Kontroversi Hisab dan Rukyat [2]: Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat

Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?
Bagian 2

Oleh : Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.com

https://arsiparmansyah.wordpress.com

Penulis buku :

Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih

Jejak Nabi “Palsu”

Ramalan Imam Mahdi

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

C. Defenisi Hisab

Secara bahasa, istilah Hisab berasal dari bahasa Arab “hasaba” yang memiliki arti menghitung, memperkirakan atau juga membilang. Istilah hisab tersebut erat kaitannya dengan teknis kerja secara teoritis dan praktis yang ditunjang oleh adanya pembuktian tertentu sehingga mendapatkan hasil akhir yang tepat. Dalam konteks perbincangan hisab kedalam ilmu Astronomi atau perbintangan modern[1] maka proses kerja hisab dimasa kita sekarang ini sering dan tidak dapat dihindarkan untuk berkorelasi dengan teknologi canggih, seperti keterlibatan satelit ruang angkasa dengan berbagai pencitraannya maupun visualisasi dalam bentuk aplikasi komputer yang sudah diprogram sedemikian rupa berdasar kondisi dan pengamatan langsung oleh satelit tadi.

Dimasa lalu, hisab bisa jadi hanya berkisar hitung-hitungan diatas kertas semata sebab memang sarana untuk menjangkau penentuan posisi bulan, matahari dan benda langit lainnya dengan tingkat ketelitian atau akurasi hasil perhitungan yang dihasilkan belum memadai. Kemajuan peradaban dimasa hidup kita sekarang seyogyanya sudah mengantarkan pada satu kaidah mutlak, dimana apa-apa yang bisa dimanfaatkan guna mencapai tujuan pewahyuan al-Qur’an ditengah masyarakat menyangkut kemaslahatan tidak dapat lagi ditolak dengan dasar argumentasi klasik bila perbuatan itu belum pernah dilakukan oleh Nabi Saw. Proses hisab cenderung tidak akan terhalang oleh adanya perubahan cuaca yang fluktuatif yang dapat membatasi pandangan mata saat pengamatan. Fakta dilapangan menunjukkan bila metode hisab ini digunakan banyak orang dalam kegiatan sehari-harinya sehubungan penentuan waktu shalat maupun waktu sahur dan berbuka puasa.

Kelompok ini umumnya menolak penggunaan rukyat dan hanya mendasarkan diri pada teknis hisab semata-mata. Mereka umumnya mendasarkan diri pada kata-kata “syahida” yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 185.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (haq dan batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu (faman syahida minkumu (al)sysyahra), dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah (2) :185)

Mereka berpendapat bahwa kata “syahida” erat kaitannya dengan pembuktian secara luas dan tidak hanya terbatas seperti penggunaan istilah “yubshiru” yang berelevansikan pembuktian penglihatan secara fisik. Istilah syahida adalah pembuktian yang bisa terjadi secara fisik ke fisik (yaitu melalui pandangan mata lahiriah) dan bisa juga dengan perhitungan akal dan logika. Contoh sederhana seperti saat kita mengucapkan dua kalimat Syahadah (“Asyhadu”). Kita tidak melihat fisik Allah, dan kita juga tidak melihat fisik Rasulullah, tetapi istilah yang digunakan didalamnya adalah kata “syahida” bukan “bashiru” atau “yubshiru”.

Istilah bulan dalam dalam bahasa Arab disebut dengan asy-Syahr atau juga Qomar. Perbedaan keduanya seringkali didefenisikan oleh banyak orang dalam hal pengertiannya, dimana asy-Syahr dimaksudkan sebagai bulan dalam perhitungan kalendar sementara Qomar adalah bulan dalam bentuk fisik diangkasa. Secara etimologi, istilah Syahr memiliki bentuk lain yaitu “asy-harat” yang artinya adalah wanita hamil yang perutnya bundar (besar dan lebar). Penyerupaan ini cocok dengan keadaan atau perwujudan dari bulan yang sesungguhnya. Intinya adalah bahwa syahr memiliki sifat yang jelas dan umum. Dengan demikian, maka Qomar dan Syahr sama-sama merujuk pada benda yang sama akan tetapi penyifatan berbeda. Selain menggunakan istilah syahr, al-Qur’an juga memperkenalkan istilah Hilal. Yaitu merupakan penunjuk pada keadaan bulan yang baru lahir (sabit).

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis edarnya, sehingga (setelah dia sampai ketitik edar tertentu) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”. (QS Yaasin (36) :39)

Penentuan awal bulan (bulan baru) ditandai dengan terlihatnya wujud  bulan seperti sabit untuk pertama kali setelah proses konjungsi atau ijtimak. Ijtimak sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti berkumpul. Dalam hal ini yang dimaksud Ijtimak adalah peristiwa dimana Bumi, Bulan dan Matahari berada sejajar dalam garis meridian yang sama. Ijtimak terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu bulan sinodis. Setiap siklus 30 tahun pada sistem penanggalan Hijriyah, maka 11 tahun dijadikan tahun kabisat (dimana pada tahun kabisat ini bulan Dzulhijjah dijadikan 30 hari) sehingga jumlah hari dalam satu tahunnya berjumlah 355 hari. Sistem penanggalan ini juga memiliki 11 hari yang lebih cepat dari kalender Masehi, hal ini karena sistem tersebut menggunakan siklus sinodis bulan. Satu kali putaran sinodis dari bulan adalah 29.530588 hari atau tepatnya lagi adalah selama 29 hari 12 jam 44 menit 03 detik.

Pada saat terjadinya ijtimak, bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari bumi tidak mendapatkan sinar matahari. Dengan terbenamnya bulan sesaat sesudah terbenamnya matahari dalam penglihatan dibumi dikenallah istilah Bulan Baru. Sebagai konsekwensi maka keesokan harinya sudah harus dinyatakan sebagai awal tanggal pertama bulan Hijriyah berikutnya.

Berdasar kriteria inipula sejumlah organisasi massa Islam di Indonesia dan juga dunia menetapkan sistem penanggalan Hijriyah. Konsepsi ini dikenal pula dengan istilah Wujudul Hilal (ijtimak qoblal qurub). Melalui pembelajaran yang mendalam tentang perjalanan bulan ini maka  kita sebenarnya sudah dapat menyusun kalender Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Hal ini menjadi praktis tanpa harus melakukan proses rukyat atau melihat fisik bulan secara langsung dengan mata lahiriah manusia.

Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru’yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur’an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Tidak dapat dipungkiri bila dalam proses penghisaban hilal, ada banyak metode yang digunakan. Diantaranya, Hisab Urfi, Hisab Taqribi, Hisab Haqiqi, Hisab Haqiqi Tahqiqi dan Hisab Kontemporer. Perbedaan diantara semua metode hisab ini terletak pada akurasi hasil akhirnya akibat perbedaan penggunaan rumus-rumus perhitungan dalam hal ketinggian hilal dari batas ufuk. Metode hisab kontemporer atau disebut juga hisab modern sudah menggunakan alat bantu komputer melalui bahasa-bahasa pemrograman terkini yang diintegrasikan dengan algoritma terperinci berdasar keadaan yang sebenarnya yang diperoleh melalui hasil pencitraan satelit.

Beberapa contoh aplikasi komputer yang sudah dibuat untuk hal ini dengan tingkat ketelitian hasil yang tinggi dan cenderung akurat (High Accuracy Algorithm) adalah Virtual Moon Atlas, Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse, Almanac Nautica, Accurate Times, Mooncalc, Starrynight Pro, Winhisab, Mawaqit, Hallo Northern Sky, Lunar Calendar & Eclipse Finder,  Lunar Atlas, LunarPhase, dan seterusnya. Dari beberapa aplikasi tersebut diatas, maka penulis lebih merekomendasikan pemakaian aplikasi Virtual Moon Atlas buatan Christian Legrand dan Patrick Chevalley untuk proses hisab bulan. Aplikasi tersebut dapat didownload secara bebas dari situsnya di Internet (file masih dalam format ISO) dengan alamat http://www.astrosurf.com/avl, versi terakhir saat tulisan ini dibuat adalah 3.5 dengan besar kapasitas file 500 MB sebelum proses instalasi.

Sekaitan dengan ini, melalui bantuan aplikasi komputer Virtual Moon Atlas (http://www.astrosurf.com/avl) kita akan mencoba melihat simulasi kedudukan bulan pada Iedul Fitri 1429 H. Pada penanggalan kalendar yang berlaku resmi di Indonesia untuk tahun 2008, 1 Syawal 1429 H ditulis jatuh pada hari Rabu tanggal 01 Oktober 2008. Artinya proses konjungsi telah terjadi pada tanggal sebelumnya, yaitu 30 September 2008. Disini kita akan menampilkan visualisasi mulai tanggal 29 September 2008 pada pukul 18:00 kemudian visualisasi pada tanggal 29 September 2008 pukul 23:59 sampai dengan visualisasi pada tanggal 30 September 2008 pukul 07:00 pagi dan tanggal 30 September 2008 pukul 18:00 sore hari. Semua waktu dihitung berdasar zona Indonesia Barat (WIB) yang dapat diatur pada menu Configuration-General-Date/Time-Use computer Date and Time Zone.

Dari visualisasi simulasi yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas, tampak jelas bagi kita bahwa pada tanggal 29 September 2008 pukul 18:00 Wib telah terjadi proses ijtimak. Hal ini diperkuat dengan perhitungan kita pada pukul 23:59 Wib untuk tanggal yang sama visualisasi simulasi yang dihadirkan menunjukkan posisi bulan sudah memasuki bulan baru. Pada tanggal 30 September 2008 pukul 07:00 pagi Wib, posisi bulan baru sudah terlihat dengan jelas dan posisi azimut (ketinggiannya) sendiri telah mencapai angka 4 derajat. Dengan demikian maka pada tanggal 30 September 2008, seharusnya umat Islam sudah memulai tanggal 01 Syawal 1429 Hijriyah. Bukan sebagaimana tercantum dalam kalendar nasional yang menetapkan 1 Syawal pada tanggal 1 Oktober 2008. Perhitungan yang sama juga berlaku untuk tanggal 01 Muharram 1430 Hijriyah. Pada kalendar nasional Indonesia telah ditetapkan jatuh pada tanggal 29 Desember 2008, sementara dalam simulasi  visualisasi bulan yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas untuk bulan baru telah terjadi pada tanggal 27 Desember 2008 sehingga tanggal 01 Muharram 1430 Hijriyah mestinya jatuh pada tanggal 28 Desember 2008 dan bukan tanggal 29 Desember.

Menariknya disini, perhitungan dan simulasi yang dihasilkan oleh aplikasi komputer Virtual Moon Atlas tersebut memiliki padanan yang nyaris sama dengan penanggalan bulan yang disusun oleh National Aeronautics and Space Administration yang biasa disingkat NASA, yaitu Badan Ruang Angkasa milik pemerintahan Amerika Serikat. Dalam situsnya di Internet[2], NASA menyajikan penanggalan bulan yang dibuat berdasar fase perjalanan bulan selama satu abad. Perhitungan tersebut didasarkan pada standar waktu Universal (GMT).


Dengan tidak mengurangi penghormatan kita terhadap orang-orang yang memegang teguh pandangan diatas, maka sebenarnya apa yang dimaksud dengan melihat bulan sabit setelah ijtimak terjadi sehingga menghasilkan kepastian dan kejelasan mengenainya memiliki maksud untuk membuktikan sudah masuknya bulan baru atau syahida asy-syahr. Secara keilmuan, khususnya Astronomi modern yang sudah sampai pada taraf sedemikian majunya seperti jaman kita sekarang ini hal tersebut jelas-jelas bisa dilakukan tanpa kita harus melakukan rukyat secara lahiriah. Dengan kata lain maka kita bisa merukyat bil’ilmi atau bil’aqli. Tindakan ini tidak harus disikapi secara frontal sedemikian rupa sehingga seolah-olah kita maupun orang-orang lain yang melakukannya telah keluar dari garis ketentuan agama, hanya karena perbuatan ini tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan penentuan bulan baru pada masanya yang merujuk pada visualisasi secara lahiriah bila kita lihat secara jujur dan pikiran terbuka (open minded) sama sekali tidak bertentangan dengan penetapan untuk hal yang sama dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan hasil kemajuan teknologi modern.

Bagaimana bisa kita berpendapat seperti itu, maka inilah argumentasi kita :

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari”. (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain)

Hadis diatas bisa kita lihat sebagai sebuah pengakuan yang jujur dari pribadi Nabi Muhammad Saw mengenai status peradaban umatnya saat itu. Dimana mereka disebutkan tidak pandai dalam hal ilmu pengetahuan (termasuk baca, tulis dan menghitung). Jadi, jika ternyata umat beliau sekarang ini sudah lebih pandai dalam hal tersebut ketimbang umat dimasa lalu, maka seyogyanyalah kepandaian ini dipergunakan dalam kerangka menetapkan apa-apa yang sebelumnya sering menjadi keraguan akibat keterbatasan yang ada. Hadis tersebut menjadi parameter lain untuk kita bila Nabi Muhammad Saw secara tidak langsung mengakui adanya metode lain diluar dari apa yang biasa beliau dan umatnya gunakan untuk penentuan bulan baru. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa Nabi Saw hidup, ada orang-orang tertentu yang bisa melakukan proses penghitungan bulan atau merukyat bil’ilmi, akan tetapi karena cara dan bentuk kepastian dari metode ini belum bisa disebut akurat akibat keterbatasan kondisi peradaban dimasa itu maka Nabi Saw belum menggunakan metode seperti ini.

Masalah ini erat kaitannya dengan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu, yakni mereka pada umumnya tidak dapat menulis dan menghitung. Ini berarti jika kondisi yang disebutkan dalam hadits tersebut tidak ditemukan lagi, maka tidak ada keharusan melakukan rukyat dan sebagai alternatifnya adalah kebolehan melakukan hisab. Jadi, ke-ummi-an umat merupakan ‘illat dari perintah ditetapkannya rukyat. Dengan demikian, yang menjadi al-ashl adalah rukyat  yang secara jelas telah ditetapkan oleh nash hadis. Kemudian obyek yang akan ditentukan hukumnya adalah status hisab, karena penetapan hisab secara eksplisit memang tidak ditegaskan oleh nash hadis tersebut. Oleh karena itu, hisab berposisi sebagai al-far’u dalam kasus ini. Sedangkan yang menjadi hukm al-ashl adalah keharusan melakukan rukyat dalam menentukan bulan baru. Lebih jauh mungkin perlu dipertegas juga bahwa ‘illat (sebab) selalu berjalan bersama ma’lul (musabab) dalam keberadaannya maupun ketiadaannya. Hal ini berarti untuk kasus kita diatas, apabila umat Islam telah keluar dari kondisinya yang ummi dan telah mampu menulis dan berhitung, maka dangan sendirinya hisab dapat diberlakukan. Disini saya juga akan mengutip dari bukunya Buya Hamka “Pandangan Hidup Muslim” terbitan Bulan Bintang Djakarta 1966 halaman 142 :

“Kalau misalnya hiduplah Nabi kita Muhammad Saw dijaman kita ini, agaknya akan beliau suruhkanlah Bilal bin Rabah melakukan azan dengan memakai loadspeaker dan mikrofon. Akan beliau suruhkan agaknya Mu’az bin Djabal menyebarkan Islam kenegeri Yaman, bahkan keseluruh dunia dengan memakai radio”.

Penulis sependapat dengan almarhum Buya Hamka tersebut, bahkan mungkin Nabi Saw pun akan melakukan dakwah beliau dengan memanfaatkan email, milis, handphone, chat, telekonfrens, buku, brosur dan sebagainya sesuai bentuk-bentuk penyampaian informasi yang sudah kita kuasai dijaman sekarang. Hal ini selaras pula dengan apa yang disampaikan oleh Bapak M. Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya “Pedoman Puasa”, terbitan Bulan Bintang Djakarta 1960 halaman 53 :

“Perintah berpuasa sesudah melihat bulan dengan mata kepala adalah : Lil Irsyad bukan Lil Idjab yaitu melihat bulan dengan mata kepala hanyalah salah satu jalan memulai puasa tetapi bukan satu-satunya jalan. Ini hanya jalan yang ditempuh oleh umat yang belum pandai berhisab. Karenanya sangat menggelikan hati kalau orang berpuasa yang fanatik kepada lahir perintah, terus menetapkan bahwa dialah (rukyat bil fi’li) satu-satunya jalan buat memulai puasa”.

Didalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim serta Imam Ahmad yang bersumber kepada Ibnu Umar disebutkan bila Nabi Saw bersabda, “Sebenarnya bulan itu dua puluh sembilan hari, maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya. Jika mendung, “kadarkanlah” olehmu atasnya (Fa in ghumma ‘alaykum faqdurulah)”.

Imam Nawawi (1983, juz 7, hal. 190) mengatakan bila umumnya hadis-hadis tersebut diatas membagi pemahaman tentang perlunya melihat hilal (bulan sabit) bagi orang yang akan berpuasa maupun mengakhirinya (yaitu berhari raya). Adapun menyangkut bilangan bulan yang disebut didalam hadis, yakni 29 hari, ini menurutnya berlaku dalam kondisi cuaca yang baik. Sementara dalam kondisi yang tidak baik karena tidak memungkinkan melihat hilal, maka tetap saja puasanya harus disempurnakan menjadi tiga puluh hari.  M. Hasbi Ash Shiddieqy masih dalam buku yang sama (hal. 49) menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam mengartikan perkataan faqdiru atau “perkirakanlah”. Jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa artinya sempurnakan menjadi 30 hari sebagaimana riwayat dalam hadis lain dari Muslim yang berbunyi “Faqduru lahu tsalatsina” atau “kadarkanlah untuknya 30 hari”, sementara yang lainnya berpendapat pergunakanlah hisab. Menurut Ibn Suraij, Muthrab Ibn Abdillah, Ibnu Qutaibah dan lain-lain sebagainya, maksud dari kata tersebut adalah mereka mengukurnya dengan suatu hitungan yang berdasar manzilah-manzilah (lintasan orbitnya). Istilah faqdiru sendiri bisa diartikan sebagai ukuran sesuatu. Kata ini memiliki makna yang sama dengan kata taqdir, yang merupakan derivasi dari kata kerja qaddara yang artinya menetapkan batas atau kadar tertentu. Arti seperti ini dapat dijumpai dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat 23, dalam konteks penciptaan manusia, yaitu: “Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan”

Selaras dengan ini, penulis pada kesempatan ini ingin merujuk pada salah satu firman Allah : “Wahai masyarakat Jin dan Manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, silahkan lintasi, tapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan sulthon“. (QS AR-Rahman (55) :33)

Istilah “sulthon” bisa diterjemahkan sebagai kekuatan, dan dalam hal ini merujuk pada kekuatan akal, yaitu bagaimana memaksimalkan kemampuan akal yang ada untuk mampu menciptakan peradaban yang cerdas, berilmu pengetahuan tinggi sehingga memungkinkan untuk mengeksplorasi seluruh alam semesta ini untuk kemaslahatan hidup selaku Khalifah Tuhan dibumi. Kita maklum bila ilmu hisab atau ilmu Astronomi, merupakan salah satu masterpiece manusia yang tentu saja bisa digunakan untuk berbagai tujuan termasuk menentukan perhitungan waktu atau penanggalan sebagaimana di-isyaratkan oleh ayat-ayat yang sudah banyak kita kutipkan dibagian atas sebelum ini. Karena itulah kita akan kembali kepada konsep Iqra, konsep membaca, baca dan bacalah terus. Analisa dan teruslah menganalisa, temukanlah, manfaatkanlah semua potensi yang ada dalam diri ini. Tidak heran bila ayat ini justru yang turun pertama kepada Rasulullah Saw.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia Yang mengajar dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
(QS AL-Alaq (96) : 1 s/d 5)

Perintah berpikir adalah perintah Allah dalam al-Qur’an, salah satunya silahkan lihat kembali akhir surah Yuunus ayat 5 : “Liqowmi ya’lamun” yang artinya, “Dia menjelaskan ayat-ayatNya bagi kaum yang mau mengetahui”. Ayat tersebut berlaku secara menyeluruh tanpa terkecuali, entah itu dalam aspek kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Akal diberikan oleh Allah untuk berpikir, membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tanpa akal, manusia tidak lebih dari sekedar hewan yang tidak pernah memikirkan benar salah tindakannya bahkan mungkin jauh lebih sesat daripada itu. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul kedunia untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar memilih jalan kebenaran, dan petunjuk Allah itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau untuk berpikir tentang hakikat kebenaran sejati. Dan berpikir yang benar didalam penerimaan tersebut adalah berpikir yang tidak hanya merenung atau asal-asalan, namun berusaha untuk mengerti, mempelajari, menyelidiki, memahami serta mengamalkan dan alat untuk itu semua adalah akal. Menisbikan peranan akal pikiran untuk menggapai keimanan sama sekali tidak layak kita terapkan, sebab hal ini akan menyamakan kedudukan kita dengan para penyembah berhala yang tidak pernah mau tahu tentang benar salahnya keimanan mereka, yang jelas mereka harus menerima dan yakin. Jika sudah begini untuk apa wahyu diturunkan ? Untuk apa para Nabi dan Rasul diutus ? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia ? Untuk apa Tuhan melimpahkan akal ? serta untuk apa Tuhan menjadikan kebenaran dan kebatilan ?

Ditetapkannya suatu keputusan kepada keimanan berdasarkan kepuasan (kemantapan) akal. Artinya, keimanan tidak berarti mematikan akal, bahkan Islam menyuruh akal untuk beramal pada bidangnya sehingga mendukung kekuatan iman. Ibnu Taimiyah bahkan pernah mengatakan, “Sesuatu yang diketahui dengan jelas oleh akal, sulit dibayangkan akan bartentangan dengan syariat sama sekali. Bahkan dalil naqli yang shahih tidak akan bertentangan dengan akal yang lurus, sama sekali. Kita tahu bahwa para Rasul tidak memberikan kabar dengan sesuatu yang mustahil menurut akal” (Dar’u Ta’arrudhil ‘Aql wan Naql, 1/155, 138)


[1] Masyarakat ada juga yang masih menggunakan istilah ilmu falak

[2] Phases of the Moon: 2001 to 2100, http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/phase/phases2001.html

4 Responses

  1. […] Top Posts Misteri Batu MelayangBedah Buku : Jaber Bolushi, 2015 Imam Mahdi Akan DatangGambar & Animasi Masjidil Haram 3 DimensiProposal Sumbangan untuk MasjidBaca Ini !Keutamaan Ahli Bait Nabi dan misteri SholawatNazwar Syamsu : Penanggalan TahunanHukum musik, gambar dan Lagu dalam IslamDiskusi tentang turunnya Nabi Isa (3)Kontroversi Hisab dan Rukyat [2]: Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ? […]

  2. […] NASA, yaitu Badan Ruang Angkasa milik pemerintahan Amerika Serikat. Dalam situsnya di Internet[2], NASA menyajikan penanggalan bulan yang dibuat berdasar fase perjalanan bulan selama satu abad. […]

  3. […] akhir yang tepat. Dalam konteks perbincangan hisab kedalam ilmu Astronomi atau perbintangan modern[1] maka proses kerja hisab dimasa kita sekarang ini sering dan tidak dapat dihindarkan untuk […]

  4. assalamualaikum wr wb
    untuk indonesia awal puasa ramadan tahun 1435 H hari senen tgl 30 juni 2014. semoga kita mendapat safaat di yaumil masar kelak amin . landasan hisab dan rukyat itu tertulis di tiang arasy urutan urufnya di lihat rasullulah saw di saat israk dan migrat, tentu allah sang pencipta alam yang menuliskannya ini metode yg kita pakai untuk menentukan awal puasa ramadan dan bulan hijriyah dan juga titik nol derajatnya revolusi bulan mengelilingi bumi bukan pada ijtimak (kunjungsi), lebih jelasnya baca rotasibulan.blogspot.com dan simak video mencerna hadist rasullulah saw dg ilmu teknologi

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: