Rasionalitas Israk dan Mikraj (1)

Rasionalitas Israk dan Mikraj
Oleh : Armansyah
Bag. 1

>> Boleh copy-paste u/. non komersil asal menyebutkan sumbernya <<

Dalam sejarah kenabian Muhammad SAW, mungkin selain cerita mukjizat pembelahan bulan tidak ada lagi cerita yang membangkitkan kontroversi sepanjang jaman kecuali cerita Israk dan Mikraj. Ada yang memandang kisah tersebut dengan kacamata skeptis dan menganggapnya hanya sebagai khayalan dan bualan dari Nabi belaka, ada pula yang menganggap cerita tersebut sebatas rekayasa para penulis hadis dan sebagian lagi menyebutnya sebagai mimpi.

Memang untuk ukuran waktu lima belas abad yang lalu, cerita Israk dan Mikraj merupakan peristiwa yang mustahil terjadi, sejak isu keberangkatan Nabi dari Mekkah menuju ke Yerusalem yang harusnya ditempuh lima belas hari berkuda bahkan sampai terbang keluar angkasa menembus langit. Sebuah peristiwa yang perwujudannya baru sebatas imajinasi dan dongeng sebagaimana kisah-kisah mengenai Aladdin dengan karpet terbangnya atau kisah gatot kaca dengan kotang antakusumahnya. Berbeda halnya bila kita tinjau kejadian ini dari kacamata dunia modern, dimana kisah perjalanan Nabi Muhammad itu mungkin tidak akan terlalu asing, orang-orang masa kini sudah terbiasa melakukan perjalanan berbeda kota yang memiliki jarak tempuh perjalanan darat selama berhari-hari tetapi dapat dijalani pulang dan pergi pada hari yang sama dengan mengendari pesawat udara. Sehingga menjadi wajar apabila diwaktu Nabi Muhammad Saw menceritakan kejadian yang beliau alami, hal tersebut membuat heboh masyarakatnya saat itu, baik mereka yang mendukung dakwahnya apalagi mereka yang memang sejak awal memusuhinya. Pesawat terbang sendiri baru dibuat pada abad kesembilan belas Masehi yaitu dibulan Desember 1903 oleh Wright bersaudara (Wilbur Wright dan Orville Wright) dengan percobaan pertama mereka diatas padang pasir Kitty Hawk, Carolina Utara, Amerika Serikat1. Akan tetapi sangat mengherankan apabila dijaman modern sekarang ini yang masyarakatnya bahkan bukan hanya terbiasa hidup dengan pesawat udara semata tetapi juga sampai kepada pesawat ulang-alik, pengiriman ekspedisi Voyager keplanet Mars dan Saturnus, stasiun luar angkasa dan lain sebagainya yang bersifat eksplorasi jagad raya dengan mempergunakan teknologi canggih dan komputerisasi malah ikut meragukan kejadian tersebut.

Kita sangat setuju bila para ulama salaf dari berbagai tingkat dan jamannya dimasa lalu masih berselisih paham akan kejadian ini, terutama mengenai status atau metode perjalanan yang ditempuh oleh Rasul, apakah lengkap dengan jasad atau hanya dengan Nafs-nya saja atau malah hanya melalui mimpi, namun kita tidak bisa terus larut dalam kontroversi tersebut sebab kita sudah sewajarnya mempergunakan akal yang sesuai dengan tingkat peradaban jaman dimana kita hidup. Islam adalah peradaban akal karena kitab suci Al-Qur’an dibanyak ayatnya menekankan optimasi akal untuk berpikir tentang maha karya Allah dialam semesta, oleh sebab itu maka setiap muslim penerus misi Nabi Muhammad mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan bahkan mengembangkan misi tersebut sehingga Islam benar-benar menjadi pusat ilmu pengetahuan manusia atau menjadikannya Rahmatan lil’alamin. Sudah cukup sikap kita selama ini yang sekedar menjadi kaum pengagum akan kesempurnaan kitab suci Al-Qur’an yang kita miliki tetap bukan bertindak sebagai pelaksana apalagi selaku pembukti dari kebenaran isi dari kitab suci tersebut. Dengan modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini adalah selalu meminta dan menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firman-Nya!  Padahal itu bukan menjadi kewajibannya Allah tetapi kewajiban kitalah sebagai pengemban amanah, bagaimanapun firman-firman Allah itu akan tetap benar dengan sendirinya.

Selama berabad-abad pasca runtuhnya kejayaan emas Islam di Madinah, Kufah dan Andalusia, kita hanya sibuk memperdebatkan masalah halal dan haram, bid’ah atau syubhat dan lain sebagainya. Kita telah melelahkan diri dengan urusan saling hujat dan mengkafirkan kelompok yang tidak sepaham dengan kita. Tidak ada lagi sebagian dari kita yang terkonsentasi dengan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis Islam yang mengangkat derajat kemanusiaan melalui optimasi akalnya. Kita sudah begitu hebat saat menunjuk kesalahan orang lain tapi kita sendiri tidak pernah mengoreksi sejauh mana kejujuran dari pemahaman diri kita sendiri, apakah hanya karena pemahaman kita sama dengan orang lain atau sama seperti pahamnya ulama-ulama terkenal maka secara otomatis menjadi parameter kebenaran paham kita ? apakah hanya karena kita seorang Ahlussunnah atau seorang Syi’ahIngkar sunnah atau seorang Muktazilah atau seorang anggota apapun bentuk dan jenis jemaah Islamnya maka bisa dijadikan standar kebenaran yang obyektif ? atau justru malah menjadi kebenaran yang subyektif atau sepihak ? atau seorang

Sejak awal keberadaan kita didunia ini, Allah telah menetapkan tujuan utama kita selaku Khalifah-Nya. Beban eksistensi kita tersebut membuahkan tuntutan yang tidak dapat dihindarkan yaitu agar dapat memberikan kemaslahatan kepada apa-apa yang sudah diamanahkan kepada kita. Supaya kita dapat bernilai guna pada lingkungan disekitar kita maka diperlukanlah proses-proses pembelajaran yang sungguh-sungguh. Pernah ada satu iklan ditelevisi yang isinya kurang lebih berbunyi, “Menjadi tua itu pasti namun menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan”. Iklan ini menarik sekaligus memberikan kita kesadaran bahwa tanpa harus kita usahakan masa tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa kita harus menciptakannya. Bagimana cara kita menciptakannya tidak lain hanyalah melalui proses belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik kemampuan berikutnya.  Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup  tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Proses belajar adalah proses menanyakan sesuatu yang berasal dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi benar untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, “Learning is  experiencing by exploration and discovery”.  Pendidikan formal dibangku sekolah atau universitas belum sepenuhnya menjadi media yang mampu menterjemahkan makna belajar.  Hal ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan. Salah satu ciri kedewasaan yang telah terwujud dari hasil pembelajaran adalah pemahaman kita yang baik terhadap dunia konkrit. Dengan memahami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya, maka akan membuat kita semua menjadi bijak menjalani hidup beragama.

Kata “Iqra” merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa Al-Qur’an membuka cakrawala dunia ilmu pengetahuan yang dapat digali melalui kata ‘baca’. Dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami kemajuan dibidang ilmu pengetahuan secara pesat. Dengan meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam, gejala-gejala alamiah yang komplek atau musykil dapat kita terangkan dan uraikan menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah kita ketahui. Membiarkan diri terus berlarut-larut dalam urusan-urusan klasik yang sebenarnya sudah bisa kita pecahkan melalui jangkauan ilmu pengetahuan justru menjadikan diri kita berjalan ditempat. Kemajuan peradaban selalu menawarkan ruang dialog untuk mencegah terjadinya konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan konsep atau persepsi. Ruang dialog itu dimaksudkan sebagai upaya menjembatani kompromi (kesepakatan sinergis) dari gap atau perbedaan yang telah terjadi. Kemajuan peradaban bukan harus dimusuhi akan tetapi diakrabi sebab kemajuan itu sendiri merupakan bagian dari bentuk “wahyu-wahyu baru ilahi” kepada hamba-hambaNya yang mau belajar.

Firman Allah : “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. . Al-‘Alaq [96] :5)

Penyadaran diri sebagai makhluk yang serba lemah dan terbatas harusnya membuat kita menerima dengan ikhlas tahapan-tahapan wahyu baru yang diturunkan oleh Allah dalam bentuk pelajaran-pelajaran atau hikmah. Konsepsi kenabian dan kerasulan dalam hal syariat berupa tuntunan cara berinteraksi serta berkomunikasi antara makhluk dengan Al-Khaliq memang sudah berakhir pada masa kenabian Muhammad, akan tetapi konsepsi kewahyuan yang berkaitan dengan sentuhan-sentuhan ilmu Tuhan bagi peradaban masih terus berjalan seiring dengan waktu.

Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. .  Nuh [71] :14)

Kami pergilirkan hari-hari itu diantara manusia untuk menjadi pembelajaran (QS. . Ali Imron [3] :140)


Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (QS. . Al-Insyiqaaq (84) :19)


Surah pertama dalam Al-Qur’an adalah Al-Fatihah, surah ini juga dikenal sebagai surah pembuka, ummul Qur’an, surah dengan 7 ayat berulang dan sebagainya. Inilah inti dari Al-Qur’an, tanpa surah ini maka sebuah kitab tidak bisa disebut Al-Qur’an, tanpa membaca surah ini pula maka tidak sah sholat seorang muslim bahkan tanpa membaca surah ini pula menurut perhitungan matematis Dr. Rasyad Khalifah[1] berarti seorang muslim sudah menghilangkan kata sandi senilai 608 buah, karena setiap huruf dalam Al-Fatihah memiliki nilai tersendiri.

Setiap manusia, siapapun itu didalam sejarah hidupnya pasti melalui surah Al-Fatihah, artinya kita-kita ini pasti pernah memulai dari awal, dari dasar. Apa awal dari manusia? nutfahkah? mungkin jawaban ini benar, tetapi nutfah adalah pembentuk awal kemanusiaan dan bukan awal dari manusia itu sendiri. Awal kehidupan manusia dimulai sejak ia dilahirkan ibunya kedunia ini. Detik pertama dia menghirup udara maka detik itupulalah sejarah manusia tersebut dimulai. Bahkan seorang Nabi Isa Al-Masih yang proses kejadiannya tampak begitu istimewa, tidak terkecuali untuk memulai hidupnya dari seorang bayi merah. Sama seperti yang lain. (lihat rujukan QS. . Ali Imran 3 ayat 59). Dari surah Al-Fatihah ini kita diajari banyak hal, bahwa semua ayat baik yang panjang maupun yang pendek didalam Al-Qur’an akhirnya akan kembali pada surah Al-Fatihah, karena dalam surah inilah semua pujian dan doa serta pentauhidan Tuhan terintegrasi menjadi satu. Begitupula manusia, dia hakekatnya adalah bayi, semua kedudukan sosial serta harta benda yang ia miliki akan kembali pada kekerdilan dirinya dimata sang Khaliq yang serba Maha.

Sosok manusia tidak ubahnya bagaikan bulatan kecil bumi ditengah samudra galaksi yang Maha Luas dan tak hingga. Kenapa manusia masih banyak yang berlaku sombong atas semua yang dia miliki ? Dilihat secara esensinya, manusia itu telanjang, tanpa pakaian, tanpa kedudukan, tanpa apa-apa. Begitulah kira-kira cara Tuhan memandang kita (lihat rujukan Surah Al-A’raaf 7 ayat 26). Jikapun kita berkuasa, apakah iya kita berkuasa atas nafas kita ? atas udara yang kita hisap ? apa iya kita berkuasa atas setan yang ada didiri kita ? – rasanya tidak. Bahkan satu contoh yang paling ringan bahwa kita tidak berkuasa untuk menahan rasa kebelet untuk buang air. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kita dustakan ? (lihat rujukan Surah an-Najm 53 ayat 55). Artinya, semua anggota tubuh kita ini bukanlah milik kita, apalagi harta dan kedudukan. Kita ini bayi, kita ini berkonsep Al-Fatihah, seharusnya kita menjadi ayat yang berfungsi sebagai pujian terhadap Allah, sebagai alat pengabdian, penyebar petunjuk bagi orang lain kepada jalan yang lurus sekaligus penolak pada nilai-nilai kebatilan, keterpurukan dan kesesatan.

Surah kedua pada mushaf adalah Al-Baqarah, yang secara harfiah berarti Sapi Betina. Seorang bayi yang baru lahir, dia memerlukan asupan susu, entah itu berupa ASI atau susu olahan yang disebut susu formula. Jika sebagai penyambung Al-Fatihah tertulis Al-Baqarah, ini tidak serta merta satu petunjuk bahwa seorang bayi harus minum susu sapi. Penyebutan sapi betina merujuk pada satu kebutuhan yang ada pada seorang bayi, dia perlu kehangatan, dia perlu nutrisi awal, nutrisi satu-satunya yang bisa ia cerna, karena tidak mungkin dia bisa mengkonsumsi produk Coca-Cola atau Fanta atau Mizone. Dia perlu susu, perlu hal yang putih, bersih dan sehat. Inilah gambaran kita, membutuhkan nilai-nilai yang lurus, yang bisa memenuhi gizi kejiwaan sebagai satu-satunya sumber asupan yang bisa kita terima agar bisa tumbuh menjadi kepribadian yang dewasa dan tangguh. Kita perlu nilai-nilai yang sehat dan benar untuk sampai pada satu pemahaman tertentu, hati dan niat ini harus bersih dan akal kita harus bisa berpikir realistis obyektif. Inilah makna ayat Al-Qur’an : hendaklah engkau berlaku adil, jangan karena kebencianmu pada sesuatu hal membuatmu gelap mata, membuatmu menjadi subyektif. (Lihat rujukan Surah Al-Maidah 5 ayat 8).

Surah Al-Baqarah merupakan satu-satunya surah terpanjang didalam mushaf Al-Qur’an. Hal ini merefleksikan bahwa manusia itu akan terus memerlukan nilai-nilai yang bersih dan sehat tadi sepanjang masa, tidak ada batasan, karenanya Nabi bersabda : menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim sampai ia mendatangi kuburnya sendiri. Selanjutnya surah Al-Baqarah disambung dengan surah Ali Imran dan surah An-Nisaa’, masing-masing mewakili kedua orang tua kita, yang satu laki-laki dan yang lainnya wanita. Bahwa didalam hidup, kita tidak hanya membutuhkan nilai tetapi juga memerlukan bantuan lingkungan disekitar kita, butuh keberadaan sosok bapak dan ibu yang membuat kita menjadi aman, tentram dan damai. Secara lebih luas, kita perlu melakukan interaksi dengan semua komponen masyarakat (pria dan wanita pada surah Ali Imron dan surah An-Nisaa’ menggambarkan adanya keragaman).


Kita tidak bisa hidup sendiri, kita adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi antar sesama kita (lihat rujukan Surah Al-Hujuraat 49 ayat 13). Orang yang hanya mau bergaul dengan sekelompok kaum tertentu saja, bertaklid pada satu jemaah tertentu dan meninggalkan kaum atau jemaah yang lainnya sama seperti seorang anak yang hanya memerlukan ibunya saja atau bapaknya saja, dan jelas ini satu kepincangan. Bersikaplah yang wajar, bergaullah dengan semua komponen masyarakat tanpa membedakan apakah mereka sama jemaahnya dengan kita, sama jalan pemikirannya dengan kita atau sebaliknya. Apalagi jika ini menyangkut hubungan sesama muslim, malah Al-Qur’an berkata, satukan hubungan yang retak antar sesama saudaramu seiman, jauhi prasangka yang jahat kepadanya (lihat rujukan Surah Al-Hujuraarat 49 ayat 12). Surah kelima adalah surah Al-Maaidah yang berarti hidangan. Kata Hidangan disini adalah suatu sajian makanan.

Seorang bayi dia memerlukan asupan susu dan belaian kasih sayang kedua orang tuanya, seorang manusia perlu belajar nilai-nilai kebenaran yang obyektif dan melakukan silaturahhim terhadap sesamanya, dan dia perlu berbagi. Saat sudah menjelang dewasa usia, kita tidak lagi menjadi bayi, kebutuhan gizi kita sudah lebih besar dari susu putih didalam botol. Kita menuntut menu lain, kita mulai belajar memakan makanan yang lebih keras, lebih kejal dan lebih berasa. Semakin kita banyak belajar dan berinteraksi maka kepribadian kita seharusnya semakin meningkat, semakin menuntut lebih banyak dari sebelumnya, semakin kita belajar semakin kita merasa ilmu ini teramat sedikit, semua kekayaan pemikiran, khasanah pengetahuan harus bertambah demikian juga dengan ketakwaan maupun kesederhanaan jiwa. Inilah inti dari sabda Nabi : Sesungguhnya siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung, tetapi orang yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya maka dia termasuk orang yang merugi (lihat rujukan Surah Al-Ashar 103 ayat 1 s/d 3).

Telah ratusan buku yang ditulis oleh para ulama Islam menyangkut peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad. Mulai dari yang menyorotinya secara metafisika, logika ilmiah sampai kepada yang mencukupkannya pada kajian tekstual belaka dan tidak mencapai substansi atau analisanya lebih jauh. Meski demikian, dari semua karya tulis umat Islam itu pada umumnya bisa dibagi atas dua kategori pemahaman, yaitu yang memahami peristiwa Israk dan Mikraj terjadi dengan tubuh kasarnya dan yang lain berpendapat peristiwa itu hanya terjadi dialam ruh. Dari dua pemahaman ini bermunculanlah cabang-cabang penafsiran yang terwujud sampai kepada masa kita sekarang ini.

Tulisan saya ini akan mencoba menyoroti secara kritis hadis-hadis shahih yang menceritakan kisah Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW tersebut dari sisi tekstual matnnya dengan mengambil hasil pentahqiqan atau penelaahan serta hasil takhrij Syaikh Nashiruddin Al-Albani disertai sebuah usaha rekonstruksi sejarah Israk dan Mikraj itu sendiri dengan dasar-dasar argumentasi yang berbeda dengan apa yang mungkin pernah anda temui dalam buku-buku sejenis lainnya.

Akan diposting secara berkala sesuai waktu dan kesempatan yang ada …



[1] http://www.submission.org/salat19.html


One Response

  1. […] 30. Rasionalitas Israk dan Mikraj Rasul (Bag. 1) […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: