Menentang Penguasa

Menentang Penguasa

Oleh : Armansyah

Ada banyak hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw tentang terlarangnya menentang penguasa sekalipun orang-orang yang menjadi penguasa ini menzalimi hak-hak makmumnya atau istilah lainnya adalah rakyatnya.

Benarkah demikian ?

Ada banyak hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw tentang terlarangnya menentang penguasa sekalipun orang-orang yang menjadi penguasa ini menzalimi hak-hak makmumnya atau istilah lainnya adalah rakyatnya.

Benarkah demikian ?

Saya sepakat kita memang ditekankan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengedepankan adab yang baik dan positip. Tidak boleh berprasangka buruk kepada orang lain. Tidak boleh mengintai-intai untuk mencari kesalahan pihak lain.

Tetapi saat kezaliman itu merata terjadi dan berimbas pada orang lain diluar sipelaku, maka Rasulullah juga memberikan tuntunan kepada kita untuk menyikapi semua itu. Bila kita melihat suatu kezaliman/kejahatan maka kita diwajibkan untuk melakukan perubahan dengan tangan, dengan mulut dan dengan hati. Jadi action tetap harus ada. Dan action tertinggi adalah dengan perbuatan. Lebih khusus lagi maksudnya adalah bertindak nyata (bukan sekedar teori atau sidang sana sidang sini, musyawarah sana musyawarah sini).

Bagi orang kecil, perbuatan yang bisa mereka lakukan dan berani mereka tempuh hanyalah berdemonstrasi. Mereka bukan wakil rakyat yang duduk diparlemen dan bisa melakukan banyak aksi melalui meja perundingan atau pengguliran mosi tidak percaya serta berbagai hal “terhormat” lainnya. Mereka bertabrakan dengan pemenuhan hidup sehari-hari yang harus mereka perjuangkan. Tidak seperti para anggota dewan atau pejabat pemerintah yang serba punya fasilitas dan tidak pusing dengan dampak kenaikan BBM terhadap perekonomian global.

Saya memang menyayangkan sikap-sikap anarkis para demonstran, termasuk mahasiswa kita yang terkesan sangat kurang santun dan beradab. Mereka malah menciptakan ketakutan-ketakutan baru dimasyarakat melalui aksi-aksinya itu.

Dahulu Imam Ali pernah mendiamkan aksi kelompok muawiyah yang tidak puas dengan sikapnya terhadap pembunuhan Usman. Tapi ketika Muawiyah sudah dianggap keterlaluan dan memberi efek yang tidak baik dimasyarakat, Ali kemudian mencoba melakukan pendekatan persuasif. Setelah beberapa kali dicoba gagal, dia lalu mengangkat senjata untuk memerangi fitnah muawiyah tersebut. Begitupula terhadap kelompok Khawarij dan kelompok Aisyah. Ini juga yang pernah dilakukan oleh Husain terhadap pemerintahan yazid sehingga cucu Nabi tercinta itu harus wafat dengan kepala terpenggal sebagai konsekwensinya.

Inilah menurut saya yang harusnya kita ketahui dari hadis Rasul berikut :

Dari Ibnu Umar ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda :

Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada ketaatan untuk pemerintah dalam perbuatan Maksiat, sekarang maksiat itu apa saja ? apakah hanya sebatas menyembah patung ? durhaka kepada kedua orang tua kandung ? berzinah ? membunuh saja kah ? Apakah sikap mengamini bila pemerintah mengambil kebijakan yang menyensarakan kehidupan masyarakat banyak tidak bisa dikelompokkan sebagai perbuatan menyetujui kemaksiatan ?

Maksiat adalah perbuatan melanggar perintah Allah dan melakukan apa yg dilarang-Nya. Hasil dari perbuatan maksiat tsb bisa menimbulkan suatu kezhaliman, baik kezhaliman bagi diri sendiri maupun kezhaliman bagi orang lain. Jika aku simpulkan, maksiat itu adalah salah satu perbuatan zhalim seperti halnya kufur, fasik, musyrik, mungkar, dll. Dengan kata lain apabila pemerintah sudah berlaku zhalim, maka sangat mungkin dia sudah melakukan semua perbuatan2 tersebut diatas termasuk maksiat.

Kita tetap punya hak untuk mempertanyakan semua yang kita beri pada pemerintah dari seluruh pajak serta abondemen lainnya. Sebab itu adalah uang kita juga. Kita ikut punya andil memberikan sumbangan kepada negara dari hasil upah kita, dari rumah yang kita diami, dari kendaraan yang kita kendarai, dari telpon yang kita gunakan dan seterusnya.

Pemerintah harus punya penyeimbang, harus punya oposisi dan alat kontrol independens yang melakukan kritik terhadap kebijakan yang mereka keluarkan. Masalah suara kita yang lemah ini didengarkan atau tidak, that’s not big problem I think. Kita hanya perlu untuk memberi mereka kejutan-kejutan jiwa. At least, Allah tidak tuli maupun buta. Setiap rintihan orang yang tertindas pasti akan didengar-Nya.

Bertutur kata yang santun lebih lagi saya sepakat.

Tapi ada orang-orang, kaum-kaum, pejabat-pejabat yang tidak bisa dinasehati secara baik-baik. Semakin baik cara kita, semakin out of control dan semena-mena tindakan mereka. Tentu ini bukan satu-satunya cara yang ditawarkan oleh Islam untuk membuat sebuah perubahan dalam satu tatanan masyarakat.

Mari kita lihat dan ambil pembelajarannya dari firman Allah berikut :

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka. (QS. Al-Ankabut [29] :46)

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Qs. Al-Baqarah [2] :193)

Untuk berubah, kita perlu action atau tindakan nyata.
Itulah yang dimaksud oleh Nabi dengan kalimat yang kurang lebih : “Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya.”

Islam tidak memperbolehkan kita untuk berdiam diri saat dizalimi, ada banyak solusi yang menjadi pilihan buat kita dalam menyikapi keadaan yang stagmatis seperti itu. Keadaan suatu kaum tidak akan berubah bila kaum itu sendiri yang tidak merubahnya. Demikian isi dari salah satu ayat dalam al-Qur’an.

Jadi sekecil apapun action kita, didengar atau tidak oleh pemerintah, yang jelas kita sudah mengoptimalisasikan upaya yang bisa kita lakukan. Sesuai perintah al-Qur’an. Paling tidak dimata Allah, kita bukan orang yang hanya berpangku tangan menghadapi kondisi yang sangat pahit tersebut. Kita adalah bagian dari perubahan.

Saya tidak berprasangka buruk, tapi ini semua adalah kenyataan yang harus diungkap kehadapan publik untuk bisa menjadi nasehat kedepannya agar tidak lagi terulang. Apabila masih terulang, ya itu sudah bukan salah kita lagi tentunya. Setiap orang punya pilihan dan konsekwensi masing-masing atas pilihannya itu. Kita harus bisa membedakan antara prasangka dengan bukti nyata.

Jika sebuah perbuatan buruk tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada si individu pelakunya semata, dalam artian ia telah mempengaruhi publik, misalnya seperti dalam bentuk institusi, negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu, maka keburukan seperti ini justru menurut hemat saya sangatlah wajib dibongkar dan diungkapkan kepada orang banyak agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut.

Asas praduga tidak bersalah adalah asas berprasangka baik pada orang lain. Tapi meski begitu, asas ini tidak menutup kemungkinan untuk dibuktikan kebenarannya. Sebab bila tidak seperti itu, maka pelaku kejahatan yang berkerah putih akan terus ongkang-ongkang kaki dinegeri ini. Mereka akan selalu menebar kezaliman demi kezaliman atas dasar prasangka tidak bersalah tersebut. Inilah makanya kita harus bisa menempatkan kapan asas praduga tidak bersalah ini dilakukan. Apa bedanya dengan membuka aib orang lain, apa bedanya dengan membuktikan kesalahan orang lain yang berakibat meluas pada satu kaum.

One Response

  1. […] 64. Hukum melawan penguasa/ ulil amri […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: