalam memberi salam” (HR. Muslim, Shahih 278)

Hadis Anas Bin Malik dari Abu Dzar

Dari Az-Zuhri, dari Anas ia berkata bahwa Abu Dzar pernah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Atap rumahku yang ada di Mekkah telah dibuka, lalu Malaikat Jibril turun dan membedah dadajy. Kemudian Jibril membasuhnya dengan air zam-zam sambil membawa wadah yang terbuat dari emas dan penuh berisi dengan nilai hikmah dan keimanan. Setelah itu, Jibril mengosongkan dadaku dan mengisinya dengan hikmah dan keimanan. Lantas Jibril menutup dadaku kembali.” Jibril lalu menggandeng tanganku dan mengajakku bermikraj –melakukan perjalanan- menuju lapisan langit pertama. Ketika kami sampai disana, Jibril berkata kepada penjaga langit itu, “Bukalah!” lalu penjaga langit tersebut bertanya, “siapa ini?” Jibril menjawab, “aku Jibril”, ia bertanya kembali, “apakah kamu bersama seseorang ?” Jibril menjawab “Ya aku bersama Muhammad”, ia bertanya kembali “Apakah kalian diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab “Ya”, maka petugas itupun langsung membukakan pintu langit shaf pertama.

Imam Muslim bercerita bahwa ketika lapisan pertama terbuka, tiba-tiba Rasulullah SAW bersama Jibril melihat seorang laki-laki yang sedang duduk. Adapun disebelah kanan lelaki itu terdapat sekelompok massa dan disebelah kirinya terdapat sekelompok massa pula. Ketika laki-laki itu melihat kearah kanan, maka ia tertawa dan ketika melihat kearah kiri, maka iapun menangis. Selanjutnya laki-laki itu berkata, “Selamat datang wahai Nabi yang saleh dan putera yang saleh.” Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril, “Siapakah orang ini ?” Jibril menjawab, “Ini adalah Nabi Adam as, sedangkan sekelompok massa yang ada disamping kiri dan kanan adalah hembusan nafas anak keturunannya. Adapun mereka yang golongan kanan adalah ahli surga, dan golongan kiri adalah ahli neraka. Maka ketika beliau melihat kearah kanan beliau langsung tertawa dan jika melihat kearah kiri beliau langsung menangis.

Selanjutnya, kami naik kelangit lapis kedua. Jibril lalu berkata kepada penjaga langit tersebut, “Bukalah !” lantas penjaga itu bertanya seperti halnya pertanyaan penjaga langit pertama, hingga akhirnya ia mau membukakan pintu langit itu. Anas menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW didalam Mikrajnya bertemu dengan Nabi Adam, Idris, Musa, Isa dan Nabiyullah Ibrahim as. Anas tidak menyebutkan satu-persatu tempat bertemunya mereka, kecuali Adam pada langit pertama dan Nabi Ibrahim pada langit ketujuh. Anas menceritakan bahwa ketika Jibril melakukan perjalanan bersama Nabi SAW, mereka bertemu dengan Nabi Idris. Beliau menyambut, “Selamat datang wahai Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh.” Nabi bertanya, “Siapakah ini ?” Jibril menjawab, “Ini adalah Nabi Idris” setelah itu aku bertemu dengan Nabi Musa as dan beliau menyambut “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh.” Rasulullah bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab “Ini adalah Nabi Musa as.” Kemudian aku bertemu dengan Nabi Isa dan beliau menyambut dengan berkata “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh”. Rasulullah SAW bertanya, “Siapa ini ? ” Jibril menjawab “Ini adalah Nabi Isa as.” Kemudian aku bertemu nabi Ibrahim as, beliau menyambutku, “Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh”.

Ibnu Syihab berkata, “Ibnu Hazm bercerita kepadaku bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas dan Abu Habbah Al-Anshari berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Selanjutnya, kami bermikraj lagi sampai pada suatu tempat dimana aku bisa mendengar dengan jelas goresan pena.” Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah SWT mewajibkan kepada umatku 50 kali shalat”

Imam Muslim meriwayatkan, “Kemudian aku kembali”, sedangkan menurut Imam Bukhari, “Kemudian aku menghadap (konsultasi) kepada Tuhanku, selanjutnya Allah berkenan mengabulkan dispensasi (keringanan) maka dibebaskanlah separuhnya.” Imam Muslim berkata, ” Aku (Nabi SAW) lalu kembali menghadap Nabi Musa dan aku katakan padanya bahwa Allah SWT berkenan membebaskan separuh. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Kembalilah engkau menghadap Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakannya.” Lantas aku kembali menghadap dan minta dispensasi, maka Allah membebaskan separuh lagi. Setelah itu aku kembali menghadap Nabi Musa dan beliau berkata “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu masih tidak mampu melaksanakannya.” Imam Muslim meriwayatkan, “Kemudian aku kembali kepada Nabi Musa as dan aku katakan bahwa “Hanya tinggal 5 waktu dari 50 waktu yang diwajibkan semula. Allah tidak akan merubah lagi firman-Nya untukku.” Imam Muslim juga meriwayatkan, “Kemudian aku kembali kepada Nabi Musa dan beliau masih meminta agar aku kembali dan minta dispensasi lagi kepada Allah. Maku aku menjawab, “Sungguh aku benar-benar merasa malu kepada Tuhanku.” Imam Muslim meriwayatkan, “Selanjutnya aku bersama Jibril beranjak meninggalkan Nabi Musa dan berhenti di Sidratul Muntaha. Ditempat itu terdapat sesuatu yang beraneka ragam dan aku tidak mengetahui nama-namanya.” Imam Muslim berkata, “Kemudian aku memasuki surga, ternyata disana ada pohon anggur Haba’il.” (HR. Bukhari dalam Shahih 349, 1636 dan 3342, Muslim dalam Shahih 263, An-Nasa’i meriwayatkan sebagian hadis tersebut akan tetapi tidak disebutkan nama Abu Dzar sebagai perawi, Ahmad dalam kitab Sunan jilid 5/143-144 tetapi dia menyebutkan riwayat ini dari Ubay bin Ka’ab).

Hadis Anas Bin Malik dari Qatadah

Dari Qatadah, Anas bin Malik bin Sha’sha’ah bercerita kepadaku bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Pada waktu dibedah dadaku itu, sepertinya aku berada disamping rumah.” Menurut riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, “Disamping Ka’bah”, adapun menurut satu riwayat –juga oleh Ahmad bin Hanbal- yang lain adalah didalam reruntuhan bangunan. Barangkali Qatadah juga menyebutkan “Diatas bongkahan batu sambil terlentang”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari, “Yaitu antara sadar dan tidak. Lalu datang salah satu dari ketiga orang. Jibril mendatangiku dengan membawa wadah yang terbuat dari emas dan penuh berisi dengan hikmah dan keimanan. Kemudian Jibril membedah dan menumpahkan semua –kotoran- yang ada didalam perutku. Lantas dia membasuh hatiku dengan air zam-zam dan memenuhinya dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu Jibril menjahit dan mengembalikan keadaan perutku seperti semula. Kemudian aku diajak menaiki hwan yang bukan seperti kuda dan lebih besar dari himar (keledai).” Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya, “Setelah itu ada orang yang bertanya, “Apakah itu yang dinamakan Buraq wahai Abu Hamzah (panggilan Rasulullah) ?, ” Beliau menjawab “Betul.” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Kecepatan kendaraah –Buraq- itu adalah sekejap mata dan dengan Buraq itulah aku dibawah.”

Ibu Jarir meriwayatkan, “Setelah itu, kami bergegas menuju Baitul Maqdis. Disana kami menunaikan shalat bersama para Nabi dan Rasul, dan aku yang menjadi imam. Kemudian aku bersama Jibril bergegas menuju lapisan langit pertama. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya, Jibril” Ia bertanya lagi, “Kamu bersama siapa?” Jibril menjawab “Aku bersama Muhammad” Ia bertanya lagi, “Apakah kalian diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab “Ya” Penjaga itu berkata, “Selamat datang, kalian adalah sebaik-baik orang dan kalian telah tiba.” Imam Ahmad bin Hambal menambahkan dalam riwayatnya, “Setelah itu penjaga langit pertama membukakan pintu, lalu aku mendatangi Nabi Adam,” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Jibril berkata, “Ini adalah bapakmu, oleh karena itu ucapkanlah salam” Lalu aku mengucapkan salah kepadanya dan beliau menjawab salamku sambil berkata, “Selamat datang anakku dan nabiku.” Dalam riwayat lain, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Selamat datang puteraku yang saleh dan Nabi yang saleh.”

Dalam riwayatnya, Imam Bukhari mengatakan, “Kemudian kamipun naik.” Sedangkan riwayat Imam Ahmad bin Hambal. “Kemudian kami naik menuju langit kedua dan minta dibukakan pintu kepada penjaga langit itu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa ini ? ” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Lalu dia bertanya, “Siapa orang yang bersamamu ?” Jibril menjawab “Muhammad” kemudian kami mendatangi Nabi Yahya dan Nabi Isa. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Mereka berdua adalah puteranya bibi.” Lantas Jibril berkata “Inilah Nabi Yahya dan Nabi Isa, oleh karena itu berilah ucapan salam kepada mereka.” Maka akupun menyalami dan mereka langsung menjawab. Setelah itu, mereka menyambut, “Selamat datang saudaraku dan Nabiku.” Menurut riwayat Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik” Sedangkan riwayat Imam Ahmad bin Hambal, “Kemudian kami naik menuju langit ketiga. Begitu seterusnya seperti pada langit pertama dan kedua. Kemudian kami mendatangi Nabi Yusuf, lalu Jibril bertaka, “Ini adalah Nabi Yusuf, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas seraya berkata, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, Sedangkan menurut riwayat lain dari Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik.” Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit keempat begitulah seterusnya seperti pada langit pertama, kedua dan ketiga”. Kemudian kami mendatangi Nabi Idris lalu Jibril berkata, “Ini adalah Nabi Idris, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas seraya berkata, “Selamat datang saudaraku dan nabiku” sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan nabi yang saleh”.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian, kamipun naik.” Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit kelima, begitu seterusnya seperti pada langit pertama, kedua, ketiga dan keempat.” Kemudian kami mendatangi Nabi Harun, lalu Jibril berkata, “Inilah Nabi Harun, oleh karena itu ucapkanlah salam.” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas serya mengatakan, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, sedangkan didalam riwayatnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”

Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian kamipun naik”, sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit keenam, begitu seterusnya seperti pada langit pertama sampai langit kelima” Kemudian kami mendatangi Nabi Musa lalu Jibril berkata, “Inilah Nabi Musa, oleh karena itu ucapkanlah salam” Maka akupun menyalami dan beliau langsung membalas serya mengatakan, “Selamat datang saudaraku dan nabiku”, sedangkan didalam riwayatnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari yang lain, “Selamat datang saudaraku yang saleh dan Nabi yang saleh”, akan tetapi ketika beliau mempersilahkan kami, tiba-tiba beliau langsung menangis. Lalu Jibril menegur, “Apakah gerangan yang membuat engkau menangis ? ” Nabi Musa langsung mengadu kepada Allah, “Wahai Tuhanku, anak laki-laki inikah yang Engkau utus setelahku yang mana umatnya paling mulia dan paling banyak masuk surga daripada umatku ?”, Imam Bukhari meriwayatkan, “Kemudian, kamipun naik”, sedangkan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, “Kemudian kami naik menuju langit ketujuh, begitu seterusnya seperti pada langit pertama sampai langit keenam”. Kemudian kami mendatangi Nabi Ibrahim. Imam Bukhari meriwayatkan, lalu Jibril berkata, “Inilah bapakmu, Nabi Ibrahim.” Sedangkan dalam riwayatnya, Imam Ahmad bin Hambal, “Inilah nabi Ibrahim”, kemudian aku menyalami beliau dan beliaupun langsung menjawab salamku, seraya berkata, “Selamat datang puteraku dan Nabiku.” Adapun didalam riwayat yang lain, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari mengatakan, “Selamat datang puteraku yang saleh dan Nabi yang saleh”.

Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari juga meriwayatkan, bahwa Qatadah pernah berkata, “Hasan pernah bercerita kepadanya dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian aku diangkat menuju Al-Bait Al-Makmur. Ketika sampai disana, aku bertanya kepada Malaikat Jibril, “Tempat apa ini namanya ? “. Jibril menjawab “Ini adalah Baitul Makmur, ditempat inilah sebanyak 70.000 malaikat setiap hari menunaikan shalat. Jika mereka sudah keluar maka tidak satupun diantara mereka yang kembali ketempat itu lagi.” Kemudian aku disodori beberapa wadah, satu diantaranya berisi arak (Khamr) sedangkan yang lainnya berisi madu dan susu. Lantas aku mengambil dan meminum dari wadah yang berisikan susu.” Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Ini adalah fitrah yang diberikan kepada engkau dan umatmu”. Masih dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku diangkat menuju Sidratul Muntaha. Tempat itu tampak seperti batang pohon anggur yang menjulang dari muka bumi dan mempunyai daun yang menyerupai telinga gajah. Selanjutnya Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan bahwa, “Inilah Sidratul Muntaha. Adapun didasar tempat tersebut terdapat empat sungai. Dua diantaranya ada didalam, sedangkan dua yang lain ada diluar.” Lantas aku bertanya kepada Jibril, “Apa maskud dari semua ini, wahai Jibril ?”, Jibril menjawab, “Adapun dua yang didalam itu tempatnya adalah disurga, sedangkan dua yang diluar itu adalah sungai Eufrat dan sungai Nil.”

Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian aku diwajibkan menunaikan 50 kali shalat setiap hari, setelah itu aku kembali. Pada saat itu aku bertemu dengan Nabi Musa dan beliau bertanya, “Apa yang engkau peroleh ?” Aku menjawab, “Telah diwajibkan kepadaku 50 kali shalat setiap hari.” Nabi Musa berkata, “(dalam riwayat Imam Bukhari beliau bersumpah –Demi Allah-) aku lebih banyak tahu daripada kamu.” Didalam riwayat Imam Bukhari yang lain, “Sungguh aku telah menelusuri –kemampuan- manusia-manusia sebelum engkau, dan sungguh aku telah mendoktrin Bani Israel dengan sangat ketat. Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikan hal itu. Oleh karenanya maka kembalilah engkau menghadap Tuhanmu dan mintalah dispensasi!” Rasulullah SAW bersabda, “Selanjutnya aku kembali menghadap Tuhanku yang Maha Agung, lalu aku meminta dispensasi. Maka Allah memperingankan kewajiban tersebut menjadi 40. Setelah itu aku kembali dan menemui Nabi Musa. Beliau bertanya lagi, “Apa yang engkau peroleh ?” Aku menjawab, “Allah memperingan menjadi 40.” Lantas Nabi Musa berkata kepadaku seperti semula. Aku kembali menghadap Tuhanku Yang Maha Agung, maka Allah mengurangi lagi menjadi 30. Kemudian aku kembali dan bertemu dengan Nabi Musa seraya memberitahukan dispensasi yang aku terima, dan beliau masih mengatakan kepadaku hal yang sama dengan semula. Lalu aku kembali menghadap Allah dan Dia menguranginya lagi menjadi 20, kemudian 10 dan terakhir kalinya hanya tinggal 5. Selanjutnya aku menemui Nabi Musa, lalu memberitahukan tentang –begitu banyaknya- dispensasi yang sudah aku terima. Akan tetapi beliau masih mengatakan kepadaku hal yang sama seperti semula. Pada kesempatan itu, aku mengatakan, “Sungguh aku benar-benar malu kepada Tuhanku Yang Maha Agung, sudah berapa kali aku bolak-balik ?” Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Bukhari menambahkan, “Akan tetapi Allah selalu merestui dan mengabulkan permohonanku.” Didalam hadis yang lain, Imam Ahmad bin Hambal dan dan Imam Bukhari menerangkan, “Ketika percakapan antara Rasulullah SAW dengan Nabi Musa berlangsung, tiba-tiba ada seseorang memanggil Rasulullah SAW agar beliau mencukupkan sampai disitu, karena Rasulullah SAW telah meminta dispensasi yang begitu banyak untuk umatnya. Segala bentuk kebaikan akan dibalas 10 kali lipat. (HR. Ahmad dalam sunan Jilid 4/207-210 melalui jalur Hisyam ad-Dustiwa’, Imam Bukhari dalam Shahih 3207, 3393 dan 3887, Imam Muslim dalam shahih 264 dan 265 dan Ibnu Jarir dalam 15/3)

Hadis Anas Bin Malik dari Tsabit Al-Banani

Riwayat Tsabit, ia menceritakan dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah dibawakan kendaraan Buraq. Kendaraan ini adalah sejenis hewan berwarna putih, yang mana tingginya antara himar dan kuda. Sedangkan kecepatannya adalah sama dengan kejapan mata. Ketika itu, aku dibawa menuju Baitul Maqdis dan disana aku bergabung dengan majelisnya para Nabi. Sesampainya disana aku masuk masjid dan menunaikan shalat dua reka’at. Setelah itu aku keluar dan Jibril langsung menghampiriku dengan membawa satu wadah yang berisi arak (Khamr) dan satu wadah lagi yang berisi susu. Kemudian aku memilih wadah susu, lalu Jibril berkata, “Engkau telah memilih”. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit pertama. Lalu Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Sebelumnya penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit pertama. Dilangit itu, kami bertemu dengan Nabi Adam, lalu beliau menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Kemudian kami bermikraj menuju langit kedua, lalu Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit itu. Ketika sampai disana, kami bertemu dengan dua anak laki-lakinya bibi, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Mereka langsung menerima dan menyambut kami dengan sangat baik. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit ketiga. Sesampainya disana, Jibril minta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga itu bertanya, “Siapa kamu ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Siapakah orang yang bersamamu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap kepada-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya!” Maka penjaga pintu itupun membukakan untuk kami. Ketika sampai disana, kami bertemu Nabi Yusuf. Beliau adalah Nabi yang diberikan Allah separuh dari ketampananku. Lantas beliau menerima dan menyambut kami dengan baik sekali. Kemudian kami bermikraj menuju langit keempat. Sesampainya disana, Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu langit itu. Disana kami bertemu dengan Nabi Idris. Beliau langsung menerima dan menyambut kami dengan baik sekali seraya membacakan firman-Nya, “Dan Kami telah mengangkatnya kemartabat yang tinggi (QS. . Maryam (19): 57).

Setelah itu, kami bermikraj menuju langit kelima. Sesampainya disana Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Benar!” Maka penjaga itupun langsung membukakan pintu. Disana kami bertemu dengan Nabi Harun. Beliau juga menerima dan menyambut kami dengan baik sekali. Kemudian, kami bermikraj menuju langit keenam. Sesampainya disana Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Ya, kami telah diutus-Nya” setelah itu penjaga langit tersebut mau membukakan pintu. Disana aku bertemu dengan Nabi Musa. Beliau telah menerima dan menyambut kami dengan amat baik. Selanjutnya kami bermikraj menuju langit ketujuh. Sesampainya disana, Jibril meminta agar penjaga langit itu mau membukakan pintu. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa kalian ?”, Jibril menjawab, “Saya Jibril”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapa orang yang bersamamu itu ?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lantas dia bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?” Jibril menjawab, “Ya, kami telah diutus-Nya”, Maka penjaga langit itupun langsung membukakan pintu kepada kami. Disana kami bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Ketika itu beliau sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Makmur. Beliau juga masuk ketempat itu setiap hari bersama 70.000 para malaikat yang datang silih berganti. Setelah itu kami pergi menuju Sidratul Muntaha. Tempat itu memiliki daun yang menyerupai telinga gajah dan tampak seperti batang pohon anggur yang menjulang dari muka bumi. Jika perintah Allah menghendaki perubahan tempat itu, maka tak satupun diantara makhluk Allah yang mampu untuk mengubahnya dan mengungkapkan keindahannya. Rasulullah SAW bersabda, “Maka Allah menurukan wahyu kepadaku dan mewajibkanku 50 kali shalat dalam sehari-semalam.” Setelah itu aku turun dan bertemu dengan Nabi Musa. Beliau bertanya, “Apa yang diwajibkan Tuhan kepada umatmu ?”, Aku menjawab, “50 kali shalat dalam sehari-semalam.” Lalu Nabi Musa berkata, “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikannya. Sungguh aku telah mencoba untuk mempraktekkan hal ini kepada Bani Israel.” Rasulullah bersabda, “Kemudian aku kembali –menemui- Tuhanku yang Maha Agung. Aku memohon, “Wahai Tuhanku, berilah dispensasi kepada umatky.” Maka Allah menurunkan 5. Kemudian aku kembali menemui Nabi Musa, beliau bertanya, “Apa yang kamu peroleh ?” Aku menjawab, “Aku telah diberi dispensasi lima”. Beliau berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Oleh karena itu kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi untuk umatmu.” Rasulullah SAW bersabda, “Ketika itu aku selalu bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as dan Allah selalu memberikan dispensasi lima-lima”. Pada akhirnya Tuhanku berfirman, “Wahai Muhammad, cukuplah 5 kali shalat dalam sehari-semalam, dengan tiap-tiap shalatnya bernilai 10. Dengan demikian, esensinya sama dengan 50 kali shalat. Barangsiapa yang mengerjakannya, maka baginya adalah satu pahala. Karena jika kebajikan itu dikerjakan, ia akan mendapatkan 10 pahala. Barangsiapa yang berniat untuk satu kejahatan, akan tetapi ia belum sempat mengerjakannya, maka baginya tidak mendapat apa-apa. Karena jika kejahatan itu dikerjakan, ia hanya mendapat dosa satu.” Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku turun dan menemui Nabi Musa, lalu aku memberitahukan apa yang aku peroleh.” Beliau berkata, “Kembalilah engkau pada Tuhanmu dan mintalah dispensasi lagi, karena pada dasarnya umatmu masih belum mampu mengerjakan hal itu.” Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengatakan kepada Nabi Musa, “Sungguh aku sudah berkali-kali menghadap Tuhanku sampai aku merasa malu sendiri terhadap-Nya.” (HR. Ahmad dalam sunan jilid 3/148 dengan teks dari beliau, Imam Muslim dalam shahih 259 melalui jalur Hammad bin Salamah).

Hadis Anas Bin Malik dari Syarik bin Abi Namr

Ia menceritakan bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik berkata –dalam riwayat lain, “Bercerita kepadaku …” –tentang kepergian malam Israknya Rasulullah SAW dari masjidil Ka’bah dan bahwasanya Rasulullah SAW didatangi tiga orang yang tidak dikenal sebelum beliau mendapat wahyu –panggilan- untuk menghadap-Nya. Ketika itu beliau sedang didalam Masjidil Haram. Salah seorang dari ketiga orang tersebut berkata, “Siapa diantara mereka yang merupakan orang yang dimaksud ?”, Lalu orang kedua berkata, “Dialah orang yang paling baik diantara yang lainnya.” Orang terakhir berkata, “Pilih saja orang yang terbaik.” Pada malam itu hanya berlalu begitu saja, dimana Rasulullah SAW belum pernah memimpikan hal serupa melalui bisikan hati, karena pada hakekatnya Rasulullah SAW itu hanya matanya saja yang terpejam namun hati beliau tidak pernah tidur. Begitu juga para Nabi yang lain, mereka juga hanya memejamkan mata sedangkan hatinya tidak pernah tidur. Dalam mimpi Rasulullah SAW yang berikutnya, ketiga orang tersebut tidak ada yang berkata sepatah katapun dan mereka langsung membawa Rasulullah dan meletakkannya didekat sumur zam-zam. Lantas malaikat Jibrillah yang bertanggung jawab atas beliau.

Kemudian, malaikat Jibril membedah dada Rasulullah SAW menembus jantung sampai kebagian perut yang paling dalam. Setelah itu, Jibril membasuh dan membersihkannya dengan air zam-zam. Selanjutnya malaikat Jibril membawa wadah yang terbuat dari emas, didalamnya terdapat “Taur” yang terbuat dari emas pula dan penuh berisi dengan keimanan dan hikmah lalu dimasukkan kedalam dada hingga Al-Ghadid –yaitu urat leher- Rasulullah SAW dan menutupnya kembali. Setelah itu, Rasulullah SAW naik Buraq dan ber-Israk menuju Baitul Maqdis. Disana Rasulullah SAW kemudian menunaikan shalat bersama para Nabi dan Rasul, sementara beliau bertindak sebagai Imam.

Kemudian Rasulullah SAW bermikraj dengan malaikat Jibril menuju langit-langit dunia. Jibril mengetuk pintu, lalu para penghuni langit tersebut menghampirinya sambil bertanya, “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya Jibril”, Mereka bertanya lagi, “Siapa orang yang menyertaimu ? ” Jibril menjawab, “Aku bersama Muhammad”, Mereka bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya”, Mereka lalu menyambut “Selamat datang ditempat kami.” Maka seluruh penghuni langit merasa begitu gembira dengan kedatangan Muhammad. Ternyata para penghuni langit itu tidak mengetahui apa kehendak Allah dengan mengutus Muhammad kemuka bumi ini sebelum mereka semua diberitahu. Pada saat Rasulullah SAW dan malaikat Jibril berada dilangit-langit dunia, mereka bertemu dengan Nabi Adam. Jibril berkata kepada Rasulullah, “Ini adalah bapakmu, maka ucapkanlah salam untuknya.” Kemudian Rasulullah SAW menyalami Nabi Adam dan beliaupun langsung menjawab sambil berkata, “Selamat datang wahai anakku, sebaik-baik anakku adalah engkau”. Dilangit-langit dunia yersebut mereka menjumpai sungai yang mengalir jernih. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Sungai apa ini namanya wahai Jibril ?” Jibril menjawab, “Ini adalah sungat Nil dan sungai Eufrat.” Selanjutnya langit tadi dilewati begitu saja oleh Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau menyaksikan sungai yang lain. Didalam sungai itu terdapat endapan-endapan mutiara dan jamrud. Ketika Rasulullah SAW menyentuh sungai itu, aromanya seperti minyak misik yang amat wangi. Lantas Rasulullah SAW bertanya, “Sungai apa ini, wahai Jibril ?” Jibril menjawab, “Ini adalah sungai (telaga) Kautsar yang telah disiapkan untukmu.”

Setelah itu Rasulullah SAW bermikraj menuju langit kedua. Maka para malaikat penjaga langit itupun bertanya seperti pertanyaan malaikat yang menjaga dilangit pertama, yaitu “Siapa ini ?” Jibril menjawab, “Saya Jibril”, Mereka bertanya lagi, “Siapa orang yang menyertaimu ? ” Jibril menjawab, “Aku bersama Muhammad”, Mereka bertanya lagi, “Apakah kalian telah diutus untuk menghadap-Nya ?”, Jibril menjawab, “Ya”, Mereka lalu menyambut “Selamat datang ditempat kami.” Kemudian Rasulullah SAW bermikraj menuju langit ketiga, dan para malaikat penjaga langit itupun mengatakan hal yang sama dengan pertanyaan-pertanyaan malaikat yang ada dilangit pertama dan kedua. Kemudian Rasulullah SAW bermikraj menuju langit keempat. Mereka juga mengatakan hal yang sama. Begitupula halnya ketika Rasulullah SAW sampai dilangit kelima, keenam dan ketujuh. Dari tiap langit itu semua, Rasulullah SAW selalu berjumpa dengan para Nabi. Diantara nama-nama mereka yang aku (Rasulullah) kenali adalah : Nabi Idris dilangit kedua, Nabi Harun dilangit keempat. Disamping itu masih banyak nama-nama para Nabi lainnya, yang aku jumpai dilangit kelima. Lalu Nabi Ibrahim as dilangit keenam, serta Nabi Musa as dilangit ketujuh yang menyebut keagungan kalam Allah SWT. Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhanku! Aku tidak menyangka sama sekali jika ada seseorang yang akan Engkau angkat dan bertemu denganku (disini).” Setelah itu, Rasulullah SAW terus naik yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah SWT. Akhirnya Rasulullah SAW sampai kesidratil Muntaha dan disitulah Allah turun menemui beliau dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kemudian Allah menurunkan wahyu agar umat Rasulullah menunaikan 50 kali shalat dalam sehari-semalam. Rasulullah SAW kemudian turun dan berjumpa dengan Nabi Musa. Sengaja Nabi Musa mencegat beliau untuk menanyakan, “Wahai Muhammad, apa yang telah dibaiatkan Tuhan kepadamu ?”, Rasulullah menjawab,”Tuhan membaiat aku untuk menunaikan 50 kali shalat dalam setiap siang dan malam hari.” Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menunaikan hal itu. Oleh karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan (dispensasi) buat engkau dan umatmu.” Lalu Rasulullah SAW menoleh kepada Jibril seakan-akan beliau hendak memberi isyarat mengenai pernyataan Nabi Musa tersebut. Lantas malaikat Jibrilpun mengisyaratkan bahwa jika hal itu yang terbaik menurut Rasulullah SAW, maka Jibril hanya bisa menurut.

Kemudian Rasulullah SAW naik dan menemui Allah SWT, seraya memohon, “Wahai Tuhanku, berilah kami keringanan, karena sesungguhnya umatku tidak mampu menunaikan-perintah ini-“. Lalu Allah SWT menurunkan 10 shalat. Setelah itu Rasulullah SAW kembali dan Nabi Musa pun sudah mencegatnya. Pada waktu itu, Rasulullah SAW bolak-balik antara Allah dan Nabi Musa. Sampai akhirnya Allah SWT mewajibkan 5 kali shalat. Akan tetapi Nabi Musa masih mencegat Rasulullah SAW ketika perintah shalat hanya tinggal 5 waktu. Nabi Musa berkata, “Wahai Muhammad, sungguh aku telah berusaha mempraktekkan hal itu kepada Bani Israel kaumku. Bahkan yang lebih ringan dari inipun mereka masih tidak mampu dan malah meninggalkannya. Padahal, umatmu itu lebih lemah jasad, hati, fisik, penglihatan maupun pendengarannya. Oleh karena itu kembalilah engkau kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi kembali.” Setiap kali Rasulullah SAW mendengarkan pendapat Nabi Musa, beliau selalu menolah dan memberi isyarat kepada Jibril. Namun Jibril selalu tidak meragukan alasan-alasan Nabi Musa. Kemudian Rasulullah menghadap Allah lagi, disaat perintah shalat hanya tinggal 5 waktu. Beliau memohon, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku itu lemah jasad, hati, fisik, penglihatan maupun pendengarannya. Maka berilah kami dispensasi.” Kemudian Allah SWT berfirman, “Wahai Muhammad, aku sudah mengabulkan permintaanmu semoga engkau bahagia.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT sudah tidak akan merubah ketetapan-Nya lagi padaku, sebagaimana Allah telah mewajibkan kepada kalian didalam Al-Kitab.” Rasulullah SAW bersabda lagi, “Setiap satu amal kebajikan akan dibalas 10 kali lipat. Kalian hanya diwajibkan 5 kali, namun kalian akan mendapat 50 didalam ummul kitab.”

Setelah itu, Rasulullah SAW kembali menemui Nabi Musa dan ia berkata, “Apa yang telah engkau perbuat ?” Rasulullah menjawab, “Aku memohon kepada Tuhanku agar memberikan kami dispensai, lalu Allah memberikan setiap satu kebajikan dengan balasan 10 kali lipat.” Nabi Musa berkata, “Sungguh aku telah mencoba melaksanakan perintah yang lebih ringan dari hal itu kepada Bani Israel, kemudian mereka beramai-ramai meninggalkannya. Oleh karena itu, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah dispensasi kembali.” Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Nabi Musa! Sungguh aku benar-benar merasa malu, dan takut berbuat salah kepada Tuhanku.” Lantas Nabi Musa berkata, “Kalau begitu sekarang turun dengan menyebut asma Allah SWT.” Rasulullah SAW bersabda, “Setelah itu aku terbangun dan aku sudah kembali berada di Masjid Al-Haram” (HR. Bukhari dalam shahih 3570 dan 7517, Imam Muslim dalam shahih 262).

Bersambung.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: