Menyusuri Jejak Pernikahan Nabi dengan Khadijjah

Putra Mekkah yang sejak kecil bergelar Al-Amin dan sekaligus menyandang predikat Rasul Allah serta Khatamun Nabiyyin, Muhammad Saw sebelum mencapai usia 25 tahun telah menjadi seorang saudagar kafilah terbesar di Tanah Arab. Pada usianya yang ke-25 tahun, Muhammad menikah dengan seorang wanita saudagar terhormat dan merupakan orang terkaya waktu itu diantara penduduk Mekkah, namanya Siti Khadijjah binti Khuwailid Bin Abdul Uzza Bin Qushai ditahun 596 M.

Riwayat populer dimasyarakat menyebutkan bahwa Muhammad menikah dengan Khadijjah antara umur 23 sampai 25 tahun dan Khadijjah sendiri berumur 40 tahun. Dari istrinya ini Rasul memiliki dua orang anak laki-laki yaitu Qasim dan Abdullah at-Tahir, keduanya meninggal sewaktu kecil, selain itu Nabi juga memperoleh empat orang anak perempuan yaitu Zainab, Ummu Kalsum, Ruqayyah dan Fatimah. Karena itu juga maka Khadijjah digelari “Al-Wadud Al-Walud” yang berarti wanita sejati dan punya banyak anak. Dari ilmu biologi kita ketahui bahwa usia 40 tahun bagi seorang wanita merupakan masa-masa berhentinya menstruasi alias menopause atau mendekatinya. Dimana Menopause adalah suatu masa transisi dari usia reproduktif menjadi usia lanjut. Masa ini ditandai dengan terhentinya haid karena hormon estrogen sudah tidak berproduksi lagi. Lalu bagaimana mungkin seorang Khadijjah dalam usianya yang 40 tahun itu dapat melahirkan 6 orang anak dalam jarak yang cukup berjauhan ? Benarkah usia beliau saat menikah dengan Rasul adalah 40 tahun ?

Penulis sejarah kontroversial bernama Ibnu Ishaq (Lihat http://www.scribd.com/doc/221338/Sirat-Rasoul-Allah), dalam hal ini justru meriwayatkan bila usia Khadijjah ketika itu bukan 40 tahun melainkan 28 tahun. Memang tidak ada riwayat yang benar-benar shahih sekaitan usia Khadijjah ketika menikah dengan Nabi, akan tetapi dengan sedikit berpikir terbuka tentang jumlah anak yang dilahirkan beliau, maka kita akan mudah menilai bila riwayat populer menyangkut usia Khadijjah 40 tahun perlu dipertanyakan ! Bagaimanapun usia 28 tahun lebih masuk akal dan bisa diterima secara wajar. Setiap wanita memang memiliki usia menopause yang berbeda-beda. Ada yang terlalu awal dan ada pula yang terlambat. Dikatakan awal bila menopause sudah muncul pada rentang usia 20-40 tahun. Usia menopause terlambat biasanya terjadi di atas usia 51 tahun. (Lihat : Pusat Data & Informasi PERSI, http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=966&tbl=biaswanita)

Belum lagi adanya resiko untuk mendapat anak yang cacat lebih tinggi sekitar 4 kali lipat bila hamil pada usia 40 tahunan yang sampai saat ini belum dapat dilakukan pencegahannya (Lihat : Kumpulan Konsultasi kesehatan, http://konsultasikesehatan.epajak.org/kehamilan/sudah-menopause-bisa-hamil-25)

Kalaupun kita mau mengambil persamaan dengan cerita Nabi Ibrahim atau Nabi Zakariya yang bisa mendapatkan keturunan diusia senja mereka (khususnya dalam kasus Nabi Ibrahim dimana istrinya yang bernama Sarah saat itu sudah sangat tua) juga tidaklah tepat. Hal tersebut karena baik dalam kelahiran Ishaq bagi Ibrahim atau kelahiran Yahya bagi Zakariya hanya terjadi satu kali (sesudah Ishaq atau Yahya lahir istri Ibrahim maupun istri Zakariya tidak lagi melahirkan anak yang lain), sementara dalam kejadian Khadijjah dan Nabi Muhammad peristiwa kelahiran telah disebutkan sampai enam kali (sesuai jumlah anak-anak mereka).

Putri Nabi Muhammad yang tertua dari pernikahannya dengan Khadijjah, bernama Zainab menikah dengan Abul ‘Ash Bin At Rabi’ Bin Abdi Syams, ibu dari Abul ‘Ash ini adalah saudara perempuan dari Khadijjah dan dari perkawinannya itu Zainab mendapatkan dua orang anak, yang perempuan bernama Umamah dan yang laki-laki bernama Ali. Ketika ayahnya, Muhammad, diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Zainab pun mengajak suaminya itu untuk ikut memeluk Islam, tapi ditolak olehnya, sementara Zainab sendiri telah beriman mengikuti sang ayah dan terpaksa berpisah dengan suaminya itu. Ketika terjadi peperangan Badar, 17 Ramadhan tahun 2 atau 13 Maret 624 Masehi. Abul ‘Ash bersama-sama kaum Musyrikin Mekkah mengangkat pedang, mengobarkan perlawanan terhadap Nabi Muhammad Saw dan umat Islam. Namun tidak lama setelah itu, Abul ‘Ash memeluk Islam hingga akhir hayatnya pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan kembali melangsungkan pernikahannya dengan Zainab secara Islam. Putri Muhammad yang kedua yaitu Ruqayah menikah dengan ‘Utbah Bin Abu Lahab, begitu pula dengan putrinya ketiga, Ummu Kalsum, menikah dengan ‘Utaibah Bin Abu Lahab, saudara ‘Utbah hanya selang beberapa waktu sebelum Muhammad mendapat wahyu. Kelak dikemudian hari, dimana Muhammad telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul serta bertugas menyampaikan dakwahnya kepada manusia, kedua putrinya ini bercerai dengan masing-masing putra Abu Lahab itu dan menikah dengan Usman Bin Affan yang didahului oleh Ruqayah, meninggal setelah peperangan Badar usai, dan digantikan oleh Ummu Kalsum, putri Nabi yang ketiga, sehingga karenanya Usman Bin Affan digelari “Zun Nuraini”, yaitu yang memiliki dua cahaya. Fatimah sendiri waktu itu masih kecil dan belum menikah. Ia dilahirkan pada tahun 606 M atau tahun ke-10 perkawinan Nabi dengan Khadijjah. Dia ikut merasakan pahit getirnya dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh ayahnya, ia menyaksikan sejak awal betapa duka derita yang dialami oleh Nabi Muhammad. Fatimah juga yang pergi kemasjid untuk membersihkan kotoran-kotoran hewan yang dicampakkan oleh orang-orang kafir kepada Nabi, dan ia juga yang membersihkan darah yang mengalir dari wajah ayahnya ketika terluka dalam perang Uhud yang juga menewaskan paman Nabi, Hamzah Bin Abdul Muthalib ditangan Wahsyi dan Hindun dari dinasti Umayyah. Selain daripada itu, Muhammad juga mengambil seorang anak angkat laki-laki bernama Zaid Bin Haritsah, seorang anak dari Bani Al-Kalby yang dijual oleh sekawanan perampok kepasar Ukazd dan dibeli oleh Khadijjah untuk menjadi hamba sahayanya namun dibebaskan oleh Muhammad dan diangkat sebagai seorang anak.

Pada tahun 616 hingga 617 Masehi telah terjadi pemboikotan terhadap Nabi Muhammad dan kaum Muslimin semuanya termasuk keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Segala perhubungan putus sama sekali, dan pihak Quraisy mengancam keras terhadap siapa-siapa yang berani melakukan hubungan dengan mereka. Akibat pemboikotan itu, Nabi dan kaum Muslimin beserta keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib, yaitu dua keluarga yang masih ada hubungan darah dengan Rasulullah dan selama ini menjadi pembela Nabi, terpaksa menyingkir, mencari perlindungan di Syi’ib, suatu tempat perbukitan diluar kota. Pada bulan Desember 619 M, tidak lama setelah pemboikotan dihapuskan, istri Rasulullah Saw yang terkasih, Khadijjah meninggal dunia, kembali kerahmatullah dalam keadaan beriman. Khadijjah, merupakan orang yang paling dekat dengan Nabi, karena tidak saja ia sebagai seorang istri, tetapi pendamping setia Rasulullah dalam suka dan duka. Masa mudanya ia habiskan dalam membina karir perdagangannya.
Namun kemudian ia mempersembahkan semua yang dimilikinya untuk perjuangan suaminya -menegakkan ajaran Islam. Selama bertahun-tahun Khadijjah mendampingi Muhammad SAW, membina keluarga yang penuh ketentraman dan kebahagiaan. Ketika Rasulullah Saw mendapat tugas yang berat -mengemban risalah Ilahiah- Khadijjah meneguhkan hatinya dan menambah kepercayaan dirinya.

Ketika Nabi didustakan kaumnya, Khadijjah meyakininya dengan tulus.

Khadijjah adalah orang yang pertama percaya akan kenabian Muhammad sekaligus wanita pertama yang memeluk Islam. Ketika masyarakatnya menyembah berhala, dibelakang Khatamul Anbiya, dia bersujud menyembah Allah Yang Maha Esa. Pada waktu orang-orang Quraisy mengucilkan keluarga Rasulullah dipadang yang gersang, Khadijjah meninggalkan rumahnya yang megah. Dia tidur dalam kemah yang sederhana. Setiap hari dia bekerja keras membagikan makanan yang sedikit kepada para pengikut Rasulullah Saw, tidak jarang dia dan suaminya tidak kebagian makanan. Lebih jauh lagi, Khadijjah adalah ibu dari anak-anaknya yang penuh kasih dan sayang.

“Khadijjah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.” (HR. Ahmad)

Imam Muslim sedikitnya meriwayatkan dari tiga berita dari ‘Aisyah sehubungan dengan keutamaan Khadijjah :

“Saya tidak merasa cemburu terhadap perempuan (manapun) sebagaimana cemburu saya kepada Khadijjah. Sesungguhnya dia telah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi menikaho saya, disebabkan saya mendengar beliau biasa menyebutnya. Sesungguhnya Tuhan telah menyuruh beliau menyampaikan berita gembira kepada Khadijjah, memperoleh rumah yang terbuat dari bambu didalam surga. Sesungguhnya beliau pernah menyembelih kambing, kemudian dihadiahkan kepada teman-teman Khadijjah.”

“Saya tiada cemburu kepada istri-istri Nabi SAW melainkan kepada Khadijjah, sedang saya tidak menemuinya. Pernah Rasulullah SAW menyembelih kambing, beliau mengatakan : “Kirimkanlah itu kepada teman-teman Khadijjah!”. Pada suatu hari saya marah kepada beliau lalu mengucapkan “Khadijjah ?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya aku telah dikaruniai mencintainya”

“Saya tidak cemburu kepada Nabi SAW berkenaan istri beliau serupa cemburu saya kepada Khadijjah, karena beliau seringkali menyebutnya. Sementara saya belum pernah melihatnya sekalipun.”

Dihadis lainnya, Imam Muslim juga meriwayatkan sebagai berikut :

Dari Abdullah bin Ja’far r.a katanya : Saya mendengar Ali mengucapkan di Kufah katanya : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Perempuan dunia yang paling baik ialah Maryam binti Imran dan perempuan dunia yang paling baik ialah Khadijjah binti Khuwailid.”

“Allah tidak memberi kepadaku pengganti isteri yang lebih baik dari dia (Khadijah). Ia beriman dikala semua orang mengingkari kenabianku. Ia membenarkan kenabianku di kala semua orang mendustakan diriku. Ia menyantuni diriku dengan hartanya dikala semua orang tidak mau menolongku. Melalui dia Allah menganugerahi anak kepadaku, tidak dari isteri yang lain.” (HR. Ibn Abdil Barr)

2 Responses

  1. mudah2n qdbri allh clon istri yg sprti khadijjah yg sllu da dlm susah mwpn snang,brbkti pd suami,sllu mnguatkan 1 sm laen.aminn y allh…………ilope you muhammad and thank you to all for god(allah)

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: