Bagaimana menyikapi perbedaan hadist ?

Bagaimana menyikapi perbedaan hadist ?

Oleh : Armansyah

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat dulu sejarahnya, bahwa Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah dan Nabi terakhir telah menyampaikan risalah Tuhan ketengah manusia dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai teladan sempurna untuk pedoman umatnya (Qs.  33 al-ahzaab: 21 dan Qs. 68 al-Qalam : 4)

Semua yang pernah dilakukan oleh Beliau, tidak lain adalah penerapan wahyu al-Quran yang diterimanya tanpa pernah menyimpang sedikitpun (Qs. 6 al-an’ am: 50), sehingga adalah wajar jika kitapun berpegang teguh dengan al-Qur’an dan contoh yang ada pada dirinya yang disebut sebagai Sunnah atau Hadist (Qs. 59 al-hasyir: 7)

Namun seiring dengan perjalanan waktu, ditambah dengan mulai bermunculannya pergolakan ditubuh umat Islam sendiri pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, maka al-Quran dan as-Sunnah tidak luput dari isyu dan pemalsuan.

Proses pemalsuan al-Qur’an bisa dikatakan selalu gugur ditengah jalan, karena pada masa Nabi Muhammad sendiri al-Qur’an dalam bentuk potongan-potongan wahyu telah ditulis diatas kulit binatang, tulang-tulang ataupun perkamen (semacam kertas) dan ini dibuktikan dengan adanya beberapa sahabat yang berfungsi sebagai penulis wahyu (sekretaris Nabi seperti ‘Ali bin Abu Thalib, Tsaid bin Tsabit dan sebagainya).

Disamping itu banyak diantara para sahabat Nabi yang masih hidup memiliki hafalan kuat sehingga ayat per ayatnya masih bisa saling dikoreksi satu dengan yang lain sampai pada pembukuannya dijaman pemerintahan Abu Bakar as-Shiddiq yang dilanjutkan penyempurnaan bahasa (dialektikal) al-Quran dimasa Usman bin Affan.

Hal seperti itu tidak terjadi pada sunnah yang memang secara phisik, keteladanan itu telah ikut hilang dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Sementara para sahabat Beliau berbeda pendapat mengenai apa yang telah mereka pelajari dari penerapan ayat al-Quran yang diwariskan oleh Nabi, sehingga antara sahabat yang satu dengan sahabat yang lain bisa saja berbeda pengamalan tergantung dari seberapa sering dia berada didekat Nabi dan seberapa banyak ilmu yang telah diterimanya.

Itulah sebabnya pada jaman kita sekarang ini, bisa kita temui ada banyak sekali tafsir, hadist maupun isi do’a yang berbeda-beda. Kita juga tidak bisa menyangkal tentang adanya kemungkinan pengajaran Nabi yang tidak sama terhadap semua orang (dalam hal ini para sahabatnya).

Bisa saja apa yang diajarkan oleh Nabi kepada Umar bin Khatab, berbeda dengan apa yang diajarkannya kepada Abu Bakar, apa yang diajarkannya kepada ‘Ali bin AbuThalib berbeda dengan pengajarannya terhadap Bilal dan demikian seterusnya. Dan ini semua bisa saya buktikan hadis-hadisnya.

Intinya, dalam hal ini, pada beberapa kesempatan Nabi melihat dan mengukur kemampuan orang yang akan diajarinya. Bila menurutnya si A tidak akan mampu melaksanakan suatu perbuatan (misalnya berdoa yang panjang dan tenang) tentu beliau akan mengajarinya suatu do’a yang pendek dan ringkas.

Sebaliknya, jika menurut pandangan beliau si B memiliki kemampuan untuk mendapat pengajaran yang detil dan kompleks, tentu apa yang diajarkannya untuk si A tidak diberikannya kepada B, namun lebih dari itu. Bukankah kita semua juga maklum, bahwa pengajaran terhadap seorang kuli bangunan akan berbeda bentuk maupun cara penyampaiannya kepada seorang sarjana ?

Bukankah Islam itu bersifat fleksibel dan tidak memberatkan ? (Qs. 19 maryam: 97)

Lalu seberapa jauh keaslian sunnah Nabi yang beredar dimasyarakat modern ini ?

Dari sejarah kita ketahui bahwa penulisan sunnah dan hadist secara resmi, baru dilakukan ± 200 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, yaitu oleh Bukhari (meninggal pada tahun 256 Hijriah/ 870 Masehi).

Sementara kita semua juga tahu, jangankan untuk mendapatkan data otentik yang berasal dari mulut kemulut (lisan) dalam waktu ratusan tahun seperti itu, sedangkan suatu perkataan yang diucapkan 2 hari yang lalu saja sudah sangat sulit untuk di-ingat dan diulang secara benar dan tepat tanpa ada penambahan atau pengurangan apalagi perubahan kata demi katanya.

Contoh nyata telah diajarkan oleh salah satu iklan deterjen ditelevisi :

Katakanlah ada ibu A berkata kepada ibu B : “Suruh dengan Jeruk nipis”, lalu kata itu beredar dari Ibu B ke Ibu C dan seterusnya sampai pada Ibu yang ke X, lalu tanpa disadari kalimat itu berubah menjadi : “Surf dengan jeruk nipis”.

Imam Bukhari sendiri “konon” mengakui, dalam perjalanannya mencari dan mencatat hadist Nabi, beliau mendapati 300.000 sampai 600.000 yang dinilainya tidak otentik atau palsu (serendah-rendahnya berstatus hadist lemah / dhaif), dan dari total itu hanya 4000 hadist yang dianggapnya benar/ shahih (artinya dari 150 hadist, hanya ada 1 hadist yang benar menurut Bukhari).

Abu Daud, salah seorang pengumpul Hadist seperti Bukhari mendapatkan 500.000 hadist dan yang dianggapnya benar hanya 4800 hadist saja.

Bahkan salah seorang ulama Riyadh, Arab Saudi pada akhir dekade tahun 1980-an hingga awal 1990-an bernama Syekh Muhammad Nashiruddin al-albani telah menyeleksi ulang semua kumpulan hadist yang sudah dianggap shahih oleh sejumlah pakar termasuk Bukhari, Muslim, Abu daud dan lain-lain mendapati jumlah 2000 hadist yang bernilai Dha’if (lemah) dan Maudhu’ (palsu), dan ini dituangkannya dalam buku yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia secara berseri (4 buku tebal) oleh Gema Insani Press.

Sekarang katakanlah sebelum penulisan Sunnah pada masa Bukhari atau Abu Daud telah ada beberapa penulisan Hadist yang dilakukan segelintir orang secara individu, namun ini juga belum bisa membuktikan bahwa teks per teks nya lepas dari penambahan atau pengurangan, baik secara sengaja atau tidak.

Para sahabat sendiri secara umum hanya mengamalkan Sunnah dan Hadist secara langsung berdasarkan tradisi, hafalan ataupun ingatan mereka dari Nabi Muhammad SAW tanpa pernah menuliskannya keatas kertas atau sejenisnya.

Hal ini tidak lain karena Nabi SAW sendiri pernah berpesan kepada mereka agar tidak menulis sesuatu apapun dari perkataan Beliau selain al-Qur’an.

مسند أحمد ١١١١٠: حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Musnad Ahmad 11110: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam berkata; telah mengabarkan kepada kami Zaid bin Aslam dari ‘Atho` bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatupun dariku selain Al Qur`an, maka barangsiapa menulis sesuatu dariku selain Al Qur`an hendaknya ia hapus.”

Tindakan ini dilakukan oleh Beliau karena mengkhawatirkan terjadinya percampuran antara al-Qur’an (perkataan ALLAH) dan perkataannya sendiri (al-Hadist).

Apalagi mengingat situasi umat Islam saat itu masih sangat muda dan sedang dalam tahap berkembang, sementara jumlah ayat al-Qur’an yang harus mereka ketahui dan mereka hafal sangatlah banyak dan semuanya tidak boleh salah atau tercampur dengan hafalan, tulisan atau cerita diluar al-Qur’an.

Perselisihan antara sahabat Nabi sendiri menyangkut kebenaran suatu hadist malah telah terjadi sejak masa Aisyah istri Rasulullah termuda masih hidup.

Pernah sewaktu Khalifah Umar bin Khatab ditikam dari belakang dan mendekati kematiannya, Hafshah putrinya yang juga salah seorang dari istri Nabi menangisi kejadian tersebut, diikuti pula oleh seorang sahabat bernama Shuhaib yang merawat luka-lukanya, melihat keduanya menangisi dirinya, Umar membentak mereka seraya mengemukakan suatu hadist Nabi bahwa orang yang ditangisi kematiannya akan memperoleh siksa ALLAH. Tatkala berita ini disampaikan kepada aisyah, beliau malah menolak hadist tersebut dengan merujuk pada surah 6 al-an’am ayat 164 bahwa seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.

Contoh lain, ketika ada seorang sahabat bernama masruq menafsirkan surah 53 an-najm ayat 7 s/d 9 bahwa Nabi pernah melihat Tuhannya, maka aisyah membantah dengan merujuk surah 6 al-an’am ayat 103 tentang sifat Tuhan yang tidak mungkin dicapai dengan penglihatan. (lihat buku: studi kritis atas hadis Nabi SAW ; antara pemahaman tekstual dan kontekstual oleh Muhammad al-Ghazali dengan pengantar Dr. M. Quraish Shihab terbitan Mizan hal 30 dan hal 37).

Sewaktu hidup, Khalifah Umar bin Khatab sendiri dikabarkan pernah mencambuk Abu hurairah karena terlalu sering meriwayatkan hadist serta mencopot jabatan Abu hurairah yang waktu itu menjadi gubernur di Bahrain serta mengancam mengasingkannya ketanah daws, yaitu kampung halaman abu hurairah jika masih tetap melakukannya (lihat buku : Dr. Subhi as-Shalih ‘membahas ilmu-ilmu hadis’ terbitan Pustaka Firdaus hal 316 dan buku : Kontroversi hadis di Mesir oleh G.H.A. Juynboll terbitan Mizan hal 106)

Selain itu, keotentikan isi hadist yang sampai pada jaman kita sekarang ini pun tidak bisa dicap shahih semuanya, meskipun diriwayatkan oleh orang berkelas seperti Bukhari dan Muslim.

Kenapa ?

Kita bisa melihat dalam hadist-hadistnya, Bukhari maupun Muslim tampaknya tidak memperketat kebenaran logika isi hadist yang mereka terima, sehingga acapkali kita jumpai hadist-hadist yang berbau dongeng dan diluar nalar pemikiran wajar yang justru bertentangan dengan ketegasan al-Qur’an yang memerintahkan kita mempergunakan akal didalam beragama (Qs. 5 al-maaidah: 58 Qs. 12 Yuusuf : 111, Qs. 39 az-zumar: 18 dan 21, Qs. 65 ath-thalaq: 10, Qs. 38 Shaad : 29 dan sejumlah ayat quran lainnya).

Misalnya saja hadist mengenai perjalanan Isra dan mikraj Nabi yang kental sekali nuansa dongengnya, dimana disitu disebutkan pertemuan Nabi Muhammad dengan para Nabi sebelumnya yang sudah wafat dan melakukan sholat berjemaah di Baitul Maqdis Palestina lalu dilanjutkan dengan wawancara Nabi dan Jibril seputar keadaan umat akhir jaman sampai pada kisah Nabi yang bolak-balik pulang pergi dari Tuhan menuju Musa dan sebaliknya (perintah Sholat seperti membeli baju dipasar, ada tawar menawar).

Saya sudah membahas detil kasus ini dengan nash-nash shahihnya secara kritis dalam buku saya yang terbit di Malaysia dengan judul : Israk Mikraj

Cover buku Israk Mikraj yang terbit di Malaysia

Belum lagi kisah Nabi Musa memukul keluar biji mata malaikat maut saat akan mengambil ruhnya atau juga kisah seputar kemunculan Dajjal dan turunnya ‘Isa al-Masih menjelang kiamat yang justru banyak saling bertentangan dan diluar nalar satu sama lain.

Sayangnya umat Islam justru menerima begitu saja dengan menyandarkan bahwa semuanya bisa saja terjadi bila ALLAH berkehendak, menurut saya justru alasan yang seperti inilah penyebab rusaknya cara berpikir umat terhadap agamanya, menerima atau taqlid buta tanpa berani mengkaji secara kritis.

Tanpa mengabaikan usaha ulama hadist dalam menyeleksi hadist-hadist Nabi lengkap dengan kriteria persyaratan mereka, bagi kita umat Islam yang hidup dijaman modern ini rasanya cukup sulit untuk meneliti satu persatu kebenaran suatu hadist Nabi berdasarkan rantai perawinya, selain kita tidak ada banyak waktu karena banyak pekerjaan lain, kita juga memerlukan banyak literatur atau buku-buku yang berhubungan dengannya termasuk catatan sejarah seputar latar belakang jaman para penulis hadist itu melakukan penulisan.

Menurut saya, jika ingin bicara soal kebenaran mutlak maka kita hanya bisa menyandarkan kebenaran 100% dari al-Qur’an sebagaimana firmannya berikut ini :

“Kitab ini, tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” – Qs. 2 al-Baqarah: 2

“Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Kitab; dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh” – Qs. 2 al-Baqarah: 176

Ulama Hadist maupun para sahabat tempat mereka mendapatkan hadist itu sendiri hanyalah manusia biasa yang bisa salah, bisa khilaf, bisa merekayasa, bisa berdusta, dan semua sifat-sifat manusiawi lainnya, disamping sifat-sifat positip yang mereka miliki. Disini kita tidak bermaksud untuk menuduh mereka khianat, fasiq atau sejenisnya. Sekali lagi kita menghormati dan menghargai mereka. Karena merekalah maka banyak kumpulan hadis dan sunnah yang dinisbatkan pada Rasul maupun keluarga dan sahabatnya sampai kepada kita. Tetapi, kita berbicara masalah obyektifitas.

Bahkan jika kita mau bicara soal keterbatasan manusiawiah, seorang Nabi sekelas Nabi Muhammad sendiri pernah ditegur ALLAH 2 x karena memastikan waktu turunnya wahyu (Qs. 18 al-kahfi : 23-24) dan bermuka masam saat ada orang buta meminta pengajaran agama kepadanya (Qs. 80 ‘abasa : 1).

Demikian pula dengan para istri Nabi, tidak luput dari kesalahan baik berupa rasa cemburu yang berlebihan (misalnya yang terjadi pada diri aisyah terhadap Khadijjah sehingga menimbulkan amarah Nabi SAW soal pengharaman madu), atau juga tergoda dengan kemewahan duniawi sehingga ALLAH SWT memerintahkan Nabi untuk memperingatkan mereka dan mengancam perceraian terhadap mereka (Qs. 33 al-ahzaab : 28 s.d 30).

Menyangkut sahabat-sahabatnya, ALLAH juga memberi peringatan kepada Nabi Muhammad SAW untuk berhati-hati (Qs.  9 at-Taubah : 101 ; Qs. 49 al-Hujuraat : 14), apalagi sejarah telah membuktikan tindakan sebagian besar sahabat yang melanggar perintah Nabi pada peperangan Uhud sehingga menyebabkan kekalahan pasukan kaum muslimin dan terlukanya Nabi (Qs. 3 ali imron : 165), dus ditambah dengan sikap munafik dari sahabat-sahabatnya sehingga dengan kejam membantai keluarga Nabi sendiri (semoga Allah memberikan balasan yang setimpal kepada mereka).

Penerapan sunnah dan hadist Rasulullah memang menjadi kebutuhan tersendiri bagi umat Islam selaku penjelas dan penerapan nyata dari al-Qur’an khususnya mengenai hal-hal yang memang tidak dijelaskan secara detail oleh quran. Kita bisa mempelajari kronologis atau sebab-sebab sebuah ayat diturunkan walau tidak semua ayat didalam al-Qur’an, Asbabun Nuzulnya sampai pada kita hari ini.

Namun bagaimanapun juga, kita tidak boleh berlaku sistem taqlid atau ikut-ikutan hanya karena sebagian besar orang atau ulama melakukannya sebagaimana hal ini dikecam oleh al-Qur’an :

“Dan jika kamu mengikuti sebagian besar manusia dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.” -Qs. 6 al-an’am : 116

“Dan jangan kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu mengenainya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” -Qs. 17 al-israa’ : 36

” Jika dikatakan kepada mereka: “Mari ikuti apa yang yang diturunkan Allah dan ikutilah Rasul”. Mereka menjawab : “Cukuplah bagi kami apa yang kami ketahui bapak-bapak kami mengerjakannya”. Lalu, apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk ?” – Qs. 5 al-maidah : 104

Akhir dari tulisan ini, mari kita tumbuhkan sikap kritis dalam beragama, tidak asal ikut-ikutan saja, saya percaya bahwa kebenaran itu ada dan akan tetap ada meskipun yang batil menutupinya.

Sikap kritis akan menumbuhkan rasa puas dalam beribadah karena yakin yang dilakukan adalah benar dan ada dasarnya. Tidak ada dosa dalam bersikap kritis, sebaliknya kita justru berdosa melakukan tanpa ada ilmunya, dan ini digolongkan oleh Nabi sebagai perbuatan Bid’ah.

Sesuaikan setiap hadist dengan al-Qur’an, umumnya jika suatu perbuatan itu bersifat wajib pasti akan ada dasarnya didalam quran karena hanya yang sunnah saja yang tidak diatur oleh ALLAH dalam quran yang bisa saja dimaksudkan agar tidak memberatkan umat, karenanya jika ternyata suatu perbuatan tidak diatur oleh quran, maka kita pelajari buku-buku atau literatur lain yang ada sekalipun itu dianggap bertentangan, karena dengan demikian kita bisa memilah dan menentukan berdasarkan pemikiran rasional, apakah itu benar atau tidak.

Masalah sholat misalnya, tegas dan jelas Allah menyebutkannya didalam al-Qur’an bahkan sampai pada sikap ruku’ dan sujudnya. Tetapi masalah bacaannya maka kembali lagi ini berkiblat pada apa yang diperintah oleh Allah, yaitu membaca apa yang mudah dari al-Qur’an untuk kita baca (lihat surah Al-Muzammil [73] ayat 20), secara perlahan (lihat surah yang sama diayat ke-4). Tradisi atau sunnah dari masa-masa kenabian dan sahabatnya yang sampai pada kita hari ini mengenai bacaan sholat ada banyak sekali dan bervariasi yang kadang satu dan lainnya tidak sama.

Ini adalah indikasi kuat bahwa memang sholat sendiri tidak dibuat seragam satu warna, kita bebas memilih bacaan-bacaan yang bersifat pujian, permintaan ampun. Kebetulan beberapa diantaranya yang diajarkan oleh Rasulullah, bisa sampai pada kita saat ini melalui koleksi hadis-hadisnya.

Tetapi perlu kita renungkan juga bahwa umat Islam sebelum masa pengumpulan hadis, ternyata bisa tetap melakukan ibadah ritualnya berdasar banyak sunnah yang dilakukan secara turun temurun dimasyarakat. Baik oleh masyarakat muslim yang tinggal didaerah kota suci maupun daerah dan negara lain yang sudah ditaklukkan pada masa itu.  

Lalu apakah sebaiknya kita tinggalkan saja seluruh hadis dan kembali pada al-Qur’an saja ? jelas sebagai orang yang cerdas, kita juga tidak bisa mengambil langkah seperti itu. Jika memang mau membasmi tikus, ya jangan bakar rumah. Artinya, kita cukup memilah dan memilih mana yang sekiranya bisa diterima dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan mana yang kita mesti waspadai.

Apalagi, sejarah juga mencatat bila para penafsir al-Qur’an dikalangan sahabat sendiri justru sering menanyakan cerita-cerita Israiliyat  yang berkaitan dengan kisah-kisah al-Qur’an pada mantan orang-orang ahli kitab yang masuk Islam.

Silahkan membaca tulisan saya yang berjudul : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/12/apakah-nabi-isa-disamarkan-wajahnya/ ditulisan tersebut saya ada menyinggung perihal ini.

Kita harus menyadari bahwa setelah Rasulullah wafat, mulai terjadi friksi diantara umat Islam sendiri yang kemudian berlanjut pada pertarungan rekayasa hadis untuk mengunggulkan kelompok dan pemahamannya sendiri. Berita tidak selamanya berfungsi selaku mirror of reality. Dalam banyak kejadian, berita adalah hasil dari pertarungan wacana antara berbagai kekuatan dalam masyarakat yang melibatkan pandangan dan ideologi media massa (tempat berita itu disiarkan) dan jurnalis sendiri (bisa juru dakwah, imam madzhab, ulama dan semacamnya). 

Disampaikan oleh Ibnu Khaldun dalam kutipan Haekal, kita tidak harus percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak harus percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan al-Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya.

Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber­sumber itu dikritik dari segi matn (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad itu akan gugur oleh matn. Orang sudah mengatakan bahwa tanda hadis maudhu’ (buatan) itu, ialah yang bertentangan dengan kenyataan al-Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan axioma lainnya. (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcvii)

Haekal juga berkata kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yang tidak cocok dengan yang ada dalam al-Qur’an. Yang tidak sejalan dengan hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah itu baru diperkuat dengan yang ada pada mereka, disertai pembuktian yang positif, dan mana-mana yang tak dapat dibuktikan seharusnya ditinggalkan. Pendapat cara ini telah dijadikan pegangan oleh imam-imam terkemuka dari kalangan Muslimin dahulu, dan beberapa imam lainpun mengikuti mereka sampai sekarang. (Lihat : Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcix)

Saya tidak menolak hadis-hadis yang dinisbatkan pada diri Rasulullah, baik yang datang dari kelompok Ahli Sunnah, Syiah maupun yang lainnya. Tetapi saya juga tidak bisa menerima semuanya tanpa boleh melakukan kritik dan penyaringan ulang.

Dalam hal ini ada sebuah riwayat yang dinisbatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu yang sangat saya sepakati isinya :

Sesungguhnya hadis-hadis yang beredar dikalangan orang banyak, ada yang haq dan ada yang batil. Yang benar dan yang bohong. Yang nasikh dan yang mansukh, yang berlaku umum dan khusus. Yang Muhkam dan yang Mutasyabih. Adakalanya ucapan-ucapan Rasulullah SAW itu memiliki arti dua segi, yaitu ucapan yang bersifat khusus dan yang bersifat umum. Maka sebagian orang mendengarnya sedangkan ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. Lalu sipendengar membawanya dan menyiarkannya tanpa benar-benar memahami apa artinya, apa yang dimaksud dan mengapa ia diucapkan. Dan tidak semua sahabat Rasulullah SAW mampu bertanya dan minta penjelasan dari Beliau. Sampai-sampai seringkali merasa senang bila seorang Badui atau pendatang baru bertanya kepada Beliau, karena merekapun dapat mendengar penjelasan beliau. (Sumber : Buku Mutiara Nahjul Balaghah, dengan pengantar Muhammad Abduh, Penerbit Mizan, Cetakan VII  Mei 1999, Halaman 83 )

 

Sepanjang hidup saya, sering saya berinteraksi dengan berbagai kelompok orang dan pemahaman yang seringkali menjadikan hadis sebagai pijakan utama mereka dalam berpaham. Katakanlah misalnya ketika saya membahas tentang hukum musik & gambar, hukum memelihara anjing, penyaliban Nabi Isa, penyamaran wajah Nabi Isa dan lain sebagainya. Anehnya, terkadang kutipan hadisnya sendiri tidaklah benar, sering dipotong dan bahkan dibeberapa sisi bertentangan dengan al-Qur’an.

Silahkan anda membaca tulisan saya dengan link-link berikut untuk lebih detil :

 https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/10/20/hukum-memelihara-anjing/

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/12/apakah-nabi-isa-disamarkan-wajahnya/

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/misteri-penyaliban-nabi-isa/

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/06/syurgabukancumautksatugolongan/

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/09/hukum-musik-gambar-dan-lagu-dalam-islam/

Alhamdulillah, saya mengoleksi cukup banyak kitab-kitab hadis baik yang berupa software maupun hardcopy. Dari kitab-kitab hadis yang banyak ini, sayapun bisa banyak belajar dan mengkaji termasuk melakukan komparasi atau perbandingan hadis. Saya tidak akan puas dan langsung menerima begitu saja sebuah hadis jika saya belum melakukan kroscek sendiri secara komprehensif apa isi lengkapnya dan bagaimana status hadis itu sebenarnya. Bahkan jika perlu cari juga asbabul wurud dari hadis-hadis tersebut.

Image : Beberapa kitab hadis koleksi pribadi

Orang yang menutup mata dari kitab-kitab hadis, adalah orang yang sombong dan buta mata hatinya. Kita mestinya mau belajar dari manapun ilmu itu berasal. Baru-baru ini, saya membeli aplikasi Kitab 9 Imam yang secara onlinenya bisa anda akses juga di : http://id.lidwa.com/app/ . Bukan bermaksud untuk mempromosikannya, namun, melalui aplikasi-aplikasi semacam ini maka kita sebagai seorang pencari ilmu, akan mudah melakukan pencarian dan komparasi secara lebih komprehensif.

Tampilan situs lidwa.com berisi 9 kitab para Imam Hadist

Tampilan aplikasi Kitab 9 Imam versi offline

Akhirnya, semoga kita semua mendapatkan petunjuk dari ALLAH didalam  menjalankan dan menerapkan kewajiban-Nya yang ada didalam al-Qur’an dan juga mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang murni. Semoga pula kita tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang dikeluhkan oleh Rasulullah kepada Allah sebagaimana termaktub didalam al-Qur’an :

waqaala alrrasuulu yaa rabbi inna qawmii ittakhadzuu haadzaa alqur-aana mahjuuraan

Berkatalah Rasul:”Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. 25:30)

Palembang, Last Update : 28 Desember 2011

Armansyah


Advertisements

5 Responses

  1. Itu semua kan , hasil pemikiran Anda Sendiri yang menggunakan “Akal” sehat Anda.

  2. wa’alaykumus salam wr. .wb, saudaraku Arman yg sangat kritis,

    saudaraku,
    sampean mengkritisi riwayat Imam Bukhari dlm peristiwa Isra’ Mi’raj -> berdasarkan logika…

    saudaraku,
    iman adalah kunci utama, sedangkan logika/pemikiran rasional u/ menguatkan iman… Imam Bukhari telah meneliti bertahun-tahun, misalnya thd kualitas perawinya…

    pernah suatu ketika Imam Bukhari menemukan perawi yg “menzhalimi” binatang piaraannya… perawi itu memanggil binatang tsb. dgn iming2 makanan… setelah binatang tsb datang, ternyata makanan itu tdk diberikan… oleh Imam Bukhari, hadits yg diriwayatkan oleh perawi ini tdk termasuk kategori shahih…

    andaikan saat ini belum ada alat rekam, niscaya banyak sekali berita yg disampaikan tdk bisa dikategorikan shahih krn penyampai berita tdk lolos tes uji Imam Bukhari…

    saudaraku,

    kalau memang logika/pemikiran rasional adalah segala-galanya & bisa menjawab semua pertanyaan, tolong sampean jawab pertanyaan saya :

    Bagaimana mungkin Siti Maryam melahirkan Nabi Isa as., sedangkan beliau belum terjamah oleh laki-laki? Bagaimana pula Nabi Isa as. dapat berbicara ketika masih bayi? (QS Maryam [19] : 27-36)

    Kalau memang sampean merasa mengerti betul cara berpikir rasional, tolong sampean jawab pertanyaan kedua saya disertai dalil2 berpikir rasional yg sampean bangga2-kan:

    “Saya tinggal di Miami, Florida sedangkan saudara kembar saya tinggal di Tucson, Arizona.

    Pada suatu hari, lewat telepon saya katakan padanya bahwa suhu di Miami 80 derajat Fahrenheit (26 derajat Celsius).

    Lalu ia dengan bercanda mengatakan bahwa di Tucson dua kali lebih panas.

    Andaikata sungguh demikian, berapakah temperatur di Tucson? Apakah 160 derajat F (71 derajat C)?”

    begitu dulu, saudaraku… semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com

  3. […] seperti yang sudah saya jelaskan panjang lebar dalam tulisan : Bagaimana Menyikapi Perbedaan Hadist (klik saja linknya jika ingin membacanya), sangat bisa jadi dalam prosesnya mengalami banyak […]

  4. Al Abany pun sudah dikritisi oleh para pakar hadist. Karena Beliau meskipun dengan segala hormatnya, bukanlah orang yang suci lepas dari kesalahan, beliau bukanlah orang yang belajar khusus mendalami hadist melalui buku-buku dan metode pembelajaran yang sudah bersanad.
    Sudah ada sekolah hingga ke universitas yg mempelajari dan mendalami hadist-hadist, dan ilmu tidak pernah final, karena itu akan terus muncul perdebatan hadist sebagai keilmuan, bukan sebagai alat untuk menjatuhkan hukuman kafir-mengafirkan antar umat.

    Pelajari hadist sebagai bagian dari ilmu Islam, mudah-mudahan ada manfaatnya.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: