Niat untuk sholat

Pertanyaan :

Apakah kita memang harus melafaskan niat sebelum melakukan sebuah perbuatan ibadah, khususnya sholat ?

Banyak orang yang mengatakan bila mengucapkan usholli fardhu … sebelum menunaikan sholat adalah perbuatan bid’ah. Bagaimana sebenarnya masalah ini menurut anda ?

Jawab :

Pada hakekatnya, niat itu letaknya ada pada gerakan hati saat akan melakukan suatu aktivitas. Pada waktu kita hendak makan, tentunya niat kita adalah untuk makan dengan semua proses yang menyertainya. Begitupun pada waktu kita hendak menunaikan sholat tertentu, niatnya pasti akan tertuju pada sholat tertentu itu. Entah apakah itu sholat wajib seperti Subuh, Dzhuhur, Ashar, Maghrib atau Isya maupun sholat sunnah semacam Istikharoh, Tahajjud, Sholat Masjid, Witir, Tarawih, Dhuha, Qobliyah dan Ba’diyah serta lain sebagainya.

Ditinjau dari sunnah, maka saya belum menemukan dalil dari Nabi Saw tentang adanya keharusan melafaskan niat sebelum memulai sebuah sholat. Memang sejumlah pihak merujuk pada “kesepakatan” sejumlah ulama dalam melakukannya. Akan tetapi tetap saja ini menurut saya tidak dapat membenarkan tindakan kita terhadap perbuatan tersebut.

Untuk lebih obyektifnya, mari kita lihat dulu pendapat-pendapat tersebut yang saya akan ambil dari situsnya Nahdlatul Ulama (NU) : http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=11533

Melafalkan Niat dalam Shalat
12/02/2008

Sebenarnya tentang melafalkan atau mengucapkan niat, misalnya membaca “Ushalli fardla dzuhri arba’a raka’atin mustaqbilal kiblati ada’an lillahi ta’ala” (Saya berniat melakukan shalat fardlu dzuhur empat rakaat dengan menghadap kiblat dan tepat pada waktunya semata-mata karena Allah SWT) pada menjelang takbiratul ihram dalam shalat dzuhur adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan di kalangan warga NU (nahdliyin). Tetapi sepertinya menjadi asing dan sesuatu yang disoal oleh sebagian kalangan yang tidak sepemahaman dengan warga nahdliyin.

Adapun hukum melafalkan niat shalat pada saat menjelang takbiratul ihram menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’iy (Syafi’iyah) dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hambal (Hanabilah) adalah sunnah, karena melafalkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk mengingatkan hati sehingga membuat seseorang lebih khusyu’ dalam melaksanakan shalatnya.

Jika seseorang salah dalam melafalkan niat sehingga tidak sesuai dengan niatnya, seperti melafalkan niat shalat ‘Ashar tetapi niatnya shalat Dzuhur, maka yang dianggap adalah niatnya bukan lafal niatnya. Sebab apa yang diucapkan oleh mulut itu (shalat ‘Ashar) bukanlah niat, ia hanya membantu mengingatkan hati. Salah ucap tidak mempengaruhi niat dalam hati sepanjang niatnya itu masih benar.

Menurut pengikut mazhab Imam Malik (Malikiyah) dan pengikut Imam Abu Hanifah (Hanafiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya sendiri). Menurut penjelasan Malikiyah, bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir menyalahi keutamaan (khilaful aula), tetapi bagi orang yang terkena penyakit was-was hukum melafalkan niat sebelum shalat adalah sunnah. Sedangkan penjelasan al Hanafiyah bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir adalah bid’ah, namun dianggap baik (istihsan) melafalkan niat bagi orang yang terkena penyakit was-was.

Sebenarnya tentang melafalkan niat dalam suatu ibadah wajib pernah dilakukan oleh Rasulullah saw pada saat melaksanakan ibadah haji.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً


Dari Anas r.a. berkata: Saya mendengar Rasullah saw mengucapkan, “Labbaika, aku sengaja mengerjakan umrah dan haji”.” (HR. Muslim).

Memang ketika Nabi Muhammad SAW  melafalkan niat itu dalam menjalankan ibadah haji, bukan shalat, wudlu’ atau ibadah puasa, tetapi tidak berarti selain haji tidak bisa diqiyaskan atau dianalogikan sama sekali atau ditutup sama sekali untuk melafalkan niat.

Memang tempatnya niat ada di hati, tetapi untuk sahnya niat dalam ibadah itu disyaratkan empat hal, yaitu Islam, berakal sehat (tamyiz), mengetahui sesuatu yang diniatkan dan tidak ada sesuatu yang merusak niat.  Syarat yang nomor tiga (mengetahui sesuatu yang diniatkan) menjadi tolok ukur tentang diwajibkannya niat. Menurut ulama fiqh, niat diwajibkan dalam dua hal. Pertama, untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat), seperti membedakan orang yang beri’tikaf di masjid dengan orang yang beristirah di masjid. Kedua, untuk membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah lainnya, seperti membedakan antara shalat Dzuhur dan shalat ‘Ashar.

Karena melafalkan niat sebelum shalat tidak termasuk dalam dua kategori tersebut tetapi pernah dilakukan Nabi Muhammad dalam ibadah hajinya, maka hukum melafalkan niat adalah sunnah. Imam Ramli mengatakan:

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ


Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (shalat) agar mulut dapat membantu (kekhusyu’-an) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat“. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Jadi, fungsi melafalkan niat adalah untuk mengingatkan hati agar lebih siap dalam melaksanakan shalat sehingga dapat mendorong pada kekhusyu’an. Karena melafalkan niat sebelum shalat hukumnya sunnah, maka jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Adapun memfitnah, bertentangan dan perpecahan antar umat Islam karena masalah hukum sunnah adalah menyalahi syri’at Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

H.M.Cholil Nafis, MA.
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU


Sekarang yang sangat perlu digarisbawahi adalah kalimat ini : Menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’iy (Syafi’iyah) dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hambal (Hanabilah) adalah sunnah

Jadi poinnya bukan menurut Rasul tetapi hanya menurut kesepakatan sejumlah ulama saja dengan argumentasi ABCD-nya. Apabila kita kembalikan pada Rasul, maka kesepakatan ini tidak pernah ada dan diperbuat oleh beliau Saw. Ini bila kita mau mengembalikan dulu dasar hukumnya.

Dalam agama, ada kriteria khusus dan umum.
Dalam hal niat sholat, saya rasa Nabi tidak mungkin meninggalkan penjelasan serta contohnya bila memang itu dianggap sangat perlu. Apalagi sholat adalah amalan utama yang akan dihisab nantinya. Bahkan Nabi mengatakan untuk sholatlah seperti beliau sholat.

Jadi, pengkiasan ibadah haji terhadap sholat menurut hemat saya tidak tepat. Karena ini secara tidak langsung akan menjatuhkan hujjah bila Nabi telah lalai dalam memberi teladan atau petunjuk untuk syariat yang sangat penting.

Disini kita bicara soal status hukum dari perbuatan yang berdasarkan pada Nabi Saw. Menjadi lebih pelik karena perbuatan itu adalah sholat. Yaitu satu ibadah wajib yang sangat fundamental sekali dalam agama kita.

Karena Nabi sudah memberikan wasiat : Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat, maka seluruh globalitas maupun bentuk pengkiasan hukum-hukum dan perbuatan lain diluar itu, praktis menurut saya tidak dapat digunakan terhadap sholat. Istilah sederhananya, selama hal-hal yang berkaitan dengan sholat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi sendiri maka saya akan cenderung menghindarinya. Termasuklah dalam hal ini adalah pelafasan niat Usholli bla-bla-bla itu.

Jika ada teman-teman yang mau menggunakannya, silahkan saja sesuai dengan ijtihad masing-masing.

Diluar hal-hal yang memang sudah ditentukan seperti ini maka saya relatif akan lebih berani dalam melangkah, misalnya mengenai kasus Hisab dan Rukyat. Disini saya memilih metode hisab dengan alasan-alasan yang InsyaAllah panjang lebarnya bisa dibaca juga pada buku “Ramalan Imam Mahdi”. Kebetulan saya punya satu bahasan yang melibatkan konsep ijtihad terhadap hisab dan rukyat dalam bahasan tersebut.

Advertisements
%d bloggers like this: