Rasionalitas Israk dan Mikraj (2)

Rasionalitas Israk dan Mikraj
Oleh : Armansyah
Bag. 2

>> Boleh copy-paste u/. non komersil asal menyebutkan sumbernya <<

Kaum alim ulama memang banyak berbeda pendapat mengenai masalah kejadian yang dialami oleh Nabi yang agung ini, bahwa apakah peristiwa itu terjadi secara rohani ataukah secara jasmani alias dengan tubuh kasarnya ?

Sejak abad permulaan, masalah ini senantiasa menjadi masalah ikhtilafiah atau masalah yang membangkitkan beda pendapat antara alim ulama dan mufassirin. Kita seharusnya bisa bersikap lapang dada dengan kontroversi ini, bukankah tingkat pemahaman setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan cara berpikir dan penguasaan ilmu pengetahuan serta perkembangan peradaban tekhnologi pada masanya ? Mari kita mencoba untuk melakukan sebuah analisa singkat atas kontroversi tersebut dengan tetap berpegang teguh pada kaidah Al-Qur’an.

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. An-Nahl [16] :125)


Sebagian orang yang menganggap bahwa peristiwa perjalanan malam Nabi ini hanya terjadi dalam mimpi, padahal faktanya mimpi itu tidak perlu dibantah. Bagaimanapun mimpi adalah tinggal sebatas mimpi. Misalnya sebut saja Bapak Daffa yang saat ini berada dikota Palembang, lalu Bapak Daffa mengatakan bahwa tadi malam telah bermimpi pergi kekota Mekkah untuk berhaji, maka wajarnya tidak akan ada seorangpun yang bisa membantah pengalaman mimpi Bapak Daffa tersebut, karena kejadian itu sekali lagi hanyalah mimpi yang semua orang bisa memimpikan hal yang serupa atau lebih dari itu. Jarak tempuh dari kota Jakarta selaku ibu kota Republik Indonesia dengan kota Mekkah sendiri sekitar 7.908,43 Km atau dari kota Mekkah ke Palembang (tempat penulis berdomisili) sekitar 7.571 Km yang memakan waktu sekitar 9 jam perjalanan dengan pesawat udara.

Adapun orang yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi mencoba mengemukakan dalil Al-Qur’an :

Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar-ru’yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS. Al-Isra [17] :60)

Menurut mereka, lafal Ru’ya adalah berarti penglihatan dalam mimpi, bukan penglihatan dalam sadar. Sebab penglihatan dalam keadaan sadar mempergunakan bentuk masdar Ru’ya(h). Terhadap alasan ini, kita kemukakan jawaban bahwa apabila penglihatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah mimpi, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada lanjutan ayat 60 surah Al-Isra diatas ?

Sedangkan makna ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau toh hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya. Adakah pembaca pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini dan begitu ? rasanya secara rasional terlalu berlebihan untuk bersikap demikian, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu yang nota bene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa Isra dan Mirajnya pun harusnya tidak akan membantahnya bila memang peristiwa ini terjadi dalam mimpi Nabi bahkan orang-orang Islam awalpun tidak perlu goncang imannya sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dan riwayat Ibnu Ishaq dari Al-Hasan yang mengatakan adanya orang-orang Islam yang kembali menjadi murtad setelah Nabi menceritakan pengalaman Israk dan Mikrajnya.

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. memandang takjub atas bintang-bintang, bulan dan matahari dilangit dalam kisah pencarian jati diri Tuhannya, kitapun mendapati penggunaan kata-kata Ru’ya. Dimana Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan melihat dalam keadaan sadar atau melihat dengan mata kepalanya secara fisik.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am [6] : 76)

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS. Al-An’am [6] : 77)

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Al-An’am [6] : 78)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-An’am [6] : 79)

Sehingga kemudian kita bisa menarik satu kesimpulan bila penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW itu benar-benar terjadi didalam sadarnya dan diikuti oleh panca indera fisiknya. Itulah makanya penglihatan tersebut disebut berupa ujian bagi manusia lainnya, dimana timbul reaksi-reaksi dari mereka, yaitu ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan.

Adakah mimpi itu bisa dijadikan ujian bagi orang lain ?

Dan bilapun kata-kata “Ru’yaa” disini masih tetap ingin diartikan dengan mimpi, maka tentunya mimpi disini haruslah berubah menjadi kenyataan, dan dari kenyataan inilah lantas timbul Ujian. Sehingga dengan demikian maka dapat diambil pengertian bahwa peristiwa Mikraj itu boleh jadi mula-mula dialami Rasulullah SAW dalam mimpi, kemudian mimpi itu benar-benar terwujud dalam sebuah peristiwa yang nyata.  Hal ini bisa kita tarik juga dari kesamaan pada peristiwa yang lain terhadap diri Rasulullah SAW. seperti yang difirmankan oleh Allah :

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram. (QS. Al-Fath [48] :27)

Dimana peristiwa memasuki Masjidil Haram ini mula-mula berupa impian beliau dimasa peperangan Hudaibiyah, kemudian menjadi kenyataan satu tahun berikutnya dimasa penaklukkan Mekkah. Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk memperlihatkan kepada Muhammad SAW mengenai peristiwa Mikraj ini dalam mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah bisa saja memang mengalami Mikraj dalam mimpinya, tetapi kemudian dialaminya dalam alam kenyataan dengan jasad konkretnya.

Allamah Az-Zamakhsyari melalui kitabnya yang berjudul tafsir Al-Kasysyaaf dalam rangka membela pendapat yang menyebutkan peristiwa Israk dan Mikraj terjadi tidak dalam bentuk fisik, menuliskan sebuah riwayat dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha, istri  Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan bahwa jasad Rasulullah malam Mikraj itu tidak meninggalkan tempat tidurnya sehingga kejadian ini terjadi dengan rohnya5. Dari sudut ilmu sejarah, dalil yang dipergunakan disini tidak dapat dipertanggung jawabkan karena ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha pada waktu itu belum menjadi istri Nabi sehingga beliau tidak tahu apapun tentang kejadian tersebut, ditambah lagi dengan hasil penelitian dari Al-Qadhi ‘Iyad sebagaimana bisa dijumpai didalam kitab beliau Al-Syifa bahwa hadis tersebut secara matan maupun sanad adalah dhaif, lebih jauh bahkan Al-Hafiz Ibnu Dahyah menyebut hadis ini palsu. Sehingga batallah apa yang disandarkan pada hadis tersebut.

One Response

  1. Assalamu*aikum
    menurut pendapat saya,Roh.adalah sesuatu yang tak dapat dilukis kan tapi dapat dirasa kan oleh setiap mahluk hidup khusus nya manusia.yang merupakan wujud hidup didalam jasad manusia yang di berikan oleh ALLLAH yang mengkonsumsi amalan baik/buruk manusia itu sendiri sesuai petunjuk nya masing masing ,maka berfariasi lah pola pikir manusia.
    jika konsumsi amalan nya berdasarkan benar petunjuk AL – QUR*AN maka peredaran siang dan malam NYA otomatis malaikat yang menuntun nya kejalan ALLLAH dari segala nafsu dan iblis yang menggiurkan, yang mendatang kan kedamaian,ketenangan,dan kebajikan Duniaa dan Akhiratnya dan terbentuk lah kepribadian muslim yang baik padanya. tapi sebalik nya jika konsumsi amalan nya diluar dari ketentuan ALLLAH maka otomatis setan,iblis,dan nafsu buruk lah yang membimbing nya,dan menjadikan kemurkaan,dan mudarat bagi nya,sehingga kesusahan lah hidup nya di awal kemenangan nya.dan terbentuklah kepribadian yang munafik.(tak mengakukui petunjuk tuhan yang menciptakan nya(ALLLAH),sehingga sesat lah ia.yaitu:nasrani,yahudi,dan orang pinter yang dgn jalur syaitan

    kesimpulan ROH;
    wujud hidup Perjalanan manusia di Dunia dalam segala interaksi secara( bahasa,perbuatan,hati) menempuh Kematian /Akhirat yang NYaaaata.
    waullahu*alam bissyawab,wassalam

    not: “segala kekurangan/kemiskinan milik k,segala kelebihan/kekayaan milik ALLLAH SWT

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: