Tentang Golput

Hukum Golput ?
Oleh : Armansyah 

Tanya :

Bagaimana pendapat anda terhadap sikap orang-orang yang tidak akan mencoblos no# manapun..alias GOLPUT, hal ini dilakukan karena sudah tidak percaya lagi kepada partai politik…

Jawab :

Hidup adalah sebuah pilihan.


Dalam ilmu komputer kita mengenal sistem Yes atau No, artinya kalau tidak benar maka pasti salah. Disitu tidak ada area yang abu-abu. Salah entry maka hasilnya Error, intinya dia harus tepat sesuai dengan validasi yang ditentukan.

Pemilu adalah juga sebuah pilihan.


Tetapi apakah tidak memilih juga merupakan bagian dari pilihan ?


Saya cenderung tidak sepakat. Karena ini menjadi satu bentuk keraguan sikap pada diri kita terhadap kenyataan yang berlaku. Bahwa ketidakpercayaan kita pada partai-partai politik yang menggunakan istilah “berjuang untuk rakyat” sudah menjadi satu rahasia umum dimasyarakat. Namun apakah kita benar-benar sudah melakukan analisa yang cukup komprehensif terhadap seluruh partai yang mengusung tema tersebut ? Jika benar, maka mana hasil analisanya secara faktual ? Kita bisa belajar dan mengkaji dari pengalaman yang sudah-sudah sebagai memontum yang baik untuk pembelajaran.

Dari hal yang paling buruk, saya tetap punya prinsip carilah yang paling baik darinya.
Artinya adalah memilih tetap menjadi pilihan dalam pemilu.

 

Pada dasarnya memilih yang terbaik bagi umat adalah salah satu hal yang penting bagi kita, sebagaimana sejarah telah berkata dimana misalnya Imam Ali -atas kemaslahatan bersama- akhirnya bersedia membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah meskipun menurut riwayat terkuat, hal itu baru dilakukannya 6 bulan kemudian atau tepatnya setelah istri beliau (Fatimah Az-Zahrah binti Muhammad Rasulullah) wafat.

Pelajaran lain kita lihat dari Imam Hasan, putera Imam Ali sendiri yang menyerahkan “mahkota Imamiahnya” secara suka rela ketangan Muawiyah yang terkesan haus dengan kekuasaan khilafah (walaupun akhirnya dirubahnya menjadi monarki), juga -atas kemaslahatan bersama- dan banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa menjadi pembelajaran buat kita dalam bertindak dikehidupan kita dewasa ini.

 

Prinsipnya, dari yang terburuk … cobalah ambil yang paling baik.
Saya pribadi menilai sikap abstain bukan solusi, kita tidak bisa berada dibawah sesuatu yang abu-abu.
Dalam komputer hanya ada 2 pilihan yang pasti dan harus dipilih, yaitu angka 0 dan 1, ya dan tidak.

Pilihan Ya atau Tidak yang saya maksud, bukan kepada Nyoblos atau Tidak Nyoblos.


Tindakan abstain dalam dunia komputer tidak ditemukan, begitupula dalam syariat Islam, karena abstain berarti sikap yang ragu-ragu, sementara pilihan itu sendiri mewajibkan ketetapan hati.

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. -Qs. 39 az-Zumar :18

Artinya : diantara yang paling buruk, pilihlah yang lebih sedikit keburukannya

Seyogyanya setiap dari kita ini adalah anak bangsa, dan karenanya meski dalam kapasitas paling minimal sekalipun, harusnya kita terpanggil untuk menjadi bagian dari sebuah proses perubahan menuju kepada perbaikan.

Saya pribadi selalu punya prinsip untuk memilih terlibat didalamnya daripada sekedar diam, menggerutu, mencaci atau malah mengamini keadaan yang sudah bobrok ini. Gagal dan berhasil memang akhirnya kembali kepada Tuhan, namun paling tidak saya akan menjadi sangat bangga dapat ikut berperan didalamnya. Walau  … dengan suara yang sayup-sayup tak terdengar. Saya InsyaAllah tidak akan ada diwilayah abu-abu tersebut sebab hidup adalah prinsip. Sementara kebenaran dan idealisme adalah sesuatu yang ada dalam prinsip tersebut.

Lalu bagaimana jika dengan memilih sebuah pilihan itu maka kedepannya pilihan kita sekarang ternyata salah? 

Kita tidak pernah tahu apa persisnya yang akan terjadi dihari depan, kita berijtihad yang terbaik dengan semua situasi dan kondisi saat ini dan berdasar apa yang kita ketahui hari ini. Jadi jika nextnya ada penyimpangan atau sejenisnya dari apa yang sudah kita pilih itu, maka jangan membebani diri dengan penyesalan. Setidaknya, pilihan kita dimasa lalu itu adalah yang terbaik dari semua pilihan yang ada pada masa itu. Selanjutnya kita bisa evaluasi khan ? dari evaluasi ini kita bisa merubah atau juga kembali memilih pilihan yang sama. Tapi jelas, harus ada pilihan sebab itu sebuah konsekwensi logis. Tidak ikut memilih artinya membiarkan hal yang paling buruk untuk tampil dan terjadi. Ini ilmu probabilitas sederhana, anda semua pasti paham maksud dan arah tulisan ini.

Umar bin Khatab juga pernah berkata :

“Tidak ada salahnya anda mengkaji ulang secara rasio serta mempertimbangkannya berdasarkan pengetahuan anda terhadap keputusan yang telah anda putuskan pada hari ini untuk mencapai suatu kebenaran. ; Karena sesungguhnya kebenaran itu sudah ada sejak dahulu, sementara kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada berkepanjangan dalam suatu kesalahan.” (Dikutip dari buku : “Fatwa dan Ijtihad Umar bin Khatab” terbitan Risalah Gusti)

 Andai nih ya kita sekedar bicara-bicara saja … ada partai A, partai B, partai C dan partai D. Semua pasti bicara soal rakyat, kepentingan umat dan semacamnya secara kampanye pemilu-lah gitu ya. Nah, partai A adalah partai Islam, partai B juga Islam, partai C nasionalis, sementara partai D itu partai agama lain (non muslim). Dalam sebuah putaran, partai B ternyata kalah suara, begitu juga partai D. Lalu terbentuklah koalisi, dimana partai C yang nasionalis berkoalisi dengan partai D yang non muslim. Mereka jadi besar dan dibuatlah perjanjian kerjasama untuk menyusun kabinet, presiden dan wapresnya berdasar win-win solution. 

Tapi yang jelas komposisinya ada orang-orang non muslim yang akan memegang jabatan strategis tertentu dipemerintahan ini, apabila, andaikata dan umpamanya saja kita yang terlalu arogan ini dalam memandang agama lalu memutuskan golput, di-ikuti juga oleh banyak massa yang berhasil kita pengaruhi untuk golput juga. Sementara partai D dengan isyu sentimen keminoritasan mereka dinegeri ini justru berhasil menggaet massa dari komunitas mereka untuk memilih partai D yang sudah berkoalisi dengan C tadi.

Bisa dipastikan partai A dan B akan kekurangan suara dan partai C yang sudah berkoalisi dengan partai D inilah pemenangnya. Nextnya apa ? orang-orang nasionalis yang bisa saja terdiri dari Islam abangan, yaitu mereka yang cuma ktp-nya saja Islam tetapi sama sekali tidak perduli dengan agama mereka didukung oleh kaum minoritas yang sudah menguasai kabinet dan parlemen bisa merubah banyak hal dimasyarakat yang konon mayoritas Islam ini.

Bayangkan, akan keluar keputusan pelarangan pendirian masjid baru, pelarangan memakai jilbab oleh instansi tertentu dan wilayah tertentu diperbolehkan, kristenisasi sangat didukung, pelecehan simbol-simbol holistik Islam tidak dianggap sebagai suatu penodaan agama dan seterusnya dan sebagainya. Lalu apa bisa kita sebagai rakyat ? memberontak ? Berdebat diparlemen jelas kalah suara, karena memang pendukung partai A dan B sedikit.

Akhirnya … mau tidak mau negara ini yang komunitas muslimnya besar, harus tunduk dibawah kaki umat lain yang mayoritas diparlemen dan kabinet.

Siapa yang ikut berdosa ?

Silahkan renungkan kembali bagi penganut golput dari kalangan muslim, keputusan anda, kelak akan ditanya Allah. Pikirkan umat ini lebih luas, jangan cuma sentimen pribadi atau kesempitan berpikir dan berpaham anda saja.

Sunan Abu Daud 2242: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ajlan, dari Nafi’, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila terdapat tiga orang dalam sebuah perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” Nafi’ berkata; kemudian kami katakan kepada Abu Salamah; maka engkau adalah pemimpin kami. 

Advertisements

2 Responses

  1. […] Tanggal 04 September 2008 adalah hari Pilkada Sumsel u/. Gubernur dan Wakil Gubernur 2008-2013 Jangan Golput … simak artikelnya di : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/10/tentang-golput/ […]

  2. […] 17. Tentang Golput (Wajibnya memilih pemimpin dalam pemilu) […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: