Takdir

TAKDIR

Oleh : Armansyah

Takdir adalah ketentuan yang sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah yang Maha Kuasa terhadap semua ciptaan-Nya, mulai dari makhluk terkecil hingga makhluk terbesar, mulai dari yang tampak maupun yang tidak nampak oleh mata lahiriah kita, sejak yang paling-paling baik sampai yang paling-paling buruk.

Seorang manusia sejak ia ditakdirkan untuk terlahir dan menjadi ada dia sudah memilki jalan hidup ataupun takdir yang jutaan atau mungkin malah milyran jumlahnya.

Masing-masing takdir ini berbeda satu dengan yang lain tergantung dari langkah maupun sikap yang dikerjakan. Disini hukum kausalitas atau sebab-akibat mulai berlaku.

Jika saya tampar muka saya sendiri konsekwensinya saya pasti merasakan sakit akibat tamparan tersebut, demikian kira-kira contoh hukum sebab-akibat.

Pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab, pernah suatu waktu beliau akan mengadakan kunjungan kesuatu daerah, namun tiba-tiba dia mendapat kabar dari salah seorang sahabat bahwa daerah yang akan dia kunjungi tersebut ditimpa oleh bencana penyakit kulit yang menular.

Khalifah menunda kunjungannya kedaerah tersebut hingga penyakit tersebut dapat teratasi. Sikap Khalifah Umar ini mendapatkan cukup banyak pertanyaan dari para sahabat lainnya. Pertanyaan mereka kira-kira seperti ini : Apakah tuan sudah tidak percaya kepada takdir Allah sehingga takut terkena penyakit menular tersebut ?

Khalifah Umar menjawab : “Aku bukan tidak percaya kepada takdir Allah. Manusia tidak dapat berlari dari Kausalita yang berlaku. Hanya saja manusia dapat memilih takdir mana yang akan dia tempuh. Aku menghindari takdirku dari terkena penyakit menular untuk memasuki takdirku yang lain.”

Sebelumnya, jauh diwaktu Nabi sendiri masih hidup, beliau pernah menegur seorang sahabatnya yang begitu ingin bergegas mengerjakan Sholat didalam masjid sehingga begitu turun dari kuda dia langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan hewan peliharaannya tersebut.

Ketika ditanya Nabi mengapa orang tersebut melepaskan kudanya begitu saja tanpa merasa takut kehilangannya, orang itu menjawab bahwa dia percaya kepada Allah, dia pasrah apapun yang akan terjadi.

Perbuatannya ini tidak dibenarkan oleh Nabi.

Dia menyuruh orang itu untuk terlebih dahulu menambatkan kuda sebagaimana mestinya, agar tidak lepas dan hilang baru kemudian menyerahkan kepada Allah segala ketentuan lainnya. Jika setelah kuda itu ditambatkan dalam pengertian dicarikan upaya agar tidak hilang dan lepas namun masih juga hilang nantinya …. maka itu baru takdir Allah yang pun tidak terlepas dari takdir-takdir lain yang berjalan paralel didalam kehidupan ini.

Mungkin anda tertawa jika saya mengatakan kausalita takdir anda tergantung dengan kausalita takdir saya, bagaimana bisa ? kita sendiri baru berkenalan sekarang dan inipun hanya melalui tulisan yang dijembatani oleh milis Iqra, arsiparmansyah.wordpress.com, facebook maupun twitter atas fasilitas Internet, pesawat telepon, pulsa telepon, modem dan komputer.

Namun sekarang saya buktikan bahwa kausalita takdir masing-masing kita ini saling berkaitan (paralel) :

Coba anda bayangkan, bila saja orang yang bernama Thomas Alpha Edison, James Watt, Abraham Lincoln Bell, Bill Gates tidak pernah terlahir didunia ini atau katakanlah mereka terlahir namun tidak menjadi seperti sekarang ini … kira-kira, apakah saat ini kita bisa saling berkenalan seperti ini melalui internet ? Apakah kira-kira peradaban kita sekarang ini sama seperti yang kita jalani saat ini ?

Jawabnya tidak !

Oleh karena mereka ada dan oleh karena hasil kreatifitas mereka maka dunia bisa menjadi seperti ini, kita tidak perlu lagi berkirim surat melalui burung merpati, kita tidak juga perlu lagi mempelajari ilmu telepati karena kehadiran pesawat telepon yang membuat komunikasi bisa terjadi antara 2 orang atau lebih dari tempat yang sangat berjauhan sekalipun, bahkan kita tidak perlu repot memikirkan bagaimana caranya bisa menerima telepon saat sedang berada dijalan raya sebab handphone sudah pula terlahir.

Kita tidak juga bingung membuat sistem pengarsipan manual yang menumpuk kertas sebab sudah ada komputer dan sudah ada pula bermacam aplikasi, bahasa pemrograman dan sarana-sarana penunjang lainnya diciptakan orang.

Bahkan untuk belajar agamapun kita tidak perlu jauh-jauh datang ketanah Arab hanya untuk mempelajari Tafsir al-Mizan, Tafsir at-Thabari, kitab-kitab Hadis dan sebagainya dan seterusnya sebab dengan adanya komputer dan Internet maka kita bisa mempelajarinya bahkan sambil menonton televisi dirumah ditemani secangkir kopi susu dan di-iringi musi lembut Diego Modena lewat Imploranya.

Contoh lain, bila kita menebangi hutan terus-terusan maka karena sebab itu akan mengakibatkan terjadi banjir, tanah longsor dan sebagainya yang bisa saja merugikan orang lain. Begitu pula jika kita ingin anak dan istri kita sholeh, ya harus ada proses pembelajaran bagi mereka dan harus pula ada contoh dari orang yang paling dekat dengan mereka.

Satu lagi saya bawakan contoh nyata, dulu ketika awal saya menjadi guru disalah satu SMA Internasional yang berkurikulum Cambridge University, bahasa asing yang dipelajari adalah bahasa Jepang dan bahasa Inggris tentu saja. Tetapi kemudian, setelah pengajar bahasa Jepang berhalangan untuk semester berikutnya, saya berhasil mempengaruhi pihak sekolah untuk menggantinya dengan bahasa Arab.

Bayangkan, seluruh siswa akhirnya mendapatkan kurikulum bahasa Arab. Mereka yang tadinya buta dan tidak bisa membaca Arab sama sekali, dengan adanya pelajaran bahasa Arab ini, menjadi bisa membaca dan bahkan berbicara dalam bahasa Arab. Lebih jauh mereka berpeluang besar untuk lebih dapat memahami isi al-Qur’an kedepannya.

 

Silahkan dijawab sendiri, apakah eksistensi saya dengan merubah bahasa asing Jepang menjadi bahasa Arab tidak mempengaruhi takdir orang lain ?

Kemudian, saya juga membentuk Rohis atau Rohani Islam disekolah tersebut sekaligus menjadi pembinanya. Dalam banyak pertemuan, termasuk dikelas agama, saya selalu menyinggung dan membahas dengan berbagai cara untuk penggunaan hijab dikalangan siswi. Alhamdulillah, sampai saat ini ada sekitar 22 siswi hijrah dari tadinya tidak berhijab saat ini memutuskan untuk berhijab. Apakah sekali lagi, takdir saya berada disekolah ini tidak mempengaruh takdir orang lain ? Bahkan jika siswi-siswi saya tadi konsisten dengan hijabnya sampai akhir hayat mereka, bayangkan perubahan besar takdir mereka yang sudah terbentuk melalui takdir keberadaan saya ditengah mereka. Mungkin ini cara mereka terhindar dari takdir menjadi selebriti yang seronok atau perempuan yang suka memakai rok mini or baju dengan model “you can see”.

Kesimpulannya, dengan sebab takdir orang lain maka kitapun bisa menentukan takdir pada diri kita masing-masing, mau apa, mau jadi bagaimana diri kita, mau sebejat apa atau mau seshaleh apa, mau berjalan keneraka atau berjalan kesurga dan lain sebagainya.

Ini semua membuktikan bahwa hidup adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan sampai pada titik paling kecil sekalipun, baik disadari maupun tidak disadari.

Karenanya Allah berfirman :

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. – Qs. 13 ar-Ra’d 11

Lalu pertanyaan lainnya sekarang : Seberapa jauh intervensi Allah terhadap kebebasan manusia dalam menentukan sikap dan hidupnya ?

Jawaban dari pertanyaan ini akan kembali pada sejauh mana kausalitas pada diri kita telah kita maksimalkan kearah yang positip, menuju kreativitas yang menciptakan hubungan sebab-akibat bagi diri dan sejarah orang lain.

Allah tidak menginginkan seseorang menjadi jahat, bukti bahwa Dia sudah mengutus banyak Nabi dan Rasul-Nya, sudah mengutus para mujahid-mujahid yang memberikan pencerahan disetiap jaman dan tempat sebagai jalan (sebab-akibat) orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.

Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah 2:276

Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. -Qs. al-An’am 6:12

Akan halnya seorang penjahat tetap menjadi penjahat, seorang penzinah tetap menjadi penzinah, seorang pengkhianat tetap menjadi pengkhianat itu bukan karena Allah mentakdirkan dirinya harus seperti itu, sebab sekali lagi ini adalah akibat dari sebab yang dia lakukan sendiri :

Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. -Qs. ali Imran 3:117

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. -Qs. an-Nisa’ 4:40

Semuanya berlaku sama,

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (kehendak Allah [nilai-nilai positip]), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. -Qs. 17 al-Israa’ :15

Kita semua dilahirkan dengan membawa sifat baik dan buruk, ini fitrah (sesuatu yang natural) sebagai bekal dan bukti kemanusiawian kita, saat kita hanya dibekali dengan sifat yang baik saja maka ini bukan fitrah dan tentu kita bukan manusia, begitupula bila kita hanya dibekali sifat buruk saja maka itupun bukan fitrah.

Fitrahnya kita ya seperti ini, tinggal lagi mau bagaimana kita memprogram fitrah yang ada.

Jika anda yakin hidup anda akan happy ending maka berupayalah agar itu bisa menjadi terwujud, kejar dan cari takdir tersebut dari sekian juta atau sekian milyar takdir-takdir anda yang ada di Lauhful Mahfudz.

Allah memang merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, akan tetapi Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk tetap menentukan model bahagia seperti apa dan akhir yang bagaimana yang dia inginkan.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. -Qs. al-Baqarah 2:185

Rencana Allah tidak berjalan dengan mengabaikan hukum-hukum yang pun sudah ditetapkan-Nya sendiri.

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. -Qs. 33:62

Kita berdoa dan berusaha dalam hidup ini agar semua modul-modul dari semua sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangkat kompleks ini berjalan dengan baik, kita berdoa agar Allah memberikan bantuan (mengintervensi) atas semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link pada hukum sebab-akibat yang baik, sholeh dan positip.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. -Qs. 52 ath-Thuur :21

Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. -Qs. 2 al-Baqarah: 186

Jika saya boleh menganalogikan dengan dunia saya sehari-hari, maka orang yang mengabaikan doa adalah orang yang tidak mengerti proses hukum yang berlaku, dia terjebak dalam logika pengulangan (looping) If … Then…Else yang tidak berakhir dengan kode End If, bagaikan seorang Web Master yang setelah selesai membangun sebuah website yang bagus tetapi dia bingung harus membuat link kesitus yang mana sebab dia tidak menjalin hubungan komunikasi dan kerjasama dengan Web Master lain dan dia akan berkutat dalam situsnya sendiri hingga siapapun yang berkunjung kesana pasti akan menemukan kebosanan saja, itulah makanya Allah menyebut orang yang demikian sebagai orang yang sombong.

Dan berbuat baiklah (lakukanlah kerjasama dan jalinlah komunikasi yang harmonis) kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan orang-orang dalam tatahukummu Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. -Qs. an-Nisa’ 4:36

Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. -Qs. an-Naml 27:31

Sistematika hidup sebenarnya bisa dijelaskan dengan conditional statement pada flowchart dan bilangan biner pada ilmu ICT. Sama halnya dengan misteri Lauhul Mahfudz yang juga bisa dijelaskan dengan konsep pemrograman database.

Hidup memang pilihan, antara benar dan salah, antara syurga dan neraka. Itulah bilangan biner, kalau tidak 0 ya 1. Sistem flowchart juga sama : If Then Else, jika tidak memenuhi kondisinya maka dia harus looping atau langsung melompat ke statement lain yang hasil akhirnya jelas menyelisihi hasil dengan keterpenuhan kondisi.

Semua percabangan takdir kita sudah di-embedding didalam Lauhul Mahfudz. Misal apakah kita besok akan lewat kekiri atau kekanan, jika lewat kekiri maka percabangannya akan begini-begini-begini, jika lewat kanan maka percabangannya akan begitu-begitu-begitu dan rentetan lain yang menyertainya.

Oleh karena itu, sebagian orang mempercayai Parallel Universe, dimana disana ada kembaran kita yang bertolak belakang dengan keadaan kita disini. Jika kita besok mau ke Jakabaring melalui Ampera, maka kembaran kita di parallel universe itu besok lewat musi 2. Kira-kira begitu maksudnya.

Lauhful Mahfudz sendiri sering disebut dengan nama al-kitab disisi Allah. Misalnya dalam surah [6] Al-An’am ayat 37, 38 dan 39. Nah Kitab lauhful Mahfudz tersebut dalam skema pemikiran saya merupakan ilustrasi dari suatu hirarki perencanaan semua alam semesta Allah yang maha kompleks. Dalam bahasa sederhana Lauhful Mahfudz adalah databasenya Allah atau kumpulan data-data takdir makhluk hidup dan kejadian semua peristiwa dialam semesta secara umum.

Disana juga terdapat salah satunya adalah al-Qur’anul karim yang sesungguhnya. Kita berdoa dan berusaha dalam hidup ini agar semua modul-modul dari semua sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangkat kompleks ini berjalan dengan baik, kita berdoa agar Allah memberikan bantuan (mengintervensi) atas semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link pada hukum sebab-akibat yang baik, sholeh dan positip. Berdoa adalah upaya kita agar Allah mengarahkan langkah kita pada pilihan yang terbaik menurut Dia dan bukan terbaik menurut pandangan kita.

Armansyah, Palembang

One Response

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: