Pertanyaan tentang Sholat

Terjemahan Nailul Authar
Jilid 2 PT. Bina Ilmu 1993
Hal 523 s/d 526
Bab 14 : Membaca surat sesudah al-Fatihah pada 2 reka’at pertama dan apakah surat ini juga disunatkan untuk dibaca pada 2 reka’at yang akhir ataukah tidak ?

Dari abu Qatadah, sesungguhnya Nabi Saw pernah membaca al-Fatihah dan dua surah, dalam sholat dzuhur pada 2 reka’at pertama, sedang pada 2 reka’at yang akhir membaca al-Fatihah. Namun kadang-kadang ia memperdengarkan ayat kepada kami, serta memanjangkan reka’at pertama lebih dari panjangnya ayat pada reka’at ke-2. Begitu juga dalam sholat Ashar dan begitu juga dalam sholat subuh. – Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim

Dari Abu Said al-Khudri, sesungguhnya Nabi Saw pernah membaca dalam sholat dzhuhur – pada 2 reka’at pertama, untuk setiap reka’at – kira-kira sebanyak 30 ayat ; dan pada 2 reka’at yang terakhir, kira-kira sebanyak 15 ayat – atau ia berkata – separoh dari itu ( 1/2 dari 30 -ar ) – dan dalam sholat Ashar pada 2 reka’at yang pertama – untuk setiap reka’at – kira-kira sebanyak 15 ayat, dan pada 2 reka’at yang akhir kira-kira separoh dari itu. – Riwayat Ahmad dan Muslim

Penjelasan Imam as-Syaukani ( syarah kitab ini ) : Tersebut dalam kitab Subulus Salam : Dzahir hadis Abi Qatadah itu, bahwa Rasulullah Saw tidak lebih dari membaca al-Fatihah pada 2 reka’at yang akhir. Dan mungkin hadis tersebut lebih kiat dari hadisnya Abu Said, dipandang dari segi sanad dan matan ( min haitsur riwayah wa min haitsud diraayah ), sebab hadis tersebut merupakan pemberitaan yang pasti.

Tetapi ia juga berkata : Namun antara kedua hadis tersebut memungkinkan untuk dikompromikan ( dijama’ ) : yaitu Nabi Saw berbuat ini kadang-kadang, maka ia membaca surah di 2 reka’at yang akhir selain al-Fatihah dan kadang-kadang juga ia pendekkan. Jadi tambahan surah pada 2 reka’at yang akhir tersebut adalah sunnat, yang kadang-kadang dikerjakan dan kadang-kadang ditinggalkan. Selesai.

Guru kami Syekh Sa’ad bin ‘Atiq rahimahullah ta’ala memilihnya dan berkata dalam al-Inshaf : bahwa bacaan surat sesudah al-Fatihah di 2 reka’at yang akhir itu, tidak dimakruhkan, bahkan boleh menurut pendapat yang benar dari madzhab. Dan diriwayatkan daripadanya, bahwa bacaan surah di 2 reka’at akhir itu hukumnya sunat.

Dari kitab Pengajaran Shalat
Karya A. Hassan
Terbitan CV. Diponegoro Bandung 1984
Hal. 243 : Daliel ta’ pakai surah direka’at ke-3 dan ke-4

Diriwayatkan : telah berkata Umar kepada Sa’ad : sesungguhnya orang-orang ada yang mengadukan halmu (kepadaku) ditiap-tiap sesuatu hingga dalam hal sholat. Ia menjawab : adapun aku, aku panjangkan 2 reka’at yang pertama dan aku ringkaskan 2 reka’at yang kedua dan aku tidak perduli apa-apa selama aku menurut cara sholat Rasulullah Saw – Riwayat Bukhari

Boleh jadi, lantaran menurut riwayat itu atau lainnya, ada terlalu banyak ulama menganggap bahwa direka’at yang ke 3 dan ke-4 itu tidak sunnat baca surah, tetapi beberapa hadis yang tersebut dibawah ini menunjukkan ada bacaan surah pada tiap-tiap rekaat :

Telah berkata Abu Said : Kami diperintah membaca al-Fatihah dan apa-apa yang mudah dibaca – Riwayat Abu Daud

Sabda Nabi Saw : Tidak sholat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah dan lebih – Riwayat Muslim
Tidak sholat, melainkan dengan bacaan al-Fatihah dan lebih – Riwayat Ahmad
Tidak sholat bagi orang yang tidak baca al-Fatihah dan surah pada tiap-tiap reka’at – Riwayat Ibnu Majah
Hadis yang pertama itu sungguhpun ada cela riwayatnya dan sungguhpun tidak tegas menunjukkan kepada wajib surah pada tiap-tiap rekaat tetapi kalau diambil umumnya, sudah bisa menunjukkan kepada sunnatnya.

Hadis yang ke-2 dan ke-3 itu sungguhpun tidak tegas mengatakan perlu surah pada tiap-tiap reka’at, tetapi kalau diambil umumnya tidak dapat tidak berarti bahwa sholat seseorang itu tidak sah melainkan kalau ia baca surah pada tiap-tiap rekaat tetapi oleh sebab hadis-hadis itu tidak sah maka tidak dapat kita ambil ketetapan yang begitu.

Hadis yang ke-4 itu dengan tegas menunjukkan ada bacaan surah pada tiap-tiap rekaaty, tetapi hadis itu lemah riwayatnya.

Sejumlah dari hadis-hadis itu sungguhpun tidak boleh dijadikan alasan wajib membaca surah pada tiap-tiap rekaat, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa bacaan surah di rekaat yang ke-3 dan ke-4 itu juga sunnat.
Dari kitab Pedoman Shalat
Karya : Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy
Terbitan Bulan Bintang Djakarta 1966
hal. 229 : T : Adab bangkit kerekaat yang ke-3 dan ke-4

Apabila telah selesai memenuhi haq tasyahhud  yang pertama, maka hendaklah kita bangun kereka’at yang ke-3 seraya bertakbir dengan bertelekan kepada lutut atau paha. Setelah sampai tegak berdiri, hendaklah kita angkatkan tangan kecabang-cabang telinga, menurut sifat yang telah lalu. Sesudah kita menurunkan tangan dan meletakkan tangannya diatas dada, kitapun membaca al-Fatihah sahaja ; surat tidak dituntut lagi. Akan tetapi boleh juga kita membacanya, karena mengingat bahwa Abu Bakar Shiddiq pernah membaca direkaat yang ke-3 sesudah al-Fatihah :

Robbana taqqobal minna innaka antassami’ul ‘alim watab ‘alayna innaka anta tsawwaburrohim
Wahai Tuhan kami, terimalah permohonan dan amal kami, bahwasanya Engkaulah Tuhan yang Maha menerima taubat lagi maha penyayang.

Dengan demikian maka kiranya apa yang menjadi pertanyaan dari Sdr. Djatmiko Djati InsyaAllah sudah terjawabkan.

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,
Armansyah



Pertanyaan yang dijawab :
—– Original Message —–
Sent: Tuesday, January 16, 2007 8:42 AM
Subject: [Milis_Iqra] Mohon penjelasan tentang sholat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mas Arman, Mas Dani dan saudara saudari seiman dan seakhidah…….

Saya telah belajar (mencoba) untuk sholat khusu’ seperti petunjuk buku2 tentang itu juga dari pengalaman teman2 yang sempat dipost di millis ini, Alhamdulillah saya merasakan (menurut saya: minimal saya dapat lebih berkonsentrasi). Akhir2 ini setiap sholat ingin rasanya tidak cepat selesai, saya begitu menikmatinya, saya merasa bacaan dalam sholat terasa terlalu pendek terutama pada roka’at 3 dan 4.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah; dapatkah (bolehkan) setelah Al-Fatika pada roka’at 3 dan 4 membaca lagi surat2 lain seperti pada roka’at 1 dan 2 ?

Atas penjelasannya saya ucapkan Alhamdulillah – terima kasih.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Djatmiko Djati

About these ads

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: