Keutamaan Ahli Bait Nabi dan misteri Sholawat


Keutamaan Ahli Bait Nabi & Misteri Sholawat
Oleh : Armansyah
Sebelum ini kita sudah membahas tentang pernikahan Nabi dan Khadijjah serta pernikahan Nabi dengan ‘Aisyah. (Lihat kembali : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/17/menyusuri-jejak-pernikahan-nabi-dengan-aisyah/ dan https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/17/menyusuri-jejak-pernikahan-nabi-dengan-khadijjah/)

Hanya selang beberapa minggu dari kematian Khadijjah, Abu Thalib, paman Nabi yang selama ini melindunginya dari keganasan dan gangguan kaum kafir Quraisy, meninggal dunia, yaitu pada bulan Januari 620 M. Abu Thalib, adalah paman sekaligus juga berfungsi sebagai ayah bagi Rasul semenjak kedua orang tua dan kakeknya tiada sewaktu ia masih kecil.

Dia adalah perisai Rasulullah, sehingga meskipun begitu hebat ancaman dan gangguan yang dilakukan terhadap Nabi, namun selama Abu Thalib masih hidup, mereka tidak berani melakukan gangguan-gangguan phisik terhadap Rasulullah. Semenjak kematian kedua orang inilah, perlawanan kaum kafir Quraisy semakin menghebat dan menggila kepada diri Nabi Muhammad dan umatnya.

Beranjak dari sini, maka harusnya tidak menjadi keanehan apabila Rasul menganggap benar-benar memiliki keluarga yang utuh dari Khadijjah dan keluarga pamannya, Abu Thalib. Dimana hanya dari benih Khadijjah, Muhammad memperoleh keturunan yang hidup dan dari keluarga Abu Thalibpun, Muhammad memiliki dua cucu sebagai buah hatinya dari hasil pernikahan putri bungsunya, Fatimah az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah. Mereka adalah orang-orang terbaik yang ada dalam kehidupan seorang Muhammad, Nabi Allah. Merekalah sebenarnya Ahli Bait yang mendapat tempat utama dihatinya.

Sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita lihat dulu apa arti Ahli Bait.

Secara bahasa atau etimologi, kata “Al-Ahlu” merupakan bentuk jamak yang berasal dari kata “Ahila” atau “Ya’halu” yang berarti menghuni suatu tempat. Arti dari istilah Bait sendiri adalah rumah. As-Sa’labi berkata seperti yang ada dalam Tafsir al-Qurtubi: 14. 182-183 : Mereka (Ahli Bait) tidak lain dari Bani Hashim. Ini menunjukkan yang dimaksudkan dengan perkataan Al-Bait (rumah) yang digandengkan pada istilah Al-Ahlu adalah “Baitunnasab” (rumah keturunan). Dengan demikian maka berdasar pemahaman ini, Keluarga Abu Thalib, keluarga Al-Abbas, bapak-bapak saudaranya dan anak-anak mereka serta yang memiliki kaitan nasab kepada mereka termasuk dalam kelompok Ahlul Bait Nabi. Meski demikian, perkataan Ahlul Bait (sering disebut dan ditulis juga dengan istilah Ahli Bait) tidak bisa hanya terbatas pada kelompok-kelompok diatas saja namun juga mencakup istri-istri  beliau Saw, dalilnya adalah karena al-Qur’an pernah menyinggung penggunaan istilah tersebut untuk menyebut istri-istri Nabi Ibrahim.
Qaalat yaa waylataa a-alidu wa-anaa ‘ajuuzun wahaadzaa ba’lii syaykhan inna haadzaa lasyay-un ‘ajiib(un). qaaluu ata’jabiina min amri (al)laahi rahmatu (al)laahi wabarakaatuhu ‘alaykum ahla (a)lbayti innahu hamiidun majiid(un).
Artinya : Isteri (Ibrahim) berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku (masih) akan (bisa) melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku inipun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya Ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” ; Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, Hai Ahlul Bait ! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Huud [11] : 72-73)
Dengan demikian, maka secara umum dapat dipahami bila yang dimaksud dengan Ahli Bait Nabi adalah siapapun orang yang merupakan keluarga dari Nabi Muhammad Saw dan terlebih lagi mereka tinggal dikediaman beliau. Termasuk para istri dan anak-anaknya serta orang-orang yang ada dalam asuhan beliau Saw. Kedalam kelompok umum ini maka kita bisa menyebutkan nama-nama Ahli Bait itu terdiri dari Khadijjah dan putera-puterinya, kemudian Ali bin Abi Thalib yang sejak kecil berada dibawah asuhan Rasul dan tinggal serumah dengan beliau, semua istri-istri beliau diluar Khadijjah serta keluarga-keluarga beliau lainnya yang masih berhubungan darah secara silsilah dan dekat dengan beliau seperti Hamzah bin Abdul Mutthalib, Abbas dan Ja’far bin Abu Thalib r.a.
Menyangkut Ahli Baitnya, Rasulullah SAW diriwayatkan pernah membacakan surah al-Ahzab ayat 33 atas diri Fatimah, Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein (dua putra mereka). Malah sebagian ulama ada yang menyebutkan bila asbabun nuzul atau latar belakang turunnya ayat tersebut memang diperuntukkan bagi ahli bait Rasul.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahli Bait dan membersihkan kamu sebersih-¬bersihnya. (QS AL-Ahzab 33 :33 )

Al-Hakim misalnya, dalam kitab beliau yang berjudul “Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain fi al-Hadis” jilid 3, hal 197¬198 menyatakan turunnya ayat ini kepada Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahrah, Hasan dan Husein. Demikian juga pendapat dari Ibnu Hajar dalam kitab “Ash-Shawa’iq“ mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas para mufassir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein.” ; Sejumlah hadis yang berkaitan dengan surah al-Ahzab ayat 33 diataspun memang mengindikasikan demikian, diantaranya :

“Dari Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib berkata, ‘Ketika Rasulullah SAW memandang kearah rahmat yang turun, Rasulullah SAW berkata, ‘Panggilkan untukku, panggilkan untukku.’ Shafiyyah bertanya, ‘Siapa, ya Rasulullah?!’ Rasulullah menjawab, ‘Ahlul Baitku, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husein.’ Maka mereka pun dihadirkan ke hadapan Rasulullah, lalu Rasulullah SAW meletakkan pakaiannya ke atas mereka, kemudian Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah keluargaku.’ Lalu Allah SWT menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” ; al-Hakim menyatakan sanad dari hadis ini shahih.

Al-Hakim meriwayatkan hadis serupa juga dalam kitabnya yang sama tapi dari jalur sanad Ummu Salamah yang berkata, “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku.’” Kemudian, al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat Bukhari.” Di tempat lain al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dari Watsilah, dan kemudian berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat mereka berdua.”

Imam Muslim dalam kitab shahihnya mengenai keutamaan ahli bait, meriwayatkan hadis ini dari jalur ‘Aisyah r.a, yang berkata, “Rasulullah SAW pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah SAW memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husein datang dan Rasulullah SAW memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah SAW pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah SAW memasukkannya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.”

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari, katanya :

Rasulullah Saw datang kepada kami, sedang kami berada dalam majelis Sa’ad bin ‘Ubadah. Lalu Basyir bin Sa’ad bertanya : Allah Ta’ala menyuruh kami sholawat untuk engkau, ya Rasulullah, bagaimana caranya kami bersholawat untuk engkau ? ; Rasulullah Saw menjawab : Ucapkanlah : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan kepada keluarga Ibrahim. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah terpuji dan Mulia ( Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad Wa’ala Aali Muhammad kama Sholayta ‘ala aali Ibroohim wabariq ‘aala Muhammad wa’ala aali Muhammad kama baroqta ‘ala aali Ibroohim fil ‘alaminainnaka hamidumm Madjid ). Cara memberi salam adalah sebagaimana yang kamu ketahui.”

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberi nikmat kepada Nabi -yushalluuna ‘alaa (al)nnabiyyi-. Wahai orang-orang yang beriman, dukunglah dia dan berilah dia penghormatan dengan penghormatan yang sebenarnya – shalluu ‘alayhi wasallimuu tasliimaa(n)-.” (QS AL-Ahzaab (33) :56)

Sholawat bisa bermaknakan sebagai do’a, berkah maupun dukungan. Pada masa hidup Nabi Muhammad, dukungan ini dapat berbentuk partisipasi langsung dalam perjuangan beliau menegakkan agama Allah. Bantuan yang diberikan dapat berupa harta maupun jiwa.

Meskipun sekarang Nabi telah tiada, perjuangan menegakkan agama Allah tidak pernah berakhir. Kita dapat melakukan `shalawat’ dengan harta dan jiwa kita pada perjuangan yang berkelanjutan tersebut. Sehubungan dengan pemberkatan atas diri Nabi, bagi kita selaku umat akhir ini bisa juga dengan cara mendoakan kemaslahatan beliau dan keluarganya yang bisa diartikan sebagai ungkapan rasa terimakasih kita atas jasa-jasa beliau dalam menegakkan Islam hingga sampai kepada kita hari ini, toh keluarga Muhammad dewasa ini sudah tersebar dimana-mana disetiap pelosok negeri, baik dari keturunan Hasan maupun Husien, baik itu yang menggolongkan diri sebagai Syi’ah atau Ahlussunnah atau tidak keduanya. Perintah sholawat ini sendiri bukan perintah yang baru dalam ajaran agama Allah. Pada masa kenabian Ibrahim as, sholawat sudah diajarkan :

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (QS Ash-Shaffaat (37) :108)

Aku akan membuat engkau (Ibrahim) menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. (Kitab Kejadian: 12 : 2-3)

Dengan demikian maka sholawat kepada Nabi Muhammad telah ada sejak lama dengan mengacu pada sholawat pada diri Nabi Ibrahim dan keturunannya (yaitu baik dari silsilah Nabi Ismail yang nantinya menurunkan Nabi Muhammad SAW maupun Nabi Ishaq yang menurunkan Yesus (Nabi Isa al-Masih) mendapatkan berkat dari Tuhan dan akan memashyurkan nama Ibrahim diantara manusia (Kama sholaita ‘ala Ibrahim wa’ala ali Ibrahim …), dan juga Allah akan memberkati siapa yang ikut memberkati mereka dalam artian selalu menghormatinya. Sebaliknya Allah akan mengutuk siapapun yang mengutuk atau tidak menghormati Ibrahim dan Muhammad beserta keluarganya.

Dari Watsilah bin Asyqo berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keturunan Bani Hasyim” (HR. Muslim)

Firman Allah : Katakanlah (wahai Muhammad) : “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang pada keluargaku”. (QS Asy-Syuura (42) : 23)

Yazid bin Hayyan berkata, “Aku pergi kepada Zaid bin Arqam bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam, ‘Hai Zaid, kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kau melihat Rasulullah, kau mendengar sabda beliau, kau bertempur menyertai beliau, dan kau telah shalat dengan diimami oleh beliau. Sungguh kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Karena itu, sampaikan kepada kami hai Zaid, apa yang kau dengar dari Rasulullah!'”.

Kata Zaid bin Arqam, “Hai kemenakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya. Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah dihadapan kami dekat suatu sumur air yang dinamakan Khum, antara Mekkah dan Madinah. Lalu beliau memuji dan menyanjung Allah memberikan pelajaran dan peringatan.

Kemudian beliau mengucapkan : “Adapun kemudian dari pada itu ketahuilah hai orang banyak, sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang sudah dekat datang utusan Tuhanku dan nanti kupenuhi. Aku meninggalkan untuk kamu dua yang berharga, yang pertama kitab Allah, didalamnya bimbingan dan cahaya yang terang. Sebab itu ambillah kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya !”, Beliau menganjurkan dengan kitab Allah dan menumbuhkan keinginan untuk mengamalkannya. Kemudian beliau bersabda lagi : “dan Ahli Baitku, aku peringatkan kepada kamu perintah Allah tentang Ahli Baitku, aku peringatkan kepada kamu perintah Allah tentang Ahli Baitku.” (HR. Muslim)

Tambahan lagi … tahukah anda bahwa hadist yang paling masyur di kalangan kaum muslim khususnya di Indonesia yang memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah sebenarnya memiliki akurasi atau kekuatan sanad yang lebih rendah dari hadis lain yang mewajibkan kita untuk berpegang pada “Kitabullah dan Keturunanku (Ahlu Bayiit)”.

Hadist “Kitab Allah dan Sunahku” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik, Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr, Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti : Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih, Shawaiq Al Muhriqah Ibnu Hajar, Sirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm danTarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya).

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, danTarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya

Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3 

Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.

Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya 

Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.

Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunah NabiNya”.

Hadis ini tidak berbeda dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Bbenar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra
Jalan Sanad Ibnu Abbas

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.

1. Ibnu Abi Uwais

  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.

Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawiShahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.

2. Abu Uwais

  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”.Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.

Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata ”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.

Jalan Sanad Abu Hurairah raHadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan Daruquthni IV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.

Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.

Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkatahadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.

Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.

Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada“Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.

Jalan Sanad Amr bin Awf raHadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telahmenghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .

  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilaiKatsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • Dalam Kitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”

Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.

Jalur Abu Said Al Khudri raHadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.

Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.

  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.

Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.

Hadis Tersebut Dhaif

Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.

Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih Walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Tanggapan Terhadap Ali As Salus

Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan Selanjutnya Ali As Salus bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.

Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan

  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhiddan Beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhidtersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.

Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat Beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang Beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan Beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.

.
Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908

Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba.Sesungguhnya Setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.

Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.

Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini

”sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak ayal lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada Beliau padahal Beliau terbebas darinya”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.

Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.

Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metode yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut. Wallahu’alam.

Sebaliknya, hadis “Kitab Allah dan Itrahku” memiliki hujjah sanad yang shahih, misalnya :

Zaid bin Arqam r.a. Dia berkata, “Suatu hari Rasulullah saw. Pernah berdiri dihadapan kami seraya berkhutbah disuatu tempat (kebun) kosong diantara Makkah dan Madinah. Beliau saw memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya. Lalu menasehati dan mengingatkan (ummatnya). Kemudian bersabda, “Amma ba’du (adapun sesudah itu), ingatlah wahai sekalian manusia, sesunguhnya aku ini hanya manusia biasa, hampir-hampir (sebentar lagi) akan datang utusan Tuhanku (yang akan memanggilku ke Hadhrat-Nya), maka akupun (pasti) mengabulkannya. Dan aku akan meninggalkan pada kalian dua pusaka. Pertama, Kitabullah itu dan peganglah teguh-teguh.” Beliau saw. Memerintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an sebagai Kitabullah dan mendorong untuk mengamalkannya. Kemudian beliau saw bersabda, “Dan Ahli Baitku (keluargaku)”

Hadist ini lafash atau redaksi dari Imam Muslim. Dan diantara perawi lain yang meriwayatkan dengan redaksi seperti itu ialah Al-Darimy dalam Sunan-nya (II : 431 – 432) dengan isnad shahih seperti (terangnya) matahari.

Mari bershalawat sekali lagi untuk Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya :

Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad Wa’ala Aali Muhammad kama Sholayta ‘ala aali Ibroohim
wabariq ‘aala Muhammad wa’ala aali Muhammad
kama baroqta ‘ala aali Ibroohim fil ‘alaminainnaka hamidumm Madjid

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan kepada keluarga Ibrahim. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah terpuji dan Mulia

Palembang, Modified on November 2011

Armansyah

Referensi : Dari berbagai sumber

14 Responses

  1. SILSILAH IBRAHIM KE ISA AL MASIH dan MUHAMMAD SAW ke IMAM MAHDI

    Ditulis oleh hariyanto27 di/pada Maret 25, 2008

    SISILAH IMAM MAHDI

    1. MUHAMMAD ANAK ‘ABDULLAH
    2. ‘ali bin Abi Thalib
    3. Hasan Basri
    4. Habibul ‘azmi
    5. Daud Atthaa-i
    6. Ma’ruf Alkarkhi
    7. Sirri Assaqathi
    8. Junaid Albaghdadi
    9. Mumsyaduddin Addainuri
    10. ‘umar Bakri
    11. Abi Najib Assahrurdi
    12. Quthubuddin Al-abhari
    13. Rukunuddin Muhammad Annajasyi
    14. Syihabuddin Muhammad Asysyirazi
    15. Jamaluddin Attibrizi
    16. Ibrahim Azzahidul Kailani
    17. Adhi Muhammad Alkhuluti
    18. ‘izzuddin
    19. Shidruddin Aljayani
    20. Yahya Albakuri
    21. Muhammad baha-uddin asysyirwani
    22. Jamalul khuluti
    23. Khairuddin Annaqari
    24. Sya’ban Alqasthamuni
    25. ‘umar Alfu-ari
    26. Isma’il aljarumi
    27. ‘ali qarhu basy
    28. Musthafa Efendi Al-arduni
    29. ‘adul Lathif Alhalbi
    30. Mushthafa Albakri
    31. Muhammad Salim Alhafni
    32. Mahmud Albakri
    33. Asysyanwani
    34. ‘utsman addimyathi
    35. Saiyyidi Ahmad bin Zaini Addahlan
    36. Abi Bakrin Syatha
    37. Ahmad Khathib bin ‘abdul Lathif Alminangkabawi
    38. Hasan Ma’shum
    39. ‘arifin bin Muhammad ‘isa
    40. Amir ‘abdullah
    41. ZUBIR AMIR ANAK AMIR ‘ABDULLAH sang AL MAHDI
    42.

    SILSILAH ‘ISA

    (MATIUS 1 : 1 – 16)

    1. Ibrahim ‘alaihissalaam
    2. Ishak
    3. Ya’kub
    4. Yuda
    5. Peres
    6. Hezron
    7. Ram
    8. Aminadab
    9. Nahason
    10. Salmon
    11. Boas
    12. Obed
    13. Isai
    14. Daud
    15. Sulaiman
    16. Rehabeam
    17. Abia
    18. Asa
    19. Yosafat
    20. Yoram
    21. Uzia
    22. Yotam
    23. Ahas
    24. Hizkia
    25. Manasye
    26. Amon
    27. Yosia
    28. Yekhonya
    29. Sealtiel
    30. Zerubabel
    31. Abihud
    32. Elyakim
    33. Azor
    34. Zadok
    35. Akhim
    36. Eliud
    37. Eleazar
    38. Matan
    39. Yakub
    40. Yusuf
    41. ‘isa sang Almasih

  2. Salam. Afwan akhi hariyanto27, ana kurang paham dengan kalimat “SILSILAH IBRAHIM KE ISA AL MASIH dan MUHAMMAD SAW ke IMAM MAHDI”?, (seakan-akan IBRAHIM keturunnya ISA dan MUHAMMAD keturunnya IMAM MAHDI) . ana pernah membaca bahwa Nabi Ibrahim mempunyai dua orang putra : Nabi Ishak as dan Nabi Ismail as. Injil yang sekarang ada memang menafi’kan Nabi Ismail. Jalur Nabi ISA as sampai kepada Nabi ISHAK as dan jalur Rasulullah Muhammad SAW sampai kepada Nabi Islam as. Hanya saja menurut Al Qur’an Nabi Isa as adalah Ibnu MARYAM. bukan BIN YUSUF seperti tertuang dalam injil yang akhi kutip.

  3. Ralat : keturunnya seharusnya KETURUNANNYA dan Nabi Islam as, seharusnya NABI ISMAIL as. afwan.

  4. assalaamu ‘alaikum
    saya mau nanya,apakah anda memiliki doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan anaknya Fatimah Azzahrah dengan Ali bin Abi Thalib??
    tolong bantu saya untuk mendapatkannya beserta tulisan arabnya, untuk dimuat didalam kartu undangan pernikahan saya.
    terima kasih semoga amal ibadah anda diterima.
    syukron katsir

  5. assalaamu ‘alaikum
    saya mau nanya,apakah anda memiliki doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan anaknya Fatimah Azzahrah dengan Ali bin Abi Thalib??
    tolong bantu saya untuk mendapatkannya beserta tulisan arabnya, untuk dimuat didalam kartu undangan pernikahan saya. tolong dikirim ke email saya ya ipank_agey@yahoo.com
    terima kasih semoga amal ibadah anda diterima.
    syukron katsir

  6. Ass.wr.wb,sdr Haryanto 12,

    Nabi Isa a.s adalah keturunan suku Lewi seperti saudaranya nabi Musa a.s.

    Ini sudah ditegaskan di Alquran dan injil.

    Wassalam.

  7. KOK ITU YANG KALIAN BAHAS…

    SEMUT DI UJUNG LAUATAN KELIHATAN.. NAMUN GAJAH DI DEPAT MATA GAK KELIAHATAN…

    SILAHKAN BERKUNJUNG KE BLOG KAMI DI

    http://WWW.HARIYANTO27.WORDPRESS.COM

    SERUAN DARI PEMBAWA PANJI – PANJI HITAM

    IMAM MAHDI TELAH DATANG ..

    PEMIMPIN AKHIR ZAMAN

    DIA BERADA DI SUMTRA UTARA

    CONTAC: 061-77959109

  8. ahh… i dont believe this sh**

    imam mahdi sendiri tu ga tau kalo dirinya imam mahdi.

    yg namanya orang ngaku2 imam mahdi di depan umum namanya juga penipu

    yg tau itu semua hanya Allah SWT, sehingga semua dikembalikan lagi kepadanya jika kita ga tau akan sesuatu hal yg pasti. bukannya al-qur’an udah jelas menerangkan?

  9. lihat apa yang disampaikanya… dan yang mengatakan siapa dirinya adalah pengikutnya,,, yang beriman kepdanya .. sedangkan yang disampaikanya tak lain hanyalah ..WAHYU YANG DIWAHYUKAN KEPADANYA sebagaimana pendahulunya,, saudaranya Muhammad Bin Abdullah.. beliau juga tak pernah mengatakan dirinya ahmad yang dikatakan Saudaranya Isa A,s dan tak pernah mengatakan aku seorang rasul atas kemaunya sendiri, melainkan yang di ucapakanya adalah WAHYU YANG DIWAHYUKAN..

    Aku ada pertanyaan kepada pemilik blog dan pembaca..
    1. apa yang akan disampaikan imam mahdi kepada kita?
    2. bagaimana caranya agar kita mengetahui imam mahdi yang mana orangnya bila dia sudah datang.. sedangkan dia tak boleh mengaku..?
    3. bagaimana caranya dia mengajak bersatu ?

    dari mana kita mengetahui bila dirinya sendiri tidak mengetahui dirinya imam mahdi.. jadi siapa manusia yang bisa berhubungan sama Allah SWT yang akan memberitahukan yang mana imam mahdi orangnya…

    bagaimana cara anda mengenal isa sebagai utusan Allah..
    bagaimana cara anda mengenal Muhammad Utusan Allah jika anda hidup dizamannya..

    bila anda tak percaya yang diutus Allah.. (imam mahdi) wajar saja .. para nabi dan rasul terdahulu juga didustai..

  10. Alhamdulillah, semua pertanyaan bapak Hariyanto sudah terjawabkan dalam buku ke-3 saya : Ramalan Imam Mahdi, terbitan Serambi.

    Silahkan Pak Hari baca buku tersebut, terimakasih atas kunjungannya.

  11. Kenapa sih kita selalu berbicara ahlul bait? suatu yang wajar kan manusia itu punya keluarga, tak terkecuali Nabi SAW sndiri?suatu yang wajar kan perjuangan itu membutuhkan pengorbanan?pengorbanan harta, jiwa raga dan keluarga?

    kalau mereka ahlul bait, yang bukan nabi sudah begitu dibangga-banggakan oleh para mazhab ahlul bait, bagaimana dengan para nabi yang banyak dibunuh oleh bangsa yahudi dahulu??nabi-nabi itu disiksa lebih sadis lagi hingga terbunuh melebihi kesadisan di padang karbala!
    coba….berpikir sedikit terbuka, objektif dalam memahami sejarah, terutama islam, agar kita tidak terjebak kedalam pemikiran yang sempit.

    yang diinginkan Islam adalah universalisme..Islam sebagai rahmatan lil alamin! yang diinginkan Allah adalah manusia yang paling takwa. bukan primordialisme, bukan kesukuan, bukan nepotisme, bukan kekeluargaan.

    Pahami, pahami, sekali lagi pahami Apa inti yg diinginkan oleh ISLAM..apa yg diinginkan Allah SWT! BUKAN apa yg diingini oleh muhammad sebagai pribadi, tapi apa yang diingini muhammad sebagai Rasulullah SAW!!

  12. Benar Pak Diens.
    Kita sudah terlalu lama dibelenggu oleh semua sekatan yang ada dalam beragama ini, mulai dari madzhab sampai kepada sekterianismenya. Setiap komunitas ini selalu mengaku bahwa merekalah pemilik kebenaran sejati, sedang orang diluarnya menganut konsep yang batil.

    Melalui buku saya yang ketiga, Ramalan Imam Mahdi, saya mencoba mengupas segala hal yang berkaitan dengan isu-isu tersebut dari sudut pandang kesejarahan yang obyektif. Meletakkan semua kefanatikan pada porsi yang seharusnya. Dibuku ini bapak bisa melihat bahwa saya mengkritisi konsepsi Imamiah ataupun kemaksuman para ahli bait yang sering diangkat dalam isyu-isyu komunitas Islam Syi’ah, sayapun mengkritisi konsepsi kejumudan komunitas Islam Sunni terhadap para sahabat Rasul. Saya mengajak semua kelompok untuk mulai menanggalkan keberhalaan ini menuju pada Islam yang sebenarnya, Islam yang bebas dari sekatan kesukuan, sekatan sekte atau madzhab yang senantiasa mendewa-dewakan / mensuci-sucikan hamba-hamba Allah tertentu secara berlebihan.

    Tidak dipungkiri, baik Ahli Bait Nabi atau para sahabat beliau merupakan orang-orang yang terhormat dan dekat terhadap beliau. Namun mari kita kembalikan ini pada fitrah asalnya. Semua penghormatan kita, semua pemuliaan kita terhadap mereka harus pada tempatnya. Kita telusuri semua dalil-dalil yang ada secara proporsional dan menghentikan mewariskan primordialisme sekatan dimasa lalu pada generasi yang akan datang.

    Ahli Bait Rasul terbantai dipadang Karbala, justru oleh komunitas serta dinasti orang-orang yang pernah bertemu dengan Nabi sendiri. Ini pantas disesali, pantas untuk dikecam serta pantas untuk didoakan balasan yang setimpal dari sisi Allah terhadap mereka. Tetapi ini bukan alasan untuk mendewakan Ahli Bait. Para Nabi juga banyak yang mengalami siksaan pada jamannya masing-masing, dan salam serta penghormatan kita juga pantas buat perjuangan mereka. Tidak perlu ada perbedaan disini.

    Terimakasih atas tanggapan bapak.

  13. to arman….sok jadi mujtahid lo.
    Mang kelimuan islam apa aja yang sudah anda kuasai.
    Trus dah HAPAL QUR-AN??
    TRUS HAPAL BERAPA RATUS RIBU HADITS????

  14. […] 52. Keutamaan Ahli Bait dan makna Shalawat Nabi […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: