Islam Kaffah 3 : The Soulmate

Islam Kaffah 3
The Soulmate
Oleh : Armansyah


Tulisan ini masih terkait erat dengan bahasan kita sebelumnya tentang Islam Kaffah 1 (baca disini: http://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/10/17/kaffah-1/ dan Islam Kaffah 2 : An Unlimited System (baca : http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/08/19/islam-kaffah-an-unlimited-system/

Seperti yang kita ketahui bersama, Islam bukanlah ajaran yang sempit, exclusive atau egoisme yang hanya mengatur urusan ibadat mahdhah yang melulu berbicara soal akhirat dan upacara-upacara ritual ketuhanan yang bersifat abstrak saja tapi Islam berbicara juga tentang dunia dan kehidupan nyata yang dapat disentuh, dirasakan serta dilihat.

Islam mengatur perilaku umatnya dalam berpikir, bertindak, bermasyarakat sampai pada berorganisasi maupun bernegara. Meski demikian Islam sangat menghargai perbedaan pendapat secara internal serta keragaman yang ada diluarnya. Defenisi kebebasan yang dicanangkan oleh Islam adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Dan itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur hak asasi setiap orang.

Islam merupakan jalan hidup yang berisikan petunjuk, bimbingan dan tuntunan bagi manusia didalam berproses didunia ini selaku Khalifah Tuhan. Karena itu Islam tidak bisa dilepaskan dari satu titikpun celah kehidupan manusia, baik dalam keadaan beribadah vertikal maupun melakukan tugas fungsionaritasnya sehari-hari termasuk dalam bernegara. Seorang pekerja kantoran dia tidak bisa melepaskan Islam saat dia sibuk dengan semua urusan kantornya, seorang artis pun tidak bisa menanggalkan Islamnya saat sedang berada dipanggung menghibur masyarakat, seorang fungsionaris partai, seorang anggota parlemen juga tidak mungkin dapat menghilangkan Islamnya dan sebagainya dan seterusnya, apapun status sosial kita, pekerjaan kita, pemikiran kita semuanya tidak terlepas dari syariat yang sudah diturunkan oleh Allah.

Itulah kenapa didalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dengan kehidupan, jika ada ulama atau kyai sampai mengatakan adanya pemisahan antara agama dan kehidupan termasuk bernegara, maka orang itu belum pantas untuk disebut seorang ulama Islam, belum pantas dia dipanggil seorang kyai, karena pengetahuan dan wawasan ke-Islamannya masih teramat sangat dangkal sekali, mungkin juga dia sudah terpengaruh budaya barat yang memisahkan gereja dari kehidupan namun tetap saja ucapannya tidak bisa dibenarkan baik secara logika ataupun dari sudut pandang agama itu sendiri.

Saat Islam mulai dipisah dari kehidupan sosial, maka saat itu juga manusia akan lepas kendali, dia akan berbuat semau-maunya, dia akan korupsi, dia akan menari telanjang, dia akan membunuh, mabuk-mabukan, melakukan seks bebas, menerbitkan majalah Playboy, melegalisasi pornografi plus porno aksi atas nama seni, meledakkan bom dan berbagai tindak kejahatan lainnya, karena dia tidak ada urusan dengan yang namanya agama, baju agama baru dipakai saat ada acara kawinan, sunatan, tahlilan, maulud Nabi, jumatan, lebaran dan seterusnya.

Harian Umum Kompas terbitan Rabu, 20 Agustus 2008 halaman 5 menurunkan tulisan tentang sejumlah kecil kasus-kasus hitam yang melibatkan anggota DPR-RI. Dimana disana bisa kita lihat secara acak dan umum seberapa jauh akhlak ataupun penerapan konsep agama didalam kehidupan para anggota dewan kita yang terhormat. Kompas memulai ulasannya itu baru pada Maret 2007 saja dimana Partai Golkar menarik anggota legislatifnya di parlemen yang bernama Yahya Zaini yang terlibat kasus perzinahan dengan Maria Eva.

Dilanjutkan dengan April 2008 penangkapan Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK terhadap Al Amin Nasution dari PPP yang diduga menerima suap dalam alih fungsi hutan lindung dikabupaten Bintan-Riau. April 2008 penahanan KPK atas Hamda Yandhu dari Fraksi Partai Golkar di DPR atas keterlibatannya pada korupsi dana Bank Indonesia, Mei 2008 Sarjan Taher dari Partai Demokrat di DPR dalam kasus alih fungsi hutan mangrove di Sumatera Selatan, Juni 2008 ada Max Moein dari PDI-P yang harus diperiksa oleh Badan Kehormatan DPR akibat mencuatnya kasus pelecehan seksual, masih dibulan Juni 2008 ada Bulyan Royan dari Fraksi Partai Bintang Reformasi yang tadinya dipimpin oleh Kyai kondang Zainuddin MZ atas dugaan kasus penyiapan proyek pengadaan kapal di Departemen Perhubungan.

Selanjutnya Juli 2008 penahanan KPK terhadap anggota fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) : Yusuf Emir Faisal juga atas kasus alih fungsi hutan mangrove di Sumatera Selatan, terakhir Kompas menutup ulasannya dengan kasus Saleh Djasit anggota fraksi Partai Golkar DPR yang dituntut 4 tahun penjara di pengadilan TIPIKOR atas korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran saat ia menjabat Gubernur Riau.

Tampaknya Kompas sendiri masih berbaik hati untuk tidak mencantumkan semua skandal maupun kasus-kasus hitam para anggota maupun mantan anggota parlemen kita lainnya yang pernah mencuat kepublik. Intinya bahwa agama memang tidak mendarah daging dalam kebanyakan dari kita.

Padahal agama itu bisa diterapkan dalam semua bentuk kehidupan dan semua status sosial serta kenegaraan, sebab agama tidak melulu mengatur bagaimana cara sholat atau bagaimana cara berdzikir, tetapi juga mengatur bagaimana cara bernegara, mengatur masyarakat dan tatanan nilai yang ada didalamnya. Agama menurut konsep Islam adalah bersifat menyeluruh, bersifat totalitas, mencakup semua aspek kehidupan, terimalah dia dengan kaffah, wajarlah dalam bersikap, jangan memecah belahnya, itulah esensi Islam yang sangat mendasar setelah Tauhid.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu. (QS AL-Baqarah (2) :208)

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang mau kembali (kepada-Nya). (QS Asy-Syuura (42) :13)

Machiavelli (1469-1527) saat ia mengeluarkan teori pemisahan negara dengan agama tidak lain disebabkan latar belakang kekacauan yang berkecamuk antara gereja dengan negaranya. Ini tidak perlu kita angkat sebagai contoh yang baik.

Dibarat sana, jangankan dengan negara, agamapun bahkan harus dipisahkan dengan ilmu teknologi modern sebab memang agama dianggap berkonfrontasi terhadapnya. Setiap keterangan ilmu yang tidak sepaham dengan gereja segera dibatalkan oleh Kepala Gereja. Itulah yang terjadi pada Astronom Nicholas Copernicus (1507) yang menghidupkan kembali ajaran orang-orang Yunani dijaman purba yang mengatakan bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi sebagaimana ajaran gereja dan tercantum pada Yosua 10:12-13, melainkan bumi yang berputar dan mengedari matahari.

Galileo Gelilei yang membela teori tersebut pada tahun 1633 diancam hukuman bakar seandainya dia tidak mencabut kembali teori tersebut oleh Inkuisisi, yaitu organisasi yang dibentuk oleh gereja Katolik Roma yang menyelidiki ilmu klenik sehingga sikap gereja yang kaku itu telah menimbulkan tuduhan bahwa agama menjadi penghalang bagi kemerdekaan berpikir dan kemajuan ilmu. Dari keadaan demikian terjadilah berbagai pemberontakan dari dalam. Pada tahun 1517 terjadi reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sehingga menimbulkan kelompok Protestan.

Pada tahun 1992, yaitu setelah 359 tahun kecaman kepada Galileo dilontarkan oleh pihak gereja, akhirnya gereja Katolik Roma secara resmi mengakui telah melakukan kesalahan terhadap Galileo Gelilei dan Paus Yohanes Paulus II sendiri telah merehabilitasinya. Rehabilitasi diberikan setelah Paus Paulus menerima hasil studi komisi Akademis Ilmu Pengetahuan Kepausan yang dia bentuk 13 tahun sebelumnya dengan tugas menyelidiki kasus itu. Komisi ini memberitahukan, anggota Inkuisisi yang mengecam Galileo telah berbuat kesalahan. Mereka menetapkan keputusan secara subjektif dan membebankan banyak perasaan sakit pada ilmuwan yang kini dipandang sebagai bapak Fisika Eksperimental itu.

Semuanya ini jika kita mau jujur dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkap oleh Bart D. Ehrman dalam bukunya yang berjudul “Misquoting Jesus (Kesalahan penyalinan dalam kitab suci perjanjian baru : Kisah dibalik siapa yang mengubah alkitab dan apa alasannya)” terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama 2006, adalah karena memang kitab yang diyakini suci oleh pihak gereja dan barat itu bukanlah murni wahyu Tuhan lagi, namun bercampur dengan mitos serta intervensi tangan-tangan manusia jahil lainnya sehingga agama dalam kasus mereka memang hanya menimbulkan kekisruhan saja jika disatukan dengan sistem bernegara dan sains modern.

Sejak jaman dahulu ajaran-ajaran pokok agama telah bercampur-aduk dengan keterangan-keterangan tentang mekanisme alam, baik yang bercorak ilmiah rancu (pseudoscientific), mitos maupun yang bersifat legendaris. Intuisi dasar manusia menyatakan bahwa semua kebenaran itu satu dan saling berkaitan satu sama lain karena itu orang mencampur-adukkan semua hal secara sembrono, fakta dicampur-aduk dan dikacaukan begitu saja dengan nilai. Orang yang meyakini kebenaran suatu agama juga disuruh percaya begitu saja kepada segala macam mitos penciptaan sehingga kebenaran agama tertutup.

Sikap menentang para ilmuwan terhadap agama terutama disebabkan oleh adanya perbedaan antara ilmu pengetahuan yang telah teruji mengenai alam dengan mitos-mitos alegorik yang dipaksakan untuk diyakini sebagai [bukti-bukti] kebenaran tertulis mengenai fakta-fakta kosmologis dan historis yang ada. Ibarat menempuh perjalanan menuju tujuan, maka kita harus memiliki peta jalan yang benar, ada banyak peta yang disodorkan pada kita, semua peta itu berbeda satu sama lain. Tentu tidak semua peta itu benar atau mungkin kesemuanya salah. Karena itu diperlukan pembuktian atas peta tersebut.

Begitu juga dalam agama, kita harus membuktikan bahwa agama yang kita anut sekarang adalah benar-benar agama yang benar secara ilmiah, akal, nurani dan logika.

Bukan benar secara iman yang dalam ini lebih bersikap dogmatis.

Karena itu dalam islam dipentingkan penggunaan akal dan pikiran untuk menemukan kebenaran itu, karena orang-orang yang berakal tidak gampang dibohongi oleh ajaran-ajaran palsu. Setelah kita yakin dan telah membuktikan peta yang benar tentu kita akan mengikuti petunjuk petunjuk yang tertera didalamnya dengan tidak melenceng sedikitpun, kalaupaun kita sedikit melenceng agar arah tujuan kita tetap bener tentu kita harus kembali kejalan yang telah ditunjukkan. Supaya kita tidak tersesat. Dalam hal ini kita harus benar-benar mengikuti petunjuk peta yang benar itu. Begitu juga dalam agama jika kita telah membuktikan agama yang benar, tentu kewajiban kita mengikuti semua perintah yang tertuang dalam agama itu dan meninggalkan semua larangan yang ada.

Fakta bahwa Islam sendiri tidak pernah menuai konfrontasi dengan Sains maupun sistem kenegaraan. Negara Madinah dijaman pemerintahan Nabi, Abu Bakar dan Umar mungkin bisa kita jadikan parameter sukses pemberlakuan sistem kenegaraan secara Islam. Begitupula dengan jaman keemasan Islam yang berlangsung selama periode Abbasiyah di Baghdad (750-1258) dan Umaiyah di Spanyol (755-1492).

Dalam permulaan abad pertengahan tak satu bangsapun yang lebih besar sumbangannya untuk proses kemajuan manusia selain dari bangsa Arab. Mahasiswa-mahasiswa Arab sudah asyik mempelajari Aristoteles tatkala Karel Agung bersama pembesar-pembesarnya masih asyik belajar menulis namanya. Disekitar abad X, Cordova adalah kota kebudayaan yang ternama di Eropa dengan Konstantinopel dan Baghdad merupakan kota-kota pusat kebudayaan didunia.

Orang selalu curiga dengan meleburnya Islam dengan organisasi, berpartai atau bernegara. Padahal pemberlakuan syariat Islam dalam sebuah negara seperti Indonesia ini sekalipun saya pribadi punya keyakinan tidak akan membuat terjadinya gesekan antar agama, sebab Islam sendiri secara kontekstualnya begitu mengedepankan sikap toleransi dalam hal keyakinan. Contoh nyata bisa kita lihat dalam sejarah negara Madinah dibawah pemerintahan Nabi Muhammad yang menggunakan Piagam Madinah sebagai konstitusinya (dijaman Nabi setiap umat Islam wajib menjalankan syariat Islam dan begitu juga dengan umat lain diluarnya).

Ada tiga suku komunitas Yahudi yang hidup di Madinah bersama kaum Muslimin, dan turut menyepakati Piagam Madinah, yaitu Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah. Jikapun akhirnya terjadi peristiwa yang menimbulkan gesekan antara Islam dengan ketiga komunitas Yahudi itu sama sekali tidak disebabkan oleh faktor agama atau karena umatnya menjalankan syariat masing-masing.

Bukan itu sebabnya. Ketiganya, terlibat dalam kasus-kasusnya tersendiri, yang membawa konsekwensinya bagi masing-masing pihak. Bani Qainuqa’ terlibat dalam kriminalitas dan kerusuhan sosial, yang merenggut nyawa beberapa orang kaum Muslimin. Sehingga  mengharuskan mereka untuk mempertanggungjawabkannya. Namun mereka menolak, sehingga harus dikepung, dan akhirnya terusir dari Madinah, pada Dzul Qa`dah 2 Hijriah. Demikian juga Bani Nadhir. Mereka terlibat dalam pelanggaran salah satu point Piagam Madinah, dan diketahui berencana membunuh Rasul SAW. Sehingga mereka pun mengalami nasib yang sama dengan kelompok pertama, dan terusir dari Madinah, pada Rabi`ul Awwal 4 Hijriah.

Sementara, Bani Quraizhah, mereka terlibat dalam kasus yang amat serius, yaitu melakukan makar dan berkhianat dengan pihak “sekutu”, yang terdiri dari kafir Quraisy dan suku-suku Arab di sekitar Madinah, untuk membumi hanguskan negara Madinah, dalam peperangan yang terkenal dengan perang Khandaq (parit), atau perang Ahzab. 

Sehingga tuntutan hukum bagi mereka (bagi kalangan  lelaki dewasa mereka, yang terlibat langsung dalam pengkhianatan) adalah: hukuman mati atau bisa memilih  opsi “masuk Islam”, sebagai jalan mendapatkan amnesti (pengampunan). Tawaran ini pun mereka tolak, sehingga sempat terlibat dalam peperangan dengan kaum Muslimin, dan berakhir dengan digelandangnya mereka ke pengadilan Rasul Saw, untuk kemudian dijatuhi vonis mati, pada 5 Hijriah (menurut pendapat yang terkuat), berdasarkan keputusan yang diambil oleh Sa`d bin Muadz.

Analogi kasus Bani Quraizhah untuk dunia modern, mungkin,  adalah kasus desersi sepasukan tentara dalam peperangan, atau pengkhianatan sekelompok orang  (warga negara) untuk menghancurkan negara sendiri bersama kekuatan musuh. Saya tidak tahu, apa tuntutan hukum modern  bagi kejahatan semacam ini. Mungkin, dari situ, nanti kita bisa menilai tindakan Rasul Saw pada Bani Quraizhah ini. Sebagai perbandingan saja, dalam cerita-cerita rakyat Indonesia baik itu yang berasal dari jaman kerajaan ataupun jaman dimana penjajahan kolonial masih bercokol dibumi nusantara ini, orang yang berkhianat biasanya akan dibunuh, dia akan menjadi The Most Wanted Persons !

Indonesia ini adalah negara dengan mayoritas Muslim, seyogyanyalah negara ini menjunjung tinggi nilai-nilai keberadaban yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu norma-norma akhlaqul karimah. Bukankah Nabi Muhammad diutus selain sebagai penyempurna risalah kenabian sekaligus merupakan penyempurna akhlak ? Saya jadi teringat salah satu sabda beliau SAW :

Bahwasanya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Ahmad)

Kenapa akhlak kita harus baik ? Jawabnya adalah sabda Nabi yang lain :

Akhlak yang baik dapat menghapus kesalahan, bagaikan air yang melumatkan tanah yang keras. Dan akhlak yang buruk merusak amal, seperti cuka merusak manisnya madu. (HR. Baihaqi)

Maju mundurnya suatu kaum akan sangat ditentukan oleh akhlak yang ada pada kaum itu, jika semua orang dibiarkan saja rusak akhlaknya oleh sebab merajalelanya “pameran paha, pusar dan payudara” diberbagai sinetron, iklan, konser, majalah dan jalanan, maka tunggulah waktunya dimana agama akan menjadi barang yang sama sekali asing untuk dibicarakan dan gejalanya sudah terjadi seperti sekarang ini. Orang yang bicara kebenaran agama diberi label sebagai orang yang kolot, ketinggalan, munafik, sok suci, fanatik, ekstrimis dan aneh. Bahkan ada yang menyebutnya sesat.

Kembali saya teringat firman Allah :

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS AL-Ma’idah  (5): 44-47)

Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS AL-Mu’minuun (23) :7)

Bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, terutama menyangkut kemaslahatan kehidupan masyarakat dijamannya tidak akan pernah lepas dari wahyu yang selalu menyertai keberadaannya. Hal ini tidak lain karena beliau merupakan sosok yang menjadi panutan atau Uswatun Hasanah bagi umatnya sepanjang masa dan lintas generasi, sebagaimana firman Allah sendiri dalam al-Qur’an :

Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang beriman kepada Allah dan [percaya kepada] hari kemudian serta banyak menyebut Allah. (QS AL-Ahzaab (33) :21)

Uswatun Hasanah dari sosok Muhammad itu tidak hanya berkenaan kepada masyarakat dijamannya saja, namun menembus batas ruang dan waktu, termasuk dijaman kita sekarang ini. Itulah akibatnya jika agama hanya dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya pribadi dan selalu mengkonotasikannya dengan ritual peribadahan seperti salat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Ayat AL-Baqarah (2) :208 merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad selaku nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah atau totalitas. Kaffah dalam berkepribadian, kaffah dalam berumah tangga, kaffah dalam bermasyarakat, kaffah dalam berpartai, kaffah dalam bernegara dan seterusnya.  Sehingga yang dikehendaki oleh Islam itu tidak lain agar kita ini benar-benar Islam dalam setiap titik dan denyut nadi kehidupan bukan sekedar Islam KTP, Islam abangan, Islam Liberal atau lain sebagainya yang berlawanan dengan defenisi dari totalitas itu sendiri. Sekali lagi, jelas Islam merupakan sebuah sistem, dia adalah sistem yang mengatur tata cara manusia berkepribadian hingga bernegara.

Terbunuhnya sejumlah Khulafaur Rasyidin pada masa perdana Islam sama sekali tidak menunjukkan bahwa konsep Islam yang melebur dalam kenegaraan menjadi suatu kegagalan sebagaimana ini dulu pernah dilontarkan oleh saudara Tahsinul Khuluq dari komunitas Jaringan Islam Liberal dengan artikelnya yang berjudul “Islam bukan sebuah sistem Politik” yang bisa diakses pada alamat : http://islamlib.com/id/indexc9c5.html?page=article&id=964.

Terbunuhnya Jhon F. Kennedy ataupun presiden Amerika yang lainnya tidak membuat kita bisa menyebut Amerika telah gagal dalam konteks penerapan sistem ketata negaraannya, sama misalnya dengan turunnya Presiden Soekarno, Soeharto sampai Abdurrahman Wahid dari kursi kepresidenan mereka secara paksa tidaklah secara serta merta membuat kita bisa menyebut Indonesia sudah gagal dengan konsep Republiknya. Kita tidak bisa mengacu pada hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan dengan sistem ketatanegaraan dengan memberikan nilai minus atas sistem ketata negaraan itu sendiri. Disini yang gagal bukan sistemnya tetapi para pelaku yang menerapkan sistem itulah yang sebenarnya harus kita koreksi.

Bahwa keterbunuhan Khalifah Umar bin Khatab ditangan Abu Luluah, seorang budak persia yang tinggal dikota Madinah merupakan sebuah konspirasi antara Hurmuzan, Jufainah dan Kaab al-Ahbaar. Dimana Humuzan adalah seorang mantan gubernur yang menyerah saat daerahnya berhasil diduduki oleh kaum Muslimin, Jufainah adalah seorang penduduk dari Anbar yaitu suatu daerah pemukiman kaum Majusi yang berada dibawah kekuasaan Persia yang juga dikalahkan oleh pasukan Islam, lalu Kaab al-Ahbaar sendiri seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Bukti bahwa masyarakat Muhajirin dan Anshar serta komunitas lainnya yang ada dinegara Madinah dan sekitarnya diwaktu terbunuhnya Umar bin Khatab sama sekali tidak berkonspirasi dalam peristiwa pembunuhan tersebut.

Apa bedanya kasus diatas dengan perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel ataupun perjuangan rakyat Iraq terhadap pendudukan Amerika sekarang ? semua itu khan wajar saja dan sudah merupakan resiko dari suatu tindakan yang diambil oleh sebuah pemerintahan, terlepas sistem ketatanegaraan seperti apa yang dia anut itu. Begitupun dengan kasus terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, inipun pada dasarnya tidak jelas pelakunya.

jika kita berbicara tentang motif, maka bisa saja karena pemerintahan Usman bin Affan dianggap lemah terhadap bujuk rayu keluarga dan kroni-kroni Bani Umayyah sehingga praktek KKN merajalela diberbagai penjuru negeri dimasa itu. Saya melihat bila kasus Usman bin Affan ini tidak jauh berbeda dengan kasus mantan Presiden Soeharto. Katakanlah sebagai bentuk baik sangka kita pada Khalifah Usman bin Affannya sendiri secara pribadi tidak mungkin melakukan praktek-praktek politik kotor tersebut dalam pemerintahan beliau namun ini tidak serta berlaku dengan kroni-kroninya seperti Muawiyah dan kawan-kawannya.

Kemudian kasus wafatnya Imam Ali bin Abu Thalib  harus kita lihat juga jauh kebelakang hingga kejaman Mekkah sebelum kelahiran Muhammad SAW, yaitu jamannya Qushayy bin Kilab yang memegang jabatan hijaba, siqaya, rifada, nadwa, liwa’ dan qiyada dikalangan komunitas Mekkah sampai pada masa perebutan kekuasaan antara Hasyim dan Umayyah. Dimana konspirasi yang disusun oleh komunitas Khawarij untuk membunuh Imam Ali bin Abu Thalib melalui tangan Abdurrahman bin Muljam yang berawal dari ketidaksepakatan sejumlah orang atas siasat perdamaian perang yang disetujui oleh sang Khalifah Ali terhadap pemberontakan Muawiyah bin Abu Sofyan yang memang sarat dengan kelicikan.

Latar belakang pemberontakan Muawiyyah sendiri kepada pemerintahan sah Khalifah Ali bin Abu Thalib lebih pada dendam lama antara kedua keturunan pembesar Mekkah dimasa lalu yang selanjutnya bergerak terus dengan pembantaian massal dan diikuti dengan caci maki para keturunan Nabi yang notabene merupakan dinasti Hasyim oleh Dinasti Umayyah melalui tangannya Muawiyah, Yazid dan generasi berikutnya sampai akhirnya berhenti dimasa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Ini juga bukti bahwa terbunuhnya Ali bin Abu Thalib dan kedua khalifah sesudahnya (Hasan dan Husien) sama sekali bukan karena sistem khalifah Islamiah yang mereka terapkan.

Usaha-usaha kepartaian yang terorganisasi, sama sekali tidak berbenturan dengan konsep Islam Kaffah terlebih dinegara kesatuan Republik Indonesia ini. Orang mestinya tidak berstigma negatip terhadap partai-partai yang berasaskan Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau partai-partai Islam lain diluarnya.

Didalamnya kita dapat menemukan unsur-unsur yang menjamin kelangsungan perjuangan pada masa modern yang disitu terdapat partai-partai kafir, atheis maupun abangan.

Mengabaikan aspek ini pasti akan memberi kesempatan yang sangat luas bagi kekuatan-kekuatan non-Islami untuk memainkan peranannya dan memperkecil peranan unsur-unsur Islami dalam kehidupan. Sebab setiap jaman pasti mempunya metode yang cocok untuknya sejalan dengan kondisi sosial dan politik yang ada.

Kitab suci Al-Qur’an menegaskan tentang eksistensi partai Allah dan partai setan sebagai suatu fenomena keterkaitan kekuatan-kekuatan keimanan dan kekuatan-kekuatan kafir satu sama lain. Sebab keterikatan itulah yang menjadikan komunitas-komunitas manusia dalam partai-partai. Sedangkan metode yang digunakan untuk menggalang kesatuan tersebut memiliki karakter yang berbeda, sesuai dengan perbedaan kondisi disetiap jaman dan daerahnya.

Penggunaan kekuatan melalui organisasi politik kadang-kadang terlihat lebih efektif dibandingkan cara lainnya, sebab melalui ikatan keanggotaan yang mengikat individu-individu dalam sikap yang sama, perjuangan yang sama dan tujuan yang sama dapat memberikan kekuatan untuk merealisasikan persatuan emosi yang sangat berharga, selain ia dapat merealisasikan kebersamaan dalam berpikir dan bertindak. Kita secara kontinyu bisa terus mempengaruhi parlemen dan orang-orang lain yang awalnya tidak sejalan dengan kita untuk dapat menerapkan korelasi yang harmonis antara agama dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Makanya sekali lagi kita tidak perlu berstigma negatip terhadap orang-orang yang memutuskan dirinya untuk terjun bebas dalam gelanggang politik tanah air sekalipun ia adalah seorang ulama, seorang cendikiawan maupun penulis muslim. Inilah medan perang yang memang harus mereka lakukan, dan bukan malah ditinggalkan dengan dalih urusan keduniawian.

Imam Ali bin Abu Thalib pernah berkata :

“Kemudian pilihlah untuk jabatan sebagai hakim orang-orang yang paling utama diantara rakyatmu, yang luas pengetahuannya dan tidak mudah dibangkitkan emosinya oleh lawannya. Tidak berkeras kepala dalam kekeliruan dan tidak segan kembali kepada kebenaran bila telah mengetahuinya. Tidak tergiur hatinya oleh ketamakan, tidak merasa cukup dengan pemahaman yang hanya dipermukaan saja, tetapi ia berusaha memahami sesuatu dengan sedalam-dalamnya. Mereka yang paling segera berhenti karena berhati-hati, bila berhadapan dengan keraguan, dan yang paling bersedia menerima argumen-argumen yang benar dan yang paling sedikit rasa kesalnya bila didebat oleh lawan.” (Sumber : Mutiara Nahjul Balaghah terbitan Mizan 1999 hal.103)

Khalifah Umar bin Khatab juga pernah berkata :

“Tidak ada salahnya anda mengkaji ulang secara rasio serta mempertimbangkannya berdasarkan pengetahuan anda terhadap keputusan yang telah anda putuskan pada hari ini untuk mencapai suatu kebenaran. ; Karena sesungguhnya kebenaran itu sudah ada sejak dahulu, sementara kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada berkepanjangan dalam suatu kesalahan.” (Dikutip dari buku : “Fatwa dan Ijtihad Umar bin Khatab” terbitan Risalah Gusti)

Qais bin Hazim berkisah:

Tatkala Umar bin Khathab radiyallahu anhu berkunjung ke negeri Syam, beliau naik unta secara bergantian dengan pembantunya. Ketika beliau menaiki unta maka pembantunya berjalan kaki memegang tali kendalinya, sebaliknya saat pembantunya menaiki unta maka beliau yang berjalan kaki mengendalikannya. Hal ini mereka lakukan secara bergantian setiap kali menempuh perjalanan sejauh satu farsakh (sekitar 3 mil).

Sesampainya di perbatasan Syam, kebetulan tiba giliran sang pembantu yang naik unta dan khalifah Umar radiyallahu anhu yang berjalan kaki mengendalikan unta. Sementara saat itu perjalanan harus menyeberangi air bah. Maka beliau menceburkan kakinya kedalam air bah itu sambil menarik tali unta dengan mengempit sepasang sandal di bawah lengan kirinya.

Kemudian keluarlah Gubernur Syam, Abu Ubadah bin Jarrah, yang termasuk salah seorang dari sepuluh orang yang diberitakan masuk surga oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sang Gubernur menegur tindakan khalifah Umar seraya berkata:  “Wahai Amirul Mukminin, para pembesar negeri Syam telah mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran tuan.

Maka tidaklah pantas rasanya apabila mereka menyaksikan apa yang tengah tuan lakukan ini (yaitu menarik kendali unta, sedangkan pembantunya naik unta).” Beliau menjawab: “Wahai Abu Ubadah, sesungguhnya Allah telah menjadikan kita hidup terhormat di dalam Islam. Maka dari itu kita tak perlu mempedulikan masalah jabatan itu!”

Kita tidak bisa membatasi hal-hal yang besar dengan suatu pemandangan yang sempit. Bahwa adanya kekacauan yang melanda, tidaklah bisa diartikan sebagai suatu keburukan yang terlalu bersangatan sehingga kita menepiskan kebesaran nikmat yang telah dianugerahkan Allah terhadap para hamba-Nya, toh apapun yang terjadi, semua itu diakibatkan oleh ulah manusia sendiri yang terlalu memperturutkan hawa nafsunya didalam bertindak.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, yang akhirnya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari hasil perbuatan mereka, agar mereka menyadari”. (Qs. ar-Rum 30:41)

Tidakkah kita semua sama-sama mengetahui, terjadinya banjir, tanah longsor, berkembangnya penyakit, peperangan yang melanda seluruh negeri dan seterusnya itu akibat ketamakan manusia yang melampaui batas ?

Kita telah terlalu semena-mena menjalankan fungsionaris kita sebagai wakil Allah dibumi, sehingga kita tebangi seluruh pepohonan untuk alasan perluasan lahan, kita juga kikis tanah-tanah tertentu dengan alasan mencari sumber mineral, tidak kita jaga kesehatan lingkungan dan kelestarian alam, kita kobarkan semangat kanibal yang menghalalkan darah orang lain atas nama suatu keyakinan, kita juga menghalalkan perilaku seksual tanpa ikatan dengan berdalilkan kebebasan hak asasi, kita sebarkan limbah beracun kedalam air lautan, kita rampas harta yang bukan milik kita karena sifat kita yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada dan demikian seterusnya.

Tidakkah kita sadar bahwa alam ini juga memiliki aturan main yang berputar ?
Kita ini merupakan suatu ekosistem yang berskala besar, rantai kehidupan antar sesama makhluk Allah sangatlah erat berkaitan, dimana manusia tidak bisa hidup tanpa alam yang terjaga dan tanpa adanya hewan-hewan yang terlindungi.


Tapi seringkali kita menjadi lupa diri terhadap batasan-batasan yang mengikat tindakan kita, dan kita akan berbicara panjang lebar hanya untuk mencari pembenaran atas tindakan kita yang nyata-nyata salah itu, hal tersebut telah disinggung oleh Allah sendiri didalam al-Qur’an :

“Bila dikatakan kepada mereka : Janganlah berbuat kerusakan dibumi !; mereka akan menjawab: ‘Kami justru mengadakan perbaikan.”; padahal mereka itu adalah orang-orang yang berbuat keonaran namun mereka tidak menyadarinya.”
(Qs. al-Baqarah 2:11-12)

“Diantara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia ini bisa membuat kamu merasa senang karena ia menjadikan Allah sebagai saksi maksud hatinya; padahal ia itu sejahat-jahat musuh; dan manakala ia berbalik, ia berjalan dibumi menebarkan kerusakan padanya, membinasakan al-hartsa (flora) dan an-nasla (fauna), padahal Allah tiada suka kepada kerusakan.” (Qs. al-Baqarah 2:204-205)

Kehancuran akhlak dan budi pekerti merupakan awal dari kehancuran hidup bermasyarakat dan berbangsa, telah banyak contoh dalam sejarah yang menceritakan bagaimana suatu bangsa yang besar dan terhormat akhirnya terpuruk dan pecah menjadi bagian-bagian kecil yang saling baku hantam diantara mereka akibat tidak adanya lagi rambu-rambu yang mengontrol tingkah laku yang hanya memperturutkan hawa nafsu sesaat.

Apa yang kita saksikan sekarang ini pada hakekatnya hanyalah pengulangan sejarah masa lalu, dimana orang-orang telah cenderung kepada tindakan maksiat, melakukan distorsi terhadap kitab suci (yang secara tidak langsung berarti telah membunuh ajaran para Nabi), lebih mencintai kehidupan duniawi dan menganggap wahyu Allah sebagai uraian filasat yang tidak perlu diperhatikan dan seterusnya, Karena inilah dalam banyak sabdanya, Nabi Muhammad Saw seringkali mengingatkan kepada umat manusia untuk bisa mengendalikan rasa syahwat terhadap keduniaan agar tidak mendominan.

“Yang dinamakan pejuang adalah orang yang berperang melawan hawa nafsu didalam taat kepada Allah.” (Riwayat Turmudzi)


Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah untuk meminta nasehat kepada beliau seraya berkata : ‘Berilah aku nasehat, ya Rasulullah; Beliau bersabda :’ Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada; orang itu berkata pula: ‘Mohon tambahan ya Rasulullah; ‘Ikutilah perbuatan jahat dengan perbuatan yang baik agar dapat menghapusnya’; ia masih juga bertanya : ‘Mohon lagi ya Rasul’ ; Beliau bersabda : ‘Bergaullah ditengah masyarakat dengan budi pekerti yang luhur.” (Riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar)

Bahkan salah satu sasaran kenabian Muhammad Saw setelah pengajaran Tauhid (pengakuan akan ke-Esaan Allah) adalah pembentukan akhlak mulia ditengah-tengah masyarakat :

“Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur.”
(Riwayat Ahmad dan Baihaqi dari Abu Hurairah).


Sedemikian pentingnya tentang pendidikan akhlak sehingga Imam al-Ghazali (salah seorang tokoh Islam terbesar) menulis mengenai pengajaran Nabi ini secara panjang lebar dalam bukunya “Ihya Ulumiddin”, bahkan jika boleh disimpulkan, inilah inti sari dari isi buku beliau yang termasyur itu.

Jadi jangan menghakimi benar-salahnya sesuatu hal hanya karena kita merasa pendapat kita bertentangan dengan pendapat yang dikemukakan orang lain, ini namanya egois.

Kebenaran itu bisa dilihat apabila kita menanggalkan belenggu kefanatikan yang ada pada jiwa kita terhadap suatu permasalahan pelik yang mungkin saja selama ini kita tanamkan secara kokoh nilai benar atasnya.

Dan saya orang yang sangat kritis terhadap apapun, saya mengagumi keberanian pihak Jehovah dari sekte Kristen yang berusaha mengadakan rasionalitas terhadap Bible sebagaimana juga saya mengagumi orang-orang Muktazilah generasi pertama yang mencoba menepiskan isyu ketakhayulan dan mitos yang dilekatkan didalam ajaran Islam. Ketiga buku saya menjadi bukti kekritisan sikap saya dalam berkeyakinan. Silahkan buktikan sendiri.


Saya tidak perlu ketenaran dan saya juga tidak memiliki sesuatu yang patut saya sombongkan; apa yang saya lakukan hanyalah karena ingin mencari ridho Allah semata, saya tidak dibayar untuk menyebarkan kebenaran malah mungkin saya yang dirugikan secara ekonomi dengan harus membayar mahal pulsa telepon yang saya pergunakan untuk membuat suatu web-site, milis, mengakses gprs dan juga berkecimpung dalam banyak perdiskusian, menjawab sms atau kadang menelepon.

Bahkan untuk proses penerbitan buku pertama saya yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih” saya harus menjual satu-satunya sepeda motor yang baru selesai kreditnya selama 3 tahun.  Saya juga tidak jarang harus menomboki ongkos kirim dari penerbit untuk teman-teman yang melakukan pembelian langsung buku-buku kepada saya. Namun untuk semua itu, saya hanya mengharap senyuman dari Allah semata, berharap bahwa dosa-dosa masa lalu saya, amal-amal yang masih sangat sedikit ini bisa meringankan dahaga dihari penghisaban kelak.


Salamun ‘ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir

ARMANSYAH
http://arsiparmansyah.wordpress.com

About these ads

3 Responses

  1. [...] , http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/08/19/islam-kaffah-an-unlimited-system/ dan  http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/08/21/islam-kaffah-the-soulmate/) bahwa sejak awal kelahiran kita didunia, manusia sudah dibekali dengan dua sifat dasar alamiahnya. [...]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: