Kontroversi Hisab dan Rukyat [1] : Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?

Kontroversi Hisab dan Rukyat

Kapan Ramadhan dan Lebaran 2008 ?
Bagian 1

Oleh : Armansyah

http://armansyah.swaramuslim.com

http://arsiparmansyah.wordpress.com

Penulis buku :

Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih

Jejak Nabi “Palsu”

Ramalan Imam Mahdi

>> Copy paste tidak dilarang selama u/. non komersial dan menyertakan sumber aslinya <<

A. Akar Masalah

Dari masa kemasa, umat Islam selalu berselisih mengenai  penentuan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal guna menetapkan kapan mereka harus mulai berpuasa dan kapan pula saatnya mereka harus mulai berbuka atau berhari raya. Perselisihan ini tidak lain diakibatkan oleh adanya perbedaan pola pandang antara satu atau lebih kelompok muslim dengan sekelompok muslim yang lainnya terhadap dalil atau nash yang menjadi acuannya (dalam hal ini adalah al-Qur’an dan sunnah Nabawiyah). Sebagian pihak tetap mendasarkan keyakinannya pada konsepsi rukyatul hilal atau melihat fisik bulan sabit secara langsung dengan mata telanjang atau bisa juga dengan bantuan teleskop modern sebagai sarana bantunya, sementara sebagian lagi lebih memilih kaidah perhitungan matematis dalam proses penentuan kalendarisasinya.

Nabi Muhammad Saw, dipercaya telah bersabda dalam sejumlah hadisnya sebagai berikut :

Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari (HR. Muslim dari Ibnu Umar)

Janganlah kamu berpuasa sebelum kamu melihat awal bulan dan janganlah kamu berbuka sebelum kamu melihat awal bulan. Tetapi apabila awal bulan itu tidak bisa kelihatan, maka cukupkanlah bilangannya (30). (HR. Muslim dari Ibnu Umar dengan matn yang mirip dari Abu Hurairah).

Berawal dari sunnah atau tradisi yang diwariskan dari jaman kenabian tersebut diatas, maka  sebagian dari umat Islam dijaman modern sekarang ini masih memahami perlunya memelihara tradisi rukyatul hilal ini dalam rangka penentuan awal dan akhir suatu bulan khususnya bulan Ramadhan. Akibatnya maka seperti yang lazim kita temui disetiap tahunnya menjelang Ramadhan atau ‘Iedul Fitri, mulailah orang-orang sibuk mendaki tempat-tempat tinggi seperti pegunungan, perbukitan maupun gedung-gedung perkantoran pencakar langit untuk membuktikan penampakan bulan secara fisik. Tidak kurang pula sejumlah pos-pos pengamatan didirikan  disejumlah titik diseantaro negeri dan melibatkan juga teknologi-teknologi modern seperti teleskop untuk mencapai penglihatan mereka tersebut. Dari semua hasil pengamatan ini, pemerintah biasanya mengumpulkan data-data tersebut untuk selanjutnya dibawa kesidang It’sbat yang dihadiri oleh perwakilan-perwakilan organisasi massa Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis dan lain sebagainya. Tidak jarang hasil yang diputuskan menuai kontroversi dari sesama peserta sidang it’sbat itu sendiri, umumnya lagi kontroversi yang terjadi justru karena pada dasarnya sejumlah laporan dari pos-pos pengamatan hilal tertentu menyatakan telah melihat penampakan bulan sementara disebagian lainnya lagi masih menyatakan tidak melihatnya atau juga telah melihat namun masih kurang jelas karena ketinggian atau juga derajat bulan yang masih berada dibawah ufuk yang selanjutnya ditentukan dengan nilai dibawah 2 derajat. Menyikapi perbedaan seperti ini, pemerintah biasanya akan mengambil keputusan menggenapkan hari Ramadhan menjadi 30 hari yang secara tidak langsung telah membatalkan adanya laporan atau kesaksian orang-orang yang melihat tampaknya bulan secara fisik. Inilah yang kemudian menjadi pemicu dari timbulnya perbedaan awal ‘Iedul fitri atau 1 syawal antara pemerintah disatu sisi dengan sekelompok organisasi massa tertentu disisi yang lainnya.

Bukankah sudah jelas sebenarnya sabda Nabi Saw berikut ini :

Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika
awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (rukyatul hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, dengan status sanad Hasan/Baik)

Namun umumnya bagi pemerintah Republik Indonesia, khususnya pihak Departemen Agama, keputusan mereka ini dianggap sebagai keputusan yang mutlak dan berlaku atau juga mengikat bagi semua lapisan masyarakat Muslim yang ada dibawah negara kesatuan Republik Indonesia. Akan tetapi bagi orang-orang maupun organisasi massa yang berseberangan dengan pemerintah, tidak kalah vokalnya menyatakan bahwa keputusan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan mereka (atau dengan nash yang mereka pahami) tidak bisa dengan sendirinya membuat keterikatan bagi setiap Muslim dalam menjalankan keyakinannya terhadap apa yang mereka anggap lebih benar dari keputusan tersebut. Pro dan kontra semacam ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia setiap tahun, sehingga tidak jarang membuat jarak antara seorang Muslim dengan Muslim yang lainnya. Bagi orang awam, perbedaan tersebut sangat membingungkan mereka, orang yang hatinya lebih banyak untuk malas berpuasa biasanya akan condong pula mengikuti pemahaman mereka yang lebih dahulu berhari raya sementara sebagian lagi diantara mereka yang fanatik akan mencondongkan diri mereka kepihak yang berpaham 30 hari. Kedua tipikal manusia seperti ini adalah contoh dari manusia-manusia muslim yang lalai dari ketentuan nash agamanya sendiri yang mewajibkan mereka berilmu pengetahuan dibidang akidah.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS AL-Israa (17) :36)

B. Defenisi Rukyat

Perkataan Rukyat berasal dari bahasa Arab “ra’a-yara-rukyat” yang memiliki arti “melihat“. Kata-kata ini beberapa kali digunakan oleh kitab suci al-Qur’an yang bisa dipahami bila perbuatan melihat yang dimaksudkan adalah secara sadar dengan inderawi jasmani dan bukan didalam mimpi. Misalnya firman Allah kepada Nabi Muhammad Saw :

Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar-ru’yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS AL-Isra [17] :60)

Ayat tersebut berkaitan dengan peristiwa Israk dan Mikraj. Apabila ada anggapan bahwa pengertian Ru’yaa disitu sebagai mimpi maupun khayalan, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada bagian akhir ayat 60 surah al-Isra diatas ? Sedangkan makna ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya. Adakah pembaca pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini dan begitu ? rasanya secara rasional terlalu berlebihan untuk bersikap demikian, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu yang notabene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa Israk dan Mikrajnya pun harusnya tidak akan membantahnya bila memang peristiwa ini terjadi dalam mimpi Nabi bahkan orang-orang Islam awalpun tidak perlu goncang imannya sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha dan riwayat Ibnu Ishaq dari al-Hasan yang mengatakan adanya orang-orang Islam yang kembali menjadi murtad setelah Nabi menceritakan pengalaman Israk dan Mikrajnya itu. Penegasan bila peristiwa Israk dan Mikraj yang bukan dilihat oleh Nabi Muhammad dalam mimpi ataupun khayalnya melainkan dalam wujud sesungguhnya bisa dijumpai pada ayat al-Qur’an berikut :

Hatinya tidak mendustakan apa yang sudah dilihatnya, maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya ? (QS AN-Najm (53) :11-12)

Jadi dari adanya penampakan fisik yang terlihat dengan mata kepala Rasulullah beralih pada pembenaran secara hati oleh beliau Saw. Sebagaimana inipun merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara simultan sesuai gambaran dari ayat pertama surah An-Najm hingga ayat kedelapan belas.

Dilain ayat diceritakan pula pada saat Nabi Ibrahim a.s. memandang takjub atas bintang-bintang, bulan dan matahari dilangit dalam kisah pencarian jati diri Tuhannya, kitapun mendapati penggunaan kata-kata Ru’ya yang sama. Dimana Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan melihat dalam keadaan sadar atau melihat dengan mata kepalanya secara fisik.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS AL-An’am [6] : 76-79)

Beranjak dari defenisi rukyat ini maka dalam kaitannya dengan proses penentuan awal bulan baru pada penanggalan Islam (Hijriah) berartikan sebagai melihat dengan mata kepala lahiriah akan status visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit dilangit secara langsung[1]. Kelemahan utama dari sistem rukyat ini ada pada keterbatasan mata inderawi kita terhadap halangan-halangan yang bisa timbul dilangit saat pengamatan, seperti cuaca mendung hingga penglihatan tertutup awan hitam, ketinggian tempat pengamatan, waktu, dan lain sebagainya. Permasalahan klasik tersebut sudah disadari juga oleh Rasulullah Saw, sehingga kemudian beliau bersabda:

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal/bulan sabit) dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis diatas dan hadis-hadis lain yang sejenis (seperti dari Ibnu Abbas dan Abi Hatim) menjadi dasar argumentasi orang-orang yang mempertahankan metode rukyat sebagai satu-satunya cara dalam penentuan awal dari masuknya bulan baru.

Beberapa ulama yang bisa disebut mewakili kemutlakan penggunaan rukyat ini misalnya Ibnu Taimiyyah (seperti yang ditulis dalam kitab Majmu’ Fatawa, 25/207) yang bisa kita anggap mewakili ulama terdahulu dan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (seperti yang tercantum dalam kitab Al-Fatawa Juz Tsani) sebagai wakil dari ulama salaf diabad modern. Baik Ibnu Taimiyyah maupun Abdul Aziz (atau kadang kala lebih dikenal dengan nama bin Baz saja) sama-sama beranggapan bila metode hisab haram untuk diterapkan, khususnya berkaitan dengan penentuan bulan Ramadhan dan Syawal maupun untuk penentuan bulan Dzulhijjah yang masing-masingnya berisikan ibadah-ibadah penting untuk umat Islam. Argumentasi yang mereka berikan tidak lain adalah hadis-hadis yang menyebutkan tentang adanya perintah Rasulullah Saw untuk menggunakan penampakan lahiriah dalam proses tersebut. Berikut kita akan melihat juga hadis-hadis lainnya diluar yang sudah kita tuliskan sebelum ini.

“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berbuka sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud dengan nomor hadis 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan sanadnya dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi bersumber pada Ibnu Abbas)

“Apabila datang bulan Ramadhan, maka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain bersumber pada Adi bin Hatim)

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (penampakan hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I pada 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

“Sesungguhnya kami ini umat yang ummi, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung perjalanan bulan, bulan itu ada yang begini, begini dan begini, dikurangi beliau dengan ibu jari pada kali yang ketiga (29) dan bulan itu ada yang begini, begini dan begini (30)”. (HR Muslim dari Ibnu Umar)

Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan orang yang berpijak pada hisab dalam (menentukan) hilal, sebagaimana ia sesat dalam syariat, iapun telah berbuat bid’ah dalam agama, dia telah salah dalam hal akal dan ilmu hisab.” (Majmu’ Fatawa, 25/207)

Bagi penulis pribadi (baca: Armansyah), terkait dengan kelompok yang hanya mendasarkan diri pada metode rukyat berikut fatwa Ibnu Taimiyyah atas orang-orang yang melakukan hisab. Selama fatwa itu masih dinyatakan oleh seorang manusia (dalam hal ini adalah ulama dibidang agama) yang ditarik atas dasar pemahamannya terhadap nash syar’i, maka sifatnya tidak mengikat orang diluarnya untuk mengikuti apa yang dia fatwakan -sekali lagi- berdasarkan apa yang bisa beliau pahami terhadap nash syar’i, semua orang yang berilmu dan berakal bisa memiliki pemahaman yang berbeda satu dengan lainnya atas nash tersebut. Tidak bisa dihindari bahwa pemahaman seseorang terhadap nash tertentu ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari kondisi umat yang berlaku dimasa ia hidup, sejauhmana penguasaan beliau akan ilmu-ilmu lain dan sebagainya dan seterusnya. Bagaimanapun faktanya, Islam tidak mengenal sistem kependetaan dimana semua fatwa ulama harus dan wajib untuk di-ikuti. Agama Islam dibangun atas fondasi wahyu yang kokoh yang harus dikaji dan dipelajari secara utuh dan cerdas hingga sampai kepada ayat-ayat Muhkamat dan Mutasyabihatnya, begitupula as-Sunnah sebagai tradisi yang diwariskan oleh Nabi Saw. Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru’yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur’an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Olehnya sekali lagi setiap orang berhak untuk memilih jalan yang berbeda dengan yang lain dalam berpendapat atau bersikap. Kita harus menghindarkan diri dari perbuatan syiqaq atau perbedaan yang timbul karena fanatisme madzhab tanpa melihat kebenaran lain yang boleh jadi ada diluar madzhabnya.

Dinegeri Indonesia yang tercinta ini, ada kecenderungan banyak pihak untuk menyetujui kombinasi hisab dan rukyat dengan catatan-catatan khususnya. masih menurut hemat penulis (baca: Armansyah), metode ini justru tidak efektif dan cenderung hanya mengakomodir pihak-pihak yang hendak menggunakan hisab ditengah arus mainstream yang masih berpahamkan wajibnya rukyat. Sebab kriteria derajat bulan yang umumnya diwakili dengan angka dua derajat tersebut apabila kita kembalikan pada konteks nash yang mengatur mengenai masuknya awal bulan baru justru sama sekali tidak ditemukan.

Malah perbuatan itu sudah menyalahi nash-nash yang bercerita tentang pembenaran Rasulullah Saw pada kasus-kasus kesaksian sejumlah orang berkaitan penampakan bulan sabit sesudah hari kedua puluh sembilan, sehingga oleh karena itu beliau menetapkan berbuka dan berpuasa tanpa harus mempermasalahkan setinggi apa posisi bulan yang terlihat oleh orang-orang tersebut.

“Manusia sedang melihat-lihat (munculnya) hilal. Aku beritahukan kepada Nabi Saw bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud nomor 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187).

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (rukyatul hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, dengan status sanad Hasan/Baik)

Adanya kombinasi hisab dan rukyat masih menurut pemikiran saya pribadi merupakan cara berpikir yang pincang serta cenderung tidak berpendirian. Hal ini tidak lain karena sikap tersebut jelas sekali menunjukkan keragu-raguan antara berpihak pada hisab yang mengandalkan kalkulasi serta teknologi canggih sesuai jaman yang berlaku ataukah mengikuti cara-cara tradisional menggunakan rukyat dengan dasar alasan perbuatan itu adalah sunnah Rasul pada jamannya meskipun tingkat akurasinya masih bisa dipermasalahkan. Penulis lebih cenderung untuk condong pada kelompok yang terakhir, yaitu menolak secara penuh pemakaian rukyat dan menggantinya dengan hisab. Dalam pandangan Islam yang saya pahami, iman adalah pembenaran yang pasti yang sesuai dengan kenyataannya disertai dengan dalil-dalil atau argumen yang pasti kebenarannya. Jadi suatu pembenaran yang tidak pasti, tidak bisa disebut iman. Pembenaran yang pasti tersebut tidak mungkin tercapai kalau masih dilandasi argumen yang masih meragukan. Baik alasannya disandarkan pada pemikiran (dalil aqli) maupun pemberitaan (dalil naqli). Apalagi al-Qur’an berkata bahwa yang kesimpulannya, kebenaran yang kita peroleh dari berita (dalil naqli) harus terlebih dahulu dibuktikan secara akal. Artinya, sumber yang memberitakannya harus kita yakini kebenarannya secara akal. Dalam perkara keimanan, Islam melarang seorang muslim bertaklid atau hanya ikut-ikutan. Pembenaran yang pasti dari seorang muslim tidak mungkin dicapai hanya dengan ikut-ikutan, tanpa memahami permasalahan yang sebenarnya. Kaum muslimin dilarang mengikuti keyakinan-keyakinan pendahulu mereka yang bertentangan dengan Islam, lebih-lebih al-Qur’an dan pemikiran.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: `(Tidak), tetapi kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek  moyang mereka tidak mengikuti suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah (2) :170)


[1] Termasuk menggunakan teleskop bintang maupun teropong biasa

About these ads

3 Responses

  1. [...] kepala lahiriah akan status visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit dilangit secara langsung[1]. Kelemahan utama dari sistem rukyat ini ada pada keterbatasan mata inderawi kita terhadap [...]

  2. [...] 67. Kontroversi Hisab & Rukyat Bag. 1 [...]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: