Hukum ucapan Selamat Natal

Hukum Ucapan Selamat Natal

Oleh : Armansyah

Hal yang harusnya mendapatkan perhatian dan menjadi pemikiran bersama menurut hemat saya adalah mencoba melakukan rekonstruksi dari makna dan tujuan dari ucapan salam atau selamat natal itu sendiri kepada orang-orang Kristiani.

Pertama-tama, arti ucapan salam adalah selamat atau keselamatan.
Tentu yang dimaksud mula-mula dari kata ini tidak lain dari keselamatan yang datangnya dari Allah.

Saat kita menyebut kata “Assalamu’alaykum” maka ini artinya kurang lebih “semoga keselamatan dari Allah atas dirimu” (walaupun harfiahnya kata-kata “dari Allah” merupakan sisipan dari makna).

Dari arti ucapan salam tersebut maka akan dipahami bahwa kalimat ini adalah do’a yang ditujukan dari kita kepada lawan bicara, lagi-lagi dengan makna agar orang tersebut selamat (tentu selamat dunia dan akhirat), implikasi dari keselamatan tersebut adalah orang ini diampuni kesalahan maupun perbuatannya.

Dalam kaitannya pengucapan salam untuk orang Islam, kalimat-kalimat semacam ini tidak menemui permasalahan apapun sebab akidah ketuhanannya sama yaitu Tauhid.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS AL-Baqarah (2) : 286)

Lalu bagaimana bila kemudian diucapkan kepada orang non Islam atau orang yang menolak mengakui Allah sebagai Tuhannya dan memilih tenggelam didalam kesombongan dan keegoisan dirinya meskipun dia mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah salah dan tidak rasional ?

Al-Qur’an memberi pelajaran kepada kita melalui kisah Nabi Musa dan Fir’aun manakala beliau menjumpainya diistana :

Maka datanglah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk -. Salamun ‘ala manittaba al Huda – (QS Thaha (20) :47)

ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ูฐ ู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุจูŽุนูŽ ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ูฐ

Ucapan salam dari Nabi Musa dan Harun tersebut selanjutnya diterapkan juga oleh Nabi Muhammad dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada berbagai penguasa pada jamannya untuk memeluk Islam (salah satunya adalah surat kepada raja Romawi).

Dari sini kita mendapatkan hikmah bahwaย  bagi orang-orang sejenis Fir’aun yang menolak konsepsi Tauhid maka salam yang diberikan sepantasnya adalah do’a agar yang bersangkutan mendapatkan petunjuk dari Allah. Jelas maksud disini adalah petunjuk kepada kebenaran Islam sehingga keselamatan itu benar-benar terwujud.

Setelah kita mengetahui hal ini, maka selanjutnya hal yang kita rekonstruksi adalah hakekat dari Natal. Tentu kita tidak akan lari dari konteks pemahaman ataupun pemikiran orang yang merayakan natal itu sendiri yaitu umat Kristiani.

Natal bagi mereka adalah hari kelahiran Tuhan yaitu Tuhan yang bernama Yesus.

Dari sisi pemahaman tersebut maka jelas bertentangan dengan konsepsi Tauhid Islam sebab didalam Islam Tuhan tidak pernah dilahirkan atau melahirkan, Yesuspun dalam teologi Islam adalah Nabi Isa al-Masih seorang manusia biasa yang diangkat sebagai Rasul bagi Bani Israel. Isa alias Yesus bukan Tuhan.

Maka bila kemudian kita memberikan do’a dalam bentuk ucapan “Selamat Natal” kepada orang-orang Kristiani maka setidaknya sudah ada 2 hal yang kita langgar dari prinsip fundamental Islam.

1. Mendo’akan agar orang kafir itu selamat dunia dan akhirat, padahal keselamatan hanya bagi orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya

2. Secara tidak langsung menyetujui konsepsi bahwa Tuhan pernah dilahirkan dalam wujud makhluk yang bernama Yesus, padahal Allah Maha Suci dari semua itu dan al-Masih putera Maryam hanyalah Rasul-Nya.

Ilustrasi

Bagaimana mungkin setelah kita tahu hal ini masih berani untuk melakukannya ?
Alasan toleransi adalah alasan klasik yang sudah basi, sebab toleransi tidak harus diwujudkan dalam bentuk ucapan selamat atau do’a.

Toleransi dapat berwujud perhatian dalam bentuk sosial, saling bantu membantu dalam perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang mungkar, mengajaknya kejalan Tuhan melalui diskusi yang positip dan benar serta hal-hal lainnya. Tidak perlu mencari alibi atau alasan seperti : anggap saja kita bersyukur dan mengenang hari lahirnya Nabi Isa. Jelas ini argumen yang goblog, kenapa harus tanggal 25 Desember ? Jelas makna natal ini harus dilihat dari mereka yang merayakannya bukan dari sisi kita, apakah mereka menganggap hari natal adalah hari lahirnya Nabi Isa sebagai seorang Rasul Allah dan manusia biasa ataukah selaku hari lahirnya Tuhan yang menjelma dalam bentuk daging ?


Advertisements

6 Responses

  1. kesimpulannya kok ngambang banget yah…. ๐Ÿ˜ฆ

  2. Kesimpulannya nggak boleh mas.

  3. assalamualaikum. Wr. Wb
    pak ustadz mo nanya neh.
    ibu saya adlh seorg kristiani yg taat kpd ajaran agamanya, sedangkan saya sendiri adlh muslim. bagaimana hukum ucapan slmt natal pd kasus saya? apakah saya juga tdk blh ikut mengucapkan slmt natal kpd ibi saya sedangkan dlm hukum islam dikatakan org tua yg masuk surga itu adlah slh satu dr doa anaknya yg soleh bukankah dgn mengucpakn slmt natal sy ikut mendoakan ibu saya?
    mohon dijawab abis bingung seh…^^

  4. Firman Allah :

    Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapak-nya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. (QS. Al-Ankaabut [29] :8)

    Dari firman diatas, maka kita diberi batasan untuk hormat dan patuh serta berbuat kebaikan pada orang tua kita sendiri. Batasan itu tidak lain adalah kesepahaman kita tentang Allah dan eksistensi-Nya.

    Selama kita tidak mencampur adukkan antara Tauhid dan pemberhalaan maka kita justru ditekankan untuk patuh dan hormat pada orang tua sekalipun mereka beda agama. Oleh sebab itu, ucapan selamat Natal pada orang tua tetap tidak bisa dibenarkan ditinjau dari sudut Al-Qur’an.

    Perhatikan firman Allah berikut :

    Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Israa [17] : 23-24)

    Diayat ini, esensi Tauhid ditekankan lebih dahulu pada bagian awal ayat baru kemudian masuk pada perintah penghormatan pada orang tua.

    Jadi, tanpa ucapan selamat natal, kita sebenarnya tetap bisa menghormati dan melayani orang tua kita. Kita bisa mendoakan mereka agar mendapat hidayah Allah kedalam Islam.

    O.ya, saya tekankan juga, meski kita tidak mengucap selamat natal, jangan sampai juga kita berkata kasar atau bersikap kasar dengan mereka. Itulah perintah Al-Qur’an.

  5. sebelum kita(baca:saya) memulai membahas mengenai hukum ucapan selamat natal. perlu rasanya kita keluar dulu dari lubang kebodohan. yaitu mempertanyakan. siapa sih yang pertama kali yang mencetuskan ucapan/pertanyaa hukum mengucapkan selamat natal? kenap bisa terucap gitu loh? itu yang harus kita cari. dan yang bikin saya hingga kini sampai tidak bisa mengerti adalah orang kristen sendiri tidak menyuruh,meminta kita mengucapkan ucapan tersebut ke mereka apalagi mempermasalahkannya, mereka fine2 ajah sementara kita disini yang ribut2 mengenai hukumnya. (aneh) apa karena mereka tetangga/masyarakt sosial seperti kita juga jadi harus mendapatkan hak seperti itu?

    pandangan saya lebih jauh……………….ke depan…………….
    masalah ini terletak pada ketertinggalan dan runtuhnya jati diri kita sebagai umat yang paling disegani di dunia. sehingga selalu merasa tidak enak ke umat lain (yang lebih maju) bila tidak melakukan hal yang serupa dengan mereka.

    contoh: di mekah dan madinah saja yang tak terhitung jumlah nasharaninya, tidak ada hal semacam ini, padahal mereka hadir di tengah nabi saw. perntanyaan sekarang,apakah nabi seumur hidupnya mengucapkan ucapan selamat hari masehi/natal kepada mereka yang berbeda keyakinan. dan apakah mereka (nasharani) mengucapkan hal yang serupa?
    tau kenapa?

    karena allah berfirman;

    ู„ูƒู… ุฏูŠู†ูƒู… ูˆู„ูŠุฏูŠู†
    mereka mengerti maksudnya dan menjalankannya dan mereka punya harga diri yang tinggi untuk tidak melanggarnya.

    ini yang selalu saya teriakan, dan saya kira dalam beberapa tahun lagi akan mucul pertanyaan, apa hukumnya ini apa hukumnya itu? ujung-ujungnya kalau duusut yah kembali seperti yang saya katakan tadi…..masalah ini dibuat sendiri oleh umat islam……kemudian ulama dijadikan tumbal untuk meminta fatwa….yang ujung2nya ngga juga didengerin apalagi dilaksanakan….

    salam
    sokateist

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: