Kristologi Menyambut Idul Adha : Ishak atau Ismail ?

—– Original Message —–

From: ARMAN (GMAIL)

To: milis_iqra@googlegroups.com

Cc: fatchurberlianto@gmail.com

Sent: Wednesday, December 19, 2007 7:54 AM

Subject: Kristologi Menyambut Idul Adha : Ishak atau Ismail ?

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

 

Menjelang tibanya hari ‘Iedul Adha 10 Dzulhijjah, berikut saya gulirkan salah satu artikel lamas saya mengenai putera perjanjian (Ishak atau Ismail) dengan berbagai tambahan baru, semoga bermanfaat.

 

ISHAK ATAU ISMAIL ?

KRISTOLOGI MENYAMBUT IDUL ADHA

Oleh : ARMANSYAH

armansyah.skom@gmail.com

Penulis buku "Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih & Jejak Nabi Palsu"

Moderator Milis_Iqra@googlegroups.com (http://groups.google.com/group/Milis_Iqra)

 


 

Dari Surah Ash Shaffat (37) ayat 99 sampai dengan ayat 113:

99 Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

100. Wahai Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh;

101. Maka Kami gembirakan dia dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar.

102. Maka tatkala anak itu telah sampai pada usia dapat membantu bapaknya, berkatalah Ibrahim : ‘Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Untuk itu bagaimanakah pendapatmu ?’ Anaknya menjawab: ‘Hai Bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk golongan orang-orang yang sabar’.

103. Maka tatkala keduanya (bapak dan anak) telah menyerahkan diri (kepada Allah) dan Ibrahim telah merebahkan anaknya diatas pipinya (ditempat penyembelihan dan hampir menyembelihnya).

104. Maka Kami panggillah dia, ‘Wahai Ibrahim’ (Janganlah engkau lanjutkan perbuatan itu.)

105. Sungguh, engkau telah membenarkan (melaksanakan perintahKu dalam) mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

106. “Sesungguhnya (perintah penyembelihan) ini benar-benar suatu ujian yang nyata,

107. Dan Kami tebus sembelihan itu dengan sembelihan yang agung,

108. dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.

109. Yaitu, Kesejahteraan yang senantiasa dilimpahkan atas Ibrahim.”

110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,

111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang saleh,

113. Dan Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ismail) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucu mereka berdua, ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.”

Nabi Ibrahim a.s adalah seorang Nabi yang mumpuni dan penuh berkah dari Allah, dimana beliau sejak kecilnya didalam pencarian jati diri kebenaran sosok Tuhannya, telah mempergunakan kekuatan akal pikirannya serta hati nuraninya, dimulai dari ketidak puasannya terhadap berhala-berhala yang dibuat oleh bapaknya sendiri dan dijadikan sesembahan kaumnya masa itu (Lihat dalam Qs. 37:83-93), juga ketidak puasannya terhadap hal-hal yang semula dianggapnya Tuhan namun kemudian dinisbikannya sendiri karena bertentangan dengan akal pikirannya (Lihat kisah Nabi Ibrahim dalam pencarian Tuhan pada Qs. 6:75-79)

Keberimanan Ibrahim kepada Allah yang Esa yang tidak terbagi menjadi potongan-potongan kecil kemakhlukan telah membuatnya berlepas diri terhadap kaumnya dan bahkan juga bapaknya (Qs. 60:4 dan Qs. 19:41-48) yang sampai pada puncaknya penghancuran seluruh berhala sesembahan mereka (Qs. 21:57-58) sehingga dikorbankanlah Ibrahim kedalam satu hukuman pembakaran yang berkat rahmat dari Allah, keselamatan dilimpahkan kepada Nabi agung ini dan api tidak mampu menembus kulitnya yang mulia itu. (QS. 21:61-69)

Selanjutnya keberimanan yang tulus dan penuh tanpa syarat setelah beliau mendapatkan kebenaran tersebut dengan Allah, Ibrahim kembali diuji oleh Allah, setelah sekian lamanya beliau berumah tangga dengan Sarah tidak ada tanda-tanda istrinya ini akan menjadi hamil, sehingga diluar statusnya selaku seorang Nabi, Ibrahim tetaplah seorang manusia yang memiliki keinginan untuk mempunyai keturunan sebagai suatu fitrah yang ada pada diri setiap laki-laki dan suami kepada masa depan penerusnya.

Ibrahim berdoa kepada Allah agar beliau dianugerahi seorang anak yang saleh (Qs. 37:99-100), dan pada bagian ayat berikutnya dijelaskan bahwa permintaan Ibrahim ini dikabulkan oleh Allah dengan diberinya seorang putra yang telah lama dinanti-nantikannya melalui istri keduanya Hajar, Bible dalam Kitab Kejadian 16:11 telah pula menegaskan dan menguatkan kisah yang dipaparkan oleh Qur’an ini.

 

“And again: Behold, said he, thou art with child, and thou shalt bring forth a son: and thou shalt call his name Ismael, because the Lord hath heard thy affliction.”(Genesis 16:11 from Douay)

 

Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang masalah beratmu itu. (masalah beratmu = On-ee’ = trouble, depression. sumber : Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries code : H6040)

 

Sarah sebagai istri pertama dari Ibrahim telah memberikan persetujuan kepada suaminya untuk menikahi Hajar (Kitab Kejadian 16:2-3), dari Hajar ini lahirlah putra pertama Ibrahim yang bernama Ismail disaat usia Ibrahim kala itu 86 tahun (Kitab Kejadian 16:16).

 

“And Sarai said unto Abram, Behold now, Lord hath restrained me from bearing: I pray thee, go in unto my maid; it may be that I may obtain children by her. And Abram hearkened to the voice of Sarai. And Sarai Abram’s wife took Hagar her maid the Egyptian, after Abram had dwelt ten years in the land of Canaan, and GAVE HER TO HER HUSBAND ABRAM TO BE HIS WIFE.”
(Genesis 16:2-3 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

 

Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. (istilah menjadi isterinya = ish-shaw’, naw-sheem’ = together, wife, woman. sumber : Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries code : H802)

“And Abram was fourscore and six years old, when Hagar bare Ishmael to Abram.”
(Genesis 16:16 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures“)

Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

 

Kisah ini bersesuaian dengan al-Qur’an pada surah 37:101, dan Bible pada kitab Kejadian 21:5 menceritakan bahwa Ibrahim juga akhirnya mendapatkan keturunan dari Sarah, yaitu Ishak, dimana pada kala itu usia Ibrahim sudah mencapai 100 tahun.

Jadi beda antara usia Ismail dan Ishak adalah 14 tahun.
Suatu perbedaan usia yang cukup jauh.

Pada ayat al-Qur’an berikutnya, yaitu surah 37:102, disebutkan bahwa tatkala usia anak yang dilahirkan pertama tersebut, dalam hal ini adalah Ismail sudah mencapai usia yang cukup untuk mengerti, maka Allah mengadakan ujian bagi Ibrahim antara kecintaannya terhadap Allah dan kecintaannya terhadap anak yang selama ini sudah dia nanti-nantikan.

Kisah ini jika kita kembalikan pada Bible, sangat bersesuaian, dimana pada usia Ismail yang sudah lebih dari 10 tahun itu, beliau sudah cukup mengerti untuk berpikir dan tengah meranjak menuju kepada fase kedewasaan.

Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah itu, melakukan dialog tukar pikiran dengan putranya mengenai pengorbanan yang diminta oleh Allah terhadap diri anaknya ini. Dan kisah yang ini sama sekali bertentangan dengan kisah Bible yang menyebutkan Ibrahim telah membohongi putranya.

 

“He said to him: Take thy only begotten son Isaac, whom thou lovest, and go into the land of vision: and there thou shalt offer him for a holocaust upon one of the mountains which I will show thee.”
(Genesis 22:2 from Douay)

 

Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”


Dari sini kita lihat sudah, bahwa Kitab Kejadian 22:2 sudah mengalami distorsi dengan penyebutan anak tunggal itu adalah Ishak (Isaac/ yits-khawk’).

 

Pada Kejadian 16:16 diterangkan pada waktu Hagar memperanakkan Ismail bagi Abram, ketika itu umur Ibrahim 86 tahun.

Pada kejadian 21:5 disebutkan pada waktu Ishak lahir maka umur Ibrahim 100 tahun.

Berdasarkan kedua ayat itu, maka anak Ibrahim yang lahir lebih dahulu ialah Ismail

Jika Kejadian 22:2 menerangkan bahwa firman Tuhan kepada Ibrahim untuk mengorbankan “anak tunggal”, jelas pada waktu itu anak Ibrahim baru satu orang.

Adapun anak yang baru seorang ini sudah tentu anak yang lahir pertama atau yang lahir lebih dahulu. Dan anak Ibrahim yang lahir pertama ini ialah Ismail. Jadi Kejadian 22:2 yang menyebutkan “anak tunggal” itu Ishak, jelas merupakan sisipan atau penggantian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

Apabila pada Kejadian 16:16 dan Kejadian 21:5 anak Ibrahim pada waktu itu sudah dua orang, yaitu Ismail dan Ishak … mengapa pada Kejadian 22:2 disebutkan “anak tunggal” ?

Yang berarti bahwa anak Ibrahim baru satu orang, lalu kemana anak yang satunya lagi ? Padahal kedua anak tersebut masih sama-sama hidup, sehingga pada waktu Sarah (ibu Ishaq) wafat, kedua anak Ibrahim itu, yakni Ismail dan Ishaq sama-sama hadir mengurus jenasah Sarah.

Jadi seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishaq itu letaknya sesudah ayat pengorbanan, sehingga setelah ayat pengorbanan lalu diikuti oleh ayat kelahiran Ishak. Inilah yang disebut dengan “tahrif” oleh al-Qur’an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat lain sebagaimana yang disitir oleh Surah An Nisa’ ayat 46 :

“Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari tempatnya …”
(Qs. an-Nisa’ 4:46)

Dengan begitu semakin jelas saja bahwa Bible mengandung tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan dsb), dan jelas pula bahwa kitab yang sudah diubah-ubah itu tidak dapat dikatakan otentik dari Tuhan melainkan merupakan kitab yang terdistorsi oleh ulah tangan-tangan manusia.

Setelah ternyata Ibrahim lebih mengutamakan kecintaan dan kepatuhannya kepada Allah, maka Allah melimpahkan rahmat-Nya yang sangat besar kepada Ibrahim juga Allah telah meluluskan doa Ibrahim sebelumnya agar memperoleh anak yang saleh, yaitu putra tunggalnya, Ismail.

Ismail ini juga mengikuti jejak langkah bapaknya selaku manusia yang menyerahkan diri kepada Allah secara penuh tanpa syarat yang kelak akan menjadi salah seorang penerus kenabian Ibrahim sebagaimana dinyatakan didalam kitab suci AlQur’an pada Qs. 19:54, Qs. 4:163, Qs. 6:86, Qs. 21:85, Qs. 38:48 dan bagi Ismail sendiri juga didalam Bible pun dinyatakan bahwa Allah telah mengabulkan permintaan Ibrahim akan hal diri Ismail dan bahkan dijadikan Allah keturunan Ismail ini sebagai suatu bangsa yang besar (Lihat Kejadian 17:20, Kejadian 21:13 dan Kejadian 21:18 => Secara panjang lebar pembahasannya silahkan baca juga artikel kristologi saya berjudul : Tafsir Kitab Kejadian ).

Setelah kisah pengorbanan putra tunggalnya kala itu tersebut, Ibrahim kembali digirangkan oleh Allah dengan mendapatkan seorang putra dari Sarah dimana waktu itu, baik menurut al-Qur’an sendiri maupun Bible, sebelumnya Sarah sempat merasakan pesimis mengingat usianya yang sudah lanjut, sementara Ibrahim sendiri sudah memiliki putra dari Hajar 14 tahun sebelumnya, dikala usia Ibrahim 86 tahun.

al-Qur’an Surah Ibrahim (14) ayat ke-39 melukiskan betapa Ibrahim merasa bersyukur sekali dengan dua putranya ini (yaitu Ismail dan Ishak) sebagai suatu karunia baginya yang sudah berusia lanjut.

Pengusiran Ismail dan Ibunya, Hajar yang dilakukan oleh Sarah sebagaimana yang dimuat didalam Bible terjadi pada waktu Ishak disapihkan karena ketakutan Sarah akan ikut terjatuhnya warisan ketangan Ismail yang juga merupakan putra dari Ibrahim (Lihat Kejadian 21:8-10).

 

“And the child grew and was weaned: and Abraham made a great feast on the day of his weaning. And when Sara had seen the son of Agar the Egyptian playing with Isaac her son, she said to Abraham: Cast out this bondwoman, and her son: for the son of the bondwoman shall not be heir with my son Isaac.”
(Genesis 21:8-10 From Douay)

 

Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”

 

Hal ini sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Bible dalam ayat lainnya yaitu Ulangan 21:14-17.

And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and the child, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beersheba.

 

And the water was spent in the bottle, and she cast the child under one of the shrubs. And she went, and sat her down over against him a good way off, as it were a bowshot: for she said, Let me not see the death of the child. And she sat over against him, and lift up her voice, and wept. And Elohim heard the voice of the lad; and the angel of Elohim called Hagar out of heaven, and said unto her, What aileth thee, Hagar? fear not; for Elohim hath heard the voice of the lad where he is.
(Genesis 21:14-17 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

 

 

Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.

Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” (istilah dibuangnyalah anak itu = shaw-lak’ yeh’-led. shaw-lak’ = adventure, cast (away, down, forth, off, out), hurl, pluck, throw. yeh’-led = boy, child, fruit, son, young man (one). sumber : Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries code : H7993 dan H3206)

 

Kenapa bertentangan ?
Ishak ketika disapih berusia sekitar 2 tahun, sementara Ismail 16 tahun dan saat terjadi pengusiran atas Ismail dan ibunya ini telah terjadi konflik baru dalam ayat-ayat Bible, Kejadian 21:8-10 bertentangan dengan Kejadian 21:14-21.

Dimana dalam ayat itu digambarkan seolah-olah Ismail masih berupa seorang bayi yang digendong dibahu ibunya (Kejadian 21:14)

Kemudian Ismail yang menurut Bible sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah pokok serumpun (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18)

Bagaimana mungkin, Hagar yang seorang perempuan, harus menggendong seorang anak laki-laki “tua” yang berusia 16 tahun ?

Kemudian disambung pada Kejadian 21:20 seolah Ismail masih sangat belia sekali sehingga dikatakan “…Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.”.

Jadi dari sini saja sudah kelihatan telah terjadi kerusakan dan manipulasi sejarah dan fakta yang ada pada ayat-ayat Bible.

Dalam sejumlah perdiskusian dimilis Islamic Network dan Milis_Iqra, umat Kristen membantah kalimat “untuk diangkat, digendong … ” yang termuat didalam Bible adalah dalam bentuk kiasan, jadi disana jangan diartikan secara harfiah, karena maksud yang ada pada ayat itu bahwa nasib hidup dan makan dari Ismail ada dipundak Hagar.

Padahal jika kita mau melihat kedalam konteks ayat-ayat aslinya, akan nyatalah bahwa apa yang dimaksudkan dengan bentuk kiasan tersebut sama sekali tidak menunjukkan seperti itu.

Mari kita buktikan :

Kejadian 21:14
Maka bangunlah Ibrahim pada pagi-pagi hari, lalu diambilnya roti dan sebuah kirbat yang berisi air, diberikannya kepada Hagar, ditanggungkannya pada bahunya dan anak tersebut, lalu disuruhnya pergi. Maka berjalanlah ia lalu sesatlah ia dalam padang birsjeba.
(Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963)

Didalam Bible berbahasa Inggris saya kutipkan adalah demikian :

“And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and THE CHILD, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beer-sheba.
(Genesis 21:14 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

“So Abraham rose up in the morning, and taking bread and a bottle of water, put it upon her shoulder, and delivered the boy, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Bersabee.”
(Genesis 21:14 from Douay)

And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and the child, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beersheba. (Genesis 21:14 from KJV with Strong’s Numbers)

Jadi jelas bahwa Ibrahim mengambil roti dan sebuah kirbat yang berisi air lalu memberikannya kepada Hagar dengan meletakkan keduanya itu diatas pundak Hagar bersama Ismail yang jelas sudah lebih dulu ada dalam dukungannya lalu menyuruh Hagar pergi.

# Lihat kalimat bahasa Inggris tidak menyebutkan Hagar dan Ismail tetapi hanya menyebutkan kata “…and sent HER away: and SHE departed, and wandered” (shaw-lakh’ haw-lak’ taw-aw’)

Jadi jelas yang diusir dan berjalan serta tersesat disana adalah Hagar sendirian, sebab Ismail ada dalam gendongan Hagar, bukankah mustahil anak berusia 16 tahun digendong ? Berapa massa benda dari tubuh Ismail yang sudah 16 tahun ? berapa massa benda dari tubuh Hagar yang perempuan sehingga memiliki kemampuan untuk menggendong manusia 16 tahun dan membawanya berjalan jauh ? )

Lalu kita lanjutkan pada kalimat berikutnya :

“Hatta, setelah habislah air yang didalam kirbat itu, maka dibaringkannyalah budak itu dibawah pokok serumpun.”
(Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963: Kejadian 21:15)

“And the water was spent in the bottle, and SHE CAST THE CHILD under one of the shrubs.”
(From “The Restored Name King James Version of the Scriptures”)

“And when the water in the bottle was spent, SHE CAST THE BOY under one of the trees that were there.”
(From Douay)

Jadi semakin jelas, ketika air didalam kirbat sebagai bekal sudah habis, lalu Ismail (yang secara jelas disebut sebagai THE CHILD dan THE BOY) yang digendong itu diturunkan dari tubuhnya dan dibaringkan dibawah pohon.

Apakah masih mau bersikeras dengan mengatakan kalau kata “menggendong atau memikul” THE CHILD disana bukan dalam arti yang sebenarnya ?

Lalu kita lihat sendiri pada ayat-ayat berikutnya dimana Hagar akhirnya mendapatkan mata air dan memberi minum kepada anaknya (THE CHILD) yang menangis kehausan lalu anak tersebut dibawah bimbingan Tuhan meranjak dewasa, jadi anak itu pada masa tersebut belumlah dewasa, padahal usianya kala itu sudah hampir 17 tahun.

Bagi Ishak sendiri, beliau pun dijanjikan oleh Allah menjadi seorang Nabi yang hanif sebagaimana ayah dan juga saudara tuanya, Ismail, dimana nantinya dari Ishak ini akan terlahir Ya’qub yang kelak menjadi bapak bagi bangsa Israil.

Kepada rekan-rekan dari kalangan Kristiani saya meminta maaf, saya bukan hendak menggurui anda-anda semua atau juga hendak mengadakan pelecehan, tetapi kita sekarang berbicara masalah kebenaran dan keobjektifitasan yang bisa sama-sama kita saksikan.

Saya dapat memahami jika umat Kristen tetap pada pendirian bahwa al-Qur’an salah dan Bible sajalah yang benar, sebab memang dasar pijakan anda ada pada Bible sehingga apapun keyakinan anda maka tidak akan jauh dari apa yang dikatakan oleh Bible.

 

“Kebenaran itu adalah dari Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(Qs. Al-Baqarah 2:147)

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka manfa’atnya bagi diri sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.”
(Qs. Al-An’am 6:104)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
(Qs. al-Hajj 22:46)

“Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan isi neraka itu beberapa banyak dari Jin dan manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak untuk mengerti dengannya, mempunyai mata tidak untuk melihat dengannya dan mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengarkan; mereka itu seperti binatang, malah mereka lebih sesat.”
(Qs. al-A’raaf 7:179)

“Sekalipun melihat, mereka tidak melihat. Sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.”
(Matius 13:13)

Catatan : Seluruh versi Bible yang digunakan dalam artikel ini bisa didownload pada alamat www.e-sword.net dengan modul-modul sesuai yang tercantum dan boleh dibuktikan sendiri atau didebat jika memang ada kesalahan.

Salamun 'ala manittaba al Huda

ARMANSYAH

http://armansyah.swaramuslim.net

https://arsiparmansyah.wordpress.com

http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com

 

http://jejakpararasulsetelahmuhammad.wordpress.com

 

MyBooks

 

Buku ke-1 :

Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah pelurusan sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus

Penerbit Restu Agung, 2007

Kata Sambutan : Masyhud SM (Dewan Pakar FAKTA) & Mohammad S. Ghasali (Situs Swaramuslim.net)

 

Buku ke-2 :

Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminudin hingga Ahmad Musaddiq

Penerbit Hikmah Publishing (Mizan Group), 2007

Kata Pengantar : Aris Hardinanto (Team Moderator Milis_Iqra dan Pengamat Perbandingan Agama Semitik) & Abu Deedat Syihab MH
Ketua Umum Forum Anti Gerakan Pemurtadan (FAKTA) & Haidar Sagir

 


 

 

PERHATIAN : Posting ini boleh diteruskan kemana saja selama itu bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam dan pencerahan kepada semua orang yang membutuhkannya dengan tetap menyertakan sumber pengambilannya dengan lengkap agar siapapun yang ingin secara langsung mendiskusikan ataupun melakukan sanggahan-sanggahan dapat menghubungi penulis secara langsung dan tidak membuatnya bingung yang bisa jadi menghalangi semangat pembelajarannya terhadap kebenaran yang sudah sampai.

 

Posting / artikel ini tidak boleh dikomersilkan dalam bentuk apapun tanpa seizin penulis !
Isi dari artikel ini boleh dibawa atau dikutip untuk menjadi bagian dari khotbah Idul Adha non komersial.

 

Copyright hanya ada pada ALLAH, sumber semua kebenaran

 

CC : Fatchur Berlianto, Moderator Milis Myquran@googlegroups.com untuk diteruskan kemilis tersebut

BCC : Kedua penerbit, pengasuh situs Swaramuslim, Tim FAKTA, Redaksi Ukhuwah, Ulil Abshar, Redaksi Islamlib, pakdenono, redaksi Sabili, sahabat Eramuslim, Admin situs al-Islah dan sejumlah sahabat lain dengan private mail address.

Archive : https://arsiparmansyah.wordpress.com

 

 

One Response

  1. Anak tunggal yg artinya ANAK SAH dari istri pertama yakni ISHAK dr SARAH, bukannya ISMAEL yg merupakan anak dari rahim seorang budak Mesir yg bernama HAGAR (Siti Hajar), itu logikanya mas.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: