Dialog tentang universalitas Islam

Dialog antara Armansyah dengan Sdr. Iskandar

Seputar konsep universalitas Islam dan hubungannya dengan konsep jemaah

Diskusi dimulai dari Sdr. Iskandar yang menghubungi saya melalui email, menanggapi tulisan saya disitus swaramuslim ( http://armansyah.swaramuslim.com ).

Dialog pertama :

Tanggal : 09 Agustus 2006 | Pkl : 07:31 AM dan Pkl : 09:39 AM

[ Iskandar : ] Assalammu’alaikum wr wb,

[ Armansyah : ] ‘alaykumsalam Wr. Wb.,

[ Iskandar : ] Bung Arman, sungguh saya kagum atas pernyataan :

Saya orang yang rasional dan bukan dogmatis …
Berbicara dengan saya maka bersiaplah untuk berbicara Islam secara universal (bukan liberal) … sebab kebenaran Tuhan itu bisa didapatkan darimana saja sumbernya ….setiap kebenaran akan bersifat saling mengisi dan saling membenarkan kebenaran yang sudah ada sebelumnya … tetapi manakala sesuatu itu bersifat parsial atau justru bertentangan … maka tentu dia bukan kebenaran … sebab kebenaran sifatnya pasti bukan relatif.

Bolehkah saya ngobrol-ngobrol lebih lanjut dengan bung ?

[ Armansyah : ] Salam kenal kembali buat anda Sdr. Iskandar …

InsyaAllah selama masing-masing dari kita punya waktu dan kesempatan (kita bisa sama-sama berdiskusi) …

[ Iskandar : ] Pertama yang saya tanyakan, cuplikan dari Tafsir Al Furqon A.HAsan Persis.

(QS.10:35) “Tanyalah adakah dari antara sekutu sekutu kamu itu siapa siapa yang bisa memimpin kepada kebenaran ?. Katakanlah: “Allah-lah yang memimpin kepada kebenaran”. Maka apakah yang memimpin kepada kebenaran itu lebih patut diturut ataukah yang tidak bisa memimpin kecuali sesudah dipimpin. Mengapa kamu begitu ?. Bagaimana kamu mengambil keputusan ?”.

Persepsi saya, bung Arman telah mendapatkan orang yang dipimpin Allah, karena dalam ayat ini yang dapat memimpin kepada kebenaran hanya Allah dan orang yang dipimpin Allah.

Menurut bung Arman beliau adalah :” Tidak ada orang yang lebih berjasa dalam menanamkan ilmu dan prinsip Tauhid kepada diri saya diluar orang tua kecuali Drs. H. Asfanuddin Panjaitan (almarhum) yang akrab saya panggil Bang Asfan”.

[ Armansyah : ] Pada dasarnya, nilai-nilai kebenaran itu bisa ada pada setiap makhluk, mulai dari hewan, tetumbuhan, bumi, air, planet-planet, matahari, bulan, bintang gemintang dan juga manusia itu sendiri terlepas apakah dia beriman ataukah kafir dari sisi akidah.

Hanya saja secara realita, seringkali kita butuh nilai-nilai kebenaran yang ada pada setiap makhluk tadi itu sebagai guide buat kita agar bisa tetap konsis atau istiqomah terhadap kebenaran itu sendiri. Untuk itulah maka Allah pun menjadikan sebagian dari manusia sebagai Nabi dan Rasul sementara sebagian lainnya Dia jadikan selaku guru, wali atau ulama yang mana menjadi Imam bagi manusia lainnya.

[ Iskandar : ] Bagaimana mengetahui orang yang dipimpin Allah (berdasarkan Al Qur’an atau Hadits) ?

[ Armansyah : ] Saya akan menjawabnya secara universal saja dulu, pertanda yang paling utama adalah orang itu mengajarkan ketauhidan atau pengesaan kepada Allah dengan semurni-murninya penghambaan; lalu orang itupun memberikan keteladanan buat orang lain melalui dirinya sendiri, orang itu juga seharusnya memiliki sikap yang bijaksana dalam menyikapi sesuatu dan dia juga harusnya orang yang mumpuni dalam berwawasan secara global

[ Iskandar : ] Apakah hasil atau ukuran yang dicapai dari ilmu tersebut sehingga kita meyakini sebagai kenyataan tentang kebenaran universal ?

[ Armansyah : ] Satu ilmu adalah rangkaian dari ilmu-ilmu lainnya, meyakini satu ilmu saja tentu tidak bisa disebut telah mengetahui kebenaran yang sejati sebab yang satu ilmu ini baru sebatas pijakan awal dalam melangkah kepada kebenaran, olehnya orang yang bisa disebut telah dipimpin Allah maka dia tidak menutup diri atas kebenaran yang ada pada ilmu lain diluar disiplin yang ia dalami.; semuanya adalah rangkaian dari satu kesatuan yang utuh.

[ Iskandar : ] Adakah hubungan Imam dan Jamaah dengan beliau ?

[ Armansyah : ] Imam dan Jamaah adalah sebuah konsepsi kepemimpinan yang berfungsi mengatur tatanan yang ada pada sebuah komunitas, saat dia bertindak sebagai seorang guru maka diapun bisa disebut seorang imam yang mengatur jamaahnya (yaitu dalam hal ini murid-muridnya) begitupula misalnya saat dia bertindak selaku kepala negara maka dia pun bisa disebut imam yang mengatur masyarakatnya selaku jamaah yang besar.

Saya tidak melihat konsep Imam dan Jamaah secara parsial sebagaimana yang ada dalam konsepsi sebagian umat Islam yang akhirnya memaksakan kehendak kelompoknya untuk diakui sebagai satu-satunya kebenaran ataupun komunitas yang justru mengecilkan makna keuniversalan dari Islam itu sendiri.

[ Iskandar : ] Terima kasih, Wassalammu’alaikum wr wb.

Iskandar – Jakarta Pusat

[ Armansyah : ] Demikian yang bisa saya jawab sementara ini, terimakasih atas perhatian anda.

Wassalam.,

Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.net

Dialog kedua :

Tanggal : 11 Agustus 2006 | Pkl : 07:21 AM dan Pkl : 09:36 AM

[ Iskandar : ] Bang Arman, banyak yang mengajarkan lisan dan tulisan bahkan Rasulullah saw menyampaikan dalam Universitas-Islam yang mengajarkan ke-universal-an dimana ruang kelas tempat berjalan menuntut ilmu-Nya meliputi Waktu, Ruang, Alam dan Mahluk. Namun universitas ini telah terpecah belah menjadi 73 universitas.

[ Armansyah : ] Hmm. begini mas Iskandar.,

Saat Allah menyatakan Islam itu universal maka tentu memang demikian ada dan sifatnya, saya rasa sampai disini kita bisa tetap sepakat.

Nah, jika pembicaraan sudah masuk kepada hadis yang menceritakan mengenai adanya 73 firqah didalam Islam, maka berarti kita mulai mengeklusifkan pembahasan dan sudah keluar dari jalur universalitas sebelumnya.

Jadi artinya diskusi ini sifatnya sudah menyempit …. dan kita tentu tidak akan membawa-bawa lagi istilah universalitas dalam pembahasan berikutnya.

[ Iskandar : ] Dalam hadits dibawah ini keteladanan phisik dapat dibuat serupa dengan Rasul ” Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa kita. artinya tak cukup hanya dengan melihat dan mendengar dengan indera jasmani lalu kita memilih dan bersumpah-setia kepada seseorang untuk dapat menuntun kepada kebenaran universal yang didambakan.

[ Armansyah : ] Baiat adalah sebuah sikap ketertundukan dan kepatuhan kita atas diri seseorang yang disepakati untuk menjadi pemimpin kita dan sekelompok orang lain atas dasar tujuan tertentu.

Dan menurut saya, selama tujuan itu tetap menjadi anak tangga untuk melangkah kepada kebenaran yang universal maka baiat bisa dibenarkan, namun perlu di-ingat, ini bukan untuk mengeklusifkan kebenaran itu sendiri sehingga mendeskreditkan nilai-nilai kebenaran lain yang ada diluar kelompoknya.

Kebanyakan dari kita sering bertindak terlalu apatis terhadap kebenaran yang diungkapkan oleh orang lain, terlebih jika orang tersebut memiliki cara pandang yang berseberangan dengan apa yang kita yakini kebenarannya. Padahal belum tentu semua yang ada dalam pemikiran orang tersebut salah dan sebaliknya belum tentu juga setiap pikir dan tindakan kita bernilai benar; bisa saja kita bersikap konsisten terhadap nilai-nilai yang kita anut sehingga kita menyebutnya sebagai sebuah kebenaran namun bukan tidak mungkin konsistensi kita tadi hanya ilusi dimana pikiran kita sesungguhnya berjalan sesuai pola logika yang bisa bergeser dan menyimpang.

Pikiran kita memang seringkali tidak menyimpang kalau kita bandingkan dengan standar kita sendiri. Padahal standar kita dibentuk oleh pikiran kita yang bisa jadi pula dipengaruhi oleh orang lain. Jadi, maksud saya acapkali pikiran kita ternyata hanya tidak menyimpang dari pikiran kita sendiri atau kelompok dimana kita berkomunitas.

Allah menjadikan kita lengkap dengan panca indera berikut fungsinya adalah untuk menangkap dan menyerap semua nilai-nilai kebenaran yang berserakan disemesta raya, ini adalah tools atau alat yang harus dioptimalisasikan penggunaannya.

Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi ? padahal mereka mempunyai hati yang dengan hati itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar; Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. – Qs. 22 al-Hajj : 46

[ Iskandar : ] Pertanyaannya :

1. Bagaimana kita dapat memilih secara benar jika 73 universitas dengan kurikulum yang sama yaitu Al Qur’an dan Hadits, para dosen-nya serupa tapi tak sama. Beranikah kita mengorbankan diri dan keluarga kita dalam usaha terpenting di kehidupan dunia ini tanpa kepastian yang nyata tentang alam lainnya yaitu Surga dan Neraka (universal) ?.

Shahih Bukhari IV:1873 : Dari Huzaifah bin Yaman r.a katanya : Orang banyak biasanya menanyakan kepada Rasul saw tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepada beliau tentang keburukan (bahaya), karena takut akan ditimpanya. Saya bertanya :”Ya Rasulullah ! Sesungguhnya kami dahulu dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu didatangkan Allah kepada kami kebaikan. Adakah sesudah kebaikan ini akan terjadi keburukan ?” Jawab nabi :”Ya !” Saya bertanya :”Adakah sesudah keburukan itu ada kebaikan ?” Jawab nabi :”Ya !, tapi ada yang merusaknya”. Saya bertanya :”Apakah perusak itu ?” Jawab Nabi :” Sekumpulan orang yang memimpin bukan menurut jalan yang benar. Sebagian dari tindakan mereka ada yang engkau pandang baik dan ada yang tidak.” Saya bertanya :”Adakah sesudah kebaikan terjadi lagi keburukan?” Jawab nabi :”Ya ! Orang-orang yang memanggil dipintu neraka. Siapa yang memperkenankan panggilannya, mereka dilemparkannya ke dalam neraka.” Saya bertanya :”Ya Rasulullah, terangkan kepada kami keadaan mereka !” Jawab Nabi :” Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa kita.” Saya bertanya :”Apakah yang engkau perintahkan kepada saya, kalau se-andainya saya mendapati hal yang demikian ?” Jawab Nabi :”Hendaklah engkau tetap dalam jama’ah (persatuan) kaum Muslimin dan mengikuti Imam (pemimpin) mereka.” Saya bertanya :” Bagaimana kalau mereka tidak mempunyai Jama’ah (persatuan) dan tidak mempunyai Imam (pemimpin) ?” Jawab Nabi :”Jauhilah semua kumpulan biarpun karena itu engkau sampai menggigit (mengunyah) urat-urat kayu, sehingga engkau meninggal dunia dalam keadaan serupa itu.”

[ Armansyah : ] Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan tangga-tangga yang mereka bisa menaikinya. -Qs. 43 az-Zukhruf :33

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat -Qs. 11 Huud :118

Bergolong-golongan atau berpecah belah sudah menjadi fitrah dari manusia itu sendiri, rambut bisa sama hitam tetapi pendapat sangat bisa untuk berbeda, bagaimana mungkin kita bisa menyatukan semuanya dalam arti yang sebenarnya ? itulah makanya saya katakan kita harus realistis, sejak awal Allah menjadikan manusia ini dengan dua fitrahnya, baik dan buruk, dan semenjak awal pula Allah tidak mendesain diri kita ini untuk menjadi malaikat yang hanya mengenal kebaikan, itu sudah lebih dari cukup bagi kita untuk mengindikasikan betapa Allah itu memang sudah menjadikan keberagaman diantara manusia itu sebagai sebuah fitrah, dan disitulah letak salah satu ujian yang mesti kita jalani, kita harus bisa melepaskan diri dari segala bentuk eksklusifisme kita.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia ciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia; Yang mengajar dengan Qalam. Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu
Qs. 96 al-alaq : 1 – 5

Perintah membaca pada ayat diatas misalnya, bukan hanya dalam konteks dimana Nabi disuruh oleh malaikat Jibril membaca saat turun wahyu pertama saja, akan tetapi bisa kita tafsirkan secara luas dalam konteks masa kini. Dimana membaca adalah awal dari berpikir. Awal dari mencari tahu dan melakukan penyelidikan, awal dari menganalisa serta awal dari suatu pemahaman ataupun kesimpulan. Artinya untuk bisa menjangkau nilai-nilai kebenaran universal, kita tidak bisa bersifat eksklusif, kita harus bisa open-minded atau berpikiran terbuka.

semakin kita banyak belajar dan berinteraksi maka kepribadian kita seharusnya semakin meningkat, semakin menuntut lebih banyak dari sebelumnya, semakin kita belajar semakin kita merasa ilmu ini teramat sedikit, semua kekayaan pemikiran, khasanah pengetahuan harus bertambah demikian juga dengan ketakwaan maupun kesederhanaan jiwa.

Inilah inti dari sabda Nabi : Sesungguhnya siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung, tetapi orang yang hari ini lebih buruk dari sebelumnya maka dia termasuk orang yang merugi (lihat rujukan Surah al-Ashar 103 ayat 1 s/d 3).

Nah, apa yang saya sampaikan tadi itu sebenarnya untuk menggambarkan proses demi proses yang dilalui oleh manusia … kita tidak bisa terus-terusan berpikir dengan meniru gaya anak kecil beragama … seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia, ilmu dan pengalaman maka seyogyanyalah kita harus semakin matang dan dewasa dalam memahami ajaran Islam.

Kita harus bisa berpikir lebih bijak dan lebih sehat … ketaklidan buta akan sebuah dogma agama sama sekali tidak menghasilkan kepuasan dalam pelaksanaannya dan bahkan itupun bertentangan dengan kitab suci.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka yang memperolok – Qs. 49 al-Hujuraat :11

Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu mengenainya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. -Qs. 17 al-israa’ : 36

Allah mewajibkan kita belajar dan terus belajar, kita tidak boleh bersikap statis apalagi jumud … Allah ingin kita ini pintar, cerdas dan terpelajar.

Semakin kita berpikir maka semakin banyak kita menggunakan otak kita. Dan bila semakin banyak kita menggunakan otak kita, maka akan lebih baik dilihat dari sudut menciptakan tambahan intelejensia. Demikian juga semakin kita berkonsentrasi, semakin kita memperbaiki penggunaan otak kita. Oleh karena itu, kunci untuk membuka intelegensia adalah sederhana … gunakan otak kita sebanyak dan sesering yang bisa kita lakukan !


Orang-orang yang malas dan tidak suka berpikir atau yang terbiasa mendelegasikan kepada orang lain untuk berpikir, setelah beberapa waktu otak mereka menjadi semakin lemah dan akhirnya pikiran dikendalikan orang lain. Inilah asal mula timbulnya pemujaan (pengidolaan) .

Banyak sekali jumlah ayat al-Qur’an yang mewajibkan kita mempergunakan akal dalam berkehidupan ini, bahkan Ibrahim as sebagai imam manusia dan dijadikan khalil Allah, memulai pencarian kebenaran melalui akalnya dan wahyu pertama yang turun kepada Muhammad Rasulullah sebagaimana yang saya singgung dibagian atas juga perintah Iqra, Baca, belajar, kreatif yang semuanya hanya bisa diperoleh melalui akal.

Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. – Qs. 10:Yuunus 100

Berpikir dan teruslah berpikir … kritis dan kritislah dalam beragama … tinggalkanlah sifat jumud, taklid maupun kultus individu … pelajarilah semua hal dan obyektiflah, tataplah Islam melalui kacamata ilmu …. karena Islam diturunkan tidak untuk dibuat beku, Islam bersifat universal … Rahmatan lil’alamin….Islam menuntut anda cerdas, bukan menyuruh anda bodoh, biarkan umat-umat lain tersesat dengan doktrin irrasionalnya yang tidak boleh dibantah … tapi jangan jadikan diri anda bersifat sama seperti mereka.

Dalam merangsang agar manusia ini mau berkreatif Nabi Muhammad Saw bersabda :

Jika seorang pemikir berusaha sendiri dan memberikan keputusan yang benar maka dia mendapat dua pahala, tetapi jika penilaiannya keliru, dia masih akan mendapat satu pahala. -Hadist riwayat Abu Daud

Ya, terlepas benar atau salah hasil pemikiran yang sudh kita lakukan itu akan tetap mendatangkan pahala … bukan dosa !

Demikian …

[ Iskandar : ] 2. Dalam surah (QS.29:49) kriteria alim ulama atau berilmu adalah orang yang telah mendapat Al Qur’an yang nyata didada seperti dicontohkan Rasulullah di letakkan didadanya nurul ilmi Al Qur’an, lalu Alqur’an didada beliau berkata-kata menyampaikan dalam bentuk bahasa kaumnya dan perilaku atau ahlak, semua itu di-ingat di memori-otak-kepala jamaahnya dan selanjutnya ditulis dan disusun kemudian.

Pertanyaannya : Setelah kuliah mencari lmu dari dosen dimaksud, apakah bung Arman, telah mendapatkan ilmu yang nyata itu yaitu “Al qur’an didada” ? Bagaimana mengetahui bahwa seseorang telah mendapatkannya ?

(QS.29:49) Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.

[ Armansyah : ] Semakin kita belajar maka seharusnya semakin besar pula rasa tawaduk kita akan kemahaan Ilahiah, nah, kala kita sudah mampu melepaskan ego keakuan kita inilah maka kita mulai bisa disebut sebagai orang yang arif, yaitu orang yang mampu memahami semua kejadian dan proses yang ada pada alam semesta ini atau pada tatanan masyarakatnya dengan kacamata Allah.;

Kehidupan berdiri di atas satu hakikat, yaitu pertarungan yang terus-menerus di antara yang hak dengan yang batil. Seluruh peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia tidak keluar dari konteks pertarungan ini. Dengan hati nurani kita dapat menyelami sejarah dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang. Kita dapat menyelami lebih dalam tentang terjadinya berbagai perpecahan mazhab di dalam sejarah umat Islam atau kenapa sampai manusia ini tidak bisa pernah 100% sepakat terhadap sesuatu hal yang sama.

Untuk mengkaji ini mau tidak mau kita harus mengesampingkan berbagai emosi dan kecenderungan pribadi, dan mendasarkan diri kepada kaidah-kaidah Al-Qur’an. Sehingga kita mampu melakukan analisa yang objektif, dan mampu melihat berbagai peristiwa bukan hanya sebatas permukaannya saja melainkan sampai ke substansinya. Dengan begitu kita akan bisa sampai kepada penglihatan yang jelas dan objektif, dan bukan penglihatan yang salah dan rancu.

Itulah salah satu makna dari keberadaan ayat-ayat al-Qur’an didalam dada orang yang berilmu.

[ Iskandar : ] 3. Dapatkah seseorang terkecoh oleh tampilan keteladanan yang dipandang baik lalu dengan berani menpertaruhkan keselamatan diri dan keluarganya … point of no return ?

Seseorang dapat terkecoh dan tertolak dalam menuntut ilmu kebenaran seperti cerita atau pelajaranan Allah swt tentang Musa as yang menyalahkan calon dosennya Khidir as karena tampilan perilaku tersurat dalam membunuh anak, melubangi perahu dan membangun rumah anak yatim-piatu disebuah desa. Kelihatan oleh Musa as kontradiktif dengan ahlakul karimah?

Demikian, terima kasih

[ Armansyah : ] Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Nilai-nilai kebenaran itu terkandung dalam semua kejadian dialam semesta ini, prinsip yang saya pegang dalam hidup ini : bila sesuatu itu baik dan bermanfaat akan saya ambil sekalipun itu harus keluar dari -maaf- pantat ayam misalnya telur, namun jika sesuatu itu buruk dan sama sekali tidak bermanfaat ya akan saya jauhi, sekalipun berasal dari -maaf- pantat seorang kaisar ternama misalnya kentut. Jadi kita ambil ibrah saja dari semuanya, berbaik sangka jauh lebih baik daripada bersikap sinis terhadap sesama muslim.

“Sesungguhnya mereka yang suka akan tersebarnya keburukan dikalangan kaum beriman akan mendapatkan azab yang pedih didunia dan akhirat…”
(Qs. an-Nur 24:19)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kamu atas satu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berbuatlah adil, ini lebih mendekatkan kamu kepada ketakwaan; takutlah kamu kepada Allah sebab Allah amat mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Maidah 5:8)

Kita memang acapkali jengkel dengan penafsiran segelintir jemaah terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan juga al-Hadist, mereka memutar balikkan semuanya sekehendak hati mereka sehingga masing-masing merasa bahwa ayat-ayat dan Hadist-hadist tersebut memperkuat aliran mereka, namun sesuai amanat al-Qur’an, yang demikian tidak berarti harus kita sikapi dengan anarkis dan menghilangkan sudut keobjektifitasan kita.

“Apabila kamu berbantahan disatu permasalahan, hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah dan Rasul apabila adalah kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.” -Qs. an-Nisa’ 4:59

Banyak orang mengatakan bahwa melakukan Bai’at terhadap pemimpin itu wajib hukumnya, namun ber-bai’at terhadap Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw jauh melebihi dari kewajiban berbai’at kepada siapapun.

Wassalam.,

Armansyah

Mengusap Muka

Assalamu’alaykum Wr. Wb.,

Berikut ada artikel kecil mengenai lemahnya hadis yang bercerita tentang mengusap muka setelah berdo`a berikut syarahnya dari saya pribadi pada bagian akhir …

Semoga bermanfaat …

Wassalam.,

Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.net

Hadits-hadits lemah tentang mengusap muka setelah berdo`a
http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=115


Banyak orang yang mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo’a. Namun benarkah amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya? Risalah ini insya Allah akan menjelaskan tentang lemahnya hadits-hadits mengenai mengusap wajah.

Banyak orang yang mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo’a. Namun benarkah amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya? Risalah ini insya Allah akan menjelaskan tentang lemahnya hadits-hadits mengenai mengusap wajah. Beberapa hadits lemah tersebut:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya.

Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu ‘Asakir (7/12/2). Dengan sanad : Hammaad ibn ‘Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan al-Jamhi dari Salim ibn ‘Abdullah dari bapaknya dari ‘Umar ibn al-Khatthab.

At Tirmidzi berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn ‘Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan darinya.

Bagaimanapun juga hadits ini lemah, berdasarkan pada perkataannya Al Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib, dimana beliau menjelaskan tentang riwayat hidupnya dalam At Tahdzib : Ibnu Ma’in berkata:’Dia adalah Syaikh yang baik’, Abu Hatim berkata:’Lemah didalam (meriwayatkan) hadits’, Abu Dawud berkata:’Lemah, dia meriwayatkanhadits-hadits munkar’.

Hakim dan Naqash berkata:’Dia meriwayatkan hadits-hadits yang tidak kuat dari Ibnu Juraij dan Ja’far Ash Shadiq’, Dia dinyatakan lemah oleh Ad Daraquthni, Ibnu Hibban mengatakan bahwa dia meriwayatkan sesuatu yang salah melalui jalur Ibnu Juraij dan Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, tidaklah diperbolehkan untuk menjadikannya sebagai sandaran, Ibnu Makula berkata:’mereka semua mencap hadits-hadits dari dia sebagai hadits lemah’.

Terdapat hadits yang sejenis dengan hadits 1: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengannya Hadits ini Dha’if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492) dari Ibnu Lahi’ah dari Hafsh bin Hisyam bin ‘Utbah bin Abi Waqqash dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya.

Ini adalah hadits dha’if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi’ah (Taqribut Tahdzib).

Hadits ini tidak bisa dikuatkan oleh dua jalur hadits berdasarkan lemahnya hadits yang pertama.

2. Jika kamu berdo’a kepada Allah,kemudian angkatlah kedua tanganmu (dengan telapak tangan diatas), dan jangan membaliknya,dan jika sudah selesai (berdo’a) usapkan (telapak tangan) kepada muka.

Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (3/98/1) & Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka’b dari Ibnu ‘Abbas radiallaahu ‘anhu (marfu’).

Lemahnya hadits ini ada pada Shalih bin Hassan, Sebagai munkarul hadits, seperti dikatakan Al Bukhari dan Nasa’i,Dia tertolak dalam meriwayatkan hadits; Ibnu Hibban berkata:Dia selalu menggunakan (mendengarkan) penyanyi wanita dan mendengarkan musik, dan dia selalu meriwayatkan riwayat yang kacau yang didasarkan pada perawi yang terpercaya; Ibnu Abi Hatim berkata dalam Kitabul ‘Ilal (2/351):Aku bertanya pada ayahku (yaitu Abu Hatim al-Razi) tentang hadits ini, kemudian beliau berkata:’Munkar’.

Hadits dari Shalih bin Hasan ini diriwayatkan juga oleh jalur lain yaitu dari Isa bin Maimun, yaitu yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Nashr. Tapi hal ini tidaklah merubah lemahnya hadits ini, sebab Isa bin Maimun adalah lemah.

Ibnu Hibban berkata:Dia meriwayatkan beberapa hadits,dan semuanya tertolak. An Nasa’i berkata:Dia tidak bisa dipercaya.

Hadits dari Ibnu Abbas ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1485), dan Bayhaqi (2/212), melalui jalur ‘Abdul Malik ibn Muhammad ibn Aiman dari ‘Abdullah ibn Ya’qub ibn Ishaq dari seseorang yang meriwayatkan kepadanya dari Muhammad ibn Ka’b, dengan matan sebagai berikut : Mintalah kepada Allah dengan (mengangkat) kedua telapak tanganmu,dan minta pada-Nya dengan membaliknya, dan jika kau selesai, maka usaplah mukamu dengannya.

Hadits ini sanadnya dha’if. Abdul Malik dinyatakan lemah oleh Abu Dawud. Dalam hadits ini terdapat Syaikhnya Abdullah bin Ya’qub yang tidak disebutkan namanya, dan tidak dikenal – Bisa saja dia adalah Shalih Bin Hassan atau Isa bin Maimun. Keduanya sudah dijelaskan sebelumnya.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Hakim (4/270) melalui jalur Muhammad ibn Mu’awiyah, yang berkata bahwa Mashadif ibn Ziyad al-Madini memberitahukan padanya bahwa dia mendengar hal ini dari Muhammad ibn Ka’b al-Qurazi. Adz Dzahabi menyatakan bahwa Ibnu Mu’awiyah dinyatakan kadzab oleh Daraquthni, Maka hadits ini adalah maudhu’.

Abu Dawud berkata tentang hadits ini:hadits ini telah diriwayatkan lebih dari satu jalur melalui Muhammad ibn Ka’b; semuanya tertolak.

Mengangkat kedua tangan ketika melakukan qunut memang terdapat riwayat dari Rasulullah tentangnya, yaitu ketika beliau berdoa terhadap kaum yang membunuh 15 pembaca Al Qur’an (Riwayat Ahmad (3/137) & AthThabarani Al-Mu’jamus-Shaghir (hal. 111) dari Anas dengan sanad shahih. Serupa dengan yang hadits yang diriwaytakan dari Umar dan yang lainnya ketika melakukan qunut pada sholat Witir.

Namun mengusap muka sesudah du’a qunut maka tidaklah pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga dari para shahabatnya, ini adalah bid’ah yang nyata.

Sedangkan mengusap muka setelah berdoa diluar sholat berdasarkan pada dua hadits. Dan tidaklah dapat dikatakan benar kedua hadits tersebut bisa menjadi hasan,seperti yang dikatakan oleh Al Manawi, berdasarkan pada lemahnya sanad yang ditemukan pada hadits tersebut.

Inilah yang menjadikan alasan Imam An Nawawi dalam Al Majmu bahwa hal ini tidak dianjurkan, menambahkan perkataan Ibnu ‘Abdus-Salaam yang berkata bahwa hanya orang yang sesat yang melakukan hal ini.

Bukti bahwa mengusap muka setelah berdo’a tidak penah dicontohkan adalah dikuatkan bahwa terdapat hadits-hadits yang tsabit yang menyatakan diangkatnya tangan untuk berdo’a, tapi tidak ada satupun yang menjelaskan mengsuap muka setelahnya, dengan hal ini, wallahu a’lam, hal ini tidak diterima dan tidak pernah dicontohkan.

Wallahu a’lam bish shawab

Catatan pengantar dari Armansyah …

Di Indonesia, jamak pula kita lihat adanya masjid yang melakukan dzikir secara berjemaah selepas Sholat, padahal ini tidak saya jumpai dalam sunnah Rasulullah, namun benar bahwa pada masanya Beliau memiliki bacaan-bacaan doa yang sering diucapkan selepas sholat namun itu tidak dilakukan secara berkelompok atau beramai-ramai, dengan kata lain Beliau melakukannya sendirian, tidak ada yang menjadi imam dan tidak pula makmum atas orang lain.

Contoh bacaan-bacaan beliau :

Allahummaghfirli maa qoddamtu wama asrortu wama a’lantu wama asroftu …dst (Riwayat Tirmidzi dari Ali bin Abu Thalib)

Laailaahaillallahu wah dahulasarikalahu lahulmulku walahulhamdu …dst (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abdullah bin Zubair)

Allaahumma antassalamu waminkassalamutabarokta yazaljalali wal ikrom (Riwayat Muslim dari Tsauban)

Dalam satu pengajarannya kepada Abu Bakar, Nabi menganjurkannya membaca doa berikut setelah salam pada sholat :

Allaahumma inni zholamtu nafsi zulman katsieraa … dst (Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Di Indonesia pun jamak pula orang berdzikir dengan suara keras atau menggunakan mikropon terlebih pada waktu bulan Ramadhan … padahal ini berlawanan dengan al-Qur’an dan ini memang tidak boleh dilakukan, dzikir itu cukup terdengar ditelinga kita saja …

Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam  shalat dan jangan pula merendahkannya dan ambillah  jalan diantara kedua itu – Qs. 17 al-Israa : 110

Berdasarkan ayat ini maka kita dapati suatu perintah agar apabila melakukan perbuatan sholat [do’a] sewajarnya dilafaskan secara proporsional, jangan teriak-teriak, jangan terlalu keras agar tidak mengganggu orang lain, demikian pula jangan terlalu berbisik karena itupun bisa membuat hati dan pikiran tidak seimbang, misalnya hati membaca al-Fatihah sementara pikiran bisa saja membayangkan makanan, membayangkan sendal dan sebagainya. Beda bila dilafaskan dan terdengar oleh telinga.

Adapun kebiasaan Nabi yang lain selepas sholat adalah :

1. Mempersilahkan kaum wanita keluar lebih dahulu

Telah berkata Ummi Salamah : bahwa Rasulullah Saw apabila habis memberi salam, berdirilah perempuan-perempuan (untuk keluar masjid) sementara Rasulullah diam ditempat sholat sebentar. Kami rasa Wallahu a’lam yang demikian itu supaya perempuan-perempuan keluar (lebih dulu) sebelum laki-laki. – Hadis Riwayat Ahmad dan Bukhari

2. Selepas salam langsung membalikkan badan kepada makmum

Dari Samurah, ia berkata : Adalah Rasulullah Saw apabila selesai sholat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami – Riwayat Bukhari

Dari Yazied bin Al-aswad …Nabi sholat subuh bersama kami, kemudian setelah salam sambil duduk beliau menghadapkan mukanya kepada manusia … Riwayat Ahmad

3. Selesai salam langsung berdiri

Telah bekata Anas : Saya biasa sholat dibelakang Nabi Saw, maka adalah Nabi diwaktu memberi salam terus berdiri.
– Hadis Riwayat Abdurrazaq

Lalu apakah berdoa secara berjemaah tidak boleh dikerjakan ? Sesungguhnya perbuatan ini baik namun memang tidak ada sunnah yang bisa dijadikan acuan. Jadi kembali kekitanya saja, mau ikut berdoa bersama-sama ya silahkan, mau berdoa sendiri-sendiri juga silahkan atau mau langsung keluar dari masjid pasca salam pun dibenarkan.; Saya pribadi biasanya berdoa sendiri tanpa turut imam dan tidak jarang langsung berdiri keluar dari masjid …

Mengenai mengusap tangan selepas sholat, memang tidak ada saya jumpai dalam literatur hadis yang ada pada saya … itu hanya masalah kebiasaan saja, saya juga kadang melakukannya tetapi lebih sering tidak…. kenapa terkadang masih melakukan ? ya agar jangan terlalu bias dengan masyarakat sekitar …. sebab maklum sajalah, masyarakat kita ini paling mudah menjustifikasi sampai memfitnah orang lain sampai dia dijauhkan dari lingkungannya … dicap beginilah, dicap begitulah sampai akhirnya misi utama kita kepada mereka malah tidak bisa terlaksana dengan baik meski pada tingkat yang minimal.

Demikian, selesai ….. semoga menambah ilmu

Wassalam.,

Armansyah

Metodologi Penafsiran al-Qur’an

Metodologi Penafsiran al-Qur’an
Oleh : Armansyah

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Sejak dari masa keaktifan saya sebagai salah satu anggota milis Islamic Network berkisar antara tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 lalu dan bahkan hingga sekarang dimana saya juga terlibat dimilis Eramuslim dan MyQuran, beberapa sahabat sering mempertanyakan pola penafsiran al-Qur’an yang saya lakukan yang menurut mereka seringkali pula berbeda dengan umumnya masyarakat Islam memahami.

Allah telah menentukan bahwa kesadaran manusia datangnya berangsur, bertahap sesuai dengan perkembangan peradaban yang Dia tetapkan lebih dahulu.

Dalam lapangan sains terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan relatif disuatu jaman karena pada periode berikutnya terdapat bukti yang memperbaiki kebenaran bermula, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi.

Karenanya, kebenaran ilmiah sering bukan menjadi kata akhir, dia hanyalah tahap baru yang pernah dicapai dalam suatu waktu untuk memperoleh pengertian. Tingkat keberhasilan dari pencaharian ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu.

Kebenaran ilmiah barulah mewakili ataupun memperlihatkan kesanggupan yang telah dicapai disuatu jaman. Dia tidak berkuasa untuk menentukan ramalan penyelidikan selanjutnya dalam lapangan tertentu yang sehubungan dengannya.

Perubahan dan peningkatan demikianpun terdapat dalam pengetahuan tentang hukum agama diantara masyarakat ramai. Namun apa yang terkandung dalam AlQur’an telah mutlak benar karena dia bukan karangan manusia, tetapi diturunkan oleh Allah yang menentukan perkembangan peradaban tadi.

Karena al-Qur’an itu dinyatakan berfungsi sampai keakhir jaman, tentulah banyak sekali pokok ilmu yang masih asing bagi manusia abad 14 Hijriah. Sebab itu, bukanlah suatu keanehan bilamana kesadaran manusia abad 15 Hijriah lebih meningkat daripada generasi sebelumnya tentang rangkaian ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an demikian seterusnya diabad-abad berikutnya.

Dalam hal pentafsiran, kita tidak bisa terpaku hanya kepada penafsiran atau penterjemahan AlQur’an yang sudah ada saja (ortodok), sebab seiring dengan perkembangan tata bahasa dan pengertian serta perkembangan dari peradaban ilmu dan tekhnologi, maka akan banyak pula istilah-istilah yang lebih tepat didalam pengartian suatu ayat yang menghantarkan kepada kita cara memahami ayat al-Qur’an sesuai dengan keadaan jaman yang kita hadapi.

Bahasa Arab adalah bahasa yang indah, penuh khasanah seni dan sebagainya.

Setiap orang boleh mengungkapkan makna kitab suci AlQur’an. Karenanya penafsiran AlQur’an bukan monopoli para imam atau pemimpin agama dan pemegang wewenang tertinggi dalam bidang hukum, alhamdulillah Islam tidak menganut sistem kependetaan seperti yang terjadi dalam dunia Kristen.

Islam bukanlah agama yang penuh misteri, begitupun al-Qur’an sebagai kitab sucinya, yang hanya dapat dimengerti oleh sekelompok jemaah. Rasulullah Muhammad Saw tidak meninggalkan dunia yang fana ini kecuali setelah ia menyampaikan amanat dan menunaikan risalahnya. Rasulullah kemudian meminta para pengikutnya dan semua sahabat-sahabatnya untuk menyebarluaskan dan menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi yang telah mereka peroleh darinya.

Bahwa al-Qur’an seharusnya dipandang sebagai sumber dari segala keilmuan, tidak perlu kita permasalahkan lagi. Banyak kaum intelegensia Muslim yang mengungkapkan bagaimana penemuan-penemuan ilmiah yang paling mutakhir sekalipun ada diungkapkan dalam al-Qur’an dengan berbagai bahasanya.

Semua ayat al-Qur’an itu diturunkan mengandung hal-hal yang logis, dapat dicapai oleh pikiran manusia, dan al-Qur’an itu dijadikan mudah agar dapat dijadikan pelajaran atau bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan sebagaimana yang disebut dalam Surah Al-Qamar ayat 17 :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?” (QS. 54:17)

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab kepada mereka, Kami jelaskan dia (kitab itu) atas dasar ilmu pengetahuan; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. 7:52)

Seringkali ayat-ayat Al-Quran ini bisa ditafsirkan secara harfiah dan sekaligus juga secara ruhaniah. Jika mengutarakan topik yang tidak terlaku dipahami atau pengetahuan manusia pada saat itu masih bersifat spekulatif, maka penafsiran harfiah hanya bisa diterima jika sejalan dengan tingkat pengetahuan di tiap zaman. Dengan diperolehnya pengetahuan baru, penafsiran biasanya direvisi menurut wacana yang lebih mendalam tentang subyek bersangkutan.

Petunjuk umum dan ketentuan cara penafsiran telah diatur oleh al-Quran sendiri dengan cara menentukan adanya dua kategori jenis ayat-ayat yaitu yang jelas dan bersifat desisif dalam maknanya, sedangkan bentuk ayat yang lainnya tidak bersifat definitif dan bisa ditafsirkan secara berbeda. Mengenai ini dinyatakan:

‘Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab kepada engkau, di dalamnya ada ayat-ayat yang muhkamat (bersifat desisif), itulah dasar-dasar Al-Kitab dan yang lain adalah ayat mutasyabihat (alegoris). . .’ -Qs.3 Ali Imran:8

Yang Muhkamat adalah petunjuk hidup yang mudah dimengerti yang terdapat didalam AlQur’an, termasuk didalamnya masalah halal-haram, perintah dan larangan serta hal-hal lainnya dimana ayat-ayat tersebut dapat dipahami oleh siapa saja secara gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran yang berat.

Jangan mencuri, jangan berzinah, jangan berjudi, jangan membunuh … ini haram, ini halal, sholat itu wajib, zakat itu wajib, puasa itu wajib dan seterusnya … inilah contoh-contoh bentuk ayat-ayat yang Muhkamat.

Ayat-ayat yang bersifat alegoris masuk dalam kategori kedua dan bisa menyangkut analogi keruhanian atau bisa jadi nubuatan yang bentuk dan saatnya masih belum jelas. Petunjuk umum yang diberikan al-Quran untuk menafsirkan ayat-ayat yang tidak desisif atau bisa ditafsirkan bermacam-macam demikian, ialah maknanya harus dikolaborasikan atau didukung oleh ayat-ayat yang desisif serta tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain dalam Al-Quran. Kitab suci ini menjadi penafsir dan penterjemah dirinya sendiri.

Ayat-ayat Mutasyabihat bisa juga menyangkut hal-hal yang susah dimengerti karena berupa keterangan tentang petunjuk banyak hal yang mesti diteliti dan merangkaikan satu sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian khusus tentang hal yang dimaksudkan, termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia.

Seandainya al-Qur’an itu seluruhnya muhkamat, pastilah akan hilang hikmah yang berupa ujian sebagai pembenaran juga sebagai usaha untuk memunculkan maknanya dan tidak adanya tempat untuk merubahnya. Berpegang pada ayat mustasyabih saja dan mengabaikan ayat Muhkamat, hanya akan menimbulkan fitnah dikalangan umat.

Juga seandainya al-Qur’an itu seluruhnya mutasyabihat pastilah hilang fungsinya sebagai pemberi keterangan dan petunjuk bagi umat manusia. Dan ayat ini tidak mungkin dapat diamalkan dan dijadikan sandaran bagi bangunan akidah yang benar.

Akan tetapi Allah dengan kebijaksanaanNya telah menjadikan sebagian tasyabuh dan sisanya mustayabihat sebagai batu ujian bagi para hamba agar menjadi jelas siapa yang imannya benar dan siapa pula yang didalam hatinya condong pada kesesatan.

Cukup banyak selama ini orang yang mencoba menafsirkan ayat al-Qur’an tanpa menyentuh sisi keilmiahan dari al-Qur’an dengan mengandalkan ayat-ayat yang bersifat mutasyabihat melalui berbagai perumpamaan atau percontohan berdasarkan hawa nafsunya maupun golongannya saja, karenanya tidak jarang pula akhirnya mereka malah terjebak didalam pemahaman mereka sendiri akibat berbenturan dengan hal-hal yang memang sangat kompleks yang terdapat didalam al-Qur’an, sehingga pengungkapannya seringkali berkesan rancu dan dicocok-cocokkan guna mendukung teori mereka.

Sesungguhnya Tasyabuh yang terdapat dalam AlQur’an itu ada dua macam :

Tasyabuh hakiki
ialah tasyabuh yang tidak mungkin dapat dimengerti oleh manusia sepenuhnya, seperti mengenai diri Allah, seperti apa wujud-Nya, darimana Dia berasal dan seterusnya … meskipun, secara umum Dia sendiri sudah memberikan pemaparan akan hakekat diri-Nya, seperti Allah itu Esa, Dia bersifat alpha dan omega, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada satupun, tidak ada seorangpun yang menyerupai-Nya …

Dalam hal ini Allah telah berfirman : “…sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. 20:110)

Tasyabuh nisbi

Ialah tasyabuh bagi sebagian orang tetapi tidak demikian bagi sebagian lainnya. Orang-orang yang mendalam ilmunya ataupun orang yang mempelajari ilmu pengetahuan bisa mengetahui tasyabuh seperti ini, namun sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan ataupun mendalam ilmunya tidak dapat mengetahuinya.
Tasyabuh macam ini dapat diungkap dan dijelaskan, karena didalam AlQur’an tidak ada yang tidak jelas maknanya bagi siapa saja yang mau mendalaminya.

Allah berfirman :
“ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. 3:138)

Allah mengajarkan bahwa isi al-Qur’an itu tidak lain dari fitrah manusia, petunjuk bagi manusia untuk mengenal dirinya dan lingkungannya. Sayangnya umat Islam selama ini cenderung lari dan mengingkari kefitrahan yang dimaksudkan oleh al-Qur’an itu sendiri. Kaum muslimin tidak lebih mengerti al-Qur’an ketimbang orang diluar Islam sendiri. Agama Islam menjadi asing dalam lingkungannya sendiri, tepat seperti yang disabdakan oleh Rasulullah.

al-Qur’an mengajarkan bahwa tiada iman yang tidak diuji, karenanya kaum Muslimin harus mempersiapkan diri menghadapai ujian Allah yang sangat berat sekalipun. al-Qur’an juga mengajarkan bahwa ia merupakan petunjuk yang sebaik-baiknya untuk membina kehidupan umat, itulah kewajiban kaum Muslimin untuk membuktikan kebenarannya ! Bukan kewajiban Allah untuk membuktikan kebenaran firman-Nya ! Sebab firman itu benar dengan sendirinya.

Dengan modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini: meminta, menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firman-Nya ! Karena kita tidak mengerti apa makna ajaran Allah !

Begitulah al-Qur’an, sebagai satu sarana untuk menghadapi ujian Allah tentang keimanan, kita harus belajar, belajar, berjuang dan berjuang agar kita bisa merealisasikan kebenaran ayat-ayat itu. Memang tidak mungkin jika ilmu Allah termuat dengan rinci dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an sendiri sudah mengkiaskan bahwa ilmu Allah itu tidak bisa dituliskan dengan tinta sebanyak air dilautan sekalipun.

al-Qur’an hanyalah satu petunjuk yang menunjukkan bahwa Ilmu Allah terdapat dimana-mana, diluar dan dalam diri manusia itu sendiri. Suatu petunjuk yang sempurna yang harus dikaji dengan otak, perasaan dan logika pengetahuan. Bukan sekedar menagih kepada Allah untuk merealisasikan janji-Nya !

Dengan penuh kerendahan hati dan bermodalkan kemampuan yang pas-pasan, baik dalam berpikir maupun pengetahuan, saya disini mencoba untuk ikut menguak sedikit ilmu yang terkandung dalam kitabullah ini dengan berdasarkan pada surah 9:122 dibawah ini:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu keluar semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama ? dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ?” (QS. 9:122)

Dalam mengemukakan pendapat dalam rangka menggali ilmu agama yang terkandung dalam al-Qur’an, saya tidak memisahkan antara sesuatu yang ilmiah dan yang non-ilmiah, muhkamat dan mutasyabihat, semuanya coba saya satukan, sebagai suatu hal yang memang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam ajaran Islam.

“Dia-lah yang menurunkan Kitab kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari pengertiannya, padahal tidak ada yang mengetahui pengertiannya melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya. Katakanlah:”Kami beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau memikirkan.” (QS. 3:7)

Namun demikian, bukanlah saya ini hendak berkata sombong bahwa saya termasuk orang yang berpengetahuan atau mendalam ilmu dibidang agama sehingga bisa membedah-bedah al-Qur’an sekehendak hati saya, sama sekali tidak ada terbesit dalam hati saya untuk yang demikian.

Semua ini saya lakukan hanya sebagai hasil dari olah pemikiran saya terhadap apa yang saya pelajari dari al-Qur’an maupun berbagai literatur lainnya seperti sejumlah besar hadis-hadis Nabi, berbagai pendapat para ulama dan kaum cendikiawan baik ortodox atau modern, perkembangan ilmu pengetahuan dan sebagainya yang untuk selanjutnya sebagai hasil akhir kajian saya ini saya serahkan kepada anda semua untuk melakukan penilaian dan menjadi bahan pemikiran dari pendapat yang saya kemukakan ini.

Seluruh umat Islam bertanggung jawab untuk menyampaikan dan menyebarluaskan risalah Islam. Tidak ada perbedaan, kecuali perbedaan kadar dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul. Dan tidak ada seorangpun yang memperoleh izin khusus /sekalipun dia memiliki kemampuan dan pengakuan yang tertinggi dalam bertabligh/ untuk dapat menghalalkan yang diharamkan Allah, atau mengharamkan yang telah dihalalkanNya.

Dan janganlah kamu mengatakan dusta terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu: “ini halal dan itu haram”, untuk kamu ada-adakan kebohongan atas nama Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan dusta atas nama Allah tiada akan bahagia. (QS. 16:116)

Bahwa untuk memahami al-Qur’an tidak hanya berhenti pada terjemahan semata ya saya juga setuju itu, tetapi kitapun harus bisa bersikap realistis bahwa saat kita belajar bahasa tertentu maka kitapun sebenarnya melakukan proses penterjemahan bahasa itu kepada bahasa yang kita pahami, misalnya kita membaca kata Robb, saat itu otak kita akan melakukan imaji dan penterjemahan dari kata Robb itu menjadi kata yang bisa kita pahami atau kita mengerti sehingga jadilah dalam pemikiran kita bahwa Robb itu sepadan dengan istilah Tuhan … tetapi apakah benar kata Robb itu memang sepadan dengan kata Tuhan ? sebenarnya juga tidak pas benar, sebab Robb itu harusnya lebih dari pada sekedar istilah Tuhan, Robb merupakan manifestasi dari semua nilai-nilai Tauhid maupun kemahaan dari Allah, tetapi kita akan menjadi kesulitan untuk mendapatkan terjemahan sederhana yang terbaik dalam bahasa yang kita pahami kecuali akhirnya ya kata Tuhan itulah dijadikan terjemahan dari kata Robb tadi.

Begitu juga misalnya kata Dien, dia lebih dari sekedar agama, tetapi dengan alasan yang sama seperti diatas maka ya kita gunakan juga istilah agama untuk mengganti kata Dien tadi … sekalipun sekali lagi ini sangat belum tepat untuk merujuk arti yang sesungguhnya.

Mengenai penggunaan kamus-kamus yang anda rujuk itupun dalam pandangan saya pribadi ya sama saja, bahwa itukan hasil olah para penulisnya dalam rangka menterjemahkan kata demi kata yang ada kedalam suatu bentuk pemahaman yang bisa dipahami bersama.

Lalu jika sekarang misalnya saya melakukan metodologi yang sama tetapi hasil akhir atau outputnya berbeda dengan penterjemahan mereka apa lantas saya harus dihakimi ? saya rasa ini terlalu mengada-ada … yang pasti akan didebatale pasti karena posisi saya yang dianggap bukan orang Arab sehingga tidak mengerti bahasa Arab secara jelas, juga posisi saya yang tidak dianggap (sekali lagi : tidak dianggap) memiliki kredebilitas sebagai penafsir sebagaimana misalnya Sayid Qutub, Ibnu Katsir atau yang lainnya … buat saya itu semua adalah lelucon saja yang tidak perlu saya tanggapi.

Salah satu masalah yang selalu menghantui umat Islam sepanjang sejarahnya adalah bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan tuntutan teksual al-Qur’an di satu pihak, tetapi di pihak lain kita juga bisa menempatkan diri secara kongruen dengan perkembangan-perkembangan kemanusiaan. Bagaimana, di satu pihak, kita bisa terus menyesuaikan diri dengan perubahan, tetapi, di pihak lain, tetap menjadi Muslim yang bertahan dengan pemahaman tekstual ortodoknya.

Pada hakekatnya, semakin kita ortodoks maka semakin jauh kita dari kondisi yang realistis. Sebab apapun juga yang ada di zaman sekarang ini sudah tidak bisa dibandingkan 100% dengan jamannya al-Ghazali, jamannya al-Qurtuby dan yang lainnya.

Bahkan Umar bin Khatab sendiri yang masa pemerintahannya tidak terpisah jauh dari kehidupan dan pemerintahan Nabi telah mengeluarkan ijtihad-ijtihad yang banyak dalam periode pemerintahannya.

Contoh kisah Khalifah Umar bin Khatab yang mengembalikan harta rampasan perang berupa tanah pertanian di Siria dan Irak kepada penduduk setempat memang sempat mengundang perdebatan diantara beberapa sahabat Nabi seperti Bilal (orang yang diangkat oleh Nabi sebagai muadzin pertama) dengan merujuk pada surah al-anfal ayat 41 dan menyatakan bahwa Umar sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Sunnah :

Ketahuilah, bahwa apa yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil (para pengembara), jika memang kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad). – Qs. 8 al-anfal : 41

Pendapat Bilal memang memiliki dasar kuat apalagi Nabi sendiri pernah membagi-bagikan tanah pertanian Khaibar setelah dibebaskan dari kekuasaan orang Yahudi. Namun Umar menganggap bahwa umat Muslim tidak perlu terlalu kaku didalam memperlakukan ayat-ayat Qur’an dan perlu juga mempertimbangkan kondisi jaman yang dijalani.

Apa komentar Imam Ali bin Abu Thalib mengenai Umar bin Khatab ?

Dari buku “Mutiara Nahjul Balaghah” yang diberi Syarah oleh Syaikh Muhammad Abduh, terbitan Mizan 1999 dan diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir, Ali bin Abu Thalib Karramallahu wajhah telah berkata pada hari wafatnya Khalifah Umar bin Khatab r.a, :

“Alangkah bahagianya!

Dia telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, menghindar dari masa kekacauan dan menegakkan sunnah.
Ia pergi dalam keadaan bersih; jarang bercela; meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukannya.
Memenuhi ketaatan kepada Tuhannya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya.
Ia berangkat meninggalkan umat pada saat mereka berada dijalan-jalan yang saling bersimpangan tak menentu arahnya, sedemikian sehingga yang tersesat sulit memperoleh petunjuk, yang sadar pun tidak mampu meyakinkan diri.”

Mungkinkah penilaian Ali bin Abu Thalib terhadap kepribadian Umar bin Khatab tersebut keliru? Tidakkah pola pikir dari Umar bin Khatab juga mampu kita warisi untuk mengaktualisasikan ajaran Islam dijaman penuh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini ? Jika nama Umar bin Khatab yang hidup ditengah jaman padang pasir berhasil tercantum dalam buku seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H. Hart [10] yang notabene bukan beragama Islam, bagaimana mungkin kita-kita yang hampir setiap harinya bergelut dengan telepon seluler dan Internet masih mengembangkan cara berpikir yang sempit ?

Ayat-ayat mutasyabihat masih menanti orang-orang seperti Umar bin Khatab untuk membuka rahasia yang terkandung didalamnya, semua ayat al-Qur’an sudah diperuntukkan oleh Allah bagi kemaslahatan hidup manusia tanpa ada pengecualian. Tidak inginkah kita memanfaatkannya ?

Jika kita ingin al-Qur’an itu tetap hidup dan menjadi dasar hidup setiap muslim dijaman modern sekarang ini, maka bagaimana kita menempatkan pemahaman kita di hadapan semua teks-teks kitab suci ?

Ingat sabda Nabi Muhammad Saw :

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.”

Hadits ini Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani rahimahullahu dalam Sunan-nya no. 4291. Dikeluarkan pula oleh Al-Imam Abu ‘Amr Ad-Dani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan no. 364, Al-Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 4/522, dan selain mereka seperti Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Khathib, dan Al-Harawi.

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, Ash-Shahihah no. 599, dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1874. Beliau berkata: “Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah (terpercaya), merupakan perawi yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (dalam Shahih-nya).” (Ash-Shahihah, 2/148) ; Beliau juga mengatakan: “(Faidah): Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengisyaratkan shahihnya hadits ini. [ Sumber : http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=339 ]

Berdasarkan hadis diatas tadi, maka ALLAH akan mendatangkan seorang mujaddid. Mujaddid maknanya seorang yang membawa pembaharuan. Di sini dapat kita pahami bahwa orang yang membawa pembaharuan itulah yang dikatakan mujaddid. Mujaddid itu bahasa Arab, di dalam bahasa Inggris dikatakan ‘Reformer’, atau dalam bahasa Indonesia disebut Pembaharu.

Apa tugas Mujaddid dan apakah memang hanya seorang saja ?

Sabda Nabi lainnya :

مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini”, yakni orang itu menerangkan tentang As-Sunnah sehingga jelas mana yang bid’ah. Ia menyebarkan ilmu, menolong ahlul ilmi, mematahkan dan merendahkan ahlul bid’ah. (‘Aunul Ma’bud, kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah).

Jumlah mujaddid yang Allah tampilkan dalam setiap kurun bisa jadi hanya satu, namun bisa pula berbilang. Mujaddid tersebut harus merupakan seorang alim yang mengetahui ilmu agama secara dzahir maupun batin. Demikian faidah yang diambil dari ucapan Al-Munawi. (Mukaddi-mah Faidhul Qadir, 1/10)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu berkata: “Pemahaman yang menyatakan bahwa jumlah mujaddid di setiap kurun itu bisa berbilang, lebih dari satu, memiliki sisi kebenaran. Karena terkumpulnya sifat-sifat yang dibutuhkan untuk men-tajdid perkara agama ini tidak dapat dibatasi pada satu jenis kebaikan saja. Dan tidak mesti seluruh perangai kebaikan dapat terkumpul pada satu orang.

Mujaddid yang hadir pada awal kurun tugasnya adalah memperbaharui urusan agama. Apakah maksud memperbaharui urusan agama? Apakah dia memperbaharui isi al Quran, Hadis atau isi Islam? Tidak, ia tetap berpedomankan kepada al-Quran, Hadis dan akhlak Islam yang pernah dibawa oleh Rasulullah Saw, hanya saja dia menggunakan approach, style atau pendekatan yang baru yang mungkin tidak pernah ditempuh oleh orang lain selama ini sehingga Islam dapat diamalkan dan dimengerti oleh masyarakat.

Dengan kata lain, ajaran Islam yang lama yang sudah ditinggalkan itu dapat dihidupkan kembali oleh mujaddid tersebut dengan menggunakan metode, uslub, teknik, strategi dan kaedah baru yang sesuai dengan pikiran dan suasana zamannya. Kemudian style antara mujaddid yang satu dengan mujaddid yang lain juga tidak harus sama tekniknya akan tetapi intinya bahwa yang diperjuangkan mereka adalah sama.

Demikian sedikit dari saya, bagi yang berkeberatan dengan apa yang saya sampaikan ini dan bahkan menolak semua pemikiran atau cara-cara penafsiran yang saya lakukan maka silahkan menggunakan apa yang sudah anda yakini kebenarannya, saya tidak pernah bermaksud untuk memaksakan kehendak, toh saya pun hanya manusia biasa yang masih harus terus belajar dan belajar sampai maut menjemput.

%d bloggers like this: