Dialog kekafiran Ahmadiyah

———- Forwarded message ———-
From: Armansyah
Date: 2008/6/10
Subject: Re: [Milis_Iqra] Re: Persaudaraan Islam
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Alhamdulillah, akhirnya mendapat respon yang positip juga.
Terimakasih lebih dulu nih pada mas Dani.

On Tue, Jun 10, 2008 at 11:10 AM, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> wrote:
Ada sedikit hal yang mengelitik dari tulisan Mas Arman
[Arman]
Tidak urung ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist-hadist Nabi justru dijadikan ujung tombak untuk menghantam lawan bicaranya sesama Muslim, entah itu mereka yang menisbatkan diri dalam jemaah Ahlus-Sunnah, Syi’ah, Muktazilah, Khawarij, Ahmadiyah dan sebagainya.
[Dani] dalam pemahaman saya bahwa Ahlus-Sunnah, Syi’ah, Muktazilah, Khawarij, mereka masih mengakui Muhammad sebagai Rasulullah, sedangkan Ahmadiyah (qodiiyan) totally memandang Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasulnya. Karena sebagai Mas Arman katakan sendiri “Tidak ada alasan apapun untuk membenarkan adanya kenabian sesudah Muhammad. Baik Nabi dalam kapasitas pembawa syariat maupun Nabi dalam kapasitas non-syariat (Nabi ikutan).”

Jawab :
Dari satu sisi mas Dani, Ahmadiyah khususnya Qadiyan memang mengakui adanya nabi dan Rasul baru (yang bersifat sekunder) sesudah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Orang itu menurut mereka adalah MGA yang menjadi Imam Mahdi dan juga replika Isa Al-Masih. Konsepsi ini memang batil dari sudut ajaran Islam yang syah.

Tetapi bagaimanapun, mereka tetap mengakui eksistensi Muhammad sebagai Nabi Allah, sebagai Rasul Allah. Bahkan MGA diyakini sebagai orang yang meneruskan ajaran beliau Saw tanpa membatalkan kesempurnaan Islam.

Jadi kerasulan MGA dalam konsep mereka, tidak untuk membatalkan kerasulan Muhammad. Dan setahu saya, sekali lagi ini setahu saya … syahadat merekapun juga sama. Mereka bersyahadat seperti syahadat kita. Mereka sholat seperti sholatnya kita. Bacaannya juga sama. Hanya mungkin waktu didoa ada lafadzh-lafadzh yang juga diperuntukkan bagi MGA.

Saya melihat ini ibarat orang yang mengikut sertakan nama-nama Abdul Kadir Dzaelani dan semacamnyalah dalam prosesi doa.

Ini dulu yang mesti kita cermati dari Ahmadiyah, diluar dari penolakan kita atas kebatilan mereka terhadap konsep kenabian MGA.

[Arman]
Berkaitan dengan perbedaan di kalangan ahlus Sunnah

“Padahal, apabila kita ingin berbicara jujur, perselisihan yang terjadi antar umat Islam dan antar Jemaah maupun Mazhab hanyalah karena masing-masing memiliki penafsiran berbeda tentang al-Qur’an dan Hadist Rasul, namun apakah hal ini bisa menjadikan satu alasan untuk memberikan vonis kekafiran kepada mereka ?”

[Dani] yang saya pahami bahwa perbedaan dikalangan ahlus sunnah adalah sebatas makna dalam memahami ayat, sedangkan kaitan fiqih, sebatas furu’iyyah/ cabang dari masalah pokok sebuah hukum. Namun masalah Akidah mereka tetap sama “Aku rido Allah sebagai tuhan kami, Muhammad Rasul kami, dan Islam Agama Kami”. kalau kasusnya Ahmadiyah ” Aku ridho Allah tuhan kami, Mirza ghulam ahmad Rasul Kami dan Islam agama kami.

Maka letak permasalahannya adalah AQIDAH Al ISLAMIYYAH bukan Al FIQHU Al FURU’IYYAH

Jawab :
Dalam kasus ini, pernyataan “Mirza Ghulam Ahmad Rasul kami” jelas merupakan konsekwensi dari sikap mereka yang mengakui eksistensi MGA selaku Nabi dan Rasul Tuhan. Sementara pernyataan kelompok Ahlussunnah, Syiah atau komunitas Islam lainnya yang tunggal pemahaman masalah ini, adalah konsekwensi mereka atas konsep tentang fungsi Nabi Muhammad sebagai Khatamanun Nabiyyin. Jelas pintu pengakuan nabi dan rasul terhadap siapapun diluar itu akan menjadi tertolakkan dengan sendirinya.

Masalah ini letaknya diluar dari bahasan inti bahwa kaum Ahmadiyahpun pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama dan mengakui Nabi yang sama (Muhammad dan para Nabi lain sebelum beliau).

[Arman]

Tetapi lepas dari pemahaman kaum Ahmadiyah Qadiyan itu, pada dasarnya mereka adalah orang Islam. Hanya saja orang Islam yang salah jalan dan korban dari pembodohan serta pemutar balikan fakta. Mereka harus dikasihani dan dibina, diajak dialog. Mari kita beradu argumen secara sehat, yaitu berdasar dalil naqli dan dalil aqli.

[Dani] Saya pikir kaum Ahmadiyah Qodiyan itu adalah “MURTAD bukan ISLAM, karena Islam berdiri atas Aqidah “Rodhitu Allahi Robba, Muhammadan Rasulla, wa Islami Diina” sedangkan Ahmadiyyah Qodiyan mengakui ada nabi setelah Muhammad. Jadi mereka bukan Islam seperti yang digariskan Al Qur’an dan Sunnah Nabi.

Jawab :
Saya tidak berani mengatakan mereka bukan Islam, mas Dani.
Sebab ruh atau konsepsi utama dari Islam adalah Tauhid, sementara nafs atau jiwa Islam adalah pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Jasadnya baru syariat Islam yaitu pengamalan atau pengaplikasian al-Qur’an dan as-sunnah secara kaffah.

Ditinjau dari sudut ketuhanan, mereka sama seperti kita.
Begitupula ditinjau dari sudut kenabian, mereka juga tidak berbeda. Hanya ujungnya yang membuat kita berbeda dari mereka. Inilah yang membuat cacat keimanan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya (rasul disini yaitu Muhammad Saw). Meski demikian saya melihat, cacat iman tidak berarti batal iman.

Sekali lagi sebagai pribadi, meski saya menganggap ajaran Ahmadiyah mengenai MGA adalah batil dan sesat namun saya belum berani untuk mengkafirkannya secara keseluruhan. Sebab pertanggung jawaban kalimat ini buat saya berat sekali dihadapan Allah.

Benar mereka harus dibina dan dikasihani sebagimana Rasulullah juga mengasihani umatnya yang kafir. Namun setelah dialog sudah, dibina sudah, keputusan Organisasi Islam Internasional, MUI sudah menfatwakan sesat, maka tidak ada jalan jika mereka harus dibubarkan secara paksa.

Jawab :
Saya sepakat mas Dani.
Untuk mencegah kebatilan berkembang lebih jauh dan memakan banyak korban-korban baru. Maka Ahmadiyah memang harus dibubarkan secara paksa. Tetapi tetap penganutnya diberi binaan secara kontinyuitas. Sama seperti konsep yang diajarkan oleh Nabi kita sendiri dalam berdakwah. Mungkin mereka sekarang belum mau sadar karena kekerasan hati dan egoismenya, tapi mudah-mudahan besok atau lusa mereka bisa kembali kepada kita. Jikapun mereka tetap seperti itu, mudah-mudahan dakwah kita mampu menyelamatkan anak cucu mereka nantinya.

Kembali ke sejarah bagaimana Abu Bakar As Shiddiq memerangi Musailamah Al Kadzab [Nabi Palsu di zaman Rasulullah] dan bagaimana Rasulullah bersikap

Dalam kitabnya Al Sunan (Kitab Al Jihad, Bab Ar Rusul hadits no, 2380) Abu Daud meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud. Ketika menerima dua utusan Nabi palsu, Musailamah al-Kazzab, Rasulullah Shalallahu ‘alihi wasallambertanya kepada mereka: “Apa yang kalian katakan (tentang Musailamah)? Mereka menjawab, “Kami menerima pengakuannya (sebagai nabi)”. Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam berkata: “Kalau bukan karena utusan tidak boleh dibunuh, sungguh aku akan memenggal leher kalian berdua”.


Lafadz ini diceritakan juga oleh Ahmad (hadits no. 15420), Al Hakim (2: 155 no. 2632). Ahmad (hadits no. 15420) melaporkan melalui Abdullah bin Mas’ud dengan lafadz “la-qataltu-kumaa”, (aku pasti membunuh kalian berdua). Versi hadits ini diceritakan kembali oleh kitab-kitab sejarah seperti Al Thabari (Tarikh Al Thabari, Juz 3 Bab Masir Khalid bin Walid) dan Ibnu Katsir (Al Bidayah wa Al Nihayah, Dar Ihya’ Al Turats Al Arabi , tt, Juz 6, hal: 5).


Riwayat-riwayat ini menampilkan ketegasan Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam terhadap orang yang mengakui kenabian Musailamah. Tetapi, karena Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam memegang etika diplomatik yang tinggi, maka beliau membiarkan begitu saja kedua utusan Nabi palsu itu.

Jawab :
Menurut saya, ini adalah metode dakwah Rasulullah terhadap kelompok Musailamah. Beliau mengedepankan konsep kelembutan diatas kekerasan. Bila kemudian kelompok ini telah dianggap merongrong stabilitas umat, maka mereka memang harus diambil ketegasan sikap.


Abu Daud (hadits no. 2381), Al Nasa’i (Al Sunan Al Kubra, 2: 205) dan Al Darimi (Kitab Al Siyar, hadits no. 2391) menceritakan kesaksian Haritsah bin Al Mudharib dan Ibn Mu’ayyiz yang mendapati sekelompok orang dipimpin Ibn Nuwahah di sebuah masjid perkampungan Bani Hanifah, ternyata masih beriman pada Musailamah. Setelah kejadian ini dilaporkan pada Ibn Mas’ud, beliau berkata pada Ibn Nuwahah (tokoh kelompok tersebut), “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alihi wasallamdulu bersabda “Kalau engkau bukan utusan, pasti aku akan penggal kamu”, nah, sekarang ini engkau bukanlah seorang utusan”. Maka Ibn Mas’ud menyuruh Quradhah bin Kaab untuk memenggal leher Ibn Nuwahah. Ibn Mas’ud berkata, “Siapa yang ingin melihat Ibn Nuwahah mati, maka lihatlah ia di pasar”. Masjid mereka pun akhirnya dirobohkan.

Note : Ketika itu Ibnu Mas’ud bukanlah seorang Kepala Negara, dan beliau masih di bawah kekuasaaan Khlifah Abu Bakar Radhi’allu anhu. Namun Ibnu Mas’ud bersikeras bahwa orang MURTAD [Ibn Nuwahah] ini berhak dipenggal lehernya, dan darahnya adalah halal.


Mengapa Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam tidak memerangi Musailamah? Ibn Khaldun menjelaskan masalah ini, bahwa “Sepulangnya Nabi shalallahu ‘alihi wasallam dari Haji Wada’, beliau kemudian jatuh sakit. Tersebarlah berita sakit tersebut, sehingga muncullah Al Aswad Al Anasi di Yaman, Musailamah di Yamamah dan Thulaihah bin Khuwailid dari Bani Asad; mereka semua mengaku nabi.

Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam segera memerintahkan untuk memerangi mereka melalui edaran surat dan utusan-utusan kepada para gubernurnya di daerah-daerah dengan bantuan orang-orang yang masih setia dalam keislamannya. Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam menyuruh mereka semua bersungguh-sungguh dalam jihad memerangi para nabi palsu itu sehingga Al Aswad dapat ditangkap sebelum beliau wafat. Adapun sakit keras yang dialami tidak menyurutkan Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam untuk menyampaikan perintah Allah dalam menjaga agama-Nya. Beliau lalu menyerukan orang-orang Islam di penjuru Arab yang dekat dengan wilayah para pendusta itu, menyuruh mereka untuk melakukan jihad (melawan kelompok murtad—pen)”. (Abdurrahman Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Dar Al Kutub Al Ilmiyah: Beirut, Libanon, cet. 1, th. 1992, hal 474-475).

Jawab :
Hal yang mesti kita analisa lebih tajam adalah, kelompok Musailamah pada masa itu telah benar-benar menyimpang dari garis Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Berbeda dengan konsep ajaran Ahmadiyah yang menginduk pada ajaran Muhammad. Kelompok Musailamahpun kehadiran dan gerakannya masa itu menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan diantara masyarakat muslim. Maka dari itu kelompok ini harus diperangi.

Dan berikutnya Abu bakar As shiddiq RadhiAllahu ‘anhu memerangi Musailamah al kadzzab dan para pengikutnya.

Dalam kaitannya kita hidup dinegara Indonesia yang bukan berdasarkan islam ini, sebaiknya memang Pemerintah yang harus mengambil keputusan bukan sebuah organisasi Keislaman.

OKI dan MUI sudah memfatwakan “SESAT”, dan hal ittu merupakan seruan moral yang harus dijalankan karena penistaan terhadap Islam.

Jawab :
Benar mas Dani, saya sangat sepakat.
Bahwa keputusan pemerintah mengenai Ahmadiyah sudah tepat, hanya tinggal dipertajam saja lagi. Ini semua demi kemaslahatan dan kestabilitasan anak bangsa.

[Arman]

Beberapa sahabat keheranan dan mencoba mengingatkan Nabi bahwa ‘Utban itu adalah orang yang munafik, tapi Nabi mengeluarkan jawaban : “Jangan berkata demikian, tidakkah kamu melihatnya telah berucap “La ilaha illa Allah” semata-mata demi keridhoan Allah ?”; diantara para sahabat masih ada yang penasaran dan mencoba kembali mengeluarkan argumennya : “Memang benar ia mengucapkan yang demikian, namun tidak disertai dengan ketulusan hatinya, sungguh kami sering melihatnya pergi dan berkawan dengan orang-orang munafik.” Nabi menjawab : “Tiada seorangpun bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah yang akan dimasukkan kedalam api neraka atau menjadi umpannya.”

[Dani] satu hal yang saya bold diatas adalah bahwa aku adalah Rasul Allah , aku disitu adalah Muhammad bukan Mirza Ghulam Ahmad.

Maka yang tidak seorangpun yang akan masuk neraka jika mereka telah bersaksi “Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku [Muhammad] adalah Rasul Allah

Jika aku-nya diganti jadi Mirza Ghulam Ahmad maka NERAKA lah tempatnya karena dibanyak ayat Allah memerintahkan untuk Ta’at kepada Allah dan Muhammad Rasulullah. bukan kepada Mirza Ghulam Ahmad, terkecuali para pengikut ahmadiyah ini bertobat.

Jawab :
Sekali lagi berdasar apa yang saya ketahui nih mas Dani. Bahwa Ahmadiyah, diluar pengakuan atas MGA-nya. Mereka tetap mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah dan Nabi terunggul (The Master of Prophets). Dari garis syahadat, ini membuat mereka sama seperti kita. Tapi sekali lagi, ini yang saya tahu. Saya belum berani berkata apapun jika ternyata dalam prakteknya mereka menolak kenabian Muhammad dan mengganti syahadatnya terhadap MGA

[Arman]

Nyata sekali bahwa jangankan kepada orang yang mengakui ke-Rasulan Muhammad Saw bin Abdullah, bahkan bagi mereka yang tidak mengakui kenabian Muhammad pun yang dalam istilah kita sekarang ini termasuk dalam kategori Unitarian tetap mendapatkan jaminan dari Allah untuk memperoleh ganjaran disisi-Nya selama mereka tidak mengadakan Tuhan-Tuhan dalam bentuk apapun selain Allah yang Maha Esa, yang Tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang tidak memiliki kesetaraan dengan apapun dalam keyakinan mereka.

[Dani] Berarti jika kita tidak mengakui kenabian Muhammad sholallhu’ alaihi wasallam kita akan selamat, apa bedanya dengan Ingkar Sunnah, atau Qur’aniyyun yang mereka berpatokan kepada Al Qur’an saja dan Muhammad dianggapnya masa yang telah usai. ataukah yang Mas Arman bicarakan hanya sebatas Yahudi, Nasrani dan Shabi’in saja?
Bagaimana jika mereka sudah mendengar bahwa Rasulullah Muhammad sudah datang dengan membawa Al Qur’an? apakah mereka masih berhak untuk tidak mengakui?

Jawab :
Mereka orang yang batil mas Dani, mereka tidak kaffah dalam beriman. Tetapi untuk menyebut mereka kafir dalam pengertian diluar Islam, lidah saya masih berat. Mungkin mereka memang kafir atas keimanannya pada MGA, tetapi bagaimana dengan keimanan atau pengakuan mereka terhadap Allah dan Nabi Muhammad ?

[arman]

Kita seringkali terlalu banyak memperturutkan rasa ke-egoismean semata didalam menghadapi orang yang tidak sejalan dengan kita yang akibat dari semua ini akan menyulut konflik berkepanjangan dan tidak berkesudahan.

[Dani] Berarti Muhammad Rasulullah egois memerintahkan memerangi para Nabi Palsu, berarti Abu Bakar RadhiAllahu’anhu egois dalam memerangi Nabi Palsu Musailamah Al Kazzab, Berarti Ali Bin Abi Thalib egois memerangi Khawarij, berarti semuanya memperturutkan rasa ke-egoismean semata didalam menghadapi orang yang tidak sejalan dengan mereka bertiga?
Dalam kasus Ahmadiyyah saya wajib “EGOIS” 🙂 sebagaimana Rasulullah dan Abubakar ra egois karena merusak akidah Islam, kalau dibiarkan fatal akibatnya

Jawab :
Ini bukan masalah egois, tetapi bagaimana kita menyikapi dan memandang ini dari perspektif yang adil serta benar. Ada alasan-alasan yang memang bisa dan mampu dibuktikan untuk membuat kita benar memerangi mereka. Inilah yang saya lihat dilakukan oleh Nabi Muhammad dan Khalifah Abu Bakar. Ini juga yang lalu saya benarkan terhadap sikap FPI dan kelompok Islam lain di Indonesia terhadap Ahmadiyah.

Jadi saya melihatnya dari sudut pandang yang agak berbeda meski hakekat dan tujuan akhirnya sama.

Demikian kira-kira mas Dani yang bisa saya jawab sementara ini.
Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk membela kelompok Ahmadiyah tetapi lebih kepada sikap hati-hati sebelum kita menyatakan satu statemen yang melibatkan tanggung jawab besar terhadap Allah. Saya setuju dengan pembubaran Ahmadiyah, sebab memang demikianlah seharusnya dilakukan.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com

Advertisements

Anarki Tenaga Dalam

From: Armansyah
Date: 2008/6/9
Subject: Re: [Milis_Iqra] Anarki dan Mengisi Kekebalan Tubuh
To: Milis_Iqra@googlegroups.com

Sebelum memasuki bahasan lebih jauh, saya ingin memulainya dengan topik tenaga dalam ini dulu.

Tenaga Dalam yang diperoleh dengan cara un-naturally seperti melalui proses rajah, pengisian dan seterusnya biasanya memiliki sejumlah kelemahan fatal yang dapat membahayakan sipenggunanya. Selain itu, tenaga dalam orang-orang inipun punya batas waktu tertentu. Hal ini sifatnya variatif, tidak mutlak harus sama semua waktunya. Bisa dalam kurun waktu sekian hari, sekian minggu, sekian jam atau bahkan sampai sang guru atau pengisi tenaga dalam itu mangkat.

Ini jelas bukan hal yang mestinya dijadikan obyek bagi orang yang ingin memiliki sesuatu secara permanen. Permanen dalam artian hakiki, tidak akan musnah berdasar ini dan itu kecuali atas kehendak Allah Azza Wajalla.

Dari tinjauan ilmu metafisika, orang yang melakukan pengisian dan mereka yang meminta untuk di-isikan tenaga dalam secara unnaturally ini telah berspekulasi tinggi sekali atas sebuah esensi yang bernilai mahal. Esensi itu adalah Iman dan Jiwa (An-Nafs).

Kita tanpa sadar telah mencampakkan kemuliaan dan kehormatan manusia kelembah yang terdalam.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Israa [17] :70)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tiin [95] : 4)

Tapi sayang kita lebih sering meluncur jauh dari posisi atas tadi :

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (QS. At-Tiin [95] : 5-6)

Didalam ajaran Islam, setiap aktivitas yang bermanfaat, positip dan berguna akan dinilai sebagai ibadah dihadapan Allah. Jadi ibadah tidak hanya berkutat masalah sholat, puasa dan dzakat. Aktivitas tadi, tentu akan terlebih dahulu dinilai dari niat awalnya seperti apa.

Lah kalau ada orang yang belajar ilmu matematika hanya buat membodoh-bodohi orang lain, jelas ini sama sekali tidak bermanfaat dan tidak bernilai ibadah. Sama halnya dengan belajar atau meminta isikan tenaga dalam tertentu kepada seseorang demi melakukan satu perbuatan yang tidak benar. Niat awalnya saja sudah tidak beres, maka bagaimana lagi hasil serta nilainya ?

Itu kenapa didalam Islam, niat memiliki fungsi kontrol yang absolut dalam bertindak. Bahkan pada tataran tertentu, mereka yang dekat kepada Allah mampu mengendalikan lingkungannya (baca : orang lain) dengan hanya sekedar berniat saja. Bagaimana bisa ? Hal ini tidak lain karena kekuatan murni aura dari sipelaku mampu mendominasi dan mengendalikan kekuatan yang ada pada musuhnya. Inilah yang pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw dahulu saat seorang musuhnya menempelkan pedang keleher beliau.

Saya pribadi, sangat tidak mendukung aksi kelompok anshor atau apapunlah namanya tersebut. Mereka sama provokasinya dengan kelompok-kelompok yang lain. Hanya mendatangkan ketakutan dan histeria massa saja. Mereka hanya menampilkan dan mengesankan Islam sebagai sesuatu yang menyeramkan, suatu peradaban yang primitif dan mesti dibasmi.

Masalah tidak akan selesai dengan hanya menonjolkan adegan otot, apalagi sesama Muslim. Marilah kita introspeksi kembali diri kita masing-masing … apa niat kita sudah benar-benar lurus terhadap Allah ataukah kita hanya dikendalikan oleh amarah dan kesombongan pribadi semata.

Saya sudah sering berhadapan dengan orang-orang berilmu tinggi, saya juga sudah sering berhadapan dengan pendekar-pendekar muda yang baru turun gunung. Perbandingan niat serta kedewasaan mereka ibarat langit dan bumi. Para guru dan ajengan yang sudah sepuh, mestinya mampu menunjukkan kearifannya ditengah para santri dan murid. Diatas langit masih ada langit. Allah tidak pernah lepas mengawasi tindakan kita. Allah tahu apa yang terdetak dalam benak kita, bahkan jauh sebelum kita menyatakannya.

Maaf bila ada yang tidak berkenan.

Tulisan yang ditanggapi :

2008/6/6 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>:
Ada pendapat mengenai sikap Bansernya NU dibawah… ketika saya melihat di media TV, setelah para anggota GP Anshor NU di rajah atau di isi tenaga dalam oleh seorang kyai, kemudian di test tubuhnya ditusuk-tujuk sama jarum, kalau sudah kebal maka tenaga dalamnya sudah berhasil dan siap bertempur dengan FPI… yo opo wong NU itu, Kyai koq ngelantur begitu..bukannya mengayomi umat malah mengahasut umat untuk bertempur…
Dua macam ulama
al-Ghazali mengklasifikasikan ulama ke dalam dua golongan yaitu ulama al-khair (ulama yang baik) atau ulama al-akhirat, dan ulama\’ al-suu\’ (ulama yang jelek). Ulama al-suu juga disebut sebagai ulam\’ al-dunya (ulama –yang suka– duniawi). Ciri-cirinya terlihat dari tujuan dari penguasaan ilmu adalah karena ingin memperoleh kenikmatan dunia semata, mengejar jabatan dan kedudukan untuk kepentingan sendiri. Dia memanfaatkan ilmunya untuk melapangkan jalan menuju tujuan duniawinya dengan jalan apa pun, walaupun harus mengorbankan umat.
Tentang ulama\’ al-suu\’ ini, al-Ghazali mendasarkannya pada hadits Nabi yang mengatakan bahwa pada akhir zaman nanti akan muncul orang-orang yang tekun menjalankan ibadah akan tetapi sangat bodoh dan juga orang-orang yang pandai (ulama\’) akan tetapi fasik. Menurut al-Ghazali orang yang disebut terakhir inilah yang nanti di hari kiamat akan mendapatkan siksa yang paling berat, karena mereka ini adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. Mereka berpredikat ulama, akan tetapi keulamaan tersebut dijadikan sebagai alat untuk membodohi umat, bukan untuk mencerdaskan dan memberdayakan umat. Karena itu, setiap pribadi dituntut untuk bersikap kritis kepada siapa pun, dan jangan memandang sesuatu dari bungkus luar atau formalnya saja.
Nah dimanakah letak Kyai NU yang mengajak bertempur itu, Ulama Khair atau Suu……..Maaf jika ada orang NU yang tersinggung, karena saya juga teramat tersinggung dengan ulah Pak Kyai itu yang tidak sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah Nabi….
Anarki dan Mengisi Kekebalan Tubuh
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pak Ustad, mungkin bukan wewenang pak ustad untuk menjawab namun hanya mohon saran hubungannya dengan akidah. Suasana memanas saat ini setelah insiden Monas kemarin, ada hal yang ganjil di mana 8000 Banser Anshor mengisi tubuh dengan kekebalan guna siap berperang melawan FPI,

Astagfirullah.

Dilakukan di Musholla, habis berwudhu’ lantas dituliskan rajah bahasa arab di punggung, diberi air, doa-doa dan spiritual lainnya hingga mengetes kekebalan.

Bagaimana pandangan Pak Ustad dari sisi akidah Syariah, kenapa kyai-kyai NU tidak bersuara? Mau dibawa ke mana akidah mereka?

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Nazla

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sedikit mengomentari insiden di Monas kemarin, kami sampaikan bahwa tidak ada pihak yang paling berbahagia saat ini melihat sesama umat Islam saling bermusuhan dan baku hantam, kecuali iblis laknatullahi ‘alaihi.

Inilah momen yang paling membahagiakan Iblis yang sejak zaman nabi Adam ‘alaihissalam sudah punya dendam kesumat untuk menimbulkan permusuhan di kalangan anak-anak Adam.

Sudah lama iblis merasakan sesak dada karena melihat umat Islam di negeri ini semakin dekat dengan agama. Sudah lama Iblis sakit hati melihat semakin hari semakin banyak saja para wanita di negeri ini yang menutup aurat dan pakai jilbab.

Sudah lama Iblis kecewa melihat begitu banyak pengajian dan majelis taklim menjamur bukan hanya di desa, bahkan di gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, sehingga orang semakin banyak yang mengenal lebih dalam tentang agamanya.

Sudah lama Iblis tidak pernah tersenyum dan bermuka masam, karena selama ini melihat umat Islam dari berbagai elemen bersatu, melepaskan dan melupakan perbedaan yang kerap menghantui mereka.

Namun pada hari-hari belakangan ini, Iblis bisa kembali menari-nari kegirangan, berputar-putar dan memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri diiringi musik. Iblis tertawa lebar, hidungnya mekar, dadanya menggelembung bahagia.

Betapa tidak, karena Iblis akhirnya bisa melihat pemandangan yang sudah lama tidak lagi disaksikannya, yaitu ketika anak cucu Adam memukuli saudaranya sendiri, apapun penyebabnya, lalu orang lain yang tidak tahu urusan lantas ikut-ikutan mau membalaskan dendamnya, maka Iblis dan teman-temannya mulai berpesta.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
https://arsiparmansyah.wordpress.com

Heboh Berita FPI dan SKB

Klik untuk detail

Sumber :
http://www.eramuslim.com/berita/nas/8609192557-tujuh-poin-skb-peringatan-terhadap-ahmadiyah.htm

Klik untuk Detail

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/nas/8609132314-lpbh-nu-ikut-bela-habib-rizieq.htm

Klik u/. detail

Klik u/. detail

Persaudaraan Islam : Menyikapi SKB 3 Menteri

Dengan nama Allah, Tuhan yang Pengasih dan Maha Penyayang

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Persaudaraan Islam
Oleh : Armansyah
armansyah.skom@gmail.com
https://arsiparmansyah.wordpress.com
Penulis Buku :
1. Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih
2. Jejak Nabi “Palsu”
3. DIbalik Isu Datangnya Imam Mahdi 2015
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Alhamdulillah, akhirnya SKB 3 Menteri turun juga mengenai jemaah Ahmadiyah.
Semoga kehadiran SKB ini mampu meredam atau meminimalisirkan benturan-benturan dan konflik horizontal yang terjadi diantara umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut sebuah tulisan mengenai arti persaudaraan didalam Islam.

Cukup banyak himbauan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah untuk menjalin hubungan persahabatan dan persaudaraan diantara kaum Muslimin, antara lain bisa dilihat misalnya dalam :

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu saling bersaudara.” (Qs. al-Hujurat 49:10)

“Dan orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian dari mereka adalah penolong [wali] bagi sebagian yang lain.” (Qs. at-Taubah 9:71)

Dalam beberapa Haditsnya Rasulullah Saw pun bersabda :

“Janji keselamatan bagi kaum Muslim berlaku atas mereka semua, dan mereka semua seia-sekata dalam menghadapi orang-orang selain mereka. Barangsiapa melanggar janji keamanan seorang Muslim, maka kutukan Allah, Malaikat dan manusia sekalian tertuju kepadanya dan tidak diterima darinya tebusan atau pengganti apapun pada hari kiamah kelak.”

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ia menganiayanya dan tidak pula membiarkannya dianiaya. Barangsiapa mengurusi keperluan saudaranya sesama Muslim, niscaya Allah akan memenuhi keperluannya sendiri. Dan barangsiapa membebaskan beban penderitaan seorang Muslim, maka Allah akan membebaskan penderitaannya dihari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat.”

“Hindarkan dirimu dari persangkaan buruk, sesungguhnya yang demikian itu adalah sebohong-bohong perkataan. Jangan mencari-cari aib orang lain, jangan memata-matai, jangan bersaingan menawar barang dengan maksud merugikan orang lain, jangan saling menghasut, jangan saling bermusuhan dan jangan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya sesama Muslim lebih dari 3 hari.”

“…Lantaran itu, damaikanlah diantara dua saudara kamu dan berbaktilah kepada Allah agar kamu diberi rahmat.” (Qs. al-Hujurat 49:10)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintai-intai dan janganlah sebagian dari kamu mengumpat sebagian yang lain; apakah suka seseorang dari kamu memakan daging bangkai saudaranya ? Tentu kamu akan merasa jijik kepadanya ! Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Pengampun, Penyayang.” (Qs. al-Hujurat 49:12)

Telah diketahui secara pasti bahwa hanya dengan Islam dan beriman secara sungguh-sungguh, seorang hamba dapat meraih puncak keridhoan Allah azza wajalla. Ulama-ulama dari Ahlus-Sunnah bersepakat bahwa hakikat Islam dan Iman adalah pengucapan 2 kalimah syahadat, pembenaran adanya hari kebangkitan, mendirikan sholat 5 waktu karena Allah, melaksanakan ibadah Haji bila mampu, berpuasa dibulan Ramadhan serta mengeluarkan zakat.

Bukhari dalam kumpulan hadistnya telah meriwayatkan beberapa sabda Rasulullah Saw :

“Barangsiapa bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita, mengerjakan sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagai Muslim lainnya.”

Berdasarkan ayat-ayat Allah dan fatwa Nabi Muhammad Saw diatas, adalah tidak pada tempatnya kita selaku manusia yang mengaku beragama Islam dan mengaku telah beriman secara Kaffah menciptakan suasana rusuh dan mengobarkan semangat perpecahan dikalangan sesama Muslim.

Maukah kita mendapatkan kecaman dari Allah dan Rasul-Nya ?

Umat Islam sudah cukup lama terombang-ambing dalam gelombang perpecahan aneka ragam alirannya dan masing-masing pihak merasa hanya kaumnya sajalah yang paling benar serta layak memasuki syurga dan selain kaum mereka ini maka kaum lainnya berada pada posisi salah dan halal neraka baginya.

Tidak urung ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist-hadist Nabi justru dijadikan ujung tombak untuk menghantam lawan bicaranya sesama Muslim, entah itu mereka yang menisbatkan diri dalam jemaah Ahlus-Sunnah, Syi’ah, Muktazilah, Khawarij, Ahmadiyah dan sebagainya.

Tidakkah mereka sadar bahwa yang mereka perdebatkan ini tidak lain adalah sesuatu penafsiran terhadap hal yang sama dalam sudut pandang yang berbeda?

Imam Ali bin Abu Thalib r.a, adalah contoh teladan kedua sesudah Rasulullah Saw yang mengajarkan mengenai hakikat persaudaraan sesama Muslim, menghargai keutuhan persatuan umat dibawah panji-panji kebenaran Tauhid.

Beliau menolak mengikuti keinginan sebagian dari para sahabat untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Khalifah Abu Bakar sepeninggal Rasulullah Saw, dan disaat ia menjabat selaku Khalifah, sikap ini terus dipertahankannya bahkan dalam medan pertempurannya menghadapi gerakan ‘Aisyah pada peristiwa perang Jamal dan disaat menghadapi pemberontakan kelompok Muawiyah.

Imam Ali bin Abu Thalib r.a, begitu mengedepankan rasa persaudaraan antar umat Muslim diatas perasaan dirinya pribadi sehingga beliaupun rela mendapat kecaman dari sejumlah orang atas sikapnya yang lunak dengan Muawiyah yang mengakibatkan pecahnya pemberontakan kaum Khawarij sampai terbunuhnya beliau dalam salah satu kesempatan.

Tindakan dan sikap yang diambil oleh Khalifah ke-4 yang juga menantu Nabi Muhammad Saw ini sudah pasti bukan tindakan yang tidak disertai pertimbangan dan kearifan yang tinggi, sebagai salah seorang sahabat dan keluarga terdekat dari Rasulullah, Imam Ali bin Abu Thalib r.a, tentunya merupakan orang yang paling mengerti mengenai Islam dan ia bukan seorang yang pengecut.

Dengan demikian, hendaklah kiranya kaum Muslimin sekarang ini sudi untuk merenung dan menganalisa secara bijak mengenai perpecahan yang terjadi diantara mereka, perpecahan yang mengarah kepada permusuhan dan kebencian bukan menjadi satu rahmat namun justru merupakan malapetaka. Kehormatan seorang Muslim haruslah dijunjung tinggi meskipun mungkin Muslim tersebut memiliki sudut pandang berbeda dengan kita terhadap hal-hal tertentu, ini bukan alasan untuk mengkafirkan mereka apalagi menumpahkan darahnya dengan mengatasnamakan kebenaran.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdu Dzar :

“Telah berkata Nabi Saw kepadaku, bahwa malaikat Jibril berkata: ‘Barangsiapa diantara umatmu meninggal dunia dalam keadaan tiada menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka ia akan masuk syurga.”; kemudian aku bertanya: ‘Kendatipun ia pernah berzina dan mencuri ?”; Jawab Nabi Muhammad Saw: “Ya, walaupun ia pernah berbuat hal itu.”

Hadist diatas ini bukan bertendensikan menghalalkan tindakan kejahatan atas umat Muhammad Saw akan tetapi memiliki orientasi kepada pengagungan harkat dan martabat seorang Muslim.

Jelas bahwa Allah tidak lalai dari apa yang kita kerjakan, suatu perbuatan yang negatif, apabila dilakukan secara terus menerus tentunya akan menyebabkan ketergeseran derajat kemanusiaan seseorang dihadapan Allah, dan lambat laun seorang Muslim-pun dapat menjadi seorang yang fasik atau munafik dan tidak menutup kemungkinan dia malah menjadi kafir kepada Allah sehingga jaminan Allah ini menjadi hilang atas dirinya.

Diberbagai tempat kita meributkan masalah ke-Khalifahan, orang Syi’ah merasa lebih tinggi dari ahlus-Sunnah dan sebaliknya kaum ahli-Sunnah pun tidak jarang malah memperolok-olokkan kaum Syi’ah dan bahkan beberapa diantaranya sampai mengkafirkan mereka hanya karena mereka lebih mencintai ahli Bait Nabi Muhammad Saw dan mengeluarkan kritikan-kritikan pedas atas beberapa Muslim generasi awal.

Fenomena Ahmadiyah juga menggelitik sejumlah umat Islam untuk mendeskreditkan sebagian dari mereka sampai mengeluarkan fatwa tidak syahnya status ke-Islaman semua Jemaah ini.

Pemahaman komunitas Ahmadiyah (Qadiyan) secara akidah memang tidak bisa dibenarkan. Sebab mereka mengakui adanya nabi baru sesudah nabi muhammad. Padahal dalam al-Qur’an jelas disebutkan kalau Nabi Muhammad adalah Nabi penutup.

Al-Ahzaab [33] ayat 40, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi (khaatama (al)nnabiyyiina)”

Istilah “Khaatama” memiliki pengertian yang berkorelasi pada tanda akhir atau bagian penghabisan dari suatu pernyataan maupun ikatan tertentu. Dalam hal ini berkaitan dengan berakhirnya periode turunnya wahyu Tuhan kepada manusia, khususnya lagi yang berbentuk syariat keagamaan guna menjadi pedoman dalam hidup dan kehidupan. Dengan kata lain, tidak akan ada orang lain lagi yang berhak menyebut dirinya sebagai Nabi setelah usainya era kenabian Muhammad Saw. Konsepsi yang dibangun oleh kitab suci al-Qur’an tersebut selaras dengan gagasan “topology prophecy” yang banyak disinggung dibeberapa ayat lain.

Gagasan ini menyebutkan bahwa agama-agama yang terdahulu (dalam hal ini termasuk kitab suci dan para nabinya) merupakan insan-insan pilihan yang salah satu tugasnya untuk menyiapkan kehadiran “seorang manusia penggenap” dimasa depan yang akan datang sebagai bentuk penyempurna ajaran yang pernah ada sebelumnya. Ide ini mengantarkan pada pengertian bahwa pribadi-pribadi yang diutus Tuhan pada masa lalu itu bersifat lokal atau kedaerahan yang kelak akan dirangkum dan dikokohkan menjadi satu ajaran yang universal sehingga mampu diterima oleh seluruh manusia melewati batasan geografis atau kontinen dipermukaan bumi.

Firman Allah : “Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman :”Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman:”Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. (QS. Ali Imran [3] :81)

Inilah yang lalu ada pada diri Nabi Muhammad Saw, beliaulah orang yang dinubuatkan dan dijanjikan kedatangannya sebagai seorang syahidah dan mushaddiq dari para Nabi terdahulu.

Topology kenabian ini sendiri bisa dilihat disejumlah ayat yang termaktub dalam kitab suci al-Qur’an. Dua diantaranya adalah, “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui“.(QS. Al-Baqarah [2] :146) dan “Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.” (QS. Al-A’raaf [7] : 157).

Melalui lisan Muhammad, Allah kemudian mewartakan tentang eksistensi misinya kepada seluruh manusia. “Katakanlah (wahai Muhammad): Hai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi.” (QS. Al-A’raaf [7] :158).

Beranjak dari sini, maka bagaimana mungkin kita bisa menerima pernyataan yang disampaikan oleh siapapun sesudahnya bahwa dia diberi wahyu oleh Tuhan dan diangkat sebagai Nabi-Nya, menggantikan posisi kenabian Muhammad. Kesempurnaan universalitas Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw sudah tidak lagi memerlukan turunnya Nabi-nabi baru pada masa-masa berikutnya.

Bahkan meskipun itu berposisi sebagai Nabi non-syariat yang sifatnya mengembangkan dan membenarkan ajaran Muhammad. Nash-nash suci lainnya memberitakan secara transparan kepada kita bila sebagai gantinya maka Allah akan memilih hamba-hambaNya selaku muballigh dan mujaddid bagi umat manusia. Jadilah kamu orang-orang rabbani (alim/berilmu) dengan sebab kamu telah mengajarkan al-Kitab, dengan sebab kamu telah mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3] :79).

Nabi Muhammad Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah, dikeluarkan pula oleh Al-Imam Abu ‘Amr Ad-Dani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan no. 364, Al-Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 4/522, dan selain mereka seperti Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Khathib, dan Al-Harawi. Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani telah menshahihkan hadis ini dalam Shahih Abi Daud, Ash-Shahihah no. 599)

Tugas mujaddid -sebagaimana rabbani– bukan merubah apalagi membatalkan hukum­-hukum dan ketetapan al-Qur’an. Mujaddid adalah intelektual muslim yang akan memberikan penyegaran pemahaman atas sejumlah ayat­ayat al-Qur’an secara aktual dengan mengacu pada peradaban yang ada disetiap zamannya. Jumlah mujaddid yang Allah tampilkan dalam setiap zaman bisa jadi hanya satu, namun bisa pula berbilang. Tetapi yang jelas, mujaddid ini tidak berfungsi sebagai seorang Nabi ataupun Rasul sebab pintu kenabian telah ditutup dengan berakhirnya pengutusan Nabi Muhammad Saw.

Predikat khaatama (al)nnabiyyiina didiri Muhammad bukan satu penghinaan atau pelecehan atas beliau. Sebaliknya justru menempatkan Muhammad dalam kedudukan yang tertinggi sebab beliau telah mendapatkan kemuliaan dari Allah untuk menjadi Nabi terakhir yang diutus dengan risalah atau aturan hukum menyeluruh kepada segenap manusia yang sebelumnya terpecah dengan masing-masing Nabi atau Rasul tersendiri pada setiap tempat dan periodenya, disesuaikan dengan kondisi dan situasi mereka masing-masing. Jika agama Islam sebelum Muhammad disampaikan oleh Nabi dari masing-masing bangsanya, seperti Musa dan ‘Isa yang hanya diperuntukkan kepada Bani Israel, tetapi Muhammad diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia disegala tempat di penjuru dunia ini dan disepanjang masa. Rahmat Allah tidak akan pernah berhenti turun bagi umat hanya karena pintu kenabian sudah ditutup.

Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya disurah Fathir [35] ayat 2 : “Apapun rahmat yang Allah limpahkan untuk manusia, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalanginya, dan apa­-apa yang Dia tahan maka tidak ada sesuatupun yang dapat melepaskannya“. Gagasan yang dimunculkan jika salah satu rahmat yang dimaksud pada ayat tersebut salah satunya adalah rahmat kenabian, jelas merupakan gagasan yang tidak cukup valid untuk diterima. Memang wahyu sendiri terus turun pada individu-individu didunia ini, namun datangnya wahyu tersebut bukan lantas bisa menjadi dasar bagi mereka untuk menyandang gelar Nabi.

Istilah wahyu dalam terminologi al-Qur’an melukiskan bentuk komunikasi yang dijalin antara sesama manusia atau antara Tuhan dengan hamba-hambaNya. Kata Awha atau kadang-kadang Awhayna sebagai bentuk dasar dari kata wahy misalnya digunakan ketika al-Qur’an merujuk kisah Nabi Zakariya yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat kepada kaumnya (QS. Maryam [19] :11).

Contoh lainnya adalah petunjuk yang diberikan Allah kepada kaum Hawariyyun (sahabat-sahabat Nabi ‘Isa) seperti yang ada dalam surah al-Maaidah ayat 111, terus juga petunjuk (Awha) yang diberikan kepada Ibunda Nabi Musa untuk melarungkan keranjang berisi puteranya dilautan (lihat surah Thaaha ayat 38 dan al-Qashash ayat 7) atau kisah pemberian wahyu kepada Maryam (ibunda dari Nabi ‘Isa al-Masih) saat beliau akan hamil secara parthenogenesis (lihat surah Ali Imron ayat 47 dan surah Maryam ayat 19) bahkan al-Qur’an menggunakan term yang sama ketika bercerita tentang pewahyuan Allah terhadap an-Nafs (lihat surah asy-Syams ayat 8). Dari sekelumit contoh yang kita sampaikan ini, adakah orang-orang tersebut (kaum hawariyyun, Maryam, Ibunda Nabi Musa dan an-Nafs) bisa disebut sebagai Nabi-Nabi ? Dan apakah al-Qur’an memang menyebut mereka seperti itu ? Sebagai kesimpulan yang bisa diperoleh secara singkat, pintu kenabian bagi umat manusia memang telah berakhir.

Tidak ada alasan apapun untuk membenarkan adanya kenabian sesudah Muhammad. Baik Nabi dalam kapasitas pembawa syariat maupun Nabi dalam kapasitas non-syariat (Nabi ikutan).

Sahabat Nabi, Abdur Rahman bin Jubair berkata: Aku mendengar Abdullah bin ‘Amr ibn-‘As meriwayatkan bahwa suatu hari Nabi Saw keluar dari rumahnya dan berkumpul bersama kami. Sikapnya menunjukkan kegelisahan hatinya seolah beliau akan meninggalkan kami. Beliau bersabda, “Aku Muhammad, Nabi Allah yang ummi’ dan kalimatnya tersebut diulang sebanyak tiga kali. Lalu dilanjutkannya: “Tidak akan ada Nabi lagi setelah aku !” (HR. Ahmad).

Dilain kesempatan, Nabi Saw bersabda: “Jika saja ada Nabi sesudah aku, tentulah dia adalah Umar Bin Khatab.”(HR. Tirmidzi).

Dari Sa’d bin Abi Waqqas r.a. Nabi SAW berkata kepada Ali (dalam perang Tabuk) : “Antara aku dengan engkau laksana hubungan antara Musa dan Harun, tetapi tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi lepas dari pemahaman kaum Ahmadiyah Qadiyan itu, pada dasarnya mereka adalah orang Islam. Hanya saja orang Islam yang salah jalan dan korban dari pembodohan serta pemutar balikan fakta.

Orang-orangnya tidak perlu disakiti apalagi dibunuh, cukup infrastrukturnya saja yang dihancurkan, dibubarkan dan dibekukan. Dengan demikian, maka sarana mereka dalam melakukan aktivitas “penodaan” Islam lambat laun pasti akan terhenti. Oleh sebab itu, keluarnya SKB 3 Menteri menyangkut Jemaah Ahmadiyah Indonesia pada 09 Juni 2008 mesti mendapat apresiasi yang baik oleh umat Islam. Tinggal ketegasan nyata saja dilapangannya seperti apa.

Pada jaman Nabi dahulu, diceritakan ada sekelompok orang munafik yang mendirikan masjid untuk menyimpangkan kaum muslimin dari jalan kebenaran yang dituntunkan oleh Rasulullah. Awalnya Rasul hanya mendiamkan saja permasalahan tersebut terjadi dihadapannya, sampai kemudian sekembalinya beliau dari perang Tabuk. Atas idzin dari Allah dan pertimbangan kemaslahatan Islam serta umatnya maka Nabi akhirnya mengambil sikap tegas terhadap mereka. Masjid itu lalu diruntuhkan oleh Nabi.

Dan (di antara kelompok munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu sholat dalam mesjid itu selama-lamanya.(QS. At-Taubah [9] :107-108).

Disisi lain, pernah pula dimasa Nabi, orang-orang Kristen Najran datang untuk bertanya kepada beliau perihal wahyu yang diterimanya sekaitan Nabi Isa. Dialog tidak menemukan kata sepakat, sebab Islam memang menolak untuk menuhankan Nabi Isa. Sementara kelompok Najran tetap pada pendiriannya. Akhirnya dicarilah solusi dimana Nabi sama sekali tidak mengejar pengakuan para pendeta ahli kitab itu terhadap klaim kenabiannya, setelah ajakan kepada seruannya tidak diterima, Nabi akhirnya mengajak pada nilai-nilai luhur monotheisme, artinya kira-kira : tidak apa anda tidak mengakui saya sebagai Nabi Tuhan asalkan anda tetap memegang prinsip satu Tuhan.

“Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang obyektif antara kami dan kamu, yaitu janganlah kita menyembah melainkan Allah dan janganlah kita menyekutukan sesuatupun dengan Dia, dan jangan pula sebagian dari kita dijadikan sebagai Tuhan-tuhan selain dari Allah. ; Jika mereka berkhianat maka hendaklah kamu katakan : ‘Lihatlah, kami sesungguhnya adalah orang-orang yang berserah diri ‘ – Qs. ali Imron 3:64

Dan bila kita kembalikan konsep ini pada semua cerita yang ada dalam al-Qur’an akan semakin jels betapa masalah monotheisme ini sangat memegang dominasi kitab suci. Nyaris semua ayat berupa seruan terhadap ketunggalan Allah tanpa sekutu, dan disisi lain, konsep ini pun selaras dengan ajakan para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad Saw diutus.

Kami tidak mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku oleh kamu semua” – Qs. 21 al-anbiya : 25

Dikalangan ahlus-Sunnah terdapat banyak Madzhab yang dipimpin oleh Imamnya masing-masing, diantaranya yang terbesar adalah Imam Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi, ke-4 Jemaah ini memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan didalam penafsiran atas ayat-ayat Allah dan juga petunjuk Rasul-Nya, dimulai dari masalah Thaharah, Sholat, Puasa, Nikah, Talak dan seterusnya.

Dibalik beberapa kesamaannya, masing-masing mereka memberikan argumen dari sudut pandang yang berbeda tentang banyak hal yang sama.

Padahal, apabila kita ingin berbicara jujur, perselisihan yang terjadi antar umat Islam dan antar Jemaah maupun Mazhab hanyalah karena masing-masing memiliki penafsiran berbeda tentang al-Qur’an dan Hadist Rasul, namun apakah hal ini bisa menjadikan satu alasan untuk memberikan vonis kekafiran kepada mereka ?

Andaikanlah diantara penafsiran sebagian dari mereka ini menyimpang dari apa yang seharusnya, namun ini tetap saja belum mengeluarkan status ke-Islaman yang melekat pada diri mereka, tentunya selama mereka tetap berpegangkan kepada satu Kalimah “Tidak ada Tuhan tempat mengabdi selain Allah, Tuhan yang memiliki nama-nama terbaik dan memiliki sifat-sifat suci, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

Kehormatan seorang Muslim tetap terjamin meskipun dia mengucapkan kalimah “La ilaha illa Allah” sebagai penyelamat dari suatu usaha pembunuhan, dan ini diceritakan oleh banyak perawi Hadist.

Muslim dalam salah satu hadist yang diriwayatkannya dari berbagai saluran ada menceritakan :

Bahwa suatu hari ‘Utban bin Malik al-Anshari mengunjungi Rasulullah Saw dan meminta agar beliau mau singgah kerumahnya dan sholat didalamnya, karena ia ingin menjadikannya Musholla. Dalam satu pembicaraan diantara mereka, Nabi menanyakan keberadaan salah seorang dari sahabat ‘Utban yang bernama Malik bin Ad-Dukhsyun bin Ghunm bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf yang diketahui sebagai orang yang munafik.

Beberapa sahabat keheranan dan mencoba mengingatkan Nabi bahwa ‘Utban itu adalah orang yang munafik, tapi Nabi mengeluarkan jawaban : “Jangan berkata demikian, tidakkah kamu melihatnya telah berucap “La ilaha illa Allah” semata-mata demi keridhoan Allah ?”; diantara para sahabat masih ada yang penasaran dan mencoba kembali mengeluarkan argumennya : “Memang benar ia mengucapkan yang demikian, namun tidak disertai dengan ketulusan hatinya, sungguh kami sering melihatnya pergi dan berkawan dengan orang-orang munafik.” Nabi menjawab : “Tiada seorangpun bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah yang akan dimasukkan kedalam api neraka atau menjadi umpannya.”

Demikianlah seharusnya kita didalam berpijak, tidak mudah melemparkan tuduhan kepada seseorang atau sekelompok kaum hanya karena berbeda pendapat dengan diri kita, sedangkan bagi orang yang jelas-jelas seperti Malik bin Ad-Dukhsyun saja Rasulullah Saw tidak melemparkan ucapan kekafiran atasnya dan malah mengedepankan rasa baik sangka sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.

Satu keselarasan yang bisa kita kemukakan disini satu ayat al-Qur’an :

Sesungguhnya orang-orang Mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima ganjaran dari Tuhan mereka, tidak ada ketakutan terhadap mereka, dan tidak berduka cita.” (Qs. al-Baqarah 2:62)

1. Sesungguhnya orang-orang Mu’min

Sudah jelas disini orang-orang yang beriman adalah umatnya Nabi Muhammad Saw, yaitu orang yang mengakui Allah Tuhannya dan Muhammad Nabi-Nya, termasuk didalamnya orang kafir yang akhirnya menerima Islam.

2. orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin

Yahudi, Nasrani dan Shabi’in adalah gelar bagi mereka yang bukan umat Muhammad Saw.

Orang Yahudi jelas merujuk pada umatnya Nabi Musa, dimana mereka-mereka ini menolak menerima Isa dan Muhammad sebagai Nabi. Orang Nasrani merujuk pada umatnya Nabi Isa as, baik mereka itu dari kalangan Israel (termasuk Yahudi) atau diluarnya, yang jelas disini orang-orang Nasrani adalah mereka yang mengakui akan kenabian Musa dan juga Isa al-Masih. Orang-orang shabiin adalah gelar bagi orang-orang yang beragama diluar umat Muhammad, Isa dan Musa, ada juga yang mengartikannya sebagai orang yang gemar bertukar agama, ada juga yang berpendapat bahwa Shabiin ini gelar bagi orang-orang penyembah bintang, namun saya pribadi lebih memilih pendapat yang pertama. Satu catatan awal, bahwa orang yang kafir lalu Islam tidak lagi disebut Yahudi, Nasrani atau Shabiin tetapi ia disebut orang yang beriman alias Muslim, sehingga ketiga istilah tersebut kontekstualnya merujuk pada orang-orang yang belum atau tidak mengakui Islam secara kaffah sesuai ajaran Muhammad Saw.

3. siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta mengerjakan amal yang baik, maka mereka akan mendapat ganjaran dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka berduka cita.

Ayat ini sambungan dari ayat sebelumnya, kita lihat bahwa disini konteksnya hanya beriman kepada Allah, hari kemudian dan mengerjakan amal yang baik. Ayat ini sama sekali tidak disebutkan mengenai keimanan terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw (Islam Kaffah, totalitas). Maksudnya, siapa saja diantara ketiga golongan tersebut (Yahudi, Nasrani dan Shabiin) yang bersih Tauhidnya, tidak mengadakan sekutu bagi Tuhan, percaya adanya hari pembalasan, hari dimana semua rahasia dibuka, semua perbuatan baik dan buruk akan mendapat balasan dan selama hidupnya mereka senantiasa mengerjakan amal kemanusiaan, berbuat baik kepada semua orang, semua makhluk maka mereka-mereka dari ketiga golongan tersebut akan menerima ganjaran dari sisi Allah.

Nyata sekali bahwa jangankan kepada orang yang mengakui ke-Rasulan Muhammad Saw bin Abdullah, bahkan bagi mereka yang tidak mengakui kenabian Muhammad pun yang dalam istilah kita sekarang ini termasuk dalam kategori Unitarian tetap mendapatkan jaminan dari Allah untuk memperoleh ganjaran disisi-Nya selama mereka tidak mengadakan Tuhan-Tuhan dalam bentuk apapun selain Allah yang Maha Esa, yang Tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang tidak memiliki kesetaraan dengan apapun dalam keyakinan mereka.

Kita seringkali terlalu banyak memperturutkan rasa ke-egoismean semata didalam menghadapi orang yang tidak sejalan dengan kita yang akibat dari semua ini akan menyulut konflik berkepanjangan dan tidak berkesudahan.

al-Qur’an dalam surah ali Imran (3) ayat ke 159 menganjurkan untuk mengadakan musyawarah didalam mencapai jalan keluar terbaik, selain itu ; juga dalam Surah yang lain, al-Qur’an pun memberikan kebebasan bagi manusia untuk melakukan dialog pertukar pikiran secara baik-baik dan saling menghargai.

Seorang manusia dilarang mencemooh manusia lainnya berdasarkan firman Allah dalam surah al-Hujurat (49) ayat 11 dan beberapa firman Allah berikut ini pun harus menjadi renungan tambahan bagi kita :

“Sesungguhnya mereka yang suka akan tersebarnya keburukan dikalangan kaum beriman akan mendapatkan azab yang pedih didunia dan akhirat…” (Qs. an-Nur 24:19)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kamu atas satu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berbuatlah adil, ini lebih mendekatkan kamu kepada ketakwaan; takutlah kamu kepada Allah sebab Allah amat mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Qs. al-Maidah 5:8)

Kita acapkali jengkel dengan penafsiran segelintir jemaah terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan juga al-Hadist, mereka memutar balikkan semuanya sekehendak hati mereka sehingga masing-masing merasa bahwa ayat-ayat dan Hadist-hadist tersebut memperkuat aliran mereka, namun sesuai amanat al-Qur’an, yang demikian tidak berarti harus kita sikapi dengan anarkis dan menghilangkan sudut keobjektifitasan kita.

Marilah kita saling bahu membahu antar sesama saudara seiman didalam menegakkan ajaran Allah, para pengikut ahli Bait menjalin hubungan baik dengan mereka yang mengaku sebagai pengikut sunnah Nabi; dan keduanya ini pun haruslah mau untuk tidak memutuskan tali silaturahmi terhadap mereka yang berasal dari jemaah Ahmadiyah dan begitulah seterusnya secara wajar.

Kita boleh bertukar pikiran dan kita juga tidak dilarang untuk saling berdebat, mari kita kemukakan dalil-dalil yang kita miliki dan kita yakini menunjang apa yang kita jalani, jikapun tidak terdapat jalan keluar terbaik, marilah kita benci pendapatnya saja namun bukan orangnya.

“Apabila kamu berbantahan disatu permasalahan, hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah dan Rasul apabila adalah kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
(Qs. an-Nisa’ 4:59)

Nabi pernah bersabda: “Inna khiyaarakum ahsanukum akhlaaqan.”
(Sesungguhnya orang-orang terbaik di antara kalian ialah mereka yang berakhlak paling baik).


“Almuslimu man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi”
(Muslim sejati ialah orang yang menjaga lisan dan tangannya sehingga orang-orang muslim lain selamat dari daripadanya).

Banyak orang mengatakan bahwa melakukan Bai’at terhadap pemimpin itu wajib hukumnya, namun ber-bai’at terhadap Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw jauh melebihi dari kewajiban berbai’at kepada siapapun.

Jika mencintai ahli Bait adalah suatu keharusan, maka berpegang kepada Sunnah itu pun merupakan bagian dari keimanan.

Mari kita hargai hasil ijtihad dari masing-masing manusia sebagaimana kita juga ingin orang lain menghargai pendirian yang kita yakini.

Tulisan ini tidak untuk ditujukan pembenaran suatu klaim dari jemaah tertentu dan tidak pula dimaksudkan untuk menyudutkan suatu pandangan tertentu pula, semua ini hanyalah karena terdorong rasa kerinduan terhadap hadirnya kembali ruh-ruh Muhammad maupun sosok Ali bin Abu Thalib r.a yang mencintai persaudaraan dan kesatuan umat Islam.

“Sesungguhnya mereka yang memperdebatkan ayat-ayat Allah dengan tidak ada alasan yang datang kepada mereka, tidak ada didada-dada mereka melainkan kesombongan yang mereka tidak akan sampai kepadanya.” (Qs. al-Mu’min 40:56)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan didalamnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa 17:36)

Allah berfirman dalam al-Qur’an :

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63

Demikianlah kiranya, semoga ada hikmah yang dapat dipetik, apabila terdapat kesalahan maka ini murni berasal dari diri saya pribadi, mohon maaf apabila terdapat kata yang kurang berkenan dihati.

Profile Nazwar Syamsu

Profile Nazwar Syamsu
Oleh : Armansyah
Nama Nazwar Syamsu pernah menghebohkan Indonesia diawal tahun 80-an melalui tulisan-tulisannya dalam seri buku Tauhid dan Logika serta berbagai kaset ceramahnya yang bagi segelintir orang dimasa itu terlalu ilmiah dan sulit diterima oleh pemikiran awam yang standar.
Dia sosok orang yang enggan -jika tidak mau disebut sebagai anti- terhadap penggunaan hadis-hadis Nabi, semua pemikiran dan hujjahnya menggunakan ayat-ayat al-Qur’an dan ilmu pengetahuan modern. Bagi saya pribadi, itu tidak menjadi hal yang penting dalam proses mengkaji nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam pemikirannya.
Saya ingat pesan dari Imam Ali bin Abu Thalib r.a :
Janganlah kamu mengenal dan mengikuti kebenaran karena ketokohannya, tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya kamu akan mengetahui siapa tokohnya.
Sejak awal saya tidak menanamkan rasa fanatisme kepada siapapun apalagi pada seorang A. Hassan dan Nazwar Syamsu termasukpun terhadap para perawi hadis sekelas Bukhari dan Muslim karena itu pula saya tidak banyak menemukan kendala dalam menentukan sikap dan cara memahami ajaran Islam secara universal. Adalah benar dalam berpikir dan berpendapat mengenai agama saya banyak merujuk pada ijtihad A. Hassan dan Nazwar Syamsu tetapi sayapun memiliki banyak perbedaan pemahaman dengan keduanya untuk hal-hal yang memang tidak bisa saya terima secara sehat.
Misalnya saya ambil satu contoh dimana A. Hassan menganggap Isa al-Masih masih hidup dilangit sementara Nazwar Syamsu menganggap Isa al-Masih sudah wafat tetapi itu setelah Isa diberangkatkan keplanet Venus, jadi Nabi Isa menurut Nazwar tidak meninggal dibumi ini. Saya pribadi menolak kedua pendapat tersebut, bagi saya Isa al-Masih sudah wafat dibumi ini jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw dan dalam hal ini mungkin saya lebih condong dengan pemahaman Ahmad Deedat serta jemaah Ahmadiyah (tetapi tidak untuk paham Mesianisme serta ketokohan Mirza Ghulam Ahmadnya).
Demikian sedikit pengantar dari saya, adapun profil mengenai Nazwar Syamsu dalam tulisan saya ini banyak diambil dari Majalah Tempo 24 Maret 1984.
selamat membaca …
Nama Nazwar Syamsu sempat menimbulkan alergi terhadap sejumlah kalangan dari umat Islam Indonesia antara awal tahun 80 hingga medio 84-an yang lalu, betapa tidak, dialah orang yang dengan beraninya menyebarkan pemahaman rasionalisme al-Qur’an ditengah masyarakat yang waktu itu masih bisa dikatakan sangat tabu untuk membahas ajaran agama secara bebas apalagi sampai pada tingkat ilmiah.
Tidak kurang mulai dari Majelis Ulama DKI Jakarta, Menteri Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga ke Jaksa Agung dan Menko Polkam mengeluarkan kecaman dan larangan keras atas penyebaran kaset dakwah karya Nazwar Syamsu yang diproduksi oleh penerbit Ghalia Indonesia. Jaksa Agung dalam keputusan pelarangan peredaran kaset tersebut menyebutkan bahwa kaset-kaset itu mengandung ajaran Ingkarsunnah yang pernah dilarang pemerintah sedangkan MUI DKI Jakarta menyebutkannya sebagai pengingkaran hadis.
Siapa sebenarnya Nazwar Syamsu ?
Dirinya tidak dikenal dikalangan ulama bahkan dia tidak pernah berkhotbah didepan mimbar masjid. Kadang ia terlihat dipinggir jalan dengan sandal kulitnya, masuk pasar sambil menenteng sesuatu atau makan ketupat dan mengobrol dengan siapa saja. Setamat Sekolah Desa, ia masuk HIS selama 3 tahun, pada tahun 1945 ia belajar ilmu falak pada Syaikh Muhammad Jamil Jambek di Bukit Tinggi dan tahun 1956 sempat belajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah selama 4 bulan. Ia seorang penggemar ilmu pengetahuan ruang angkasa. Ia meninggal dalam usia 65 tahun pada tanggal 20 November 1983.
Nazwar Syamsu pernah menjadi polisi sampai masa pensiunnya ditahun 1967, istrinya ada 3 orang tetapi setelah ia menikahi seorang janda beranak satu bernama Syafinah yang ahirnya memberikan kepadanya 4 orang anak, Nazwar Syamsu menceraikan ke-3 istrinya yang lain itu.
Sebelum memulai debut dakwah Tauhid dan logikanya, dijaman perang gerilya PRRI Nazwar Syamsu bermimpi bahwa ia hendak mandi disebuah sungai yang penuh najis, berulang-ulang dengan susah payah ia menyisihkan kotoran dan barulah diperolehnya air yang bersih. Ia pun bangun dan tidur lagi, katanya ia bermimpi lagi dan kali ini ia bertemu dengan sejumlah besar penghulu adat dengan segala pakaian kebesaran, terbangun lagi dan ia tidur lagi dan kini ia bermimpi melihat ribuan bintang berkilauan, alam jadi terang sekali tapi tiba-tiba kembali gelap.
“Agaknya Tuhan menuntut sesuatu dari hidup saya” katanya, tidak lama setelah itu lahirlah 2 brosurnya yang diterbitkan pustaka Sa’diah Padang Panjang. Untuk semua karyanya, konon ia tidak pernah meneken kontrak, “Diterbitkan saja sudah puas” katanya.
Adalah atas keinginan dari PT. Ghalia Indonesia Jakarta yang memberikan Nazwar Syamsu uang sejumlah Rp. 12 juta dan diberikan melalui anaknya tertua Fachruddin (anak Nazwar Syamsu total berjumlah 8 orang). Uang Rp. 6 juta diberikannya kepada anaknya itu dan sisanya dibelikan sebuah rumah tua ditanah seluas 9 m x 14 m tempat dimana Nazwar dan istri mudanya Syafinah plus anak-anak mereka hidup.
PT. Ghalia Indonesia menerbitkan buku-bukunya sejak tahun 1969, Direktur PT itu Lukmanulhakim mengaku tertarik dengan karya Nazwar Syamsu yang dianggapnya tepat untuk menghadapi kemajuan jaman. Lukmanul Hakim akhirnya menanggung biaya hidup semua keluarga Nazwar Syamsu dan dia jugalah yang memberangkatkan Nazwar Syamsu ketanah suci untuk berhaji.
Menurut Ketua Majelis Ulama Sumatera Barat ketika itu, Datuk Palimo Kayo, Nazwar Syamsu orang yang baik, suka menerima tamu meskipun sudah lewat tengah malam dan sangat suka menolong, bahkan Nazwar pernah menyumbang 1/2 juta kepada sebuah Madrasah ditempat itu yang bernama Thawalib. Ia tidak suka dipotret, alasannya ia takut jika sampai ada orang yang menjadikannya pujaan atau pergunjingan, “biasanya orang lebih menilai wajah daripada pikirannya”, begitu katanya suatu hari.
Diantara sejumlah pemikiran kontroversialnya misalnya ia menyebutkan bahwa Adam terbuat dari meteor yang diciptakan Allah disebuah planet bernama Muntaha yang lalu bersama istrinya dikirimkan kebumi dengan Barkah yang menyelamatkannya dari friksi dengan molekul udara atau yang mengapung diudara untuk pernapasannya sewaktu melayang diangkasa luas.
Tetapi terlepas dari semua itu, benarkah Nazwar Syamsu seorang yang Ingkarsunnah ?
Saya memiliki koleksi lengkap buku-buku seri Tauhid dan Logika karya beliau, dan memang tidak ada satupun hadis bisa dijumpai dalam buku-buku tersebut, semuanya penuh dengan al-Qur’an dan analisa ilmu pengetahuan alam, akan tetapi saat membaca bukunya berjudul : Islam tentang Puasa, Sholat dan Waktu, disana Nazwar Syamsu mengatakan bahwa sholat yang ia lakukan sama dengan yang dilakukan oleh umat Islam kebanyakan, sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Syiah, orang-orang Sunni dan sebagainya, baginya itu adalah sunnah yang terpelihara secara turun temurun.
Dengan demikian Nazwar Syamsu tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai kaum Ingkarsunnah, hal ini ditegaskan lagi oleh Lukmanulhakim Direktur PT. Ghalia Indonesia waktu itu bahwa ia dan Nazwar Syamsu hanya mengingkari hadis bukan sunnah.
Hadis betapapun berarti ucapan, perbuatan atau sikap Nabi yang kemudian dituliskan dan praktis mempunyai daya ikat. Sedangkan sunnah adalah tradisi yang tentu saja lebih abstrak, ia bisa lebih merupakan sesuatu yang tidak selalu harus di-ikuti secara pas betul, yang diambil terutama adalah semangatnya.
Kembali kepada saya pribadi, fenomena Nazwar Syamsu adalah sesuatu yang wajar dalam pencarian jati diri kebenaran, mungkin banyak tulisannya atas keilmiahan al-Qur’an secara rasio dan logika bisa saya terima akan tetapi sikapnya yang menolak hadis justru bagi saya adalah hal yang sama sekali tidak bisa diterima dengan menggunakan standar rasio dan logika yang sama. Nazwar Syamsu ibarat menghunus pedang sampai tajam dan dengan garangnya dia menebas semua yang merintangi jalannya namun akhirnya pedang itu dia tujukan kedirinya sendiri atau disisi lain ibarat orang Kristen yang percaya 1 + 1 + 1 = 3 tetapi dia sendiri menyatakan 1 + 1 + 1 = 1, sungguh logika yang justru tidak logika.
Adanya beragam hadis yang saling berbeda dalam hal isi dan cerita tidak tepat menjadi alasan penolakan total terhadapnya, hidup ini masing-masing punya 2 sisi yang saling seimbang satu dengan yang lainnya, hadis adalah sebuah catatan sejarah yang panjang dan melewati berbagai konflik politik sejak masa awal keberadaannya sebagai pegangan umat Islam kedua setelah al-Qur’an, karena itu sangat wajar bila ada pencampuran berbagai hal yang membuatnya saling bertentangan antara hadis yang satu dengan hadis yang lainnya dan bahkan memiliki banyak konfrontasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan sains modern, para perawi hadis bukan manusia yang maksum, terbebas dari salah dan dosa, betapapun salehnya kehidupan mereka, tetap saja mereka adalah manusia biasa, hanya orang-orang bodoh saja yang mengangkat mereka pada posisi suci tak tersentuh oleh noda dan dosa.
Kita hormati usaha yang dilakukan oleh para perawi hadis tersebut, karena jasa mereka maka banyak catatan sejarah mengenai jaman kenabian dan para sahabatnya bisa sampai ketangan kita pada hari ini namun ini belum langkah yang final sebab tugas kita masih berlanjut untuk terus menguji validitas hadis-hadis itu menggunakan metodologi modern, lepas dari hal-hal yang berbau sektarian, fanatisme madzhab atau taklid buta, dengan demikian maka setidaknya kita sudah lebih meminimalisir jumlah hadis-hadis lemah dan palsu untuk diwariskan pada generasi mendatang.
Rasulullah Saw bersabda :
Tidak wajar bagi orang yang bodoh berdiam diri atas kebodohannya. Dan tidak wajar bagi orang yang berilmu berdiam diri atas ilmunya. – Riwayat Thabrani
Rasulullah Saw bersabda :
Wahai manusia, pakailah akal untuk mengenal Tuhanmu. Nasehat menasehatilah dengan menggunakan akal, niscaya kamu mengetahui apa yang diperintahkan kepadamu dan apa yang dilarang. Ketahuilah, bahwa akal itu menolong kamu disisi Tuhanmu. Ketahuilah bahwa orang yang berakal adalah orang yang mentaati Allah. Meskipun mukanya cantik, dia orang besar, kedudukannya mulia, bentuknya bagus, lancar dan pandai bicaranya tetapi kera dan khinzir lebih berakal disisi Allah daripada orang yang mendurhakai-Nya. Engkau jangan tertipu dengan penghormatan penduduk dunia kepadamu, sebab mereka itu termasuk orang yang merugi. – Riwayat Daud bin al-Majar dari Abu Hurairah
Saat Allah menjadikan akal, Allah berkata kepada akal : ‘datanglah mendekat’ ; maka menghadaplah akal itu, kemudian Allah berkata kepadanya : ‘berangkatlah !’ ; maka akalpun pergi. Allah berfirman : Tidak ada makhluk yang Aku jadikan yang lebih Aku cintai melebihi engkau. Dengan engkau Aku mengambil dan dengan engkau pula Aku memberi !’ – Riwayat Abdullah bin Ahmad dari Hasan dan Thabrani dari Abu Hurairah
Rasulullah Saw bersabda :
Bertanya para malaikat kepada Allah : ‘Wahai Allah, adakah Engkau menjadikan sesuatu yang lebih besar dari ‘Arsy ? ; maka menjawab Allah : ‘Ada, yaitu akal ! ‘ ; bertanya malaikat lagi : ‘Sampai dimana batas kebesarannya ?’ ; menjawab Allah : ‘Tidak dapat dihinggakan dengan ilmu pengetahuan. Adakah bagimu pengetahuan tentang berapa jumlahnya pasir ? ‘ ; menjawab malaikat : ‘Tidak ! ‘ ; maka Allah berfirman : ‘Sesungguhnya Aku menjadikan akal itu bermacam-macam, seperti bilangan pasir. Sebagian manusia ada yang diberikan sebutir, sebagian ada yang diberikan dua butir, ada yang tiga dan empat butir. Diantara mereka ada yang diberi secupak dan adapula yang diberikan segantang dan adapula diantara mereka yang diberikan lebih banyak dari itu. – Riwayat Tirmidzi
Demikian saja kiranya sedikit kupasan mengenai ketokohan Nazwar Syamsu, semoga bisa bermanfaat dan menambah keluasan wawasan bersama,
%d bloggers like this: