Pertanyaan tentang Sholat

Terjemahan Nailul Authar
Jilid 2 PT. Bina Ilmu 1993
Hal 523 s/d 526
Bab 14 : Membaca surat sesudah al-Fatihah pada 2 reka’at pertama dan apakah surat ini juga disunatkan untuk dibaca pada 2 reka’at yang akhir ataukah tidak ?

Dari abu Qatadah, sesungguhnya Nabi Saw pernah membaca al-Fatihah dan dua surah, dalam sholat dzuhur pada 2 reka’at pertama, sedang pada 2 reka’at yang akhir membaca al-Fatihah. Namun kadang-kadang ia memperdengarkan ayat kepada kami, serta memanjangkan reka’at pertama lebih dari panjangnya ayat pada reka’at ke-2. Begitu juga dalam sholat Ashar dan begitu juga dalam sholat subuh. – Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim

Dari Abu Said al-Khudri, sesungguhnya Nabi Saw pernah membaca dalam sholat dzhuhur – pada 2 reka’at pertama, untuk setiap reka’at – kira-kira sebanyak 30 ayat ; dan pada 2 reka’at yang terakhir, kira-kira sebanyak 15 ayat – atau ia berkata – separoh dari itu ( 1/2 dari 30 -ar ) – dan dalam sholat Ashar pada 2 reka’at yang pertama – untuk setiap reka’at – kira-kira sebanyak 15 ayat, dan pada 2 reka’at yang akhir kira-kira separoh dari itu. – Riwayat Ahmad dan Muslim

Penjelasan Imam as-Syaukani ( syarah kitab ini ) : Tersebut dalam kitab Subulus Salam : Dzahir hadis Abi Qatadah itu, bahwa Rasulullah Saw tidak lebih dari membaca al-Fatihah pada 2 reka’at yang akhir. Dan mungkin hadis tersebut lebih kiat dari hadisnya Abu Said, dipandang dari segi sanad dan matan ( min haitsur riwayah wa min haitsud diraayah ), sebab hadis tersebut merupakan pemberitaan yang pasti.

Tetapi ia juga berkata : Namun antara kedua hadis tersebut memungkinkan untuk dikompromikan ( dijama’ ) : yaitu Nabi Saw berbuat ini kadang-kadang, maka ia membaca surah di 2 reka’at yang akhir selain al-Fatihah dan kadang-kadang juga ia pendekkan. Jadi tambahan surah pada 2 reka’at yang akhir tersebut adalah sunnat, yang kadang-kadang dikerjakan dan kadang-kadang ditinggalkan. Selesai.

Guru kami Syekh Sa’ad bin ‘Atiq rahimahullah ta’ala memilihnya dan berkata dalam al-Inshaf : bahwa bacaan surat sesudah al-Fatihah di 2 reka’at yang akhir itu, tidak dimakruhkan, bahkan boleh menurut pendapat yang benar dari madzhab. Dan diriwayatkan daripadanya, bahwa bacaan surah di 2 reka’at akhir itu hukumnya sunat.

Dari kitab Pengajaran Shalat
Karya A. Hassan
Terbitan CV. Diponegoro Bandung 1984
Hal. 243 : Daliel ta’ pakai surah direka’at ke-3 dan ke-4

Diriwayatkan : telah berkata Umar kepada Sa’ad : sesungguhnya orang-orang ada yang mengadukan halmu (kepadaku) ditiap-tiap sesuatu hingga dalam hal sholat. Ia menjawab : adapun aku, aku panjangkan 2 reka’at yang pertama dan aku ringkaskan 2 reka’at yang kedua dan aku tidak perduli apa-apa selama aku menurut cara sholat Rasulullah Saw – Riwayat Bukhari

Boleh jadi, lantaran menurut riwayat itu atau lainnya, ada terlalu banyak ulama menganggap bahwa direka’at yang ke 3 dan ke-4 itu tidak sunnat baca surah, tetapi beberapa hadis yang tersebut dibawah ini menunjukkan ada bacaan surah pada tiap-tiap rekaat :

Telah berkata Abu Said : Kami diperintah membaca al-Fatihah dan apa-apa yang mudah dibaca – Riwayat Abu Daud

Sabda Nabi Saw : Tidak sholat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah dan lebih – Riwayat Muslim
Tidak sholat, melainkan dengan bacaan al-Fatihah dan lebih – Riwayat Ahmad
Tidak sholat bagi orang yang tidak baca al-Fatihah dan surah pada tiap-tiap reka’at – Riwayat Ibnu Majah
Hadis yang pertama itu sungguhpun ada cela riwayatnya dan sungguhpun tidak tegas menunjukkan kepada wajib surah pada tiap-tiap rekaat tetapi kalau diambil umumnya, sudah bisa menunjukkan kepada sunnatnya.

Hadis yang ke-2 dan ke-3 itu sungguhpun tidak tegas mengatakan perlu surah pada tiap-tiap reka’at, tetapi kalau diambil umumnya tidak dapat tidak berarti bahwa sholat seseorang itu tidak sah melainkan kalau ia baca surah pada tiap-tiap rekaat tetapi oleh sebab hadis-hadis itu tidak sah maka tidak dapat kita ambil ketetapan yang begitu.

Hadis yang ke-4 itu dengan tegas menunjukkan ada bacaan surah pada tiap-tiap rekaaty, tetapi hadis itu lemah riwayatnya.

Sejumlah dari hadis-hadis itu sungguhpun tidak boleh dijadikan alasan wajib membaca surah pada tiap-tiap rekaat, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa bacaan surah di rekaat yang ke-3 dan ke-4 itu juga sunnat.
Dari kitab Pedoman Shalat
Karya : Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy
Terbitan Bulan Bintang Djakarta 1966
hal. 229 : T : Adab bangkit kerekaat yang ke-3 dan ke-4

Apabila telah selesai memenuhi haq tasyahhud  yang pertama, maka hendaklah kita bangun kereka’at yang ke-3 seraya bertakbir dengan bertelekan kepada lutut atau paha. Setelah sampai tegak berdiri, hendaklah kita angkatkan tangan kecabang-cabang telinga, menurut sifat yang telah lalu. Sesudah kita menurunkan tangan dan meletakkan tangannya diatas dada, kitapun membaca al-Fatihah sahaja ; surat tidak dituntut lagi. Akan tetapi boleh juga kita membacanya, karena mengingat bahwa Abu Bakar Shiddiq pernah membaca direkaat yang ke-3 sesudah al-Fatihah :

Robbana taqqobal minna innaka antassami’ul ‘alim watab ‘alayna innaka anta tsawwaburrohim
Wahai Tuhan kami, terimalah permohonan dan amal kami, bahwasanya Engkaulah Tuhan yang Maha menerima taubat lagi maha penyayang.

Dengan demikian maka kiranya apa yang menjadi pertanyaan dari Sdr. Djatmiko Djati InsyaAllah sudah terjawabkan.

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,
Armansyah



Pertanyaan yang dijawab :
—– Original Message —–
Sent: Tuesday, January 16, 2007 8:42 AM
Subject: [Milis_Iqra] Mohon penjelasan tentang sholat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mas Arman, Mas Dani dan saudara saudari seiman dan seakhidah…….

Saya telah belajar (mencoba) untuk sholat khusu’ seperti petunjuk buku2 tentang itu juga dari pengalaman teman2 yang sempat dipost di millis ini, Alhamdulillah saya merasakan (menurut saya: minimal saya dapat lebih berkonsentrasi). Akhir2 ini setiap sholat ingin rasanya tidak cepat selesai, saya begitu menikmatinya, saya merasa bacaan dalam sholat terasa terlalu pendek terutama pada roka’at 3 dan 4.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah; dapatkah (bolehkan) setelah Al-Fatika pada roka’at 3 dan 4 membaca lagi surat2 lain seperti pada roka’at 1 dan 2 ?

Atas penjelasannya saya ucapkan Alhamdulillah – terima kasih.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Djatmiko Djati

Advertisements

Tanya Jawab masalah Waris

—– Original Message —–
Sent: Thursday, September 21, 2006 9:24 AM
Subject: Masalah kewarisan
Assalamualaikum….
Maaf mas……saya sangat butuh bahan masalah kewarisan ini.
Mohon kepada mas yang mempunyai artikelnya. Agar sudi kiranya mengirimkan kepada saya.
Terimakasih banyak sebelumnya.
Wassalamualaikum…
Saya minta tolong mengetahui tentang Masalah2 kewarisan, yaitu tentang :
1. khuntsa dan contoh-contoh penyelesaiannya
Khuntsa adalah orang yang secara faal dan biologis berkelamin ganda. Namun diantara sekian banyak fenomena di dunia ini, kasus ini tergolong sangat sedikit seseorang yang memiliki kelamin laki-laki dan kelamin wanita sekaligus.

Dan Islam sejak dahulu telah memiliki sikap tersendiri berkaitan dengan status jenis kelamin orang ini. Sederhananya, bila alat kelamin salah satu jenis itu lebih dominan, maka dia ditetapkan sebagai jenis kelamin tersebut. Artinya, bila organ kelamin laki-lakinya lebih dominan baik dari segi bentuk, ukuran, fungsi dan sebagainya, maka orang ini meski punya alat kelamin wanita, tetap dinyatakan sebagai pria. Tentunya sebelum dilakukan operasi perubahan atau suntik silikon. Dan sebagai pria, berlaku padanya hukum-hukum sebagai pria. Antara lain mengenai batas aurat, mahram, nikah, wali, warisan dan seterusnya.

Dan sebaliknya, bila sebelum operasi organ kelamin wanita yang lebih dominan dan berfungsi, maka jelas dia adalah wanita, meski memiliki alat kelamin laki-laki. Dan pada dirinya berlaku hukum-hukum syairat sebagai wanita.

Namun ada juga yang dari segi dominasinya berimbang, yang dalam literatur fiqih disebut dengan istilah Khuntsa Musykil. Namanya saja sudah musykil, tentu merepotkan, karena kedua alat kelamin itu berfungsi sama baiknya dan sama dominannya. Untuk kasus ini, dikembalikan kepada para ulama untuk melakukan penelitian lebih mendalam untuk menentuakan status kelaminnya. Namun kasus ini hampir tidak pernah ada. Bahkan khuntsa ghairu musykil pun hampir tidak pernah didapat.

————–

Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti ‘lunak’ atau ‘melunak’. Misalnya, khanatsa wa takhannatsa, yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”

Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit), atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil, artinya tidak ada kejelasan. Sebab, setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas, bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan.

Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya.

Oleh karena itu, adanya dua jenis kelamin pada seseorang –atau bahkan sama sekali tidak ada– -disebut sebagai musykil. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan, kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi, misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang “air kecil”. Bila urinenya keluar dari penis, maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina, ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. Namun, bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan, maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh.

Di samping melalui cara tersebut, dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya, atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Misalnya, bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani, penj.), apakah ia tumbuh kumis, apakah tumbuh payudaranya, apakah ia haid atau hamil, dan sebagainya. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak, maka ia divonis sebagai khuntsa musykil.

Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa, bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan.

Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya, dan tidak menerima vonis tersebut. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. Melihat sang majikan gelisah, budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya, dan budak wanita itu berkata: “Cabutlah keputusan tadi, dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya.”

Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Ia berkata: “Wahai kaumku, lihatlah jalan keluarnya air seni. Bila keluar dari penis, maka ia sebagai laki-laki; tetapi bila keluar dari vagina, ia dinyatakan sebagai perempuan.” Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi.

Ketika Islam datang, dikukuhkanlah vonis tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian, maka beliau menjawab dengan sabdanya: “Lihatlah dari tempat keluarnya air seni.”

Untuk banci –menurut pendapat yang paling rajih– hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya –keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas, atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris, atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya.

Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu’amalah bil adhar– yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit, maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita; dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit, maka divonis sebagai laki-laki. Bahkan, bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya, maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris.

Bahkan dalam mazhab Imam Syafi’i, bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita), maka gugurlah hak warisnya.

Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci
Sumber :
http://media.isnet.org/islam/Waris/HukumBanci.html

1. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, dan seorang anak banci. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki, maka pokok masalahnya dari lima (5), sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). Kemudian kita menyatukan (al-jami’ah) antara dua masalah, seperti dalam masalah al-munasakhat. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8), sedangkan bagian anak perempuan empat (4), dan bagian anak banci lima (5). Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti.

2. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami, ibu, dan saudara laki-laki banci. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita, kemudian di-‘aul-kan menjadi delapan (8). Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki, maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di- ‘aul-kan. Dan al-jami’ah (penyatuan) dari keduanya, menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24).

Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian, ibu enam (6) bagian, saudara laki-laki banci tiga (3) bagian, dan sisanya kita bekukan. Inilah tabelnya:

6 8 6 24
Suami 1/2 3 Suami 1/2 3 9
Ibu 1/3 2 Ibu 1/3 2 6
Banci 3 Banci kandung 1 4

Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara, dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas.

3. Seseorang wafat dan meninggalkan suami, saudara kandung perempuan, dan saudara laki-laki seayah banci. Maka pembagiannya seperti berikut:

Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki, maka pokok masalahnya dua (2), sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7), dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14).

Bagian suami enam (6), saudara kandung perempuan enam (6) bagian, sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. Adapun sisanya, yakni dua (2) bagian dibekukan. Ini tabelnya:

2 6 7 14
Suami 1/2 1 Suami 1/2 3 6
Sdr. kdg. pr. 1/2 1 Sdr. kdg. pr. 1/2 3 6
Banci lk. Sdr. pr. seayah 1/6 1

Pembagian Waris Menurut Islam
oleh Muhammad Ali ash-Shabuni
penerjemah A.M.Basamalah
Gema Insani Press, 1995
Jl. Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740
Tel.(021) 7984391-7984392-7988593
Fax.(021) 7984388
ISBN 979-561-321-9

2. mafqud dan contoh-contoh penyelesaiannya
Jawaban pertama saya ambil dari bukunya A. Hassan berjudul al-Fara’id ; kitab pembagian pusaka tjara Islam dengan alasan-alasan dari Qur’an dan hadith beserta tjara menghitung dan membagi dengan djadwal-djadwalnya; penerbit Tintamas Djakarta 1964.
Pasal ke-39
al-Mafqud ( orang yang hilang )
hal. 126
Kalau seseorang hilang, tidak ketahuan kemana perginya, padahal ia ada meninggalkan harta atau didalam masa hilangnya ada seorang keluarganya mati dan ia dapat warisan, maka bagaimana mestinya mengatur ?
Ada ulama berkata, bahwa hartanya sendiri, dan harta yang ia dapat warisan itu tidak boleh diapa-apakan hingga lewat 90 tahun, barulah boleh dibagikan kepada warisnya.
Ada ulama memandang bahwa hal itu terserah kepada pertimbangan Qadhi, Imam atau sultan ( dalam bahasa kita sekarang diserahkan kepada pemerintah atau lembaga keagamaan yang mengatur permasalahan itu ataupun juga hakim agama – Tambahan oleh Arman).
Ada yang menwajibkan menunggu hingga masa yang orang-orang sebaya dengannya meninggal.
Ada yang berpendapat bahwa hartanya itu diserahkan kepada baitul mal buat dijaga dan ditarik hasilnya, dikeluarkan belanja-belanja yang perlu dan pantas seperti gaji pengurus, zakat, belanja orang-orang yang ada dalam tanggungannya dan sebagainya sambil dijalankan ikhtiar buat mencari tahu halnya dengan apa-apa daya upaya yang pantas.
Sesudah dirasa ikhtiar puas, maka boleh Qodhi, Imam atau sultan ( lihat penjelasan sebelumnya -red ) membagikan 2/3 dari hartanya kepada waris-warisnya dan 1/3 lagi tetap disimpan dalam baitul mal hingga kira-kira orang itu sampai umur pada ghalibnya mesti mati, barulah 1/3 itu lagi dibagikan kepada ahli warisnya yang masih ada pada waktu itu; dan kalau ahli warisnya tidak ada sama sekali maka dibagikan kepada ulul arhaamnya ( keluarganya ).
———


Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna ‘hilang’. Dikatakan faqadtu asy-syai’a idzaa adha’tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut:
“Penyeru-penyeru itu berkata: ‘Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.” (Yusuf: 72)


Sedangkan menurut istilah para fuqaha, al-mafqud berarti orang yang hilang, terputus beritanya, dan tidak diketahui rimbanya, apakah dia masih hidup atau sudah mati.


Hukum Orang yang Hilang

Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang, di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan, hartanya tidak boleh diwariskan, dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik, sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum — telah mati, dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati.

Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya, hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r.a. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. Ali berkata: “Dia adalah seorang istri yang tengah diuji, maka hendaknya dia bersabar, dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya.”

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat.

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya –tempat dia tinggal. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada, maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. Dalam riwayat lain, dari Abu Hanifah, menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90).

Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.

Dalam riwayat lain, dari Imam Malik, disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam –hingga tidak dikenal rimbanya– dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu, maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya, maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya, yaitu empat bulan sepuluh hari. Bila usai masa idahuya, maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi.

Sedangkan dalam mazhab Syafi’i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun, yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Namun, pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi’i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi, cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim, kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. Karena menurut Imam Syafi’i, seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati, sesudah berlalunya waktu tertentu –kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut.

Sementara itu, mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan, atau menjadi salah seorang penumpang kapal yang tenggelam– maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya, maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. Demikian juga istrinya, ia dapat menempuh masa idahnya, dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai.

Namun, apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal, seperti pergi untuk berniaga, melancong, atau untuk menuntut ilmu, maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. Pertama, menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. Kedua, menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. Kapan saja hakim memvonisnya, maka itulah yang berlaku.

Menurut hemat penulis, pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat), dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila’i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. Sebab, memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu, dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. Misalnya, orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran, atau banyak perampok dan penjahat, akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. Karena itu, dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan.

Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris, dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya, maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan:

  1. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain.
  2. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada, tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh)

Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan –tidak diberikan kepada ahli waris– untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup, maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Namun, bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati, maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya.

Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki, saudara kandung perempuan, dan anak laki-laki yang hilang. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai “penghalang” atau hajib hirman apabila masih hidup. Karena itu, seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal, maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada.

Misal lain, seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki, saudara laki-laki seayah, dan dua saudara perempuan seayah. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas.

Sedangkan pada keadaan kedua, ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati, atau mirip dengan pembagian hak waris banci). Maksudnya, bila ahli waris yang ada –siapa saja di antara mereka– yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya, hendaknya ia diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan, atau tanpa ada yang dibekukan). Namun, bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya), maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. Namun, bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang, dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun.

Sebagai contoh, seseorang wafat dan maninggalkan istri, ibu, saudara laki-laki seayah, dan saudara kandung laki-laki yang hilang. Dalam keadaan demikian, bagian istri adalah seperempat (1/4), ibu seperenam (1/6), dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya, atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun.

Dalam contoh tersebut, tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang –yaitu bagian istri seperempat (1/4)–dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi, yaitu bagian ibu seperenam (1/6). Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal, maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3).

Contoh-contoh Kasus

Seseorang wafat dan meninggalkan suami, saudara kandung perempuan, dan saudara kandung laki-laki yang hilang, maka pembagiannya sebagai berikut:

Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian, yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup, dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. Kemudian kita menggunakan cara al-jami’ah (menyatukan) kedua cara tadi. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing, kemudian membekukan sisanya. Tabelnya sebagai berikut:

4 7 8
Anggapan msh. hdp. 2 8 Anggapan sdh. mati 6 7 56
Suami 1/2 1 4 Suami 1/2 3 24
yang dibekukan 4
Sdr. kdg. pr 1 Sdr. kdg. pr 2 16
yang dibekukan 9
2/3
Sdr. kdg. pr 1 1 Sdr. kdg. pr 2 16
yang dibekukan 9
Sdr. kdg. lk. hlg 1 Sdr. kdg. lk. hlg

Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri, ibu, saudara kandung, dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki, maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut:

1 2
Anggapan msh. hdp. 24 Anggapan sdh. mati 12 24
Istri 1/8 3 Istri 1/4 3 6
yang dibekukan 3
Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8
yang dibekukan 4
Sdr. lk. mahjub Sdr.lk.kdg.’ashabah 5 10
yang dibekukan 10
Cucu lk. (hilang) 17 Cucu lk. (hilang)
Jumlah yang dibekukan 17

Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan suami, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, saudara kandung perempuan, dan anak laki-laki yang hilang, maka bagian masing-masing seperti berikut:

Anggapan msh. hdp. 4 Anggapan sdh. mati 4 4
Suami 1/4 1 Suami 1/4 1 1
Cucu pr.dr.anak.lk. (mahjub) Cucu pr.dr.anak.lk. 1/2 2 2
yang dibekukan 2
Sdr.kdg.pr. (mahjub) Sdr.kdg.pr. ‘ashabah 1 1
yang dibekukan 1
Anak lk. (hilang) 3 Anak lk. (hilang)

Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri, saudara laki-laki seibu, anak paman kandung (sepupu), dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Maka rincian pembagiannya seperti berikut:

Anggapan msh. hdp. 8 Anggapan sdh. mati 12 24
Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6

yang dibekukan 3

Sdr.lk.seibu (mahjub) Sdr.lk. seibu 1/6 2 4

yang dibekukan 4

Sepupu. lk. ‘ashabah 3 Sepupu. lk. ‘ashabah 7 14

yang dibekukan 5

Cucu pr. (hilang) 4 Cucu pr. (hilang)

yang dibekukan 12

Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya.

3. org tertawan dan contoh-contoh penyelesaiannya
Pendapat saya pribadi :
Orang yang tertawan, sekiranya dia bisa bebas suatu ketika maka hak-hak warisnya adalah sesuai dengan hukum waris yang ada. Akan tetapi bila dia tidak dimungkinkan bebas, maka hak-hak warisnya diatur sesuai kaidah dan hukum-hukum selaku pewaris ( orang yang meninggalkan warisan ) dimana semua harta yang ia miliki sebelumnya ( baik itu berupa harta hasil kerjanya selama ini ataupun harta yang ia miliki dari warisan generasi sebelumnya ) diatur sebagaimana orang yang mewariskan adanya.
Jika ada pendapat yang lebih kuat dari saya diatas ( dan memiliki dasar hukum secara Islam ), mohon kiranya para sahabat memperbaikinya dan dishared kemilis.
Mohon dikirimkan artikelnya.
Terima kasih…
Wassalamualikum.
Wassalam.,
Armansyah
%d bloggers like this: