Jawaban untuk artikel MOHAMAD GUNTUR ROMLI

JAWABAN UNTUK ARTIKEL MOHAMAD GUNTUR ROMLI

“Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah”

Oleh : ARMANSYAH

السَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ

 

Ini adalah yang ke-7 kalinya saya menulis jawaban terhadap artikel-artikel yang diterbitkan oleh komunitas Jaringan Islam Liberal (JIL) melalui website mereka di http://islamlib.com ; kali ini saya akan memberikan tanggapan atas tulisan Sdr. Mohamad Guntur Romli yang dimuat dialamat

http://www.korantempo.com/korantempo/2007/05/04/Opini/krn,20070504,72.id.html dengan judul : Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah.

Artikel Guntur Romli di Koran Tempo

Mungkin terlambat karena artikel tersebut sudah cukup lama dipublish dan mendapat beragam komentar, namun seperti kata pepatah : lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Semoga jawaban saya ini bisa ikut menambah pencerahan atas semua bentuk pemurtadan yang terselubung melalui artikel tersebut.

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.,

Sdr. Guntur Romli :

Pewahyuan adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya. Ia bukanlah proses yang tunggal. Al-Quran sendiri menegaskan gagasan ini. Ketika Al-Quran berbicara tentang pewahyuan, baik dengan kata “mewahyukan” (awha) maupun “menurunkan” (anzala, nazzala) Al-Quran, digunakan kata nahnu: berarti kami–sebagai subyek–seperti dalam awhayna (kami telah mewahyukan) ataupun anzalna, nazzalna (kami telah menurunkan). Dalam Al-Mu’jam al-Mufahhras li Alfadzil Qur’an, kata awhaytu (aku mewahyukan) hanya dipakai delapan kali, sedangkan awhayna (kami mewahyukan) digunakan lebih dari 30 kali.

Kata “kami” adalah bentuk plural. Pertanyaannya, siapakah yang disebut “kami” dalam ayat-ayat itu? Para mufasir klasik yang berkeras pada doktrin ketunggalan dalam pewahyuan menolak memahami “kami” sebagai pluralitas dalam pewahyuan. Menurut mereka, meskipun “kami” bentuknya plural, konotasinya pada Dia Yang Tunggal, kata “kami” bertujuan lit ta’dzim (memuliakan) “si pembicara”.

Namun, pendapat ini, menurut hemat saya, rancu. Kata “kami”, bila digunakan sebagai pengganti “saya” atau “aku” untuk memuliakan “lawan bicara”, bukan “si pembicara”. Misalnya, seorang menteri tidak akan menggunakan kata “aku/saya telah melakukan” di depan presidennya, tapi mengatakan “kami telah melakukan”. Sebab, selain menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicara, menandakan pengakuan, karena apa yang telah ia lakukan bukanlah hasil kerjanya sendiri, melainkan kerja kolektif.

Dalam tradisi tafsir klasik, menafsirkan istilah “kami” yang merujuk kepada Allah, Roh Kudus Jibril, dan Muhammad lazim kita temukan. Dalam pandangan ini, Al-Quran secara “maknawi” bersumber dari Tuhan, tapi secara lughawi (redaksi bahasa) disusun oleh Malaikat Jibril atau Nabi Muhammad: Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril, dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.

Pendapat ini berdasarkan sambungan sebaris ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Quran: wa inna lahu lahafidzun, “dan sesungguhnya kami pula yang akan menjaganya (Al-Quran)”. Di sini proses turunnya Al-Quran, sebagaimana proses penjagaannya, melibatkan “kerja kolektif” antara Tuhan dan manusia. Proses penjagaan (autentisitas) Al-Quran oleh manusia berbentuk hafalan dan tulisan.

Pewahyuan yang plural itu bisa ditegaskan lebih lanjut dengan menggunakan kajian sejarah yang melibatkan konteks sejarah, masyarakat, tradisi, dan lingkungan. Pewahyuan dari konteks ini, menurut saya, bisa lebih menegaskan klaim Al-Quran sendiri, yang menggunakan kata “kami” yang plural, bukan “aku” yang tunggal.

Tanggapan saya :

Bahwa apa yang disampaikan oleh Sdr. Guntur Romli tidak sepenuhnya salah. Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular ( misalnya ana ), dan ada kata ganti pertama plural ( misalnya nahnu ). Sama dengan tata bahasa lainnya seperti Inggris dengan kata ganti pertamanya “I” atau kata ganti pertama plural “We”. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular. Dalam ilmu “nahwu-sharaf”, hal demikian ini disebut “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri. Dalam kaitannya dengan penghormatan terhadap lawan bicara seperti yang dinyatakan oleh Sdr. Guntur Romli harusnya bukan merujuk pada diri sipembicara itu sendiri tetapi merujuk pada lawan bicara, seperti misalnya ketika kita menyebut kata “kamu” dengan “Antum”  dan bukan “Anta” meskipun lawan bicara kita itu hanya satu orang.

Sehingga sama sekali tidak rancu apabila dipahami penggunaan kata “Kami” atau “NAHNU” dalam kaitannya kepada diri Tuhan yang dipakai pada al-Qur’an adalah bentuk jamak yang seringkali sifatnya menunjukkan penghormatan dan keagungan-Nya dan bukan sebagai bentuk jamak dari Dzat-Nya ataupun harus selalu berkonotasikan keterlibatan makhluk diluar Dia. Memang adakalanya kata “KAMI” melibatkan unsur makhluk (kerja kolektif) dalam prosesnya. Ini bisa kita lihat misalnya dalam ayat-ayat berikut :


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS AL-Hijr (15) :9)

 Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS AL-Israa (17) :106)

 Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS AD-Dukhaan (44) :3)

 Allah mengakui al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. (QS AN-Nisa’ (4) :166)

Secara tekstual ayat-ayat tersebut berbicara mengenai proses turunnya al-Qur’an pada Nabi Muhammad dan kontekstual dari ayat-ayat ini merujuk pada kejadian dimana Allah memang bekerja secara kolektif dengan melibatkan Jibril sebagai perantara diri-Nya kepada sang Nabi. Kita bisa mengambil persamaan sistem kerja kolektif Allah ini juga terhadap ayat berikut :

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (QS AR-Ra’d (13) :11)

Sehingga apa yang menjadi argumentasi Sdr. Guntur Romli bahwa al-Qur’an itu secara maknawi bersumber dari Allah dan redaksionalnya hasil kompilasi Jibril dengan Muhammad tidak dapat dibenarkan. Malaikat dalam kasus-kasus ini adalah bertindak sebagai penyambung lidah dari Dzat Yang Maha Halus kepada hamba-Nya Muhammad.

Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah … tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (QS Yunus (10) :37)

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu”, Katakanlah:” (Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (QS Huud (11) :13)

Ruhul Qudus menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar (QS AN-Nahl (16) :102)

Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS AZ-Zukhruf  43:4)

Kita tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa jika yang dimaksud sebagai originalitas wahyu itu terletak pada tulisannya, maka sejarah membuktikan bahwa penulisan al-Qur’an mengalami perubahan demi perubahan dalam menuju kesempurnaan tata bahasa yang ada pada peradaban manusia khususnya pada bahasa Arab, dimana huruf Arab mengalami perkembangan (ber-evolusi) dari sebelum ada tanda baca menjadi ada tanda bacanya, dari sebelum ada ditulis batas pemberhentian pembacaan menjadi ada batasnya dan seterusnya, misalnya, kata Ya’lamu dalam huruf Arab gundul, bisa dibaca Yu’limu, Yu’allimu, Yu’lamu maupun Yu’allamu yang membuatnya bisa berbeda arti.

Karenanya yang dimaksud sebagai wahyu yang terjaga adalah isi, pesan keilmuan dan dan cara membaca dari al-Qur’an itu sendiri. Bila kemudian Sdr. Guntur menyatakan bahwa redaksi al-Qur’an merupakan sebuah kompilasi bersama antara Allah, Jibril dan Muhammad maka disinilah letak kelirunya.

Sebab secara umum yang diyakini oleh umat Islam, redaksi al-Qur’an yang berasal dari Allah tidak mengalami perubahan dalam proses konversi kepada Jibril dan juga kepada Muhammad. Misalnya secara sederhana adalah perkataan : Yaa Ayyuhannas maka Yaa Ayyuhannas itulah yang tetap dipertahankan redaksinya dari Jibril kepada Muhammad sampai kemudian dikonversi dalam bentuk tulisan al-Qur’an sampai jaman sekarang ini, tidak malah diubah dari Yaa Ayyuhannas menjadi Yaa Ayyunal-Insan meskipun keduanya memiliki arti yang serupa, atau dari kata Minal Jinnati Wannas diubah menjadi Minannas wal Jinni meskipun sekali lagi keduanya tidak berbeda dari sisi arti atau maknawi.

Adapun penggunaan kata nahnu atau Kami dalam artian keterlibatan makhluk yang dirujuk oleh al-Qur’an bukan dalam hal peredaksiannya tetapi lebih kepada proses yang terjadi secara empiris terhadap redaksional itu sendiri. Sebagai contoh adalah ketika Allah merujuk penjagaan al-Qur’an dalam surah al-Hijr ayat 99 yang merupakan bentuk ataupun cara dari keterjagaan redaksional wahyu melalui usaha penghafalan umat Muslim dalam berbagai bentuknya termasuk disetiap pembacaan dan pengulangan ayat-ayat al-Qur’an disetiap salat, perlombaan musabaqoh tilawatil Qur’an yang menghasilkan Qori dan Qori’ah yang hafidz Qur’an dan sebagainya. Contoh lainnya bisa juga diambil dari cerita penciptaan manusia seperti dalam surah al-Hujurat ayat 13 yang merupakan mekanisme kerja Allah yang menggunakan proses dan hukum sebab-akibat dan seterusnya sebagaimana yang bisa kita pelajari di ilmu-ilmu biologi dan kedokteran.

Tetapi yang jelas bahwa bila itu dirujuk kepada bentuk jamak maupun pluralitas esensi Tuhan itu sendiri maka jelas pemahaman yang menyimpang. Lah ketika kita berpidato ditengah orang banyak saja sering kita menyebut diri kita dengan kata-kata “Kami”, ini bisa ditinjau juga sebagai salah satu bentuk kesopanan dalam bertutur kata.

Sdr. Guntur Romli :

Kisah dalam Al-Quran

Saya akan mengambil contoh kisah-kisah yang banyak dimuat Al-Quran. Dua pertiga isi Al-Quran adalah tentang kisah yang bersumber dari konteks tempat wahyu itu turun: kisah-kisah yang diperbincangkan di pasar-pasar, di sela-sela transaksi dan safari perniagaan, ataupun dongeng yang diwariskan secara turun-temurun. Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya: sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’).

Tanggapan saya :

Memang tidak juga kita pungkiri apabila wahyu tidak mungkin bisa terlepas dari faktor kesejarahan dan kontekstualnya. Banyak ayat-ayat al-Qur’an bercerita tentang sejarah masa lalu umat manusia, baik itu yang memiliki kaitan dengan cerita-cerita yang dianggap sebagai dongeng-dongeng tertentu yang tidak terlalu jelas maupun yang melibatkan pengetahuan empiris manusia dengan manuskrip pembanding yang bisa dijumpai. Tetapi apakah al-Qur’an secara otomatis bisa disebut sebagai produk budaya hanya karena al-Qur’an dianggap mengadopsi atau menyadur kedua faktor tadi maka itulah yang rasanya tidak tepat dalam penganalisaan Sdr. Guntur.

Seluruh ayat sejarah yang ada dalam al-Qur’an anggap saja merupakan adopsi atau rewrited dari sejarah-sejarah peradaban yang pernah berlaku dimasa lalu, namun dalam konteks penulisan ulang sejarah yang pernah ada itu dan mungkin sudah terlupakan atau terhilangkan atau boleh jadi juga tinggal lagi sebatas dongeng pengantar tidur malam akibat perjalanan jaman seperti kisah kaum ‘aad, Iram dan sebagainya tetap merupakan sejarah yang sesungguhnya pernah terjadi sesuai hasil-hasil penggalian arkeologis terkini. Dalam hal seperti ini maka penceritaan ulang dari al-Qur’an sama sekali pasti terlepas dari unsur versi penggalan sejarah mana yang mayoritas ataupun minoritas.

Sdr. Guntur Romli :

Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan kisah-kisah yang sudah populer pada zaman itu. Al-Quran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang benar-benar baru. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran.

Tanggapan saya :

 

Dalam tinjauan psikologi, seseorang yang menjadi target suatu pengajaran tentu lebih mudah menerima konsepsi penyampaian dakwah tersebut bila apa yang diajarkan kepadanya tidak terlalu asing ditelinga maupun pemikirannya. Metode inilah kiranya yang juga diterapkan oleh al-Qur’an dalam banyak ayat-ayatnya untuk disampaikan oleh Muhammad kepada masyarakat pada masanya ataupun juga pada masa-masa sesudahnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi karena cerita-cerita dari daerah yang oleh Sdr. Guntur disebut sebagai “Bulan Sabit Subur” telah melintasi batas-batas daerahnya masing-masing.

Sebagai contoh ajaran Yahudi dan Kristiani pada masa Muhammad diangkat sebagai Rasul telah dikenal oleh masyarakat diluar komunitas bangsa Israel bahkan sudah masuk kebenua Asia dan Eropa. Cerita tentang Musa dan Isa dengan mukjizatnya masing-masing telah akrab ditelinga anak manusia diberbagai benua, apalagi dengan tersebarnya komunitas Israel sejak masa pembuangan mereka dan perantauan Nabi Isa al-Masih putera Maryam serta para sahabatnya untuk berdakwah tentang monotheisme Tuhan terhadap bangsa Diaspora tersebut.

 

Diluar pewahyuan redaksional al-Qur’an, telah sampai juga kepada kita riwayat dari Imam Baihaqi yang dirujukkan sebagai sabda Nabi Muhammad tentang perintah menuntut ilmu sampai kenegeri Cina untuk umat Islam. Hal ini semakin membantah pendapat Sdr. Guntur sebelumnya bahwa Islam tidak pernah kenal dengan masyarakat Cina, adanya hadis tersebut dari tinjauan sejarah membuktikan bila Nabi Muhammad ternyata sudah mengenal komunitas Cina diwaktu beliau hidup, bahkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Kasbah, tercatat sebagai orang pertama yang mendirikan masjid di Kanton.

Ilustrasi

Pada tahun 632 M, Abu Kasbah kembali ke Madinah untuk melaporkan keadaan negri Tiongkok kepada Nabi SAW, tetapi kedatangannya ke Madinah itu ternyata terlambat sebulan dari saat wafatnya Nabi, selanjutnya Abu Kasbah kembali ke Tiongkok dan meninggal disana. Ekspedisi Islam ke Cina sendiri secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Usman bin Affan, lebih kurang 12 tahun setelah Nabi wafat (+/- 640 M).

Setelah menaklukkan Bizantium dan Persia, pada tahun 650 M, Usman mengirim ekspedisi ke Cina, dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash untuk menyampaikan ajakan kepada kaisar Cina yang bernama Yong Hui agar memeluk agama Islam sekaligus merupakan langkah taktis Usman atas sikap sang kaisar yang membantu Khosru Yezdegird III (632-651M) dari imperium Parsi untuk merebut wilayah Khurasan dan ibukotanya ibukota Merv dari tangan pasukan Muslim pimpinan Panglima Ahnaf ibn Kais Al Tamimi yang berhasil memukul mundur pasukan gabungan Cina dan Persia tersebut,  Perjalanan Saad bin Abi Waqqash sendiri tercatat dalam kitab Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi) yang ditulis oleh Lui Tschih, penulis muslim Tionghoa pada abad ke-18.

Disisi lain, sejak masa Dinasti Tang berkuasa di Cina (618-905M), mereka sudah menyediakan tempat kediaman khusus bagi orang asing di Bandar Kwang Chow (Kanton), yaitu Chang Chow dan Chuan Chow. Bandar di Kanton itu berada di Kwantung dan dua yang lain berada di Fukien.

Orang-orang asing non Cina seperti Arab, Persia, Yahudi atau juga  Kristen non-Yahudi, diizinkan berdagang dengan orang Cina di bandar-bandar yang telah ditetapkan tersebut. Ada pula cerita bahwa pada tahun 618 M saat Nabi menyuruh sahabatnya yang dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib dari Mekkah untuk berhijrah ke Ethiopia dalam rangka menyelamatkan diri dari siksaan kaum kafir Mekkah, salah seorang dari mereka yang bernama Saad bin Lubaid telah berlayar dari Teluk Aden ke wilayah lain sampai di bandar Kwang Chow (Kanton) dan menyebarkan Islam disana.

 

Begitupula halnya dengan India, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad sangat mengenal negeri tersebut dimasa beliau masih hidup. Hal ini terbukti dengan adanya naskah yang menceritakan tentang masuk Islamnya salah satu raja dari Malabar India yang bernama Chakrawati Farmas setelah beliau menyaksikan mukjizat Nabi membelah bulan dari istananya*. Naskah tersebut diperkuat juga oleh sebuah riwayat yang berasal dari al-Hakim dalam kitabnya Musthadrak dari Abu Said al-Khudri. Salah seorang sahabat Nabi bernama Malik bin Dinar hijrah kedaerah Mangalore dan wafat diKasaragod, dan mendirikan sebuah masjid yang masih ada sampai hari ini bernama Cheraman Malik Masjid. Dengan demikian maka argumentasi yang diberikan oleh Sdr. Guntur sama sekali tidak sesuai dengan fakta dan sejarah yang berlaku.

Sdr. Guntur Romli :

Kisah Nabi Isa

Bukti lain bahwa Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah Nabi Isa dalam Al-Quran berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Quran, Isa (Yesus) hanyalah seorang rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya. Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon. Bagi kelompok Kristen mayoritas yang menyatakan Isa (Yesus) mati disalib, sekte Ebyon adalah sekte Kristen yang bidah.

Tanggapan saya :

 

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelum ini, bahwa penceritaan ulang dari al-Qur’an sama sekali pasti terlepas dari unsur versi penggalan sejarah mana yang mayoritas ataupun minoritas dimasyarakat. Berbicara versi maka artinya kita masuk kedalam pembicaraan legenda atau sesuatu yang bisa benar dan bisa juga salah. Implikasinya akan ada versi a dan versi b sampai versi tak hingga yang masing-masing bisa jadi saling berselisihan.

 

Jika Sdr. Guntur Romli kemudian mengatakan bahwa adopsi sejarah penyaliban Isa al-Masih didalam al-Qur’an diambil dari versi sejarah sekte kristen Ebyon maka ini terlepas dari unsur-unsur kepentingan apapun, sebab ini realitas sejarah. Bila kemudian sekte Ebyon punya kesamaan versi dengan al-Qur’an, maka bisa jadi versi Ebyon itu juga adalah versi yang sebenarnya terjadi dalam pentas sejarah Isa al-Masih meskipun sekte ini dalam dunia teologi Kristen adalah sekte yang menyimpang atau bidat.

Sekte Ebyon bukan satu-satunya sekte dalam Kristen yang berpaham seperti itu, paham sekte Basilides adalah satu dari sejumlah paham yang menyetujui konsepsi Ebyon tentang tidak tersalibnya Isa. Hanya saja yang menjadi rancu, sekte Basilides tidak hanya menolak penyaliban namun juga memahami bahwa Tuhannya Isa dengan Tuhannya Perjanjian Lama (yaitu Tuhannya Musa) adalah dua Tuhan yang berbeda sehingga Basilides berusaha menolak pemahaman Isa sebagai anak Tuhan yang dijadikan korban kekejaman Tuhan Perjanjian Lama yang haus dengan pengorbanan.

Karena itu saya lebih melihat pandangan Basilides jauh dari rasional yang bisa dijadikan pegangan kebenaran. Memang menarik bahwa banyak juga manuskrip tua yang diduga berasal dari jamannya Isa al-Masih, namun, teks-teks tua di Qumran dan beberapa tradisi diluarnya ( termasuk seputar keberadaan histori Yus Asaf di India dan juga di Himalaya ) perlu untuk menjadi pembanding pemahaman antara sekte Ebyon dengan konsepsi Kristen secara umum terhadap konsepsi al-Qur’an.

Kembali pada al-Qur’an, jika kita bijak melihat redaksi ayat yang menceritakan penyaliban, justru Qur’an tidak menolak peristiwa itu pernah berlaku terhadap Isa al-Masih sebagaimana dipahami umat Kristen hanya saja apakah dalam prosesnya tersebut Isa al-Masih benar-benar berhasil disalibkan dalam arti yang sesungguhnya ataukah hanya sebatas praduga semata, inilah yang kemudian dijelaskan oleh al-Qur’an. Intinya adalah bahwa penyerupaan Nabi Isa dengan sosok lain dalam peristiwa penyaliban sebagaimana yang dipercayai secara umum oleh mayoritas umat Islam justru tidak bisa dibuktikan oleh al-Qur’an sendiri.

Saya sudah membuat artikel khusus untuk masalah ini, silahkan baca tulisan saya dengan judul “Apakah Nabi Isa disamarkan wajahnya” pada link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/12/apakah-nabi-isa-disamarkan-wajahnya/ dan juga “Misteri Penyaliban Nabi Isa” pada link : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/misteri-penyaliban-nabi-isa/

Sdr. Guntur Romli :

Saya menjumpai adanya sekte Ebyon ini dalam buku Dinasti Yesus (2007) karya James D. Tabor. Menurut Tabor, sekte ini memiliki keyakinan yang mirip dengan keyakinan Islam dan berbeda dari Gereja Roma (lihat di bagian Konklusi di buku Tabor). Malah, menurut Tabor, sekte inilah ahli waris ajaran-ajaran kuno Yesus sebelum bercampur baur dengan ajaran Paulus. Tabor juga berasumsi bahwa Ebyon inilah yang memiliki kontak dengan Islam dan Nabi Muhammad.

Tanggapan saya :

 

Pertanyaan balik dari saya untuk Sdr. Guntur Romli dan juga James D. Tabor, apakah anda bisa membuktikan dari sisi kesejarahan bila memang Muhammad pada masanya memiliki kontak dengan Sekte Ebyon ini ? Banyak dari tulisan James D. Tabor dalam buku Dinasti Yesus hanyalah asumsi-asumsi saja yang sama sekali tidak berakar pada realitas sejarah, hal ini secara panjang lebar sudah saya bahas dalam buku Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus (2007).

Sdr. Guntur Romli :

Namun dalam konklusi yang sangat pendek itu, Tabor tidak mengulas secara detail persamaan keyakinan Ebyon dan Islam, khususnya dalam peristiwa yang sangat krusial, yaitu penyaliban Yesus. Bagi para peneliti Yesus Sejarah, penyaliban Yesus adalah fakta sejarah, sedangkan bagi Ebyon–sepanjang pengetahuan saya terhadap akidah sekte ini dari beberapa literatur sejarah Arab dan Kristen–memang mirip dengan akidah Islam serta menolak cerita penyaliban Yesus.

 Tanggapan saya :

Jawaban anda diatas sebenarnya bisa menjawab sendiri argumentasi anda yang pincang tentang kaitan Muhammad dengan Sekte Ebyon. Dimana kita tidak bisa mengambil kesimpulan mengenai asumsi yang belum jelas kebenarannya karena Tabor belum mengulas secara jelas keyakinan Ebyon dengan Islam, sehingga semua ini hanya sebatas praduga saja. Dengan demikian dugaan dan argumentasi anda bahwa Islam mengambil ajaran sekte Ebyon sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. (QS Yunus (10) :66)

Sdr. Guntur Romli :

Sejarah dan doktrin sekte Ebyon di Arab ini bisa ditemukan dalam buku Dr Jawwad Ali al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab Qablal Islam (Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam) dalam empat jilid dan buku Al-Nashraniyah wa Adabuha Bayna ‘Arab al-Jahiliyah (Sejarah dan Sastra Kristen di Era Arab Jahiliyah) dalam dua jilid, karya Al-Abb Luwis Syaikhu al-Yasu’i, seorang Romo Katolik Jesuit. Demikian juga dalam Al-Mawsu’ah Tarikh Aqbath Mishr (Ensiklopedi Sejarah Koptik Mesir).

Pada zaman Nabi Muhammad tidak hanya sekte Ebyon yang tersebar di Jazirah Arab. Ada dua sekte Kristen lain yang jauh lebih besar: Manofisit dan Nestorian, sebagai kelompok terbesar Gereja Timur yang berlawanan dengan Gereja Roma. Namun, kedua sekte itu (Manofisit dan Nestorian) tetap memiliki pandangan bahwa Yesus mati disalib. Hanya, keyakinan Ebyonlah yang benar-benar berbeda: Isa bukan anak Tuhan, ia hanya Rasul, dan matinya tidak disalib.

Tanggapan saya :

 

Walaupun sekte-sekte Kristen tersebar diseluruh jazirah Arabia pada masa itu, namun fakta yang tidak bisa dipungkiri bila mayoritas penduduk Mekkah pada jaman kenabian Muhammad justru tidak menganut ajaran Kristen, mereka memberhalakan Latta dan Uzza. Ajaran Islam tentang tidak matinya Isa diatas kayu salib serta paham kerasulan Isa al-Masih adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun juga sekalipun itu dengan membawa argumentasi dari kitab-kitab Perjanjian Baru.

Bahwa adanya konsepsi tentang Isa sebagai anak Tuhan dan Isa mati tersalib dalam teologi Kristen sudah diluar tektual dan kontekstual kitab-kitab itu sendiri. Mereka hanya menafsirkan dari ayat-ayat yang bercerita tentang jasad Isa yang tak berdaya diatas kayu salib setelah penikaman oleh tentara Romawi maupun sesudah beliau diberi minuman tertentu, akan tetapi dalam banyak ayat yang bercerita paska kejadian itu membuktikan kepada kita bila ternyata Nabi Isa justru berhasil selamat dari kematian yang ditimpakan kepadanya. Begitupun dengan doktrin keanak tuhanan dirinya, Nabi Isa al-Masih tidak pernah menyinggung hal-hal yang demikian kecuali dalam makna yang metafora sebagaimana istilah-istilah sejenis juga akrab dijumpai dalam khasanah kitab Perjanjian Lama.

Pengujian terhadap Yesus sejarah (Historical of Jesus) telah berjalan dari masa ke masa. Albert Scheweitzer merupakan pelopor sekaligus pakar sejarah Yesus. Selain dari Albert, tercatat pula John Dominic Crossan dengan bukunya “Quest Historical of Jesus” yang beberapa teori beliau telah di jelaskan dengan gamblang oleh Ioanes Rakhmat di dalam bukunya “Quest Historical of Jesus according Crossan thory”. Para pakar di Barat selama kurun waktu terakhir terus menguji beberapa dogma gereja seperti kematian Yesus, kebangkitan Yesus, serta Kenaikan Yesus kelangit. Beberapa pakar justru dengan tegas mempertanyakan tentang beberapa dogma tersebut.

Sebut saja Robert Funk dengan bukunya “The Five Gospels: What Did Really Jesus Say?”, yang menyebutkan bahwa kematian Yesus di dalam Injil bukan merupakan firman Tuhan yang benar, Burton.L.Mack dengan bukunya yang controversial “The Lost Gospel: Book of Q” yang menyatakan bahwa ajaran kematian Kristus dan Kebangkitan Kristus merupakan kepercayaan Paganisme dan Agama Purba Hellenis. Beberapa pakar diatas bukanlah omong kosong belaka, mereka berpendapat seperti itu karena telah memeriksa lebih dari 5000 naskah injil dan Perjanjian Baru dari berbagai edisi yang oleh mereka dikumpulkan menjadi suatu wadah, yaitu Jesus Seminar.

Sebuah buku controversial yang berjudul “Crucifixion of Jesus according the medical inquiry” juga mengatakan bahwa penyaliban Yesus jika ditinjau dari ilmu kesehatan maka dapat dipastikan dia masih hidup. Pernyataan seperti ini tidak hanya dari ilmu medis, menurut catatan sejarah Flavius Josephus (seorang sejarawan Yahudi yang masih hidup ketika Yahudi dihancurkan pada tahun 70 M) tidak pernah diceritakan tentang keajaiban Yesus, keilahian Yesus, bahkan Yesus sebagai Kristen.

 

Dari tulisan sesorang sekaliber Josephus sangatlah aneh bahwa tentang Ketuhanan Yesus tidak pernah disebut-sebut. Pada tahun 1980-an muncul sebuah buku berjudul “Holy Blood, Holy Grail” karangan Michael Baigent, Richard Leigh, Hendry Lincoln. Menurut buku itu Jesus tidak mati disalib, menikah dan hidup hingga usia tua, bahkan mempunyai keturunan serta cucu yang sampai saat ini masih berada di Prancis. Selain mengeluarkan buku tersebut, Michael Baigent juga menulis sebuah buku lain berjudul “The Jesus Papers” yang disalah satu sub judul buku dimulai dengan kata-kata “Surviving the Crucifixion” (selamat dari penyaliban).

Tidak puas dengan “The Jesus Papers”, Michael Baigent sebelumnya juga pada tahun 1991 mengeluarkan sebuah buku berjudul “The Dead Sea Scrolls Deception” yang mengatakan bahwa “menurut ilmu kesehatan Essena, Yesus masih dapat selamat dari penyaliban”, selain itu muncul pula beberapa karya non fiksi seperti “The Brook Kerith”, “The Da Vinci Code” serta buku karangan Nigel Cawthorne. Barbara Thiering juga tidak ketinggalan menulis sebuah buku pada tahun 1994 yang berjudul “Jesus The Man” yang dengan tegas dia mengatakan “Jesus did not die on the cross” (Yesus tidak mati disalib) serta “Jesus is a human as we are human” (Yesus manusia seperti kita manusia (pula)). Sdr. Guntur Romli juga seperti yang saya singgung sebelumnya, bisa juga membaca buku saya dengan tema serupa yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” (2007).

Sdr. Guntur Romli :

Pengaruh Ebyon dan Waraqah bin Naufal

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Quran lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad-Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar: Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain.

Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhammad. Seorang perempuan kali itu–yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam–tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki. Bisa dibayangkan kedekatan Waraqah dengan Khadijah dan Muhammad. Pun Waraqah orang pertama yang mengakui bahwa Muhammad memiliki tanda-tanda kenabian. Ia juga bernubuat, “nasib Muhammad seperti nabi-nabi sebelumnya, dia akan diusir oleh kaumnya”.

Tanggapan saya :

 

Berbicara mengenai Tauhid, harusnya Sdr. Guntur Romli lebih mendalami kajian-kajian Kristologi dengan benar. Sebab baik dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab-kitab di Perjanjian Baru, konsepsi Tauhid merupakan ajaran yang selalu disampaikan dan ditekankan oleh para Rasul Tuhan.

Harusnya jika Sdr. Guntur Romli benar-benar orang yang menjunjung tinggi obyektifitas dan intelektualnya sudah sepantasnya tidak lebih condong pada doktrin yang tidak memiliki pijakan argumentasi ilmiah namun mengadakan studi-studi pada sumber-sumber aslinya. Bukankah ini juga yang sering digembar-gemborkan oleh kelompok Jaringan Islam Liberal terhadap konsepsi pemahaman Islam ?

 

Ajaran Monotheisme atau Tauhid bukan ajaran yang baru dilingkungan para ahli kitab atau orang-orang yang pernah diturunkan wahyu sebelum Muhammad. Sehingga ajakan untuk mengkultuskan Allah dan menafikan ketuhanan apapun diluar-Nya bukan hanya milik satu ataupun dua kaum seperti yang dikatakan oleh Sdr. Guntur Romli. Jadi bila faktanya sekte Ebyon menganut prinsip Tauhid maka umat Yahudi yang ada sampai hari inipun memegang prinsip yang sama, demikian juga halnya dengan umat Islam.

 

Akan halnya, Waraqah bin Naufal yang disebut-sebut sebagai seorang Kristiani juga perlu mendapat sebuah klarifikasi lebih lanjut. Apakah status Kristiani dari Waraqah ini merupakan penganut konsepsi Tritunggal atau dalam artian pengikut ajaran Monotheisme yang diajarkan oleh Isa al-Masih dimasa hidupnya.

Seperti yang kita ketahui bersama, sebutan Kristen sendiri baru ada jauh sesudah al-Masih Putera Maryam tidak lagi ditengah komunitas Yahudi di Yerusalem yaitu pada masa Paulus mendirikan jemaat di Antiokhia. Sementara dimasa-masa gereja awal fakta sejarah mengemukakan kepada kita bila telah terjadi perselisihan antara kaum Unitarian yang mengesakan Allah terhadap kaum pagan yang menganggap Isa sebagai bagian dari ketuhanan seperti Iranaeus (130-200 M), Tertullian (160-220 M), Origen (185-254 M), Arius (256-336 M) dan sebagainya.

Sdr. Guntur Romli :

Al-Quran juga mengisahkan mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak, membuat burung-burung dari tanah, kemudian menghidupkannya. Kisah ini memang tidak ada dalam empat Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes), tapi bukan berarti Al-Quran adalah sumber tersendiri. Kisah mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak ini ada dalam tradisi Gnostik Kristen: Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Tomas.

 

Tanggapan saya :

 

Seperti yang dinyatakan sendiri oleh al-Qur’an :

 

Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan penuh kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang pernah diturunkan sebelumnya dan sebagai korektor (batu ujian, Muhaymin) terhadap kitab-kitab yang lain itu. (QS AL-Ma’idah (5) : 48)

 Dari ayat ini maka al-Qur’an memposisikan dirinya bukanlah merupakan jiplakan atau saduran dari kitab-kitab yang pernah ada. Disisi lain, al-Qur’an juga menegaskan dirinya berfungsi sebagai korektor terhadap ajaran-ajaran yang diatasnamakan Tuhan dimasa lalu. Semua dari kita pasti menyadari bila yang disebut sebagai Taurat, bukanlah Perjanjian Lama dan yang disebut dengan Injil, bukanlah Perjanjian Baru.

Perjanjian Lama sendiri yang dikenal sekarang ini, secara historis sama sekali tidak bisa diketahui identitas penulisnya, orang hanya bisa menduga-duga saja dan menganggapnya sebagai fragmen sejarah yang direkam oleh para penulisnya berdasarkan bimbingan wahyu atau sekurang-kurangnya oleh Roh Kudus, dan sebagian dari mereka juga meyakini bahwa beberapa kitab dalam Perjanjian Lama adalah hasil penulisan dari Nabi Musa ‘alaihissalam. Yang mana pendapat terakhir ini ternyata sudah banyak di-ingkari oleh para sarjana Bible sendiri.

Adapun kitab Perjanjian Baru yang terdiri dari 4 Injil karangan Markus, Lukas, Matius dan Yohanes berikut surat-surat kiriman dan kesaksian Yohanes yang disebut sebagai kitab Wahyu bukanlah pula Injil yang telah diturunkan dan diajarkan oleh Nabi Isa ‘alaihissalam sebagaimana yang dimaksud oleh al-Qur’an.

Kitab Perjanjian Baru, khususnya 4 Injil, penulisan dan keberadaannya lebih banyak sama dari sisi historisnya seperti kitab-kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu merupakan fragmen sejarah yang ditulis oleh para penulis yang berbeda atas apa yang mereka ketahui seputar ajaran Nabi Isa dan hal-hal yang menyangkut perjalanan misi dakwah beliau ditengah Bani Israel. Sementara Injil dari Isa ‘alaihissalam sendiri tidak dapat diketahui secara pasti keberadaannya, termasuk apakah sudah musnah dalam perjalanan sejarah ataukah ada dalam puluhan atau ratusan kitab-kitab yang disebut juga sebagai Injil-Injil Apokripa alias yang terlarang dan tidak diakui keabsahannya oleh pihak gereja.

 

Bart D. Ehrman menulis dalam bukunya Misquoting Jesus (Kesalahan penyalinan dalam kitab suci perjanjian baru : Kisah dibalik siapa yang mengubah alkitab dan apa alasannya, 2006) memberikan beberapa contoh dalam hal ini misalnya tentang kisah Yesus yang diuji oleh orang-orang Yahudi menyangkut status wanita yang telah berzina dalam Yohanes pasal 7 ayat 53 sampai pasal 8 ayat 11 dan juga dua belas ayat terakhir dari Markus ternyata sama sekali tidak ditemui dalam manuskripnya yang paling tua (bukan manuskrip asli, sebab naskah-naskah asli Perjanjian Baru sampai hari ini tidak pernah ada lagi), hal yang sama juga terjadi pada kasus 1 Yohanes pasal 5 ayat 7 sampai 8 yang menceritakan secara vulgar mengenai Tritunggal pada dasarnya tidak memiliki rujukan dari manuskrip aslinya berbahasa Vulgata Latin yang menjadi acuan penterjemahan.

 

Konsekwensi dari semua ini, apa yang kemudian ditemukan dalam kitab suci al-Qur’an dan dianggap sebagai sebuah adopsi dari kitab-kitab yang pernah ada sesungguhnya adalah sebuah pemberitaan ulang dari Tuhan kepada manusia mengenai sejarah yang telah dilupakan atau diabaikan, termasuk mengenai mukjizat-mukjizat Nabi Isa yang tidak ada didalam keempat Injil gereja masa kini.

Sdr. Guntur Romli :

Kesimpulan saya sementara–yang tentu saja bisa didebat dan dibantah–kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen: Ebyon. Alasan Al-Quran menggunakan kisah Yesus versi ini, seperti yang telah saya kemukakan: akidah sekte ini sesuai dengan tauhid dan misi Islam, pun sepupu mertua Muhammad: Waraqah bin Naufal, adalah seorang rahib dari sekte Ebyon yang pertama kali “meyakini” Muhammad sebagai nabi.

Tanggapan saya :

Dari sisi sejarah dan ilmiah, maka jelas argumentasi dari Sdr. Guntur Romli sangat bisa dibantah keabsahannya. Tidak saja karena argumentasinya tidak memiliki dalil yang otoritatif namun juga lebih banyak kepada asumsi-asumsi yang sangat subyektif dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan yang benar. Sehingga pernyataan al-Qur’an sebagai sebuah saduran dari kitab-kitab masa lalu adalah pernyataan yang bodoh dan tidak gugur demi hukum.

Sdr. Guntur Romli :

Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural: konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu. Malah “proses kreatif” itu lebih kuat sebelum Muhammad menerima wahyu, hanya periode itu adalah “tahun-tahun yang hilang” ataupun tidak menjadi pusat perhatian dalam studi Islam klasik, yang tujuannya untuk menegaskan pewahyuan yang tunggal dari Tuhan serta menafikan pengaruh konteks dan sejarah.

Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal: ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian kesejarahan tidak bisa dipandang seperti itu. Dalam ranah ini, Al-Quran tetap memiliki banyak sumber dan “proses kreatif” yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Quran adalah “suntingan” dari “kitab-kitab” sebelumnya, yang disesuaikan dengan “kepentingan penyuntingnya”. Al-Quran tidak bisa melintasi “konteks” dan “sejarah”, karena ia adalah “wahyu” budaya dan sejarah.

Tanggapan saya :

 

Penulisan sejarah kenabian yang umumnya dimulai dari peristiwa bertahannutsnya Muhammad beberapa waktu sebelum beliau mengumumkan kenabiannya memang merupakan fokus utama dari para sejarawan Muslim masa lalu. Hal yang sama tidak jauh berbeda dengan penulisan sejarah tentang Yesus oleh para pengarang kitab-kitab Perjanjian Baru sehingga kemudiannya dimasa sekarang ini muncul ide penggalian kembali akan tahun-tahun yang hilang dari semenjak kelahiran hingga kemunculannya ditengah komunitas Bani Israel Yerusalem.

Sebaliknya, literatur Kristen tentang hal ini tidak sejelas literatur Islam mengenai masa lalu Muhammad. Karena ternyata secara historis, masa lalu Muhammad sebelum beliau menjadi Nabi bisa ditemukan dalam riwayat-riwayat hadis seperti kisah masa kecilnya yang dipelihara oleh Abdul Mutthalib dan dilanjutkan Abu Thalib sepeninggal ibundanya yang bernama Aminah dan sebagainya.

 

Terhadap al-Qur’an, tidak juga bisa dibenarkan apabila disebut sebagai sebuah kitab yang diluar nalar manusia karena dalam ayat-ayatnya al-Qur’an justru memberikan tantangan kepada para ahli ilmu untuk membuktikan semua pemberitaan yang disodorkannya tanpa ada ketakutan atau larangan didalamnya. Bukan itu saja tetapi al-Qur’an juga sejak awal menekankan kepada orang-orang yang merasa ragu untuk melakukan studi banding terhadap kitab-kitab sebelumnya.

PERHATIAN :

Posting ini boleh diteruskan kemana saja selama itu bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam dan pencerahan kepada semua orang yang membutuhkannya dengan tetap menyertakan sumber pengambilannya dengan lengkap agar siapapun yang ingin secara langsung mendiskusikan ataupun melakukan sanggahan-sanggahan dapat menghubungi penulis secara langsung dan tidak membuatnya bingung yang bisa jadi menghalangi semangat pembelajarannya terhadap kebenaran yang sudah sampai.


Posting / artikel ini tidak boleh dikomersilkan dalam bentuk apapun tanpa seizin penulis !


Posting ini akan menjadi salah satu bagian

dari isi buku yang sedang disusun oleh Penulis yang InsyaAllah mengambil tema

“Menjawab Islam Liberal”.

Copyright hanya ada pada ALLAH, sumber semua kebenaran

 

Palembang,

ARMANSYAH

5 Responses

  1. Walaupun bagaimana kami tetap yakin bahwa awal era globalisasi ini firqah-firah masih tetap dalam kondisi ramalan oleh nabi Muhammad saw. yang mengatakan Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan , umat Nasrani pecah-belah 72 firqah dan umat Yahudi terpecah-belah 71 firqah, semuanya masuk neraka perpersisihan, perpecahan faham-famah agama-agama.
    Akan tetpi umatnya masih dalam keadaan tidak sadar tentang hal ini sampai kepada tingkat peristiwa nasional di Monas 1 Juni 2008.

    Mereka belum sampai kepada ilmu Agama Allah sesuai An Nashr (110) ayat 1,2,3, yang dipersan kepada umatnya sesuai An Nahl (16) ayat 93, yaitu sorga yang mengikuti: Keluargaku (sesuai Al Ar’ad (13) ayat 38, Al Ahzab (33) ayat 6, pasangan nabi/rasul) dan sahabat-sahabat ku (seluruh para rasul/nabi sesuai Risalah Tuham/ Allah) memenuhi Al Maidah (5) ayat 67 (rasul2), Al An Aan (6) ayat 124,125 (Allah sendiri), Al A’raaf (7) ayat 62,60 (Nuh), 68,66 (Hud), 79,75 (Saleh), 93,88 (Syuaib), 144,109 (Musa), Al Ahzaab (33) ayat 38,39,40 (Muhammad), Al Jin (72) ayat 23,26,27,28 (rasuk-rasul yang dirido’i).
    Keluarga dalam hadits ini bukan ditujukan isteri Muhammad Khadijah atai Aisyiah dan sahabat-sahabat bukan ditujukan kepada Abubakar, Umar, Usman dan Ali, karena mereka semua adalah orang-orang yang beriman kepada “NABI” Muhammad saw.

    Wasalam, Soegana Gandakaoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. romli…romli…
    emang orang kadang2 kalo udeh ngerasa “super pinter” ga akan sadar batas2 kemampuan otak nye (sbg manusia biasa) dan akhirnye merasa “sejajar” ama Al Qur’an..

    Allah itu tidak membutuhkan kita, tetapi kita lah yang membutuhkan Allah

  3. Minta izin untuk menyimpan artikel ini dan menjadikannya sbg. rujukan mas.

  4. guntur romli manusia yang sdh dicekokin iblis sekularism

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: