Bolehkah Mempelajari ilmu ghaib

Bolehkah Mempelajari ilmu ghaib ?
Oleh : Armansyah

Mempelajari ilmu apa saja pada dasarnya adalah kewajiban atas setiap muslim dan hal inipun berulang-ulang ditekankan oleh al-Qur’an dan Hadis. Dengan ilmu orang bisa selamat dalam beramal, dengan ilmu juga orang bisa mendapatkan kebahagiaan dan dengan ilmu juga seorang muslim tidak bisa dipermainkan, dibodohi ataupun direndahkan oleh orang lain.

Rasulullah Saw bersabda : ‘ Wahai Abu Dzar, hendaklah engkau pergi mempelajari satu ayat dari kitab Allah adalah lebih baik bagimu daripada engkau Sholat seratus rakaat; dan hendaklah engkau pergi mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan maka adalah hal tersebut lebih baik untukmu daripada engkau Sholat seribu rakaat’ – Hadis Riwayat Ibnu Majah

Berbicara mengenai ilmu ghaib merupakan ilmu yang berhubungan dengan hal-hal yang tidak secara langsung tampak oleh panca indera dan memerlukan alat diluarnya untuk membantu memahami dan melihatnya ; Karenanya seorang ilmuwan yang mempelajari ilmu tentang mikroba atau virus bisa juga disebut sedang mempelajari ilmu ghaib karena mikroba atau virus tidak dapat terlihat secara kasat mata dan hanya bisa dilihat melalui alat bantu bernama mikroskop atau sejenisnya; begitu pula orang-orang yang mendalami ilmu tentang ketuhanan pada hakekatnya juga bisa dikatakan mempelajari ilmu ghaib, sebab mereka tengah mempelajari zat yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan lahir namun mampu dilihat dengan mata batin.

Memang secara umum orang akan mengkaitkan ilmu ghaib dengan suatu ilmu yang mempelajari hal-hal supranatural bahkan berhubungan erat dengan makhluk-makhluk halus lengkap dengan segala pernak-pernik mistikismenya seperti berpuasa, berpantang makan-makanan tertentu, melafaskan asma atau dzikir dari ayat-ayat al-Qur’an sekian ratus kali, tidak boleh memakai pakaian berwarna serta berbagai ragam hal yang bersifat klenik lainnya. Menarik bila kita melihat pendapat Dr. Scott Peck [1] sehubungan dengan hal ini :

Bahwa dalam berpikir tentang keajaiban, biasanya manusia selalu membayangkan hal-hal yang terlalu dramatis. Ibarat kita mencari semak yang terbakar, terbelahnya lautan dan suara-suara dari syurga.  Padahal kita dapat melihat kejadian sehari-hari didalam hidup kita sebagai bukti adanya keajaiban tersebut, sekaligus mempertahankan orientasi ilmiah kita .

Mungkin pernyataan tersebut bagi sebagian orang dianggap berlawanan dengan pandangan segala macam aliran kepercayaan, filsafat, kebudayaan maupun ajaran-ajaran agama. Mereka akan menolak dengan gigih seraya mengatakan bahwa hal ghaib tidak bisa diuraikan melalui metode ilmiah atau ada juga yang berseru bahwa hal ghaib mutlak milik Allah sehingga tidak perlu diadakan eksperimental dan penelitian. Namun sekalipun demikian menurut pandangan saya, kita semua harus mengakui bahwa hasil-hasil pengkajian dunia barat atas beragam fenomena keghaiban yang ada sebagian besar telah membebaskan kita dari belenggu khayalan yang berlebihan dan sering berbau tahayul.

Selama ini kita telah terlalu berlebihan dalam memanfaatkan otak kanan yang mengurusi hal-hal yang bersifat intuitif dan mistik serta cenderung mengabaikan fungsi otak kiri yang bersifat analistis dan rasional. Melalui hasil penelitian dan pengkajian secara ilmiah juga kita tidak lagi mudah percaya terhadap apa yang disebut gejala-gejala paranormal. Kita mulai bisa membedakan antara yang palsu dan yang benar atau bisa jadi fenomena ghaib tersebut berasal dari halusinasi, histerisme maupun hipnotisme.

Oleh karena itu, mempelajari ilmu ghaib dalam perspektif ilmiah dapat dibenarkan dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama manapun. Kita jangan mudah mempolitisir ayat, hadis apalagi argumentatif dari orang-orang yang memang sebenarnya belum mampu berpikiran terbuka dan universal. Orang-orang seperti ini mungkin sedikit banyak terpengaruh oleh adanya pengaburan makna antara ghaib yang rasionalis dengan ajaran kebatinan yang non rasional seperti Theosophie, Yoga, Tantrisme maupun hal-hal lain seperti yang ada pada ajaran kitab Gatoloco dan Darmagandul [2].

Sesuai kajian ilmu pengetahuan alam modern bahwa semua benda terdiri dari atom ataupun sekelompok atom, bahkan tubuh manusia sendiripun terdiri dari atom juga. Memang atom-atom itu berbeda-beda (kurang lebih seratus macam) tetapi setiap atom mempunyai inti atom yang disebut nukleus yang dikelilingi oleh butiran-butiran kecil bernama elektron. Setiap bagian dari atom berisi sejumlah kecil listrik, inti atom bermuatan listrik positip sedangkan elektron bermuatan listrik negatip. Melalui suatu metode pelatihan tertentu, manusia dapat mengembangkan listrik yang ada pada dirinya sehingga mampu mendayagunakan listrik tersebut sesuai yang dikehendakinya.

Kita sering menyaksikan ada orang yang bisa menghidupkan lampu pijar dengan tangannya, bagaimana pula misalnya seorang Romi Rafael atau Deddy Corbudzier dapat memberi sugesti pada  seseorang untuk mengikuti perintah yang mereka berikan melalui kekuatan pikiran (hipnotisme dan magnetisme), lalu kesaksian beberapa orang yang bisa melakukan levitasi (melayang diatas tanah), proyeksi astral (merogo sukmo) sampai pada melakukan suatu proses penyembuhan jarak jauh dengan kekuatan tenaga dalamnya, ini bukan sebuah khayalan semata namun memang terjadi dihadapan kita; adalah sangat tidak bijaksana apabila kita berusaha menutup mata dengan berbagai fenomena tersebut dan memberi vonis perbuatan tersebut sebagai ulah Jin atau hal yang sesat.

Mempelajari hal yang bersifat ghaib rasionalis semacam ini, pada prinsipnya tidak berkaitan dengan doktrin agama atau kepercayaan manapun, dia bisa dipelajari secara universal. Entah kepercayaannya Kristen, Budha, Kejawen, Komunis ataupun Islam. Jika ada satu perguruan atau organisasi yang menggabungkan doa-doa atau amalan tertentu dalam proses pembelajarannya maka menurut saya hanya sebagai metode dakwah dari sang guru agar para muridnya mau menjalankan perintah agama dan menggunakan ilmu tersebut pada jalan kebenaran.

Ilmu (apapun disiplinnya) adalah ibarat pisau, bisa dipergunakan untuk berbuat kebatilan dan bisa juga dipergunakan untuk hal yang baik, ilmu dan pisau hanyalah alat, kemana alat ini akan difungsikan dikembalikan lagi pada diri si-manusianya sebagai subyek yang menggunakan. Kitab suci al-Qur’an sama sekali tidak memberikan batasan kepada manusia untuk berpikir (belajar), selama pemikiran itu tidak menimbulkan ketergelinciran masyarakat pada suatu perbuatan yang batil maka al-Qur’an membuka diri terhadap fitrah kemanusiawian tersebut.

Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Surah al-Israa 17 ayat 85 yang disebut-sebut sejumlah orang sebagai dasar larangan Allah untuk manusia mempelajari hal yang ghaib sebenarnya tidak sesuai dengan maksud ayat itu sendiri yang berbicara tentang ruh.; Malah pada ayat tersebut didapati suatu pernyataan Allah sendiri betapapun sedikitnya pengetahuan yang ada pada manusia tentang ruh namun Allah tetap membuka rahasianya dalam kadar yang tertentu.

Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang ruh. Jawablah : ‘Ruh itu masalah Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu mengenainya kecuali sedikit saja’ – Qs. 17 al-Israa : 85

Penafsiran yang sama juga terhadap surah al-an’aam 6 ayat 59 yang menyatakan bahwa kunci  semua hal ghaib mutlak berada ditangan Allah. ; Ayat tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan perihal rahmat yang akan diterima oleh orang-orang yang mempercayai kenabian Muhammad dan perihal azab bagi mereka yang mengingkarinya.

Katakanlah : ‘Kalau ada pada diriku apa yang sangat kamu harapkan kedatangannya, niscaya berlakulah urusan antara aku dan kamu [3], namun Allah lebih tahu terhadap orang-orang yang zhalim; Disisi-Nyalah kunci-kunci hal yang ghaib, tidak akan mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada didarat dan dilaut. – Qs. 6 al-an’aam : 58-59

Tidak ada larangan bagi manusia untuk mempelajari ilmu telepati yang memungkinkan terjadinya kontak pikiran jarak jauh, sebab telepati terjadi akibat adanya proses getaran listrik yang terjadi dibagian dalam otak yang keluar dan meluncur dari pikiran seseorang kepada otak orang lainnya. Dia dapat bergerak cepat merambat diudara ataupun sebaliknya menjadi lambat dan mungkin akan tetap tinggal diudara tanpa pernah sampai kepada obyek tujuannya. Berlatih konsentrasi adalah kunci utama dari kekuatan gelombang pikiran manusia agar bisa menjalin komunikasi dengan obyeknya.

Karena itulah didalam Islam, Sholat harus dilakukan dengan konsentrasi ataupun pemusatan pikiran sebagai upaya menjalin komunikasi dengan Allah sang Pencipta. Semakin bagus tingkat konsentrasi yang dilakukan maka akan semakin cepat pula terjadinya komunikasi dua arah antara seorang muslim dengan Tuhannya.

Luruskan mukamu di setiap sholat; dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepada-Nya
- Qs. 7 al-a’raaf 29

Dengan demikian, melalui ilmu telepati juga kita bisa menjawab kenapa banyak orang yang dalam sholatnya selalu berdoa namun sedikit sekali doanya tersebut yang diterima oleh Allah. Kita tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi mengalirkan pikiran kepada-Nya, dalam sholat kita bahkan masih terikat dengan lingkungan, ingat sendal yang hilang, pekerjaan menumpuk dan sebagainya; semua ini menimbulkan banyaknya getaran yang menuju dirinya sendiri dan menghalangi keluarnya getaran pikiran yang seharusnya terpancar keluar menuju Allah.

Jikapun ada yang masih bisa menerobos keluar maka gelombangnya sudah lebih lemah dan tidak memungkinkan sampai pada tujuan.; analogi telepon seluler merupakan permisalan yang sangat mudah untuk dijabarkan dalam hal ini, dimana agar bisa terjadi hubungan komunikasi dua arah maka baik sipenelepon maupun sipenerima harus berada dalam coverage area dimana sinyal-sinyal yang diberikan bisa saling menangkap. Satu saja dari keduanya memiliki pancaran lemah maka hubungan komunikasi bisa dipastikan tidak dapat berjalan lancar.

Mempelajari tenaga dalampun demikian, tidak jauh berbeda dengan belajar telepati. Hanya bedanya kalau telepati menggunakan kekuatan konsentrasi pikiran sedangkan tenaga dalam memanfaatkan kesempurnaan latihan pernapasan sehingga listrik yang ada didalam tubuh mengembang dan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Dengan melatih pernapasan yang teratur maka atom-atom tubuh akan dapat berfungsi sebagai sinar X sehingga bisa menyembuhkan penyakit tertentu dan bisa juga membuat sipelaku dapat melihat tembus tanpa dihalangi oleh tembok pemisah (kasyaf).

Albert Einstein membuktikan secara matematik bahwa semua dialam semesta ini terbentuk dari energi dengan persamaannya yang terkenal E= MC2, yang menyatakan bahwa semua benda, dari sebuah atom sampai seekor gajah, terbentuk dari energi. Bahkan stres, penyakit dan trauma emosional merupakan bentuk atau pola dari energi [4].

Pada tahun 1930-an, seorang ilmuwan Rusia bernama Semyon Davidich Kirlian bersama istrinya Valentina Kirlian berhasil menangkap gambar dari aura atau bentuk energi listrik yang ada disekeliling tubuh manusia melalui suatu proses fotografi. Dalam eksperimennya, kedua orang ini berhasil mengembangkan sebuah metode yang dapat memindahkan wujud medan sinar keatas lembaran kertas fotografis dengan perantaraan sebuah alat generator percik, dimana melalui alat ini  Kirlian dan istrinya dapat membangkitkan getaran frekuensi tinggi, yakni rata-rata 150.000 getaran perdetiknya, sehingga apabila ada obyek misalnya berupa selembar daun, sebuah tangan manusia berikut aura (listrik) yang mengelilinginya akan dapat digetarkan perwujudannya keatas lembaran kertas fotografis [5].

Dengan demikian, perihal keberadaan listrik, energi atau biasa juga disebut orang dengan aura dan prana didalam diri manusia sudah bukan hal yang tidak masuk akal lagi. Mungkin pada masa yang akan datang setelah peradaban manusia semakin tinggi seiring dengan perkembangan tekhnologi yang lebih maju dan semakin dapat membuka sisi ilmiah ilmu ghaib dari hal-hal yang sebelumnya selalu bercampur dengan mitos dan campur tangan makhluk halus, ilmu-ilmu ghaib bisa saja dimasukkan dalam kurikulum pelajaran sekolah sebagai suatu ilmu yang berguna bagi kemaslahatan manusia.

Dan melihatlah orang-orang yang diberi ilmu itu bahwa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah hal-hal yang benar (logis) serta memberi petunjuk kepada tuntunan yang Maha Kuasa dan Maha Terpuji. – Qs. 34 Saba’ : 6

Dan akan kamu ketahui kenyataan kabarnya sesudah waktunya  tiba – Qs. 38 Shad : 88

Dalam satu perdiskusian agama disalah satu mailing list, pernah ada yang menanyakan kepada saya akan persamaan dari mempelajari ilmu-ilmu ghaib dengan mempelajari ilmu sihir, lebih jauh lagi mereka mempertanyakan alasan kenapa bila memang kita diperbolehkan belajar hal yang ghaib tidak ada ketentuan yang jelas dari al-Qur’an maupun Sunnah Nabi-Nya; sehingga mereka masih meragu untuk mempelajarinya.

Sebenarnya kita bisa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi mengenai kewajiban manusia didalam menuntut ilmu secara luas dan universal. Sebelum kita jawab adakah persamaan antara mempelajari ilmu-ilmu ghaib seperti telepati, hipnotis, proyeksi astral atau tenaga dalam dengan mempelajari ilmu sihir, terlebih dahulu perlu dipahami apa itu sihir.

Sihir berasal dari kata as-Sahar, artinya pertemuan akhir malam dengan awal siang, jadi ada pergeseran dua situasi yaitu gelap dan terang namun suasana masih samar, dikatakan gelap sudah ada sinar dikatakan terang masih gelap sehingga sihir dimaksudkan sebagai sebuah perbuatan yang tidak jelas benar salahnya. Lebih jauh, seorang ulama bernama Ibnu Qudamah menyimpulkan sihir sebagai bundelan (buhul), mantera-mantera dan ucapan yang diucapkan atau ditulis atau mengerjakan sesuatu yang menimbulkan pengaruh pada badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa menyentuhnya [6].

Namun al-Qur’an sendiri memberikan gambaran mengenai sihir sebagai berikut :

• Identik dengan perbuatan setan dan dapat membuat seseorang bercerai
(Surah 2 al-Baqarah : 102)
• Bisa membuat mata manusia membayangkan sesuatu yang hakekatnya tidak ada, seperti pertempuran Nabi Musa dengan para tukang sihir Fir’aun
(Surah 20 Thaha : 66 dan Surah. 7 al-A’raaf : 116)
• Bisa berupa kata-kata yang memukau atau memikat (Surah. 10 Yunus : 2)
• Bisa berupa sesuatu yang menakjubkan (Surah 15 al-Hijr : 15)
• Ejekan terhadap kebenaran (Surah 37 as-Shaffat : 15 dan Surah  46 al-Ahqaaf : 7)
• Ejekan terhadap mukjizat (Surah 54 al-Qamar : 2)
• Bisa dilakukan dengan meniup-niup tali simpulan, semacam santet, guna-guna dan sebagainya (Surah 113 al-Falaq : 4)

Dengan demikian, berdasarkan kriteria al-Qur’an diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa sihir ternyata bisa juga mencakup pidato atau ceramah memukau yang digunakan untuk menggaet massa, sihir bisa pula berupa pertunjukan hasil kemajuan teknologi modern yang menakjubkan dalam berbagai disiplin ilmunya dan sihirpun dapat berupa perbuatan yang dilakukan untuk merugikan orang lain, baik dengan atau tanpa persekutuan dengan setan yang terdiri dari Jin dan manusia.

Sejumlah ulama masih berbeda pendapat apakah mempelajari sihir untuk kebaikan dibolehkan atau justru dilarang, sementara jika kita kembalikan pengertian sihir sebagaimana tersebut diatas maka secara tidak langsung dapat kita pastikan bahwa sihir bisa dibagi atas dua bagian, yaitu sihir dalam arti positip dan sihir dalam arti negatip.

Sihir dalam arti negatip yang bertujuan menyimpangkan manusia dari jalan kebenaran serta membuat orang lain celaka jelas sangat terlarang, baik oleh norma agama maupun norma hukum kenegaraan. Sebaliknya sihir dalam arti positip justru sangat wajib untuk dipelajari.

Sebagai tambahan, bahkan seorang A. Hassan, salah seorang ulama besar yang terkenal berpandangan tegas dalam beragama dari organisasi Persatuan Islam (Persis) berpendapat bahwa mempelajari ilmu magnetisme (kekuatan gaib) sama sekali tidak bisa dipersamakan dengan mempelajari ilmu sihir, karena menurut beliau dalam tiap-tiap urat halus yang ada diotak maupun diseluruh tubuh manusia tersimpan magnetisme yang justru menjadi salah satu unsur pokok dari kehidupan yang bilamana unsur ini tidak ada maka akan matilah manusia tersebut [7].

Untuk menyikapi bentuk-bentuk sihir yang ada ini, mungkin kita bisa menjadikan hadis berikut sebagai parameter:

Auf bin Malik bertanya : Adalah kami bermantera pada masa jahiliah ya Rasulullah ! Bagaimana pendapat anda tentang hal ini ? Maka beliau bersabda : Hadapkan mantera-mantera kamu itu kepadaku, tidak apa-apa mantera-mantera itu selama tidak ada syirik didalamnya  – Hadis Riwayat Muslim

Memang hadis ini tidak  berbicara mengenai sihir melainkan mantera, namun kita bisa mengambil keumuman dari hadis Nabi tersebut yang intinya menyatakan bahwa semua hal  yang tidak ada unsur syirik maka boleh dikerjakan. Memukau orang lain terhadap kecanggihan teknologi modern, mengajak massa agar mau melakukan apa yang kita katakan melalui pidato, ceramah, mempelajari ilmu fisika, kimia, tenaga dalam, hipnotis dan sebagainya adalah salah satu bentuk sihir yang tentu saja tidak bisa dikatakan terlarang.;

Apa yang disampaikan oleh Nabi kepada orang-orang dimasanya sebagian besar berupa ayat-ayat yang bersifat muhkamat atau yang sangat jelas arti dan maknanya (misalnya mengenai larangan judi, zinah, membunuh, makanan haram dan sebagainya) sementara ada lagi yang disampaikan oleh beliau dengan pola mutasyabihat (ayat yang memerlukan pemahaman dan pengkajian secara khusus dan ilmiah) yang tidak bisa disampaikannya secara langsung mengingat tingkat pemikiran masyarakat dijamannya belum mampu memahaminya.

Contoh nyata saja saat beliau bercerita mengenai perjalanan Isra’ dan Mi’raj sejumlah orang malah berbalik murtad dan menuduhnya berbohong dengan cerita yang tidak logis menurut ukuran pemikiran manusia dijaman itu.; Sebab bagaimana mungkin manusia bisa bolak-balik bepergian dari Mekkah ke Yerusalem hanya dalam waktu setengah malam saja dan esoknya sudah ada lagi berkumpul dengan mereka dalam keadaan bugar. Ditambah lagi Nabi meneruskan ceritanya tentang perjalanannya menuju luar angkasa; sungguh ini cerita yang irrasional dan tidak dapat mereka pahami.

Namun saat waktu membawa kita keabad 20 sekarang, semua cerita Nabi tersebut menjadi sangat masuk akal, bepergian dari Mekkah ke Yerusalem atau malah lebih jauh lagi dari sana dalam tempo yang singkat bukan suatu isapan jempol atau dongeng sebelum tidur, karena peradaban diabad 20 telah mengenal pesawat terbang, mengenal jet, mengenal roket dan seterusnya yang mampu membawa manusia pergi dari satu daerah kedaerah lain yang berjauhan dalam waktu yang relatif singkat. Oleh sebab itulah, dalam rangka memahami ayat mutasyabihat diperlukan metode dan teknologi yang menuntut pola pikir luas.

Dia yang telah menurunkan Kitab kepadamu, sebagian isinya berupa ayat-ayat yang muhkamat yaitu inti sari dari Kitab; dan sebagian lainnya berupa ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang didalam hatinya ada kesesatan, mencari-cari apa yang bersifat mutasyabihat untuk membuat fitnah dan memberi penafsiran terhadapnya. Padahal tidaklah mengetahui pemahamannya kecuali Allah dan orang-orang yang berilmu.; Katakanlah : ‘Kami beriman kepada-Nya, semua ayat-ayat itu berasal dari Tuhan kami, dan tidaklah memahaminya kecuali orang-orang yang memiliki pemikiran.’ – Qs. 3 Ali Imron : 7

Demikianlah kiranya ayat tersebut memberi penjabaran kepada kita, bagaimana Allah sendiri menyatakan ayat-ayat Muhkamat sebagai inti dari wahyu yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad, bagaimana secara jelas, tegas dan lugas bercerita mengenai prinsip Tauhid, bagaimana mengatur kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara secara umum sehingga Nabi Muhammad mampu dijadikan barometer (teladan) dalam kehidupan.

Sementara disisi lain, Allah juga menurunkan wahyu yang bersifat samar, metafora yang sekali lagi masih memerlukan penganalisaan lebih lanjut yang tidak bisa ditafsirkan secara sembarangan karena hanya akan menimbulkan fitnah dan mengacaukan kehidupan bermasyarakat.

Surah Ali Imron ayat 7 ini menegaskan bahwa pemahaman ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah sendiri dan orang-orang yang berilmu, yaitu sebagaimana dipertegas-Nya kembali diakhir ayat tersebut yaitu bagi mereka yang memiliki pemikiran.; Sudahkah kita memanfaatkan akal kita untuk berpikir logis ?

Mengenai hal-hal yang tidak pernah ada bimbingan atau pengarahan langsung oleh Nabi maupun para keluarga dan sahabatnya yang terpimpin bukan berarti sesuatu itu tidak dibenarkan untuk dipelajari. Sebab jika pemikiran yang demikian tidak kita luruskan maka akan membuat banyak manusia meninggalkan ajaran Islam dengan menganggapnya sebagai agama yang sempit, penuh kebodohan dan jauh dari nilai-nilai universal (rahmatan lil ‘alamin). Tidak perlu kita mengulangi sejarah masa lalu dari orang-orang yang pernah mengingkari perlunya belajar ilmu kalam, ilmu biologi maupun ilmu-ilmu lainnya bahkan mengecapnya sebagai perilaku bid’ah [8].

Umat Islam harus bangkit, melepaskan pikirannya dari semua kesempitan berpikir yang dogmatis. Islam pernah melahirkan tokoh besar bernama Umar bin Khatab yang dibalik keteguhan keimanannya juga seorang intelektual yang dengan intelektualitasnya itu berani mengemukakan ide-ide dan melaksanakan tindakan-tindakan inovatif yang sebelumnya tidak pernah dicontohkan oleh Nabi bahkan sepintas lalu justru bisa dipandang tidak sejalan dan cenderung bertentangan dengan pengertian tekstual al-Qur’an dan sunnah padahal apa yang dilakukan oleh Umar hanyalah sebuah tindakan dalam rangka mengaktualisasikan ajaran Islam ditengah jaman yang sama sekali berbeda dengan jaman kehidupan Nabi sebelumnya.

Dan janganlah kamu jadikan nama Allah sebagai penghalang untuk berbuat kebaikan, ibadah dan menjalin perdamaian antar manusia
Qs. 2 al-Baqarah : 224

Contoh kisah Khalifah Umar bin Khatab yang mengembalikan harta rampasan perang berupa tanah pertanian di Siria dan Irak kepada penduduk setempat memang sempat mengundang perdebatan diantara beberapa sahabat Nabi seperti Bilal (orang yang diangkat oleh Nabi sebagai muadzin pertama) dengan merujuk pada surah al-anfal ayat 41 dan menyatakan bahwa Umar sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Sunnah :

Ketahuilah, bahwa apa yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil (para pengembara), jika memang kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad). – Qs. 8 al-anfal : 41 Pendapat Bilal memang memiliki dasar kuat apalagi Nabi sendiri pernah membagi-bagikan tanah pertanian Khaibar setelah dibebaskan dari kekuasaan orang Yahudi. Namun Umar menganggap bahwa umat Muslim tidak perlu terlalu kaku didalam memperlakukan ayat-ayat Qur’an dan perlu juga mempertimbangkan kondisi jaman yang dijalani.

Ali bin Abu Thalib yang merupakan keluarga paling dekat dengan Nabi, orang yang diamanahkan untuk mengurus jenasah beliau saat wafat dan sekaligus satu-satunya orang yang pernah diangkat Nabi sebagai saudara bagaikan persaudaraan Harun terhadap Musa dalam perang Tabuk mengatakan dihari meninggalnya Umar bin Khatab :

Alangkah bahagianya ! Dia telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, menghindar dari masa kekacauan dan menegakkan sunnah. Dia pergi dalam keadaan bersih; jarang bercela, meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukannya.

Memenuhi ketaatan kepada Tuhannya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya. Ia berangkat meninggalkan umat pada saat mereka berada dijalan-jalan yang saling bersimpangan tak menentu arahnya, sedemikian sehingga yang tersesat sulit beroleh petunjuk, yang sadarpun tak mampu meyakinkan diri [9].

Mungkinkah penilaian Ali bin Abu Thalib terhadap kepribadian Umar bin Khatab tersebut keliru? Tidakkah pola pikir dari Umar bin Khatab juga mampu kita warisi untuk mengaktualisasikan ajaran Islam dijaman penuh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini ? Jika nama Umar bin Khatab yang hidup ditengah jaman padang pasir berhasil tercantum dalam buku seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H. Hart [10] yang notabene bukan beragama Islam, bagaimana mungkin kita-kita yang hampir setiap harinya bergelut dengan telepon seluler dan Internet masih mengembangkan cara berpikir yang sempit ? Ayat-ayat mutasyabihat masih menanti orang-orang seperti Umar bin Khatab untuk membuka rahasia yang terkandung didalamnya, semua ayat al-Qur’an sudah diperuntukkan oleh Allah bagi kemaslahatan hidup manusia tanpa ada pengecualian. Tidak inginkah kita memanfaatkannya ?

Meski demikian, saya membagi dimensi ghaib itu menjadi 2 bagian :

1. Ghaib Mutlak
2. Ghaib Relatif

Ghaib Mutlak adalah dimana kita memang tidak bisa mengetahuinya termasuk melalui teknologi canggih apapun, tahap maksimal yang bisa kita lakukan hanya mendekati dan melihat hasil dari keberadaannya saja.

Misalnya mengenai Allah …. kita tidak dapat melihat-Nya dengan panca indera jasmani dan juga rohani (maksud saya secara langsung phisiknya)  … kita hanya bisa melihat hasil ataupun keberadaan-Nya melalui karya-karya-Nya saja dan dari karya-karya tersebutlah maka dengan bantuan akal secara indrawi dan kitab suci secara dogmawi kita bisa membedakan apakah Nya itu benar-benar Esa ataukah memiliki sekutu, oleh sebab itu pula saya cenderung berani untuk berdebat dengan musuh-musuh Islam mengenai entitas Allah ini yang umumnya menurut mereka sebagai sesuatu yang tidak terjangkau dan penuh misteri.

Ghaib Relatif adalah dimana terkadang ada hal-hal yang tidak bisa kita lihat secara massal (artinya tidak semua orang bisa) namun bagi sekelompok atau sebagian kecil orang hal ini ternyata malah tidak menjadi hal yang ghaib-ghaib amat …(maaf pakai bahasa gaul ..:-), termasuk didalamnya menggunakan metode atau alat tertentu.

Ya misalnya ada orang yang memiliki kemampuan melihat Jin (bisa para Nabi ataupun orang awam), melihat wujud malaikat (ini menurut saya hanya berlaku pada para Nabi saja), mengetahui beberapa kejadian yang sudah dan akan terjadi (dalam prosentase yang kurang dari 50%) dan sebagainya.

Sayapun memasukkan kedalam kategori ghaib relatif ini misalnya mengenai permasalahan seputar virus, bakteri, keadaan janin dalam kandungan, planet diluar bumi (sistem galaksi dan semua pernak-perniknya), Tenaga Dalam, keadaan umat dimasa lalu dan seterusnya dan sebagainya yang pada tatanan peradaban modern ini bisa kita lihat dan bisa kita analisa menggunakan alat-alat teknologi seperti USG, Teropong Bintang, Karbon, Kamera Kirlian dan lainnya.

Referensi :
[1] Dr. Scott Peck, The Road Less Travelled, dikutip dari Lillian Too, dalam Explore The Frontiers Of Your Mind, Elex Media Komputindo, 1997, hal. 40
[2] Mengenai ini bisa dilihat pada buku tulisan Dr. H.M. Rasjidi, Islam dan Kebatinan, Penerbit Jajasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta
[3] Ayat ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad tidak berkuasa menurunkan azab terhadap orang-orang yang mengingkarinya karena hal menurunkan azab adalah urusan Allah, terserah kepada-Nya kapan dan bagaimana azab tersebut akan terjadi, Allah maha mengetahui apa hikmah dari semuanya, karena Dia yang memegang kunci dari urusan yang belum tampak secara lahiriah saat itu.
[4] Ric A. Weinman,Tangan Anda dapat menyembuhkan Panduan Penyaluran Tenaga, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta, 1990, hal. xi
[5] Willem Hogendoorn, Paranormal, kenyataan dan gejala dalam kehidupan, Penerbit Dahara Prize, Semarang, 1991, hal.27
[6] Wahid Abdussalam Baly, Ilmu Sihir dan Penangkalnya, Tinjauan al-Qur’an, Hadits dan Ulama, dengan pengantar DR. H. Komaruddin Hidayat, Penerbit Logos Publishing House, 1995, Hal. 2.
[7] A. Hassan, Soal Jawab Masalah Agama 3-4, Penerbit Persatuan Bangil, hal. 1686 – 1688
[8] Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Penerbit PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1984, hal. 102
[9] Mutiara Nahjul Balaghah : Wacana dan surat-surat Imam Ali r.a., Dengan pengantar Syaikh Muhammad Abduh untuk buku Syarh Nahjul Balaghah, Terj. Muhammad al-Baqir, Penerbit Mizan, 1999, hal. 66.
[10] Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah, terj. H. Mahbub Djunaidi, Penerbit PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982, hal. 264-266

About these ads

5 Responses

  1. Assalaamu ‘alaykum akhi fillah,

    Dari pengalaman ana di lapangan, mengikuti pernafasan dalam adalah bagian dari jalan mudah masuknya jin ke dalam darah manusia.

    Oleh karenanya, hendaknya kita dapat menjauhi aliran pernafasan dan tenaga dalam, dan mari menjadi manusia yang biasa saja, sebagaimana Rasulullah SAW.

    Mohon ma’af jika tidak berkenan.

    Wassalam,
    Akhukum fiddin.

  2. good, memang dengan mempelajari hal-hal ghaib akan menenggelamkan kita kesuasana yang tak nyaman lagi, padahal Allah telah “memprotek” kita untuk tidak bergerak ke arah itu, buktinya kita tak mampu melihat machluq ghaib ciptaaNya (jin misalnya), karena jika di ijinkan olehNya pasti kitapun bisa berjumpa ria dengan mereka, yang pasti yang terbaik dari kita, adalah seperti apa adanya Nabi kita tak perlu bergaul dengan para ghaib………kita akan tertipu………….. peade

  3. assllamualaikum,seyogyanya dan harus kita ikuti saja Al’Quran dan sunnahnya dan sebaiknya menjauhi subhat, atau sesuatu yang meragukan, dan semoga kita dilindungi ALLAH SWT selama hidup didunia dari bisikan jin dan syetan pada hati kita, sampai meninggal kelak,sesungguhnya kita hanyalah HAMBA dan HAMBA adalah Penerima Perintah, dan bukan pembuat Perintah,wasallamualaikum wr wb

  4. [...] 51. Bolehkah mempelajari ilmu Ghaib ? [...]

  5. [...] Posted on 14/03/2008 by Arman Tenaga Dalam (Lanjutan : Bolehkah mempelajari ilmu ghaib) Oleh : Armansyah Memang sudah umum terjadi dalam masyarakat dewasa ini yang mengkaitkan Tenaga [...]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: