Dialog Kekafiran Ahmadiyah

Diskusi antara Armansyah dan Dani Permana soal kekafiran jemaah Ahmadiyah :
2008/6/10 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>:

On 6/10/08, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:

Alhamdulillah, akhirnya mendapat respon yang positip juga.
Terimakasih lebih dulu nih pada mas Dani.

On Tue, Jun 10, 2008 at 11:10 AM, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> wrote:
Ada sedikit hal yang mengelitik dari tulisan Mas Arman

[Dani] Sebenarnya perubahan yang terjadi di tubuh Ahmadiyyah karena nasehat-nasehat dan desakan-desakan yang telah di berikan oleh para ulama, organisasi keislaman atas kebatilan mereka, menurut Dirjen Bimas Islam Departemen Agama Nasarudin Syamsudin menilai telah terjadi perubahan besar dari ajaran Ahmadiyah Qadiyan dengan mengakui Muhammad sebagai Nabi terakhir dan Mirza Ghulam Ahmad sebagai guru, mursyid, atau pembawa berita gembira.

Mantan Purek III UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan, ada 2 aliran Ahmadiyah yaitu Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) adalah pengikut Ahmadiyah Lahore dan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang merupakan pengikut Ahmadiyah Qadiyan. “Lahore tidak masalah, mereka hanya menjadikan Mirza Ghulam sebagai pembaharu. Tapi Ahmadiyah Qadiyan yang selama ini susah dan selalu menyebut Mirza Ghulam sebagai nabi,” jelasnya.

Namun pengakuan itu bahwa Mirza bukanlah Nabi hanyalah kedok mereka yang telah terpojok, demikian juga hal ini terjadi di web-web kaum ahmadiyyah, mereka semua mengganti dengan kata-kata untuk menghilangkan jejak mereka bahwa Mirza hanya seorang pembaharu, Mahdi atau messiah…Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh MUI dan OKI, sebuah organisasi yang kredibel yang meneliti dan mengkaji masalah Ahmadiyyah ini.

Jawab :

Adanya 2 madzhab dalam intern Ahmadiyah yaitu Qadiyan dan Lahore memang telah terjadi sejak periode awal sesudah kematian MGA sendiri. Masalah sebenarnya berkisar suksesi kepemimpinan atau faktor politik yang kemudian berkembang lebar sampai pada konsep pemahaman kenabian dan kemujahidan MGA. Komunitas Lahore setahu saya paska perpecahan tersebut memang tidak pernah menghujjahkan MGA sebagai seorang Nabi/Rasul meski mereka tidak menolak ketokohan MGA dan peranannya. Sebaliknya kelompok Qadiyan menganggap MGA tetap berfungsi sebagai seorang Nabi, Rasul, Messias, Imam Mahdi, Replika Isa Al-Masih, Krhisna, Buddha Maitreya, mujaddid dan berbagai pengakuan gila lainnya. Pernyataan Qadiyan tidak pernah bergeser dari awal. Sebab penggeseran konsep itu berarti secara otomatis menerima klaim dari kelompok Lahore khususnya tentang posisi MGA.

Jawab :
Dalam kasus ini, pernyataan “Mirza Ghulam Ahmad Rasul kami” jelas merupakan konsekwensi dari sikap mereka yang mengakui eksistensi MGA selaku Nabi dan Rasul Tuhan. Sementara pernyataan kelompok Ahlussunnah, Syiah atau komunitas Islam lainnya yang tunggal pemahaman masalah ini, adalah konsekwensi mereka atas konsep tentang fungsi Nabi Muhammad sebagai Khatamanun Nabiyyin. Jelas pintu pengakuan nabi dan rasul terhadap siapapun diluar itu akan menjadi tertolakkan dengan sendirinya.
[Dani] ya sudah jelas memang tertolak, bedasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, meskipun sebejadnya kaum khawarij, mu’tazilah mereka tetap mengaku bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, hanya pola pemikiran mereka saja, jika di tanya kepada Ulil abshar Abdala juga, dia pasti menjawab Muhammad adalah Rasul, namun pemikirannya saja yang nyeleneh dan sesat meyesatkan

Jawab :

Oleh sebab itu maka tugas dan kewajiban kita yang berilmu untuk meluruskan penyimpangan pemikiran mereka. Tetapi dari banyak argumentasi maupun tingkah laku yang sering saya baca dari kelompok Islam Liberal sendiri, jujur saja saya justru agak meragukan jika mereka serius mengakui eksistensi kenabian Muhammad. Keraguan yang malah membawa perbandingan posisi mereka dibawah kelompok Ahmadiyah Qadiyan sendiri.

Al-Qur’an diturunkan dengan penuh kebenaran salah satu fungsinya adalah menjadi korektor alias ujian terhadap kitab-kitab yang pernah ada sebelumnya dan sudah terkontaminasi oleh tangan-tangan jahil manusia. Meski demikian al-Qur’an tidak memerintahkan kepada kita untuk membumi hanguskan kitab-kitab yang lain itu atau membunuhi kaum-kaum kafir yang menentang al-Qur’an tanpa alasan yang benar. Al-Qur’an menekankan kita berdakwah secara persuasif, mengemukakan argumen-argumen rasional, ilmiah dan pasti. Kita baru melakukan tindakan hukum apabila musuh-musuh Islam secara nyata melakukan aksi yang juga bersifat membahayakan secara menyeluruh. Jadi kesinilah kita mengacu.


[Dani] Jika menyembah tuhan dan mengakui nabi yang sama mengapa tetap bersikukuh dengan Ahmadiyyahnya, sebagaiman Prsiden Sukarno katakan  “Saya tidak percaya Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi, dan apalagi seorang pembaharu Islam”. Jika mereka mengakui dan meyembah tuhan yang sama kenapa bersikukuh dengan tidak mau dibubarkannya “Ahmadiyyah” dan mempertahankannya. Ada Faktor “X” yang mungkin mereka sembunyikan. Padahal jika benar mereka mengakui Muhammad dan menyembah tuhan yang sama, mereka harus ridho nama Ahmadiyya tersingkir dari label dirinya demi “Islam” bukan demi Ahmadiyyah,

Jawab :

Tentang kekukuhan mereka terhadap keahmadiyahannya itu sudah barang tentu berkaitan dengan keyakinan yang ada pada mereka yang sudah berurat akar dalam pemikiran kelompok tersebut. Sama seperti kekukuhan komunitas Islam lainnya atau juga kekukuhan agama-agama diluar Islam terhadap klaim kebenaran kelompok dan agamanya. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk merubah keyakinannya secara sporadis atau melalui jalur-jalur kekerasan. Semakin dikerasi maka kristalisasi mereka terhadap klaim kebenaran yang ada pada mereka akan semakin bertambah besar. Ini hukum alam dan psikologisnya. Sama umpamanya saya melihat orang-orang yang masih bersikukuh mempertahankan label “Ahlussunnahnya”, “Salafinya”, “Syiahnya”, “Liberalnya”, “Moderatnya” dan berbagai embel-embel lain terhadap keyakinan mereka didalam Islam. Fakta berbicara bila “penuhanan” label-label yang saya sebut tadi justru menjadi penyebab munculnya konflik-konflik horizontal diantara tubuh umat Islam sendiri sepanjang jaman. Kenapa kitapun tidak berusaha menyingkirkan label-label tersebut dari keIslaman kita ? Kenapa kita tidak harus cukup puas dengan hanya menyebut diri sebagai seorang Muslim saja tanpa harus menyatakan diri sebagai pengikut Ahli Sunnah, sebagai pengikut Syiah, sebagai pengikut Salafi dan seterusnya ? Kenapa banyak dari kita justru lebih bangga bila dia dikenal sebagai Islam Syiah, Islam Sunni ? Jawaban-jawaban yang cenderung kontra argumen atas pertanyaan saya inilah yang nantinya menjadi jawaban atas kekukuhan Ahmadiyah terhadap label keahmadiyahannya.

Oleh sebab itulah saya pribadi sejak awal tidak pernah mau melekatkan label apapun terhadap status keislaman saya. Nor sunni, nor syiah , nor ahmadi no anything. I am moslem and that’s I am.

Soal MGA sendiri saya sependapat dengan Soekarno, “Saya tidak percaya Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid apalagi sebagai Nabi !”. Saya belum menemukan alasan yang tepat kenapa saya harus percaya pada klaim-klaim kenabian orang sakit jiwa semacam itu ?

Jawab :
Saya tidak berani mengatakan mereka bukan Islam, mas Dani.
Sebab ruh atau konsepsi utama dari Islam adalah Tauhid, sementara nafs atau jiwa Islam adalah pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Jasadnya baru syariat Islam yaitu pengamalan atau pengaplikasian al-Qur’an dan as-sunnah secara kaffah.


Ditinjau dari sudut ketuhanan, mereka sama seperti kita.
Begitupula ditinjau dari sudut kenabian, mereka juga tidak berbeda. Hanya ujungnya yang membuat kita berbeda dari mereka. Inilah yang membuat cacat keimanan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya (rasul disini yaitu Muhammad Saw). Meski demikian saya melihat, cacat iman tidak berarti batal iman.

Sekali lagi sebagai pribadi, meski saya menganggap ajaran Ahmadiyah mengenai MGA adalah batil dan sesat namun saya belum berani untuk mengkafirkannya secara keseluruhan. Sebab pertanggung jawaban kalimat ini buat saya berat sekali dihadapan Allah.

[Dani] jika demikian mengapa Mas Arman setuju Ahmadiyyah di bubarkan? padahal kalau secara tauhid sudah benar, tidak perlu dibubarkan?
Bukannya seorang Muslim [berserah diri] kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad, maka tidak harus ada embel-embelnya, bagaimana Sikap Abu Bakar As Shiddiq yang memerangi orang yang tidak mau membayar zakat?
Saya pikir orang yang tidak mau membayar zakat adalah orang yang cacat imannya karena menyepelekan perintah Allah ” Dirikanlah sholat dan tunaikanlah Zakat” ? padahal secara Tauhid mereka yang meyembah tuhan yang sama dan mengakui Nabi yang sama.
Kenapa Abu Bakar memeranginya?
Kenapa juga Ali bin Abi Thalib memerangi khawarij, karena salah satu penyebabnya, kaum khawarij ini terlalu berlebihan memuji Ali bin Abi thalib, mengagungkannya sampai pada suatu titik jennuh memandangnya sebagai Nabi, bukankah orang khawarij ini “Cacat Imannya”
Dan Ali memeranginya?
Tiada lain dan tiada bukan jika mengaku Islam dengan dasar tauhid “Rodhitu billah, muhammdan Rasulullah wa islami diina, maka tidak ada harus embel-embelnya, karena jika didiamkan, merusak kredibelitas Islam yang murni. Dan terbukti kelahiran Ahmadiyyah ini memunculkan konflik di tubuh Islam…
Jawab :

Nah, begini mas Dani. Persetujuan saya atas pembubaran Ahmadiyah lebih kepada pertimbangan kemaslahatan umat Islam sendiri. Sebab dengan syiar dan dakwah dari komunitas Ahmadiyah tentang MGA-nya tersebut nyata-nyata mampu membuat orang-orang muslim yang masih sangat awam terjebak kedalam pemahaman yang keliru terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kehadiran dan perkembangan komunitas mereka yang semakin membesar ditubuh umat Islam ibarat pagar memakan tanaman. Kita digerogoti dari dalam dan itu memicu konflik berkepanjangan sejak awal keberadaannya. Konflik ini tidak hanya ada pada tingkat kaum intelektual yang merasa nyaman beradu argumentasi semata akan tetapi merambah pada konflik pisik horizontal dimasyarakat bawah. Rasa ketersinggungan yang tinggi dilapisan akar rumput terhadap penafsiran nyeleneh kelompok Qadiyan atas makna Khataman Nabiyyun Muhammad disikapi dengan cara emosional berdarah.

Dengan terjadinya gesekan-gesekan yang meluas ditingkat bawah maka kestabilitasan bangsa dan persatuan umat Islam adalah pertaruhannya. Oleh sebab itu maka perlu ada tindakan preventive yang tegas menyikapi konflik tersebut. Jalannya tidak lain adalah membubarkan kelompok yang menjadi pemicu keresahan itu sendiri. Alasan yang kurang lebih mirip-mirip inilah yang sebenarnya melatar belakangi penumpasan Khalifah Abu Bakar terhadap orang Islam yang menolak membayar zakatnya atau penumpasan kaum Khawarij oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Mereka sudah terbukti meresahkan dan mengganggu stabilitas nasional. Tentu kita sepakat, orang Islam paling shaleh sekalipun jika dia bersalah harus tetap dihukum, bukan ? Jadi ke-Islamannya, ketauhidannya, pernyataan Syahadatnya tidak membuat dirinya kebal atas hukum-hukum yang ada didalam Islam apabila dia nyata-nyata melanggar.

Inilah hukum positip yang digagas oleh syariat Islam sesungguhnya.
Semua orang sama dihadapan hukum, siapapun bila melanggar ya ada konsekwensi hukumnya tanpa perduli dia muslim atau kafir, dia khalifah atau buruh tani, dia arab atau yahudi. Hal-hal tersebutlah yang melatar belakangi pemikiran saya terhadap persetujuan pembubaran Ahmadiyah. Jadi bukan semata-mata ketersinggungan emosional atas tafsir-tafsir sesat kelompok itu terhadap Khataman Nabiyyun.


Dani :

Benar mereka harus dibina dan dikasihani sebagimana Rasulullah juga mengasihani umatnya yang kafir. Namun setelah dialog sudah, dibina sudah, keputusan Organisasi Islam Internasional, MUI sudah menfatwakan sesat, maka tidak ada jalan jika mereka harus dibubarkan secara paksa.

Jawab :
Saya sepakat mas Dani.
Untuk mencegah kebatilan berkembang lebih jauh dan memakan banyak korban-korban baru. Maka Ahmadiyah memang harus dibubarkan secara paksa. Tetapi tetap penganutnya diberi binaan secara kontinyuitas. Sama seperti konsep yang diajarkan oleh Nabi kita sendiri dalam berdakwah. Mungkin mereka sekarang belum mau sadar karena kekerasan hati dan egoismenya, tapi mudah-mudahan besok atau lusa mereka bisa kembali kepada kita. Jikapun mereka tetap seperti itu, mudah-mudahan dakwah kita mampu menyelamatkan anak cucu mereka nantinya.

[Dani] Jika mereka menyembah Tuhan yang sama dan mengakui Muhammad sebagai Rasulullah, mengapa mas Arman setuju di bubarkan secara paksa? apakah karena sebatas pengakuan sebagai Imam Mahdi, replika Isa Alamsih, atau sebagai Mujadid/pembaharu?
Jawab :

Saya rasa sudah terjawab dibagian atasnya.

Jawab :
Menurut saya, ini adalah metode dakwah Rasulullah terhadap kelompok Musailamah. Beliau mengedepankan konsep kelembutan diatas kekerasan. Bila kemudian kelompok ini telah dianggap merongrong stabilitas umat, maka mereka memang harus diambil ketegasan sikap.

[Dani] bukannya Ahmadiyyah Juga merongrong stabilitas umat, khususnya Umat Muhammad bukan Mirza ghulam Ahmad.

Jawab :

Ya benar, tepat seperti yang sudah saya sampaikan sebelum ini., Dan sekedar menambahkan, dalam kasus keberadaan Ahmadiyah di Indonesia, mereka tidak hanya membuat resah umat Islam semata namun juga melalui konflik-konflik yang terjadi itu ikut mengancam persatuan seluruh anak bangsa. Sebab Ahmadiyah telah menyeret masuk banyak pihak diluar Islam untuk mempertahankan eksistensinya disini. Kasus bentrokan fisik terakhir plus rentetannya antara FPI cs dan AKKBB adalah bukti nyata dimana Ahmadiyah tidak hanya melibatkan sesama muslim semata. Ini sudah masalah stabilitas nasional.

Jawab :
Hal yang mesti kita analisa lebih tajam adalah, kelompok Musailamah pada masa itu telah benar-benar menyimpang dari garis Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Berbeda dengan konsep ajaran Ahmadiyah yang menginduk pada ajaran Muhammad. Kelompok Musailamahpun kehadiran dan gerakannya masa itu menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan diantara masyarakat muslim. Maka dari itu kelompok ini harus diperangi.

[Dani] bukankah Ahmadiyyah juga sebelum tahun 1914 merongrong stabilitas Umat, dan setelah 1914 terpecah menjadi 2 kelompok. Kedua kelompok ini tetap saja menggunakan nama Ahmadiyyah, GAI [gerekan ahmadiyyah Indonesia} dan Anjuman Ahmadiyya Ishaati Islam Lahore (AAIIL), akan tetapi tetap saja merongrong stabilitas umat di masa sekarang meskipun salah satu dari kedua oraganisasi ini Meyembah Tuhan yang sama dan mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir.

Jawab :

Oleh karena itu, mari kita letakkan dulu permasalahannya secara proporsional sesuai tempat yang seharusnya agar pengadilan kita terhadap komunitas tersebut benar-benar memiliki kekuatan hukum yang kukuh dan adil. Baik secara hukum Islam maupun secara hukum negara. Meski saya menyesalkan keterlambatan keluarnya SKB 3 Menteri, namun mari kita coba melihat kekompleksitasan kasus ini dari sisi hukum kenegaraan Indonesia. Saya telah sering melakukan konsultasi dengan orang-orang yang memang mengerti hukum dan perundang-undangan negara berkaitan dengan komunitas Ahmadiyah, makanya sedikit banyak ada toleransi yang harus kita berikan pada negara atas keterlambatan itu. Bagaimanapun, negara kita bukan negara Islam, jadi permainannya memang harus manis dan sesuai koridor.

Jawab :
Sekali lagi berdasar apa yang saya ketahui nih mas Dani. Bahwa Ahmadiyah, diluar pengakuan atas MGA-nya. Mereka tetap mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah dan Nabi terunggul (The Master of Prophets). Dari garis syahadat, ini membuat mereka sama seperti kita. Tapi sekali lagi, ini yang saya tahu. Saya belum berani berkata apapun jika ternyata dalam prakteknya mereka menolak kenabian Muhammad dan mengganti syahadatnya terhadap MGA

[Dani] Jika memang demikian mengapa OKI, FUI dan MUI menfatwakan mereka adalah ajaran yang sesat dan bukan Islam, sebagaimana Pakistan tidak mengakui mereka sebagian dari Islam.
Penelitian yang dilakukan oleh Bakorpakem selama beberapa bulan ini terbukti bahwa apa-apa yang mereka [Ahmadiyyah] dengung-dengungkan di web-web pribadi Ahmadiyyah adalah bohong dan meyesatkan. Pengakuan mereka hanya untuk melindungi mereka dari desakan Ahmadiyyah dibubarkan,
Jawab :

Masalah fatwa OKI, FUI, Bakorpakem dan MUI terhadap kekafiran Ahmadiyah sama sekali sudah diluar dari diri saya mas Dani. Saya tidak mau terjebak dalam phobia massal yang terbentuk. Sebab kita harus mempertanggung jawabkan sikap kita ini secara individu dihadapan Allah, bukan secara kelompok. FUI, OKI, Bakorpakem dan MUI sekalipun tidak bisa mengcover dosa-dosa saya. Ini yang membuat saya menjadi lebih berhati-hati menyikapinya.

Jawab :
Mereka orang yang batil mas Dani, mereka tidak kaffah dalam beriman. Tetapi untuk menyebut mereka kafir dalam pengertian diluar Islam, lidah saya masih berat. Mungkin mereka memang kafir atas keimanannya pada MGA, tetapi bagaimana dengan keimanan atau pengakuan mereka terhadap Allah dan Nabi Muhammad ?

[Dani] Saya teringat salah satu ayat, dimana orang-rang munafik mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya [muhammad], namun Allah membantahnya “Sesungguhnya mereka tidak beriman”.
Karena sesuatu yang tidak mungkin Kebatilan bercampur aduk dengan kebenaran.
Jawab :

Soal kemunafikan, itu urusan Allah. Ini sudah masalah hati. Yang menjadi masalah buat kita adalah memerangi kebatilan yang ada secara lahiriahnya. Inilah yang harus bisa kita buktikan dilapangan terhadap kelompok Ahmadiyah.



[arman]

Kita seringkali terlalu banyak memperturutkan rasa ke-egoismean semata didalam menghadapi orang yang tidak sejalan dengan kita yang akibat dari semua ini akan menyulut konflik berkepanjangan dan tidak berkesudahan.

[Dani] Berarti Muhammad Rasulullah egois memerintahkan memerangi para Nabi Palsu, berarti Abu Bakar RadhiAllahu’anhu egois dalam memerangi Nabi Palsu Musailamah Al Kazzab, Berarti Ali Bin Abi Thalib egois memerangi Khawarij, berarti semuanya memperturutkan rasa ke-egoismean semata didalam menghadapi orang yang tidak sejalan dengan mereka bertiga?
Dalam kasus Ahmadiyyah saya wajib “EGOIS” 🙂 sebagaimana Rasulullah dan Abubakar ra egois karena merusak akidah Islam, kalau dibiarkan fatal akibatnya

Jawab :
Ini bukan masalah egois, tetapi bagaimana kita menyikapi dan memandang ini dari perspektif yang adil serta benar. Ada alasan-alasan yang memang bisa dan mampu dibuktikan untuk membuat kita benar memerangi mereka. Inilah yang saya lihat dilakukan oleh Nabi Muhammad dan Khalifah Abu Bakar. Ini juga yang lalu saya benarkan terhadap sikap FPI dan kelompok Islam lain di Indonesia terhadap Ahmadiyah.

Jadi saya melihatnya dari sudut pandang yang agak berbeda meski hakekat dan tujuan akhirnya sama.

[Dani] loh…lalu knapa Mas Arman sebelumnya meyebutkan kata “egois” namun sekarang meyebutnya “ini bukan masalah egois”.
Nah kata-kata “perspektif yang adil serta benar” menurut siapa dahulu?
Jawab :

Ke-egoisan yang saya maksud adalah ke-egoisan yang membabi buta, sehingga membuat rasa egoisme kita itu mencuat kedepan sehingga hukuman yang kita ajukan untuknyapun tidak setimpal dan proporsional. Karenanya ke-egoisan ini mesti bisa dianulir melalui bentuk hukum yang dapat dipertanggung jawabkan dasar-dasarnya. Mas Dani tentu paham, didalam Islam hukum baru bisa dijalankan apabila ada bukti dan saksi. Sebaliknya emosi atau ke-egoisan sikap tidak punya tempat dalam proses penjatuhan hukuman. Didalam menjalankan hukum yang memiliki kelengkapan bukti dan saksi saja kita tetap harus mengedepankan prasangka baik serta adil terhadapnya. Ada terlalu banyak hadis yang menyatakan hal ini.

Demikian kira-kira mas Dani yang bisa saya jawab sementara ini.
Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk membela kelompok Ahmadiyah tetapi lebih kepada sikap hati-hati sebelum kita menyatakan satu statemen yang melibatkan tanggung jawab besar terhadap Allah. Saya setuju dengan pembubaran Ahmadiyah, sebab memang demikianlah seharusnya dilakukan.
[Dani] demikian Mas Arman yang bisa saya komentari saat ini, sekali lagi saya mendukung apa-apa yang dillakukan oleh ormas Islam, selama
1. Sesuai Al Qur’an dan As Sunnah
2. Berdasarkan Fakta Di Lapangan tentang Kesesatannya dan data kredibel
3. Dinasehati sudah, dibina sudah namun masih “ngeyel”/mbandel”, ya dibubarkan
Jadi saya tidak akan mendukung siapapun, selama
1. Tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi
2. Fakta dilapangan dan data-data tidak kredibel
3. Belum ada dialog antar pihak-pihak yang terkait, namun vonis pembubaran sudah diberlalukan.
Jawab :

Sepakat mas Dani selama cara dan bentuk hukumnya memang sesuai dengan kaidah yang berlaku didalam Islam.

Advertisements
%d bloggers like this: