Hukum Menyentuh Perempuan

Hukum Menyentuh Perempuan
Oleh : Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
“Jejak Nabi Palsu” & “Ramalan Imam Mahdi”

Muhrim atau lebih tepatnya disebut dengan istilah Mahram/Mahramun adalah lawan jenis.
Mahram terbagi menjadi 3 kelompok, 1. Karena Nasab, 2. Karena susuan dan 3. Karena pernikahan.

Kelompok Mahram karena Nasab (Detil ayat lihat An-Nisaa [4] :23) :

  1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas, baik jalur laki-laki maupun wanita.

  2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan, dan seterusnya, ke bawah baik dari jalur laki-laki-laki maupun perempuan.

  3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu.

  4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.

  5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.

  6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah ataui seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah, baik dari jalur laki-laki maupun wanita.

  7. Putri saudara laki-laki (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.

Kelompok Mahram karena susuan : Mencakup 7 individu diatas ditambah dasar sepersusuan (yakni satu ibu susuan, misal bila kita dahulu pernah menyusu atau disusui wanita lain selain ibu kita, seperti saya misalnya pernah menyusu dengan adik kandung ibu saya atau seperti kasus Nabi Muhammad dengan Hamzah, tetapi pastinya saudara sesusuan disini adalah lawan jenis karena sesama jenis tidak mungkin menikah ).

Kelompok Mahram karena pernikahan :

  1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas, berdasarkan surat an nisa:22

  2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan an nisa:23

  3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas, berdasarkan an nisa:23

  4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah), cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib (anak lelaki istri dari suami lain), berdasarkan surat an nisa :23

O.ya tentang menyentuh perempuan …

Firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat dalam keadaan lupa ingatan (mabuk) sampai kamu sadar (mengerti) apa yang kamu katakan dan jangan pula kamu memasuki tempat sholat itu sementara kamu dalam keadaan Junub kecuali sekedar melaluinya saja (lewat didekatnya) sampai kamu mandi, dan jika kamu sakit atau habis buang air atau kamu bersetubuh sedang kamu tidak mendapat air maka hendaklah kamu cari debu yang bersih, lalu hendaklah kamu sapu muka kamu dan tangan kamu karena sungguh Allah itu sangat memudahkan dan Maha mengampuni. – Qs. 4 an-Nisaa’ 43

Hai orang-orang yang beriman, bila kamu berdiri untuk sholat hendaklah kamu menyuci muka kamu dan tangan kamu sampai kesiku-sikunya dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dua mata kaki; dan jika kamu berjunub hendaklah kamu mandi; dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau selesai dari buang air atau kamu selesai bersetubuh tetapi kamu tidak mendapati air maka hendaklah kamu bertayamum … Qs. 5 al-Maaidah 6
Istilah Laamastumun Nisaa’ dalam surah an-Nisaa’ ayat 43 dan surah al-Maaidah ayat 6 tidak bisa diartikan secara harfiah batalnya wudhu hanya karena menyentuh atau bersenggolan dengan perempuan sebab kelanjutan ayat itu adalah adanya perintah mandi, ini menandakan bahwa menyentuh perempuan disini maksudnya bersetubuh. Dengan demikian, tidak batal wudhu hanya dengan bersentuhan biasa saja dengan perempuan.

Lebih jauh secara logika, ayat ini tidak membedakan status perempuan yang dengan bersenggolan saja bisa membatalkan wudhu, artinya bila kita bersentuhan dengan ibu kandung, adik kandung maupun istri maka akan batallah wudhu tadi. Sungguh ini akan menjadi sesuatu yang bertentangan dengan ayat-ayat al-qur’an yang menyatakan bahwa ibu kandung, adik perempuan maupun istri adalah mahram dari laki-laki.

Telah berkata ‘Aisyah : Nabi Saw pernah mencium salah seorang istrinya lalu beliau sholat, padahal beliau tidak mengulangi wudhunya lagi – Riwayat Nasai

Dari riwayat ‘Aisyah tersebut diatas maka diperoleh juga keterangan dimana Nabi SAW sendiri justru pernah mencium istrinya dan tidak mengulangi wudhunya karena hal itu. Logika lain bisa diambil pada waktu melaksanakan ibadah haji lebih-lebih waktu tawaf, disana bercampur baur antara laki-laki dan wanita baik yang mahramnya ataupun bukan dan selama prosesi haji ini tidak bisa dihindari ketersentuhan antara pria dan wanita (terlepas apakah memiliki nafsu atau tidak) dan tetap saja ini tidak membatalkan wudhu masing-masing. Coba jika dengan bersentuhan saja wudhu menjadi batal, alangkah repotnya ribuan bahkan jutaan jemaah haji ini untuk antri mengambil air wudhu.

4 Responses

  1. aduh yang ku maksud tu menyentuh perempuan tu hukumnya gimana???? apakah dilarang atau tidak. dalam hal ini adalah bukan mahromnya

  2. kan udah jelas om..

    klo ga termasuk 3 kriteria di atas sebenernya haram 0_0

  3. asalamualaikum. saya mau bertanya. batalkah wudhu saya, bila bersalaman dengan anak tiri kakak saya

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: