JILBAB

JILBAB
OLEH : ARMANSYAH

Jilbab, istilah ini sebenarnya tidak dikenal dalam kitab suci al-Qur’an, Jilbab dalam arti penutup kepala hanya dikenal di Indonesia. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman.

Kemungkinan besar istilah Jilbab dalam bahasa Indonesia ini merupakan bentuk turunan dari kata Jalabi yang memang bersumber dari tekstual al-Qur’an sebagaimana berikut :

Jilbab

Wahai Nabi, perintahkanlah istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan Mukminin agar mengulurkan “jalabinya” atas mereka. Yang demikian itu agar lebih mudah dikenal dan mereka tidak diganggu; adalah Allah begitu pengampun dan penyayang. – Qs. 33 al-Ahzaab 59

Jalabi secara harfiah berarti pakaian luar yang bisa dan biasa digunakan untuk menutupi tubuh (kulit), dengan demikian sebuah pakaian, baik berupa terusan maupun non terusan sebagaimana bisa kita dapatkan variasi dan modelnya dalam kehidupan modern kita sehari-hari sekarang ini selama masih bersifat menutupi permukaan kulit tubuh maka pada dasarnya sudah bisa disebut sebagai Jalabi (jilbab) sebagaimana terjemahan harfiahnya.

Dalam terjemahan al-Qur’an karya Abdullah Yusuf Ali yang merupakan terjemahan berbahasa Inggris paling termasyhur di kalangan Muslim dan menjadi acuan di masjid-masjid maupun di setiap rumah keluarga Muslim di Barat (juga di Indonesia) dan barangkali merupakan karya kesarjanaan Muslim dengan tingkat sirkulasi tertinggi sepanjang abad kedua puluh telah menterjemahkan kata Jalabi pada ayat tersebut sebagai garments atau baju luar.

O Prophet! Tell thy wives and daughters, and the believing women, that they should cast their outer garments over their persons (when abroad):

O prophet, tell your wives, your daughters, and the wives of the believers that they shall lengthen their garments.

Namun bisa menjadi berbeda apabila anda merujuk kata Jalabi pada ayat tersebut dalam terjemahan al-Qur’an versi Departemen Agama Republik Indonesia :

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.

Kalimat pada ayat ini digabung dengan pemahaman dan sama sekali tidak ada pembatas mana terjemahan yang memang merupakan arti kata dan mana yang bukan atau sebagai kata tambahan.

Sedang dalam Tafsir al-Furqonnya, A. Hassan meski memang tidak terlalu tepat namun beliau masih memberikan tanda pembatas kurung sebagai tanda bahwa ada beberapa kata tambahan yang tidak berasal dari teks arab al-Qur’an :

Hai Nabi ! Suruhlah istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan perempuan-perempuan Mukminin mengulurkan jilbab mereka atas (muka-muka) mereka….

Dalam perbandingan terjemahan al-Qur’an pada beberapa literatur lain yang saya miliki, bisa dijumpai juga beberapa perbedaan lainnya, misal :

Dalam terjemahan al-Qur’an berbahasa Melayu karya Tuan Othman Ali (Kuala Lumpur – Malaysia) :

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri kamu, dan anak-anak perempuan kamu, dan perempuan-perempuan mukmin, supaya mereka merapatkan penudung mereka pada mereka;

Dalam terjemahan al-Qur’an versi jemaah Ahmadiyah (berbahasa Inggris) :

O Prophet ! tell thy wives and thy daughters, and the women of the believers, that they should pull down upon them of their outer cloaks from their heads over their faces.


Fakta bahwa untuk istilah Jalabi pada ayat ke-59 surah al-Ahzaab saja nyata ada banyak pemahaman … celakanya pemahaman masing-masing justru merasuk dalam penterjemahan al-Qur’an yang ada sehingga jika dilihat secara obyektif, nyaris tidak bisa didapatkan penterjemahan ayat al-Qur’an dalam bahasa Arab yang benar-benar bersih dari pentafsiran atau penambahan kata.

Bahwa seperti yang bisa kita lihat bersama, ada yang menterjemahkan Jalabi diayat 59 surah ke-33 al-Ahzaab itu sebagai penudung (tutup kepala) saja, ada juga yang menterjemahkannya sebagai penutup muka mulai rambut hingga wajah (jilbab-cadar), ada juga yang menterjemahkannya sebagai baju luar yang panjang (garments) dan sebagainya.

Dalam membahas masalah ini, saya tidak ingin berpolemik yang tak berkesudahan dan sayapun tidak sedang dalam posisi memberikan penilaian ini loh penterjemahan yang benar atau ini loh penterjemahan yang salah saat merujuk berbagai terjemahan diatas, saya hanya ingin menampilkan data secara obyektif semata dan anda semua bisa ikut andil melakukan kajian didalamnya, sehingga apa yang saya sampaikan ini bisa mengantarkan pada satu pemahaman sebagaimana mestinya.

Dalam tekstual asli yang ada pada Qur’an Surah 33 al-Ahzaab ayat 59 juga sama sekali memang tidak disinggung seberapa panjangnya atau apa-apa saja yang harus dilingkupi oleh jalabi itu sendiri, sehingga makna atau tafsir dari Jalabi masih sangat bisa diperluas … misalnya wanita yang berpakaian feminim dengan rok sebatas lutut atau juga berpakaian lengkap dari baju hingga celana dan rok panjangnya namun semuanya transparan (membayangkan lekuk tubuh) …. ini pun tetap masuk dalam kategori Jalabi yang berarti pakaian penutup kulit tubuh (meski pada hakekatnya tidak menutupinya dari penglihatan).

Untuk itu kita bisa melihat lebih jauh pada surah ke-24 yaitu an-Nuur ayat 31 :

Ayat Jilbab

Dan perintahkanlah Mukminat agar menundukkan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluan mereka; dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (ziinatahunna) melainkan apa yang tampak diluar darinya ; dan hendaklah mereka menutupi dadanya (khumurihinna) … – Qs. 24 an-nuur 31

Menarik sekali, sebab ayat diatas dimulai dengan perintah kepada kaum wanita untuk mau menundukkan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka … bahwa saya tidak memahami ayat diatas sebagai sebuah command buat kaum hawa agar selalu berjalan dengan menunduk-nundukkan kepala setiap bertemu dengan laki-laki yang akhirnya bisa disalah tafsirkan sebagai bentuk pengekangan ataupun mendistriminasikan mereka dari lingkungan masyarakatnya….. namun lebih pada sikap santun dalam bergaul dan bersikap dengan memperhatikan tatanan norma kesusilaan standar.

Lihatlah kembali perintah menundukkan pandangan berkaitan dengan menjaga kemaluan … kita tahu yang disebut dengan kemaluan bukanlah hanya sebatas aurat-aurat phisik tertentu (maaf : tegasnya sekwilda dan sekwilpa) akan tetapi juga mencakup pada sikap mental secara batiniah, sadar bahwa dalam hidup ini tidak hanya ada diri kita sendiri dan tidak pula hanya ada satu jenis kelamin tunggal …ada orang lain dalam komunitas kita dan mereka bervariasi, ada yang jenis kelaminnya sama dengan kita dan ada juga yang berbeda, karena itu dibutuhkan satu etika peradaban yang normatif dalam pergaulan hidup sehingga tercipta kemaslahatan bersama.

Dari Salim bin Abdullah dari ayahnya : Sesungguhnya Nabi Saw berjalan melewati seorang lelaki Anshar yang sedang mencela saudaranya karena pemalu; maka Rasulullah Saw berkata kepadanya : “Biarkanlah, karena malu itu sebagian dari keimanan” – Hadis Riwayat Bukhari

Saya melihat betapa Islam sangat mengajarkan adanya keserasian yang indah dari keterpaduan antara malu secara jasmani dan malu secara rohani, diayat ke 31 surah an-Nuur juga ditemukan perintah agar kaum wanita tidak menampakkan perhiasannya (ziinatahunna) selain apa-apa yang biasa tampak dari luar.

Perhiasan artinya sesuatu yang bisa dan biasa diperlihatkan kepada orang lain serta bisa membuat orang yang memiliki perhiasan ini menjadi bangga atau malah angkuh.

Tubuh yang indah, bagus … body guitar, dada yang bidang, kekar (dan sedikit berbulu mungkin) juga termasuk dalam kategori perhiasan, sama misalnya dengan gelang, kalung, cincin, mobil, handphone … itupun merupakan perhiasan.

Nah, menurut ayat 31 an-Nuur .. perhiasan itu disebut dengan istilah ziinatahu … sekali lagi menarik, secara kasar dan terjemahan bebas, kata zina merujuk pada sebuah perbuatan yang didasarkan atas hawa nafsu dan menyimpang dari nilai dan tuntunan norma maupun etika kebenaran…. jika perhiasan di-identikkan sebagai zinah maka artinya perhiasan sebenarnya sudah di-identifikasikan oleh Tuhan sebagai sesuatu hal yang bisa membuat orang berperilaku menyimpang, karenanya perlu ada upaya meminimalisirnya.

Saya katakan meminimalisir sebab memang tidaklah mungkin meniadakannya … sama seperti perintah Sholat … itu khan sebenarnya bertujuan agar kita tidak berlaku keji dan mungkar … padahal keji dan mungkar adalah salah satu sifat alamiah manusia sebagaimana juga berbuat baik dan benar, apalagi dalam ayat lain disebutkan kedua sisi perbuatan yang saling berlawanan ini sudah dibakukan sebagai standar insaniah.

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan. -Qs. 91 asy-Syams : 8

Jadi semua perintah agama, mulai dari sholat hingga berpakaian .. pijakan dasarnya adalah untuk meminimalisir unsur-unsur negatip (kefasikan atau kekafiran tadi) mencuat kepermukaan dan mendominasi diri manusia yang bisa mengantarkannya pada kecelakaan atau kemudharatan.

Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah 2:276

Dengan demikian secara sederhana dan gampang saya menjawab berbagai pertanyaan klasik seperti : mengapa orang Islam harus sholat … mengapa harus berjilbab … mengapa harus puasa … mengapa harus haji … mengapa dan mengapa lainnya itu dengan kalimat : meminimalisir tindakan negatip baik itu yang muncul dari dalam diri kita sendiri maupun dari lingkungan sekitar.

Sekarang kembali lagi pada pembahasan ….. ziinatahu yang bagaimana yang disebut biasa diperlihatkan menurut Qs. 24 an-nuur 31 tadi ? Tentunya perhiasan yang memang tidak akan bisa ditutupi atau dihalangi bentuknya meskipun pada prinsipnya semua itupun tetap bisa menimbulkan perbuatan mudharat.

Misalnya : suara …bagaimana kita bisa menutupi suara yang keluar dari pita suara kita ini … lalu telapak tangan …tidak mungkin seorang wanita harus selalu mengenakan sarung tangan sepanjang waktu … wajah (mulai dari kening, alis, mata, hidung, pipi, bibir, dagu) … ya ini juga … tidak mungkin seorang wanita ditutupi wajahnya seperti mumminya Firaun di Mesir … lalu bagaimana dengan rambut itu sendiri ?

Sebelum menjawabnya, mari terlebih dahulu kita teruskan sedikit ayat ini

… dan hendaklah mereka menutupi dadanya (khumurihinna) … – Qs. 24 an-nuur 31

Kata khumuri merupakan bentuk plural (jamak) dari khimar yang artinya kerudung atau penutup, dan secara bebas bisa diambil persamaan dengan taplak meja yang digunakan untuk menutupi permukaan meja … sejumlah pihak berpendapat juga bila kata ini masih satu rumpun dengan kata khamar (tuak) yang bersifat menutupi akal pikiran hingga tidak bisa berpikir secara benar.

Sedangkan kata juyub (lanjutan ayat tadi) merupakan bentuk plural dari dari kata jaib yang artinya adalah ash-shadru (dada). Jadi kalimat ayat ini intinya : hendaklah mereka menutupkan penutup itu ke dadanya.

Disini kita bisa mulai melakukan tafsir silang (bukan terjemahan silang) antara Qs. 24 an-nuur 31 dengan Qs. 33 al-Ahzaab 59, yaitu kata Jalabi yang memiliki makna baju luar penutup kulit haruslah juga bisa menutup dada dan kemaluan wanita lainnya dengan tidak bersifat transparan sehingga Jalabi itu benar-benar berfungsi selaku pakaian yang menutupi perhiasan yang ada kecuali yang memang tidak mungkin bisa ditutupinya.

Menarik bila kita mencoba juga melihat latar belakang turunnya perintah berhijab ini :

Al-Allamah Ibnu Katsir di dalam tafsirnya berkata : “Perempuan pada zaman jahiliyah biasa melewati laki-laki dengan keadaan telanjang dada tanpa ada selimut sedikitpun. Bahkan kadang-kadang mereka memperlihatkan lehernya untuk memperlihatkan semua perhiasannya”.

Sementara itu Imam Zarkasyi memberikan komentarnya mengenai keberadaan perempuan pada masa jahiliyah: “Mereka mengenakan pakaian yang membuka leher bagian dadanya, sehingga tampak jelas seluruh leher dan urat-uratnya serta anggota sekitarnya. Mereka juga menjulurkan kerudungnya mereka ke arah belakang, sehingga bagian muka tetap terbuka. Oleh karena itu, maka segera diperintahkan untuk mengulurkan kerudung di bagian depan agar bisa menutup dada mereka”.

Pakaian yang memperlihatkan dadanya ini pernah dilakukan Hindun binti Uthbah ketika memberikan semangat perang kaum kafir Mekah melawan kaum muslim pada perang Uhud. Dan ini biasa dilakukan perempuan jahiliyah lainnya dalam keterlibatannya berperang untuk memberikan semangat juang (Jahiliah jaman kita sekarang ini kira-kira semacam cheerleader lah ).

Dengan demikian ayat itu memang lebih banyak bermaksud untuk membedakan antara wanita Mukminah dengan wanita Jahiliyah, dimana jika wanita jahiliyah selalu mempertontonkan dadanya -payudara untuk tegasnya- baik secara samar (dengan pakaian tipis, transparan, ketat hingga yang sangat vulgarnya) maka wanita Mukminah yaitu kaum wanita yang sudah taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang notabene merupakan kumpulan orang-orang terdidik secara etika dan moralitas (hablumminannas dan hablumminallah) diwajibkan untuk tampil sopan, anggun dan penuh wibawa dengan jalan tidak mempertontonkan payudara mereka -terutama- kepada orang yang memang tidak berhak memandangnya.

Masih uptodate-kah perintah Allah berhijab ini dijaman modern kita sekarang ?

Saya jawab : masih teramat sangat uptodate … lihat dan bedakan sendiri secara realitasnya mana wanita berwatak baik-baik, lembut dan feminim dengan wanita bercorak jahiliyah … yang satu selalu berpakaian anggun dan santun … yang lainnya malah sibuk mempertontonkan paha, dada dan pusar.

Kasarnya : yang satu jinak dan alim yang lainnya liar dan binal.

Lalu kembali lagi kita pada pertanyaan klasik : apakah rambut termasuk hal yang harus ditutupi ?

Saya akan bertanya balik kepada anda … adakah diayat 31 surah an-Nuur dan surah al-Ahzaab ayat 59 disebutkan batasan berbaju luar (jalabi) ? Tidak … kedua ayat ini malah membuka dua penafsiran … yaitu satu : yang penting menutupi area dada (dan aurat bawah saja : artinya boleh berbaju atau bercelana pendek selama tidak memperlihatkan keduanya)…. dan yang lainnya … asal tidak transparan saja.

Sekarang mari kita lihat dulu informasi yang ada secara obyektif :

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud diceritakan juga bahwa Asma putri dari Abu Bakar pernah masuk kerumah Nabi dan dia memakai pakaian yang tipis, maka Nabi berpaling darinya seraya berkata: ” Wahai Asma sesungguhnya perempuan itu kalau sudah mencapai umur baligh (dewasa) tidak boleh kelihatan kecuali ini dan ini (beliau menunjukan ke muka dan tangannya).”

Hadis ini jelas memperlihatkan batasan dan ruang lingkup Jalabi dan Khumuri pada ayat 31 surah an-Nuur dan surah al-Ahzaab ayat 59, yaitu yang harus ditutup itu meliputi, kepala hingga seluruh tubuh (otomatis dada termasuk yang harus ditutupi).

Dalil lainnya juga terdapat dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi SAW tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi SAW kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya :

“Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.”(HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, dengan sanad hasan. Dikeluarkan oleh Adh-Dhiya’ dalam kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, Juz I hal. 441) (Al-Albani, 2001 : 135).

Qibtiyah adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah SAW mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau bersabda : “Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu.”

Dengan demikian kedua hadits ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwasanya telah cukup jelas apa saja yang harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit. Atas dasar inilah maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di baliknya.

Dalam sebuah kajian lintas agama … perintah menutup rambut bagi wanita bisa kita jumpai dalam kitab 1 Korintus ayat 5 s/d 13 :

Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.

Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.

Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? – 1 Cor 5 – 13 (Sumber : Software e-Sword ITB, bisa didownload di http://www.e-sword.net)

Lebih menarik lagi, apa yang ada dalam kitab 1 Korintus ayat 5 dan 13 khususnya, bersesuaian pula dengan salah satu hadis berikut :

Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Saw bersabda : “Allah tidak menerima sholatnya wanita yang sudah baligh kecuali dengan memakai kudung” – Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud)

Lalu pernah ada sanggahan dari mereka yang anti dengan jilbab dan sebagian juga dari mereka yang anti hadis … bahwa hadis-hadis seputar menutup rambut wanita hanya buatan ulama yang terpengaruh oleh isi 1 Korintus tersebut diatas dan karenanya tidak boleh dijadikan dasar argumentatif (misalnya lihat : http://kiblat.blogspot.com/ dalam topiknya : Pakaian Wanita Islam (bukan kerudung) )

Buat saya … sebagai orang yang berusaha belajar untuk mau berpikiran terbuka dan obyektif …. darimanapun datangnya bila didalamnya ada nilai-nilai kebenaran yang bisa diterima dan disesuaikan dengan ajaran al-Qur’an … maka saya akan menerimanya.

Saya bukan orang yang alergi dengan alkitabnya umat Kristen, sayapun bukan orang yang fanatik dengan hadis meski saya bukan orang yang anti hadis dan sama seperti saya tidak pernah merasa alergi untuk mempelajari buku-buku ilmu pengetahuan tentang apapun hasil penelitian maupun tulisan orang-orang non-Muslim … ilmu Allah ada dimana-mana … jangan terlalu picik dalam memahami kebenaran … ilmu dan kebenaran Allah itu tidak hanya terangkum dalam kitab al-Qur’an yang 30 djuz itu saja … ilmu Allah terlalu banyak dan luas untuk bisa dirangkum dalam kitab suci …

Katakanlah : Jika laut menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, pasti akan habis laut itu sebelum usai kalimat-kalimat Tuhanku (tertulis), meskipun (lalu) kita datangkan tambahan (laut) sebanyak itu juga ! – Qs. 18 al-kahf : 109

Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Kita memang sering meninggalkan konsep obyektifitas dalam mempercayai dan memegang suatu dogma tertentu, tidak heran jika banyak orang memandang Islam itu sempit, picik dan agama masa lalu yang penuh ketertinggalan … Padahal ini bisa kita kembalikan pada hakekat Islam itu sendiri selaku Rahmatan lil’alamin …yaitu Islam yang sangat menerima nilai-nilai kebenaran universal…tinggal lagi kembali pada kitanya seperti apa memahami keuniversalan Islam itu …apakah masih dalam taraf semi-universal atau memang sudah pada tahapan yang benar-benar menjadi Rahmat bagi semua makhluk.

Toh secara dogmatis, mempelajari alkitab bukan perbuatan terlarang dan bertentangan dengan al-Qur’an … malah beberapa ayat al-Qur’an memberikan isyarat kepada kita untuk mau melakukan kajian secara komprehensif dalam rangka membuktikan kebenaran isi al-Qur’an itu sendiri (lihat Qs. 10 Yuunus : 94 ; Qs. 17 al-Israa : 101 ; Qs. 21 al-Anbiya : 7 ; Qs 2 al-Baqarah : 211).

Tidak semua informasi yang ada didalam alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) bertentangan dengan kebenaran al-Qur’an … masih cukup banyak jejak-jejak Tuhan didalamnya yang bisa digali lebih jauh.

Sehingga akhirnya saya akan mengatakan sekali lagi kepada mereka yang anti dengan jilbab dan sebagian juga dari mereka yang anti hadis bahwa pernyataan mereka tentang hal ini sangat tertolak dan tidak memiliki dasar yang kuat….

Logika lain yang bisa ditarik mengenai Jalabi dan batasan-batasannya … perhatikan ayat ini :

Ayat Jilbab 3

Dan wanita yang sudah menopause (putus haidhnya -tua-) maka tidak terlarang bagi mereka untuk membuka pakaian mereka selama tidak menampakkan perhiasan ; namun berlaku sopan jauh lebih baik untuk mereka… – Qs. 24 an-nuur 60

Diayat ini ada disebutkan bolehnya wanita yang sudah menopause membuka pakaian luarnya …

Sekarang … bila istilah khumuri dan Jalabi tidak ditafsirkan sebagai kerudung kepala … apakah artinya wanita-wanita yang tergolong dalam surah an-Nuur ayat 60 diatas boleh membuka pakaian luar mereka (dalam arti baju atau celana) kepada siapapun ? Bukankah ini menjadi sangat menggelikan sekali jadinya … ayat ini sekali lagi membicarakan juga keterlarangan terhadap penampakan perhiasan … kecuali ya yang itu tadi … silahkan dibuka pakaian (penutup kepala) namun jangan sampai terlalu vulgar jadinya … bagaimanapun Allah lebih suka mereka tetap berlaku sopan … kira-kira … ya bersongkoklah paling minimal.

Sebenarnya konsep hijab bukanlah ‘milik’ Islam seorang. Dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah dikenal beberapa istilah yang semakna dengan hijâb seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani juga ditemukan istilah semakna. Misalnya istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat.

Konsep hijâb dalam arti penutup kepala sudah dikenal sebelum adanya agama-agama Samawi (Yahudi dan Nasrani). Bahkan pakaian seperti ini sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Ketentuan penggunaan jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. (Kompas, 25/11/02)

Tradisi penggunaan kerudung pun sudah dikenal dalam hukum kekeluargaan Asyiria. Hukum ini mengatur bahwa isteri, anak perempuan dan janda bila bepergian ke tempat umum harus menggunakan kerudung. Dan kalau merunut lebih jauh mengenai konsep ini, ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, maka persoalan pertama yang mereka alami adalah begaimana menutup kemaluan mereka (aurat) (QS. Thaha/20: 121).

Disisi lain, pemakaian Jalabi dalam tafsiran Jilbab (tutup kepala) didalam Islam pun bukanlah berlaku secara “membabi-buta” …

Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata,’Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka Rasulullah Saw menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!”(Muttafaqun ‘alaihi).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, Juz I hal. 388, mengatakan : “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar [rumah] jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).

Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah Swt telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu ‘Athiah RA di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab –untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)—maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi SAW tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.

Demikianlah …

Aku berikan pakaian berwarna-warni kepadamu dan memberikan kepada engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala lenan halus dan selendang dari sutera. – Perjanjian Lama : Kitab Yehezkiel 16:10

Semoga bisa memberikan pemahaman lebih baik …

Tulisan-tulisan disini beberapa bagiannya saya kutip dari berbagai sumber untuk melengkapi referensi.

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. -Qs. 16 an-Nahl :125

Dan melihatlah orang-orang yang diberi ilmu itu bahwa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah hal-hal yang benar (logis) serta memberi petunjuk kepada tuntunan yang Maha Kuasa dan Maha Terpuji. – Qs. 34 Saba’ : 6

Dan akan kamu ketahui kenyataan kabarnya sesudah waktunya tiba – Qs. 38 Shad : 88

Advertisements

Tanya Jawab Pernikahan Poligami

Seorang laki-laki secara hitam putih hukumnya sah menikah tanpa izin siapapun, baik itu istri pertama atau orang tuanya sendiri.
Akan tetapi menyangkut poligami maka ada aturan main lain yang mengikatnya, yaitu dia harus mampu berbuat adil dan dengan alasan yang bisa dibenarkan oleh Islam.

Poligami sekali lagi adalah salah satu hal yang diperbolehkan didalam Islam, namun kita juga harus proporsional dalam menyikapi kata “diperbolehkan” disini … sehingga derajat dan martabat wanita tidak dipermainkan dengan mudah hanya dengan berkata : ” Eh, Islam itu boleh loh poligami … sampai empat malah … jadi semau gue dong … kalo eloe nggak mau gue kawin lagi ya eloe berdosa, sebab eloe nentang Tuhan ” atau kalimat ” poligami itu sah loh, malah sunnah Nabi … istrinya aja banyak …jadi boleh dong kita niru beliau …” … itulah sedikit kalimat yang jamak dimasyarakat kita…. giliran poligami ikut sunnah rasul, mulai ngomongin Qur’an, padahal dalam praktek kesehariannya dia malah banyak melanggar aturan Quran dan Sunnah rasul.

Proporsional dalam melihat konteks pembicaraan ayat : bahwa diperbolehkannya menikah lebih dari satu orang istri hakekat sebenarnya adalah untuk keselamatan hidup anak-anak yatim atau juga untuk membantu meringankan kesengsaraan janda beranak yatim.

“Jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil pada anak-anak yatim, maka nikahilah yang baik bagimu dari perempuan (beranak yatim) dua, tiga dan empat. Namun bila kamu cemas tidak dapat berlaku adil maka satu saja atau yang dimiliki tata hukummu (yang sudah dinikahi). Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisaa’ 4:3)

Bukankah satu-satunya dalil hukum untuk berpoligami dalam masyarakat Islam hanya terdapat pada ayat 4/3 yang berfungsi sampai akhir jaman sebagai hukum perlindungan dan bantuan terhadap janda beranak yatim ?

Sesungguhnya ayat 4/3 mengandung penjelasan mengenai kehidupan janda beranak yatim. Perempuan itu hendaklah dinikahi oleh lelaki yang berkesanggupan sebagai sikap bersusila tinggi dalam sosial ekonomi masyarakat, hingga dengan demikian janda beranak yatim terpelihara dari kekurangan kebutuhan hidup dari dari petualangan tanpa pelindung lahir batin, sekaligus mengurangi kemungkinan terjunnya mereka kedalam lembah pelacuran.

Meski untuk menikah lebih dari satu wanita, secara hukum syariah tadi sudah disebutkan tidak membutuhkan izin dari isteri sebelumnya, namun secara kejiwaan dan kemanusiaan, tetap saja harus dipertimbangkan banyak hal.

Sebab ketika seorang suami menikah lagi, sudah bisa dipastikan akan ada yang berkurang, yaitu apa yang selama ini telah diterima isteri pertama.

Dalam hukum Islam, seorang suami wajib memberi nafkah kepada isteri. Kalau selama ini isteri mendapat 100% jatah nafkah dari suami, maka ketika suami menikah lagi, sudah pasti akan berkurang. Tidak mungkin 100% lagi, mungkin tinggal 50% saja.

Belum lagi bila suami wafat, maka jatah harta warisan untuk isteri yang 1/8 itu pun harus di-share berdua. Akibatnya, isteri pertama akan mendapatkan warisan yang jauh lebih kecil dari yang seharusnya diterima. Padahal mungkin dirinya sudah membangun rumah tangga puluhan tahun, tiba-tiba harus berbagi warisan dengan wanita yang baru kemarin sore dinikahi suaminya.

Dari sudut pandang perbedaan penerimaan nafkah materi seperti ini saja, sangat manusiawi bila tidak akan ada isteri yang rela bila suaminya menikah lagi. Wajar bila ada rasa diperlakukan tidak adil, khususnya dari sisinafkah.

Namun yang paling berat dirasakan oleh seorang wanita adalah rasa cemburu yang merupakan fitrah yang Allah tanamkan memang tidak bisa dinafikan begitu saja.

Mungkin suami itu punya penghasilan yang besar lebih dari cukup, namun dari segi waktu, perhatian, juga kasih sayang, pasti akan terbagi. Dan bagi seorang isteri, hal-hal seperti ini bukan masalah yang sepele. Malah sangat boleh jadi justru merupakan masalah yang paling esensial. Mungkin masalah nafkah tidak seberapa, karena begitu banyak isteri yang rela hidup tidak terlalu memikirkan harta. Tetapi urusan membagi cinta, perhatian, kasih sayang serta waktu, sangat krusial bagi mereka.

Kita harus menangkap perasaan manusiawi seorang isteri, ketika suaminya menikah lagi, ada rasa di dalam dada bahwa dirinya telah dikalahkan, telah disingkirkan, telah dinomor-duakan oleh sang suami.

Terbayang di dalam perasaannya yang sangat peka bahwa dirinya sudha tidak dibutuhkan lagi. Sehingga sudah bisa dipastikan rekasinya adalah minta diceraikan dengan membawa luka paling dalam di hati. Buat seorang wanita yang sedang sakit hati, minta cerai sudah jadi makanan sehari-hari, boleh jadi sehari akan bicara cerai tiga kali, persis orang minum obat.

Hal-hal seperti inilah yang kadang tidak terdeteksi dalam alam logika laki-laki yang terlalu eksak. Tapi memang wajar juga, mengingat Allah SWT menciptakan laki-laki dan wanita sebagai dua makhluk yang bukan berbeda alat kelamin saja, tetapi berbeda logika dan parameter.

Karena itulah Allah SWT telah menekankan dalam firman-Nya bahwa antara laki-laki dan isteri (baca:suami dan isteri) harus selalu berusaha saling mengena, memahami dan memaklumi.

Disamping peninjauan dari sudut agama, hukum positif yang berlaku dinegara kita membenarkan praktik poligami dan menyatakan bahwa seorang laki-laki dapat ’beristri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya pada empat orang istri’ (Kompilasi Hukum Islam Pasal 55 Ayat 1). Namun, diperbolehkannya poligami bukan tanpa syarat.Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 55 Ayat 2 dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974) disebutkan bahwa syarat utama beristri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya. Dalam sumber yang sama (Pasal 56 Kompilasi Hukum Islam) disebutkan juga poligami hanya dapat dilakukan dengan izin istri pertama setelah melalui sidang Pengadilan Agama. Kebijakan ini jelas mengambil jalan tengah dan dikeluarkan untuk dapat menjembatani perbedaan-perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih di Indonesia tentang poligami.

Dari kedua persyaratan yang tersirat dalam Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, jelas pelaksanaan poligami akan sulit direalisasikan karena pertama, sedikit sekali (mungkin tidak ada) wanita yang-telah menikah-rela dipoligami; Kedua, pengertian ’perlakuan adil’ terhadap istri-istri yang sangat relatif dan subyektif dan sulit diukur melalui ukuran material saja. Dengan demikian, izin untuk suami berpoligami akan sulit didapat.

Kebijakan persyaratan mendapat izin dari istri pertama untuk suami berpoligami sangatlah membantu pihak istri untuk mempersulit terjadinya poligami, walaupun kebijakan ini dapat juga diselewengkan oleh suami. Misalnya dengan mengancam istri untuk memberikan izinnya dengan berbagai cara. Akan tetapi, mengapa pada kenyataannya poligami tetap mudah dilaksanakan di negeri kita ini padahal sudah dibuat peraturan yang sedemikian rupa yang berkesan memberikan keberpihakan kepada si istri.

Konsep Mujadalah/Debat dan Mubahalah

Konsep Mujadalah, Debat dan Mubahalah

Oleh : Armansyah

Mujadalah artinya diskusi, atau tepatnya lagi adalah debat.
Ada dua macam model perdebatan : Formal dan non formal.

Formal berarti bisa dijadikan bahan acuan ilmiah dan di sebarluaskan ke khalayak ramai baik yang pro dan kontra. Informal berarti untuk kalangan sendiri.


Mujadalah secara formal ini bisa terdiri dari :

a. Tatap Muka
Biasanya ada pihak yang menjadi koordinir, baik berupa individual, yayasan atau bisa juga berupa sebuah organisasi, kampus, sekolah, pemerintah dan dan lain sebagainya, setelahnya bisa dijadikan sebuah buku untuk di jadikan bahan yang bersifat ilmiah dan ditulis secara komprehensip.

b. Metode buku
Biasanya ini buku dijawab dengan buku/artikel dijawab dengan artikel/tulisan di jawab dengan tulisan (contohnya buku saya “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih” yang menjawab Buku Dinasti Yesus karya James D. Tabor, buku saya “Jejak Nabi Palsu” yang menjawab tulisan-tulisan Mirza Ghulam Ahmad dengan Ahmadiyah, Lia Aminuddin dengan komunitas Eden serta Ahmad Musaddiq dengan Al-Qiyadah al-Islamiyahnya. Terus buku saya yang ketiga “Ramalan Imam Mahdi” yang menjawab buku “2015 Imam Mahdi akan Datang” karya Jaber Bolushi)

Mujadalah secara informal sama seperti diatas akan tetapi perdebatan yang tidak menghasilkan suatu apapun karena hanya sebatas debat kusir antara kedua belah pihak dan hanya mereka/golongannya yang mengetahui hal tersebut atau diantara salah satu pihak menerbitkan buku/artikel untuk menyalahkan pihak lain.

Konsep utama dalam bermujadalah :

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka -Qs. 29 al-Ankabut :46

Mujadalah bisa ditingkatkan menjadi Mubahalah.
Mubahalah (malediction, imprecation) berasal dari kata bahlah atau buhlah yang bermakna kutukan atau melaknat. Mubahalah menurut istilah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah supaya Allah melaknat dan membinasakan pihak yang batil atau menyalahi pihak kebenaran.

Peristiwa mubahalah pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw terhadap pendeta Kristen dari Najran pada tahun ke-9 Hijriah, sebagaimana disebutkan dalam Qs. 3 Ali Imron : 61

Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran/Keluarga Imran 3:61)

Jumlah delegasi Kristen Najran yang menyambangi Nabi Muhammad berjumlah 2 orang (lihat Riwayat Bukhari dan Tafsir Ibnu Katsir). Memang yang datang adalah 60 orang berkuda, 3 diantaranya adalah al-Aqib alias Abdul-Masih, al-Ayham alias as-Sayyid dan Abu Haritsah bin ‘alqamah. Tetapi yang berdialog langsung dengan Nabi hanya 2 orang (yaitu al-Aqib dan as-Sayyid)

Kasus-kasus mubahalah ini juga sering dilakukan terhadap pendakwa kebenaran (terutama bagi mereka yang memproklamirkan diri sebagai Nabi atau Rasul dalam arti menerima wahyu sebagaimana Nabi Muhammad Saw ataupun mereka yang dengan beraninya merubah hukum atau syariat Islam yang sudah baku dan memiliki dasar argumentasi yang jelas, baik secara akal maupun secara literatur).

Pada jaman A. Hassan masih hidup, beliau sering menantang kaum Ahmadiyah untuk melakukan mubahalah (sayang sampai akhir hayatnya, sepengetahuan saya, pihak Ahmadiyah selalu menolak ataupun tidak hadir dalam mubahalah tersebut).

Yang terakhir adalah kasus Lia Eden (dulu : salamullah), yang ini sempat beberapa kali terjadi permubahalahan, baik langsung maupun tidak langsung, dan secara tidak langsung (melalui surat dan email) sudah dilakukan oleh pihak MUI dan saya pribadi dengan Lia Aminuddin.

Saya menganggap (terlebih dalam jaman modernisasi sekarang ini) untuk melakukan Mubahalah pada dasarnya tidak diperlukan tatap muka secara langsung, sebab teknologi ternyata relatip lebih bisa mendekatkan jarak yang jauh, baik melalui teleconfrence, webcam, handphone, televisi maupun email dan milis. Ini semua adalah sarana atau fasilitas yang bisa dioptimasikan dalam hal berjuang dijalan Allah.

Sistem Mubahalah sendiri dilakukan apabila tidak lagi terdapat titik temu antara pihak kebenaran dengan pihak yang batil sementara pihak yang batil ini masih bersikeras menyebarkan pemahamannya yang batil itu ditengah umat Islam yang haq.

Mubahalah yang pernah diajukan oleh Rasulpun pada masa itu bukan karena kehabisan kata tetapi untuk mencari titik puncak penyelesaian semua diskusi, sebab tidak mungkin Islam mengakui ketuhanan al-Masih yang jelas-jelas manusia biasa dan Rasul Allah sementara kaum kristen Najran yang trinitas itupun tidak mau menerima konsepsi Tauhid Islam dan tetap mempertahankan keberhalaannya meskipun dalam hal ini Abu Haritsah bin ‘alqamah (satu dari 3 orang pimpinan Najran) sebenarnya mengakui kebenaran Islam dan kenabian Muhammad.

Pembuktian positip sudah diberikan tetapi masih ditolak juga maka mubahalah adalah puncak dari semua pembuktian akan kebenaran yang kita yakini, sebab bila kita telah berani berkata atas nama Allah dan kebenaran-Nya, maka harusnya kitapun berani untuk membuktikan kejujuran dan kebenaran kita itu dihadapan Allahnya sendiri. Mubahalah anggap saja tidak berbeda dengan memberikan kesaksian dalam suatu persidangan, biar hakim yang menentukan siapa yang sebenarnya benar dan siapa yang sebenarnya salah sekaligus menjatuhkan hukuman-Nya kepada terdakwa.

Tidak ada sumpah pocong maupun kata-kata aneh dalam melakukan mubahalah ini seperti kalau mati mayat tidak diterima bumi, atau disambar petir dan sejenisnya, al-Qur’an hanya mengajarkan kata-kata demikian :

” Marilah kita ajak anak-anak kami dan anak-anak kamu dan perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu dan kaum kami dan kaum kamu, kemudian kita berdoa dan kita jadikan laknat Allah atas orang-orang yang dusta ! ” – Qs. 3 ali Imron 61

Sumpah pocong tidak ada didalam ajaran Islam, itu adalah perbuatan Bid’ah atau sesuatu yang batil yang telah dilekatkan terhadap nama Islam. Sama seperti kasus pelarungan kepala kerbau dilautan atau acara tumpengan dan karawitan maupun Mauludan versi kraton tanah Jawa. Semuanya tidak bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya dari sisi syari’at.

Tentu saja mana mungkin Allah akan menerima perbuatan yang tidak sesuai tuntunan-Nya, yang ada hanyalah bertambah menumpuknya kemurkaan Allah atas diri mereka baik secara langsung maupun tidak langsung.

Masalah peserta secara umum kiranya jelas ( diluar Allah ya ):

Demikianlah Kami jadikan kamu (ummat Islam), suatu ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia – Qs. 2 al-Baqarah 143

=> Semua umat Islam pantas dan layak untuk menjadi saksi

Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan ajaran) Allah ?


Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. -Qs. ali Imran 3:52

=> Akan lebih utama jika yang menjadi saksi atau penolong adalah sahabat yang setia yang selalu siap mendampingi dan membantu perjuangan

Jumlah minimal saksi :

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. – Qs. 2 al-Baqarah : 282

Islam tidak pernah memaksa siapapun untuk mengakui kebenaran risalah-Nya, tugas didalam Islam hanyalah menyampaikan :

Apakah kamu mau masuk Islam ? Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan ! -Qs. 3 Ali Imran :20








ARMANSYAH
Palembang

Dialog BBM dan Unek-unek

2008/6/21 rizal lingga <nyomet123@yahoo.com>:

sdr Armansyah,
saya memilih untuk bertemu lagi dengan anda di iqra ini dengan mengomentari pendapat anda yang paling lama belum saya buka.

Arman : Silahkan, selama saya ada waktu InsyaAllah akan saya jawab. Sebaliknya, mungkin anda harus menunggu dulu beberapa saat seperti posisi saya terhadap anda.

Rizal :

Setelah saya baca semua, terus terang Arman saya agak sedih membacanya.

Arman : Semoga tidak sampai menangis 🙂

Pertama tentu saja saya juga tak setuju dengan kenaikan BBM.

Arman : Kenapa ?

Rizal :

Tapi yang kedua, saya mengerti bahwa ini adalah masalah global. Seluruh rakyat di dunia mengalami penderitaan yang sama.

Arman : Punya datanya yang bisa diverifikasi ?

Rizal : Namun tulisanmu tidak mencerminkan pemahamanmu akan krisis global. Melainkan hanya bersimpati dengan rakyat kecil. Kalau bersimpati dengan mereka saya setuju.

Arman : Orang-orang yang anda sebut sebagai rakyat kecil itu adalah kita-kita juga, mungkin termasuk anda dan saya. Entahlah bila anda tidak terlalu merasakan dampaknya.

Mengenai ketidakpahaman saya dengan krisis global, ya, wajar-wajar sajalah, toh saya ini khan rakyat kecil. Saya butuh penjelasan yang memang transparan dan tidak menjelimet menyangkut masalah ini. Saya capek untuk disuruh mengerti serta memahami “rakyat besar” yang tinggal digedung-gedung mewah dengan ruangan ber-ac dan kemana-mana menggunakan kendaraan berkilau yang super cepat. Saya lelah untuk diminta berpikir tentang kebijakan para rakyat besar yang jago-jago ngomong tetapi kasus lappindo saja tidak kunjung jelas juntrungannya.

Jika anda punya penjelasan yang lebih sederhana dan bisa saya mengerti, silahkan kemukakan.

Rizal : Tapi kalau anda bilang ini dagelan politik lokal, maka saya sedih melihat wawasanmu kok hanya sampai disitu.

Arman : Maklumi saja, saya masih jadi rakyat kecil.

Mungkin harapan anda agar saya bisa mengerti dan wawasan sayapun berskala internasional dapat terwujud pada saatnya kelak. Pokoknya, saya minta dukungan anda saja dulu …. saya mengandalkanmu Rizal.

Rizal : Tidakkah Arman melihat demontrasi protes kenaikan BBM di TV yang terjadi di Spanyol, Perancis, Belgia, Amerika serikat, Korea, Filipina, Hongkong, dan yang lain lagi tak bisa saya ingat semuanya.

Ini krisis global dan indonesia yang banyak mengimpor pasti terkena dampaknya. Ini masalah Ekonomi MAKRO, Arman.

Arman : Oh. tapi apa negara-negara itu punya sda yang juga dikelola atau diberikan pada pihak asing ? bila iya, apa alasannya ? bila tidak, masih samakah keadaannya dengan Indonesia ?

Rizal : Dan dalam bidang ini saya cukup mengerti, karena saya lulus SE bukanlah dengan skripsi pesanan dan lulus ujian bukanlah karena sontekan.

Arman : Oh. Rupanya saya sedang berhadapan dengan seorang Sarjana Ekonomi yang paham tentang apa yang terjadi didunia saat ini. Maafkan saya yang masih belajar ini tapi sudah lancang bicara banyak … harap mau mengajari saya lebih lanjut.

Rizal :

Saya sudah katakan sebagian analisa saya dalam tulisan yang lain menjawab Liana dan Hendy.

Arman : Yang mana ya ?

Rizal :

Tapi, sekadar melepas uneg-unegmu. oke-oke sajalah.

Arman : Hehehe…. habis uang dikantong hanya cukup buat beli pulsa … yang laen dah pada habis buat beli susunya anak-anak sama makan sehari-hari …. saya rakyat kecil, Ngga.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com

http://armansyah.swaramuslim.com

BBM dan unek-unek

BBM sudah naik …
Nun jauh diangkasa kekuasaan, para petinggi tersenyum senang karena berhasil lepas dari tekanan orang-orang komunis, para tuan tanah dan juragan minyak yang menjajah negeri ini melalui sistem kapitalismenya.

Setuju atau tidak, kenaikan BBM hanya dagelan politik yang selalu mengatasnamakan rakyat … untuk rakyat dan demi rakyat Populer maupun tidak populer, kebijakan sudah diambil Kemarin saya menonton satu acara berita di TV bila seorang ibu di Bali tega membunuh batitanya hanya karena himpitan ekonomi, saya juga percaya bila banyak Rumah Sakit Jiwa diseantero negeri dagelan ini akan berangsur penuh, hari demi hari …. juga karena alasan yang sama.

Tadi malam saya juga sempat menonton acara di TransTV yang mengisahkan susahnya kehidupan seorang ibu pembuat tahu, usianya sudah 1/2 abad. Tapi setiap hari hidupnya dihiasi dengan keindahan penderitaan maupun kesusahan hidup. Bahkan untuk sekedar menggiling kedele yang ongkosnya lima ribu perak dia harus hutang dulu sampai selesai berjualan.

Di Palembang hari-hari terakhir ini sedang rame dengan isyu kampanye PILKADA putera-putera daerah … ada 4 pasangan calon, satu diantaranya pejabat lama yang “masih berbaik hati” untuk kembali bersedia menjabat didaerah ini. Slogannya “Baru sekali, apalagi dua kali ….”

Ah, tak usahlah disebutkan dari partai mana kedua pasangan ini berasal
Ada lagi pasangan lainnya muncul dengan slogan “Salah 5 menit, Menderita 5 tahun” …. dan seterusnya

Pro atau kontra setiap calon pasti akan mengusung tema rakyat dan atas nama rakyat …
Saya bertanya pada awan yang berputar diangkasa raya … rakyat mana yang mereka maksudkan ?
Tapi awan tak menjawab … dia terus berjalan dan hilang dari pandangan tanpa menjawab sepatah katapun.

Istri saya sempat protes kepada saya, “kenapa papa belum mengembalikan formulir keanggotaan PKS ?, Papa tidak sungguh-sungguh ya ? “, saya diam dan tersenyum, mengikuti awan yang berarak tanpa memberikan jawaban.

Padahal sudah lebih dari 1 bulanan formulir itu saya ambil dan isi tetapi sampai hari ini masih setia menghuni tas kerja saya. Padahal juga, bila untuk kekantor DPW atau DPD tidak sulit buat saya karena hanya berjarak 1 kilometer saja dari kediaman kami. Bahkan Rantingnya hanya berseberangan jalan dari rumah.
Entahlah … apakah saya memang harus mencemplungkan diri kedalam jutaan kontaminasi itu … atau bertahan seperti sekarang, melakukan perubahan melalui cuap-cuap dimilis, blog dan buku ?

Lagi-lagi saya hadapkan ini pada awan dilangit … ah, negeri antah berantah yang penuh masalah.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH

Doktrin Penebusan – Tanya Jawab

Salam jumpa Lingga.,

Maaf baru sempat menanggapi sekarang, day by day terakhir saya direpotkan
oleh sejumlah kesibukan …. harap maklum.

On 6/21/08, rizal lingga <nyomet…@yahoo.com> wrote:

> rizal lingga: Dan yang kedua adalah tulisanmu yang terbaru.

Armansyah :

Sebenarnya tulisan ini bukan tulisan baru, hanya goresan lama yang dipoles ulang agar lebih cantik dan menarik. Artikel ini dalam versi sederhananya pernah saya posting kemilis Islamic Network dan Parokinet diakhir-akhir tahun 90-an lalu.

> rizal lingga: Sebetulnya dulu waktu kamu dan Dani berdiskusi tentang Isa dan hubungannya
> dengan Passion of Christ juga menarik untuk dikomentari, tapi sayang
ketika
> itu waktu saya belum ada.

Armansyah :

Jika memang masih ada yang mau ditanggapi, silahkan …
Saya sudah membuat tulisan dalam “versi web” dari konsep penyaliban Nabi Isa alias Yesus Kristus tersebut yang bisa anda baca disini :

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/misteri-penyaliban-nab…
atau disini :
http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=33_0_1_0_M

Anda boleh memberi komentar dimilis ini atau juga dikedua blog saya tersebut diatas.

> rizal lingga: Oke, sekarang tentang doktrin penebusan.
> Kepercayaan terhadap penebusan hanya diakui oleh aliran mainstream yang
> ortodoks atau konservatif.
> Bagi non kristen dan yang katanya kristen aliran liberal, sekte saksi
> yehuwa, sekte advent, sekte mormon, juga tidak mengakui doktrin penebusan.
> Anda adalah muslim dan termasuk golongan non kristen, maka wajar kalau
anda
> tidak percaya dengan penebusan.

Armansyah :

Dalam beragama, saya membebaskan diri dari ikatan ortodok/klasik/salafi, modern, liberal dan sebagainya. Saya hanya seorang muslim yang senang membaca, berpikir dan menulis serta mengaplikasikannya dengan apa yang bisa saya lakukan.

> rizal lingga: Bagi saya, dan banyak orang seperti saya, doktrin itu tidak punya arti
> praktis. Yang penting bagi kami adalah pengalaman nyata tentang penebusan
> dan pengampunan dosa didalam hidup kami.

Armansyah :

Agama itu teori dan praktek, doktrin sendiri masuk dalam teori.
Adalah sesuatu hal yang saya rasa terlalu berlebihan dari ucapan anda bahwa doktrin tidak punya arti praktis. Sebab dengan pernyataan itu, anda seolah menafikan eksistensi kitab suci anda sendiri yang sarat dengan doktrin atau pelajaran tertulis mengenai iman, sejarah dan banyak hal lainnya. Bukankah ada satu ayat dalam kitab anda yang menyatakan setiap yang ditulis memiliki arti ? Bahkan orang yang menambah dan mengurangi tulisan-tulisan atau doktrin disana dicela ? Saya anggap anda hapal ayatnya.

Bagaimana menurut anda ?

>rizal lingga: Jika kita haus, maka meminum seteguk air dingin mempunyai pengalaman nyata
> akan apa arti air jika kita haus. Itu jauh lebih berarti daripada analisa
> kimiawi antara hidrogen, oksigen, berbagai senyawa organis yang kompleks,
> memicu rantai pemenuhan rasa puas akan air.
> Tulisanmu hanya analisa kimiawi namun asing dari pengalaman nyata dan
> praktis yang sudah dirasakan oleh banyak orang-orang kristen seperti saya.
> Kami tidak pusing dan digelisahkan oleh analisa teologis kimiawi yang
steril
> dari pengalaman nyata, seperti yang kamu tulis disini.
> Baguslah jika itu sebagai wawasan pengetahuan bagi muslim. Namun alangkah
> menyedihkan kalau yang kalian yakini ini seperti jauh pasak dari tiang
akan
> apa yang dialami oleh orang2 kristen akan penghayatan dan pengertian “Saya
> ditebus oleh Yesus Kristus dari dosa2 saya dan diberikannya hidup yang
> Kekal”.

> You are talking about strange and remote things to us, friend.
> Wassalam,

Armansyah :

Pengalaman dibentuk dari kepercayaan kita terhadap sesuatu. Sementara kepercayaan itu sendiri dibangun dari doktrin yang dianggap benar berdasar kajian-kajian komprehensif. Kadang kepercayaan itu dibangun atas satu dugaan atau asumsi-asumsi subyektif karena alasan yang abstrak.

Oleh sebab itu maka banyak orang dari berbagai agama punya pengalaman berbeda, menyenangkan ataupun tidak mengenai apa yang mereka percayai. Orang Budha yang percaya dengan konsep Budhanya akan punya pengalaman moksa yang sedemikian rupanya, begitupula orang kristen dengan konsep kristusnya atau orang Islam dengan konsep Tauhidnya.

Seperti anda tahu, saya tidak pernah menjadikan pengalaman-pengalaman semacam ini sebagai sesuatu yang perlu dibesar-besarkan apalagi dihujjahkan sebagai suatu kebenaran atas apa yang kita yakini.

Saya lebih memilih pendekatan secara empiris atau secara logika dalam beragama. Sebab ini cenderung lebih obyektif ketimbang menggunakan perasaan, pengalaman atau ikut-ikutan.

> maaf kalau saya belum terlalu bisa menggunakan fasilitas penulisan dengan
> benar.

> — On Fri, 6/20/08, Armansyah <armansyah.s…@gmail.com> wrote:

> From: Armansyah
> Subject: [Milis_Iqra] Analisa Doktrin Penebusan Dosa
> To: “Milis_Iqra@googlegroups.com” <milis_iqra@googlegroups.com>
> Date: Friday, June 20, 2008,


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com

Misteri Penyaliban Nabi Isa

Misteri Penyaliban Nabi Isa

Oleh : Armansyah

Seperti yang kita ketahui bersama, setelah usai menjumpai Maria Magdalena pada pagi minggu itu, Isa al~Masih menjumpai Simon Petrus, Thomas (Didymus), Nathan dan yang lainnya di Tasik Tiberias (Injil Yohanes pasal 21 ayat 1 s/d 4) begitupun Isa disebut juga sempat menjumpai 2 orang sahabatnya yang sedang berjalan menuju kampung Emaus (Injil Lukas pasal 24 ayat 13 s/d 17) dan akhirnya muncul secara terbuka dihadapan ibunya serta murid-muridnya saat mereka sedang berkabung atas kematiannya (Injil Yohanes pasal 20 ayat 19).

Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?Lihatlah tanganku dan kakiku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakinya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. – Injil Matius pasal 27 ayat 36 s/d 43

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungnya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” – Injil Yohanes pasal 20 ayat 25 s/d 27

Kembalinya Isa al~Masih ditengah para murid-muridnya sebagaimana diuraikan oleh Injil Yohanes diatas sebenarnya tidak juga terjadi dengan tiba-tiba seperti seorang Jin keluar dari botolnya. Sebagai Nabi yang dikelilingi oleh berbagai mukjizat fantastis dan juga banyak melakukan perjalanan diberbagai daerah didunia yang memberikan ribuan hikmah dan pengalaman kepadanya, kiranya tidak terlalu sukar bagi seorang Isa al~Masih untuk membuka pintu yang terkunci dari dalam lalu kemudian hadir diantara murid-muridnya.

Dari catatan Injil Yohanes ini, kitapun berhasil merekonstruksi sebuah fakta bahwa kebangkitan Isa al~Masih setelah peristiwa penyaliban itu memang bukan kebangkitan dari kematian yang membuatnya bisa dipertuhankan, ia membuktikan kepada semua murid-muridnya bahwa ia yang saat itu hadir ditengah mereka, adalah ia yang juga dulunya pernah bersama-sama mereka sebelum ini. Ia manusia biasa seperti mereka, ketika mereka dilihatnya masih meragukan status dirinya dan mungkin tetap menyangkanya sebagai hantu atau arwah gentayangan, Isa al~Masih meyakinkan mereka dengan memperlihatkan tangan dan kakinya yang masih ada bekas-bekas luka-luka penyaliban dan memakan ikan goreng sebagai pertanda dirinya memang masih hidup. Ia juga menyuruh Tomas meraba bekas-bekas luka paku salib ditangannya dan meraba lambungnya yang sempat ditusuk tombak oleh seorang serdadu Roma, sehingga tidak pada tempatnya lagi mereka merasa ragu.

ilustrasi

Kepada mereka Ia menunjukkan dirinya setelah penderitaannya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. – Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 3

Injil Lukas mencatat bahwa setelah pertemuan terakhirnya ini, Isa kemudian mengajak mereka semuanya (termasuk Maryam sang Ibunda dan Maria Magdalena) keluar dari kota Yerusalem sampai didekat perbatasan kampung Bethani, dari titik ini, perjalanan baru beliau dalam berdakwah kepada komunitas Israel diluar wilayah Palestina telah dimulai kembali.

Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangannya dan memberkati mereka.Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. – Injil Lukas pasal 24 ayat 50 dan 51

Memang Injil Lukas menutup ayat terakhirnya mengenai Isa dengan menyebutnya berangkat kesorga (terbang keatas langit biru), namun kita bisa mengabaikan tulisan tersebut untuk diartikan secara harfiah dan mencoba memahaminya sebagai bentuk metafora dari hijrahnya Isa al~Masih menuju kekehidupan dakwah yang lebih baik dan kondusif, lepas dari intimidasi maupun upaya-upaya pembunuhan atas dirinya dan jemaatnya. Hilangnya sosok Isa diantara awan dalam catatan Injil Lukas diatas bisa kita dapati penjelasan logisnya pada Kitab Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 12.

Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.

Dari ayat ini kita melihat bahwa perpisahan itu terjadi disekitar anak bukit Zaitun dimana kemudian Isa mengucapkan selamat tinggal kepada mereka sambil melambaikan tangannya ( disebut oleh Injil Lukas sebagai bentuk pemberkatan ) dan Isa terus naik mendaki bukit Zaitun lalu menghilang dipuncaknya, menuruni lereng perbukitan dibaliknya yang oleh Kitab Kisah Para Rasul disebut menghilang dibalik awan.

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupnya dari pandangan mereka. – Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 9

Dari cerita ini kita melihat bahwa Isa berangkat sendirian, akan halnya Maryam sang Ibunda dan Maria Magdalena serta murid-muridnya yang lain memang tidak dibawa serta disaat bersamaan. Tampaknya ini sebagai bagian dari perencanaan atau strategi yang telah disusun rapi oleh Isa dan kelompok Yusuf Arimatea dari Essenes agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak musuh-musuh mereka sehingga akan menggagalkan semua usaha tersebut. Isa dalam Injil Lukas diceritakan telah mengatakan bahwa masa mereka untuk sampai kepada perencanaan Allah akan tiba tetapi setelah segala sesuatunya dirasa tepat dan memungkinkan.

Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapaku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” – Injil Lukas pasal 24 ayat 49

Ini adalah pesan yang terinkripsi, kita perlu melakukan proses decoding untuk membuka pesan dalam Injil Lukas diatas agar bisa dipahami secara wajar. Janji Tuhan yang diserukan oleh Isa diayat tersebut tidak lain adalah janji keselamatan para muridnya dari musuh-musuh mereka, Isa meminta mereka semua untuk menahan diri dan sementara berdiam dulu didalam kota Yerusalem sampai keadaan bisa dikendalikan lalu Isa setelah itu akan mengirimkan pesan kepada mereka untuk menyusulnya melalui sahabat-sahabatnya yang lain dari jalur Yusuf Arimatea yang dikenal dengan nama kelompok Essenes yang menetap diperbukitan Qumran. Itulah makna dari kalimat terakhirnya “ sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. “

berdasarkan catatan seorang sejarawan Yahudi bernama Flavius Josephus yang banyak menyaksikan dan mencatat kasus-kasus penyaliban yang dilakukan oleh orang-orang Romawi terhadap mereka-mereka yang dianggap pemberontak atau penjahat yang mana tulisan-tulisannya ini banyak dikutip juga oleh pihak-pihak Kristiani dan juga para sarjana Biblika (termasuk oleh James D. Tabor sendiri didalam situs lamanya di Internet[1] dan dibukunya Dinasti Yesus[2]) yaitu tentang terbukanya kemungkinan orang yang dihukum salib untuk tetap bertahan hidup dan disembuhkan kembali. Dalam bukunya yang berjudul The Life of Flavius Josephus[3], sejarawan ini menulis :

Sekembalinya saya bersama Cerealins yang dikirim oleh Kaisar Titus dengan seribu pasukan berkuda menuju kesatu desa bernama Thecoa, saya melihat banyak penjahat telah disalib dan melihat tiga orang diantara mereka adalah orang-orang yang saya kenal dimasa lalu. Saya sangat sedih dengan kejadian ini dan pergi dengan air mata berlinang menghadap Titus dan mengatakan kepadanya mengenai mereka bertiga. Lalu Titus memerintahkan agar mereka diturunkan dari salib dan dilakukan perawatan untuk memulihkan kondisi mereka. Dua diantara mereka tidak tertolong dan satu berhasil diselamatkan.

Kita juga memiliki beberapa data lain yang mungkin bisa dijadikan argumentasi pendukung dalam teori bertahan hidupnya Isa al~Masihsampai ia diturunkan dikayu salib. Diantaranya adalah singkatnya waktu penyaliban yang terjadi saat itu, yaitu hanya sekitar 3 jam (dimulai pada jam 12 sampai jam 15.00), disusul dengan kedua orang yang ikut disalib bersama Isa al~Masih yang waktu itu keadaan keduanya masih dalam kondisi yang segar bugar sehingga para serdadu Romawi itu mematahkan kaki mereka untuk mempercepat kematiannya (dan memang wajar sekali jika orang baru mati dalam penyiksaan dikayu salib setelah lebih dari satu sampai tiga harian), argumen kita berikutnya adalah keterkejutan Pontius Pilatus yang telah menjatuhkan hukuman tersebut ketika mendengar bahwa Isa al~Masih telah dinyatakan wafat dalam waktu secepat itu yang tentu saja dengan pemikiran wajarnya sebagai orang yang sering menyaksikan maupun menjatuhkan hukuman mati melalui metode penyaliban, kematian Isa yang diluar kebiasaan tersebut menimbulkan kebingungannya sendiri.

Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. – Injil Markus pasal 15 ayat 44

Argumen lainnya yang bisa kita sodorkan adalah meninjau ulang apa yang pernah disampaikan oleh Injil Lukas pasal 22 ayat 43 didetik-detik menjelang penangkapan :

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan kepadanya

yesusdanmalaikat

Bila yang dimaksud dengan memberi kekuatan pada ayat diatas adalah memberi semangat agar Isa tabah menerima kehendak Allah yang akan berlaku pada dirinya, maka sekali lagi kita ajukan juga apa yang disampaikan oleh Paulus dalam Kitab Ibrani pasal 5 ayat 7 :

Dalam hidupnya sebagai manusia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada-Nya yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, beliau telah didengarkan.

Jadi dari ucapan Paulus diatas kita bisa mengambil asumsi kuat bahwa Isa al~Masih telah ditolong oleh Tuhan dari kematian (maut) yang bisa menimpanya dalam proses yang akan dia hadapi (inilah makna dari kata-kata“beliau telah didengarkan” yang artinya permintaan untuk selamat dari maut dikabulkan).

Maha benar Allah ketika Dia berfirman didalam al-Qur’an :

Telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Quddus.  (Qs. 2 al-Baqarah: 87)

Sebagai umat Islam, menyangkut penyaliban ini kita punya data yang sangat otentik untuk menjadi pegangan dalam masalah mati atau hidupnya Isa al~Masih saat penyaliban itu, dan data itu adalah wahyu Allah didalam al-Qur’an sebagai berikut :

Dan perkataan mereka: “Bahwa kami telah membunuh al~Masih Isa putera Maryam, utusan Allah”, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan untukmereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. -Qs. 4 An-Nisaa’ 157

Sejumlah ulama berbeda pendapat tentang makna tidak terbunuh dan tidak tersalibnya Nabi ‘Isa sampai kepada makna pengangkatan beliau kesisi Allah pada ayat diatas. Golongan yang pertama menyatakan bahwa maksud dari Nabi ‘Isa memang tidak terbunuh dan tidak mengalami penyaliban (termasuk tidak dinaikkan keatas kayu salib) dalam artian sesungguhnya, dengan kata lain bahwa para musuh Nabi ‘Isa pada waktu itu sudah salah tangkap orang, bukannya Nabi ‘Isa yang mereka tangkap dan mereka hukum bunuh melalui metode penyaliban, akan tetapi orang lain yang perwujudannya diserupakan atau dialih rupakan seperti beliau ‘alaihissalaam. Pemahaman seperti ini juga tampaknya yang membuat pihak Departemen Agama Republik Indonesia menterjemahkan ayat 157 dari surah al-Qur’an an-Nisaa’ sebagai berikut :

“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al~Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya , tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”.

Sayangnya terjemahan tersebut bukanlah terjemahan dari ayat yang sebenarnya. Karena dari sudut kebahasaan atau grammatikal Arabnya, Na-‘ibul fa-’il untuk fi’il “Syubbiha” adalah mashdar “sholbun” atau “qotlun” yang dikandung dalam fi’il “sholabu-hu” atau “qotalu-hu” (bukan Isa atau orang yang menggantikan Isa).

Jadi istilah Syubbiha lahum (ia dibuat kelihatan serupa dengan seorang yang disalib bagi mereka adalah merujuk pada peristiwa penyalibannyalah yang diserupakan bukan orang lain yang diserupakan bagi mereka).

Kata “syabbaha” mengandung arti : ia membuat (-nya atau itu) serupa dengan (ia atau itu). Syubbiha ‘alaihil amr berarti halitu dibuat samar, kabur dan meragukan baginya. Alasan yang terutama ialah bahwa selain Isa tidak ada orang lain yang disebutkan disini atau ditempat lain pada ayat dan bentuk pasif hanya digunakan bila konteks sudah nyata sekali, siapa yang yang dimaksudkan sebagai subyek yang tidak disebutkan. Jadi disini kita melihat al-Quran sama sekali tidak menyatakan secara implisit bahwa Bangsa Israel telah membunuh ataupun telah menyalib seseorang yang dimiripkan dengan Isa”.

Dengan begitu, maka terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia : “… tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka” kata-kata yang digaris bawahi sama sekali tidak ditemukan dalam lafas asli pada surah an-Nisaa’ ayat 157.

Adapun terjemahan kata perkata dari ayat ini adalah sebagai berikut :

Surah 4 ayat 157

penyerupaan atau penyamaran itu dilakukan Allah pada diri Isa sendiri yang terlihat seolah-olah berhasil dibunuh diatas kayu salib, padahal dia waktu itu tidak atau belum mati, hanya dia diserupakan saja seperti keadaan orang yang mati disalib. Hal ini mengingat akhir ayat 157 berbunyi : “.. dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya”.

Orang yang berhasil lolos dari kematian dikayu salib artinya dia tidak berhasil disalib atau dengan kata lain proses eksekusi penyaliban itu sendiri cacat hukum, dan dalam kaidah hukum universal, sesuatu yang sifatnya cacat hukum harus ditolak validasinya. Dalam kasus Isa, orang-orang Yahudi ngotot bahwa beliau a.s. harus dihukum salib, karena hukuman salib dalam terminologi mereka adalah hukuman yang hanya layak untuk orang-orang yang terkutuk (melawanTuhan ataupun membuat kedustaan atas nama Tuhan). Jadi disini Nabi Isa dalam pandangan musuh-musuh beliau adalah orang yang batil jadi dia harus dihukum mati (artinya beliau harus dibunuh) dan caranya harus dengan cara yang sangat kejam sesuai term yang mereka pahami untuk kasus-kasus seperti itu (yaitu melalui hukuman salib).

Penyaliban Yesus dalam banyak gambar

Ketika al-Qur’an menyebut Isa tidak disalib artinya bisa jadi makna penyaliban pada diri Isa itulah yang dibatalkan, dengan kata lain, meskipun Isa berhasil mereka gantung diatas kayu palang, itu tidak memberi arti bahwa Isa adalah orang yang batil sesuai pemahaman mereka (yang pun disambung pada ayat 4 surah 158 dimana Allah menyebut Isa diangkat kepada-Nya yang bisa diartikan bentuk pemuliaan Allah kepada beliau dan penafian kebatilannya dalam mata orang Yahudi/Bani Israel) sehingga apa yang oleh mereka disebut sebagai penyaliban dan pembunuhan Isa, hanya bentuk penyerupaan saja, seolah iya padahal tidak.

Lalu bagaimana dengan hadis yang menyatakan Nabi Isa masih hidup dan tidak berhasil disalib dalam artian diserupakan wajahnya kepada orang lain ?

Disampaikan oleh Ibnu Khaldun dalam kutipan Haekal, kita tidak harus percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak harus percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan al-Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya.

Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber­sumber itu dikritik dari segi matn (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad itu akan gugur oleh matn. Orang sudah mengatakan bahwa tanda hadis maudhu’ (buatan) itu, ialah yang bertentangan dengan kenyataan al-Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan axioma lainnya. (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcvii)

Haekal juga berkata kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yang tidak cocok dengan yang ada dalam al-Qur’an. Yang tidak sejalan dengan hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah itu baru diperkuat dengan yang ada pada mereka, disertai pembuktian yang positif, dan mana-mana yang tak dapat dibuktikan seharusnya ditinggalkan. Pendapat cara ini telah dijadikan pegangan oleh imam-imam terkemuka dari kalangan Muslimin dahulu, dan beberapa imam lainpun mengikuti mereka sampai sekarang.

(Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcix)

Sebagai penutup, mungkin anda tertarik membaca tulisan saya yang ini juga :

Apakah Nabi Isa disamarkan wajahnya?

Link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/12/apakah-nabi-isa-disamarkan-wajahnya/

Kesalahan terjemahanal-Qur’an versi Depag RI

Link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/04/kesalahan-terjemahan-al-quran-versi-depag-ri/

ARMANSYAH

Penulis Buku : “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”, “Jejak Nabi Palsu”, “Ramalan Imam Mahdi”, “Misteri Kecerdasan Syahadat” dan “Israk Mikraj”


[1]Lihat Dr. James D. Tabor, Archaeology and the Dead Sea Scrolls : Josephus’ References to Crucifixion, http://www.religiousstudies.uncc.edu/jdtabor/cruc-josephus.html

[2] James D. Tabor, Dinasti Yesus, alih bahasa James P, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal. 275

%d bloggers like this: