Dialog tentang universalitas Islam

Dialog antara Armansyah dengan Sdr. Iskandar

Seputar konsep universalitas Islam dan hubungannya dengan konsep jemaah

Diskusi dimulai dari Sdr. Iskandar yang menghubungi saya melalui email, menanggapi tulisan saya disitus swaramuslim ( http://armansyah.swaramuslim.com ).

Dialog pertama :

Tanggal : 09 Agustus 2006 | Pkl : 07:31 AM dan Pkl : 09:39 AM

[ Iskandar : ] Assalammu’alaikum wr wb,

[ Armansyah : ] ‘alaykumsalam Wr. Wb.,

[ Iskandar : ] Bung Arman, sungguh saya kagum atas pernyataan :

Saya orang yang rasional dan bukan dogmatis …
Berbicara dengan saya maka bersiaplah untuk berbicara Islam secara universal (bukan liberal) … sebab kebenaran Tuhan itu bisa didapatkan darimana saja sumbernya ….setiap kebenaran akan bersifat saling mengisi dan saling membenarkan kebenaran yang sudah ada sebelumnya … tetapi manakala sesuatu itu bersifat parsial atau justru bertentangan … maka tentu dia bukan kebenaran … sebab kebenaran sifatnya pasti bukan relatif.

Bolehkah saya ngobrol-ngobrol lebih lanjut dengan bung ?

[ Armansyah : ] Salam kenal kembali buat anda Sdr. Iskandar …

InsyaAllah selama masing-masing dari kita punya waktu dan kesempatan (kita bisa sama-sama berdiskusi) …

[ Iskandar : ] Pertama yang saya tanyakan, cuplikan dari Tafsir Al Furqon A.HAsan Persis.

(QS.10:35) “Tanyalah adakah dari antara sekutu sekutu kamu itu siapa siapa yang bisa memimpin kepada kebenaran ?. Katakanlah: “Allah-lah yang memimpin kepada kebenaran”. Maka apakah yang memimpin kepada kebenaran itu lebih patut diturut ataukah yang tidak bisa memimpin kecuali sesudah dipimpin. Mengapa kamu begitu ?. Bagaimana kamu mengambil keputusan ?”.

Persepsi saya, bung Arman telah mendapatkan orang yang dipimpin Allah, karena dalam ayat ini yang dapat memimpin kepada kebenaran hanya Allah dan orang yang dipimpin Allah.

Menurut bung Arman beliau adalah :” Tidak ada orang yang lebih berjasa dalam menanamkan ilmu dan prinsip Tauhid kepada diri saya diluar orang tua kecuali Drs. H. Asfanuddin Panjaitan (almarhum) yang akrab saya panggil Bang Asfan”.

[ Armansyah : ] Pada dasarnya, nilai-nilai kebenaran itu bisa ada pada setiap makhluk, mulai dari hewan, tetumbuhan, bumi, air, planet-planet, matahari, bulan, bintang gemintang dan juga manusia itu sendiri terlepas apakah dia beriman ataukah kafir dari sisi akidah.

Hanya saja secara realita, seringkali kita butuh nilai-nilai kebenaran yang ada pada setiap makhluk tadi itu sebagai guide buat kita agar bisa tetap konsis atau istiqomah terhadap kebenaran itu sendiri. Untuk itulah maka Allah pun menjadikan sebagian dari manusia sebagai Nabi dan Rasul sementara sebagian lainnya Dia jadikan selaku guru, wali atau ulama yang mana menjadi Imam bagi manusia lainnya.

[ Iskandar : ] Bagaimana mengetahui orang yang dipimpin Allah (berdasarkan Al Qur’an atau Hadits) ?

[ Armansyah : ] Saya akan menjawabnya secara universal saja dulu, pertanda yang paling utama adalah orang itu mengajarkan ketauhidan atau pengesaan kepada Allah dengan semurni-murninya penghambaan; lalu orang itupun memberikan keteladanan buat orang lain melalui dirinya sendiri, orang itu juga seharusnya memiliki sikap yang bijaksana dalam menyikapi sesuatu dan dia juga harusnya orang yang mumpuni dalam berwawasan secara global

[ Iskandar : ] Apakah hasil atau ukuran yang dicapai dari ilmu tersebut sehingga kita meyakini sebagai kenyataan tentang kebenaran universal ?

[ Armansyah : ] Satu ilmu adalah rangkaian dari ilmu-ilmu lainnya, meyakini satu ilmu saja tentu tidak bisa disebut telah mengetahui kebenaran yang sejati sebab yang satu ilmu ini baru sebatas pijakan awal dalam melangkah kepada kebenaran, olehnya orang yang bisa disebut telah dipimpin Allah maka dia tidak menutup diri atas kebenaran yang ada pada ilmu lain diluar disiplin yang ia dalami.; semuanya adalah rangkaian dari satu kesatuan yang utuh.

[ Iskandar : ] Adakah hubungan Imam dan Jamaah dengan beliau ?

[ Armansyah : ] Imam dan Jamaah adalah sebuah konsepsi kepemimpinan yang berfungsi mengatur tatanan yang ada pada sebuah komunitas, saat dia bertindak sebagai seorang guru maka diapun bisa disebut seorang imam yang mengatur jamaahnya (yaitu dalam hal ini murid-muridnya) begitupula misalnya saat dia bertindak selaku kepala negara maka dia pun bisa disebut imam yang mengatur masyarakatnya selaku jamaah yang besar.

Saya tidak melihat konsep Imam dan Jamaah secara parsial sebagaimana yang ada dalam konsepsi sebagian umat Islam yang akhirnya memaksakan kehendak kelompoknya untuk diakui sebagai satu-satunya kebenaran ataupun komunitas yang justru mengecilkan makna keuniversalan dari Islam itu sendiri.

[ Iskandar : ] Terima kasih, Wassalammu’alaikum wr wb.

Iskandar – Jakarta Pusat

[ Armansyah : ] Demikian yang bisa saya jawab sementara ini, terimakasih atas perhatian anda.

Wassalam.,

Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.net

Dialog kedua :

Tanggal : 11 Agustus 2006 | Pkl : 07:21 AM dan Pkl : 09:36 AM

[ Iskandar : ] Bang Arman, banyak yang mengajarkan lisan dan tulisan bahkan Rasulullah saw menyampaikan dalam Universitas-Islam yang mengajarkan ke-universal-an dimana ruang kelas tempat berjalan menuntut ilmu-Nya meliputi Waktu, Ruang, Alam dan Mahluk. Namun universitas ini telah terpecah belah menjadi 73 universitas.

[ Armansyah : ] Hmm. begini mas Iskandar.,

Saat Allah menyatakan Islam itu universal maka tentu memang demikian ada dan sifatnya, saya rasa sampai disini kita bisa tetap sepakat.

Nah, jika pembicaraan sudah masuk kepada hadis yang menceritakan mengenai adanya 73 firqah didalam Islam, maka berarti kita mulai mengeklusifkan pembahasan dan sudah keluar dari jalur universalitas sebelumnya.

Jadi artinya diskusi ini sifatnya sudah menyempit …. dan kita tentu tidak akan membawa-bawa lagi istilah universalitas dalam pembahasan berikutnya.

[ Iskandar : ] Dalam hadits dibawah ini keteladanan phisik dapat dibuat serupa dengan Rasul ” Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa kita. artinya tak cukup hanya dengan melihat dan mendengar dengan indera jasmani lalu kita memilih dan bersumpah-setia kepada seseorang untuk dapat menuntun kepada kebenaran universal yang didambakan.

[ Armansyah : ] Baiat adalah sebuah sikap ketertundukan dan kepatuhan kita atas diri seseorang yang disepakati untuk menjadi pemimpin kita dan sekelompok orang lain atas dasar tujuan tertentu.

Dan menurut saya, selama tujuan itu tetap menjadi anak tangga untuk melangkah kepada kebenaran yang universal maka baiat bisa dibenarkan, namun perlu di-ingat, ini bukan untuk mengeklusifkan kebenaran itu sendiri sehingga mendeskreditkan nilai-nilai kebenaran lain yang ada diluar kelompoknya.

Kebanyakan dari kita sering bertindak terlalu apatis terhadap kebenaran yang diungkapkan oleh orang lain, terlebih jika orang tersebut memiliki cara pandang yang berseberangan dengan apa yang kita yakini kebenarannya. Padahal belum tentu semua yang ada dalam pemikiran orang tersebut salah dan sebaliknya belum tentu juga setiap pikir dan tindakan kita bernilai benar; bisa saja kita bersikap konsisten terhadap nilai-nilai yang kita anut sehingga kita menyebutnya sebagai sebuah kebenaran namun bukan tidak mungkin konsistensi kita tadi hanya ilusi dimana pikiran kita sesungguhnya berjalan sesuai pola logika yang bisa bergeser dan menyimpang.

Pikiran kita memang seringkali tidak menyimpang kalau kita bandingkan dengan standar kita sendiri. Padahal standar kita dibentuk oleh pikiran kita yang bisa jadi pula dipengaruhi oleh orang lain. Jadi, maksud saya acapkali pikiran kita ternyata hanya tidak menyimpang dari pikiran kita sendiri atau kelompok dimana kita berkomunitas.

Allah menjadikan kita lengkap dengan panca indera berikut fungsinya adalah untuk menangkap dan menyerap semua nilai-nilai kebenaran yang berserakan disemesta raya, ini adalah tools atau alat yang harus dioptimalisasikan penggunaannya.

Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi ? padahal mereka mempunyai hati yang dengan hati itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar; Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. – Qs. 22 al-Hajj : 46

[ Iskandar : ] Pertanyaannya :

1. Bagaimana kita dapat memilih secara benar jika 73 universitas dengan kurikulum yang sama yaitu Al Qur’an dan Hadits, para dosen-nya serupa tapi tak sama. Beranikah kita mengorbankan diri dan keluarga kita dalam usaha terpenting di kehidupan dunia ini tanpa kepastian yang nyata tentang alam lainnya yaitu Surga dan Neraka (universal) ?.

Shahih Bukhari IV:1873 : Dari Huzaifah bin Yaman r.a katanya : Orang banyak biasanya menanyakan kepada Rasul saw tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepada beliau tentang keburukan (bahaya), karena takut akan ditimpanya. Saya bertanya :”Ya Rasulullah ! Sesungguhnya kami dahulu dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu didatangkan Allah kepada kami kebaikan. Adakah sesudah kebaikan ini akan terjadi keburukan ?” Jawab nabi :”Ya !” Saya bertanya :”Adakah sesudah keburukan itu ada kebaikan ?” Jawab nabi :”Ya !, tapi ada yang merusaknya”. Saya bertanya :”Apakah perusak itu ?” Jawab Nabi :” Sekumpulan orang yang memimpin bukan menurut jalan yang benar. Sebagian dari tindakan mereka ada yang engkau pandang baik dan ada yang tidak.” Saya bertanya :”Adakah sesudah kebaikan terjadi lagi keburukan?” Jawab nabi :”Ya ! Orang-orang yang memanggil dipintu neraka. Siapa yang memperkenankan panggilannya, mereka dilemparkannya ke dalam neraka.” Saya bertanya :”Ya Rasulullah, terangkan kepada kami keadaan mereka !” Jawab Nabi :” Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa kita.” Saya bertanya :”Apakah yang engkau perintahkan kepada saya, kalau se-andainya saya mendapati hal yang demikian ?” Jawab Nabi :”Hendaklah engkau tetap dalam jama’ah (persatuan) kaum Muslimin dan mengikuti Imam (pemimpin) mereka.” Saya bertanya :” Bagaimana kalau mereka tidak mempunyai Jama’ah (persatuan) dan tidak mempunyai Imam (pemimpin) ?” Jawab Nabi :”Jauhilah semua kumpulan biarpun karena itu engkau sampai menggigit (mengunyah) urat-urat kayu, sehingga engkau meninggal dunia dalam keadaan serupa itu.”

[ Armansyah : ] Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan tangga-tangga yang mereka bisa menaikinya. -Qs. 43 az-Zukhruf :33

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat -Qs. 11 Huud :118

Bergolong-golongan atau berpecah belah sudah menjadi fitrah dari manusia itu sendiri, rambut bisa sama hitam tetapi pendapat sangat bisa untuk berbeda, bagaimana mungkin kita bisa menyatukan semuanya dalam arti yang sebenarnya ? itulah makanya saya katakan kita harus realistis, sejak awal Allah menjadikan manusia ini dengan dua fitrahnya, baik dan buruk, dan semenjak awal pula Allah tidak mendesain diri kita ini untuk menjadi malaikat yang hanya mengenal kebaikan, itu sudah lebih dari cukup bagi kita untuk mengindikasikan betapa Allah itu memang sudah menjadikan keberagaman diantara manusia itu sebagai sebuah fitrah, dan disitulah letak salah satu ujian yang mesti kita jalani, kita harus bisa melepaskan diri dari segala bentuk eksklusifisme kita.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia ciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia; Yang mengajar dengan Qalam. Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
Qs. 96 al-alaq : 1 – 5

Perintah membaca pada ayat diatas misalnya, bukan hanya dalam konteks dimana Nabi disuruh oleh malaikat Jibril membaca saat turun wahyu pertama saja, akan tetapi bisa kita tafsirkan secara luas dalam konteks masa kini. Dimana membaca adalah awal dari berpikir. Awal dari mencari tahu dan melakukan penyelidikan, awal dari menganalisa serta awal dari suatu pemahaman ataupun kesimpulan. Artinya untuk bisa menjangkau nilai-nilai kebenaran universal, kita tidak bisa bersifat eksklusif, kita harus bisa open-minded atau berpikiran terbuka.

semakin kita banyak belajar dan berinteraksi maka kepribadian kita seharusnya semakin meningkat, semakin menuntut lebih banyak dari sebelumnya, semakin kita belajar semakin kita merasa ilmu ini teramat sedikit, semua kekayaan pemikiran, khasanah pengetahuan harus bertambah demikian juga dengan ketakwaan maupun kesederhanaan jiwa.

Inilah inti dari sabda Nabi : Sesungguhnya siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung, tetapi orang yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya maka dia termasuk orang yang merugi (lihat rujukan Surah al-Ashar 103 ayat 1 s/d 3).

Nah, apa yang saya sampaikan tadi itu sebenarnya untuk menggambarkan proses demi proses yang dilalui oleh manusia … kita tidak bisa terus-terusan berpikir dengan meniru gaya anak kecil beragama … seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia, ilmu dan pengalaman maka seyogyanyalah kita harus semakin matang dan dewasa dalam memahami ajaran Islam.

Kita harus bisa berpikir lebih bijak dan lebih sehat … ketaklidan buta akan sebuah dogma agama sama sekali tidak menghasilkan kepuasan dalam pelaksanaannya dan bahkan itupun bertentangan dengan kitab suci.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka yang memperolok – Qs. 49 al-Hujuraat :11

Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu mengenainya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. -Qs. 17 al-israa’ : 36

Allah mewajibkan kita belajar dan terus belajar, kita tidak boleh bersikap statis apalagi jumud … Allah ingin kita ini pintar, cerdas dan terpelajar.

Semakin kita berpikir maka semakin banyak kita menggunakan otak kita. Dan bila semakin banyak kita menggunakan otak kita, maka akan lebih baik dilihat dari sudut menciptakan tambahan intelejensia. Demikian juga semakin kita berkonsentrasi, semakin kita memperbaiki penggunaan otak kita. Oleh karena itu, kunci untuk membuka intelegensia adalah sederhana … gunakan otak kita sebanyak dan sesering yang bisa kita lakukan !


Orang-orang yang malas dan tidak suka berpikir atau yang terbiasa mendelegasikan kepada orang lain untuk berpikir, setelah beberapa waktu otak mereka menjadi semakin lemah dan akhirnya pikiran dikendalikan orang lain. Inilah asal mula timbulnya pemujaan (pengidolaan) .

Banyak sekali jumlah ayat al-Qur’an yang mewajibkan kita mempergunakan akal dalam berkehidupan ini, bahkan Ibrahim as sebagai imam manusia dan dijadikan khalil Allah, memulai pencarian kebenaran melalui akalnya dan wahyu pertama yang turun kepada Muhammad Rasulullah sebagaimana yang saya singgung dibagian atas juga perintah Iqra, Baca, belajar, kreatif yang semuanya hanya bisa diperoleh melalui akal.

Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. – Qs. 10:Yuunus 100

Berpikir dan teruslah berpikir … kritis dan kritislah dalam beragama … tinggalkanlah sifat jumud, taklid maupun kultus individu … pelajarilah semua hal dan obyektiflah, tataplah Islam melalui kacamata ilmu …. karena Islam diturunkan tidak untuk dibuat beku, Islam bersifat universal … Rahmatan lil’alamin….Islam menuntut anda cerdas, bukan menyuruh anda bodoh, biarkan umat-umat lain tersesat dengan doktrin irrasionalnya yang tidak boleh dibantah … tapi jangan jadikan diri anda bersifat sama seperti mereka.

Dalam merangsang agar manusia ini mau berkreatif Nabi Muhammad Saw bersabda :

Jika seorang pemikir berusaha sendiri dan memberikan keputusan yang benar maka dia mendapat dua pahala, tetapi jika penilaiannya keliru, dia masih akan mendapat satu pahala. -Hadist riwayat Abu Daud

Ya, terlepas benar atau salah hasil pemikiran yang sudh kita lakukan itu akan tetap mendatangkan pahala … bukan dosa !

Demikian …

[ Iskandar : ] 2. Dalam surah (QS.29:49) kriteria alim ulama atau berilmu adalah orang yang telah mendapat Al Qur’an yang nyata didada seperti dicontohkan Rasulullah di letakkan didadanya nurul ilmi Al Qur’an, lalu Alqur’an didada beliau berkata-kata menyampaikan dalam bentuk bahasa kaumnya dan perilaku atau ahlak, semua itu di-ingat di memori-otak-kepala jamaahnya dan selanjutnya ditulis dan disusun kemudian.

Pertanyaannya : Setelah kuliah mencari lmu dari dosen dimaksud, apakah bung Arman, telah mendapatkan ilmu yang nyata itu yaitu “Al qur’an didada” ? Bagaimana mengetahui bahwa seseorang telah mendapatkannya ?

(QS.29:49) Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.

[ Armansyah : ] Semakin kita belajar maka seharusnya semakin besar pula rasa tawaduk kita akan kemahaan Ilahiah, nah, kala kita sudah mampu melepaskan ego keakuan kita inilah maka kita mulai bisa disebut sebagai orang yang arif, yaitu orang yang mampu memahami semua kejadian dan proses yang ada pada alam semesta ini atau pada tatanan masyarakatnya dengan kacamata Allah.;

Kehidupan berdiri di atas satu hakikat, yaitu pertarungan yang terus-menerus di antara yang hak dengan yang batil. Seluruh peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia tidak keluar dari konteks pertarungan ini. Dengan hati nurani kita dapat menyelami sejarah dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang. Kita dapat menyelami lebih dalam tentang terjadinya berbagai perpecahan mazhab di dalam sejarah umat Islam atau kenapa sampai manusia ini tidak bisa pernah 100% sepakat terhadap sesuatu hal yang sama.

Untuk mengkaji ini mau tidak mau kita harus mengesampingkan berbagai emosi dan kecenderungan pribadi, dan mendasarkan diri kepada kaidah-kaidah Al-Qur’an. Sehingga kita mampu melakukan analisa yang objektif, dan mampu melihat berbagai peristiwa bukan hanya sebatas permukaannya saja melainkan sampai ke substansinya. Dengan begitu kita akan bisa sampai kepada penglihatan yang jelas dan objektif, dan bukan penglihatan yang salah dan rancu.

Itulah salah satu makna dari keberadaan ayat-ayat al-Qur’an didalam dada orang yang berilmu.

[ Iskandar : ] 3. Dapatkah seseorang terkecoh oleh tampilan keteladanan yang dipandang baik lalu dengan berani menpertaruhkan keselamatan diri dan keluarganya … point of no return ?

Seseorang dapat terkecoh dan tertolak dalam menuntut ilmu kebenaran seperti cerita atau pelajaranan Allah swt tentang Musa as yang menyalahkan calon dosennya Khidir as karena tampilan perilaku tersurat dalam membunuh anak, melubangi perahu dan membangun rumah anak yatim-piatu disebuah desa. Kelihatan oleh Musa as kontradiktif dengan ahlakul karimah?

Demikian, terima kasih

[ Armansyah : ] Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Nilai-nilai kebenaran itu terkandung dalam semua kejadian dialam semesta ini, prinsip yang saya pegang dalam hidup ini : bila sesuatu itu baik dan bermanfaat akan saya ambil sekalipun itu harus keluar dari -maaf- pantat ayam misalnya telur, namun jika sesuatu itu buruk dan sama sekali tidak bermanfaat ya akan saya jauhi, sekalipun berasal dari -maaf- pantat seorang kaisar ternama misalnya kentut. Jadi kita ambil ibrah saja dari semuanya, berbaik sangka jauh lebih baik daripada bersikap sinis terhadap sesama muslim.

“Sesungguhnya mereka yang suka akan tersebarnya keburukan dikalangan kaum beriman akan mendapatkan azab yang pedih didunia dan akhirat…”
(Qs. an-Nur 24:19)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kamu atas satu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berbuatlah adil, ini lebih mendekatkan kamu kepada ketakwaan; takutlah kamu kepada Allah sebab Allah amat mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Maidah 5:8)

Kita memang acapkali jengkel dengan penafsiran segelintir jemaah terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan juga al-Hadist, mereka memutar balikkan semuanya sekehendak hati mereka sehingga masing-masing merasa bahwa ayat-ayat dan Hadist-hadist tersebut memperkuat aliran mereka, namun sesuai amanat al-Qur’an, yang demikian tidak berarti harus kita sikapi dengan anarkis dan menghilangkan sudut keobjektifitasan kita.

“Apabila kamu berbantahan disatu permasalahan, hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah dan Rasul apabila adalah kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.” -Qs. an-Nisa’ 4:59

Banyak orang mengatakan bahwa melakukan Bai’at terhadap pemimpin itu wajib hukumnya, namun ber-bai’at terhadap Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw jauh melebihi dari kewajiban berbai’at kepada siapapun.

Wassalam.,

Armansyah

Advertisements

Mengusap Muka

Assalamu’alaykum Wr. Wb.,

Berikut ada artikel kecil mengenai lemahnya hadis yang bercerita tentang mengusap muka setelah berdo`a berikut syarahnya dari saya pribadi pada bagian akhir …

Semoga bermanfaat …

Wassalam.,

Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.net

Hadits-hadits lemah tentang mengusap muka setelah berdo`a
http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=115


Banyak orang yang mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo’a. Namun benarkah amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya? Risalah ini insya Allah akan menjelaskan tentang lemahnya hadits-hadits mengenai mengusap wajah.

Banyak orang yang mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo’a. Namun benarkah amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya? Risalah ini insya Allah akan menjelaskan tentang lemahnya hadits-hadits mengenai mengusap wajah. Beberapa hadits lemah tersebut:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya.

Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu ‘Asakir (7/12/2). Dengan sanad : Hammaad ibn ‘Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan al-Jamhi dari Salim ibn ‘Abdullah dari bapaknya dari ‘Umar ibn al-Khatthab.

At Tirmidzi berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn ‘Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan darinya.

Bagaimanapun juga hadits ini lemah, berdasarkan pada perkataannya Al Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib, dimana beliau menjelaskan tentang riwayat hidupnya dalam At Tahdzib : Ibnu Ma’in berkata:’Dia adalah Syaikh yang baik’, Abu Hatim berkata:’Lemah didalam (meriwayatkan) hadits’, Abu Dawud berkata:’Lemah, dia meriwayatkanhadits-hadits munkar’.

Hakim dan Naqash berkata:’Dia meriwayatkan hadits-hadits yang tidak kuat dari Ibnu Juraij dan Ja’far Ash Shadiq’, Dia dinyatakan lemah oleh Ad Daraquthni, Ibnu Hibban mengatakan bahwa dia meriwayatkan sesuatu yang salah melalui jalur Ibnu Juraij dan Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, tidaklah diperbolehkan untuk menjadikannya sebagai sandaran, Ibnu Makula berkata:’mereka semua mencap hadits-hadits dari dia sebagai hadits lemah’.

Terdapat hadits yang sejenis dengan hadits 1: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengannya Hadits ini Dha’if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492) dari Ibnu Lahi’ah dari Hafsh bin Hisyam bin ‘Utbah bin Abi Waqqash dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya.

Ini adalah hadits dha’if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi’ah (Taqribut Tahdzib).

Hadits ini tidak bisa dikuatkan oleh dua jalur hadits berdasarkan lemahnya hadits yang pertama.

2. Jika kamu berdo’a kepada Allah,kemudian angkatlah kedua tanganmu (dengan telapak tangan diatas), dan jangan membaliknya,dan jika sudah selesai (berdo’a) usapkan (telapak tangan) kepada muka.

Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (3/98/1) & Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka’b dari Ibnu ‘Abbas radiallaahu ‘anhu (marfu’).

Lemahnya hadits ini ada pada Shalih bin Hassan, Sebagai munkarul hadits, seperti dikatakan Al Bukhari dan Nasa’i,Dia tertolak dalam meriwayatkan hadits; Ibnu Hibban berkata:Dia selalu menggunakan (mendengarkan) penyanyi wanita dan mendengarkan musik, dan dia selalu meriwayatkan riwayat yang kacau yang didasarkan pada perawi yang terpercaya; Ibnu Abi Hatim berkata dalam Kitabul ‘Ilal (2/351):Aku bertanya pada ayahku (yaitu Abu Hatim al-Razi) tentang hadits ini, kemudian beliau berkata:’Munkar’.

Hadits dari Shalih bin Hasan ini diriwayatkan juga oleh jalur lain yaitu dari Isa bin Maimun, yaitu yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Nashr. Tapi hal ini tidaklah merubah lemahnya hadits ini, sebab Isa bin Maimun adalah lemah.

Ibnu Hibban berkata:Dia meriwayatkan beberapa hadits,dan semuanya tertolak. An Nasa’i berkata:Dia tidak bisa dipercaya.

Hadits dari Ibnu Abbas ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1485), dan Bayhaqi (2/212), melalui jalur ‘Abdul Malik ibn Muhammad ibn Aiman dari ‘Abdullah ibn Ya’qub ibn Ishaq dari seseorang yang meriwayatkan kepadanya dari Muhammad ibn Ka’b, dengan matan sebagai berikut : Mintalah kepada Allah dengan (mengangkat) kedua telapak tanganmu,dan minta pada-Nya dengan membaliknya, dan jika kau selesai, maka usaplah mukamu dengannya.

Hadits ini sanadnya dha’if. Abdul Malik dinyatakan lemah oleh Abu Dawud. Dalam hadits ini terdapat Syaikhnya Abdullah bin Ya’qub yang tidak disebutkan namanya, dan tidak dikenal – Bisa saja dia adalah Shalih Bin Hassan atau Isa bin Maimun. Keduanya sudah dijelaskan sebelumnya.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Hakim (4/270) melalui jalur Muhammad ibn Mu’awiyah, yang berkata bahwa Mashadif ibn Ziyad al-Madini memberitahukan padanya bahwa dia mendengar hal ini dari Muhammad ibn Ka’b al-Qurazi. Adz Dzahabi menyatakan bahwa Ibnu Mu’awiyah dinyatakan kadzab oleh Daraquthni, Maka hadits ini adalah maudhu’.

Abu Dawud berkata tentang hadits ini:hadits ini telah diriwayatkan lebih dari satu jalur melalui Muhammad ibn Ka’b; semuanya tertolak.

Mengangkat kedua tangan ketika melakukan qunut memang terdapat riwayat dari Rasulullah tentangnya, yaitu ketika beliau berdoa terhadap kaum yang membunuh 15 pembaca Al Qur’an (Riwayat Ahmad (3/137) & AthThabarani Al-Mu’jamus-Shaghir (hal. 111) dari Anas dengan sanad shahih. Serupa dengan yang hadits yang diriwaytakan dari Umar dan yang lainnya ketika melakukan qunut pada sholat Witir.

Namun mengusap muka sesudah du’a qunut maka tidaklah pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga dari para shahabatnya, ini adalah bid’ah yang nyata.

Sedangkan mengusap muka setelah berdoa diluar sholat berdasarkan pada dua hadits. Dan tidaklah dapat dikatakan benar kedua hadits tersebut bisa menjadi hasan,seperti yang dikatakan oleh Al Manawi, berdasarkan pada lemahnya sanad yang ditemukan pada hadits tersebut.

Inilah yang menjadikan alasan Imam An Nawawi dalam Al Majmu bahwa hal ini tidak dianjurkan, menambahkan perkataan Ibnu ‘Abdus-Salaam yang berkata bahwa hanya orang yang sesat yang melakukan hal ini.

Bukti bahwa mengusap muka setelah berdo’a tidak penah dicontohkan adalah dikuatkan bahwa terdapat hadits-hadits yang tsabit yang menyatakan diangkatnya tangan untuk berdo’a, tapi tidak ada satupun yang menjelaskan mengsuap muka setelahnya, dengan hal ini, wallahu a’lam, hal ini tidak diterima dan tidak pernah dicontohkan.

Wallahu a’lam bish shawab

Catatan pengantar dari Armansyah …

Di Indonesia, jamak pula kita lihat adanya masjid yang melakukan dzikir secara berjemaah selepas Sholat, padahal ini tidak saya jumpai dalam sunnah Rasulullah, namun benar bahwa pada masanya Beliau memiliki bacaan-bacaan doa yang sering diucapkan selepas sholat namun itu tidak dilakukan secara berkelompok atau beramai-ramai, dengan kata lain Beliau melakukannya sendirian, tidak ada yang menjadi imam dan tidak pula makmum atas orang lain.

Contoh bacaan-bacaan beliau :

Allahummaghfirli maa qoddamtu wama asrortu wama a’lantu wama asroftu …dst (Riwayat Tirmidzi dari Ali bin Abu Thalib)

Laailaahaillallahu wah dahulasarikalahu lahulmulku walahulhamdu …dst (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abdullah bin Zubair)

Allaahumma antassalamu waminkassalamutabarokta yazaljalali wal ikrom (Riwayat Muslim dari Tsauban)

Dalam satu pengajarannya kepada Abu Bakar, Nabi menganjurkannya membaca doa berikut setelah salam pada sholat :

Allaahumma inni zholamtu nafsi zulman katsieraa … dst (Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Di Indonesia pun jamak pula orang berdzikir dengan suara keras atau menggunakan mikropon terlebih pada waktu bulan Ramadhan … padahal ini berlawanan dengan al-Qur’an dan ini memang tidak boleh dilakukan, dzikir itu cukup terdengar ditelinga kita saja …

Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam  shalat dan jangan pula merendahkannya dan ambillah  jalan diantara kedua itu – Qs. 17 al-Israa : 110

Berdasarkan ayat ini maka kita dapati suatu perintah agar apabila melakukan perbuatan sholat [do’a] sewajarnya dilafaskan secara proporsional, jangan teriak-teriak, jangan terlalu keras agar tidak mengganggu orang lain, demikian pula jangan terlalu berbisik karena itupun bisa membuat hati dan pikiran tidak seimbang, misalnya hati membaca al-Fatihah sementara pikiran bisa saja membayangkan makanan, membayangkan sendal dan sebagainya. Beda bila dilafaskan dan terdengar oleh telinga.

Adapun kebiasaan Nabi yang lain selepas sholat adalah :

1. Mempersilahkan kaum wanita keluar lebih dahulu

Telah berkata Ummi Salamah : bahwa Rasulullah Saw apabila habis memberi salam, berdirilah perempuan-perempuan (untuk keluar masjid) sementara Rasulullah diam ditempat sholat sebentar. Kami rasa Wallahu a’lam yang demikian itu supaya perempuan-perempuan keluar (lebih dulu) sebelum laki-laki. – Hadis Riwayat Ahmad dan Bukhari

2. Selepas salam langsung membalikkan badan kepada makmum

Dari Samurah, ia berkata : Adalah Rasulullah Saw apabila selesai sholat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami – Riwayat Bukhari

Dari Yazied bin Al-aswad …Nabi sholat subuh bersama kami, kemudian setelah salam sambil duduk beliau menghadapkan mukanya kepada manusia … Riwayat Ahmad

3. Selesai salam langsung berdiri

Telah bekata Anas : Saya biasa sholat dibelakang Nabi Saw, maka adalah Nabi diwaktu memberi salam terus berdiri.
– Hadis Riwayat Abdurrazaq

Lalu apakah berdoa secara berjemaah tidak boleh dikerjakan ? Sesungguhnya perbuatan ini baik namun memang tidak ada sunnah yang bisa dijadikan acuan. Jadi kembali kekitanya saja, mau ikut berdoa bersama-sama ya silahkan, mau berdoa sendiri-sendiri juga silahkan atau mau langsung keluar dari masjid pasca salam pun dibenarkan.; Saya pribadi biasanya berdoa sendiri tanpa turut imam dan tidak jarang langsung berdiri keluar dari masjid …

Mengenai mengusap tangan selepas sholat, memang tidak ada saya jumpai dalam literatur hadis yang ada pada saya … itu hanya masalah kebiasaan saja, saya juga kadang melakukannya tetapi lebih sering tidak…. kenapa terkadang masih melakukan ? ya agar jangan terlalu bias dengan masyarakat sekitar …. sebab maklum sajalah, masyarakat kita ini paling mudah menjustifikasi sampai memfitnah orang lain sampai dia dijauhkan dari lingkungannya … dicap beginilah, dicap begitulah sampai akhirnya misi utama kita kepada mereka malah tidak bisa terlaksana dengan baik meski pada tingkat yang minimal.

Demikian, selesai ….. semoga menambah ilmu

Wassalam.,

Armansyah

Metodologi Penafsiran al-Qur’an

Metodologi Penafsiran al-Qur’an
Oleh : Armansyah

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Sejak dari masa keaktifan saya sebagai salah satu anggota milis Islamic Network berkisar antara tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 lalu dan bahkan hingga sekarang dimana saya juga terlibat dimilis Eramuslim dan MyQuran, beberapa sahabat sering mempertanyakan pola penafsiran al-Qur’an yang saya lakukan yang menurut mereka seringkali pula berbeda dengan umumnya masyarakat Islam memahami.

Allah telah menentukan bahwa kesadaran manusia datangnya berangsur, bertahap sesuai dengan perkembangan peradaban yang Dia tetapkan lebih dahulu.

Dalam lapangan sains terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan relatif disuatu jaman karena pada periode berikutnya terdapat bukti yang memperbaiki kebenaran bermula, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi.

Karenanya, kebenaran ilmiah sering bukan menjadi kata akhir, dia hanyalah tahap baru yang pernah dicapai dalam suatu waktu untuk memperoleh pengertian. Tingkat keberhasilan dari pencaharian ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu.

Kebenaran ilmiah barulah mewakili ataupun memperlihatkan kesanggupan yang telah dicapai disuatu jaman. Dia tidak berkuasa untuk menentukan ramalan penyelidikan selanjutnya dalam lapangan tertentu yang sehubungan dengannya.

Perubahan dan peningkatan demikianpun terdapat dalam pengetahuan tentang hukum agama diantara masyarakat ramai. Namun apa yang terkandung dalam AlQur’an telah mutlak benar karena dia bukan karangan manusia, tetapi diturunkan oleh Allah yang menentukan perkembangan peradaban tadi.

Karena al-Qur’an itu dinyatakan berfungsi sampai keakhir jaman, tentulah banyak sekali pokok ilmu yang masih asing bagi manusia abad 14 Hijriah. Sebab itu, bukanlah suatu keanehan bilamana kesadaran manusia abad 15 Hijriah lebih meningkat daripada generasi sebelumnya tentang rangkaian ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an demikian seterusnya diabad-abad berikutnya.

Dalam hal pentafsiran, kita tidak bisa terpaku hanya kepada penafsiran atau penterjemahan AlQur’an yang sudah ada saja (ortodok), sebab seiring dengan perkembangan tata bahasa dan pengertian serta perkembangan dari peradaban ilmu dan tekhnologi, maka akan banyak pula istilah-istilah yang lebih tepat didalam pengartian suatu ayat yang menghantarkan kepada kita cara memahami ayat al-Qur’an sesuai dengan keadaan jaman yang kita hadapi.

Bahasa Arab adalah bahasa yang indah, penuh khasanah seni dan sebagainya.

Setiap orang boleh mengungkapkan makna kitab suci AlQur’an. Karenanya penafsiran AlQur’an bukan monopoli para imam atau pemimpin agama dan pemegang wewenang tertinggi dalam bidang hukum, alhamdulillah Islam tidak menganut sistem kependetaan seperti yang terjadi dalam dunia Kristen.

Islam bukanlah agama yang penuh misteri, begitupun al-Qur’an sebagai kitab sucinya, yang hanya dapat dimengerti oleh sekelompok jemaah. Rasulullah Muhammad Saw tidak meninggalkan dunia yang fana ini kecuali setelah ia menyampaikan amanat dan menunaikan risalahnya. Rasulullah kemudian meminta para pengikutnya dan semua sahabat-sahabatnya untuk menyebarluaskan dan menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi yang telah mereka peroleh darinya.

Bahwa al-Qur’an seharusnya dipandang sebagai sumber dari segala keilmuan, tidak perlu kita permasalahkan lagi. Banyak kaum intelegensia Muslim yang mengungkapkan bagaimana penemuan-penemuan ilmiah yang paling mutakhir sekalipun ada diungkapkan dalam al-Qur’an dengan berbagai bahasanya.

Semua ayat al-Qur’an itu diturunkan mengandung hal-hal yang logis, dapat dicapai oleh pikiran manusia, dan al-Qur’an itu dijadikan mudah agar dapat dijadikan pelajaran atau bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan sebagaimana yang disebut dalam Surah Al-Qamar ayat 17 :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?” (QS. 54:17)

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab kepada mereka, Kami jelaskan dia (kitab itu) atas dasar ilmu pengetahuan; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. 7:52)

Seringkali ayat-ayat Al-Quran ini bisa ditafsirkan secara harfiah dan sekaligus juga secara ruhaniah. Jika mengutarakan topik yang tidak terlaku dipahami atau pengetahuan manusia pada saat itu masih bersifat spekulatif, maka penafsiran harfiah hanya bisa diterima jika sejalan dengan tingkat pengetahuan di tiap zaman. Dengan diperolehnya pengetahuan baru, penafsiran biasanya direvisi menurut wacana yang lebih mendalam tentang subyek bersangkutan.

Petunjuk umum dan ketentuan cara penafsiran telah diatur oleh al-Quran sendiri dengan cara menentukan adanya dua kategori jenis ayat-ayat yaitu yang jelas dan bersifat desisif dalam maknanya, sedangkan bentuk ayat yang lainnya tidak bersifat definitif dan bisa ditafsirkan secara berbeda. Mengenai ini dinyatakan:

‘Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab kepada engkau, di dalamnya ada ayat-ayat yang muhkamat (bersifat desisif), itulah dasar-dasar Al-Kitab dan yang lain adalah ayat mutasyabihat (alegoris). . .’ -Qs.3 Ali Imran:8

Yang Muhkamat adalah petunjuk hidup yang mudah dimengerti yang terdapat didalam AlQur’an, termasuk didalamnya masalah halal-haram, perintah dan larangan serta hal-hal lainnya dimana ayat-ayat tersebut dapat dipahami oleh siapa saja secara gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran yang berat.

Jangan mencuri, jangan berzinah, jangan berjudi, jangan membunuh … ini haram, ini halal, sholat itu wajib, zakat itu wajib, puasa itu wajib dan seterusnya … inilah contoh-contoh bentuk ayat-ayat yang Muhkamat.

Ayat-ayat yang bersifat alegoris masuk dalam kategori kedua dan bisa menyangkut analogi keruhanian atau bisa jadi nubuatan yang bentuk dan saatnya masih belum jelas. Petunjuk umum yang diberikan al-Quran untuk menafsirkan ayat-ayat yang tidak desisif atau bisa ditafsirkan bermacam-macam demikian, ialah maknanya harus dikolaborasikan atau didukung oleh ayat-ayat yang desisif serta tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain dalam Al-Quran. Kitab suci ini menjadi penafsir dan penterjemah dirinya sendiri.

Ayat-ayat Mutasyabihat bisa juga menyangkut hal-hal yang susah dimengerti karena berupa keterangan tentang petunjuk banyak hal yang mesti diteliti dan merangkaikan satu sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian khusus tentang hal yang dimaksudkan, termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia.

Seandainya al-Qur’an itu seluruhnya muhkamat, pastilah akan hilang hikmah yang berupa ujian sebagai pembenaran juga sebagai usaha untuk memunculkan maknanya dan tidak adanya tempat untuk merubahnya. Berpegang pada ayat mustasyabih saja dan mengabaikan ayat Muhkamat, hanya akan menimbulkan fitnah dikalangan umat.

Juga seandainya al-Qur’an itu seluruhnya mutasyabihat pastilah hilang fungsinya sebagai pemberi keterangan dan petunjuk bagi umat manusia. Dan ayat ini tidak mungkin dapat diamalkan dan dijadikan sandaran bagi bangunan akidah yang benar.

Akan tetapi Allah dengan kebijaksanaanNya telah menjadikan sebagian tasyabuh dan sisanya mustayabihat sebagai batu ujian bagi para hamba agar menjadi jelas siapa yang imannya benar dan siapa pula yang didalam hatinya condong pada kesesatan.

Cukup banyak selama ini orang yang mencoba menafsirkan ayat al-Qur’an tanpa menyentuh sisi keilmiahan dari al-Qur’an dengan mengandalkan ayat-ayat yang bersifat mutasyabihat melalui berbagai perumpamaan atau percontohan berdasarkan hawa nafsunya maupun golongannya saja, karenanya tidak jarang pula akhirnya mereka malah terjebak didalam pemahaman mereka sendiri akibat berbenturan dengan hal-hal yang memang sangat kompleks yang terdapat didalam al-Qur’an, sehingga pengungkapannya seringkali berkesan rancu dan dicocok-cocokkan guna mendukung teori mereka.

Sesungguhnya Tasyabuh yang terdapat dalam AlQur’an itu ada dua macam :

Tasyabuh hakiki
ialah tasyabuh yang tidak mungkin dapat dimengerti oleh manusia sepenuhnya, seperti mengenai diri Allah, seperti apa wujud-Nya, darimana Dia berasal dan seterusnya … meskipun, secara umum Dia sendiri sudah memberikan pemaparan akan hakekat diri-Nya, seperti Allah itu Esa, Dia bersifat alpha dan omega, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada satupun, tidak ada seorangpun yang menyerupai-Nya …

Dalam hal ini Allah telah berfirman : “…sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. 20:110)

Tasyabuh nisbi

Ialah tasyabuh bagi sebagian orang tetapi tidak demikian bagi sebagian lainnya. Orang-orang yang mendalam ilmunya ataupun orang yang mempelajari ilmu pengetahuan bisa mengetahui tasyabuh seperti ini, namun sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan ataupun mendalam ilmunya tidak dapat mengetahuinya.
Tasyabuh macam ini dapat diungkap dan dijelaskan, karena didalam AlQur’an tidak ada yang tidak jelas maknanya bagi siapa saja yang mau mendalaminya.

Allah berfirman :
“ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. 3:138)

Allah mengajarkan bahwa isi al-Qur’an itu tidak lain dari fitrah manusia, petunjuk bagi manusia untuk mengenal dirinya dan lingkungannya. Sayangnya umat Islam selama ini cenderung lari dan mengingkari kefitrahan yang dimaksudkan oleh al-Qur’an itu sendiri. Kaum muslimin tidak lebih mengerti al-Qur’an ketimbang orang diluar Islam sendiri. Agama Islam menjadi asing dalam lingkungannya sendiri, tepat seperti yang disabdakan oleh Rasulullah.

al-Qur’an mengajarkan bahwa tiada iman yang tidak diuji, karenanya kaum Muslimin harus mempersiapkan diri menghadapai ujian Allah yang sangat berat sekalipun. al-Qur’an juga mengajarkan bahwa ia merupakan petunjuk yang sebaik-baiknya untuk membina kehidupan umat, itulah kewajiban kaum Muslimin untuk membuktikan kebenarannya ! Bukan kewajiban Allah untuk membuktikan kebenaran firman-Nya ! Sebab firman itu benar dengan sendirinya.

Dengan modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini: meminta, menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firman-Nya ! Karena kita tidak mengerti apa makna ajaran Allah !

Begitulah al-Qur’an, sebagai satu sarana untuk menghadapi ujian Allah tentang keimanan, kita harus belajar, belajar, berjuang dan berjuang agar kita bisa merealisasikan kebenaran ayat-ayat itu. Memang tidak mungkin jika ilmu Allah termuat dengan rinci dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an sendiri sudah mengkiaskan bahwa ilmu Allah itu tidak bisa dituliskan dengan tinta sebanyak air dilautan sekalipun.

al-Qur’an hanyalah satu petunjuk yang menunjukkan bahwa Ilmu Allah terdapat dimana-mana, diluar dan dalam diri manusia itu sendiri. Suatu petunjuk yang sempurna yang harus dikaji dengan otak, perasaan dan logika pengetahuan. Bukan sekedar menagih kepada Allah untuk merealisasikan janji-Nya !

Dengan penuh kerendahan hati dan bermodalkan kemampuan yang pas-pasan, baik dalam berpikir maupun pengetahuan, saya disini mencoba untuk ikut menguak sedikit ilmu yang terkandung dalam kitabullah ini dengan berdasarkan pada surah 9:122 dibawah ini:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu keluar semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama ? dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ?” (QS. 9:122)

Dalam mengemukakan pendapat dalam rangka menggali ilmu agama yang terkandung dalam al-Qur’an, saya tidak memisahkan antara sesuatu yang ilmiah dan yang non-ilmiah, muhkamat dan mutasyabihat, semuanya coba saya satukan, sebagai suatu hal yang memang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam ajaran Islam.

“Dia-lah yang menurunkan Kitab kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari pengertiannya, padahal tidak ada yang mengetahui pengertiannya melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya. Katakanlah:”Kami beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau memikirkan.” (QS. 3:7)

Namun demikian, bukanlah saya ini hendak berkata sombong bahwa saya termasuk orang yang berpengetahuan atau mendalam ilmu dibidang agama sehingga bisa membedah-bedah al-Qur’an sekehendak hati saya, sama sekali tidak ada terbesit dalam hati saya untuk yang demikian.

Semua ini saya lakukan hanya sebagai hasil dari olah pemikiran saya terhadap apa yang saya pelajari dari al-Qur’an maupun berbagai literatur lainnya seperti sejumlah besar hadis-hadis Nabi, berbagai pendapat para ulama dan kaum cendikiawan baik ortodox atau modern, perkembangan ilmu pengetahuan dan sebagainya yang untuk selanjutnya sebagai hasil akhir kajian saya ini saya serahkan kepada anda semua untuk melakukan penilaian dan menjadi bahan pemikiran dari pendapat yang saya kemukakan ini.

Seluruh umat Islam bertanggung jawab untuk menyampaikan dan menyebarluaskan risalah Islam. Tidak ada perbedaan, kecuali perbedaan kadar dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul. Dan tidak ada seorangpun yang memperoleh izin khusus /sekalipun dia memiliki kemampuan dan pengakuan yang tertinggi dalam bertabligh/ untuk dapat menghalalkan yang diharamkan Allah, atau mengharamkan yang telah dihalalkanNya.

Dan janganlah kamu mengatakan dusta terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu: “ini halal dan itu haram”, untuk kamu ada-adakan kebohongan atas nama Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan dusta atas nama Allah tiada akan bahagia. (QS. 16:116)

Bahwa untuk memahami al-Qur’an tidak hanya berhenti pada terjemahan semata ya saya juga setuju itu, tetapi kitapun harus bisa bersikap realistis bahwa saat kita belajar bahasa tertentu maka kitapun sebenarnya melakukan proses penterjemahan bahasa itu kepada bahasa yang kita pahami, misalnya kita membaca kata Robb, saat itu otak kita akan melakukan imaji dan penterjemahan dari kata Robb itu menjadi kata yang bisa kita pahami atau kita mengerti sehingga jadilah dalam pemikiran kita bahwa Robb itu sepadan dengan istilah Tuhan … tetapi apakah benar kata Robb itu memang sepadan dengan kata Tuhan ? sebenarnya juga tidak pas benar, sebab Robb itu harusnya lebih dari pada sekedar istilah Tuhan, Robb merupakan manifestasi dari semua nilai-nilai Tauhid maupun kemahaan dari Allah, tetapi kita akan menjadi kesulitan untuk mendapatkan terjemahan sederhana yang terbaik dalam bahasa yang kita pahami kecuali akhirnya ya kata Tuhan itulah dijadikan terjemahan dari kata Robb tadi.

Begitu juga misalnya kata Dien, dia lebih dari sekedar agama, tetapi dengan alasan yang sama seperti diatas maka ya kita gunakan juga istilah agama untuk mengganti kata Dien tadi … sekalipun sekali lagi ini sangat belum tepat untuk merujuk arti yang sesungguhnya.

Mengenai penggunaan kamus-kamus yang anda rujuk itupun dalam pandangan saya pribadi ya sama saja, bahwa itukan hasil olah para penulisnya dalam rangka menterjemahkan kata demi kata yang ada kedalam suatu bentuk pemahaman yang bisa dipahami bersama.

Lalu jika sekarang misalnya saya melakukan metodologi yang sama tetapi hasil akhir atau outputnya berbeda dengan penterjemahan mereka apa lantas saya harus dihakimi ? saya rasa ini terlalu mengada-ada … yang pasti akan didebatale pasti karena posisi saya yang dianggap bukan orang Arab sehingga tidak mengerti bahasa Arab secara jelas, juga posisi saya yang tidak dianggap (sekali lagi : tidak dianggap) memiliki kredebilitas sebagai penafsir sebagaimana misalnya Sayid Qutub, Ibnu Katsir atau yang lainnya … buat saya itu semua adalah lelucon saja yang tidak perlu saya tanggapi.

Salah satu masalah yang selalu menghantui umat Islam sepanjang sejarahnya adalah bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan tuntutan teksual al-Qur’an di satu pihak, tetapi di pihak lain kita juga bisa menempatkan diri secara kongruen dengan perkembangan-perkembangan kemanusiaan. Bagaimana, di satu pihak, kita bisa terus menyesuaikan diri dengan perubahan, tetapi, di pihak lain, tetap menjadi Muslim yang bertahan dengan pemahaman tekstual ortodoknya.

Pada hakekatnya, semakin kita ortodoks maka semakin jauh kita dari kondisi yang realistis. Sebab apapun juga yang ada di zaman sekarang ini sudah tidak bisa dibandingkan 100% dengan jamannya al-Ghazali, jamannya al-Qurtuby dan yang lainnya.

Bahkan Umar bin Khatab sendiri yang masa pemerintahannya tidak terpisah jauh dari kehidupan dan pemerintahan Nabi telah mengeluarkan ijtihad-ijtihad yang banyak dalam periode pemerintahannya.

Contoh kisah Khalifah Umar bin Khatab yang mengembalikan harta rampasan perang berupa tanah pertanian di Siria dan Irak kepada penduduk setempat memang sempat mengundang perdebatan diantara beberapa sahabat Nabi seperti Bilal (orang yang diangkat oleh Nabi sebagai muadzin pertama) dengan merujuk pada surah al-anfal ayat 41 dan menyatakan bahwa Umar sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Sunnah :

Ketahuilah, bahwa apa yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil (para pengembara), jika memang kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad). – Qs. 8 al-anfal : 41

Pendapat Bilal memang memiliki dasar kuat apalagi Nabi sendiri pernah membagi-bagikan tanah pertanian Khaibar setelah dibebaskan dari kekuasaan orang Yahudi. Namun Umar menganggap bahwa umat Muslim tidak perlu terlalu kaku didalam memperlakukan ayat-ayat Qur’an dan perlu juga mempertimbangkan kondisi jaman yang dijalani.

Apa komentar Imam Ali bin Abu Thalib mengenai Umar bin Khatab ?

Dari buku “Mutiara Nahjul Balaghah” yang diberi Syarah oleh Syaikh Muhammad Abduh, terbitan Mizan 1999 dan diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir, Ali bin Abu Thalib Karramallahu wajhah telah berkata pada hari wafatnya Khalifah Umar bin Khatab r.a, :

“Alangkah bahagianya!

Dia telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, menghindar dari masa kekacauan dan menegakkan sunnah.
Ia pergi dalam keadaan bersih; jarang bercela; meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukannya.
Memenuhi ketaatan kepada Tuhannya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya.
Ia berangkat meninggalkan umat pada saat mereka berada dijalan-jalan yang saling bersimpangan tak menentu arahnya, sedemikian sehingga yang tersesat sulit memperoleh petunjuk, yang sadar pun tidak mampu meyakinkan diri.”

Mungkinkah penilaian Ali bin Abu Thalib terhadap kepribadian Umar bin Khatab tersebut keliru? Tidakkah pola pikir dari Umar bin Khatab juga mampu kita warisi untuk mengaktualisasikan ajaran Islam dijaman penuh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini ? Jika nama Umar bin Khatab yang hidup ditengah jaman padang pasir berhasil tercantum dalam buku seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H. Hart [10] yang notabene bukan beragama Islam, bagaimana mungkin kita-kita yang hampir setiap harinya bergelut dengan telepon seluler dan Internet masih mengembangkan cara berpikir yang sempit ?

Ayat-ayat mutasyabihat masih menanti orang-orang seperti Umar bin Khatab untuk membuka rahasia yang terkandung didalamnya, semua ayat al-Qur’an sudah diperuntukkan oleh Allah bagi kemaslahatan hidup manusia tanpa ada pengecualian. Tidak inginkah kita memanfaatkannya ?

Jika kita ingin al-Qur’an itu tetap hidup dan menjadi dasar hidup setiap muslim dijaman modern sekarang ini, maka bagaimana kita menempatkan pemahaman kita di hadapan semua teks-teks kitab suci ?

Ingat sabda Nabi Muhammad Saw :

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.”

Hadits ini Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani rahimahullahu dalam Sunan-nya no. 4291. Dikeluarkan pula oleh Al-Imam Abu ‘Amr Ad-Dani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan no. 364, Al-Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 4/522, dan selain mereka seperti Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Khathib, dan Al-Harawi.

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, Ash-Shahihah no. 599, dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1874. Beliau berkata: “Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah (terpercaya), merupakan perawi yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (dalam Shahih-nya).” (Ash-Shahihah, 2/148) ; Beliau juga mengatakan: “(Faidah): Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengisyaratkan shahihnya hadits ini. [ Sumber : http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=339 ]

Berdasarkan hadis diatas tadi, maka ALLAH akan mendatangkan seorang mujaddid. Mujaddid maknanya seorang yang membawa pembaharuan. Di sini dapat kita pahami bahwa orang yang membawa pembaharuan itulah yang dikatakan mujaddid. Mujaddid itu bahasa Arab, di dalam bahasa Inggris dikatakan ‘Reformer’, atau dalam bahasa Indonesia disebut Pembaharu.

Apa tugas Mujaddid dan apakah memang hanya seorang saja ?

Sabda Nabi lainnya :

مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini”, yakni orang itu menerangkan tentang As-Sunnah sehingga jelas mana yang bid’ah. Ia menyebarkan ilmu, menolong ahlul ilmi, mematahkan dan merendahkan ahlul bid’ah. (‘Aunul Ma’bud, kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah).

Jumlah mujaddid yang Allah tampilkan dalam setiap kurun bisa jadi hanya satu, namun bisa pula berbilang. Mujaddid tersebut harus merupakan seorang alim yang mengetahui ilmu agama secara dzahir maupun batin. Demikian faidah yang diambil dari ucapan Al-Munawi. (Mukaddi-mah Faidhul Qadir, 1/10)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu berkata: “Pemahaman yang menyatakan bahwa jumlah mujaddid di setiap kurun itu bisa berbilang, lebih dari satu, memiliki sisi kebenaran. Karena terkumpulnya sifat-sifat yang dibutuhkan untuk men-tajdid perkara agama ini tidak dapat dibatasi pada satu jenis kebaikan saja. Dan tidak mesti seluruh perangai kebaikan dapat terkumpul pada satu orang.

Mujaddid yang hadir pada awal kurun tugasnya adalah memperbaharui urusan agama. Apakah maksud memperbaharui urusan agama? Apakah dia memperbaharui isi al Quran, Hadis atau isi Islam? Tidak, ia tetap berpedomankan kepada al-Quran, Hadis dan akhlak Islam yang pernah dibawa oleh Rasulullah Saw, hanya saja dia menggunakan approach, style atau pendekatan yang baru yang mungkin tidak pernah ditempuh oleh orang lain selama ini sehingga Islam dapat diamalkan dan dimengerti oleh masyarakat.

Dengan kata lain, ajaran Islam yang lama yang sudah ditinggalkan itu dapat dihidupkan kembali oleh mujaddid tersebut dengan menggunakan metode, uslub, teknik, strategi dan kaedah baru yang sesuai dengan pikiran dan suasana zamannya. Kemudian style antara mujaddid yang satu dengan mujaddid yang lain juga tidak harus sama tekniknya akan tetapi intinya bahwa yang diperjuangkan mereka adalah sama.

Demikian sedikit dari saya, bagi yang berkeberatan dengan apa yang saya sampaikan ini dan bahkan menolak semua pemikiran atau cara-cara penafsiran yang saya lakukan maka silahkan menggunakan apa yang sudah anda yakini kebenarannya, saya tidak pernah bermaksud untuk memaksakan kehendak, toh saya pun hanya manusia biasa yang masih harus terus belajar dan belajar sampai maut menjemput.

Download aplikasi Ha-Pe

Mau aplikasi untuk ponsel ?

Silahkan download … gratis, bukan bajakan :

1. Aplikasi alkitab (berbahasa Indonesia) :

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/Alkitab.jar

2. Al-Qur’an hanya juz 30

http://milis_iqra.googlegroups.com/web/juz30.jar

3. Al-Qur’an 30 Juz (semua)

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/PocketQuran.jar

4. Al-Qur’an versi Yusuf Ali

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/QuranReaderYusufAli.jar

5. Shahih Bukhari (bahasa Indonesia)

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/ShahihBukhariIndonesia.jar

6. Shahih Muslim bahasa Indonesia)

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/shahihmuslimindonesia.jar

7. 40 Hadis Imam Nawawi

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/Hadis40.jar

8. Azan

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/Azan%20%282%29.jar

9. Doa dalam al-Qur’an

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/DuaQuran.jar

10. Asma Ul-Husna

http://milis_iqra.googlegroups.com/web/AllahsNames.zip

Atau kalo error coba ini :

http://groups.google.com/group/Milis_Iqra/web/AsmaAllah.jar

Selamat mendownload … ingat, syaratnya : anda sudah harus menjadi bagian dari Milis_Iqra !

Palembang, Armansyah

Sholat Jum’at

Berikut adalah hasil rangkuman dari soal-jawab masalah Jum’at beberapa waktu lalu di Milis_Iqra@googlegroups.com. Adapun bentuk rangkuman ini tidak lagi disertai menurut si A atau menurut si B tetapi langsung kepada jawaban yang bersangkutan dengan beberapa penambahan disana-sininya yang diambil dari berbagai sumber seperti yang akan dijelaskan kemudiannya.


1. Apa dasar hukumnya menurut al-Qur’an ?

Jawab :

al-Qur’an surah 62 al-Jumu’ah ayat 9 :

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Tafsir di seputar ayat ini, terjadi perbedaan pandangan pada kata Fas’ auu [Bersegeralah],

Ibnu Abbas r.a. berkata, “Haram berjual beli pada waktu itu.” Al-Hafizh berkata, “Ibnu Hazm menyebutkan dari jalan Ikrimah, dari Ibnu Abbas dengan lafal, “Tidak baik berjual-beli pada hari Jumat ketika azan sudah dikumandangkan. Apabila shalat Jumat sudah selesai dilaksanakan, maka berjual-belilah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari jalan lain dari Ibnu Abbas secara marfu’.


Atha’ berkata, “Haram melakukan semua aktivitas.


Ibrahim bin Sa’d berkata dari az-Zuhri, “Apabila muadzin telah mengumandangkan azan pada hari Jumat, padahal seseorang sedang bepergian, maka hendaklah ia menghadiri shalat Jumat itu.” Al-Hafizh berkata, “Saya tidak mengetahuinya dari riwayat Ibrahim.” Kemudian dia mengatakan bahwa mengenai riwayat dari az-Zuhri ini diperselisihkan

Telepas dari perbedaan pandangan itu, namun mempunyai tujuan yang sama dan yang wajib adalah bersegera menuju musholla dimana disetiap daerah Jum’at itu diadakan, dan meninggalkan semua jual-beli atau pun aktivitas. Berdasarkan Firman Allah “maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli”,

2. Adzan Jum’at, yang benar 1 kali atau 2 kali ?

Jawab :

Adzan jum’at pada masa Rasulullah adalah 1 kali, adapun setelah masa khalifah Usman menjadi 2 kali, jadi yang benar adalah 1 kali

Ibnu umar ra mengatakan :

“Sesungguhnya Nabi SAW apabila naik mimbar, maka Bilal mengumandangkan adzan. Bila Nabi telah usai berkhutbah, Bilal mengumandangkan iqomat. Adzan pertama adalah bid’ah. (Diriwayatkan oleh Abu Thahir Al-Muklis dalam Fawa-id-nya (lembar 229 :1-2)

Dari Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Pada masa Utsman dan orang-orang (dalam satu riwayat: penduduk Madinah) sudah banyak, ia menambahkan (dalam satu riwayat memerintahkan) azan yang ketiga.* (dalam satu riwayat: kedua) lalu dilakukanlah azan itu di Zaura’. [Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press no. 488]

0877. Dari Abdul Azis bin Abu Salamah Majisyun dari Zuhri dari Saib bin Yazid bahwasanya yang menambah adzan ketiga pada hari Jum’at ialah Utsman bin ‘Affan r.a ketika telah bertambah banyaknya penduduk Madinah. Bagi Nabi saw. Muadzdzin (tukang adzan) itu hanyalah seseorang yang adzan pada hari Jum’at ketika Imam duduk diatas mimbar. (HR: Bukhari).

0879 “Dari Ibnu Syi’bah bahwasanya sa-ib bin Yazid memberitahukan kepadanya bahwa adzan kedua pada hari Jum’at itu diperintahkan oleh Utsman ketika sudah banyak sekali orang-orang yang mendatanginya di masjid. Adzan itu diadakan pada hari Jum’at ketika imam duduk (yakni sebelum berkhutbah).” (HR: Bukhari)

http://hadis.islamdotnet.com/index.php?katakunci=jum%27at&hal=3&

Perbedaan yang dilakukan Ustman karena di masanya umat Islam sudah banyak dan belum ada speaker yang bisa menjangkau seluruh wilayah.

Namun jika konteksnya pada saat sekarang, dimana teknologi sudah berkembang dan adzan bisa menggunakan speaker hal itu dikembalikan lagi seperti semula, yakni 1 kali dan ketika Imam/orang yang khutbah sudah naik mimbar. Dan inilah yang benar sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah, Abu Bakar dan Umar untuk pertama kalinya. Wallahu’alam bis showab.

* = Yaitu, azan yang pertama (sebelum masuk waktu shalat), dan jumlah seluruhnya menjadi tiga bersama iqamah. Ia disebut azan karena untuk memberitahukan. Nabi saw. bersabda, “Di antara tiap-tiap dua azan (yakni azan dan iqamah) terdapat shalat sunnah bagi yang ingin mengerjakannya.” Azan tambahan ini dianggap sebagai azan ketiga karena sebagai tambahan belakangan. Disebut sebagai azan kedua bila kita melihat azan yang hakiki. Sedang Zaura adalah suatu tempat tinggi yang merupakan pasar di Madinah.

3. Adakah acara pengajian al-Qur’an sebelum sholat / khutbah dimulai menurut sunnah Rasul ?

Jawab :

Tidak ada, yang ada adalah

Dari Ibnu Umar sesungguhnya ia pernah memanjangkan shalat sebelum jum’at dan sesudah Jum’at dua raka’at, lalu ia menerangkan , bahwa Rasulullah pernah menegerjakan demikian [HR Abu Dawud]

Dan Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda: Barang siapa mandi Jum’at , kemudian pergi Jum’at lalu shalat sesuai kemampuannya, kemudian diam sampai imam selesai khutbah, kemudian shalat bersamanya, maka ia akan diampuni [dosa-dosanya] antara jum’at itu dan hari Jum’at berikutnya ditambah tiga hari [HR Muslim}

Jadi menurut sunnah dan apa yang bisa dipahami secara wajar adalah,

Tidak ada contohnya pengajian/membaca Al qur’an baik dengan kaset atau live sebelum khatib naik mimbar, yang dicontohkan dan di lakukan Rasulullah adalah SHALAT Sunnah. Namun para ulama berbeda pendapat menngenai penamaan sholat sebelum khotib naik mimbar itu. Ada yang mengatakan sholat sunnah mutlaq dan ada yang mengatakan sholat sunnah intidhar.

Namun yang pasti terlepas dari penamaan itu, jika kita mau sholat- ya sholat saja tanpa harus pusing apakah ini sholat sunnah mutlaq atau intidhar dan dilakukan dari ketika kita sampai dimasjid hingga sebelum khotib naik mimbar dan disesuaikan dengan kemampuan. Mengenai rakaat Nabi tidak menjelaskannya, berarti Hadist tersebut bersifat umum, dan sesuatu yang umum bisa dijadikan dalil selama sesuatu yang khusus tidak di ketemukan.

Dalam kitab Terjemahan Nailul Authar Jilid 2 halaman 927-928 terbitan PT. Bina Ilmu 1993 disebutkan :

Dari nubaisyah al-Hudzali dari Nabi Saw, beliau bersabda : sesungguhnya seorang Muslim apabila telah mandi pada hari Jum’at, kemudian pergi kemasjid dengan tidak mengganggu seseorang, lalu ia belum mengetahui Imam keluar (menuju mimbar) maka ia boleh sholat semampunya, dan jika telah mengetahui Imam telah keluar, maka ia duduk, lalu memperhatikan dan diam sampai imam selesai berjum’at dan khutbah, seandainya dosa-dosanya tidak diampuni pada hari Jum’at itu, diharapkan bisa menjadi kafarat dihari Jum’at berikutnya – Riwayat Ahmad

Dari Abu Hurairah dari Nabi Saw, ia bersabda : Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, kemudian pergi ke Jum’at lalu sholat menurut kemampuannya, kemudian diam sampai imam selesai khutbah, kemudian sholat bersamanya, maka ia diampuni antara hari Jum’at itu dan Jum’at berikutnya. – Riwayat Muslim

Selain itu, dalam bukunya berjudul ” Pedoman Shalat ” hal. 438-439, Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy menulis :

Membaca al-Qur’an oleh pembaca-pembacanya yang bersuara merdu secara keras dan mengganggu kekhusyukan para mushalli yang sholat tahiyyat atau lainnya yang banyak dilakukan dimasjid-masjid kita adalah bid’ah semata.

Pengarang al-Ibda’ berkata : Diantara bid’ah-bid’ah pada hari Jumat adalah membaca surah al-Kahfi dengan suara keras sedang orang-orang yang berada dalam masjid, ada yang sedang ruku’, ada yang sedang sujud dan ada yang sedang berdzikir, sedang bertilawah dan bertafakkur adalah tidak dibenarkan.

Karena :

a. Mengganggu orang-orang yang sedang beribadah = haram hukumnya dengan ijma’

b. Mengangkat suara dalam masjid tanpa maksud yang dikehendaki oleh syara’, dilarang.

Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwattha bahwa Nabi pada suatu hari masuk kedalam masjid dan ada shabat sedang sholat sambil mengeraskan suara, maka Nabi menegur mereka terhadap tindakan yang demikian itu.

Diriwayatkan oleh Ibnul Hadj, dalam al-Madchal bahwa Nabi pernah berkata kepada ‘Ali : Hai ‘Ali, janganlah engkau mengeraskan suara bacaan sedang orang lain sedang sholat, karena yang demikian mengganggu orang-orang itu.

Ibnul ‘Imad as-Syafe’i berkata : Diharamkan bacaan dengan mengeraskan suara yang dapat mengganggu orang-orang yang sedang bersholat itu.

c. Perbuatan yang demikian menyalahi apa yang berlaku dimasa Nabi dan para sahabat.

Syafe’i tidak menyukai orang yang mengeraskan suara, baik suara dzikir atau suara bacaan lainnya, lebih-lebih didalam masjid, dan apabila dapat mengganggu orang yang sedang sholat, maka jelaslah haramnya ( al-Ibda’ 122-166 )

Demikian yang tertulis dalam buku Hasbi Ash Shiddieqy.

A. Hassan dalam buku Soal-Djawab tentang berbagai masalah Agama jilid 2 hal. 463 terbitan C.V. Diponegoro Bandung 1969 dituliskan juga :

Diriwayatkan : Nabi Saw pernah datang kepada sahabat-sahabatnya diwaktu mereka sedang sholat dengan suara bacaan yang nyaring, maka Rasul bersabda : Sesungguhnya orang yang sholat itu adalah orang yang sedang berbisik-bisik dengan Tuhannya, karena itu hendaklah ia perhatikan apa yang ia bisikkan kepada-Nya dan janganlah sebagian kamu menyaringkan suara bacaannya (mengganggu) sebagian yang lain. – Riwayat Malik dan Tirmidzi

Malik menambahkan, orang yang membaca al-Qur’an dengan suara nyaring hingga orang yang sholat jadi terganggu karenanya maka mesti dikeluarkan dari masjid.

Lagipula, sebagai tambahan, al-Qur’an sendiri dengan tegas dan jelas melarang umatnya untuk membaca ayat ataupun mengagungkan asma-asma Allah secara berkeras suara seolah Allah itu pekak, budek dan tuli.

Dasar :

Dan sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. -Qs. 7 al-A’raaf :205

Katakanlah:”Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu – Qs. 17 al-Israa : 110

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. -Qs. 20 Thahaa :7

4. Bila khotib sudah naik kemimbar dan berkhotbah, seseorang masuk, afdhol mana antara sholat sunnah masjid dengan langsung duduk mendengar isi khotbah ?

Jawab :

Terlebih baik sholat tahiyyatul Masjid dahulu.

5. Untuk poin 4, tolong sebutkan nashnya, baik menurut sunnah atau juga secara logika.

Jawab :

“Apabila salah seorang di antara kalian datang ke Masjid pada hari Jumat sementara imam sedang berkhutbah, hendaknya ia sholat dua rakaat”.(Mutafaq ‘Alaih).

Dari Jabir, ia berkata : Telah masuk seorang laki-laki dihari Jumat di waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang khutbah. Beliau bertanya :”Sudahkah engkau shalat?” Ia jawab :’belum’, maka beliau bersabda :”Berdirilah dan shalat dua raka’at” (Muttafaq ‘alaih)

Serta hadits berikut ini : “Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, janganlah ia duduk hingga ia shalat 2 raka’at” (Muttafaq ‘alaih)

0894. “Dari Ibrahim bin Abdullah ra. Berkata: Seorang laki-laki datang dan Nabi saw. Sedang berkhutbah kepada para manusia pada hari Jum’at. Beliau bersabda: “Apakah kamu telah shalat, hai Fulan”. Beliau bersabda: “belum”, Beliau bersabda: “Berdirilah dan shalatlah.”

0895″Dari Sufyan dari ‘Amr, ia mendengar Jabir berkata: “Ada seorang lelaki datang pada hari Jum’at, sedangkan Nabi saw. Di saat itu sedang berkhutbah, lalu beliau bertanya: “Apakah anda sudah shalat?” Ia Menjawab: “Belum”. Nabi saw. Bersabda: “Shalatlah dua raka’at yang ringan.”
(HR: Bukhari)

http://hadis.islamdotnet.com/index.php?katakunci=jum%27at&hal=4&

Logika : Masjid adalah rumah Allah, yaitu bangunan yang didalamnya banyak disebut nama Allah atau tepatnya lagi tempat orang memuja, meminta dan beribadah kepada Allah.; Masuk kedalam masjid artinya kita menjadi tamunya Allah, selayaknya pula sang tamu menghormati yang empunya rumah sebelum dia melakukan hal lainnya ( seperti mendengarkan materi khutbah yang disampaikan oleh sang khotib, melakukan sholat Jum’at dan berdo’a ).

6. Bolehkah kita berkata-kata atau ngobrol sesama makmum atau memberi peringatan kecil kepada anak-anak agar jangan membuat kegaduhan ketika khotib membacakan khotbahnya ?

Jawab :

Tidak.

7. Jika jawaban nomor 6 ” Boleh ” sebutkan alasannya dan jika ” Tidak boleh ” sebutkan juga jawabnya.

Jawab :

Berdasarkan sabda Nabi : Apabila engkau berkata kepada sahabatmu pada hari Jumat ketika Imam tengah berkhutbah : “Diamlah”, sungguh engkau berbuat lagba.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Apabila engkau berkata kepada temanmu, diamlah! pada hari Jumaat. Padahal imam sedang berkhutbah, maka kamu benar-benar telah melakukan satu perkara yang sia-sia. [Bukhori No. 882, Muslim No. 1404, At tirmidzi No. 470, An Nasai No. 1384, Abu Dawud No. 938, Ibnu Majah No 1100, Al Mutha Imam Malik No. 214, Ad Darimi no 1504.

Sedikit penjelasan mengenai kata /laghwu {sia-sia],

ada penjelasan yang sangat bagus dari Syaikh Al-Albani dalam kitab Al-Ajwibatun-Naafi’ah (1/62). Beliau berkata :

“Dan pendapat yang terkuat dari dua kemungkinan tersebut adalah yang pertama dengan dalil sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam (shahih) :

“Apabila engkau berkata kepada temanmu di hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah : ‘Diamlah’; maka engkau telah berbuat sia-sia”.

Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhaan dan yang lainnya.

Karena sesungguhnya ucapan seseorang : “Diam”, secara bahasa tidak termasuk laghwu (sia-sia), karena ia merupakan Al-Amru bil-Ma’ruf wan-Nahyu ‘anil-Munkar. Akan tetapi sungguhpun demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tetap menamakannya sebagai laghwu yang tidak dibenarkan. Hal ini disebut menguatkan sesuatu yang lebih penting, yaitu diam mendengarkan nasihat khathib atas Al-Amru bil-Ma’ruf pada saat khutbah.

Maka segala sesuatu yang sederajat dengan Al-Amru bil-Ma’ruf, hukumnya sama dengannya. Maka bagaimana jika ada perkara selain itu (yang lebih ringan kedudukannya) ? Tidak ragu lagi bahwa hal tersebut lebih pantas hukumnya untuk dilarang melakukannya. Tegasnya, ia termasuk katagori al-laghwu (sia-sia) di dalam kacamata syar’i. Adapun ucapan Penulis (yaitu Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan shahibul-kitab : Al-Mau’idhatul-Hasanah; kitab yang sebagiannya diringkas oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Ajwibatun-Naafi’ah – Abu Al-Jauzaa’) pada halaman 27 dan yang ada dalam Kitab Ar-Raudlah (halaman 140) : “Mungkin juga dikatakan bahwa orang yang mengatakan : ‘diam!’ tidak diperintahkan untuk mengucapkannya waktu itu, karena itu ucapannya termasuk laghwu (sia-sia) dari sisi ini.”

Saya (Syaikh Al-Albani) berkata : “Demikian pula dzikir-dzikir yang dikatakan Penulis, pada dasarnya hukum itu tidak diperintahkan untuk dilakukan saat itu. Maka, hal itu termasuk laghwu juga. Wallaahu a’lam.”
[selesai perkataan Syaikh Al-Albani dalam Al-Ajwibatun-Naafi’ah].

Penjelasan senada juga disampaikan oleh Imam Ash-Shan’ani (Subulus-Salam 2/71), ulama Yaman, dimana beliau berkata :

“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam [‘Apabila engkau berkata kepada temanmu : Diamlah; maka engkau telah berbuat sia-sia’] merupakan ta’kid (penguat) larangan berbicara. Apabila hal tersebut dihitung sebagai perkara laghwu padahal perkataan tersebut termasuk Amrun bi Ma’ruf, maka orang yang berbicara tentu lebih berat lagi hukumnya. Atas dasar ini wajib baginya untuk menegurnya dengan isyarat saja sekiranya memungkinkan.

Adapun yang dimaksudkan dengan perintah diam itu; ada yang mengatakan : “dari perkataan manusia”, maka diperbolehkan untuk dzikir dan bacaan Al-Qur’an. (Perkataan ini tidak benar). Padahal telah jelas dari larangan tersebut adalah meliputi semuanya (termasuk dzikir dan bacaan Al-Qur’an). Barangsiapa yang membedakannya, hendaklah dia mendatangkan dalil.”
[selesai perkataan Ash-Shan’ani]

Abu Al-Jauzaa’ berkata : “Pemahaman yang kita dapat dari hadits dan penjelasan ulama di atas adalah orang yang mengikuti khutbah Jum’at wajib memperhatikannya dan dilarang melakukan segala hal yang dapat melalaikannya dari mendengarkan khutbah. Jika dzikir dan pembacaan Al-Qur’an saja masuk dalam larangan tersebut, maka bagaimana pula dengan kasus Keropak Jum’at yang biasa digulirkan pada waktu imam sedang berkhutbah ? Tentu itu lebih rendah daripada dzikir dan pembacaan Al-Qur’an (sehingga larangan lebih keras lagi). Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

“Barangsiapa berwudlu, lalu dia membaguskan wudlunya, lalu dia mendatangi (khutbah) Jum’at, lalu mendengarkan dan diam, maka diampuni (dosanya) yang ada antara Jum’at itu dengan Jum’at lainnya ditambah 3 hari. Dan barangsiapa menyentuh kerikil (dengan menggerak-gerakkan/mempermainkannya), maka dia telah berbuat laghaa (sia-sia)” (HR. Muslim 857, Abu Dawud 105, At-Tirmidzi 498, dan Ibnu Majah 1090).

Tambahan :

Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. -Qs. 7 al-A’raaf : 204

Saat khotib naik keatas mimbar, pada dasarnya yang bersangkutan sedang menyampaikan ayat-ayat Allah, memberikan nasehat kepada kita agar lebih terarah dan intospeksi diri dalam bertingkah laku.; Membuat kegaduhan sama artinya dengan tidak mengacuhkan nasehat yang disampaikan, tidak mengacuhkan firman Allah yang dibacakan sehingga tidak akan ada rahmat atau hasil positip yang bisa diperoleh darinya.

Dalam sebuah situasi yang sangat kondisional, seorang khotib juga bertanggung jawab atas suasana yang ada dijemaahnya dan dia adalah orang yang paling berhak untuk memberikan teguran ataupun penghentian kegaduhan yang terjadi, termasuk bila itu dilakukan oleh anak-anak.

Dalilnya :

Dari Buraidah ia berkata : Rasulullah Saw pernah khutbah dihadapan kami, tiba-tiba datanglah Hasan dan Husain -dengan berkemejah merah- sedang berjalan kemudian jatuh, maka Rasulullah Saw turun dari mimbar lalu menggendong mereka kemudian mereka diletakkan didepannya, kemudia ia bersabda : Benarlah Allah dan Rasul-Nya yang mengatakan : sesungguhnya anak-anakmu itu hanyalah cobaan (at-Taghabun 15), aku melihat kedua anak ini berjalan dan jatuh, kemudian aku tidak tahan sehingga kuputus pembicaraanku dan kuangkat keduanya – Muttafaq ‘alaih

8. Bolehkah khotib membaca khotbahnya panjang-panjang ?

Jawab :

Kalau di katakan boleh mungkin jawabanya relatif, bisa iya bisa tidak, namun bila bagaimana menurut sunnah rasulullah, penjelasannya pada no 10

9. Adakah menurut as-Sunnah, jeda antara 2 khotbah di-isi dengan sholawat Nabi ?

Jawab :

Tidak.

Bershawalat kepada Nabi dalam khutbah (Na’at/ khutbah kedua) dan do’a untuk penguasa adalah bid’ah*

Memang ada beberapa hadis yang bercerita mengenai keutamaan bershalawat kepada Nabi dihari Jum’at, akan tetapi konteksnya disana adalah memperbanyak membaca sholawat, bukan membaca sholawat hanya sekali saja seperti yang sering dilakukan jumhur masyarakat setiap jum’atnya, dan konteksnyapun tidak pada waktu jeda antara dua khutbah Jum’at.

Dari Abu Darda’, ia berkata : Rasulullah Saw bersabda : perbanyaklah membaca shalawat untukku pada hari Jum’at, karena sesungguhnya sholawatmu itu disaksikan, yang menyaksikannya adalah para malaikat, dan sesungguhnya seseorang tidaklah membaca sholawat kepadaku melainkan do’anya itu ditampakkan padaku sehingga ia selesai bersholawat – Riwayat Ibnu Majah

Dari Khalid bin Ma’dan dari Rasulullah Saw, ia bersabda : perbanyaklah sholawat untukku pada setiap hari Jum’at, karena sesungguhnya sholawat umatku itu ditampakkan atasku pada setiap hari Jum’at, Riwayat Sa’id dalam sunannya dengan status mursal

Dari Shafwan bin Sulaim, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : kalau hari Jum’at dan malam Jum’at, maka perbanyaklah membaca sholawat untukku – Riwayat Syafi’i dalam musnadnya dengan status Mursal.

* Pedoman Shalat Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy Penerbit Bulan Bintang Djakarta 1966 hal. 444

10. Utama mana, khotbah yang panjang atau sholatnya yang panjang ? sebutkan nashnya.

Jawab :

Sholat yang panjang/lama….berikut nashnya

Dan Dari Ammar bin Yasir, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah itu menunjukan kepandaiannya, karena itu panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah. [HR Ahmad dan Muslim]

Dan dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Adalah shalatnya Rasulullah itu sedang dan khutbahnya pun sedang. [HR Jama’ah kecuali Bukhari dan Abu Dawud]

Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata Adalah rasulullah biasa memanjangkan shalat dan memendekkan khutbah. [HR Nasa’i]

Jadi berdasarkan sunnah ini, menurut saya yang benar adalah menyederhanakan khutbahnya dan memanjangkan sholatnya. Namun jarang sekali kita liahat di Masjid-masjid yang sesuai sunnah ini, yang ada khutbah yang membuat ngantuk, dengan nada suara yang lemah.

Padahal yang dilakukan Rasululah ketika khutbah adalah “Adalah Rasulullah apabila khutbah kedua matanya menjadi merah, suaranya lantang, berapi-api, seolah-olah memberi komando tentara dengan kata-katanya: siapa siagalah diwaktu pagi dan petang” HR Muslim dan Ibnu Majah dari Jabir.

Tambahan :

Sholat adalah sebuah metode sambung-rasa antara seorang hamba dengan khaliqnya yang dalam pelaksanaanya terdapat puja dan puji serta pengajuan permintaan solusi untuk satu atau lebih urusan kepada Allah agar terkabulkan, sementara khutbah adalah bahan renungan untuk perbaikan hamba kepada hamba.; Sementara nasehat yang panjang lebar menjadi tidak berguna bila hubungan antara kita dan Allah tidak harmonis.; Sebagaimana diketahui bahwa tujuan sholat itu sendiri adalah untuk mencegah kita dari berbuat keji dan mungkar, sehingga bila sambung-rasa kita kepada Allah benar dan baik ( artinya tidak tergesa-gesa atau bercepat-cepat ) maka otomatis nasehat yang sedikit tadi bisa benar-benar diaplikasikan dilapangan.

11. Seusai sholat Jum’at, adakah berdasar sunnah agar khotib memimpin do’a bersama makmumnya dan dimulai oleh al-Fatihah ?

Jawab :

Tidak.

Nabi berdasarkan riwayat-riwayat yang sampai kepada kita, tidak pernah didapati melakukan do’a bersama dengan jemaah jum’atnya sebagaimana kita temukan didalam pelaksanaan sholat Jum’at dijaman kita sekarang ini.; Sebaliknya ada cukup banyak do’a dan amalan yang diajarkan oleh Nabi untuk dibaca ( secara personal ) setiap habis sholat wajib.

Dari Abu Hurairah : Telah bersabda Rasulullah Saw : apabila salah seorang diantara kamu sudah selesai tasyahhud akhir, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, yaitu dari siksaan neraka, siksaan kubur dari cobaan waktu hidup dan mati serta dari kejahatan al-Masih Dajjal – Hr Jama’ah kecuali Bukhari dan Tirmidzi

Dari Tasauban, ia berkata : adalah Rasulullah Saw apabila selesai sholat, ia beristighfar tiga kali dan membaca : Allahumma antassalam wamingkassalam, Tabaarakta ya Dzal Jalaali wal Ikraam ( Ya Tuhanku, Engkau adalah pemberi keselamatan dan dari-Mulah selamat itu, Maha suci Engkau wahai Dzat yang Maha Agung dan Maha Pemurah ) – Riwayat Jama’ah kecuali Bukhari

Dari Ummu Salamah, sesungguhnya Nabi Saw pernah juga membaca do’a apabila sholat subuh ketika sudah salam : Allahumma Innie As-aluka ‘ilman Naafia’an Warizqan Thayiban, Wa a’amalam Mutaqabbalan ( Ya Tuhan ku, sesungguhnya aku minta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima ) – Riwayat Ahmad dan Ibnu majah

Dari al-Mughirah bin Syu’bah, sesungguhnya Nabi Saw biasa sesudah sholat wajib membaca : Laa ilaaha Illallahu Wahdahu laa syariekalah, lahul mulku walahul hamdu wahua ‘alaa kulli syai-in qadier, Allahummah laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi mingkal jaddu ( Tidak ada Tuhan kecuali Allah yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, untuk-Nya kerajaan ini dan bagi-Nya pula segala puji, Dia adalah yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Tuhanku, sesungguhnya tidak ada satupun orang yang dapat menghalang-halangi apa yang hendak Engkau berikan, dan tidak pula satu orangpun yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan, dan tidak bermanfaat kekayaan orang kaya disisi-Mu – Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim.

Sumber : Terj. Nailul Authar jilid 2 Bab : Do’a dan Dzikir sesudah sholat hal. 597 s/d 600 terbitan PT. Bina Ilmu

12. Bolehkah seorang anak muda yang belum menikah, menjadi imam sholat ?

Jawab :

Boleh, selama si anak muda lebih mahir Al qur’an dan faham tentang Al qur’an.

Dari Abu Said, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila mereka bertiga maka seorang diantara mereka hendaklah meng-imami mereka. Dan yang paling berhak menjadi imam diantara mereka adalah yang lebih tahu tentang Al Qur’an. [HR Muslim, Ahmad an An Nasai]

Dan dari Abu Mas’ud, yaitu Uqbah bin Amr, ia berkata: Rasululla bersabda: Hendaknya orang yang meng-imami suatu kaum adalah yang lebih tahu tentang Al Quran diantara mereka, lalu jika mereka sama dalam bacaannya, maka hendaklah yang lebih tahu Sunnah, lalu jika mereka sama pengetahuanya tentang sunnah, maka hendaklah yang terlebih dahulu hijrahnya, lalu jika mereka sama dengan hijrahnya, maka yang lebih tua umurnya. Dan jangan sekali-sekali sesorang meng-imami orang lain dalam kekuasaaanya dan janganlah ia duduk dirumah tempat kehormatannya, kecuali dengan idzinnya. HR Muslim dan Ahmad]

13. Adakah sholat Dzuhur setelah sholat Jum’at di laksanakan ? dan jelaskan dalilnya.

Jawab :

Tidak ada dalam al-Qur’an maupun hadis ( mulai shahih sampai lemah ) yang mewajibkan kita sholat dzhuhur sesudah sholat Jum’at.

Allah berfirman dalam al-Qur’an surah 62 al-Jumu’ah ayat 10 (sambungan dari perintah melakukan sholat Jum’at diayat ke-9) :

Artinya : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Menurut A. Hassan, Allah telah memerintah kita bila telah selesai dari sholat Jum’at agar kita lekas kembali dari masjid guna mencari rezeki dan lain sebagainya, dan disitu Allah tidak berfirman : Bila kamu selesai sholat (Jum’at) maka ulangilah lagi dengan sholat dzuhur.; Karena itu maka kita bisa mengetahui bahwa mengulangi sholat dzhuhur itu jika boleh atau menjadi kewajiban pasti dijelaskan sesudah ayat ini oleh Allah.

Sumber : A. Hassan dalam buku Soal-Djawab tentang berbagai masalah Agama jilid 2 hal. 473-474 terbitan C.V. Diponegoro Bandung 1969 Bab : Jum’at mestikah di-iringi dzuhur.

14. Apakah kewajiban sholat dhuhur 4 rakaat dapat digantikan sholat jum’at 2 rakaat untuk yang tidak mengikuti shalat berjamaah baik laki2 karena uzur/halangan atau para wanita? berikan dalil yang mendukung atau menolaknya

Jawab :

A. Hassan dalam buku Soal-Djawab tentang berbagai masalah Agama jilid 2 hal. 466 terbitan C.V. Diponegoro Bandung 1969 dituliskan:

Menurut madzhab imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Zufar, Ibnul Hudzail, Abu Tsaur dan Ibnu Qudamaah sholat dzuhur tetap boleh dilakukan bagi mereka-mereka yang tidak dibebankan kewajiban Jum’at sebagaimana perkataan dari Ibnu Qudamah berikut :

Adapun orang yang tidak berkewajiban Jum’at, yaitu sebagaimana orang yang bepergian, hamba, perempuan dan semua orang yang udzur maka ia boleh sholat Dzhuhur, sebelum imam sholat (Jum’at), yaitu sebagaimana pendapat mayoritas orang-orang ahli ilmu ( al-Mughnie djuz 2 hal 198 ).

Sedangkan menurut madzhab imam Malik, Syafe’i, tsauri, Ahmad, Ishaq, Daud. Azh-Zhahirie dan pengikut mereka, berpendapat tidak boleh dan sholatnya tidak syah.

A. Hassan berkata : ulama-ulama yang memandangnya tidak syah ini harusnya menyertakan dalil mereka, dan andaikata mereka tidak bisa menunjukkan dalilnya maka terpaksa dikembalikan masalah ini kepada al Bara-atul Ashliyah ( yaitu tidak terlarang pada hukum asalnya ), artinya syah sholat dzuhur yang dikerjakan itu.

Tetapi disini, menarik bila kita juga melihat pendapat Hasbi Ash-Shiddieqy yang bisa disebut bertentangan dengan pemahaman A. Hassan menyangkut sholat Jum’at digantikan sholat dzuhur.

Pada halaman 422 dengan tema utama : Jemaah dimasjid bukan syarat syah Jum’at ( yang diambil beliau dari kitab al-Ahkaam jilid ke-4 ) :

Apabila kita perhatikan keterangan yang telah diuraikan oleh para fuqaha, terletak dihadapan kita dua persoalan :

Pertama, soal sholat Jum’at

Kedua, soal mengerjakannya dengan berjemaah

Para fuqaha menyatukan dua soal ini, mereka berpendapat bahwa Jum’at itu wajib dan mengerjakannya berjemaah menjadi syarat sahnya sholat tersebut.; Tegasnya, diberatkan Jum’at atas jemaah dan bukan atas masing-masing pribadi.

Namun menurut penyelidikan kami, sesudah memperhatikan pendapat para fuqaha dan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan hal ini, adalah sholat Jum’at itu diwajibkan atas diri tiap-tiap pribadi, sebanyak 2 reka’at, baik dikerjakan sendiri-sendiri maupun berjemaah, mengingat firman Allah : Idzanudia lishsholati min yaumil jum’ati = apabila diseru kepada sholat pada hari Jum’at.

Dijelaskan oleh Imam Asy Sya’rani dalam Kasyful Ghummah, bahwa Ibnu Abbas membolehkan seseorang laki-laki bersholat Jum’at seorang diri didalam kebunnya.; Hal ini sesuai pula dengan apa yang juga diketengahkan oleh Rasyid Ridha dalam al-Manar Vo. VIII hal. 26 tentang seorang lelaki bersholat Jum’at sendiri didalam kebunnya. Maka Ibnu Abbas menjawab : Boleh, tidak ada keberatan, apabila syiar Jum’at telah terlaksana dengan orang-orang lain.

15. Bagamaimana kewajiban Sholat Jum’at terhadap kaum perempuan, berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah ?

Jawab :

al-Qur’an dalam surah al-Jumu’ah ayat 9 menggunakan istilah ” Yaa Ayyuhalladzi na’aamanu ” yang artinya wahai orang-orang yang beriman, sama dengan istilah yang digunakan ketika menyerukan kewajiban berpuasa ramadhan atau melakukan amalan-amalan lainnya tanpa membedakan gender/jenis kelamin.

Namun ada hadis yang berbunyi demikian :

Dari Thariq bin Syihab dari Nabi Saw, ia bersabda : Sholat Jum’at itu satu tuntutan yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjema’ah kecuali empat : hamba sahaya, perempuan, anak-anak atau orang yang sakit. -Riwayat Abu Daud

Namun dalam buku Terj. Nailul Authar jilid 2 hal. 904 disebutkan bahwa Thariq bin Syihab memang pernah melihat Nabi tetapi ia tidak mendengar sesuatupun dari beliau Saw.

Hadis diatas dijadikan sandaran oleh sejumlah umat Islam ( dan menjadi pemahaman mayoritas ) bahwa kaum perempuan tidak wajib untuk melakukan sholat Jum’at, namun meski demikian, ada baiknya bila kita juga melihat hadis-hadis lain yang ternyata bisa dijadikan pembanding dengan ketidak wajiban yang dimaksud oleh hadis riwayat Abu Daud itu atas kaum perempuan bersholat Jum’at.

Dari Ummi Hisyam binti Haritsah bin Nu’man, ia berkata : Aku tidak hafal surah Qaaf wal Qur’aanil majiid melainkan dari (mendengarkan bacaan) Rasulullah Saw yang ia baca pada setiap Jum’at diatas mimbar apabila ia berkhutbah dihadapan manusia – Riwayat Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Abu Daud ( Terj. Nailul Authar Jilid 3 hal. 943 )

Hadis diatas merupakan pernyataan dari seorang wanita yang dengan jelas menggambarkan bahwa pada masa Rasul, kaum perempuan pun selalu ikut menghadiri Jum’at, sebab bila tidak, maka Ummi Hisyam tidak mungkin bisa hafal surah yang dimaksud kecuali dengan menyimak bacaan yang dibaca Rasul.

Dalam Pedoman Shalat Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy Penerbit Bulan Bintang Djakarta 1966 hal. 418 s/d 423 menulis :

Diwajibkan atas orang-orang wanita pada hari Jum’at dengan tidak diberatkan menghadiri jemaah kemasjid, mereka diperbolehkan tidak menghadirinya walaupun tidak dengan uzur sekalipun. Karenanya hendaklah kaum wanita mengerjakan jum’at baik kemasjid bersama orang laki-laki ataupun dirumahnya masing-masing., Jika melakukan secara berjemaah, maka hendaklah melakukannya dengan segala adab Jum’at, beradzan, berkhutbah dan lain-lainnya/; Jika melakukannya sendirian, hendaklah dilakukan adab-adab sholat sendirian. ( hasil pentahqiqan al-Ustadz Mhd. Syakir dalam Ta’liq al-Muhalla ).

Dari berbagai keterangan didapati kesimpulan bahwa suatu hal yang diutamakan Islam adalah kaum wanita menghadiri jemaah Jum’at dimasjid.; Karena kalau sekiranya tidak didapati keutamaan dalam hal itu, tentulah Nabi Saw telah mencegah mereka dari menghadiri jemaah Jum’at dan tentulah hal itu tidak terjadi lagi dimasa Khalifah Rasyidin.

Barangsiapa menghadiri Jum’at, baik lelaki atau perempuan, hendaklah ia mandi – Riwayat al-Jama’ah dan Ibnu Hibban ; an-Nail 1:296

Hadis Thariq bin Syihab yang diriwayatkan oleh Abu Daud adalah hadis yang diperselisihkan oleh para ulama, dan hadis itu sendiri bersifat mursal shahaby yang mana baru menjadi hujjah jika perawi itu dapat dibuktikan bahwa ia pernah mendengar sesuatu hadis dari Nabi Saw.

Hadis yang dengan tegas menyatakan bahwa yang diwajibkan atas hamba, wanita, orang sakit dan anak-anak pada hari jum’at mengerjakan dzuhur tidak diperoleh.

Baik juga diperhatikan pendapat penyusun ” Aunul Mabud ” : Bahwa Jum’at itu wajib yang ditekankan, tidak boleh ditinggalkan. Akan tetapi dima’afkan kita tidak menghadiri jemaah dimasjid lantaran hujan. Maka kita bersholat Jum’at dirumah dengan orang-orang yang ada dirumah dengan berjemaah. Dan bukanlah dikehendaki bahwa Jum’at itu gugur lantaran hujan; karena tidak diperoleh hadis yang shahih bahwa hujan itu menggugurkan tugas berjum’at. -Syarah Sunan Abu Daud

Hadis Ummu ‘Athiyah : Tidak ada Jum’at atas kami, bukanlah dimaksudkan dengan tidak wajib melakukan sholat Jum’at kepada kaum perempuan, tetapi tidak diwajibkan melakukannya secara berjemaah dimasjid.

Diterangkan oleh al-Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam ( ii:79 ) bahwa Imam Syafe’i berpendapat : disukai bagi para wanita tua, menghadiri Jum’at dengan seizin suaminya. Menurut kitab al-bahr, bahwa Syafe’i mewajibkan para wanita tua menghadiri Jum’at.

Demikian, sekian dengan ringkas.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Sumber Tambahan/perlengkapan :

1. A. Hassan, Soal-Djawab tentang berbagai masalah Agama jilid 2 terbitan C.V. Diponegoro Bandung 1969

2. A. Hassan, Pengajaran Shalat, terbitan C.V. Diponegoro Bandung cet. XX 1984

3. Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Shalat Penerbit Bulan Bintang Djakarta 1966 Cet. ke-6

4. Terj. Nailul Authar Jilid 2 dan Jilid 3, terbitan PT. Bina Ilmu 1993

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

Armansyah

Sholat itu Mudah !

Adakah hal yang meringankan dalam sholat ?

Oleh : Armansyah

Tidak bisa dipungkiri, sholat dianggap oleh kebanyakan dari umat Islam sebagai sebuah ritual yang sangat berat untuk dikerjakan apalagi untuk melengkapinya sejumlah lima waktu seperti yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi-Nya.; Belum lagi dengan banyaknya syarat-syarat yang ditetapkan oleh para ulama sehingga sholat dirasakan semakin kompleks dan penuh aturan. Padahal sebenarnya ajaran Islam tidak rumit apalagi bersifat memberatkan umatnya.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesukaran bagimu – Qs. 2 al-Baqarah : 185

Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya – Qs. 6 al-an’aam: 152

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, sabdanya : sesungguhnya Islam itu mudah ; dan barang siapa yang memperberatnya, ia akan dikalahkan oleh agamanya – Hadis Riwayat Bukhari

Islam sebagai agama wahyu merupakan ajaran rasional, tidak bertentangan dengan fitrah manusia yang diciptakan oleh Yang Maha pembuat wahyu itu sendiri.; karenanya, pembuat mobil Kijang tentu tidak akan memberikan buku petunjuk (manual book) untuk mobil Sedan, demikian juga sebaliknya.

Begitulah Islam, dia diturunkan oleh Allah yang menciptakan manusia, maka bagaimana mungkin Allah akan menurunkan buku petunjuk berisi pedoman yang tidak sesuai dengan karakteristik manusia itu sendiri ?

Sesuai isi hadis diatas, Nabi berpesan agar manusia tidak memperberat ajaran Islam sebab hanya akan membuat manusia itu dikalahkan oleh agama. Dimana akhirnya tidak akan ada amal yang sempat diperbuat oleh simanusia itu sendiri karena dia selalu memandang semua perintah agama itu sulit dan berat untuk dilakukan sehingga akhirnya tidak ada satupun kewajiban agama yang dijalankannya. Perintah sholat salah satu kewajiban yang memiliki banyak kemudahan dalam praktek pengamalannya, berikut beberapa poin penting kemudahan tersebut :

1.Jika saat waktu sholat tiba namun mata mengantuk, maka lebih utama untuk menundanya setelah bangun dari tidur :

Dari ‘Aisyah : Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : ‘Apabila seseorang dari kamu mengantuk dan dia hendak sholat maka tidurlah sampai kantuknya hilang. Karena apabila seseorang sholat dalam keadaan mengantuk, dia tidak sadar, bisa saja dia hendak meminta ampun kepada Tuhan tetapi dia malah memaki dirinya sendiri’
– Hadis Riwayat Bukhari

2.Bila memang kita belum melakukan sholat namun ketiduran, maka sholat boleh dikerjakan saat bangun tidurnya :

Dari Abu Qatadah ia berkata : ‘Sahabat-sahabat menceritakan kepada Nabi Saw tentang tertidurnya mereka sebelum sholat, lalu Nabi Saw bersabda : sesungguhnya didalam tidur itu tidak ada kelalaian karena kelalaian itu hanyalah dalam keadaan terjaga karenanya apabila salah seorang diantara kamu lupa sholat atau tertidur maka sholatlah ketika ingat ! ‘ –  Hadis Riwayat Nasai dan Tirmidzi

3.Bila bangun kesiangan tetapi sholat subuh belum ditunaikan, tetap syah mengerjakannya meskipun hari sudah tidak lagi subuh :

Dari Abu Rajak dari ‘Auf dari Imran, katanya : Adalah kami pada suatu perjalanan bersama dengan Nabi Saw dan kami berjalan malam hari dan ketika larut malam, tidurlah kami dan tidak ada tidur yang lebih nyenyak dari itu bagi orang musafir tidak ada yang membangunkan kami selain panas matahari.

Nabi Saw apabila beliau tidur tidak dibangunkan sampai beliau bangun sendirinya, kami tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam tidurnya. Setelah umar bangun dan dilihatnya apa yang terjadi pada orang banyak (mereka masih tidur sementara matahari telah tinggi) maka umar yang berkepribadian keras lalu bertakbir dan dikeraskannya suaranya membaca takbir itu hingga bangunlah Nabi Saw;

Setelah Nabi bangun, mereka mengadukan kepada Nabi hal kesiangan mereka ; Jawab Nabi : tidak mengapa dan mari kita berangkat !
lalu Nabi berangkat dan setelah berjalan tidak seberapa jauh, Nabi berhenti dan meminta air untuk berwudhu’, lalu Nabi berwudhu’ dan orang banyakpun dipanggil untuk sholat, maka sholatlah Nabi bersama mereka – Hadis Riwayat Bukhari


4.Bila lupa mengerjakan sholat, maka boleh melakukannya setelah ingat.

Dari Anas, dari Nabi Saw sabdanya :’Barang siapa yang lupa mengerjakan sholat maka sholatlah setelah dia ingat tidak ada hukuman baginya selain dari itu dan kerjakanlah sholat untuk mengingat Tuhan.’
– Hadis Riwayat Bukhari

5.Bila tubuh sedang letih, boleh melakukan sholat sambil duduk

Nabi Saw datang kerumah zainab (salah seorang puteri beliau)
Kebetulan disitu ada tali terbentang antara dua tonggak; Nabi bertanya : tali apa ini ?  Orang banyak menjawab : tali untuk zainab apabila ia letih mengerjakan sholat berpeganglah ia ditali itu ;
sabda Nabi : Tidak boleh, bukalah !
Hendaklah kamu mengerjakan sholat menurut kesanggupannya ; apabila telah letih, duduklah – Hadis Riwayat Bukhari

6.Bila cuaca sedang panas, bisa menunggu hingga sampai keadaan cuaca mereda

Dari Abu Dzar, ia berkata : ‘Kami pernah bersama Nabi Saw, ketika muadzin hendak azan Zhuhur, Nabi bersabda : Tunggulah sampai dingin ; Kemudian muadzin hendak azan lagi, Nabi bersabda kepadanya : ‘Tunggulah sampai dingin’ ! ; Sehingga kami melihat bayangan bukit, lalu Nabi bersabda : Sesungguhnya panas itu uap neraka, karenanya bila keadaan sangat panas maka akhirkanlah waktu sholat sampai dingin !’ – Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim

7.Bila saat sholat berbenturan dengan waktu makan, maka boleh mendahulukan makan sebab sholat dalam keadaan lapar sementara makanan sudah siap diatas meja hanya akan membuat pikiran tidak tenang dan konsentrasi sholat menjadi terganggu

Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Saw bersabda : ‘ Apabila akan didirikan sholat, sedangkan makan malam telah dihidangkan maka dahulukanlah makan malam itu’ – Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim

8.Bila sedang dalam perjalanan, kita boleh menyingkat sholat yang tadinya berjumlah empat raka’at menjadi dua raka’at saja

Dari Ibnu Umar, r.a, katanya : ‘Pernah saya menemani Nabi Saw dan sholat beliau dalam perjalanan tidak lebih dari dua raka’at’
– Hadis Riwayat Bukhari

9.Wanita yang sedang dalam keadaan menstruasi diperbolehkan untuk meninggalkan sholat mereka

Dari ‘Aisyah r.a : … (disingkat -pen) ; Nabi menjawab : ‘Karena itu, apabila datang darah haid, tinggalkan sholat dan bila darah haid itu habis maka mandilah untuk sholat ‘ – Hadis Riwayat Bukhari

10.Boleh mengerjakan sholat dimana saja tanpa harus melakukannya disurau, masjid dan sejenisnya :

Dari Jabir bin Abdullah r.a, katanya : ‘Rasulullah Saw pernah bersabda: dijadikan bumi untukku menjadi alat bersuci dan tempat sujud; karena itu, sholatlah kamu dimana saja kamu mendapati waktu sholat
– Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim


11. Kerjakanlah sholat sesuai kondisi tubuh :

Dari ‘Ali, r.a, katanya : bersabda Nabi Saw : ‘ Sholatlah orang yang sakit dengan berdiri jika ia bisa ; bila tidak mampu maka sholatlah dengan duduk ; jika tidak mampu untuk sujud, isyaratkan saja dengan kepala ; dan dijadikannya sujudnya itu lebih rendah dari ruku’nya ; jika tidak mampu sholat duduk, maka sholatlah sambil berbaring kekanan serta menghadap kiblat; jika tidak mampu juga maka sholatlah dengan menelentang ; sedang kedua kakinya membujur kearah kiblat’
Hadis Riwayat Daruquthni

12. Sholat tidak menghalangi kita untuk tetap menjaga balita

Dari Abu Qatadah al Anshari : Sesungguhnya Rasulullah Saw sholat sambil mendukung Umamah binti zainab binti Rasulullah; apabila Nabi sujud, diletakkannya Umamah itu  dan saat ia berdiri didukungnya kembali – Hadis Riwayat Bukhari

Dari Abu Hurairah berkata : Kami Sholat Isya’ beserta Nabi ; Apabila beliau bersujud, Hasan dan Husen melompat atas punggungnya; Karena itu, apabila Nabi mengangkat kepalanya beliau mengangkat Hasan dan Husen dari punggung dengan lembut dan mendudukkannya ke lantai; ketika Nabi kembali sujud, Hasan dan Husen kembali menduduki punggungnya ; demikian keadaan itu berlangsung hingga selesai sholat
sesudah selesai sholat, Nabi mendudukkan salah seorangnya keatas pahanya – Hadis Riwayat Ahmad

13. Meskipun sholat berjemaah itu baik, namun bila sebagai makmum kita datang terlambat padahal imam sudah memulai raka’at sholatnya, tidak perlu berlari mengejar ketinggalan :

Dari Abu Hurairah, katanya : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda :  ‘Apabila kamu mendapati orang telah sholat, janganlah kamu berlari-lari mengejarnya berjalanlah seperti biasa dan hendaklah kamu bersikap tenang diraka’at mana kamu dapatkan, teruskanlah dan mana yang ketinggalan maka sempurnakanlah – Hadis Riwayat Bukhari

14. Hujan dan becek tidak menghalangi sholat

Kata Abu Sa’id al Khudri : ‘Datang awan gelap, maka hujanlah hari sampai bocor atap masjid dan atap itu dari pelepah batang korma ; lalu orang sholat dan kulihat Rasulullah Saw sujud diatas air dan tanah hingga kulihat bekas-bekas tanah dikeningnya – Hadis Riwayat Bukhari

Demikianlah beberapa poin kemudahan yang ada dalam sholat yang sudah diberikan Allah melalui Rasul-Nya dan telah diteladani pula oleh keluarga dan sahabatnya, sehingga tidak ada alasan bagi kita selaku umat Islam untuk melalaikan sholat apalagi sampai membuatnya seolah suatu ritual yang sangat rumit dan tidak manusiawi.

Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat
Hadis Riwayat Ahmad dan Bukhari dari Malik bin al-huwairits

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

Kenapa Sholat harus menghadap Ka’bah

Kenapa Sholat dan Haji Harus berkiblat kearah Ka’bah ?

Oleh : Armansyah

Ilustrasi Sholat menghadap Ka'bah

Islam adalah ajaran yang rasional, penyembahan kepada Allah semesta alam yang Maha Ghaib pada dasarnya tidak mungkin ditujukan hanya kepada satu tempat tertentu saja apalagi Allah berada dimana-mana dan selalu mengawasi setiap gerak dan diri kita.

Dan kepunyaan Allah sajalah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. – Qs. al-Baqarah 2:144

Jika halnya secara praktek dilapangan umat Islam mengarahkan sholat mereka kearah Ka’bah dimasjid al-haram itu tidak serta merta diartikan sebagai suatu simbol penyembahan pada berhala yang berupa susunan batu hitam, namun semata-mata untuk menjadikan Ka’bah itu suatu kesatuan tujuan dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Satu.

Ka’bah adalah titik penyatu arah dalam prosesi ibadah yang ditujukan kepada Allah agar semua bisa dilakukan dalam irama yang juga satu, gerak yang satu, selaras dan teratur. Tidak ada yang sholat berhadapan muka atau saling memunggungi.

Meski demikian, Ka’bah tetap bukan icon sesembahan, ia bukan juga benda yang harus disembah dan atau mewakili sesuatu yang disembah. Penyatuan arah dan gerak dalam pemusatan di Ka’bah tersebut tetap diarahkan kepada Allah, bukan pada Ka’bahnya.

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (ka’bah).
– Qs. al-Quraisy 106:3

Dengan demikian didalam Islam tidak terjadi perbedaan antara satu bangsa yang menganut Islam dengan bangsa lainnya yang juga menganut Islam mengenai tata cara peribadatan dan arah penghadapannya.

Kita bisa menarik kesamaan dalam kasus ini dengan Garuda Pancasila yang digunakan sebagai lambang negara kesatuan Republik Indonesia. Dimana Garuda Pancasila adalah simbol pemersatu bangsa yang memiliki aneka adat istiadat, budaya, suku dan agama sebagaimana bisa kita lihat slogan pada kaki Garuda Pancasila : Bhineka Tunggal Ika.

Tetapi apakah berarti Garuda Pancasila menjadi sesembahan bangsa Indonesia ? Adakah orang-orang ditanah Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan berbagai pulau lainnya yang tersebar dinusantara ini mengatakan bahwa mereka sudah menyembah burung Garuda Pancasila itu ?

Tentu saja tidak, karena dia hanya sebatas simbol pemersatu semata.

Meski begitu, analogi Garuda Pancasila dan Ka’bah tadi tidak bisa disamakan dalam kasus misalnya penyembahan patung Yesus dan Bunda Maria seperti yang dijumpai dalam tradisi Kristen, atau juga pepatung dalam agama Budha karena mereka pada dasarnya memang menyembah dan meminta tolong kepada obyek yang dipatungkan itu dan mereka tidak menganggap patung-patung tersebut sebagai simbol pemersatu sebagaimana posisi Ka’bah bagi umat Islam.

Dengan demikian kasus penyembahan terhadap patung seperti ini ditinjau dari sudut kacamata Islam pada dasarnya telah masuk dalam kategori menyembah berhala.

Adapun setiap umat sebelum kenabian Muhammad telah dinyatakan memiliki kiblat sholat masing-masing dan ini pun logis, kiblat Nabi Nuh bisa saja berbeda dengan kiblat Nabi Musa begitu seterusnya, hal ini tidak lain karena dakwah masing-masing Nabi dan Rasul sebelumnya hanya terbatas pada daerah kaumnya saja sehingga belum diperlukan adanya kesamaan arah kiblat bagi mereka semua.

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya dimana ia menghadap kepadanya.
– Qs. al-Baqarah 2:148

Berbeda kasusnya manakala Nabi Muhammad diutus kepada semua bangsa, semua daerah dan kesetiap suku menembus adat tradisi dimasing-masing daerah. Perbedaan bisa menjadi suatu perselisihan yang besar apalagi bila perbedaan itu justru menyangkut tata cara penyembahan terhadap Tuhan. Hal ini sebenarnya pun sudah disebutkan oleh Nabi Yesaya seperti yang ada didalam alKitab :

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Hendaklah padang gurun dan segala negrinya menyaringkan suaranya, demikian pula seluruh desa yang didiami orang-orang Kedar ! – Kitab Perjanjian Lama : Yesaya pasal 42 ayat 10 s.d 11

Disini disebutkan nama Kedar (al-Ghadir), yaitu nenek moyang dari Nabi Muhammad Saw yang terlahir dari Nabi Ismail sebagai putra kedua Nabi Ibrahim as. Bahwa Allah melalui Nabi Muhammad Saw akan menyatukan seluruh Tanah Arabia, menyatukan seluruh keturunan Kedar, mempersatukan seluruh generasi Ibrahim as, bersama dengan seluruh umat manusia dari seantero dunia dalam rangkaian ibadah Haji dirumah Allah, Ka’bah, Mekkah al-Mukarromah sebagaimana terdapat dalam nubuat kitab Yesaya pasal 60 ayat ke-7:

Segala domba Kedar dikumpulkan kepadamu, segala domba jantan Nebayot dihantar akan gunamu, sekalian itu naik keatas mezbah-Ku, dipersembahkan dengan keridhoan hati, maka rumah-Ku yang mulia itu (Ka’bah) akan Ku permuliakan pula.

Penafsiran Ka’bah sebagai rumah Allah yang terdapat dalam Yesaya 60:7 diatas kita sandarkan sendiri terhadap ayat Kitab Yesaya ke-11 dalam pasal yang sama :

“Maka segala pintu gerbangmu pun akan terbuka selalu, baik siang malam tiada ia itu ditutup, supaya dibawa masuk kepadamu akan tentara orang-orang kafir dan segala rajanya pun diantar.”

Ayat ke-11 ini kita tafsirkan sesuai kenyataan yang berlaku dihadapan kita, bahwa kota Mekkah al-Mukarromah dimana Ka’bah sebagai Rumah Allah senantiasa terbuka untuk orang-orang yang ingin melakukan ibadah kepada Allah, untuk orang-orang yang sadar dari segala kekafirannya, baik tua,  muda, besar, kecil, rakyat hingga raja tanpa membedakan ras, suku, golongan maupun pangkat kedudukan duniawiah mereka. Seluruhnya bercampur menjadi satu umat dihadapan Allah, sebab Allah tidak akan menilai semuanya itu kecuali taqwa mereka kepada-Nya.

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. – Qs. al-Hujuraat 49:13

Dan ketika Kami menjadikan rumah itu (yaitu Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia … – Qs. al-Baqarah 2:125

Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia… – Qs. al-Ma’idah 5:97

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan berkendaraan yang datang dari segenap penjuru yang jauh. – Qs. al-Hajj 22:27

Kemudian pada awal kitab Yesaya pasal 42:10 disebutkan “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN…”  Suatu lagu baru adalah merupakan senandung doa pujian kepada Allah dalam bentuknya yang lain. Dalam hal ini “bentuk yang lain” yang dimaksudkan merefer pada kitab Yesaya pasal 28: 11 serta kitab Zefania pasal 3:9 yang terdapat dalam alkitab :

Maka sebab itu Dia pun akan berfirman kepada bangsa ini dengan logat yang asing dan dengan bahasa yang lain. – Kitab Perjanjian Lama : Yesaya 28:11

Tetapi pada masa itu Aku akan mengaruniakan kepada semua bangsa lidah yang suci; supaya mereka itu sekalian menyebut nama Tuhan. Melayani-Nya dalam satu persamaan. – Kitab Perjanjian Lama : Zefania 3:9

Dengan demikian, “Nyanyian baru bagi Tuhan” yang dimaksud oleh Yesaya 42:10 ini adalah doa dan pujian yang berasal dengan logat dan bahasa yang lain daripada sebelumnya yaitu diluar dari bahasa Arami maupun Ibrani yaitu bahasa Arab.

Pada saat umat Islam diseluruh dunia berseru kepada Tuhan, pada saat sholat, berhaji dan pada saat mereka saling mengucapkan salam sebagai satu bahasa kesatuan dan persatuan hidup dan kehidupan beragama sebagaimana isi ayat terakhir dari Zefania 3:9 “… melayani-Nya dalam satu persamaan.”

Hendaklah semua orang yang duduk dibukit batu itu bernyanyi, biarkanlah mereka berseru-seru dari puncak bukit. Biarkanlah mereka memberikan pujian kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau. TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya.” – Kitab Perjanjian Lama : Yesaya pasal 42 ayat 12 s.d. 13

Dari bukit Arafah dekat kota Mekkah, para Jemaah Haji dari seluruh pulau didunia ini setiap tahunnya datang berkumpul bersama dan berseru:

Labbaykallahumma Labbayk
Labbayka laa syariikalaka labbayk
Innal hamda wan ni’mata laka walmulk
La syariikalaka

Yang artinya : Aku sambut panggilanmu, Ya Allah;
Aku sambut panggilan-Mu;
Aku sambut panggilan-Mu, Tiada sekutu bagi-Mu;
Aku sambut panggilan-Mu;
Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan serta segenap kekuatan adalah milik-Mu, Tiada sekutu bagi-Mu.

Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya, mengalahkan semua dakwah keberhalaan manusia, memenangkan risalah para Nabi-Nya dari seluruh kejahatan, membuktikan kebesaran-Nya dihadapan para musuh-Nya.

Karena sesungguhnya kegelapan menudungi bumi dan dalam kelam kabut menudungi segala bangsa, sementara Tuhan telah terbit atas kamu dan kemuliaan-Nya pun bersinar kepadamu. Maka segala orang kafir pun akan datang kepada terangmu dan segala raja-raja pun kepada cahaya yang sudah terbit bagi kamu – Kitab Perjanjian Lama : Yesaya pasal 60:2-3

Ini juga kiranya bisa menjadi sandaran didalam dunia Fiqih modern kenapa sholat itu harus dalam bahasa Arab, Islam itu agama yang mementingkan persatuan, mulai dari paham kesatuan Tuhannya (monotheisme/Tauhid) dan bersatu juga dalam perbedaan.

Tatkala orang Bugis berada di Padang misalnya, dia akan mudah membaurkan dirinya dalam jemaah sholat dimasjid manapun tanpa harus khawatir tata cara sholatnya berbeda dengan mereka, tanpa perlu pula khawatir bahasa yang dipergunakan didalam sholat berbeda. Demikianlah salah satu hikmah yang bisa kita kemukakan perihal keharusan sholat dan haji itu menghadap kearah Ka’bah dan kenapa juga sholat harus dalam bahasa Arab.

Sebagai penutup tulisan ini, mungkin anda tertarik membaca tulisan saya tentang : Kenapa Islam menolak pemahaman Trinitas pada link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/16/kenapa-islam-menolak-trinitas/


%d bloggers like this: