Kontroversi Hisab dan Rukyat [3] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat [3] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Antara Keputusan Pemerintah dengan Ijtihad
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”
Jejak Nabi “Palsu” dan “Ramalan Imam Mahdi”

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

Tulisan ini merupakan lanjutan dari 2 tulisan sebelumnya “Kontroversi Hisab dan Rukyat : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?” (link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/28/kontroversi-hisab-dan-rukyat-1-kapan-ramadhan-dan-lebaran-2008/ atau http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=93_0_1_0_M dan https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/28/kontroversi-hisab-dan-rukyat-kapan-ramadhan-dan-lebaran-2008/ atau http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=90_0_1_0_M )

Bagi yang belum membaca kedua tulisan sebelumnya, disarankan untuk membacanya terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini.

Dalam beberapa dekade belakangan ini, dimana terjadi silang pendapat antara pemerintah selaku pihak yang berkuasa disuatu negara (dalam hal ini khususnya dinegara kesatuan Republik Indonesia) dengan sejumlah organisasi massa serta partai Islam maupun individu-individu tertentu mengenai penentuan berbulan baru yang mencakup hari pertama Ramadhan, hari pertama Idul Fitri serta hari pertama Idul Adha telah menumbuhkan cukup banyak kebingungan ditengah masyarakat berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pejabat yang berwenang tentu saja menginginkan seluruh masyarakat yang ada dibawah otoritasnya agar mengikuti ketetapan mereka menyangkut hal-hal tersebut. Sementara kelompok yang berseberangan dengan pemerintahpun merasa bahwa mereka sebagai warga negara yang hak-haknya harus dilindungi, memiliki hak untuk menentukan sikapnya sendiri.

Sebagian ulama lokal maupun yang berasal dari Timur Tengah mencoba mengajukan dalil-dalil yang dalam pandangan mereka rojih serta shahih agar umat Islam secara keseluruhan menyepakati apa-apa yang menjadi ketetapan maupun keputusan pemerintah dimana mereka berdomisili. Salah satu diantara mereka adalah Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz yang bahkan berpendapat sekalipun pemerintah dimana umat Islam tersebut berada, menetapkan berpuasa sampai 31 hari lamanya[1]. Sejumlah dasar yang diajukan mereka diantaranya :

Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Seseorang (hendaknya) berpuasa bersama penguasa dan jamaah umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)

“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti caraku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan
namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Saw bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan mentaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah dan taatilah.” (HR. Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman).

“Puasa itu pada hari (ketika) kalian semua berpuasa, Idul fitri pada hari ketika kalian semua ber Idul Fitri dan Idul Adha ketika kalian semua beridul Adha” (HR. Tirmidzi)[2]

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang
tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan meninggalkan ketaatan.” (HR. Muslim dari `Auf bin Malik)

Ibnu Umar berkata: Dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. (QS. An-Nisa (4) :59)

Dalam hal ini, penulis memiliki pendapat yang agak berbeda yang juga memiliki dasar pemikiran dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahwa perbedaan yang dimaksudkan oleh Rasul pada hadis-hadis beliau tersebut dalam perspektif penulis bukanlah perbedaan yang menyangkut hukum-hukum keagamaan yang sudah jelas dasar serta patokannya. Tidak ada siapapun yang berhak untuk mengubah kaidah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam urusan keagamaan. Sementara kita tahu masalah berlebaran atau beridul Adha memiliki persinggungan dengan nash-nash hukum yang sudah jelas.

Sabda Nabi Muhammad Saw :

Dari Anas, bahwa Nabi Saw melarang puasa lima hari dalam setahun, yaitu : hari raya fithri, hari raya adha dan tiga hari tasryiq. (HR. Daraquthni)

Dari Abu said dari Rasulullah Saw, bahwa ia melarang puasa dua hari, yaitu pada hari raya fithri dan hari raya adha. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dalam satu lafal bagi Ahmad dan Bukhari dikatakan : Tidak boleh puasa pada dua hari. Sementara bagi Imam Muslim dikatakan : Tidak sah puasa pada dua hari.[3]

Dari hadis-hadis diatas maka bisa kita pahami bahwa bila sudah masuk hari idul fithri maupun adha kita sudah dilarang untuk melakukan ibadah puasa, artinya kita harus segera menyegerakan diri untuk berlebaran. Manakala misalnya kita mengikuti suatu ketetapan yang mengharuskan berlebaran esok hari padahal kita sudah tahu hari ini harusnya kita sudah berhari raya maka kita telah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Firman Allah :

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. AL-Ahzaab (33) :36)

Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan engkau berpaling darinya padahal kamu mengetahuinya. (QS AL-Anfaal (8) : 20)

Maka apabila aku perintahkan kamu dengan sesuatu, hendaklah kamu mengerjakan darinya sesanggup kamu. Dan apabila aku mencegah kamu dari sesuatu maka kamu jauhilah dia. (HR. Muslim dan Nasa’I dari Abu Hurairah)

Tentu kita maklum bahwa waktu berhari raya atau berpuasa hanyalah akibat dari suatu sebab yang ada sebelumnya. Adapun penyebab perbedaan yang terjadi sehingga menimbulkan kecenderungan untuk terjadinya pelanggaran atas nash-nash yang terkait seputar hari raya akan kembali lagi pada metode penentuan berbulan baru.

Dia-lah yang menjadikan matahari terang dan bulan bercahaya dan Dia menentukan manzilahnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. (QS Yuunus (10) : 5)

Sekarang kita akan coba mempersempit masalah dengan mengabaikan perdebatan tentang hisab dan rukyat (bil fi’li) dan kita membahas tentang adanya kesaksian sejumlah orang yang melakukan pengamatan terhadap hilal secara langsung pada tempat-tempat tertentu. Pada praktek dilapangan, seringkali kesaksian-kesaksian individu tersebut ditolak oleh pihak yang berkuasa hanya karena dalam kalendar yang berlaku dan sudah terlanjur beredar dimasyarakat tertulis hari raya baru jatuh pada hari lusa dan bukan esok hari. Kita tidak akan membahas mengenai pengaruh adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap kondisi politik serta perekonomian negara, karena memang ketetapan agama harusnya dinomor satukan dari semua kepentingan yang ada.

Kitab hadis “Nailul Authar” yang berisi kumpulan hadis-hadis hukum dari Nabi Saw hasil jerih payah Asy-Syaukani dari kitab Al-muntaqa Ibnu Taimiyah memuat secara khusus masalah kesaksian atas hilal ini[4]. Kita bisa melakukan introspeksi diri kita sendiri dari hadis-hadis tersebut, apakah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sudah melanggar ataukah memang sudah benar dalam mengikuti ketetapan Nabi Muhammad Saw mengenai hal ini. Dari sini kita bisa pula mengoreksi tentang sikap kita yang mengaminkan atau juga melakukan pembangkangan pada keputusan pemerintah (serta ulama-ulama yang menyarankan untuk mengikutinya).

Dari Umar, ia berkata : Orang-orang pada melihat bulan, lalu aku memberitahu Rasulullah Saw bahwa akupun melihatnya. Lalu ia berpuasa dan menyuruh orang-orang supaya berpuasa. (HR. Abu Daud dan Daraquthni. Tetapi Daraquthni berkata : Marwan bin Muhammad menyendiri dengan hadis ini dari Abu Wahab, sedang dia adalah kepercayaan).

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata : Ada seorang Badui datang ketempat Nabi Saw, lalu ia mengatakan : Sungguh aku melihat bulan. Kemudian Nabi bertanya : “Apakah engkau percaya bahwa Tiada Tuhan selain Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau juga percaya, bahwa sesungguhnya Muhammad utusan Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi menyuruh Bilal : “Hai Bilal, beritahukanlah kepada manusia, supaya mereka besok berpuasa”. (HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad).

Dan Abu Daud meriwayatkan juga dari hadis Hammad bin Salamah dari Simaak dari Ikrimah secara mursal (tanpa menyebut nama sahabat), semakna dengan itu, dan ia berkata : Lalu Nabi menyuruh Bilal, kemudian Bilal menyeru pada manusia : “Hendaklah mereka sholat tarawih dan berpuasa”

Dari Rib’I bin Hirasy, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi, ia berkata : Orang-orang berselisih tentang akhir Ramadhan, lalu datanglah dua orang Badui kemudian mereka bersumpah dihadapan Nabi Saw bahwa bulan Syawal telah nampak kemarin sore, lalu Rasulullah Saw menyuruh orang-orang agar berhari raya fithri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dari Abdurrahman bin Zaid bin Khattab, sesungguhnya dia berkhutbah pada hari yang ia ragu-ragu padanya sebagai berikut : Ketahuilah, bahwa aku adalah berkawan dengan sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan pernah bertanya kepada mereka, lalu merekapun menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda sebagai berikut : “Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berhari rayalah kalian karena melihat bulan, dan beribadahlah kalian karena melihat bulan. Kemudian jika bulan itu terdinding awan maka genapkanlah tiga puluh hari. Tetapi jika ada dua saksi muslim yang melihatnya maka berpuasalah kalian dan berhari rayalah”. (HR. Ahmad dan Nasa’i, tetapi Nasa’I tidak menyebutkan kata-kata “muslim” pada teks “dua saksi”).

Dari Amir Mekkah, Al-Harits bin Hathib, ia berkata : Rasulullah Saw memerintahkan kita supaya beribadah karena melihat bulan. Tetapi jika kita tidak melihatnya sedang ada dua orang saksi adil yang menyaksikan bulan tersebut, maka kita pun beribadah lantaran kesaksian dua saksi tersebut. (HR. Abu Daud dan Daraquthni, Daraquthni berkata sanadnya bersambung dan shahih).

Syarah dari kitab Nailul Authar menjelaskan bahwa dua hadis yang menyebutkan “manusia melihat bulan” menunjukkan kesaksian seseorang atas datangnya hilal Ramadhan bisa diterima. Inilah pendapatnya Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal serta Imam Syafe’I dalam salah satu dari dua pendapatnya. Imam Nawawi sendiri berkata : “Itulah pendapat yang lebih benar.” Akan halnya pendapat dari Imam Malik serta sejumlah Imam sunan lainnya bahwa kesaksian seseorang tidak dapat diterima kecuali dua orang adalah mengandung pengertian tidak diterimanya seorang saksi karena semata-mata paham dari apa yang tersirat, sedang yang tersurat dalam hadis tersebut adalah diterimanya seorang saksi.

Sekali lagi bila kita mengabaikan perselisihan tentang jumlah satu atau dua orang saksi yang melihat hilal dimalam dua puluh sembilan, maka adanya kesaksian untuk itu secara nash keagamaan sudah memenuhi syarat untuk menentukan awal bulan yang baru. Bila kemudian pemerintah mengabaikan kesaksian tersebut dan bersikukuh dengan pendapatnya bahwa umat baru boleh berhari raya pada lusa harinya, berarti pemerintah sudah berseberangan dengan nash-nash hukum keagamaan. Sebagai seorang muslim, maka kita juga sudah memiliki tuntunan dari Rasul yang sebelumnya dijadikan hujjah dari kelompok pertama, “Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)

Maksiat yang kita coba kaitkan disini adalah mengajak kepada jalan selain jalan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk yang dapat dibenarkan jika hal itu berupa perbuatan maksiat terhadap al-Khaliq”[5]. Persatuan umat bukan menjadi alasan untuk mengabaikan nash-nash agama yang telah pasti kecuali bila memang untuk melakukannya dibatasi oleh situasi dan kondisi (misalnya seperti dalam masa Orde Baru). Adapun makna dari Ulil Amri pada surah an-Nisa ayat 59, memang oleh mayoritas ulama dinyatakan sebagai pemerintah yang berkuasa. Ahli Mufassir terkemuka bernama Imam Fakhruddin Razi yang menulis kitab “Mafatihul Gaib” (w. 1228 M) mengartikan Ulil Amri sebagai Ahli Ijmak (orang-orang yang kesepakatannya menjadi hukum yang harus ditaati). Imam Naisaburi serta Muhammad Abduh memahaminya sebagai Ahli Halli wal’aqdi (orang-orang yang mempunyai hak kekuasaan untuk membuka dan mengikat yang setiap keputusannya mengikat seluruh negara dan wajib ditaati oleh seluruh umat)[6].

Apapun defenisi yang diberikan untuk istilah Ulil Amri tersebut, penulis disini ingin menekankan bila cara kerja Ulil Amri yang terdapat dalam surah An-Nisa ayat 59 harusnya juga mengacu pada lanjutan ayat tersebut, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya”. Sabda Nabi Saw pula, “Hendaklah kamu mengikuti dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dimasa setelah aku”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jadi kita tetap punya parameter yang tegas bahwa kepatuhan pada penguasa adalah selama mereka juga mengembalikan pengaturan hak rakyatnya yang muslim kepada tuntunan Allah dan Rasul. Al-Qur’an disisi lain memberikan petunjuk bila jumlah orang tidaklah menentukan nilai kebenaran yang mereka serukan (suara mayoritas tidak selalu berarti suara kebenaran) :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’am (6) :116)

Adapun makna Al-Jama’ah dimana menurut Imam Ahmad bin Hanbal dengan perkataannya “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah“, secara lughat berarti kumpulan, himpunan atau persatuan. Salah seorang sahabat Nabi bernama Ibnu Mas’ud diriwayatkan pernah berkata kepada Amr bin Maimun : “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”. Dikesempatan lain, beliau juga berkata, “Jama’ah itu adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan pada Allah Azza Wajalla”[7]. Imam Alipun diriwayatkan berkata, “Jama’ah itu, demi Allah, adalah kumpulan orang-orang ahli kebenaran walaupun mereka itu sedikit”[8].

Jadi al-Jama’ah itu bisa dimaknai sebagai kebersatuan dengan nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini adalah kumpulan satu atau lebih orang yang taat pada Allah. Sesuai firman Allah :

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkanmu pada satu hal, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri”. (QS. Saba (34) :46)

Nabi Muhammad Saw disinyalir telah bersabda dalam satu hadis dengan status dhaif (lemah), “Sesungguhnya umatku tidak berkumpul diatas kesesatan. Maka dari itu bila kamu melihat perselisihan maka hendaklah kamu Sawadul-A’zham”. (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik, kedhaifan hadis ini disebabkan salah satu perawinya bernama Hazim bin ‘Atha yang dianggap lemah oleh sebagian ahli hadis, sebagaimana kata Imam Al-Iraqy). Istilah Sawadul-A’zham pada hadis diatas sering dinisbatkan pada al-Jama’ah, sebagaimana ini dilakukan oleh ahli hadis dan fiqih terkenal bernama Imam Sofyan ats-Tsauri (w. 161 H) serta Imam Ishaq bin Rahawaih. Penafsiran tersebut tidak menyalahi lahiriah hadis tersebut yang intinya adalah untuk selalu memegang pihak yang benar, walaupun jumlahnya sedikit.

Secara psikologis manusia dengan naluriahnya akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk memudahkan pemahaman. Dalam setiap komposisi bentuk, kita cenderung mengurangi subyek utama dalam daerah pandangan kita ke bentuk-bentuk yang paling sederhana dan teratur. Semakin sederhana dan teraturnya suatu wujud, semakin mudah untuk diterima dan dimengerti. Penggunaan ilmu-ilmu hisab secara total dalam penentuan awal dan akhir suatu bulan pada sistem penanggalan Hijriyah terbukti merupakan metode paling akurat berkaitan dengan keteraturan dan kemudahan hasilnya. Sejumlah kekacauan yang bisa timbul dari ketidak akuratan teknik rukyat bil fi’li misalnya menyangkut ketidakjelasan penyusunan agenda atau jadwal kerja. Dimana bila kita hari ini tanggal 25 dan kita mau menentukan 8 hari kedepannya tanggal berapa persisnya haruslah menunggu sampai bulan yang sedang dijalani berakhir baru bisa menentukan tanggal berapa 8 hari dari sekarang itu. Masyarakat modern sekarang ini telah menuntut penjadwalan yang tepat dan rinci berkaitan dengan sidang-sidang maupun rapat-rapat yang akan dihadirinya berkaitan dalam aktivitasnya sehari-hari. Semua membutuhkan akurasi penyusunan agenda yang bisa diprediksi dan dikalkulasikan secara baik sehingga kerjasama dengan client dapat tercapai, kekecewaan akibat melesetnya perkiraan waktu dapat diminimalisir, perpecahan ditengah umat menyangkut kapan berpuasa dan harus berlebaran bisa dhindari serta hal-hal positip lainnya. Semua itu susah dilakukan dengan konsepsi rukyat bil fi’li.

Penulis tidak menyarankan penggabungan rukyat bil fi’li dengan rukyat bil ‘ilmi, karena sekali lagi kita sampaikan metode ini hanya akan menghasilkan kerancuan dan perpecahan. Kita sebaiknya beralih secara total pada rukyat bil’ilmi. Memang ada berbagai macam cara di berbagai negara dewasa ini untuk menentukan bulan baru melalui metode hisab atau rukyat bil ‘ilmu. Mulai dari penghitungan umur, ketinggian, atau perbedaan matahari terbenam dan bulan terbenam, hasil kalkulasi, dan seterusnya[9]. Akan tetapi semua perbedaan yang ada tersebut pada dasarnya bisa diselesaikan dengan mengembalikan konsep awal dari ijtimak atau konjungsi bulan itu sendiri dan bukan berdasar kriteria insaniah kita yang serba terbatas. Artinya perbedaan ini harusnya tunduk pada kaidah ilmu-ilmu Astronomi sebab anatara ia dan Islam harusnya memang tidak ada pemisahan. Islam sekali lagi bukan penghambat ilmu pengetahuan (termasuk Astronomi) dan Islam bukan pula bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga tidak lagi jadi persoalan apakah usia hilal baru beberapa menit, ketinggian bulan yang harus mencapai dua derajat kapan terjadinya konjungsi dan seterusnya. Bagaimanapun, ketika terjadi pergeseran antara kedudukan matahari dan bulan sehingga terbentuk hilal (sabit) tidak mungkin bisa mundur kembali yang membuat kita harus menunggu sekian jam demi memastikannya. Apabila bulan sudah masuk pada Ijtimak atau konjungsi pada nol derajat maka artinya setelah hal tersebut terjadi merupakan awal dari Bulan baru, itulah fakta kebenarannya. Pada fase sesudah konjungsi sudah pasti hilal atau sabit bulan terbentuk dan sabit bulan tersebut tidak harus dapat dilihat dengan mata telanjang, karena kemampuan mata pastilah sangat terbatas. Kita bisa melihat sabit bulan tersebut melalui ilmu pengetahuan, melalui proses hisab komputer, melalui proses pencitraan satelit dan sejenisnya. Ketinggian minimal untuk bisa melihat hilal dengan mata telanjang (tanpa alat bantu) adalah 4 derajat diatas ufuk (dengan catatan bila beda azimut bulan dan matahari saat itu sudah lebih dari 45 derajat tapi bila beda azimutnya 0 derajat maka perlu ketinggian minimal 10,5 derajat). Disinilah kita memulai memainkan rasionalitas terhadap paradigma berpikir kita yang selama ini cenderung kaku dan membatu.

Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini. Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam. Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur’an, ayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia. Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi’aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20) atau kemudian dalam kisah Dzulkarnain pada Surah Al-Kahfi ayat 86 dinyatakan matahari terbenam diair yang hitam).

 



[1] Sering Terjadi Perselisihan Awal Ramadhan, Hari Raya Iedul Fithri Dan Iedul
Adha, Bagaimana Cara Menyatukan Hari Raya Kaum Muslimin ?, Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta, sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1652/slash/0

[2] Setelah membawakan hadits di atas, Imam Tirmidzi berkata : “Sebagian ulama mentafsirkan hadits ini dengan mengatakan, makna hadis ini bahwasanya puasa dan Idul Fitri dilaksanakan bersama al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam”.

[3] Hadis-hadis ini dikutip dari buku : Terjemahan Nailul Authar : Himpunan hadits-hadits hukum, Jilid 3, Penerbit PT. Bina Ilmu, Terj. Mu’ammal Hamidy, Drs. Imron AM, Umar Fanany B.A, Bab : Larangan Puasa pada dua hari raya dan hari-hari Tasryiq hal. 1336-1337

[4] Disini Penulis menggunakan Terjemahan Nailul Authar : Himpunan Hadits-Hadits Hukum, Penerbit PT. Bina Ilmu

[5] Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al-Baqir, Penerbit Mizan, 1999, Hal. 130

[6] Z.A. Ahmad, Konsepsi Tatanegara Islam, Penerbit Pustaka Ilmu, 1949, hal. 51-52

[7] H. Moenawar Chalil, Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerbit Bulan Bintang, 1969 hal. 395

[8] Idem hal. 396

[9] http://www.moonsighting.com/methods.html


Advertisements

One Response

  1. […] sekalipun pemerintah dimana umat Islam tersebut berada, menetapkan berpuasa sampai 31 hari lamanya[1]. Sejumlah dasar yang diajukan mereka diantaranya […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: